12 November 2015
“Tolonglah Pak, kami sudah SMA!”
pinta Prade dengan nada sedikit memaksa
“Tidak! Sekali Bapak katakan tidak tetap tidak!”
balas Pak Suwono dengan nada tak kalah kerasnya
“Tapi Pak, apakah Bapak telah memikirkannya dengan baik?” “Saya ini
kepala sekolah, apa yang kamu pikirkan?”
Prade tahu bahwa dia telah salah dalam berucap.
Memang tak seharusnya seorang siswa berkata seperti itu.
Namun dengan emosi yang
meluap-luap, Prade tak sadar telah berkata kasar kepada gurunya.
Radit yang dari tadi menemani Prade untuk berbicara
tentang pelantikan hanya bisa tunduk terdiam tanpa ada satupun kata yang keluar
dari mulutnya.
“Baiklah Pak, terima kasih. Kami akan menemukan
jalan lain” katanya pasrah dengan keputusan dari Pak Suwono.
Prade dan Radit lalu mengucapkan permisi dan keluar dari ruang kepala
sekolah yang ber-AC namun terasa agak panas karena kejadian tadi.
“Sepertinya kita tidak punya jalan lain, kita harus
mengadakan pelantikan dengan cara pengembaraan” ucap Radit sesaat.
“Aku tidak setuju. Masa selama
kita di sini hanya bisa berpatokan dengan pengembaraan?”
“Ya, aku tahu tapi.....”
“Para anggota harus merasakan sesekali yang
dimaksud dengan berkemah” kata Prade tidak memberikan Radit menyelesaikan
kalimatnya.
“Mungkin ada alasan lain, kenapa
mereka tidak memberikan kita izin”
“Apanya yang salah? Semuanya sudah kita persiapkan
sedemikian rupa. Mulai dari perlengkapan, keamanan, semuanya sudah dan tinggal
dilaksanakan saja” katanya dengan emosi yang meluap lagi.
“Sekarang apa yang akan kita
lakukan?” tanya Radit
“Kita akan mengadakan rapat,
tolong kumpulkan semua anggota” pinta Prade kemudian
Radit mengerti dengan memberikan hormat, lalu
menuju ke ruang informasi untuk mengumumkan kepada seluruh anggota Pramuka
berkumpul untuk rapat.
Beberapa saat kemudian, semua telah berkumpul.
Prade berdiri selaku Pradana di depan ruangan dengan beberapa Dewan Ambalan di
sampingnya.
“Bagaimana pendapat kepala sekolah tentang kegiatan ini” kata Ali yang
merupakan salah satu anggota Dewan Ambalan.
“Saya dan Radit, tadi telah berbicara dengan Pak Suwono” “Lalu hasilnya?”
Prade dapat melihat banyak pasang mata di ruangan itu menantinya
mengucapkan bahwa Pak Suwono setuju, tapi mau tidak mau dia harus berkata
seadanya kepada mereka semua.
“Negatif” jawab Prade datar
Dia kemudian dapat melihat pasang
mata itu menjadi lemah tak berdaya mendengarnya.
“Tapi, semuanya kan telah kita persiapkan sematang mungkin” kata Rifki
seorang anggota Dewan Ambalan lainnya.
“Aku telah menjelaskan hal itu sedetail mungkin kepada Pak Suwono, namun
dia tetap tak setuju”
“Apa mungkin mereka masih membawa-bawa
masalah lama ya?” kata Ali
“Kak, setahu saya OSIS diperbolehkan untuk menginap di sekolah dalam LDK
mereka” kata salah satu anggota kemudian.
“Dari mana adik tau?” Prade
bertanya
“Saya dengar dari beberapa teman
yang ikut OSIS kak”
“Hmm.... Ini memang sedikit agak
aneh” gumam Prade “Baiklah beberapa anggota Dewan
Ambalan ikut saya untuk berbicara dengan pembina dan sisanya tolong
persiapkan agenda pelantikan cara pengembaraan untuk mengantisipasi jika hal
ini tidak berjalan dengan lancar”
“Siap” ucap semua anggota Dewan
Ambalan.
“Baiklah, berhubung sudah sore. Kita sambung rapat kita besok, dan mari
kita berdo’a semoga apa yang kita lakukan hari ini bermanfaat bagi kita semua”
Setelah do’a selesai semua anggota bubar dan pulang ke rumah sementara
Prade dan beberapa Dewan Ambalan pergi ke rumah Kak Wisnu untuk membicarakan
hal tadi.
Keesokan harinya setelah pulang sekolah, semua anggota Pramuka kembali
melaksanakan rapat menyambung materi yang kemarin.
