9 Desember 2017

Tegakkan! Luruskan!



12 November 2015


“Tolonglah Pak, kami sudah SMA!” pinta Prade dengan nada sedikit memaksa

“Tidak! Sekali Bapak katakan tidak tetap tidak!” balas Pak Suwono dengan nada tak kalah kerasnya

“Tapi Pak, apakah Bapak telah memikirkannya dengan baik?” “Saya ini kepala sekolah, apa yang kamu pikirkan?”

Prade tahu bahwa dia telah salah dalam berucap. Memang tak seharusnya seorang siswa berkata seperti itu.

Namun dengan emosi yang meluap-luap, Prade tak sadar telah berkata kasar kepada gurunya.

Radit yang dari tadi menemani Prade untuk berbicara tentang pelantikan hanya bisa tunduk terdiam tanpa ada satupun kata yang keluar dari mulutnya.

“Baiklah Pak, terima kasih. Kami akan menemukan jalan lain” katanya pasrah dengan keputusan dari Pak Suwono.

Prade dan Radit lalu mengucapkan permisi dan keluar dari ruang kepala sekolah yang ber-AC namun terasa agak panas karena kejadian tadi.

“Sepertinya kita tidak punya jalan lain, kita harus mengadakan pelantikan dengan cara pengembaraan” ucap Radit sesaat.

“Aku tidak setuju. Masa selama kita di sini hanya bisa berpatokan dengan pengembaraan?”

“Ya, aku tahu tapi.....”

“Para anggota harus merasakan sesekali yang dimaksud dengan berkemah” kata Prade tidak memberikan Radit menyelesaikan kalimatnya.

“Mungkin ada alasan lain, kenapa mereka tidak memberikan kita izin”

“Apanya yang salah? Semuanya sudah kita persiapkan sedemikian rupa. Mulai dari perlengkapan, keamanan, semuanya sudah dan tinggal dilaksanakan saja” katanya dengan emosi yang meluap lagi.

“Sekarang apa yang akan kita lakukan?” tanya Radit

“Kita akan mengadakan rapat, tolong kumpulkan semua anggota” pinta Prade kemudian

Radit mengerti dengan memberikan hormat, lalu menuju ke ruang informasi untuk mengumumkan kepada seluruh anggota Pramuka berkumpul untuk rapat.

Beberapa saat kemudian, semua telah berkumpul. Prade berdiri selaku Pradana di depan ruangan dengan beberapa Dewan Ambalan di sampingnya.

“Kita harus bertindak cepat” katanya kemudian setelah menyampaikan beberapa pembukaan.

“Bagaimana pendapat kepala sekolah tentang kegiatan ini” kata Ali yang merupakan salah satu anggota Dewan Ambalan.

“Saya dan Radit, tadi telah berbicara dengan Pak Suwono” “Lalu hasilnya?”

Prade dapat melihat banyak pasang mata di ruangan itu menantinya mengucapkan bahwa Pak Suwono setuju, tapi mau tidak mau dia harus berkata seadanya kepada mereka semua.

“Negatif” jawab Prade datar

Dia kemudian dapat melihat pasang mata itu menjadi lemah tak berdaya mendengarnya.

“Tapi, semuanya kan telah kita persiapkan sematang mungkin” kata Rifki seorang anggota Dewan Ambalan lainnya.

“Aku telah menjelaskan hal itu sedetail mungkin kepada Pak Suwono, namun dia tetap tak setuju”

“Apa mungkin mereka masih membawa-bawa masalah lama ya?” kata Ali

“Kak, setahu saya OSIS diperbolehkan untuk menginap di sekolah dalam LDK mereka” kata salah satu anggota kemudian.

“Dari mana adik tau?” Prade bertanya

“Saya dengar dari beberapa teman yang ikut OSIS kak”

“Hmm.... Ini memang sedikit agak aneh” gumam Prade “Baiklah beberapa anggota Dewan

Ambalan ikut saya untuk berbicara dengan pembina dan sisanya tolong persiapkan agenda pelantikan cara pengembaraan untuk mengantisipasi jika hal ini tidak berjalan dengan lancar”

“Siap” ucap semua anggota Dewan Ambalan.

“Baiklah, berhubung sudah sore. Kita sambung rapat kita besok, dan mari kita berdo’a semoga apa yang kita lakukan hari ini bermanfaat bagi kita semua”

Setelah do’a selesai semua anggota bubar dan pulang ke rumah sementara Prade dan beberapa Dewan Ambalan pergi ke rumah Kak Wisnu untuk membicarakan hal tadi.

