BAB 7 OSIS
Al sepertinya sekarang agak dekat denganku
semenjak kami latihan musik bersama dan sekaligus mengambil seni latihan yang
sama. Siang itu, ada beberapa siswa utusan pengurus dari organisasi yang pasti
di setiap sekolah ada yaitu OSIS.
Seorang
siswa laki-laki berbadan tinggi besar masuk ke dalam ruangan kami, dan
sesampainya di sana dia langsung berbicara dengan nada yang lantang
“Pengunguman!
Bagi adik-adik yang ingin mengikuti atau masuk ke OSIS silahkan nanti siang,
jangan meninggalkan sekolah terlebih dahulu tetapi diharapkan berkumpul di
kelas 7.1, karena ada beberapa hal yang akan kami sampaikan. Terima kasih”
katanya sambil berlalu.
“Kak,
apakah kami tidak perlu memberikan data kami sebelum masuk OSIS” kata Al
tiba-tiba dengan agak keras sebelum laki-laki itu meninggalkan ruangan
“Oh
ya, Kakak lupa. Terima kasih adik, ini Kakak berikan selebaran kepada kalian,
mohon tulis nama dan isi apa yang tertera di dalam sini. Sekali lagi terima
kasih”
“Lalu,
jika sudah kami isi?” kata Al lagi
“Oh
ya, jika sudah terisi semua tolong berikan kepada saya, saya ada di ruang OSIS”
Walaupun
berbadan tinggi lagi besar, sepertinya Kakak kelasku ini adalah seorang yang
pelupa. Dan di akhir kalimatnya yang terakhir dia tidak mengucapkan terima
kasih lagi seperti sebelumnya.
“Ini
bagus” ku dengar Al bergumam “Apa kau juga akan ikut Heri?”
Katanya
tiba-tiba kepadaku, sontak akupun terkejut mendengarnya,
“Apa?
Dari sekolah dasar aku tidak pernah mengikuti yang namanya organisasi apapun di
sekolah, dan akupun tidak tau apa itu OSIS, tentang seluk-beluknya, tujuannya
dan apapun itu.”
“Eeeh,
apa yang kau bicarakan?” kataku berusaha menolak permintaan Al
“Ayolah,
ini kesempatan yang bagus untuk menonjolkan diri”
“Aah,
aku tidak mau” kataku datar
“Ayolah
Heri, ini bukan hanya menonjolkan diri saja, ini juga bagian dari usaha untuk
mendapatkan teman yang lebih banyak”
Aku
sedikit tergiur dengan ajakannya itu, karena aku di rumah hanya berdiam diri.
Sambil mendengar lagu dan belajar.
“Dengar,
OSIS itu adalah organisasi yang keren, apalagi di tingkat SMP seperti ini”
“Tidak
Al, bagiku itu hanya organisasi yang membuat dirimu lelah saja”
Al
terdiam sejenak, sepertinya dia berubah pikiran akan kata-katanya yang tadi
“Memang
itu resikonya Heri, tapi lihat saja jika kau telah memasuki OSIS pasti kau akan
berubah”
Katanya
pelan namun bersemangat, sepertinya tolakanku memberinya semangat untuk tidak
putus asa.
“Kenapa
kau tidak ajak yang lain saja?”
“Tidak,
aku mau kau!” katanya ngotot kepadaku
Sial,
tatapannya seperti seorang yang.... sudahlah tak usah ku bicarakan. Sepertinya Al
sangat ingin aku bersamanya di OSIS, maklum itu mungkin karena kami telah
menghabiskan waktu bersama semenjak kami latihan musik waktu itu. dan tidak
hanya itu kami juga sering bernyanyi bersama saat waktu luang atau saat jam
pelajaran kosong.
Lama
ku berpikir akhirnya aku mengiyakan ajakannya, tapi aku berjanji jika aku tidak
menemukan kesenangan di OSIS ini aku akan keluar.
“Baiklah
Al, aku akan ikut” kataku sementara ia sedang mengisi lembaran yang diberikan
oleh Kakak kelas tadi dengan namanya.
