3 Januari 2018

Daun-Daun yang Terbang Mencari Angin



PROLOG
Hari Rabu pagi aku bangkit dari tempat tidurku ku lihat jam beker di atas mejaku yang berwarna gelap tertunjuk pukul 5:25 pagi, aku kemudian beranjak dan pergi untuk sholat subuh. Setelah sholat ku lihat lagi jam ternyata masih menunjukkan pukul 5:35 masih pagi aku berkata dalam hati.
Tak lama kemudian alarm jam ku berbunyi menunjukkan pukul 5:45 a.m. Aku berjalan menuju jendela kamarku yang terlihat sedikit buram karena hanya ada sedikit cahaya yang ada di sana. Saat aku membuka jendela, masuk udara pagi yang segar menerpa wajahku. Kupejamkan mataku sambil menikmati udara pagi yang segar, ku angkat muka ku mengadah ke langit. Hari ini langit sangat cerah hanya terlihat beberapa titik awan yang menghiasi langit, aku berpikir bahwa suasana hari ini agak sedikit berbeda. Tak lama aku tertegun ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 6:15 aku kemudian beranjak menuju kamar mandi untuk membasuh diri dan bersiap-siap berangkat ke sekolah. Setelah sekian lama berada dalam kamar mandi aku keluar dengan handuk yang terikat di leherku, suasana pagi itu terasa sedikit sepi dari biasanya yang terdengar hanya suara sebuah daging yang sedang digoreng oleh ibuku dari dalam dapur, aku kemudian beranjak ke dapur untuk sarapan “Pagi, Ri” ibuku berkata dan dengan spontan aku menjawab “Pagi bu”, aku langsung mengambil piring yang ada di atas meja makan dan sarapan dengan pelan. Setelah sarapan aku bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah, ku kenakan pakaian putih-biru ku, dan sepasang sepatu yang terselip di atas rak alas kaki dekat pintu ku ambil dan ku kenakan. “Aku berangkat bu, Assalamualaikum” kataku berteriak dari depan pintu dan menunggu jawaban dari dalam yang berbunyi hati-hati dan kemudian melangkah berjalan menuju sekolah.




BAB 1 RUANG KELAS YANG BARU
Aku berjalan menyusuri jalan yang berkelok-kelok dan sedikit penuh lubang di atas aspalnya, pagi itu tak banyak aktifitas yang di lakukan masyarakat sekitar tempat tinggalku, sambil menyanyikan lagu kesukaanku, aku berjalan pelan di atas aspal pagi itu.
Di sana hanya ada sekelompok orang yang sedang berlari pagi ataupun yang sedang berjalan-jalan sambil menikmati segarnya udara pagi dan didukung dengan tidak adanya kendaraan bermotor yang berlalu-lalang di jalan itu, aku juga melihat beberapa orang petani yang sedang menggiring sapi mereka menuju ke sawah.
“Heri!” kata sebuah teriakan dari belakang punggungku, ku balikkan badanku dan menoleh
“Woi Satria!” ternyata Satrialah yang memanggilku.
Aku adalah seorang remaja biasa yang ingin menuntut ilmu di sekolah menengah pertama di wilayahku, orang-orang berkata bentuk badanku sedikit agak kurus, dengan bola mata dan rambut yang berwarna hitam, kulit putih agak kesawo matengan,  hidung yang tidak mancung dan tidak juga pesek, dan tinggi badanku sekitar 150 cm.
Sedangkan Satria adalah seorang teman sekaligus sahabatku, dia mempunyai badan yang agak gemuk jika dilihat dari belakang, dia mempunyai kulit yang putih seperti bayi, warna bola mata dan rambut yang agak kecoklatan, muka yang tembem dan gemesin membuat siapa saja yang melihatnya ingin mencubitnya, hidungnya yang sedikit mancung namun lebar, dan tinggi badan rata-rata remaja SMP. Dia telah menjadi teman karibku sejak kami dipertemukan di sekolah menengah pertama yang sama,
“Hai, apa kabarmu” dia memulai pembicaraan
“Aku baik, kau?”
“Tak begitu buruk” dia berkata.
