BAB 4 ANGKET
EKSTRAKURIKULER
Suara dencing bel berbunyi dengan
kerasnya menandakan waktu istirahat telah dimulai. Para guru dan siswa bergegas
meninggalkan ruangan mereka masing-masing, akupun tak menyia-nyiakan waktu itu.
Pada awalnya ingin ku ajak Aziz untuk pergi ke kantin bersama namun dia tak
lagi berada di kelas sepertinya dia yang pertama kali meninggalkan kelas dari
para siswa yang lain. Ya sudah, pikirku akupun langsung bergegas menuju kantin untuk
membeli beberapa cemilan.
Sesampainya
di kantin sekolah hiruk-pikuk siswa yang sedang antri namun saling berdesakan
menunggu gilirannya untuk dilayani oleh pedagang. Begitu melihat pemandangan
tersebut aku duduk sebentar menunggu suasana agak reda.
“Hai
Ri” sapa sebuah suara kepadaku,
aku
menoleh ternyata Aldi salah seorang teman kelas ku waktu kelas 7 datang dan
duduk disampingku. Aldi bertubuh sedikit lebih besar dariku, jika diperhatikan
badannya cukup proporsional untuk anak seumuran dia, terlebih lagi dia lahir
pada bulan yang sama dengan ku.
“Tumben
ku lihat kau ke kantin Ri” katanya kepadaku sambil tersenyum kecil
“Ah,
kau saja yang tidak pernah melihatku di sini”,
“Yah,
biasanya kau hanya berada di dalam kelas menggambar-gambar di buku mu”
“Entahlah
aku sedang tidak punya mod untuk menggambar lagi”
“Sepertinya
kau kehilangan kemampuanmu” dia sedikit tertawa
“Tidak,
aku hanya sedang tidak ingin menggambar saja” kataku kepadanya dengan suara
yang sedikit kutinggikan.
“Oh
ya, kelas mu di sebelah mana Ri?”
“Kau
lihat itu di dekat kolam itu, kelas 8.5” kataku sambil menunjukkan kelasku
kepada Aldi
“Kalau
kau Di, dimana kelasmu?”
“Aku
kelas 8.6 tepat di depan kamar mandi siswa laki-laki di sana” katanya
menunjukkan ku kelasnya,
Ternyata
kelasnya berada di jalan yang biasa aku lewati setiap pagi.
Setelah
sedikit lama aku menunggu akhirnya keramaian sedikit mereda di sana, akupun
mengajak Aldi untuk berbelanja dan dia mengikutiku. Namun ketika aku baru saja
akan mengambil jajan yang akan ku beli suara bel kembali berbunyi keras
menandakan waktu istirahat telah selesai.
“Aargh,
sial” kataku kesal,
Sambil
ku merenggut jajan yang telah ku beli sambil ku berjalan dengan cepat kembali
ke kelasku,
Aku
harus cepat karena hari ini ada kelas Matematika oleh Pak Rudi, guru yang
terkenal disiplin di sana.
“Aldi
aku duluan ya” kataku cepat-cepat lalu berlari
“Oke”
katanya yang terdengar kecil di telingaku karena sudah jauh.
Beruntungnya
aku karena Pak Rudi tidak memarahiku tadi karena kita datangnya barengan di
depan kelas.
#
Aku
menghirup nafas panjang dan kemudian suara bel berbunyi memekakkan ditelingaku,
tanda pelajaran telah berakhir. Namun tiba-tiba datang seorang remaja perempuan
yang sepertinya Kakak kelas yang tidak sedikit asing bagiku karena aku sering
melihatnya setiap hari di sekolah, walaupun aku sendiri belum tau namanya.
Dia
memiliki tinggi badan rata-rata, dengan kulit sawo matang dan mata yang
berwarna hitam pekat. Dia memperkenalkan dirinya, dan ternyata dia adalah ketua
OSIS kami yang bernama Widi, setelah berkenalan dia langsung memberikan kami
sebuah selebaran kertas pada masing-masing siswa yang ada di sana.
“Ini
adalah angket untuk program ekstrakurikuler
pada kalian yang baru, silahkan isi dan centang pada nama ekstra yang
kalian ingin ikuti. Angket ini dapat kalian kumpulkan besok dan jika belum
jelas tolong bertanya”
Setelah
itu dia langsung keluar, sepertinya akan memberikan angket tersebut pada siswa
lain di kelas lain. Aku menaruh mataku pada angket itu dan membacanya perlahan.
