9 Januari 2018

Daun-Daun yang Terbang Mencari Angin (Bab 7-9)



BAB 7 OSIS
Al sepertinya sekarang agak dekat denganku semenjak kami latihan musik bersama dan sekaligus mengambil seni latihan yang sama. Siang itu, ada beberapa siswa utusan pengurus dari organisasi yang pasti di setiap sekolah ada yaitu OSIS.
Seorang siswa laki-laki berbadan tinggi besar masuk ke dalam ruangan kami, dan sesampainya di sana dia langsung berbicara dengan nada yang lantang
“Pengunguman! Bagi adik-adik yang ingin mengikuti atau masuk ke OSIS silahkan nanti siang, jangan meninggalkan sekolah terlebih dahulu tetapi diharapkan berkumpul di kelas 7.1, karena ada beberapa hal yang akan kami sampaikan. Terima kasih” katanya sambil berlalu.
“Kak, apakah kami tidak perlu memberikan data kami sebelum masuk OSIS” kata Al tiba-tiba dengan agak keras sebelum laki-laki itu meninggalkan ruangan
“Oh ya, Kakak lupa. Terima kasih adik, ini Kakak berikan selebaran kepada kalian, mohon tulis nama dan isi apa yang tertera di dalam sini. Sekali lagi terima kasih”
“Lalu, jika sudah kami isi?” kata Al lagi
“Oh ya, jika sudah terisi semua tolong berikan kepada saya, saya ada di ruang OSIS”
Walaupun berbadan tinggi lagi besar, sepertinya Kakak kelasku ini adalah seorang yang pelupa. Dan di akhir kalimatnya yang terakhir dia tidak mengucapkan terima kasih lagi seperti sebelumnya.
“Ini bagus” ku dengar Al bergumam “Apa kau juga akan ikut Heri?”
Katanya tiba-tiba kepadaku, sontak akupun terkejut mendengarnya,
“Apa? Dari sekolah dasar aku tidak pernah mengikuti yang namanya organisasi apapun di sekolah, dan akupun tidak tau apa itu OSIS, tentang seluk-beluknya, tujuannya dan apapun itu.”
“Eeeh, apa yang kau bicarakan?” kataku berusaha menolak permintaan Al
“Ayolah, ini kesempatan yang bagus untuk menonjolkan diri”
“Aah, aku tidak mau” kataku datar
“Ayolah Heri, ini bukan hanya menonjolkan diri saja, ini juga bagian dari usaha untuk mendapatkan teman yang lebih banyak”
Aku sedikit tergiur dengan ajakannya itu, karena aku di rumah hanya berdiam diri. Sambil mendengar lagu dan belajar.
“Dengar, OSIS itu adalah organisasi yang keren, apalagi di tingkat SMP seperti ini”
“Tidak Al, bagiku itu hanya organisasi yang membuat dirimu lelah saja”
Al terdiam sejenak, sepertinya dia berubah pikiran akan kata-katanya yang tadi
“Memang itu resikonya Heri, tapi lihat saja jika kau telah memasuki OSIS pasti kau akan berubah”
Katanya pelan namun bersemangat, sepertinya tolakanku memberinya semangat untuk tidak putus asa.
“Kenapa kau tidak ajak yang lain saja?”
“Tidak, aku mau kau!” katanya ngotot kepadaku
Sial, tatapannya seperti seorang yang.... sudahlah tak usah ku bicarakan. Sepertinya Al sangat ingin aku bersamanya di OSIS, maklum itu mungkin karena kami telah menghabiskan waktu bersama semenjak kami latihan musik waktu itu. dan tidak hanya itu kami juga sering bernyanyi bersama saat waktu luang atau saat jam pelajaran kosong.
Lama ku berpikir akhirnya aku mengiyakan ajakannya, tapi aku berjanji jika aku tidak menemukan kesenangan di OSIS ini aku akan keluar.
“Baiklah Al, aku akan ikut” kataku sementara ia sedang mengisi lembaran yang diberikan oleh Kakak kelas tadi dengan namanya.
