5 Januari 2018

Daun-Daun yang Terbang Mencari Angin (Bab 4-6)




BAB 4 ANGKET EKSTRAKURIKULER
Suara dencing bel berbunyi dengan kerasnya menandakan waktu istirahat telah dimulai. Para guru dan siswa bergegas meninggalkan ruangan mereka masing-masing, akupun tak menyia-nyiakan waktu itu. Pada awalnya ingin ku ajak Aziz untuk pergi ke kantin bersama namun dia tak lagi berada di kelas sepertinya dia yang pertama kali meninggalkan kelas dari para siswa yang lain. Ya sudah, pikirku akupun langsung bergegas menuju kantin untuk membeli beberapa cemilan.
Sesampainya di kantin sekolah hiruk-pikuk siswa yang sedang antri namun saling berdesakan menunggu gilirannya untuk dilayani oleh pedagang. Begitu melihat pemandangan tersebut aku duduk sebentar menunggu suasana agak reda.
“Hai Ri” sapa sebuah suara kepadaku,
aku menoleh ternyata Aldi salah seorang teman kelas ku waktu kelas 7 datang dan duduk disampingku. Aldi bertubuh sedikit lebih besar dariku, jika diperhatikan badannya cukup proporsional untuk anak seumuran dia, terlebih lagi dia lahir pada bulan yang sama dengan ku.
“Tumben ku lihat kau ke kantin Ri” katanya kepadaku sambil tersenyum kecil
“Ah, kau saja yang tidak pernah melihatku di sini”,
“Yah, biasanya kau hanya berada di dalam kelas menggambar-gambar di buku mu”
“Entahlah aku sedang tidak punya mod untuk menggambar lagi”
“Sepertinya kau kehilangan kemampuanmu” dia sedikit tertawa
“Tidak, aku hanya sedang tidak ingin menggambar saja” kataku kepadanya dengan suara yang sedikit kutinggikan.
“Oh ya, kelas mu di sebelah mana Ri?”
“Kau lihat itu di dekat kolam itu, kelas 8.5” kataku sambil menunjukkan kelasku kepada Aldi
“Kalau kau Di, dimana kelasmu?”
“Aku kelas 8.6 tepat di depan kamar mandi siswa laki-laki di sana” katanya menunjukkan ku kelasnya,
Ternyata kelasnya berada di jalan yang biasa aku lewati setiap pagi.
Setelah sedikit lama aku menunggu akhirnya keramaian sedikit mereda di sana, akupun mengajak Aldi untuk berbelanja dan dia mengikutiku. Namun ketika aku baru saja akan mengambil jajan yang akan ku beli suara bel kembali berbunyi keras menandakan waktu istirahat telah selesai.
“Aargh, sial” kataku kesal,
Sambil ku merenggut jajan yang telah ku beli sambil ku berjalan dengan cepat kembali ke kelasku,
Aku harus cepat karena hari ini ada kelas Matematika oleh Pak Rudi, guru yang terkenal disiplin di sana.
“Aldi aku duluan ya” kataku cepat-cepat lalu berlari
“Oke” katanya yang terdengar kecil di telingaku karena sudah jauh.
Beruntungnya aku karena Pak Rudi tidak memarahiku tadi karena kita datangnya barengan di depan kelas.
#
Aku menghirup nafas panjang dan kemudian suara bel berbunyi memekakkan ditelingaku, tanda pelajaran telah berakhir. Namun tiba-tiba datang seorang remaja perempuan yang sepertinya Kakak kelas yang tidak sedikit asing bagiku karena aku sering melihatnya setiap hari di sekolah, walaupun aku sendiri belum tau namanya.
Dia memiliki tinggi badan rata-rata, dengan kulit sawo matang dan mata yang berwarna hitam pekat. Dia memperkenalkan dirinya, dan ternyata dia adalah ketua OSIS kami yang bernama Widi, setelah berkenalan dia langsung memberikan kami sebuah selebaran kertas pada masing-masing siswa yang ada di sana.