“Ok,
baguslah kalau begitu!” katanya dengan wajah yang berseri-seri.
Akupun
kemudian mengisi namaku di dalam selebaran kertas itu, setelah ku lihat
ternyata Aziz juga ikut di sini, dan sisanya merupakan siswa perempuan.
“Woy,
Ziz kau ikut juga?”
“Yah,
kenapa memangnya?” katanya dengan ekspresi terkejut
Sepertinya
Aziz telah tau banyak tentang organisasi ini dan mungkin juga dia hanya ingin
menonjolkan diri saja.
“Yah,
kupikir kau tidak akan tertarik dengan hal yang semacam ini”
“Aku
hanya ingin mengisi waktu luangku saja”
Katanya
pelan, sepertinya Aziz sekarang telah berubah atau mungkin hanya
alasan-alasannya saja, hanya dia yang tau.
#
Akhirnya
waktu telah menunjukkan pukul 13:55 dan bel pulang sekolah berbunyi. Momen itu
merupakan hal yang terindah bagi setiap siswa hampir di setiap sekolah.
Aku
kemudian langsung menuju kelas tempat berkumpul calon-calon anggota OSIS yang
baru. Di sana telah berkumpul juga siswa-siswa dari kelas lain yang mungkin
akan mengikuti organisasi sekolah ini juga.
“Terima
kasih atas kesempatan kalian datang ke tempat ini” kata kak Widi tak lama
kemudian
“Alasan
saya mengumpulkan kalian di sini karena, periode kami OSIS yang lama akan
segera berakhir dan kalian akan menggantikan kami sebagai pengurusnya, dan saya
mohon agar jika nanti kalian akan terpilih menjadi pengurus OSIS yang baru
kalian akan berusaha sekeras-kerasnya seperti kami dan bahkan melebihi kami,
supaya sekolah kita ini maju dari sekolah-sekolah lainnya di kecamatan Aikmel
ini.”
Semua
siswa yang ada di dalam ruangan itu bertepuk tangan, begitu juga diriku. Namun
dalam keramaian itu aku bingung, ‘Akan terpilih?’ apa maksud dari kak Widi,
apakah kita perlu menjalani ujian untuk menjadi OSIS?
“Dan
untuk kalian calon anggota, silahkan besok pada hari libur setelah ulangan mid semester
berkumpul kembali untuk menjalani LDK. Terima kasih.”
Akhir
kata itu tersampaikan, dan seluruh kerumulan siswa itu pergi kembali ke rumah
mereka masing-masing.
Dalam
perjalanan aku semakin tambah bingung lagi apa itu LDK? Terus terang aku
bertanya kepada Al
“Hei
Al, apa itu LDK?”
“LDK?
Apa maksudmu?”
“Itu,
yang dibicarakan oleh kak Widi tadi”
“Ooh,
LDK itu kependekan dari Latihan Dasar Kepemimpinan”
“Maksudmu?
Apakah kita akan menjalani tes seperti tes Matematika begitu?”
“Hahaha,
tidak. LDK itu seperti misalnya saat kita akan memasuki SMP ini, kita perlu
mengadakan MOS bukan?”
“Owh,
begitu. Kau tau banyak Al”
“Kau
tau, aku selalu ikut hal-hal yang seperti ini waktu dulu”
“Tak
heran kau tau banyak. Jadi di sana kita akan di godok? Seperti itu?”
“Yah,
setiap proses itu pasti ada penggodokannya bukan? Jangan khawatir, itu hanya
proses saja”
“Hmm,
okelah”
Al
tersenyum kecil lalu melambaikan tangannya padaku
“Hei,
Heri aku pulang dahulu ya”
“Okelah”
kataku sambil melambaikan tangan juga
Maklum
bahwa rumah ku jauh di sana, sedangkan rumah Al dekat dari sekolah, hanya
tinggal menyebrang jalan raya dan belok kiri kemudian sampailah ke rumahnya.
***
BAB 8 ULANG
TAHUN
Hari
demi hari berlalu sejak pertemuan itu, dan pada minggu kedua bulan Agustus ini
akan di adakan ulangan mid untuk semester ganjil bagi seluruh siswa di SMPN 1
Aikmel.
