PROLOG
Hari Rabu pagi aku bangkit dari tempat tidurku
ku lihat jam beker di atas mejaku yang berwarna gelap tertunjuk pukul 5:25
pagi, aku kemudian beranjak dan pergi untuk sholat subuh. Setelah sholat ku
lihat lagi jam ternyata masih menunjukkan pukul 5:35 masih pagi aku berkata
dalam hati.
Tak lama kemudian alarm jam ku berbunyi
menunjukkan pukul 5:45 a.m. Aku berjalan menuju jendela kamarku yang terlihat
sedikit buram karena hanya ada sedikit cahaya yang ada di sana. Saat aku
membuka jendela, masuk udara pagi yang segar menerpa wajahku. Kupejamkan mataku
sambil menikmati udara pagi yang segar, ku angkat muka ku mengadah ke langit.
Hari ini langit sangat cerah hanya terlihat beberapa titik awan yang menghiasi langit,
aku berpikir bahwa suasana hari ini agak sedikit berbeda. Tak lama aku tertegun
ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 6:15 aku kemudian beranjak menuju kamar
mandi untuk membasuh diri dan bersiap-siap berangkat ke sekolah. Setelah sekian
lama berada dalam kamar mandi aku keluar dengan handuk yang terikat di leherku,
suasana pagi itu terasa sedikit sepi dari biasanya yang terdengar hanya suara
sebuah daging yang sedang digoreng oleh ibuku dari dalam dapur, aku kemudian
beranjak ke dapur untuk sarapan “Pagi, Ri” ibuku berkata dan dengan spontan aku
menjawab “Pagi bu”, aku langsung mengambil piring yang ada di atas meja makan
dan sarapan dengan pelan. Setelah sarapan aku bersiap-siap untuk berangkat ke
sekolah, ku kenakan pakaian putih-biru ku, dan sepasang sepatu yang terselip di
atas rak alas kaki dekat pintu ku ambil dan ku kenakan. “Aku berangkat bu,
Assalamualaikum” kataku berteriak dari depan pintu dan menunggu jawaban dari
dalam yang berbunyi hati-hati dan kemudian melangkah berjalan menuju sekolah.
BAB
1 RUANG KELAS YANG BARU
Aku berjalan menyusuri jalan yang
berkelok-kelok dan sedikit penuh lubang di atas aspalnya, pagi itu tak banyak
aktifitas yang di lakukan masyarakat sekitar tempat tinggalku, sambil
menyanyikan lagu kesukaanku, aku berjalan pelan di atas aspal pagi itu.
Di
sana hanya ada sekelompok orang yang sedang berlari pagi ataupun yang sedang
berjalan-jalan sambil menikmati segarnya udara pagi dan didukung dengan tidak
adanya kendaraan bermotor yang berlalu-lalang di jalan itu, aku juga melihat
beberapa orang petani yang sedang menggiring sapi mereka menuju ke sawah.
“Heri!”
kata sebuah teriakan dari belakang punggungku, ku balikkan badanku dan menoleh
“Woi
Satria!” ternyata Satrialah yang memanggilku.
Aku
adalah seorang remaja biasa yang ingin menuntut ilmu di sekolah menengah
pertama di wilayahku, orang-orang berkata bentuk badanku sedikit agak kurus,
dengan bola mata dan rambut yang berwarna hitam, kulit putih agak kesawo
matengan, hidung yang tidak mancung dan
tidak juga pesek, dan tinggi badanku sekitar 150 cm.
Sedangkan
Satria adalah seorang teman sekaligus sahabatku, dia mempunyai badan yang agak
gemuk jika dilihat dari belakang, dia mempunyai kulit yang putih seperti bayi,
warna bola mata dan rambut yang agak kecoklatan, muka yang tembem dan gemesin
membuat siapa saja yang melihatnya ingin mencubitnya, hidungnya yang sedikit
mancung namun lebar, dan tinggi badan rata-rata remaja SMP. Dia telah menjadi
teman karibku sejak kami dipertemukan di sekolah menengah pertama yang sama,
“Hai,
apa kabarmu” dia memulai pembicaraan
“Aku
baik, kau?”
“Tak
begitu buruk” dia berkata.
Kami
pun berjalan bersama pagi itu menuju ke sekolah yang katanya faforit semua
orang, aku telah bersekolah di sana satu tahun dan memang ku akui sekolah ku
memang agak sedikit berbeda dari sekolah yang lain mulai dari segi bentuknya,
fasilitas yang ada, dan tenaga pengajar yang handal.