Di angket itu terdapat beberapa pilihan ekstrakurikuler yang tidak asing lagi
karena dulu di kelas 7 angket tersebut juga dibagikan kepada kami.
Namun
di dalam angket tersebut juga terdapat beberapa ekstra yang baru dan
kelihatannya menarik untuk diikuti, diantaranya adalah bulu tangkis, pimpong,
musik, puisi, drama, dan lain sebagainya.
Aku
kemudian melipat kertas itu dan beranjak untuk kembali ke rumah. Di rumah aku
kemudian sambil tiduran melihat lembaran angket tersebut sambil memegang pensil
untuk menandai ekstra apa yang akan aku ikuti tahun ini. Namun lama ku berpikir
sepertinya banyak ekstra yang kuminati tetapi dalam angket tersebut siswa hanya
boleh mengikuti maksimal dua jenis ekstra saja.
#
Malam
harinya setelah sholat magrib aku berunding dengan ibuku untuk menentukan ekstra
mana yang akan ku ikuti.
“Sepertinya
olimpiade ini bagus”
katanya
sambil menunjuk kata Olimpiade IPA di kertas tersebut.
“Tapi
dulu aku pernah mengikutinya waktu sekolah dasar dan gagal” kataku merenung
“Kegagalan
itu biasa, asalkan kita tidak pernah menyerah kita pasti berhasil” katanya
pelan kemudian.
Seperti
yang diharapkan dari seorang ibu yang bijaksana. Lama ku berpikir, dan akhirnya
kuputuskan untuk memilih bulu tangkis dan pramuka ekstra yang pernah ku ikuti
dulu waktu kelas 7 dan bahkan sejak kelas 5 SD.
“Pramuka
ya?”
“Tidak
apa-apa kan, lagipula ibu juga kan merupakan pembina pramuka”
“Yah,
ibu pikir itu pilihan yang bagus” katanya tersenyum, akupun juga ikut tersenyum,
Akupun
kemudian mencentang ekstra pramuka itu sekali lagi dan mungkin aku berpikir
untuk mengikuti satu buah ekstra lagi karena ku pikir itu merupakan hal yang
tepat karena dirumah hampir setiap hari aku kosong tidak tau apa yang akan
kukerjakan.
Dan
pada akhirnya setelah berpikir lama aku mencentang ekstra bulu tangkis di
angket itu,
“Baiklah,
selesai semuanya” kataku pelan.
Setelah
menyiapkan semuanya akupun membaringkan diri di atas tempat tidurku, aku hanya
berharap dalam hati semoga apa yang lakukan hari ini benar-benar bermanfaat
bagi diriku sendiri,
“Hmmm...”
aku bergumam sendiri,
Pasti
benar pikirku dalam hati dan ekstra apa yang ku ikuti kali ini merupakan hal
yang benar-benar bagus bagiku, pramuka dan bulu tangkis. Tapi semua
ekstrakurikuler yang tercantum di sana tidak mencantumkan jadwal latihannya,
tapi pasti esok kemudian hari akan diumumkan jadi santai sajalah pikirku keras.
Aku
bangkit sejenak dari tempat tidurku untuk sholat isya, kemudian mengambil
sedikit makan malam dan kembali lagi ke kamarku untuk istirahat. Ku matikan
lampu, dan siap untuk tertidur.
***
BAB
5 HUKUMAN PAK RUDI
Pagi harinya aku memulai aktifitas
seperti biasanya sholat subuh, mandi, sarapan, dan bersiap ke sekolah.
“Aku
berangkat bu.. Assalamualaikum” kataku dari luar pintu dan beranjak ke sekolah.
Seperti
biasa di perjalanan aku melewati rumah Satria namun tak terlihat tanda-tanda
darinya, mungkin ia masih tertidur pikirku dan aku melanjutkan perjalanan
dengan pelan karena kulihat mentari masih meringkuk di tempatnya berada dan
lampu-lampu jalanan masih terlihat terang di mataku, mungkin ini masih sangat
pagi pikirku.