Keesokan harinya setelah pulang sekolah, semua anggota Pramuka kembali melaksanakan rapat menyambung materi yang kemarin.

“Kami telah berbicara dengan Kak Wisnu, dia berkata semuanya diserahkan kepada kita semua, asalkan itu baik kenapa tidak kita lakukan” kata Prade kemudian

Sesaat seorang anggota mengacungkan tangannya ke atas pertanda untuk bertanya. “Ya?”

“Bisa kakak jelaskan maksud dari Kak Wisnu tadi?” katanya singkat kemudian duduk kembali.


“Bukankah sudah jelas, bahwa jika kita memang ingin mengadakan pelantikan dengan cara menginap boleh-boleh saja. Itu kan hal yang baik, kenapa tidak kita lakukan. Kemarin saya sempat bilang bahwa kepala sekolah kita tidak adil sekarang”

Mendadak semua anggota di ruangan itu menjadi gemuruh, mungkin mereka sekarang mencerna kalimat Prade. Beberapa siswa di luar ruangan menjadi heran dan sedikit menengok ke arah ruang rapat.

“Benar”

“Itu benar”

“Pas sekali”

“Memang begitu”

Prade mendengar beberapa di antara anggota berkata seperti itu.

“Semuanya silahkan tenang. Sekarang apa ada usulan lain tentang kegiatan pelantikan kita?”

“Bagaimana jika pengembaraan?” kata salah satu anggota

“Saya tidak setuju, masa dari dulu sampai sekarang pengembaraan terus” kata salah satu anggota lainnya

“Jadi bagaimana?”

“Bagaimana jika kita mengadakan kemah tanpa izin dari sekolah?”

“Tidak bisa dik, itu melanggar Anggaran Rumah Tangga kita” kata Endang salah satu Dewan Ambalan di bagian keorganisasian.

“Bagaimana jika kita mengadakan kemah di luar sekolah?” kata salah satu anggota lainnya lagi

Prade bisa melihat bahwa beberapa di antara mereka mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju.

“Usul adik bagus, tapi jika kita berkegiatan di luar. Mungkin masalah keamanan akan menjadi kendala” ucap Prade kemudian

“Jadi bagaimana?”

“Sepertinya kita menemui jalan buntu”

Suasana berubah sunyi, semua anggota menantikan keputusan dari Prade.

“Jika memang begitu bagaimana jika kita melakukan aksi protes?” usul Ali kemudian

“Maksudmu sejenis demo, begitu?”

“Ya, seperti itulah”

“Sepertinya itu jalan pintas yang kurang cukup bagus” kata Prade


“Ayolah, apakah kita semua akan berdiam diri seperti ini, pasrah dari keputusan kepala sekolah?”

Sekarang suasana kembali memanas, semua anggukan kepala terlihat dan kata-kata setuju terdengar walaupun samar.

“Begini, tolong tenang dulu. Sebenarnya saya setuju jika kita melakukan aksi protes, tapi coba pikirkan, hal itu mungkin akan menjadikan nama Pramuka akan ternoda”

“Ayolah, Prade. Kita juga harus belajar dari para angkatan sebelumnya, bukankah Kak Wisnu telah mengakatannya?”

“Lagipula kita juga harus mengambil hak kita” kata Rifki kemudian

Lagi-lagi suasana semakin memanas. Kali ini semua anggota setuju, bahkan beberapa di antaranya berani berteriak mengatakan betul.

Prade memandang sejenak. Sepertinya tidak ada pilihan lain, dia terasa seperti terjebak di jalan pintasnya sendiri yang hanya ada sepotong papan kecil untuk dilewati.

“Baiklah” katanya kemudian

Dia melihat wajah kepuasan di antara kerangka-kerangka yang ada di dalam ruangan itu.

“Baiklah, saya setuju dan saya yakin Kak Wisnu juga setuju jika saya mengatakan hal ini dengan sebenar-benarnya....”

Ucapannya mendadak berhenti saat semua anggota berteriak hore memenuhi gema ruangan itu.

“Baik, jika begitu demo akan kita laksanakan besok setelah pulang sekolah, jadi persiapkan semuanya dan jangan terlalu terbawa emosi”

Beberapa di antara anggota terkekeh-kekeh mengerti candaan Prade.

Prade tau, hal ini memang benar apalagi jika berbicara menyangkut hak. Tugasnya sekarang hanyalah memastikan bahwa aksi protes besok akan berjalan dengan lancar tanpa membawa kesan yang buruk bagi organisasi Pramuka.