“Bisakah
kau menebak, kelas mana yang akan kita tempati tahun ini?” dia bertanya
kepadaku dengan muka yang begitu penasaran
“Kita?”
aku pun bertanya kembali sambil berusaha memahami apa yang sedang Satria
bicarakan
“Yah,
aku hanya berharap kita berada dalam satu ruangan lagi” katanya pelan,
Ku
lihat tubuh yang gemuk itu namun baru kusadari dia telah terlihat sedikit kurus
kali ini, maklum kami tidak bertemu selama beberapa minggu karena liburan akhir
semester dan kenaikan kelas, dan mungkin Satria telah berusaha keras untuk
berdiet selama waktu itu walaupun hasilnya hanya terlihat sedikit memuaskan.
“Apakah
kau juga berharap begitu?” dia bertanya lagi
“Oh,
Iya aku juga berharap kita bisa satu ruangan seperti kemarin”
“Aku
merasa senang” katanya sambil menggaruk kepalanya,
rupanya
dia begitu ingin satu kelas lagi denganku mungkin jika dia satu ruangan lagi
denganku dia bisa menjadi lebih pintar karena dulu aku sering membantunya
mengerjakan tugas jika dalam kesulitan.
Tak
lama kemudian kami telah sampai di sekolah kami dengan di atas gerbangnya
tertulis SMPN 1 AIKMEL, gedungnya terlihat besar dari luar dengan cat tembok
khas yang berwarna biru dan dengan lantai keramiknya yang putih mengkilat.
Kami
masuk ke dalam dan melihat banyak gerombolan siswa yang sedang berdesak-desakan
di depan setiap kelas yang ada di sana, aku dan Satria pun mendekat berharap
melihat ada gerangan apa di sana. Aku bertanya kepada salah satu temanku yang
lain bernama Aziz, tubuhnya kecil mungil yang mungkin hampir sampai bahuku
“Ziz,
ada apa ini, kenapa semuanya saling berdesakan?”
“Kali
ini pihak sekolah memutuskan untuk memberitahu kita kelas mana yang akan kita
tempati dengan cara menempel secarik kertas di sana”
dia
menjelaskan dengan seksama dan benar pula di sana di kaca sebuah kelas
tertempel sebuah kertas yang berisi nama-nama siswa yang berarti siswa yang
tertera namanya disanalah yang akan menempati kelas tersebut.
Aku
kemudian menyelinap ke dalam sesaknya gerombolan siswa yang juga sedang mencari
namanya dan tanpa ku sadari aku telah terpisah dengan Satria dikarenakan sangat
ramainya siswa yang ada di sana, aku mendongakkan kepalaku berusaha mencari
batang hidung Satria namun tidak terlihat sama sekali, lalu kuputuskan untuk
mencari Satria nanti yang kufokuskan hanya mencari namaku di setiap selebaran
kertas yang tertempel itu.
Lama
ku mencari tetapi tidak ku temukan hingga pada akhirnya aku sampai di depan
kelas yang ada di samping kolam ikan dan di samping ruang BK.
Aku
fokuskan mataku di satu titik dan di sana tertera sebuah nama yang tertulis
Heri Hardiansyah, dalam hati aku bersyukur karena lama kumencari sebuah nama
tersebut hingga akhirnya kutemukan di sini.
Aku
pun masuk ke dalam kelas itu dan di dalam ku lihat sudah ada beberapa anak yang
telah memilih bangku mana yang akan mereka tempati bersama teman duduknya.
Lalu
kuputuskan untuk memilih sebuah bangku yang masih kosong bertempat di samping
tembok dan diluar terdapat kolam ikan, aku duduk di sana dan sempurna dalam
hati kuberkata karena melihat suasana kolam air yang tenang membuat suasana
hatiku pun ikut tenang.
Ku
pandangi ruangan kelas itu dan terlihat beberapa bagian dari temboknya sudah
mengelupas, tertegun aku sejenak dan aku teringat Satria, apakah dia sudah
menemukan kelasnya.
Aku
keluar dan kuperhatikan sekali lagi nama-nama yang ada di kertas itu dan ternyata
nama Satria Satriawan tidak ada, mungkin ini sudah takdir pikirku aku tidak
seruangan dengan Satria.