Sesampainya
di sekolah, ternyata masih terasa sepi hanya beberapa siswa kelas 7 yang
teramat rajin baru terlihat sedang membersihkan kelasnya, akupun berjalan
menuju kelasku seperti biasa melewati belakang deretan kelas 7.
Sesampainya
di kelas suasana ruangan yang begitu sepi menyambutku, tubuhku sedikit
merinding karena baru kusadari di sana teramat gelap jika pagi hari, akupun
keluar dan duduk-duduk di tempat duduk keramik yang ada di depan kelasku.
Aku
tak tau apa yang akan kulakukan saat itu jadi aku hanya berdiam diri sambil
mencoret-coret buku ku dengan gambar-gambar yang tidak jelas. Tak lama kemudian
satu persatu teman-teman ku datang.
“Pagi
Ri”
“Hai
Heri”
“Lho
kok tumben pagi Ri?”
Kalimat
sapaan itu terus berulang kali masuk dari telingaku dan aku hanya membalas
dengan kalimat seadanya juga
“Pagi
Salman”
“Hai
Al”
“Baru
tau, kan biasanya aku yang paling pagi datang” dan aku hanya tersenyum kecil
kepada mereka.
“Woy,
Ri sekarang kan gantian mu piket kebersihan!?” kata Al dengan sedikit berteriak
kepadaku,
dan
“Astaga! Benar”
Hari
ini hari Kamis, gantianku untuk piket membersihkan kelas, entah hal apa yang
membuat ku melupakannya aku tak tau. Akupun langsung bergegas untuk mengambil sebuah
sapu ruangan dan kemudian mulai menyapu. Sungguh sial pikirku, kenapa aku
melupakan tentang jadwal piketku padahal aku yang paling utama datang ke
sekolah, tapi tak apalah untung saja semuanya telah beres sebelum bel berbunyi.
#
Jam
pelajaran pertama adalah Pak Rudi kali ini, dia masuk dengan wajah yang seperti
biasanya, langkahnya yang tegap tatapan matanya yang tajam dan melangkah dengan
sangat hati-hati seakan-akan di lantai itu ada sebuah jebakan yang sedang
menantinya. Setelah sampai di tempat duduknya, Pak Rudi melirik satu persatu
wajah-wajah yang masih belia dan tidak bertanggung jawab itu.
“Baiklah”
katanya memulai pembicaraan dengan nada yang begitu berat,
Entah
kenapa tetapi seolah-olah jika aku melihat Pak Rudi dari dekat, ia seperti
sebuah patung reog bali yang sedang kelaparan.
“Sekarang
buka buku kalian halaman 37 kita akan belajar tentang persamaan kuadrat”
Dan
dengan malasnya siswa-siswa di dalam ruangan tersebut membolak-balikkan kertas
buku paket mereka menuruti perintah Pak Rudi dan begitu pula dengan diriku.
“Aaaa!?”
aku ternganga dan hampir berteriak,
“Woy,
kenapa Ri?” Aziz menatapku terkaget pula,
Dia
melihatku menatap bukuku dalam-dalam dan dia melihat ke dalam buku miliknya dan
ternganga juga sepertiku.
“Kerjakan
latihannya!” kata Pak Rudi dari kejauhan.
Apa
yang dia pikirkan? Pikirku, kita belum sama sekali mempelajari materinya
langsung di suruh mengerjakan tugas begitu saja? Dan untuk yang pertama kalinya
aku merasa begitu jengkel terhadap Pak Rudi.
“Ada
pertanyaan, ya?”
Aku
mengangkat tanganku seraya berkata “Pak, tetapi kami belum mempelajari satu pun
materi yang ada di sini, bagaimana mungkin kami mengerjakan tugas ini?”
“Ooh,
berarti kamu tidak belajar ya?” tatapan matanya membuat tubuhku bergetar
”Bu—bu—bukan
begitu...”
“Ya
sudah tidak apa-apa, sekarang kamu berdiri di sana!” katanya menunjuk posisi
depan pojok kelas dekat pintu masuk
“Berdiri
sambil memegang kedua telingamu sampai jam saya habis, mengerti?!”
Aku
mengangguk malas. Sial! Kataku dalam hati, pagi yang sangat kelam.