Jam
menunjukkan pukul 13:00, aku masih termenung di dalam kelasku saat itu karena
jam pelajaran bahasa Inggris oleh Pak Hendra kosong. Hal itu dikarenakan Pak
Hendra kini tengah ada halangan untuk mengajar.
Aku
hanya menatap teman-temanku yang berlarian ke sana ke mari di depan kelas. Hal
ini sangat biasa manakala jam sedang kosong. Ada yang berbincang-bincang
membicarakan tentang kisah masa lalunya, ada yang bermain-main dengan teman
duduknya dan ada pula yang keluar ke kantin untuk membeli makanan.
Sungguh
masa-masa yang indah pikirku.
“Hei
Heri, kau tidak belajar?” kata suara tiba-tiba mengajakku bicara
“Untuk
apa, tak jarang bukan kita mendapatkan jam-jam kosong seperti ini?”
“Yah,
kau biasanya yang paling rajin di kelas ini”
“Aku
tidak sedang bersemangat belajar Haris” kataku pelan
“Baiklah
kalau begitu, bagaimana jika kau ikut kami bermain ABC saja?”
“Maaf,
tapi kurasa tidak.”
“Kenapa
Ri”
“Entahlah,
aku hanya merasa aku ingin pulang saja, ini sudah pukul 13:15, seharusnya kita
telah tidur dirumah lima belas menit yang lalu”
“Kau
benar, mungkin karena belnya sedang rusak” dia tertawa kecil
Ini
kala pertama kalinya aku merasa seperti Aziz, seorang yang haus akan suara
dencing bel setiap saat.
Teet---teet---teeet.
Akhirnya bel itu berbunyi juga,
“Heri,
aku pulang duluan ya”
Ku
lihat Aziz telah berada di ujung pintu kelas. Cepat sekali dia pikirku, padahal
aku baru saja merapikan buku-bukuku di sana
“Okelah”
kataku menyautnya pelan.
#
Aku
berjalan pelan seperti biasa di koridor sekolah itu, dan sesaat aku melihat
segerombolan siswa dan siswi di depan kelasnya. Aku berjalan ke sana dan
melihat Sintia berada di sana, apakah dia sedang di bully pikirku.
Tetapi
sesaat kemudian terdengar lagu selamat ulang tahun dan beberapa teriakan
lainnya. Dan ternyata hari ini adalah hari ulang tahunnya Sintia. Ku lihat
Satria juga di sana bersama teman-teman kelasnya.
Melihat
mereka tertawa riang membuat diriku juga bahagia, apalagi saat melihat wajah
Sintia yang begitu manis dan lucu saat di taburi oleh tepung dan telur. Entah
kenapa, tetapi saat ku melihatnya jantungku berdebar.
Aku
berhenti di kopsis sejenak untuk membeli segelas air minum untuk menghilangkan
dahagaku, serentak si penjaga kopsis bertanya kepadaku
“Dik,
ada apa di sana, terdengar begitu ramai?”
“Di
sana ada seseorang yang sedang merayakan ulang tahunnya kak” kataku pelan
Dan
kudengar ia berkata oowh dan kemudian menghilang di balik lemari dagangannya
itu.
#
Saat
ku berjalan pulang ku lihat Sintia berdiri sendiri di trotor jalan depan
sekolah kami. Jilbabnya semula yang penuh dengan tepung dan telur, sekarang
terlihat sedikit agak bersih walaupun masih tersisa beberapa warna telur yang
menguning.
Ku
coba mendekatinya dan mencoba berkata selamat ulang tahun kepadanya. Namun saat
aku menghampirinya, jantungku berdegup kencang. Apa yang terjadi pikirku,
sebelumnya hal ini tidak pernah terjadi kepadaku kataku dalam hati.
“Ha---hai
Sintia”
“Oh,
Heri... Hai.”
Suaranya
begitu lembut menjawabku, sontak ingin aku berlari kencang manjauh dari tempat
ku sekarang ini, hatiku tak mengizinkan aku pergi. Aku tak tau apa yang terjadi
padaku dan Sintia, padahal dulu kami sering bercanda bersama.