Dan
kuputuskan untuk membantu Satria menemukan namanya walaupun dia sekarang tidak
bersamaku dan ternyata kelas Satria hanya berjarak tiga kelas dari kelasku dan
kulihat dia duduk sendiri di dalam ruangan itu. Aku pun masuk dan
menghampirinya seraya berkata
“Jangan
bersedih Sat, walaupun kita beda ruangan---“
“Aku
tidak sedih Ri, aku hanya senang aku tidak membebanimu lagi”
dia
berkata sebelum aku bisa menyelesaikan kalimatku, tidak lama bagiku untuk
mengerti katanya itu
“Tidak,
kau tidak pernah membebaniku, aku ikhlas membantumu”
kataku
pelan kepadanya dan dia pun tersenyum kecil kepadaku tetapi tidak berkata
apa-apa.
“Aku
senang Ri”
Katanya
kemudian kepadaku dan aku hanya membalasnya dengan senyuman kecil, tetapi
terlihat dalam mukanya dia terlihat tidak begitu senang.
Tiba-tiba
seorang perempuan remaja dengan wajah berseri-seri masuk dan menghampiri kami
“Hai,
Satria aku pikir kita sama ruangan lagi”
Ternyata
Sintia yang datang, seorang teman kelasku dan Satria dahulu saat kami kelas
tujuh juga.
Ternyata
baru kusadari wajah Sintia begitu putih dan manis walaupun terlihat sedikit
lingkaran kecil di sekitar matanya yang membuatnya terlihat seperti orang yang
baru bangun tidur karena kelelahan.
“Yeah..
aku bersyukur” Satria berkata pelan,
Mendengar
mereka berbincang membuat suasana hatiku tak menentu kedua teman kelasku sudah
satu ruangan lagi, mungkin hanya aku yang dipisahkan kelasnya.
“Eh,
Satria aku mau ke kelas ku dulu memastikan siapa saja teman kita yang ada di
sana”,
”Lho,
ku pikir kelasmu di sini Ri?” kata Sintia yang sepertinya agak terkejut
“Tidak,
kelas ku berbeda,, yah tapi kuharap tahun depan kita bisa sekelas lagi”
Aku
tersenyum, aneh bagiku berkata seperti itu karena baru saja pembagian kelas
berlangsung aku langsung memikirkan tahun depan.
“Baiklah,
sampai jumpa Ri..”
Dia
melambaikan tangannya kepadaku dan serentak aku membalas lambaiannya sambil
berlalu, sejenak aku melihat Satria mengangkat rendah jempolnya sebelum mereka
menghilang pandangannya.
***
BAB
2 TEMAN-TEMAN YANG BARU
Aku berjalan kembali ke ruanganku yang
semula kali ini melewati kolam yang berada di belakangnya, sengaja aku melewati jalan yang memutar karena aku tak
tahu apa yang harus kulakukan setelah ini karena biasanya jika hari pertama
masuk belajar, sekolah tidak mengadakan belajar efektif. Hanya siapa saja guru
yang ingin masuk ke dalam kelas itu barulah kami akan belajar.
Tak
lama kuberjalan sampailah aku di depan pintu kelas ku yang hanya terbuat dari
pintu kayu yang sedikit rapuh dan dengan gagang pintunya yang sudah buram
warnanya.
Aku
memandangi kembali nama-nama yang tertera di dalam kertas yang di tempel di
kaca depan kelas itu, lama ku memandang ternyata Aziz satu kelas denganku,
begitu juga Dino, Haris, Alya, dan Ati mereka merupakan teman sekelasku juga
dahulu, setidaknya masih ada sisa-sisa teman kelas dahulu yang seruangan lagi
denganku, pikirku dalam hati melihat nama-nama itu.
Teeet....Teeet...Teeet,
suara bel sekolah berbunyi tiga kali menandakan masuk bagi siswa-siswi yang ada
di sekolah itu, ku lihat banyak tulang-tulang dan lemak-lemak yang
bercampur-gaur bergegas masuk ke dalam kelas baru mereka.
Tak
lama menunggu aku pun ikut masuk juga dan duduk di bangku ku, beberapa detik
kemudian banyak anak perempuan maupun lelaki masuk berhamburan ke dalam kelas
itu tak banyak wajah yang kukenal. Kemudian Aziz menghampiriku dan menyapaku
aku pun balas menyapanya dan sepertinya dia akan duduk sebangku denganku tahun
ini.