Kami pun berjalan bersama pagi itu menuju ke sekolah yang katanya faforit semua orang, aku telah bersekolah di sana satu tahun dan memang ku akui sekolah ku memang agak sedikit berbeda dari sekolah yang lain mulai dari segi bentuknya, fasilitas yang ada, dan tenaga pengajar yang handal.
“Bisakah kau menebak, kelas mana yang akan kita tempati tahun ini?” dia bertanya kepadaku dengan muka yang begitu penasaran
“Kita?” aku pun bertanya kembali sambil berusaha memahami apa yang sedang Satria bicarakan
“Yah, aku hanya berharap kita berada dalam satu ruangan lagi” katanya pelan,
Ku lihat tubuh yang gemuk itu namun baru kusadari dia telah terlihat sedikit kurus kali ini, maklum kami tidak bertemu selama beberapa minggu karena liburan akhir semester dan kenaikan kelas, dan mungkin Satria telah berusaha keras untuk berdiet selama waktu itu walaupun hasilnya hanya terlihat sedikit memuaskan.
“Apakah kau juga berharap begitu?” dia bertanya lagi
“Oh, Iya aku juga berharap kita bisa satu ruangan seperti kemarin”
“Aku merasa senang” katanya sambil menggaruk kepalanya,
rupanya dia begitu ingin satu kelas lagi denganku mungkin jika dia satu ruangan lagi denganku dia bisa menjadi lebih pintar karena dulu aku sering membantunya mengerjakan tugas jika dalam kesulitan.
Tak lama kemudian kami telah sampai di sekolah kami dengan di atas gerbangnya tertulis SMPN 1 AIKMEL, gedungnya terlihat besar dari luar dengan cat tembok khas yang berwarna biru dan dengan lantai keramiknya yang putih mengkilat.
Kami masuk ke dalam dan melihat banyak gerombolan siswa yang sedang berdesak-desakan di depan setiap kelas yang ada di sana, aku dan Satria pun mendekat berharap melihat ada gerangan apa di sana. Aku bertanya kepada salah satu temanku yang lain bernama Aziz, tubuhnya kecil mungil yang mungkin hampir sampai bahuku
“Ziz, ada apa ini, kenapa semuanya saling berdesakan?”
“Kali ini pihak sekolah memutuskan untuk memberitahu kita kelas mana yang akan kita tempati dengan cara menempel secarik kertas di sana”
dia menjelaskan dengan seksama dan benar pula di sana di kaca sebuah kelas tertempel sebuah kertas yang berisi nama-nama siswa yang berarti siswa yang tertera namanya disanalah yang akan menempati kelas tersebut.
Aku kemudian menyelinap ke dalam sesaknya gerombolan siswa yang juga sedang mencari namanya dan tanpa ku sadari aku telah terpisah dengan Satria dikarenakan sangat ramainya siswa yang ada di sana, aku mendongakkan kepalaku berusaha mencari batang hidung Satria namun tidak terlihat sama sekali, lalu kuputuskan untuk mencari Satria nanti yang kufokuskan hanya mencari namaku di setiap selebaran kertas yang tertempel itu.
Lama ku mencari tetapi tidak ku temukan hingga pada akhirnya aku sampai di depan kelas yang ada di samping kolam ikan dan di samping ruang BK.
Aku fokuskan mataku di satu titik dan di sana tertera sebuah nama yang tertulis Heri Hardiansyah, dalam hati aku bersyukur karena lama kumencari sebuah nama tersebut hingga akhirnya kutemukan di sini.
Aku pun masuk ke dalam kelas itu dan di dalam ku lihat sudah ada beberapa anak yang telah memilih bangku mana yang akan mereka tempati bersama teman duduknya.
Lalu kuputuskan untuk memilih sebuah bangku yang masih kosong bertempat di samping tembok dan diluar terdapat kolam ikan, aku duduk di sana dan sempurna dalam hati kuberkata karena melihat suasana kolam air yang tenang membuat suasana hatiku pun ikut tenang.
Ku pandangi ruangan kelas itu dan terlihat beberapa bagian dari temboknya sudah mengelupas, tertegun aku sejenak dan aku teringat Satria, apakah dia sudah menemukan kelasnya.
Aku keluar dan kuperhatikan sekali lagi nama-nama yang ada di kertas itu dan ternyata nama Satria Satriawan tidak ada, mungkin ini sudah takdir pikirku aku tidak seruangan dengan Satria.