“Ini adalah angket untuk program ekstrakurikuler  pada kalian yang baru, silahkan isi dan centang pada nama ekstra yang kalian ingin ikuti. Angket ini dapat kalian kumpulkan besok dan jika belum jelas tolong bertanya”
Setelah itu dia langsung keluar, sepertinya akan memberikan angket tersebut pada siswa lain di kelas lain. Aku menaruh mataku pada angket itu dan membacanya perlahan. Di angket itu terdapat beberapa pilihan ekstrakurikuler yang tidak asing lagi karena dulu di kelas 7 angket tersebut juga dibagikan kepada kami.
Namun di dalam angket tersebut juga terdapat beberapa ekstra yang baru dan kelihatannya menarik untuk diikuti, diantaranya adalah bulu tangkis, pimpong, musik, puisi, drama, dan lain sebagainya.
Aku kemudian melipat kertas itu dan beranjak untuk kembali ke rumah. Di rumah aku kemudian sambil tiduran melihat lembaran angket tersebut sambil memegang pensil untuk menandai ekstra apa yang akan aku ikuti tahun ini. Namun lama ku berpikir sepertinya banyak ekstra yang kuminati tetapi dalam angket tersebut siswa hanya boleh mengikuti maksimal dua jenis ekstra saja.
#
Malam harinya setelah sholat magrib aku berunding dengan ibuku untuk menentukan ekstra mana yang akan ku ikuti.
“Sepertinya olimpiade ini bagus”
katanya sambil menunjuk kata Olimpiade IPA di kertas tersebut.
“Tapi dulu aku pernah mengikutinya waktu sekolah dasar dan gagal” kataku merenung
“Kegagalan itu biasa, asalkan kita tidak pernah menyerah kita pasti berhasil” katanya pelan kemudian.
Seperti yang diharapkan dari seorang ibu yang bijaksana. Lama ku berpikir, dan akhirnya kuputuskan untuk memilih bulu tangkis dan pramuka ekstra yang pernah ku ikuti dulu waktu kelas 7 dan bahkan sejak kelas 5 SD.
“Pramuka ya?”
“Tidak apa-apa kan, lagipula ibu juga kan merupakan pembina pramuka”
“Yah, ibu pikir itu pilihan yang bagus” katanya tersenyum, akupun juga ikut tersenyum,
Akupun kemudian mencentang ekstra pramuka itu sekali lagi dan mungkin aku berpikir untuk mengikuti satu buah ekstra lagi karena ku pikir itu merupakan hal yang tepat karena dirumah hampir setiap hari aku kosong tidak tau apa yang akan kukerjakan.
Dan pada akhirnya setelah berpikir lama aku mencentang ekstra bulu tangkis di angket itu,
“Baiklah, selesai semuanya” kataku pelan.
Setelah menyiapkan semuanya akupun membaringkan diri di atas tempat tidurku, aku hanya berharap dalam hati semoga apa yang lakukan hari ini benar-benar bermanfaat bagi diriku sendiri,
“Hmmm...” aku bergumam sendiri,
Pasti benar pikirku dalam hati dan ekstra apa yang ku ikuti kali ini merupakan hal yang benar-benar bagus bagiku, pramuka dan bulu tangkis. Tapi semua ekstrakurikuler yang tercantum di sana tidak mencantumkan jadwal latihannya, tapi pasti esok kemudian hari akan diumumkan jadi santai sajalah pikirku keras.
Aku bangkit sejenak dari tempat tidurku untuk sholat isya, kemudian mengambil sedikit makan malam dan kembali lagi ke kamarku untuk istirahat. Ku matikan lampu, dan siap untuk tertidur.
***





BAB 5 HUKUMAN PAK RUDI
Pagi harinya aku memulai aktifitas seperti biasanya sholat subuh, mandi, sarapan, dan bersiap ke sekolah.
“Aku berangkat bu.. Assalamualaikum” kataku dari luar pintu dan beranjak ke sekolah.
Seperti biasa di perjalanan aku melewati rumah Satria namun tak terlihat tanda-tanda darinya, mungkin ia masih tertidur pikirku dan aku melanjutkan perjalanan dengan pelan karena kulihat mentari masih meringkuk di tempatnya berada dan lampu-lampu jalanan masih terlihat terang di mataku, mungkin ini masih sangat pagi pikirku.