Selama
tiga jam pertama, aku terus berdiri di pojok kelasku sambil menyaksikan monster
itu mengajari materi setelah berlatih cukup lama, sekitar satu jam. Ini tidak
adil pikirku dalam hati, hanya karena aku menyanggahnya tentang kita yang harus
mengerjakan latihan pertama-tama sebelum materi utama.
Jika
ku lihat sepertinya tak ada satupun siswa di kelas itu mau memperhatikannya,
dan aku berani bertaruh bahwa pasti tidak akan ada yang mencapai nilai sempurna
pada saat tes pertama tadi.
“Hihihi”
aku tertawa sekecil-kecilnya supaya tidak terlihat oleh Pak Rudi
***
BAB
6 EKSTRA MUSIK
Teet—teet—teeet, suara bel pulang
sekolah berbunyi, pada akhirnya aku menyiapkan buku-buku tulisku dan bersiap
pulang, namun saat aku melewati pintu kelas sambil bernyanyi-nyanyi kecil
sebuah suara memanggilku dari belakang
“Heri,
kau tidak akan pulang kan?” ternyata itu Al
“Memangnya
kenapa Al?”
“Kau
tidak mendengar pengumuman saat istirahat tadi?”
Emosiku
sedikit memuncak saat itu karena mana mungkin aku mendengarkan pengumuman, banyak
hal yang harus ku selesaikan
“Tidak,
satupun aku tidak mendengar, aku kelelahan berdiri selama tiga jam pertama,
menahan lapar, menahan keinginan buang air, itu sebabnya aku langsung pergi ke
belakang”
“Oou”
aku melihat wajah Al dan sepertinya dia sadar dia telah salah berkata kepadaku
“Maksudku,
hari ini ada ekstra musik, apa kau mau ikut? Kita akan mengambil vocal di sana”
Emosiku
perlahan berkurang, ekstra musik? Tak pernah terpikir sebelumnya olehku
“Tapi
Al, aku tak pandai bernyanyi dan suaraku pas-pasan”
“Ooh,
ayolah jangan merendah begitu, padahal suaramu bagus kok, yang penting ini
sebagai jalan untuk menyalurkan hobi saja”
“Hmmm,
baiklah di mana tempatnya?”.
Kami
berdua kemudian berjalan menyusuri setiap ruangan kelas yang telah kosong
terlebih dahulu berharap di sana ada Pak Subardan yang melatih siswa untuk
bermain musik.
Mulai
dari setiap kelas 7 tidak ada satupun tanda-tanda yang menandakan tempat
latihan seni musik berlangsung, kami tetap berjalan mancari dan kemudian
akhirnya diantara kelas 8 suara-suara piano terdengar samar di telinga kami
“Heri,
kau dengar itu?”
“Ya,
ayo!”.
Aku
dan Al berlari kecil mengejar dari mana suara itu berasal, akhirnya kami sampai
di tempat latihan dan betapa terkejutnya aku ternyata tempat latihan itu tidak
lain dan tidak bukan adalah ruangan kelas ku sendiri, seandainya jika aku tahu
tempat ini bakal dijadikan tempat latihan aku takkan kemana-kemana pikirku
dalam hati, namun sudahlah semua itu sudah berlalu yang terpenting sekarang
adalah masuk dan segera mendaftarkan diri.
#
“Heri
Hardiansyah, kau mengambil vokal”
Kata
Pak Subardan kepadaku, dia terlihat lebih tua daripada guru-guru yang lainnya,
rambutnya sebagian terlihat memutih dan kulit wajahnya terlihat keriput namun
jika dilihat dari caranya berbicara terkuak jelas bahwa semangatnya untuk
membagikan ilmunya kepada generasi muda sangatlah besar.
“Ya,
pak” kataku pelan,
Al
juga mengambil seni vokal dan ternyata ada Alfian di sana yang merupakan teman
sekelasku juga waktu kelas 7, dia yang berbadan kurus dan tinggi dengan
beberapa kumis kecil tumbuh di atas bibirnya.
“Ian,
kau mengambil vokal juga” tanyaku
“Yaah,
Cuma untuk menyalurkan hobi saja” katanya tersenyum kepadaku.
Setelah
menulis nama di kertas atas meja tempat Pak Subardan duduk, kami pun langsung
duduk di bangku yang ada di sana, aku duduk di samping Fian dan Al di depanku
siap untuk mengikuti instruksi yang diberikan oleh Pak Subardan.