Dan kuputuskan untuk membantu Satria menemukan namanya walaupun dia sekarang tidak bersamaku dan ternyata kelas Satria hanya berjarak tiga kelas dari kelasku dan kulihat dia duduk sendiri di dalam ruangan itu. Aku pun masuk dan menghampirinya seraya berkata
“Jangan bersedih Sat, walaupun kita beda ruangan---“
“Aku tidak sedih Ri, aku hanya senang aku tidak membebanimu lagi”
dia berkata sebelum aku bisa menyelesaikan kalimatku, tidak lama bagiku untuk mengerti katanya itu
“Tidak, kau tidak pernah membebaniku, aku ikhlas membantumu”
kataku pelan kepadanya dan dia pun tersenyum kecil kepadaku tetapi tidak berkata apa-apa.
“Aku senang Ri”
Katanya kemudian kepadaku dan aku hanya membalasnya dengan senyuman kecil, tetapi terlihat dalam mukanya dia terlihat tidak begitu senang.
Tiba-tiba seorang perempuan remaja dengan wajah berseri-seri masuk dan menghampiri kami
“Hai, Satria aku pikir kita sama ruangan lagi”
Ternyata Sintia yang datang, seorang teman kelasku dan Satria dahulu saat kami kelas tujuh juga.
Ternyata baru kusadari wajah Sintia begitu putih dan manis walaupun terlihat sedikit lingkaran kecil di sekitar matanya yang membuatnya terlihat seperti orang yang baru bangun tidur karena kelelahan.
“Yeah.. aku bersyukur” Satria berkata pelan,
Mendengar mereka berbincang membuat suasana hatiku tak menentu kedua teman kelasku sudah satu ruangan lagi, mungkin hanya aku yang dipisahkan kelasnya.
“Eh, Satria aku mau ke kelas ku dulu memastikan siapa saja teman kita yang ada di sana”,
”Lho, ku pikir kelasmu di sini Ri?” kata Sintia yang sepertinya agak terkejut
“Tidak, kelas ku berbeda,, yah tapi kuharap tahun depan kita bisa sekelas lagi”
Aku tersenyum, aneh bagiku berkata seperti itu karena baru saja pembagian kelas berlangsung aku langsung memikirkan tahun depan.
“Baiklah, sampai jumpa Ri..”
Dia melambaikan tangannya kepadaku dan serentak aku membalas lambaiannya sambil berlalu, sejenak aku melihat Satria mengangkat rendah jempolnya sebelum mereka menghilang pandangannya.
***
 


BAB 2 TEMAN-TEMAN YANG BARU
Aku berjalan kembali ke ruanganku yang semula kali ini melewati kolam yang berada di belakangnya, sengaja aku  melewati jalan yang memutar karena aku tak tahu apa yang harus kulakukan setelah ini karena biasanya jika hari pertama masuk belajar, sekolah tidak mengadakan belajar efektif. Hanya siapa saja guru yang ingin masuk ke dalam kelas itu barulah kami akan belajar.
Tak lama kuberjalan sampailah aku di depan pintu kelas ku yang hanya terbuat dari pintu kayu yang sedikit rapuh dan dengan gagang pintunya yang sudah buram warnanya.
Aku memandangi kembali nama-nama yang tertera di dalam kertas yang di tempel di kaca depan kelas itu, lama ku memandang ternyata Aziz satu kelas denganku, begitu juga Dino, Haris, Alya, dan Ati mereka merupakan teman sekelasku juga dahulu, setidaknya masih ada sisa-sisa teman kelas dahulu yang seruangan lagi denganku, pikirku dalam hati melihat nama-nama itu.
Teeet....Teeet...Teeet, suara bel sekolah berbunyi tiga kali menandakan masuk bagi siswa-siswi yang ada di sekolah itu, ku lihat banyak tulang-tulang dan lemak-lemak yang bercampur-gaur bergegas masuk ke dalam kelas baru mereka.
Tak lama menunggu aku pun ikut masuk juga dan duduk di bangku ku, beberapa detik kemudian banyak anak perempuan maupun lelaki masuk berhamburan ke dalam kelas itu tak banyak wajah yang kukenal. Kemudian Aziz menghampiriku dan menyapaku aku pun balas menyapanya dan sepertinya dia akan duduk sebangku denganku tahun ini.