Sesampainya di sekolah, ternyata masih terasa sepi hanya beberapa siswa kelas 7 yang teramat rajin baru terlihat sedang membersihkan kelasnya, akupun berjalan menuju kelasku seperti biasa melewati belakang deretan kelas 7.
Sesampainya di kelas suasana ruangan yang begitu sepi menyambutku, tubuhku sedikit merinding karena baru kusadari di sana teramat gelap jika pagi hari, akupun keluar dan duduk-duduk di tempat duduk keramik yang ada di depan kelasku.
Aku tak tau apa yang akan kulakukan saat itu jadi aku hanya berdiam diri sambil mencoret-coret buku ku dengan gambar-gambar yang tidak jelas. Tak lama kemudian satu persatu teman-teman ku datang.
“Pagi Ri”
“Hai Heri”
“Lho kok tumben pagi Ri?”
Kalimat sapaan itu terus berulang kali masuk dari telingaku dan aku hanya membalas dengan kalimat seadanya juga
“Pagi Salman”
“Hai Al”
“Baru tau, kan biasanya aku yang paling pagi datang” dan aku hanya tersenyum kecil kepada mereka.
“Woy, Ri sekarang kan gantian mu piket kebersihan!?” kata Al dengan sedikit berteriak kepadaku,
dan “Astaga! Benar”
Hari ini hari Kamis, gantianku untuk piket membersihkan kelas, entah hal apa yang membuat ku melupakannya aku tak tau. Akupun langsung bergegas untuk mengambil sebuah sapu ruangan dan kemudian mulai menyapu. Sungguh sial pikirku, kenapa aku melupakan tentang jadwal piketku padahal aku yang paling utama datang ke sekolah, tapi tak apalah untung saja semuanya telah beres sebelum bel berbunyi.
#
Jam pelajaran pertama adalah Pak Rudi kali ini, dia masuk dengan wajah yang seperti biasanya, langkahnya yang tegap tatapan matanya yang tajam dan melangkah dengan sangat hati-hati seakan-akan di lantai itu ada sebuah jebakan yang sedang menantinya. Setelah sampai di tempat duduknya, Pak Rudi melirik satu persatu wajah-wajah yang masih belia dan tidak bertanggung jawab itu.
“Baiklah” katanya memulai pembicaraan dengan nada yang begitu berat,
Entah kenapa tetapi seolah-olah jika aku melihat Pak Rudi dari dekat, ia seperti sebuah patung reog bali yang sedang kelaparan.
“Sekarang buka buku kalian halaman 37 kita akan belajar tentang persamaan kuadrat”
Dan dengan malasnya siswa-siswa di dalam ruangan tersebut membolak-balikkan kertas buku paket mereka menuruti perintah Pak Rudi dan begitu pula dengan diriku.
“Aaaa!?” aku ternganga dan hampir berteriak,
“Woy, kenapa Ri?” Aziz menatapku terkaget pula,
Dia melihatku menatap bukuku dalam-dalam dan dia melihat ke dalam buku miliknya dan ternganga juga sepertiku.
“Kerjakan latihannya!” kata Pak Rudi dari kejauhan.
Apa yang dia pikirkan? Pikirku, kita belum sama sekali mempelajari materinya langsung di suruh mengerjakan tugas begitu saja? Dan untuk yang pertama kalinya aku merasa begitu jengkel terhadap Pak Rudi.
“Ada pertanyaan, ya?”
Aku mengangkat tanganku seraya berkata “Pak, tetapi kami belum mempelajari satu pun materi yang ada di sini, bagaimana mungkin kami mengerjakan tugas ini?”
“Ooh, berarti kamu tidak belajar ya?” tatapan matanya membuat tubuhku bergetar
”Bu—bu—bukan begitu...”
“Ya sudah tidak apa-apa, sekarang kamu berdiri di sana!” katanya menunjuk posisi depan pojok kelas dekat pintu masuk
“Berdiri sambil memegang kedua telingamu sampai jam saya habis, mengerti?!”
Aku mengangguk malas. Sial! Kataku dalam hati, pagi yang sangat kelam.