“Ok, baguslah kalau begitu!” katanya dengan wajah yang berseri-seri.
Akupun kemudian mengisi namaku di dalam selebaran kertas itu, setelah ku lihat ternyata Aziz juga ikut di sini, dan sisanya merupakan siswa perempuan.
“Woy, Ziz kau ikut juga?”
“Yah, kenapa memangnya?” katanya dengan ekspresi terkejut
Sepertinya Aziz telah tau banyak tentang organisasi ini dan mungkin juga dia hanya ingin menonjolkan diri saja.
“Yah, kupikir kau tidak akan tertarik dengan hal yang semacam ini”
“Aku hanya ingin mengisi waktu luangku saja”
Katanya pelan, sepertinya Aziz sekarang telah berubah atau mungkin hanya alasan-alasannya saja, hanya dia yang tau.
#
Akhirnya waktu telah menunjukkan pukul 13:55 dan bel pulang sekolah berbunyi. Momen itu merupakan hal yang terindah bagi setiap siswa hampir di setiap sekolah.
Aku kemudian langsung menuju kelas tempat berkumpul calon-calon anggota OSIS yang baru. Di sana telah berkumpul juga siswa-siswa dari kelas lain yang mungkin akan mengikuti organisasi sekolah ini juga.
“Terima kasih atas kesempatan kalian datang ke tempat ini” kata kak Widi tak lama kemudian
“Alasan saya mengumpulkan kalian di sini karena, periode kami OSIS yang lama akan segera berakhir dan kalian akan menggantikan kami sebagai pengurusnya, dan saya mohon agar jika nanti kalian akan terpilih menjadi pengurus OSIS yang baru kalian akan berusaha sekeras-kerasnya seperti kami dan bahkan melebihi kami, supaya sekolah kita ini maju dari sekolah-sekolah lainnya di kecamatan Aikmel ini.”
Semua siswa yang ada di dalam ruangan itu bertepuk tangan, begitu juga diriku. Namun dalam keramaian itu aku bingung, ‘Akan terpilih?’ apa maksud dari kak Widi, apakah kita perlu menjalani ujian untuk menjadi OSIS?
“Dan untuk kalian calon anggota, silahkan besok pada hari libur setelah ulangan mid semester berkumpul kembali untuk menjalani LDK. Terima kasih.”
Akhir kata itu tersampaikan, dan seluruh kerumulan siswa itu pergi kembali ke rumah mereka masing-masing.
Dalam perjalanan aku semakin tambah bingung lagi apa itu LDK? Terus terang aku bertanya kepada Al
“Hei Al, apa itu LDK?”
“LDK? Apa maksudmu?”
“Itu, yang dibicarakan oleh kak Widi tadi”
“Ooh, LDK itu kependekan dari Latihan Dasar Kepemimpinan”
“Maksudmu? Apakah kita akan menjalani tes seperti tes Matematika begitu?”
“Hahaha, tidak. LDK itu seperti misalnya saat kita akan memasuki SMP ini, kita perlu mengadakan MOS bukan?”
“Owh, begitu. Kau tau banyak Al”
“Kau tau, aku selalu ikut hal-hal yang seperti ini waktu dulu”
“Tak heran kau tau banyak. Jadi di sana kita akan di godok? Seperti itu?”
“Yah, setiap proses itu pasti ada penggodokannya bukan? Jangan khawatir, itu hanya proses saja”
“Hmm, okelah”
Al tersenyum kecil lalu melambaikan tangannya padaku
“Hei, Heri aku pulang dahulu ya”
“Okelah” kataku sambil melambaikan tangan juga
Maklum bahwa rumah ku jauh di sana, sedangkan rumah Al dekat dari sekolah, hanya tinggal menyebrang jalan raya dan belok kiri kemudian sampailah ke rumahnya.
***




BAB 8 ULANG TAHUN
            Hari demi hari berlalu sejak pertemuan itu, dan pada minggu kedua bulan Agustus ini akan di adakan ulangan mid untuk semester ganjil bagi seluruh siswa di SMPN 1 Aikmel.