“Sebenarnya aku mau pulang saja”
Dia berkata lemah kepadaku, ku tatap dia dengan mata bulat
“Kau ini, kebiasaan dari dulu, setiap ada acara-acara pasti bawaanmu ingin pulang lagi, pulang lagi”
Kataku dengan muka masam namun aku dan Aziz menganggap itu sebagai sebuah lelucon saja.
Memang dari dulu juga dia sangat tidak betah tinggal di sekolah apalagi jika ada acara-acara sekolah seperti rapat guru, ujian sekolah, try out atau apalah hanya akan ada satu di pikirannya yaitu pulang.
Tak lama kami berbincang dan di dalam kelas  yang ribut terdengar senyap dan tenang seakan-akan sebuah durian yang sangat besar te jatuh dari langit. Aku menoleh sejenak dan ternyata seorang wanita bertubuh agak gemuk dengan mata yang berwarna hitam pekat serta memandang tajam ke arah semua siswa di sana, dan hidungnya terlihat pesek jika dilihat dari jarak dekat ternyata telah masuk ke dalam ruangan kami.
Dia masuk dan mengucapkan selamat pagi, dan ku dengar hanya beberapa siswa saja yang mengatakan selamat pagi juga kepadanya. Dia berjalan menuju meja guru dengan pelannya, bunyi sepatunya terdengar mencicit jelas karena pada saat itu tidak ada satupun siswa yang berbicara. Aku memandang orang itu, terlihat galak pikirku dalam hati. Setelah beberapa saat
“Mulai sekarang saya adalah wali kelas kalian” dia berkata,
terdengar suara mengeluh kecil di dalam kelas itu sepertinya suara-suara itu tidaklah ikhlas menerima wanita itu sebagai wali kelas mereka. Aku pun memandang Aziz, dia hanya terlihat tidak peduli dan tidak mau peduli akan hal tersebut.
“Nama Ibu adalah Taufik Hidayah”
segera setelah wanita itu mengucapkan namanya aku rasa aku mendengar suara tawa yang ditahan agar tidak sampai keluar, ku lihat ke samping ternyata Aziz lah itu,
dia merundukkan kepalanya sambil memegang mulutnya berusaha untuk menahan tawa. Rupanya wanita itu sedikit melirik ke arah kami namun segera dia melanjutkan kata-katanya yang belum sempat terselesaikan
“Kalian bisa panggil Ibu Hidayah”.
Memang sebenarnya aku juga ingin tertawa mendengar namanya, biasanya kan nama Taufik itu merupakan nama seorang lelaki juga parahnya nama itu merupakan salah satu nama pebulu tangkis terkenal di Indonesia, tapi untungnya nama Taufik dibelakangi oleh nama Hidayah yang biasanya juga dipakai oleh seorang wanita.
“Sekarang giliran kalian untuk memperkenalkan diri masing-masing, Ibu yakin setelah naik kelas banyak teman kalian yang berbeda kelas dahulu saat kelas satu duduk di ruangan ini sekarang”
katanya pelan sambil melirik ke sekitar ruangan dan kemudian berhenti padaku, sedikit tubuhku gemetar karena tatapan itu
“Dimulai dari kamu nak”
dia berkata kepadaku serontak jantungku berdegup kencang akan hal itu, sambil memperhatikannya aku pun melangkahkan kakiku menuju depan ruangan tepatnya disamping Ibu Hidayah.
“Nama saya Heri Hardiansyah” kataku memulai perkenalan,
dan setelah beberapa hal pribadi kuungkapkan di depan aku pun kembali ke tempat duduk ku, baru kusadari ternyata aku berkeringat.
“Selanjutnya kamu”
kata Ibu Hidayah sambil menunjuk seorang siswa perempuan yang berada dua meja sebelahku.
Ternyata setelah kuperhatikan dengan seksama wajah Ibu Hidayah mirip dengan Satria, apakah ini hanya kebetulan. Karena Satria tak pernah bicara denganku akhir-akhir ini.
Rendi, Panji, Salman, Zakir, Al, Alya, dan masih banyak lagi nama teman kelasku yang baru yang tidak kuingat namanya yang telah maju ke depan. Kemudian hal tersebut juga berlaku untuk satu demi satu siswa di ruangan itu.