Aku
memandang sekeliling ruangan itu, ku lihat di barisan paling kanan ada
sekelompok anak yang memegang gitar sambil berlatih sendiri-sendiri
memainkannya.
Di
barisan bangku depan ada beberapa alat musik keyboard yang juga menanti untuk
dimainkan namun tidak seperti gitar, alat musik itu hanya menanti seseorang
yang datang untuk memainkannya.
Dan
di barisan paling kiri dari ruangan itu ada kami yang memilih seni vokal, di
sana ada aku, Al, Fian, dan seorang siswa lagi yang tak ku kenal sepertinya
rekan kelasnya Fian.
“Mohon
perhatian” kata Pak Subardan menyaringkan suaranya,
Serentak
apapun yang ada di dalam ruang kelas itu terdiam sunyi seperti tak ada satupun
makhluk di dalamnya.
“Untuk
pelajaran pertama silahkan yang mengambil seni musik gitar maju ke depan”
Ternyata
gitarlah yang pertama akan diberikan instruksi oleh Pak Subardan, kemudian
merekapun maju sambil membawa kursi masing-masing dan Pak Subardan memberikan
sekilas materi tentang gitar dan bentuk-bentuk kuncinya dan terllihat bahwa
anak-anak gitar itu memainkan nada dengan senangnya.
“Selanjutnya
yang ambil seni musik organ” kata Pak Subardan nyaring,
Namun
tak satupun dari kami maju untuk memainkan alat musik itu, memang karena
tinggal kami yang mengambil seni vokal saja di bangku ruangan itu untuk
menantikan instruksi.
“Tak
ada yang mau?” kata Pak Subardan sambil mengangkat sedikit alis matanya,
Aku
berpikir mungkin ini kesempatan untuk belajar salah satu alat musik, namun
hendak aku berdiri Fian juga ikut berdiri
“Oh,
kamu ingin belajar organ? Bagus, bagus” kata orang tua itu memuja Fian
“Saya
juga pak” kataku kemudian
“Oh
ya silahkan,semakin banyak semakin bagus”.
Aku
dan Fian menatap bergantian dan kemudian tersenyum satu sama lain.
“Ogan
adalah salah satu alat musik yang dimainkan seperti piano yaitu tutsnya
ditekan, yang bisa dibilang untuk memainkan dasar-dasarnya adalah mudah,
sebagai contoh untuk memainkan nada C kalian hanya perlu menekan nada do-mi-sol
secara bersamaan” katanya singkat
Dan
aku dan Fian mencari nada do-mi-sol seperti yang dibilang kakek itu, untunglah
di keyboard itu telah ditulis sebelumnya nama-nama nadanya sehingga memudahkan
kami untuk menekannya.
“Triing”
“Nah
itu adalah nada C, sekarang coba gitar mainkan nada C juga”
“Jreeng”.
“Dan
sekarang coba organ dan gitar memainkan nada C bebarengan”
“Treeng”.
Wah
kataku dalam hati, sepintas suaranya terdengar sama, jadi aku mengerti sekarang
bahwa kunci itu merupakan perpaduan dua atau lebih nada dalam alat musik.
“Kalian
dengar, kunci sebenarnya adalah perpaduan nada dalam alat musik yang jika
dimainkan bersamaan akan terdengar harmonis” kata Pak Subardan menjelaskan
“Persis”
kataku kecil kemudian.
“Selanjutnya
nada D...”,
Saat
kami memainkan kunci-kuci organ tersebut tak terduga ternyata Al juga ikut
memainkannya dan hal yang membuatku terkejut adalah dia tiba-tiba saja ada di
sampingku.
“Yang
terakhir adalah vokal, silahkan maju”
Fian
dan Al mendorong dan menyuruhku untuk maju pertama, sial anak dua itu pikirku, mereka
tidak tau bahwa aku sedikit gugup apa? Tapi aku memberanikan diri untuk maju ke
depan.
“Coba
nyanyikan lagu Ibu Kita Kartini”
Kata
Pak Subardan kemudian, aku bingung apakah dia tidak terlebih dahulu untuk
memberikan kami materi sekilas tentang seni vokal? Tapi sudahlah, aku memulai
bernyanyi.