“Sebenarnya
aku mau pulang saja”
Dia
berkata lemah kepadaku, ku tatap dia dengan mata bulat
“Kau
ini, kebiasaan dari dulu, setiap ada acara-acara pasti bawaanmu ingin pulang
lagi, pulang lagi”
Kataku
dengan muka masam namun aku dan Aziz menganggap itu sebagai sebuah lelucon saja.
Memang
dari dulu juga dia sangat tidak betah tinggal di sekolah apalagi jika ada
acara-acara sekolah seperti rapat guru, ujian sekolah, try out atau apalah
hanya akan ada satu di pikirannya yaitu pulang.
Tak
lama kami berbincang dan di dalam kelas yang
ribut terdengar senyap dan tenang seakan-akan sebuah durian yang sangat besar
te jatuh dari langit. Aku menoleh sejenak dan ternyata seorang wanita bertubuh
agak gemuk dengan mata yang berwarna hitam pekat serta memandang tajam ke arah
semua siswa di sana, dan hidungnya terlihat pesek jika dilihat dari jarak dekat
ternyata telah masuk ke dalam ruangan kami.
Dia
masuk dan mengucapkan selamat pagi, dan ku dengar hanya beberapa siswa saja
yang mengatakan selamat pagi juga kepadanya. Dia berjalan menuju meja guru
dengan pelannya, bunyi sepatunya terdengar mencicit jelas karena pada saat itu
tidak ada satupun siswa yang berbicara. Aku memandang orang itu, terlihat galak
pikirku dalam hati. Setelah beberapa saat
“Mulai
sekarang saya adalah wali kelas kalian” dia berkata,
terdengar
suara mengeluh kecil di dalam kelas itu sepertinya suara-suara itu tidaklah
ikhlas menerima wanita itu sebagai wali kelas mereka. Aku pun memandang Aziz,
dia hanya terlihat tidak peduli dan tidak mau peduli akan hal tersebut.
“Nama
Ibu adalah Taufik Hidayah”
segera
setelah wanita itu mengucapkan namanya aku rasa aku mendengar suara tawa yang
ditahan agar tidak sampai keluar, ku lihat ke samping ternyata Aziz lah itu,
dia
merundukkan kepalanya sambil memegang mulutnya berusaha untuk menahan tawa.
Rupanya wanita itu sedikit melirik ke arah kami namun segera dia melanjutkan
kata-katanya yang belum sempat terselesaikan
“Kalian
bisa panggil Ibu Hidayah”.
Memang
sebenarnya aku juga ingin tertawa mendengar namanya, biasanya kan nama Taufik
itu merupakan nama seorang lelaki juga parahnya nama itu merupakan salah satu
nama pebulu tangkis terkenal di Indonesia, tapi untungnya nama Taufik
dibelakangi oleh nama Hidayah yang biasanya juga dipakai oleh seorang wanita.
“Sekarang
giliran kalian untuk memperkenalkan diri masing-masing, Ibu yakin setelah naik
kelas banyak teman kalian yang berbeda kelas dahulu saat kelas satu duduk di
ruangan ini sekarang”
katanya
pelan sambil melirik ke sekitar ruangan dan kemudian berhenti padaku, sedikit
tubuhku gemetar karena tatapan itu
“Dimulai
dari kamu nak”
dia
berkata kepadaku serontak jantungku berdegup kencang akan hal itu, sambil
memperhatikannya aku pun melangkahkan kakiku menuju depan ruangan tepatnya
disamping Ibu Hidayah.
“Nama
saya Heri Hardiansyah” kataku memulai perkenalan,
dan
setelah beberapa hal pribadi kuungkapkan di depan aku pun kembali ke tempat
duduk ku, baru kusadari ternyata aku berkeringat.
“Selanjutnya
kamu”
kata
Ibu Hidayah sambil menunjuk seorang siswa perempuan yang berada dua meja
sebelahku.
Ternyata
setelah kuperhatikan dengan seksama wajah Ibu Hidayah mirip dengan Satria,
apakah ini hanya kebetulan. Karena Satria tak pernah bicara denganku
akhir-akhir ini.
Rendi,
Panji, Salman, Zakir, Al, Alya, dan masih banyak lagi nama teman kelasku yang
baru yang tidak kuingat namanya yang telah maju ke depan. Kemudian hal tersebut
juga berlaku untuk satu demi satu siswa di ruangan itu.
#
Hari
itu merupakan hari yang penting bagiku karena teman-teman kelasku baru, ruangan
kelas baru, guru baru dan lainnya.