Jam menunjukkan pukul 13:00, aku masih termenung di dalam kelasku saat itu karena jam pelajaran bahasa Inggris oleh Pak Hendra kosong. Hal itu dikarenakan Pak Hendra kini tengah ada halangan untuk mengajar.
Aku hanya menatap teman-temanku yang berlarian ke sana ke mari di depan kelas. Hal ini sangat biasa manakala jam sedang kosong. Ada yang berbincang-bincang membicarakan tentang kisah masa lalunya, ada yang bermain-main dengan teman duduknya dan ada pula yang keluar ke kantin untuk membeli makanan.
Sungguh masa-masa yang indah pikirku.
“Hei Heri, kau tidak belajar?” kata suara tiba-tiba mengajakku bicara
“Untuk apa, tak jarang bukan kita mendapatkan jam-jam kosong seperti ini?”
“Yah, kau biasanya yang paling rajin di kelas ini”
“Aku tidak sedang bersemangat belajar Haris” kataku pelan
“Baiklah kalau begitu, bagaimana jika kau ikut kami bermain ABC saja?”
“Maaf, tapi kurasa tidak.”
“Kenapa Ri”
“Entahlah, aku hanya merasa aku ingin pulang saja, ini sudah pukul 13:15, seharusnya kita telah tidur dirumah lima belas menit yang lalu”
“Kau benar, mungkin karena belnya sedang rusak” dia tertawa kecil
Ini kala pertama kalinya aku merasa seperti Aziz, seorang yang haus akan suara dencing bel setiap saat.
Teet---teet---teeet. Akhirnya bel itu berbunyi juga,
“Heri, aku pulang duluan ya”
Ku lihat Aziz telah berada di ujung pintu kelas. Cepat sekali dia pikirku, padahal aku baru saja merapikan buku-bukuku di sana
“Okelah” kataku menyautnya pelan.
#
Aku berjalan pelan seperti biasa di koridor sekolah itu, dan sesaat aku melihat segerombolan siswa dan siswi di depan kelasnya. Aku berjalan ke sana dan melihat Sintia berada di sana, apakah dia sedang di bully pikirku.
Tetapi sesaat kemudian terdengar lagu selamat ulang tahun dan beberapa teriakan lainnya. Dan ternyata hari ini adalah hari ulang tahunnya Sintia. Ku lihat Satria juga di sana bersama teman-teman kelasnya.
Melihat mereka tertawa riang membuat diriku juga bahagia, apalagi saat melihat wajah Sintia yang begitu manis dan lucu saat di taburi oleh tepung dan telur. Entah kenapa, tetapi saat ku melihatnya jantungku berdebar.
Aku berhenti di kopsis sejenak untuk membeli segelas air minum untuk menghilangkan dahagaku, serentak si penjaga kopsis bertanya kepadaku
“Dik, ada apa di sana, terdengar begitu ramai?”
“Di sana ada seseorang yang sedang merayakan ulang tahunnya kak” kataku pelan
Dan kudengar ia berkata oowh dan kemudian menghilang di balik lemari dagangannya itu.
#
Saat ku berjalan pulang ku lihat Sintia berdiri sendiri di trotor jalan depan sekolah kami. Jilbabnya semula yang penuh dengan tepung dan telur, sekarang terlihat sedikit agak bersih walaupun masih tersisa beberapa warna telur yang menguning.
Ku coba mendekatinya dan mencoba berkata selamat ulang tahun kepadanya. Namun saat aku menghampirinya, jantungku berdegup kencang. Apa yang terjadi pikirku, sebelumnya hal ini tidak pernah terjadi kepadaku kataku dalam hati.
“Ha---hai Sintia”
“Oh, Heri... Hai.”
Suaranya begitu lembut menjawabku, sontak ingin aku berlari kencang manjauh dari tempat ku sekarang ini, hatiku tak mengizinkan aku pergi. Aku tak tau apa yang terjadi padaku dan Sintia, padahal dulu kami sering bercanda bersama.