Kami
terdiam sejenak hingga akhirnya Sintia berkata
“Apa
yang kau lakukan di sini kau tidak pulang”
“A---aku
sedang, aku baru saja mau pulang, bagaimana denganmu Sintia?”
Tubuhku
terpaku di sana, menatap mata yang indah itu. Aku tau ini salah, dan aku tau
ini bertentangan dengan norma kesopanan dan norma agama yang melarang seorang
laki-laki dan perempuan berduaan apalagi berpandang mata.
Sintia
sebenarnya tidak hanya cantik namun dia juga baik hati, nada bicaranya begitu
lembut untuk di dengar. Mungkin karena hal inilah yang membuatku terpaku setiap
kali melihatnya.
“Aku
sedang menunggu carry*” katanya
sesaat
“Ooh.
Apa kau tidak apa-apa?”
“Kenapa?
Kau tau aku telah biasa menunggu mobil carry
sendiri seperti ini”
“Ti---tidak,
maksudku kau tidak apa-apa soal yang tadi?”
“Apa
maksudmu, caramu berbicara sangat aneh” Sintia menunjukkan raut wajah yang
bingung
“Ah,
aku tak apa. Maksudku aku melihatmu ditaburi tepung saat aku berjalan di depan
kelasmu tadi” kataku sambil tersenyum kecil kepadanya
“Oh,
yang tadi itu. Tak apa Heri, aku sendiri juga kaget karena mereka, tapi aku
senang” dia membalas perkataanku sambil tersenyum juga
Oh
tidak! Senyumannya itu seperti...... Sangatlah indah, rasanya seperi
menenangkan hatiku.
“6
Agustus ya, aku akan mengingatnya” kataku tak sadar mengucapkan kalimat itu,
sial apa yang terjadi aku saja tidak bisa memikirkan apa yang akan ku katakan
selanjutnya.
“Kau
begitu baik Heri” katanya tersenyum lagi kepadaku
Aku
hanya bisa membalas senyumannya itu dengan senyuman pula. Tak lama kemudian
mobil carry yang ditunggu Sintia
datang juga,
“Oh,
Heri aku pulang dulu ya?” katanya sambil beranjak dari tempatnya berdiri
“Eh,
Sintia!” kataku sedikit berteriak, dan sontak dia langsung membalikkan badannya
sebelum naik ke mobil itu
“Selamat
ulang tahun”
Akhirnya
kalimat itu keluar juga dari mulutku, aku merasa lega
“Trims
Heri” katanya tersenyum kemudian naik kedalam mobil itu
“Hei,
kenapa kau tidak ikut naik juga, kau bisa menghemat tenagamu kan?” dia berkata
sambil menengokkan kepalanya dari dalam mobil.
“Maaf,
tapi kurasa tidak. Aku tidak punya cukup uang untuk itu”
“Ayolah
Heri, tenang nanti aku yang bayar”
Aku
sedikit tergiur dengan itu, benar juga itu bisa menghemat tenagaku. Tapi kurasa
itu akan memberinya beban.
“Trims
Sintia kau begitu baik, tapi aku lebih suka jalan kaki” dan kuharap aku bisa
jalan denganmu kataku dalam hati.
“Baiklah
kalau begitu, aku duluan ya”
Sesaat
mobil itu berlalu, aku menatap mobil itu menjauh sampai ia benar-benar tidak
terlihat lagi, sesaat aku melihat Sintia menatapku balik sambil tersenyum,
tanpa sadar akupun ikut tersenyum melihatnya.
Sambil
senyam-senyum sendiri aku berpikir, mungkin Sintia juga merasakan apa yang ku
rasakan, aku hanya berharap begitu.
Tak
lama mobil itu menghilang dari pandanganku, dan aku melanjutkan perjalananku ke
rumah.
***
*Carry
: Sejenis angkutan umum.
BAB 9 ULANGAN MID
SEMESTER
Tring...
ponselku berdering beberapa kali pertanda ada sebuah panggilan masuk di sana. Aku
dibelikan ponsel oleh ibuku semenjak
aku pulang terlalu larut pada saat aku latihan seni musik yang pertama kali,
mungkin dia khawatir dan membelikan aku sebuah ponsel sederhana yang bisa ku gunakan untuk memberi kabar.