Selama tiga jam pertama, aku terus berdiri di pojok kelasku sambil menyaksikan monster itu mengajari materi setelah berlatih cukup lama, sekitar satu jam. Ini tidak adil pikirku dalam hati, hanya karena aku menyanggahnya tentang kita yang harus mengerjakan latihan pertama-tama sebelum materi utama.
Jika ku lihat sepertinya tak ada satupun siswa di kelas itu mau memperhatikannya, dan aku berani bertaruh bahwa pasti tidak akan ada yang mencapai nilai sempurna pada saat tes pertama tadi.
“Hihihi” aku tertawa sekecil-kecilnya supaya tidak terlihat oleh Pak Rudi
***




BAB 6 EKSTRA MUSIK
Teet—teet—teeet, suara bel pulang sekolah berbunyi, pada akhirnya aku menyiapkan buku-buku tulisku dan bersiap pulang, namun saat aku melewati pintu kelas sambil bernyanyi-nyanyi kecil sebuah suara memanggilku dari belakang
“Heri, kau tidak akan pulang kan?” ternyata itu Al
“Memangnya kenapa Al?”
“Kau tidak mendengar pengumuman saat istirahat tadi?”
Emosiku sedikit memuncak saat itu karena mana mungkin aku mendengarkan pengumuman, banyak hal yang harus ku selesaikan
“Tidak, satupun aku tidak mendengar, aku kelelahan berdiri selama tiga jam pertama, menahan lapar, menahan keinginan buang air, itu sebabnya aku langsung pergi ke belakang”
“Oou” aku melihat wajah Al dan sepertinya dia sadar dia telah salah berkata kepadaku
“Maksudku, hari ini ada ekstra musik, apa kau mau ikut? Kita akan mengambil vocal di sana”
Emosiku perlahan berkurang, ekstra musik? Tak pernah terpikir sebelumnya olehku
“Tapi Al, aku tak pandai bernyanyi dan suaraku pas-pasan”
“Ooh, ayolah jangan merendah begitu, padahal suaramu bagus kok, yang penting ini sebagai jalan untuk menyalurkan hobi saja”
“Hmmm, baiklah di mana tempatnya?”.
Kami berdua kemudian berjalan menyusuri setiap ruangan kelas yang telah kosong terlebih dahulu berharap di sana ada Pak Subardan yang melatih siswa untuk bermain musik.
Mulai dari setiap kelas 7 tidak ada satupun tanda-tanda yang menandakan tempat latihan seni musik berlangsung, kami tetap berjalan mancari dan kemudian akhirnya diantara kelas 8 suara-suara piano terdengar samar di telinga kami
“Heri, kau dengar itu?”
“Ya, ayo!”.
Aku dan Al berlari kecil mengejar dari mana suara itu berasal, akhirnya kami sampai di tempat latihan dan betapa terkejutnya aku ternyata tempat latihan itu tidak lain dan tidak bukan adalah ruangan kelas ku sendiri, seandainya jika aku tahu tempat ini bakal dijadikan tempat latihan aku takkan kemana-kemana pikirku dalam hati, namun sudahlah semua itu sudah berlalu yang terpenting sekarang adalah masuk dan segera mendaftarkan diri.
#
“Heri Hardiansyah, kau mengambil vokal”
Kata Pak Subardan kepadaku, dia terlihat lebih tua daripada guru-guru yang lainnya, rambutnya sebagian terlihat memutih dan kulit wajahnya terlihat keriput namun jika dilihat dari caranya berbicara terkuak jelas bahwa semangatnya untuk membagikan ilmunya kepada generasi muda sangatlah besar.
“Ya, pak” kataku pelan,
Al juga mengambil seni vokal dan ternyata ada Alfian di sana yang merupakan teman sekelasku juga waktu kelas 7, dia yang berbadan kurus dan tinggi dengan beberapa kumis kecil tumbuh di atas bibirnya.
“Ian, kau mengambil vokal juga” tanyaku
“Yaah, Cuma untuk menyalurkan hobi saja” katanya tersenyum kepadaku.