Kami terdiam sejenak hingga akhirnya Sintia berkata
“Apa yang kau lakukan di sini kau tidak pulang”
“A---aku sedang, aku baru saja mau pulang, bagaimana denganmu Sintia?”
Tubuhku terpaku di sana, menatap mata yang indah itu. Aku tau ini salah, dan aku tau ini bertentangan dengan norma kesopanan dan norma agama yang melarang seorang laki-laki dan perempuan berduaan apalagi berpandang mata.
Sintia sebenarnya tidak hanya cantik namun dia juga baik hati, nada bicaranya begitu lembut untuk di dengar. Mungkin karena hal inilah yang membuatku terpaku setiap kali melihatnya.
“Aku sedang menunggu carry*” katanya sesaat
“Ooh. Apa kau tidak apa-apa?”
“Kenapa? Kau tau aku telah biasa menunggu mobil carry sendiri seperti ini”
“Ti---tidak, maksudku kau tidak apa-apa soal yang tadi?”
“Apa maksudmu, caramu berbicara sangat aneh” Sintia menunjukkan raut wajah yang bingung
“Ah, aku tak apa. Maksudku aku melihatmu ditaburi tepung saat aku berjalan di depan kelasmu tadi” kataku sambil tersenyum kecil kepadanya
“Oh, yang tadi itu. Tak apa Heri, aku sendiri juga kaget karena mereka, tapi aku senang” dia membalas perkataanku sambil tersenyum juga
Oh tidak! Senyumannya itu seperti...... Sangatlah indah, rasanya seperi menenangkan hatiku.
“6 Agustus ya, aku akan mengingatnya” kataku tak sadar mengucapkan kalimat itu, sial apa yang terjadi aku saja tidak bisa memikirkan apa yang akan ku katakan selanjutnya.
“Kau begitu baik Heri” katanya tersenyum lagi kepadaku
Aku hanya bisa membalas senyumannya itu dengan senyuman pula. Tak lama kemudian mobil carry yang ditunggu Sintia datang juga,
“Oh, Heri aku pulang dulu ya?” katanya sambil beranjak dari tempatnya berdiri
“Eh, Sintia!” kataku sedikit berteriak, dan sontak dia langsung membalikkan badannya sebelum naik ke mobil itu
“Selamat ulang tahun”
Akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulutku, aku merasa lega
“Trims Heri” katanya tersenyum kemudian naik kedalam mobil itu
“Hei, kenapa kau tidak ikut naik juga, kau bisa menghemat tenagamu kan?” dia berkata sambil menengokkan kepalanya dari dalam mobil.
“Maaf, tapi kurasa tidak. Aku tidak punya cukup uang untuk itu”
“Ayolah Heri, tenang nanti aku yang bayar”
Aku sedikit tergiur dengan itu, benar juga itu bisa menghemat tenagaku. Tapi kurasa itu akan memberinya beban.
“Trims Sintia kau begitu baik, tapi aku lebih suka jalan kaki” dan kuharap aku bisa jalan denganmu kataku dalam hati.
“Baiklah kalau begitu, aku duluan ya”
Sesaat mobil itu berlalu, aku menatap mobil itu menjauh sampai ia benar-benar tidak terlihat lagi, sesaat aku melihat Sintia menatapku balik sambil tersenyum, tanpa sadar akupun ikut tersenyum melihatnya.
Sambil senyam-senyum sendiri aku berpikir, mungkin Sintia juga merasakan apa yang ku rasakan, aku hanya berharap begitu.
Tak lama mobil itu menghilang dari pandanganku, dan aku melanjutkan perjalananku ke rumah.
***
*Carry : Sejenis angkutan umum.