Setelah rapat usai, Prade berjalan sendiri menyusuri koridor sekolah. Termenung memikirkan tentang hal tadi.

Tak lama dia berjalan seseorang dengan lembut memanggil namanya. Sesaat Prade menoleh ke belakang, ternyata Mandalika lah yang memanggil namanya. Terlintas sedikit senyum dibalik wajahnya, rasanya semua bebannya telah hilang melihat wajah cantik itu.

Mandalika berjalan ke arah Prade, lalu mereka berdua berjalan bersama menuju ke rumah. “Ada apa? Kelihatannya kau sedikit murung, Prade?” tanya Mandalika kemudian

“Entahlah, besok kami akan mengadakan aksi protes terhadap kepala sekolah” jawab Prade datar

“Wah, kalian sungguh berani” katanya sambil tersenyum “Ya, tapi aku tidak terlalu yakin akan hal ini”

“Ayolah, aku yakin semua yang kau lakukan benar, apalagi kau ketuanya bukan?”

“Benar, tapi mungkin aku mengambil keputusan yang kurang tepat” wajah Prade semakin murung

“Hmm... Kau pasti bisa!” kata Mandalika memberikan semangat

Prade menatap wajahnya, di sana terlihat bahwa memang ada semangat yang Prade harus miliki. Dia harus yakin seperti yang di katakan Mandalika bahwa yang dia lakukan memang benar.

“Kau benar” kata Prade sambil mengangkat wajahnya

“Nah, itu baru semangat. Pepatah pernah mengatakan bahwa kemarin adalah sejarah, besok adalah misteri dan hari ini adalah anugrah. Jadi lakukanlah apa yang menurutmu benar, asalkan kau tetap berikhtiar dan tawakkal akan hasilnya”

Prade tersenyum, dan sekarang mereka berdua tersenyum, berjalan melewati jalan setapak dengan sang surya yang menemani sebelum dia istirahat di balik bumi.

Keesokan harinya seperti yang telah di janjikan, bel pulang sekolah berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar dan cepat-cepat pulang ke rumah masing-masing, namun tidak dengan sekelompok orang ini.

Mereka membawa beberapa papan dan kertas besar yang bertuliskan aksi protes dan meminta untuk keadilan ditegakkan.

Prade, dengan beberapa Dewan Ambalan berdiri mengelilingi anggota mereka yang melakukan aksi protes di depan ruang kepala sekolah.

Prade tahu kalau beberapa guru memandangi mereka, namun mereka tetap saja melakukan demo.

“TEGAKKAN! LURUSKAN!”

“BERTANGGUNG JAWAB DAN DAPAT DIPERCAYA!”

“TUNJUKKAN KEADILAN!”

Teriakan-teriakan itu terdengar hampir di seluruh sekolah, beberapa guru yang memandangi mereka tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat aksi yang mereka pikir adalah aksi yang konyol.

Namun, telah disebutkan dalam UUD NKRI 1945 bahwa setiap orang berhak mengeluarkan pendapat. Jadi semua anggota tidak ragu-ragu dalam melakukan demo, karena mereka tau itu benar.

Tak lama kemudian kepala sekolah keluar, dan aksi teriak-teriakan mereda sedikit demi sedikit.

Prade langsung mengambil alih barisan depan, dan tanpa berkata apa-apa kepala sekolah telah mengerti apa maksud dari segerombolan siswa-siswinya.

“Baiklah, bapak telah mendiskusikan ini dengan guru-guru lainnya. Keputusan kami tetap tidak mengizinkan kalian untuk melakukan kemah di sekolah”


Terdengar teriakan-teriakan protes lagi, namun kepala sekolah langsung melanjutkan kalimatnya.

“Tapi, kalian akan diizinkan untuk melakukan kemah di lapangan samping sekolah”

Terdengar senyap sesaat, lalu semua anggota berteriak HORE! Sambil saling tos merayakan kemenangannya.

“Semua masalah keamanan, bapak pikir sudah bagus. Dan walaupun jarak lapangan dengan sekolah sedikit jauh, tapi ini adalah yang terbaik untuk kalian”

“Terima kasih pak!” kata semua anggota hampir bebarengan.

Prade langsung maju menuju Pak Suwono dengan langkah tegap dan langsung mencium tangan kepala sekolah sebagai tanda terima kasih, kemudian dia membimbing semua anggotanya untuk melakukan hal yang sama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tolonglah berkomentar dengan sopan, NO SPAM!, dan dengan bahasa yang santun pula. Karena komentar anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini ke depannya.