Sudah
hampir beberapa jam, bel sekolah berbunyi menandakan acara untuk hari ini telah
selesai tinggal berkemas dan pulang ke rumah, ku lirik arlojiku dan kudapati
jarum pendek menunjuk ke arah angka 11:30.
Lumayan
pagi pikirku dalam hati, aku berani bertaruh pasti suasana hati Aziz sangat
gembira saat ini.
Hari
itu tak banyak perlengkapan aku bawa ke sekolah hanya sebuah buku dan beberapa
pulpen, karena ku tahu biasanya jika hari pertama masuk sekolah, belajar
efektif ditiadakan.
#
Saat
ku berjalan melewati koridor di depan lab fisika, aku terpikir oleh Satria,
ngomong-ngomong apa yang sedang dilakukannya saat ini. Terasa sedikit menyesal
dalam hatiku mengapa aku harus lewat sini, kenapa tidak lewat depan saja.
Langkahku
ku hentikan sejenak sambil menatap hiruk pikuk siswa yang bergerombol berjalan
kembali ke rumah mereka. Lalu aku berbalik berharap agar Satria tidak pulang
duluan, ku percepat langkahku menuju kelas Satria dan setelah sampai di
persimpangan ku lihat Satria sedang bercanda dan tertawa bersama teman-teman
kelasnya.
Ingin
ku panggil namun ku rasa sedikit mengganggu, lalu kuputuskan untuk berjalan
kembali namun kali ini melewati koridor yang ada di kelas 7.
***
BAB
3 PAGI YANG BIASANYA
Hari-hari kulewati seperti biasanya,
pagi yang sunyi di wilayahku, suasana keributan di kelas, Aziz yang ingin
sekali cepat pulang dari sekolah dan berbagai macam hal yang terjadi di sini.
Hari
itu hari Senin, dan biasanya hari senin merupakan hari yang paling menyeramkan
bagi seluruh siswa di sekolah karena hari itu diawali dengan upacara bendera
yang kemudian proses belajar mengajar pada hari tersebut akan berakhir pada
pukul 13:00, namun terkecuali jika ada gejala-gejala alami seperti hujan deras,
atau ada salah satu acara guru di sekolah, itu merupakan karunia yang tidak
ternilai harganya bagi siswa-siswi di sana.
Pagi-pagi
sekali ayam berkokok dari rumah tetangga, entah kenapa hari itu aku bangun
teramat pagi sekali, ku lihat jam beker masih menunjukkan pukul setengah lima
kurang beberapa puluh menit, aku berpikir masih terlalu pagi untuk memulai
aktifitas. Karena hal tersebut aku kembali membenamkan diriku dalam selimut ku
yang hangat.
Sangat
banyak suara ayam berkokok membuatku tidak bisa kembali tidur, akhirnya aku
bangun dari tempat tidurku dan kemudian bergegas untuk sholat subuh dan
kemudian ke kamar mandi untuk mandi tentunya.
Ternyata
baru ku sadari ibuku telah bangun tak lama setelahnya.
“Tumben
pagi Ri?” dia bertanya sambil menggodaku
“Apaan
sih bu, sekali-kali kan tidak apa-apa”
Kataku
pelan dan dia hanya tersenyum melihatku.
Setelah
mandi aku duduk di atas tempat tidurku sambil menyiapkan buku-buku apa saja
yang akan kubutuhkan untuk pelajaran nanti.
Biasanya
aku tak perlu repot-repot menyiapkan hal ini namun karena kemarin malam aku
tidak belajar sama sekali karena kupikir hari esok akan disiapkan materi baru
oleh Ibu Taufik.
Lama
ku mempersiapkan semuanya tak terasa matahari sudah makin merangkak tinggi
sedikit demi sedikit dari balik kaca kamarku.
Akhirnya
kuputuskan untuk pergi ke dapur untuk mengambil sedikit sarapan, di tengah
jalan aku berpapasan dengan seekor cicak yang sedang menyebrangi lantai, sontak
aku sedikit terkejut melihatnya, namun ketika kusadari itu hanyalah seekor
cicak kecil, dan aku kembali melanjutkan langkahku menuju dapur. “Broook” suara
sendawa terdengar dari balik meja makan, setelah kenyang akupun berangkat ke
sekolah.