#
Hari itu merupakan hari yang penting bagiku karena teman-teman kelasku baru, ruangan kelas baru, guru baru dan lainnya.
Sudah hampir beberapa jam, bel sekolah berbunyi menandakan acara untuk hari ini telah selesai tinggal berkemas dan pulang ke rumah, ku lirik arlojiku dan kudapati jarum pendek menunjuk ke arah angka 11:30.
Lumayan pagi pikirku dalam hati, aku berani bertaruh pasti suasana hati Aziz sangat gembira saat ini.
Hari itu tak banyak perlengkapan aku bawa ke sekolah hanya sebuah buku dan beberapa pulpen, karena ku tahu biasanya jika hari pertama masuk sekolah, belajar efektif ditiadakan.
#
Saat ku berjalan melewati koridor di depan lab fisika, aku terpikir oleh Satria, ngomong-ngomong apa yang sedang dilakukannya saat ini. Terasa sedikit menyesal dalam hatiku mengapa aku harus lewat sini, kenapa tidak lewat depan saja.
Langkahku ku hentikan sejenak sambil menatap hiruk pikuk siswa yang bergerombol berjalan kembali ke rumah mereka. Lalu aku berbalik berharap agar Satria tidak pulang duluan, ku percepat langkahku menuju kelas Satria dan setelah sampai di persimpangan ku lihat Satria sedang bercanda dan tertawa bersama teman-teman kelasnya.
Ingin ku panggil namun ku rasa sedikit mengganggu, lalu kuputuskan untuk berjalan kembali namun kali ini melewati koridor yang ada di kelas 7.
***


BAB 3 PAGI YANG BIASANYA
Hari-hari kulewati seperti biasanya, pagi yang sunyi di wilayahku, suasana keributan di kelas, Aziz yang ingin sekali cepat pulang dari sekolah dan berbagai macam hal yang terjadi di sini.
Hari itu hari Senin, dan biasanya hari senin merupakan hari yang paling menyeramkan bagi seluruh siswa di sekolah karena hari itu diawali dengan upacara bendera yang kemudian proses belajar mengajar pada hari tersebut akan berakhir pada pukul 13:00, namun terkecuali jika ada gejala-gejala alami seperti hujan deras, atau ada salah satu acara guru di sekolah, itu merupakan karunia yang tidak ternilai harganya bagi siswa-siswi di sana.
Pagi-pagi sekali ayam berkokok dari rumah tetangga, entah kenapa hari itu aku bangun teramat pagi sekali, ku lihat jam beker masih menunjukkan pukul setengah lima kurang beberapa puluh menit, aku berpikir masih terlalu pagi untuk memulai aktifitas. Karena hal tersebut aku kembali membenamkan diriku dalam selimut ku yang hangat.
Sangat banyak suara ayam berkokok membuatku tidak bisa kembali tidur, akhirnya aku bangun dari tempat tidurku dan kemudian bergegas untuk sholat subuh dan kemudian ke kamar mandi untuk mandi tentunya.
Ternyata baru ku sadari ibuku telah bangun tak lama setelahnya.
“Tumben pagi Ri?” dia bertanya sambil menggodaku
“Apaan sih bu, sekali-kali kan tidak apa-apa”
Kataku pelan dan dia hanya tersenyum melihatku.
Setelah mandi aku duduk di atas tempat tidurku sambil menyiapkan buku-buku apa saja yang akan kubutuhkan untuk pelajaran nanti.
Biasanya aku tak perlu repot-repot menyiapkan hal ini namun karena kemarin malam aku tidak belajar sama sekali karena kupikir hari esok akan disiapkan materi baru oleh Ibu Taufik.
Lama ku mempersiapkan semuanya tak terasa matahari sudah makin merangkak tinggi sedikit demi sedikit dari balik kaca kamarku.
Akhirnya kuputuskan untuk pergi ke dapur untuk mengambil sedikit sarapan, di tengah jalan aku berpapasan dengan seekor cicak yang sedang menyebrangi lantai, sontak aku sedikit terkejut melihatnya, namun ketika kusadari itu hanyalah seekor cicak kecil, dan aku kembali melanjutkan langkahku menuju dapur. “Broook” suara sendawa terdengar dari balik meja makan, setelah kenyang akupun berangkat ke sekolah.