Aku
sedang menggambar karakter kartun di meja belajarku, dan ponsel itu di
sampingku. Ku buka ponsel itu dan
ternyata dari Sintia, aku tersenyum sendiri akan hal itu, lalu mengangkat
teleponnya.
“Assalamualaikum.
“Waalaikumussalam.
Tumben nelpon Sintia”
“Hehehe,
sesekali tak apa kan” dia tertawa kecil di ujung ponselnya
“Yah
sering-sering juga tak apa” kataku kemudian membalas lawakannya
“Hei
Heri, kenapa kau mengucapkan selamat ulang tahun padaku kemarin? Padahal aku
tidak pernah mengucapkan ulang tahun padamu”
Aku
sedikit bingung dengan perkataannya lalu membalas kata-katanya dengan kalimat
seadanya
“Apa
maksudmu Sintia, apa salah jika aku bilang begitu?”
“Tidak,
tidak salah hanya saja aku merasa aneh” nada bicaranya menjadi rendah
“Kau
tidak seperti dirimu Sintia”
“Apa
maksudmu?”
“Yaa,
biasanya kau selalu menjawab pertanyaan seseorang dengan serius”
Ingin
sekali aku mengatakan sepertinya..... Ah tidak mungkin pikirku, hal itu
sangatlah konyol.
Apa
yang terjadi sejak pertama kali kami bertemu di trotoar jalan, hal ini sungguh
aneh.
“Trims
kalau begitu Heri, lebih baik kau belajar saja ulangan mid semester sebentar
lagi” katanya tak lama
Aneh
bagiku, padahal dia yang memulai menelponku tapi dia yang menyuruhku belajar
saja.
“Baiklah,
kau juga Sintia”
“Baik
Ri, maaf aku tak bisa lama-lama ada hal yang harus ku kerjakan, lain kali kita
akan berbicara bertatap muka saja” katanya kemudian
“Baiklah,
Assalamualaikum”
“Waalaikumussalam”
katanya dan Tuut---tuut---tuut, suara dari nada itu bertanda bahwa sambungan
telepon telah diputuskan.
Perkataannya
yang tadi memberikanku semangat untuk belajar menyiapkan materi untuk ulangan
mid besok. Aku kemudian langsung menutup buku gambarku dan mengambil buku LKS Bahasa
Indonesia yang akan di ujiankan besok hari.
#
Jam
demi jam berlalu dan tak terasa hari telah gelap, dan setelah sholat isya malam
ini, aku langsung tidur untuk menyimpan tenagaku untuk ulangan esok hari
#
Keesokan
harinya aku berangkat ke sekolah dan di kelasku kudapati berbagai teman-temanku
sedang membaca buku dengan giatnya termasuk Aziz.
“Hai
Ziz, tumben kau sangat rajin?”
“Kenapa
Ri, ada yang salah dengan itu?”
“Tidak---tidak
ada yang salah malah itu bagus untukmu” kataku sambil memicingkan mataku
Aziz
kemudian menatap bukunya kembali. Hal ini sunggug aneh bagiku, Aziz yang setiap
hari kulihat selalu mengeluh ingin cepat-cepat pulang dari sekolah sekarang
berubah menjadi orang yang sesaat tidak ingin meninggalkan tempat duduknya dan
dari bukunya.
Lucu
memang, tapi jika ia ingin berubah maka itu adalah hal yang bagus, karena tak
selamanya kita menjadi orang yang sama bukan? Pikirku dalam hati.
Aku
kemudian mengambil bukuku dan ikut belajar juga, namun aku tidak belajar di
dalam ruangan itu karena terlalu berisik, sebagai gantinya aku belajar di depan
ruang kelas.
Sesaat
aku membaca bukuku aku melihat Sintia sedang belajar juga di depan kelasnya
bersama teman kelasnya. Lama aku menatapnya, dan dia balik menatapku juga.