BAB 9 ULANGAN MID SEMESTER
            Tring... ponselku berdering beberapa kali pertanda ada sebuah panggilan masuk di sana. Aku dibelikan ponsel oleh ibuku semenjak aku pulang terlalu larut pada saat aku latihan seni musik yang pertama kali, mungkin dia khawatir dan membelikan aku sebuah ponsel sederhana yang bisa ku gunakan untuk memberi kabar.
Aku sedang menggambar karakter kartun di meja belajarku, dan ponsel itu di sampingku. Ku buka ponsel itu dan ternyata dari Sintia, aku tersenyum sendiri akan hal itu, lalu mengangkat teleponnya.
“Assalamualaikum.
“Waalaikumussalam. Tumben nelpon Sintia”
“Hehehe, sesekali tak apa kan” dia tertawa kecil di ujung ponselnya
“Yah sering-sering juga tak apa” kataku kemudian membalas lawakannya
“Hei Heri, kenapa kau mengucapkan selamat ulang tahun padaku kemarin? Padahal aku tidak pernah mengucapkan ulang tahun padamu”
Aku sedikit bingung dengan perkataannya lalu membalas kata-katanya dengan kalimat seadanya
“Apa maksudmu Sintia, apa salah jika aku bilang begitu?”
“Tidak, tidak salah hanya saja aku merasa aneh” nada bicaranya menjadi rendah
“Kau tidak seperti dirimu Sintia”
“Apa maksudmu?”
“Yaa, biasanya kau selalu menjawab pertanyaan seseorang dengan serius”
Ingin sekali aku mengatakan sepertinya..... Ah tidak mungkin pikirku, hal itu sangatlah konyol.
Apa yang terjadi sejak pertama kali kami bertemu di trotoar jalan, hal ini sungguh aneh.
“Trims kalau begitu Heri, lebih baik kau belajar saja ulangan mid semester sebentar lagi” katanya tak lama
Aneh bagiku, padahal dia yang memulai menelponku tapi dia yang menyuruhku belajar saja.
“Baiklah, kau juga Sintia”
“Baik Ri, maaf aku tak bisa lama-lama ada hal yang harus ku kerjakan, lain kali kita akan berbicara bertatap muka saja” katanya kemudian
“Baiklah, Assalamualaikum”
“Waalaikumussalam” katanya dan Tuut---tuut---tuut, suara dari nada itu bertanda bahwa sambungan telepon telah diputuskan.
Perkataannya yang tadi memberikanku semangat untuk belajar menyiapkan materi untuk ulangan mid besok. Aku kemudian langsung menutup buku gambarku dan mengambil buku LKS Bahasa Indonesia yang akan di ujiankan besok hari.
#
Jam demi jam berlalu dan tak terasa hari telah gelap, dan setelah sholat isya malam ini, aku langsung tidur untuk menyimpan tenagaku untuk ulangan esok hari
#
Keesokan harinya aku berangkat ke sekolah dan di kelasku kudapati berbagai teman-temanku sedang membaca buku dengan giatnya termasuk Aziz.
“Hai Ziz, tumben kau sangat rajin?”
“Kenapa Ri, ada yang salah dengan itu?”
“Tidak---tidak ada yang salah malah itu bagus untukmu” kataku sambil memicingkan mataku
Aziz kemudian menatap bukunya kembali. Hal ini sunggug aneh bagiku, Aziz yang setiap hari kulihat selalu mengeluh ingin cepat-cepat pulang dari sekolah sekarang berubah menjadi orang yang sesaat tidak ingin meninggalkan tempat duduknya dan dari bukunya.
Lucu memang, tapi jika ia ingin berubah maka itu adalah hal yang bagus, karena tak selamanya kita menjadi orang yang sama bukan? Pikirku dalam hati.
Aku kemudian mengambil bukuku dan ikut belajar juga, namun aku tidak belajar di dalam ruangan itu karena terlalu berisik, sebagai gantinya aku belajar di depan ruang kelas.
Sesaat aku membaca bukuku aku melihat Sintia sedang belajar juga di depan kelasnya bersama teman kelasnya. Lama aku menatapnya, dan dia balik menatapku juga. Tersadar akan hal itu aku langsung memalingkan pandanganku ke arah buku yang ku pegang.