Seperti biasanya jalan yang kulalui di desaku itu namun akhir-akhir ini aku jarang melihat Satria dari balik rumahnya dan jika ku lihat biasanya dia hanya memanggilku dan lalu masuk kembali ke dalam rumahnya.
Aku terus berjalan hingga ku lihat gerbang sekolahku yang bercat biru tua dari kejauhan tampak seperti gapura selamat datang ku lihat. Saat berada di sana sekolah terlihat beberapa siswa kelas 7 yang hendak berjalan menuju kelasnya dan beberapa siswa kelas 8 yang duduk di kantin sekolah sembari menyantap sarapan nasi bungkus dengan lahapnya.
Aku kemudian berjalan menuju kelasku dengan lagkah pelan melalui belakang kelas 7.
Aku suka melewati jalan itu ketika aku kan menuju kelas ku karena di belakang kelas 7 terdapat hamparan sawah dan antara sekolahku dengannya dibatasi oleh sungai kecil yang airnya yang mengalir berbunyi gemericik membuat suasana damai di dalam hatiku, walaupun jalan itu tidak berhubungan langsung dengan kelasku melainkan dengan kamar mandi laki-laki dan terus sampai ke koperasi siswa namun tak sia-sia kulewati karena bisa sesaat mengenang kembali kenangan masa dulu di kelas 7 dengan melihat anak-anak kelas 7 yang bermain sana-sini dan ada yang belajar dengan sangat giat, sungguh masa-masa yang indah.
Sembari melewati jalan di depan kamar mandi laki-laki, ku hirup bau puntung rokok yang sepertinya baru saja di buang, dan kulihat anak kelas 9 keluar dari sana sambil menatapku garang, namun tak lama diapun berlalu juga.
Setiap sekolah sepertinya mempunyai murid-murid yang nakal seperti mencontek, berkelahi, merokok dan semacamnya. Namun hal itu ku acuhkan dan segera berjalan kembali.
Sesampai di kelas, suasana ruangan itu terasa seperti biasanya remang-remang karena sinar matahari terhambat oleh gedung di sebelahnya yang sedikit lebih tinggi dari gedung kelasku, suasana yang sama terasa setiap hari seperti biasanya, tidak seperti  minggu lalu saat hari pertama memasukinya yang sepi sunyi dan jika pagi yang terdengar hanya suara kodok yang berbunyi krook dari balik jendela kelas tepatnya di atas daun teratai yang ada di kolam itu. sekarang sedikit berbeda karena sebagian siswa sudah berada di dalam kelas, berbincang-bincang dengan temannya.
Akupun membenamkan diri di kursiku sembari menyandarkan tasku di depan sandaran kursi.
Tak lama kulihat Satria berjalan melewati kelasku, kali ini dia hanya melihatku sambil meniggikan alis matanya kepadaku akupun melakukan hal yang serupa dengannya. Aku menatapnya berlalu dari depan kelasku, tak biasanya Satria hanya memberi respon begitu apa dia kesal karena pisah kelas denganku? Aku hanya tersenyum sendiri memikirkan hal tersebut.
Tak lama kemudian datang Aziz sambil memasang muka seperti biasanya, dia menaruh tasnya dengan pelan lalu mengambil beberapa uang recehan dari saku bajunya
“Ayo ke kantin bersamaku” katanya pelan kepadaku
“Kenapa, kau belum sarapan?”
“Yah aku tadi tergesa-gesa ke sekolah karena ku pikir sudah siang” katanya sambil menggaruk-garuk kepala belakangnya.
Akupun menuruti permintaanya untuk pergi ke kantin, namun ku lihat jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh lebih beberapa menit
“Lebih baik cepat sedikit” kataku sambil berdiri dan berjalan menyeberangi kelas menuju ke kantin sekolah.
“Sebetulnya pukul berapa kau bangun Ziz?”
“Biasa, kurang lebih pukul enam lah” katanya dengan percaya diri.
Bangun siang saja di banggakan pikirku dalam hati tapi apa boleh buat itu adalah temanku Aziz, jika terlalu pagi dia berangkat ke sekolah pasti ada apa-apa dengannya.
***
 


 .............. Bab selanjutnya menyusul ya :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tolonglah berkomentar dengan sopan, NO SPAM!, dan dengan bahasa yang santun pula. Karena komentar anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini ke depannya.