Tersadar akan hal itu aku langsung memalingkan pandanganku ke arah buku yang ku
pegang.
Tersembunyi
di balik buku itu aku hanya tersenyum sendiri.
Teet---teet---teeet,
suara bel sekolah berbunyi menandakan bahwa ulangan mid semester telah dimulai.
Mata ulangan mid hari ini adalah Bahasa Indonesia, biasanya soal Bahasa
Indonesia adalah soal-soal narasi dan deskripsi yang sangat panjang untuk di
baca, jadi aku harus menghemat waktu untuk itu.
Semua
siswa berhamburan masuk ke dalam kelasnya untuk menerima soal yang akan
dikerjakan. Kali ini Pak Hendra adalah guru yang mengawasi kami, begitu
menerima soal, tanpa pikir panjang aku langsung mengerjakannya.
Sekitar
40 menitan waktu berjalan, suara bel berbunyi menandakan waktu ulangan telah
habis dan semua siswa harus mengumpulkan hasilnya kepada pengawas.
Aku
keluar dari ruangan itu, dan sepertinya hanya Bahasa Indonesialah mata ulangan
hari ini, kulihat sobekan kertas jadwal ulangan mid semesterku bahwa besok
adalah Matematika.
Sial!
Kataku dalam hati, Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang sangat
menyusahkanku. Tapi untung saja aku membawa buku Matematika hari itu dan kuputuskan
untuk belajar sejenak di sekolah sebelum pulang ke rumah, dan sepertinya
sebagian besar siswa kelas 8 juga melakukan hal yang serupa.
“Hai
Heri, rajin sekali” kata suara menghampiriku
“Hai
Al, kau tau besok adalah Matematika, dan kau tau aku selalu terlambat dalam Matematika,
jadi aku harus belajar jika aku tak ingin dihukum Pak Rudi”
“Hah,
kau terlalu rajin Ri, semestinya jika usai ulangan harian seperti ini kau
seharusnya meringankan pikiranmu dahulu” katanya kalem
“Ku
hargai nasihatmu Al, tapi kau tau juga bahwa kau sama sepertiku di Matematika”
“Yah,
kau benar. Tapi asal kau tau Ri, jika aku belajar di saat seperti ini tidak ada
satupun yang akan masuk dikepalaku”
“Kau
memang begitu Al,”
“Ya
sudah kalau kau memaksakan dirimu Ri, tak apa aku hanya bisa mendukungmu”
“Trims,
Al”
“Tak
apa, jikalau begitu aku pulang dulu ya”
“Okelah,
hati-hati di jalan”
Al
langsung melambaikan tangannya dan lalu menghilang dari pandanganku.
#
Berjam-jam,
bermenit-menit, dan berdetik-detik waktu kian berlalu. Hari ini adalah hari
kedua ulangan mid berlangsung, dan parahnya lagi mata ulangan pada hari ini
adalah Matematika.
Teet---teet---teeet,
bel masuk mulai berbunyi lagi, dan pada saatnya aku harus menghadapi mata
ulangan yang menurutku sangat sulit diantara mata ulangan lainnya.
“Astaga!”
kataku kecil saat aku membuka soal yang telah dibagikan oleh pengawas kepada
kami.
Soal-soal
yang dibuat oleh Pak Rudi terlihat sangat menyesakkan kepala.
Aljabar,
persamaan kuadrat, dan masih banyak soal lain yang terlihat membosankan untuk
dilihat.
“Ziz,
Ziz, AZIZ!” kataku tidak berani berteriak terlalu keras karena aku tengah
berada di tengah-tengah ulangan.
“Oh,
ada apa?” dia menjawab dengan terkejut, tampaknya Aziz juga terkesima melihat
soal-soal itu.
“Bagaimana
menurutmu soal ini?” tanyaku pelan
“Bagaimana?
Yah, kuharap aku tidak dihukum oleh Pak Rudi sepertimu”
Kata-katanya
begitu mengagetkanku, rasanya aku sedikit di bully walaupun Aziz menganggap itu hanya percakapan biasa.
“Yah,
kau benar. Tapi hukumannya mungkin akan lebih berat daripada saat itu” kataku
sambil tidak menghiraukannya
“Hei!