“Kami telah berbicara dengan Kak Wisnu, dia berkata semuanya diserahkan
kepada kita semua, asalkan itu baik kenapa tidak kita lakukan” kata Prade
kemudian
Sesaat seorang anggota mengacungkan tangannya ke atas pertanda untuk
bertanya. “Ya?”
“Bisa kakak jelaskan maksud dari Kak Wisnu tadi?” katanya singkat
kemudian duduk kembali.
“Bukankah sudah jelas, bahwa jika kita memang ingin
mengadakan pelantikan dengan cara menginap boleh-boleh saja. Itu kan hal yang
baik, kenapa tidak kita lakukan. Kemarin saya sempat bilang bahwa kepala
sekolah kita tidak adil sekarang”
Mendadak semua anggota di ruangan itu menjadi
gemuruh, mungkin mereka sekarang mencerna kalimat Prade. Beberapa siswa di luar
ruangan menjadi heran dan sedikit menengok ke arah ruang rapat.
“Benar”
“Itu benar”
“Pas sekali”
“Memang begitu”
Prade mendengar beberapa di
antara anggota berkata seperti itu.
“Semuanya silahkan tenang.
Sekarang apa ada usulan lain tentang kegiatan pelantikan kita?”
“Bagaimana jika pengembaraan?”
kata salah satu anggota
“Saya tidak setuju, masa dari dulu sampai sekarang
pengembaraan terus” kata salah satu anggota lainnya
“Jadi bagaimana?”
“Bagaimana jika kita mengadakan
kemah tanpa izin dari sekolah?”
“Tidak bisa dik, itu melanggar Anggaran Rumah
Tangga kita” kata Endang salah satu Dewan Ambalan di bagian keorganisasian.
“Bagaimana jika kita mengadakan kemah di luar
sekolah?” kata salah satu anggota lainnya lagi
Prade bisa melihat bahwa beberapa di antara mereka
mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju.
“Usul adik bagus, tapi jika kita berkegiatan di
luar. Mungkin masalah keamanan akan menjadi kendala” ucap Prade kemudian
“Jadi bagaimana?”
“Sepertinya kita menemui jalan
buntu”
Suasana berubah sunyi, semua
anggota menantikan keputusan dari Prade.
“Jika memang begitu bagaimana
jika kita melakukan aksi protes?” usul Ali kemudian
“Maksudmu sejenis demo, begitu?”
“Ya, seperti itulah”
“Sepertinya itu jalan pintas yang
kurang cukup bagus” kata Prade
“Ayolah, apakah kita semua akan berdiam diri
seperti ini, pasrah dari keputusan kepala sekolah?”
Sekarang suasana kembali memanas, semua anggukan
kepala terlihat dan kata-kata setuju terdengar walaupun samar.
“Begini, tolong tenang dulu. Sebenarnya saya setuju
jika kita melakukan aksi protes, tapi coba pikirkan, hal itu mungkin akan
menjadikan nama Pramuka akan ternoda”
“Ayolah, Prade. Kita juga harus belajar dari para
angkatan sebelumnya, bukankah Kak Wisnu telah mengakatannya?”
“Lagipula kita juga harus
mengambil hak kita” kata Rifki kemudian
Lagi-lagi suasana semakin memanas. Kali ini semua
anggota setuju, bahkan beberapa di antaranya berani berteriak mengatakan betul.
Prade memandang sejenak. Sepertinya tidak ada
pilihan lain, dia terasa seperti terjebak di jalan pintasnya sendiri yang hanya
ada sepotong papan kecil untuk dilewati.
“Baiklah” katanya kemudian
Dia melihat wajah kepuasan di
antara kerangka-kerangka yang ada di dalam ruangan itu.
“Baiklah, saya setuju dan saya yakin Kak Wisnu juga
setuju jika saya mengatakan hal ini dengan sebenar-benarnya....”
Ucapannya mendadak berhenti saat semua anggota
berteriak hore memenuhi gema ruangan itu.
“Baik, jika begitu demo akan kita laksanakan besok
setelah pulang sekolah, jadi persiapkan semuanya dan jangan terlalu terbawa
emosi”
Beberapa di antara anggota
terkekeh-kekeh mengerti candaan Prade.
Prade tau, hal ini memang benar apalagi jika
berbicara menyangkut hak. Tugasnya sekarang hanyalah memastikan bahwa aksi
protes besok akan berjalan dengan lancar tanpa membawa kesan yang buruk bagi
organisasi Pramuka.