Ibu
kita Kartini, Putri Sejati
Putri
Indonesia harum namanya
Ibu
kita Kartini, Pendekar Bangsa
Pendekar
kaumnya untuk merdeka
Wahai
Ibu kita Kartini
Putri
yang mulia
Sunggug
besar cita-citanya
Bagi
Indonesia
Al,
Fian, dan seorang anak vokal yang tak ku kenal, dan anak-anak gitar itu
bertepuk tangan. Pak Subardan juga ikut tepuk tangan
“Bagus,
suaramu bagus walaupun agak sedikit fals*, tapi bagus” katanya tersenyum.
Fals?
Apa itu fals kataku dalam hati.
“Hei
Fian, apa yang dimaksud Pak Subardan dengan fals, apa maksudnya suaraku jelek?”
“Hei,
hei, hei, apa yang kau bicarakan suaramu bagus dan nadamu tidak setinggi
milikku. Tapi fals maksudnya kau belum mampu menyesuaikan nadamu dengan melodi
musik. Itu saja.”
“Ternyata
musik itu sulit benar?”
“Asalkan
belajar tidak ada sesuatupun yang sulit, percayalah”
Aku
sedikit terkejut, sejak kapan Fian berkata bijak seperti ini. Padahal dahulu
saat kelas 7 dia anak yang pendiam. Namun perasaan itu segera buyar saat dia
melihatku sambil mengangkat-ngangkat alisnya sendiri, yang mengisyaratkan bahwa
dia juga takjub mendengar kata-katanya sendiri.
Akhirnya
setelah Fian, Al, dan seorang lagi yang ternyata namanya adalah Dodit telah
bernanyi di depan, acara latihan akhirnya usai sudah.
“Baik
anak-anak cukup sekian untuk latihan kita hari ini, kita lanjutkan di lain hari
jadi tetap dengar pengumuman ya. Sebelum pulang ke rumah tolong bantu untuk
beres-beres dahulu, dan untuk yang gitar nanti tolong ke ruang guru, ada
fotocopyan yang akan saya berikan untuk kalian berlatih di rumah”.
Kami
semua membereskan dan mengangkut alat-alat musik itu kembali ke ruangannya yang
semula dan silahkan kembali ke rumah masing-masing.
Namun
sebelum aku pulang ke rumah aku menyempatkan diriku untuk sholat ashar terlebih
dahulu.
Sholat
zuhur telah kami lakukan berjamaah selepas satu jam sebelum jam pelajaran
terkakhir berakhir.
#
“Tumben
kau pulang larut begini Ri?” tanya ibuku saat aku telah tiba di rumah
“Oh,
maaf bu. Heri lupa beritau ibu kalau hari ini ada latihan musik”
“Musik?
Sejak kapan kau menggemari musik Ri?”
“Entahlah,
sejak tadi”
Ibuku
tertawa kecil mendengar itu, namun itu tak berlangsung lama
“Sudahlah,
kau sudah sholat ashar?”
“Sudah
tadi sebelum pulang”
“Baiklah
kalau begitu, cepat isi perutmu sana. Ibu membuat sup bakso”
“Baik
bu”.
#
“Ini”
kata ibuku di pagi hari sesaat setelah aku selesai sholat subuh.
Dia
memberikan sebuah kotak kecil kepadaku
“Apa
ini?” kataku kemudian
“Sudah
buka saja”
Ku
buka bungkusan kotak itu dan ternyata oh ternyata, ibuku membelikanku sebuah ponsel
baru. Walaupun hanya ponsel tulalit aku bersyukur karenanya
“Tapi
kenapa ibu membelikanku ini?”
“Itu
ibu belikan supaya kau dapat memberitau ibu jika kau akan pulang larut, jadi
ibu tidak akan khawatir karenanya”
Aku
tersenyum lebar kepadanya dan langsung mencium tangannya seraya berkata terima
kasih.
***
*Fals:
suatu keadaan dimana seorang penyanyi tidak mampu menyesuaikan nadanya dengan
iringan musik atau dengan nada penyanyi yang lain jika dalam paduan suara,
sehingga terdengar rancu.
Selanjutnya, coming soon.... :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tolonglah berkomentar dengan sopan, NO SPAM!, dan dengan bahasa yang santun pula. Karena komentar anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini ke depannya.