Tersembunyi di balik buku itu aku hanya tersenyum sendiri.
Teet---teet---teeet, suara bel sekolah berbunyi menandakan bahwa ulangan mid semester telah dimulai. Mata ulangan mid hari ini adalah Bahasa Indonesia, biasanya soal Bahasa Indonesia adalah soal-soal narasi dan deskripsi yang sangat panjang untuk di baca, jadi aku harus menghemat waktu untuk itu.
Semua siswa berhamburan masuk ke dalam kelasnya untuk menerima soal yang akan dikerjakan. Kali ini Pak Hendra adalah guru yang mengawasi kami, begitu menerima soal, tanpa pikir panjang aku langsung mengerjakannya.
Sekitar 40 menitan waktu berjalan, suara bel berbunyi menandakan waktu ulangan telah habis dan semua siswa harus mengumpulkan hasilnya kepada pengawas.
Aku keluar dari ruangan itu, dan sepertinya hanya Bahasa Indonesialah mata ulangan hari ini, kulihat sobekan kertas jadwal ulangan mid semesterku bahwa besok adalah Matematika.
Sial! Kataku dalam hati, Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang sangat menyusahkanku. Tapi untung saja aku membawa buku Matematika hari itu dan kuputuskan untuk belajar sejenak di sekolah sebelum pulang ke rumah, dan sepertinya sebagian besar siswa kelas 8 juga melakukan hal yang serupa.
“Hai Heri, rajin sekali” kata suara menghampiriku
“Hai Al, kau tau besok adalah Matematika, dan kau tau aku selalu terlambat dalam Matematika, jadi aku harus belajar jika aku tak ingin dihukum Pak Rudi”
“Hah, kau terlalu rajin Ri, semestinya jika usai ulangan harian seperti ini kau seharusnya meringankan pikiranmu dahulu” katanya kalem
“Ku hargai nasihatmu Al, tapi kau tau juga bahwa kau sama sepertiku di Matematika”
“Yah, kau benar. Tapi asal kau tau Ri, jika aku belajar di saat seperti ini tidak ada satupun yang akan masuk dikepalaku”
“Kau memang begitu Al,”
“Ya sudah kalau kau memaksakan dirimu Ri, tak apa aku hanya bisa mendukungmu”
“Trims, Al”
“Tak apa, jikalau begitu aku pulang dulu ya”
“Okelah, hati-hati di jalan”
Al langsung melambaikan tangannya dan lalu menghilang dari pandanganku.
#
Berjam-jam, bermenit-menit, dan berdetik-detik waktu kian berlalu. Hari ini adalah hari kedua ulangan mid berlangsung, dan parahnya lagi mata ulangan pada hari ini adalah Matematika.
Teet---teet---teeet, bel masuk mulai berbunyi lagi, dan pada saatnya aku harus menghadapi mata ulangan yang menurutku sangat sulit diantara mata ulangan lainnya.
“Astaga!” kataku kecil saat aku membuka soal yang telah dibagikan oleh pengawas kepada kami.
Soal-soal yang dibuat oleh Pak Rudi terlihat sangat menyesakkan kepala.
Aljabar, persamaan kuadrat, dan masih banyak soal lain yang terlihat membosankan untuk dilihat.
“Ziz, Ziz, AZIZ!” kataku tidak berani berteriak terlalu keras karena aku tengah berada di tengah-tengah ulangan.
“Oh, ada apa?” dia menjawab dengan terkejut, tampaknya Aziz juga terkesima melihat soal-soal itu.
“Bagaimana menurutmu soal ini?” tanyaku pelan
“Bagaimana? Yah, kuharap aku tidak dihukum oleh Pak Rudi sepertimu”
Kata-katanya begitu mengagetkanku, rasanya aku sedikit di bully walaupun Aziz menganggap itu hanya percakapan biasa.