Setelah rapat usai, Prade berjalan sendiri
menyusuri koridor sekolah. Termenung memikirkan tentang hal tadi.
Tak lama dia berjalan seseorang dengan lembut
memanggil namanya. Sesaat Prade menoleh ke belakang, ternyata Mandalika lah
yang memanggil namanya. Terlintas sedikit senyum dibalik wajahnya, rasanya
semua bebannya telah hilang melihat wajah cantik itu.
Mandalika berjalan ke arah Prade, lalu mereka berdua berjalan bersama menuju
ke rumah. “Ada apa? Kelihatannya kau sedikit murung, Prade?” tanya Mandalika
kemudian
“Entahlah, besok kami akan mengadakan aksi protes
terhadap kepala sekolah” jawab Prade datar
“Wah, kalian sungguh berani” katanya sambil tersenyum “Ya, tapi aku tidak
terlalu yakin akan hal ini”
“Benar, tapi mungkin aku mengambil keputusan yang
kurang tepat” wajah Prade semakin murung
“Hmm... Kau pasti bisa!” kata
Mandalika memberikan semangat
Prade menatap wajahnya, di sana terlihat bahwa
memang ada semangat yang Prade harus miliki. Dia harus yakin seperti yang di
katakan Mandalika bahwa yang dia lakukan memang benar.
“Kau benar” kata Prade sambil
mengangkat wajahnya
“Nah, itu baru semangat. Pepatah pernah mengatakan
bahwa kemarin adalah sejarah, besok adalah misteri dan hari ini adalah anugrah.
Jadi lakukanlah apa yang menurutmu benar, asalkan kau tetap berikhtiar dan
tawakkal akan hasilnya”
Prade tersenyum, dan sekarang mereka berdua
tersenyum, berjalan melewati jalan setapak dengan sang surya yang menemani
sebelum dia istirahat di balik bumi.
Keesokan harinya seperti yang telah di janjikan,
bel pulang sekolah berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar dan cepat-cepat
pulang ke rumah masing-masing, namun tidak dengan sekelompok orang ini.
Mereka membawa beberapa papan dan kertas besar yang
bertuliskan aksi protes dan meminta untuk keadilan ditegakkan.
Prade, dengan beberapa Dewan Ambalan berdiri
mengelilingi anggota mereka yang melakukan aksi protes di depan ruang kepala
sekolah.
Prade tahu kalau beberapa guru memandangi mereka,
namun mereka tetap saja melakukan demo.
“TEGAKKAN! LURUSKAN!”
“BERTANGGUNG JAWAB DAN DAPAT
DIPERCAYA!”
“TUNJUKKAN KEADILAN!”
Teriakan-teriakan itu terdengar hampir di seluruh
sekolah, beberapa guru yang memandangi mereka tersenyum sambil
menggeleng-gelengkan kepala melihat aksi yang mereka pikir adalah aksi yang
konyol.
Namun, telah disebutkan dalam UUD NKRI 1945 bahwa
setiap orang berhak mengeluarkan pendapat. Jadi semua anggota tidak ragu-ragu
dalam melakukan demo, karena mereka tau itu benar.
Tak lama kemudian kepala sekolah keluar, dan aksi
teriak-teriakan mereda sedikit demi sedikit.
Prade langsung mengambil alih barisan depan, dan
tanpa berkata apa-apa kepala sekolah telah mengerti apa maksud dari
segerombolan siswa-siswinya.
“Baiklah, bapak telah mendiskusikan ini dengan guru-guru
lainnya. Keputusan kami tetap tidak mengizinkan kalian untuk melakukan kemah di
sekolah”
Terdengar teriakan-teriakan protes lagi, namun
kepala sekolah langsung melanjutkan kalimatnya.
“Tapi, kalian akan diizinkan
untuk melakukan kemah di lapangan samping sekolah”
Terdengar senyap sesaat, lalu semua anggota
berteriak HORE! Sambil saling tos merayakan kemenangannya.
“Semua masalah keamanan, bapak pikir sudah bagus.
Dan walaupun jarak lapangan dengan sekolah sedikit jauh, tapi ini adalah yang
terbaik untuk kalian”
“Terima kasih pak!” kata semua
anggota hampir bebarengan.
Prade langsung maju menuju Pak Suwono dengan langkah
tegap dan langsung mencium tangan kepala sekolah sebagai tanda terima kasih,
kemudian dia membimbing semua anggotanya untuk melakukan hal yang sama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tolonglah berkomentar dengan sopan, NO SPAM!, dan dengan bahasa yang santun pula. Karena komentar anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini ke depannya.