Seperti
biasanya jalan yang kulalui di desaku itu namun akhir-akhir ini aku jarang
melihat Satria dari balik rumahnya dan jika ku lihat biasanya dia hanya
memanggilku dan lalu masuk kembali ke dalam rumahnya.
Aku
terus berjalan hingga ku lihat gerbang sekolahku yang bercat biru tua dari
kejauhan tampak seperti gapura selamat datang ku lihat. Saat berada di sana sekolah
terlihat beberapa siswa kelas 7 yang hendak berjalan menuju kelasnya dan
beberapa siswa kelas 8 yang duduk di kantin sekolah sembari menyantap sarapan
nasi bungkus dengan lahapnya.
Aku
kemudian berjalan menuju kelasku dengan lagkah pelan melalui belakang kelas 7.
Aku
suka melewati jalan itu ketika aku kan menuju kelas ku karena di belakang kelas
7 terdapat hamparan sawah dan antara sekolahku dengannya dibatasi oleh sungai
kecil yang airnya yang mengalir berbunyi gemericik membuat suasana damai di
dalam hatiku, walaupun jalan itu tidak berhubungan langsung dengan kelasku
melainkan dengan kamar mandi laki-laki dan terus sampai ke koperasi siswa namun
tak sia-sia kulewati karena bisa sesaat mengenang kembali kenangan masa dulu di
kelas 7 dengan melihat anak-anak kelas 7 yang bermain sana-sini dan ada yang
belajar dengan sangat giat, sungguh masa-masa yang indah.
Sembari
melewati jalan di depan kamar mandi laki-laki, ku hirup bau puntung rokok yang
sepertinya baru saja di buang, dan kulihat anak kelas 9 keluar dari sana sambil
menatapku garang, namun tak lama diapun berlalu juga.
Setiap
sekolah sepertinya mempunyai murid-murid yang nakal seperti mencontek,
berkelahi, merokok dan semacamnya. Namun hal itu ku acuhkan dan segera berjalan
kembali.
Sesampai
di kelas, suasana ruangan itu terasa seperti biasanya remang-remang karena
sinar matahari terhambat oleh gedung di sebelahnya yang sedikit lebih tinggi
dari gedung kelasku, suasana yang sama terasa setiap hari seperti biasanya,
tidak seperti minggu lalu saat hari
pertama memasukinya yang sepi sunyi dan jika pagi yang terdengar hanya suara
kodok yang berbunyi krook dari balik jendela kelas tepatnya di atas daun
teratai yang ada di kolam itu. sekarang sedikit berbeda karena sebagian siswa
sudah berada di dalam kelas, berbincang-bincang dengan temannya.
Akupun
membenamkan diri di kursiku sembari menyandarkan tasku di depan sandaran kursi.
Tak
lama kulihat Satria berjalan melewati kelasku, kali ini dia hanya melihatku
sambil meniggikan alis matanya kepadaku akupun melakukan hal yang serupa
dengannya. Aku menatapnya berlalu dari depan kelasku, tak biasanya Satria hanya
memberi respon begitu apa dia kesal karena pisah kelas denganku? Aku hanya
tersenyum sendiri memikirkan hal tersebut.
Tak
lama kemudian datang Aziz sambil memasang muka seperti biasanya, dia menaruh
tasnya dengan pelan lalu mengambil beberapa uang recehan dari saku bajunya
“Ayo
ke kantin bersamaku” katanya pelan kepadaku
“Kenapa,
kau belum sarapan?”
“Yah
aku tadi tergesa-gesa ke sekolah karena ku pikir sudah siang” katanya sambil
menggaruk-garuk kepala belakangnya.
Akupun
menuruti permintaanya untuk pergi ke kantin, namun ku lihat jam sudah
menunjukkan pukul setengah tujuh lebih beberapa menit
“Lebih
baik cepat sedikit” kataku sambil berdiri dan berjalan menyeberangi kelas
menuju ke kantin sekolah.
“Sebetulnya
pukul berapa kau bangun Ziz?”
“Biasa,
kurang lebih pukul enam lah” katanya dengan percaya diri.
Bangun
siang saja di banggakan pikirku dalam hati tapi apa boleh buat itu adalah
temanku Aziz, jika terlalu pagi dia berangkat ke sekolah pasti ada apa-apa
dengannya.
***
.............. Bab selanjutnya menyusul ya :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tolonglah berkomentar dengan sopan, NO SPAM!, dan dengan bahasa yang santun pula. Karena komentar anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini ke depannya.