“Yah, kau benar. Tapi hukumannya mungkin akan lebih berat daripada saat itu” kataku sambil tidak menghiraukannya
“Hei! Apa yang sedang kalian bicarakan?! Waktu kalian untuk mengerjakan soal sangat terbatas, jadi manfaatkan waktu kalian dengan benar”
Pengawas hari itu berkata dengan sedikit agak keras dari depan ruangan menatapku dan Aziz, kulihat Aziz hanya berusaha mengalihkan pandangannya ke pensil yang sedang di tajamkan, dan aku mulai mengerjakan soal-soal kematian tersebut.
#
“Heri, kau tau jawaban no.12?”
Sontak aku kaget, mendengar Aziz berkata begitu
“Kenapa, kau tidak bisa menjawabnya?”
“Iya, tolong bantu aku sekali saja” katanya memohon kepadaku
“Heeh, baiklah ini”
Aku menyodorkan sedikit jawabanku kepada Aziz, aku begitu kasihan melihatnya seperti itu, yah walaupun beberapa diantaranya aku jawab dengan asal.
Lama waktu berlalu, Aziz tetap meminta jawaban lagi kepadaku.
“Kau bilang, kau hanya ingin dibantu sekali”
“Ayolah Ri, kita ini teman”
“Hah, kau tau Ziz, tidak semua jawabanku ini benar, sebagian lainnya ku jawab dengan asal-asalan”
“Tak apa, yang penting kau mau membantuku”
Akhirnya dengan terpaksa aku menyodorkan lembar jawabanku sedikit kepadanya, agar tidak diketahui oleh pengawas ulangan.
40 menit lebih beberapa menit berikutnya, bel berbunyi lagi menandakan ulangan untuk hari ini telah berakhir.
Aku keluar dari ruangan itu dengan muka yang seperti orang yang habis meminum sebuah air yang manis tapi pahit, begitu juga dengan beberapa siswa lainnya yang sepertinya memiliki nasib yang sama.
“Aduuh” kata Aziz keluar dan menghampiriku sambil memegang dahinya
“Kau kenapa Ziz?” aku bertanya dengan sopan
“Kurasa nilaiku untuk Matematika adalah 0..” katanya lemah
“Apa maksudmu? Berpikir positif saja, dan kau tau bukan hanya dirimu saja yang seperti itu”
“Apa maksudmu Heri?”
“Kau lihat aku? Mungkin hukuman Pak Rudi akan jatuh kepadaku” kataku lemah seperti Aziz
“Kau tau Ri, seseorang pernah berkata kepadaku ‘Berpikir positif saja, dan kau tau bukan hanya dirimu saja yang seperti itu’..” katanya menirukan kalimatku sambil tersenyum lebar
“Haah, aku benci kau mendengar nasihatku”
Aziz tertawa kemudian. Dan sepertinya lelucon itu menjadi sesuatu yang berharga teramat sangat bagiku dan Aziz, rasanya seperti liburan yang menyenangkan setelah berpikir terlalu keras sepanjang hari.
“Heri kau mau, ku traktir sesuatu?” katanya kemudian
“Tak biasanya kau baik mentraktirku di saat-saat seperti ini”
“Yah, anggap saja sebagai tanda terima kasihku tadi” dia tersenyum lagi
Sebenarnya aku merasa sedikit bingung dengan Aziz, sepertinya dia bersemangat sekali, atau mungkin ini merupakan sifat alaminya, membalas pertolongan orang lain dengan menolongnya kembali? Entahlah aku juga tidak tau
“Baiklah, kau mau mentraktirku apa sekarang”
“Bagaimana kalau, bakso mas Siswanto di sana?” katanya sambil menunjuk warung bakso di depan sekolah”
“Wow, sepertinya di dalam kantungmu ada benda yang perlu dikeluarkan ya Ziz?” kataku mencoba menggodanya
“Sudahlah ayo cepat”
***






Just stay there...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tolonglah berkomentar dengan sopan, NO SPAM!, dan dengan bahasa yang santun pula. Karena komentar anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini ke depannya.