Setelah menulis nama di kertas atas meja tempat Pak Subardan duduk, kami pun langsung duduk di bangku yang ada di sana, aku duduk di samping Fian dan Al di depanku siap untuk mengikuti instruksi yang diberikan oleh Pak Subardan.
Aku memandang sekeliling ruangan itu, ku lihat di barisan paling kanan ada sekelompok anak yang memegang gitar sambil berlatih sendiri-sendiri memainkannya.
Di barisan bangku depan ada beberapa alat musik keyboard yang juga menanti untuk dimainkan namun tidak seperti gitar, alat musik itu hanya menanti seseorang yang datang untuk memainkannya.
Dan di barisan paling kiri dari ruangan itu ada kami yang memilih seni vokal, di sana ada aku, Al, Fian, dan seorang siswa lagi yang tak ku kenal sepertinya rekan kelasnya Fian.
“Mohon perhatian” kata Pak Subardan menyaringkan suaranya,
Serentak apapun yang ada di dalam ruang kelas itu terdiam sunyi seperti tak ada satupun makhluk di dalamnya.
“Untuk pelajaran pertama silahkan yang mengambil seni musik gitar maju ke depan”
Ternyata gitarlah yang pertama akan diberikan instruksi oleh Pak Subardan, kemudian merekapun maju sambil membawa kursi masing-masing dan Pak Subardan memberikan sekilas materi tentang gitar dan bentuk-bentuk kuncinya dan terllihat bahwa anak-anak gitar itu memainkan nada dengan senangnya.
“Selanjutnya yang ambil seni musik organ” kata Pak Subardan nyaring,
Namun tak satupun dari kami maju untuk memainkan alat musik itu, memang karena tinggal kami yang mengambil seni vokal saja di bangku ruangan itu untuk menantikan instruksi.
“Tak ada yang mau?” kata Pak Subardan sambil mengangkat sedikit alis matanya,
Aku berpikir mungkin ini kesempatan untuk belajar salah satu alat musik, namun hendak aku berdiri Fian juga ikut berdiri
“Oh, kamu ingin belajar organ? Bagus, bagus” kata orang tua itu memuja Fian
“Saya juga pak” kataku kemudian
“Oh ya silahkan,semakin banyak semakin bagus”.
Aku dan Fian menatap bergantian dan kemudian tersenyum satu sama lain.
“Ogan adalah salah satu alat musik yang dimainkan seperti piano yaitu tutsnya ditekan, yang bisa dibilang untuk memainkan dasar-dasarnya adalah mudah, sebagai contoh untuk memainkan nada C kalian hanya perlu menekan nada do-mi-sol secara bersamaan” katanya singkat
Dan aku dan Fian mencari nada do-mi-sol seperti yang dibilang kakek itu, untunglah di keyboard itu telah ditulis sebelumnya nama-nama nadanya sehingga memudahkan kami untuk menekannya.
“Triing”
“Nah itu adalah nada C, sekarang coba gitar mainkan nada C juga”
“Jreeng”.
“Dan sekarang coba organ dan gitar memainkan nada C bebarengan”
“Treeng”.
Wah kataku dalam hati, sepintas suaranya terdengar sama, jadi aku mengerti sekarang bahwa kunci itu merupakan perpaduan dua atau lebih nada dalam alat musik.
“Kalian dengar, kunci sebenarnya adalah perpaduan nada dalam alat musik yang jika dimainkan bersamaan akan terdengar harmonis” kata Pak Subardan menjelaskan
“Persis” kataku kecil kemudian.
“Selanjutnya nada D...”,
Saat kami memainkan kunci-kuci organ tersebut tak terduga ternyata Al juga ikut memainkannya dan hal yang membuatku terkejut adalah dia tiba-tiba saja ada di sampingku.
“Yang terakhir adalah vokal, silahkan maju”
Fian dan Al mendorong dan menyuruhku untuk maju pertama, sial anak dua itu pikirku, mereka tidak tau bahwa aku sedikit gugup apa? Tapi aku memberanikan diri untuk maju ke depan.
“Coba nyanyikan lagu Ibu Kita Kartini”
Kata Pak Subardan kemudian, aku bingung apakah dia tidak terlebih dahulu untuk memberikan kami materi sekilas tentang seni vokal? Tapi sudahlah, aku memulai bernyanyi.