Apa yang sedang kalian bicarakan?! Waktu kalian untuk mengerjakan soal sangat
terbatas, jadi manfaatkan waktu kalian dengan benar”
Pengawas
hari itu berkata dengan sedikit agak keras dari depan ruangan menatapku dan
Aziz, kulihat Aziz hanya berusaha mengalihkan pandangannya ke pensil yang
sedang di tajamkan, dan aku mulai mengerjakan soal-soal kematian tersebut.
#
“Heri,
kau tau jawaban no.12?”
Sontak
aku kaget, mendengar Aziz berkata begitu
“Kenapa,
kau tidak bisa menjawabnya?”
“Iya,
tolong bantu aku sekali saja” katanya memohon kepadaku
“Heeh,
baiklah ini”
Aku
menyodorkan sedikit jawabanku kepada Aziz, aku begitu kasihan melihatnya
seperti itu, yah walaupun beberapa diantaranya aku jawab dengan asal.
Lama
waktu berlalu, Aziz tetap meminta jawaban lagi kepadaku.
“Kau
bilang, kau hanya ingin dibantu sekali”
“Ayolah
Ri, kita ini teman”
“Hah,
kau tau Ziz, tidak semua jawabanku ini benar, sebagian lainnya ku jawab dengan
asal-asalan”
“Tak
apa, yang penting kau mau membantuku”
Akhirnya
dengan terpaksa aku menyodorkan lembar jawabanku sedikit kepadanya, agar tidak
diketahui oleh pengawas ulangan.
40
menit lebih beberapa menit berikutnya, bel berbunyi lagi menandakan ulangan
untuk hari ini telah berakhir.
Aku
keluar dari ruangan itu dengan muka yang seperti orang yang habis meminum
sebuah air yang manis tapi pahit, begitu juga dengan beberapa siswa lainnya
yang sepertinya memiliki nasib yang sama.
“Aduuh”
kata Aziz keluar dan menghampiriku sambil memegang dahinya
“Kau
kenapa Ziz?” aku bertanya dengan sopan
“Kurasa
nilaiku untuk Matematika adalah 0..” katanya lemah
“Apa
maksudmu? Berpikir positif saja, dan kau tau bukan hanya dirimu saja yang
seperti itu”
“Apa
maksudmu Heri?”
“Kau
lihat aku? Mungkin hukuman Pak Rudi akan jatuh kepadaku” kataku lemah seperti
Aziz
“Kau
tau Ri, seseorang pernah berkata kepadaku ‘Berpikir positif saja, dan kau tau
bukan hanya dirimu saja yang seperti itu’..” katanya menirukan kalimatku sambil
tersenyum lebar
“Haah,
aku benci kau mendengar nasihatku”
Aziz
tertawa kemudian. Dan sepertinya lelucon itu menjadi sesuatu yang berharga
teramat sangat bagiku dan Aziz, rasanya seperti liburan yang menyenangkan
setelah berpikir terlalu keras sepanjang hari.
“Heri
kau mau, ku traktir sesuatu?” katanya kemudian
“Tak
biasanya kau baik mentraktirku di saat-saat seperti ini”
“Yah,
anggap saja sebagai tanda terima kasihku tadi” dia tersenyum lagi
Sebenarnya
aku merasa sedikit bingung dengan Aziz, sepertinya dia bersemangat sekali, atau
mungkin ini merupakan sifat alaminya, membalas pertolongan orang lain dengan
menolongnya kembali? Entahlah aku juga tidak tau
“Baiklah,
kau mau mentraktirku apa sekarang”
“Bagaimana
kalau, bakso mas Siswanto di sana?” katanya sambil menunjuk warung bakso di
depan sekolah”
“Wow,
sepertinya di dalam kantungmu ada benda yang perlu dikeluarkan ya Ziz?” kataku
mencoba menggodanya
“Sudahlah
ayo cepat”
***
Just stay there...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tolonglah berkomentar dengan sopan, NO SPAM!, dan dengan bahasa yang santun pula. Karena komentar anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini ke depannya.