Ibu kita Kartini, Putri Sejati
Putri Indonesia harum namanya
Ibu kita Kartini, Pendekar Bangsa
Pendekar kaumnya untuk merdeka
Wahai Ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sunggug besar cita-citanya
Bagi Indonesia
Al, Fian, dan seorang anak vokal yang tak ku kenal, dan anak-anak gitar itu bertepuk tangan. Pak Subardan juga ikut tepuk tangan
“Bagus, suaramu bagus walaupun agak sedikit fals*, tapi bagus” katanya tersenyum.
Fals? Apa itu fals kataku dalam hati.
“Hei Fian, apa yang dimaksud Pak Subardan dengan fals, apa maksudnya suaraku jelek?”
“Hei, hei, hei, apa yang kau bicarakan suaramu bagus dan nadamu tidak setinggi milikku. Tapi fals maksudnya kau belum mampu menyesuaikan nadamu dengan melodi musik. Itu saja.”
“Ternyata musik itu sulit benar?”
“Asalkan belajar tidak ada sesuatupun yang sulit, percayalah”
Aku sedikit terkejut, sejak kapan Fian berkata bijak seperti ini. Padahal dahulu saat kelas 7 dia anak yang pendiam. Namun perasaan itu segera buyar saat dia melihatku sambil mengangkat-ngangkat alisnya sendiri, yang mengisyaratkan bahwa dia juga takjub mendengar kata-katanya sendiri.
Akhirnya setelah Fian, Al, dan seorang lagi yang ternyata namanya adalah Dodit telah bernanyi di depan, acara latihan akhirnya usai sudah.
“Baik anak-anak cukup sekian untuk latihan kita hari ini, kita lanjutkan di lain hari jadi tetap dengar pengumuman ya. Sebelum pulang ke rumah tolong bantu untuk beres-beres dahulu, dan untuk yang gitar nanti tolong ke ruang guru, ada fotocopyan yang akan saya berikan untuk kalian berlatih di rumah”.
Kami semua membereskan dan mengangkut alat-alat musik itu kembali ke ruangannya yang semula dan silahkan kembali ke rumah masing-masing.
Namun sebelum aku pulang ke rumah aku menyempatkan diriku untuk sholat ashar terlebih dahulu.
Sholat zuhur telah kami lakukan berjamaah selepas satu jam sebelum jam pelajaran terkakhir berakhir.
#
“Tumben kau pulang larut begini Ri?” tanya ibuku saat aku telah tiba di rumah
“Oh, maaf bu. Heri lupa beritau ibu kalau hari ini ada latihan musik”
“Musik? Sejak kapan kau menggemari musik Ri?”
“Entahlah, sejak tadi”
Ibuku tertawa kecil mendengar itu, namun itu tak berlangsung lama
“Sudahlah, kau sudah sholat ashar?”
“Sudah tadi sebelum pulang”
“Baiklah kalau begitu, cepat isi perutmu sana. Ibu membuat sup bakso”
“Baik bu”.
#
“Ini” kata ibuku di pagi hari sesaat setelah aku selesai sholat subuh.
Dia memberikan sebuah kotak kecil kepadaku
“Apa ini?” kataku kemudian
“Sudah buka saja”
Ku buka bungkusan kotak itu dan ternyata oh ternyata, ibuku membelikanku sebuah ponsel baru. Walaupun hanya ponsel tulalit aku bersyukur karenanya
“Tapi kenapa ibu membelikanku ini?”
“Itu ibu belikan supaya kau dapat memberitau ibu jika kau akan pulang larut, jadi ibu tidak akan khawatir karenanya”
Aku tersenyum lebar kepadanya dan langsung mencium tangannya seraya berkata terima kasih.
***
*Fals: suatu keadaan dimana seorang penyanyi tidak mampu menyesuaikan nadanya dengan iringan musik atau dengan nada penyanyi yang lain jika dalam paduan suara, sehingga terdengar rancu.


Selanjutnya, coming soon.... :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tolonglah berkomentar dengan sopan, NO SPAM!, dan dengan bahasa yang santun pula. Karena komentar anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini ke depannya.