12 November 2015
“Titin!!!”
“Selamat ulang tahun!”
Ucapan selamat ulang tahun itu terdengar nyaring
dan ramai di telingaku, ada yang berteriak dan ada pula hanya mengucap
seperlunya saja sambil tersenyum.
“Makasih ya.. Kalian memang...” kataku sambil
tersenyum gregetan melihat tingkah laku teman-temanku itu.
Bahagia sekali rasanya, kali ini teman-temanku baik
teman kelas maupun dari kelas lain yang ku kenal bersusah payah mengundangku ke
tempat seperti ini. Padahal aku yang ulang tahun, malah aku yang di undang.
Pada mulanya sebelum bel pulang sekolah berbunyi,
Riski seorang teman dudukku memintaku untuk menemuinya di sawah milik kakeknya
karena ada suatu acara katanya. Namun setelah aku memenuhi ajakannya, ternyata
tak ada satupun orang di sawah itu. Yang ada hanya beberapa petani yang nampak
dari kejauhan sedang menyirami padi mereka dengan pestisida agar tidak terkena
penyakit.
Aku lantas duduk di pematang sawah sembari mengirim
pesan singkat kepada Riski, namun di tak menjawab sama sekali. Mungkin aku di
kerjain, pikriku dalam hati. Tetapi tak lama Riski menelpon dan dia menyuruhku
untuk melihat ke belakang dengan nada yang menahan tertawa. Aku lantas
mengalihkan pandanganku ke arah belakangku, dan ternyata, oh!
Ramai sekali ku lihat teman-temanku yang masih
memakai seragam putih abunya, ya memang saat itu kami baru saja pulang sekolah.
Tak ku sangka aku akan mendapat kejutan seperti
ini, bagaimana mereka bisa tau, padahal aku sendiri tak ingat bahwa hari ini
ulang tahunku.
Saat itu, Riski mengelurakan sebuah kue yang tidak
terlalu besar namun jika dilihat akan cukup dibagi untuk semua orang yang ada
di sana jika membaginya 1/100 per bagian.
Kue itu berbentuk segi empat, dilapisi dengan
cokelat, dan dihiasi dengan lilin berbentuk angka 18.
“Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya
sekarang juga” Mereka bernyanyi berempakan membuatku tersenyum-senyum sendiri
melihat mereka.
Akhirnya ku tiup lilin itu dan
mereka semua bertepuk tangan sambil bersorak gembira.
Saat Riski memotong kue itu dengan potongan yang
sangat kecil dan memberikannya kepadaku, suatu hal yang tak ku inginkan
terjadi.
Tiba-tiba Riski mendorong potongan kue itu ke arah wajahku, “Riski...?!”
kataku terkejut
Namun dia hanya tertawa-tawa melihatku, hingga akhirnya semua
teman-temanku ikut-ikutan melakukan hal yang serupa.
Akhirnya dengan perasaan jengkel bercampur senang
seluruh bajuku dan rokku kotor terkena adonan kue.
“Dasar jahat!” kataku sambil tertawa kepada mereka semua “Titin, kami
ada hadiah untukmu” kata Ayu kepadaku
Sambil menggosok-gosok mataku dari cream kue,
terlihat buram seorang lelaki tengah berjalan ke arahku.
Siapa itu, pikirku. Dan ternyata setelah cream ku
itu sedikit telah bersih, aku meyakini bahwa itu adalah seorang yang spesial
dalam hidupku.
“Fauzan! Kau kah itu?” kataku tak
percaya
“Selamat ulang tahun Titin”
Dengan senyumannya yang khas menatapku sambil
mengucapkan selamat ulang tahun. Tak sadar tubuhku gemetar di atas pematang
sawah itu, jantungku berdetak tak mesti, rasanya aku bisa jatuh kapan saja.
Entah kenapa rasanya masih saja sama, walaupun aku
dan Fauzan telah bersama hampir 3 tahun semenjak kami kelas 2 SMA. Yah,
walaupun Fauzan tak pernah menanyakan apakah aku mau menjadi pacarnya atau
tidak dan aku tak pernah memintanya menanyakan hal konyol itu, tapi aku yakin
perasaan Fauzan terhadapku sangat tulus dan ikhlas seperti perasaanku padanya.
“Fauzan....” aku tak tau harus
berkata apa, tapi yang pasti aku hanya tersenyum
Baik sekali Fauzan datang ke tempat ini, tapi
apakah dia dipaksa oleh wajah-wajah harimau itu.
“Fauzan ap...” belum aku mampu menyelesaikan
kalimatku, tiba-tiba serempak harimau-harimau itu mengucapkan “Ciee, ciee” dan “Ciee”
terus menerus, membuatku wajahku memerah malu dan lupa apa yang akan ku katakan
ke Fauzan sebelumnya.
#
Hari itu memang sangat membahagiakan untukku,
semuanya terlihat begitu senang mengerjaiku. Mulai dari Riska yang menipuku,
Ayu yang menghadirkan hadiah untukku yang tak lain dan tak bukan adalah Fauzan,
dan teman-teman kelasku yang lain yang nekat menceburkanku ke sungai dekat
sawah itu hingga akhirnya Fauzan turun membantuku untuk naik dan kembali kami
di Cie-ciekan.
Waktu telah menunjukkan pukul 12 kurang, sudah beberapa jam kami di
sana. Yah, karena kami sudah kelas 3 dan UN pun telah kami lakukan, sehingga
kami tinggal menunggu hasil saja.
“Baiklah Titin, kami pulang dulu. Maaf sudah
mengerjaimu” kata Riska dengan senyum lebar di wajahnya
“Hmm, gimana ya. Tapi kau harus membelikanku rok
dan baju baru” kataku membalasnya dengan candaan kecil
“Eh, tidak mungkin. Sia-sia jika aku membelikanmu
baju baru, toh kita semua juga akan lulus sebentar lagi”
“Baiklah, tapi kau harus mentraktirku nasi goreng setelah ini” “Hmmm,,
oke tapi kau yang bayar” katanya sambil tertawa “Jahatnya...”
Kami kemudian tersenyum satu sama lain, hingga
akhirnya mereka semua telah beranjak pergi dari tempat itu.
Semenjak aku tersadar, dengan siapa aku pulang ke
rumah? Lagi-lagi harimau itu, masa seorang gadis dibiarkan pulang sendiri,
dasar kataku dalam hati.
“Mau pulang?” kata sebuah suara
dari belakangku
Sontak aku terkejut bukan main,
karena suara itu sangat ku kenali.
Fauzan tiba-tiba telah berada di dekatku, dia
menatapku lekat menunggu jawaban dari pertanyaannya sebelumnya.
“Ah, I-iya” kataku seadanya
“Mau diantar?” katanya bertanya
lagi
“Eh?!”
Sontak aku terkejut lagi. Pulang
berdua dengan Fauzan, apa mimpiku semalam?
“Aah, tak usah. Lagipula rumahku
dekat?” dengan kekuatan semampuku aku menjawabnya.
“Ya, aku tau. Tapi bagaimana jika
nanti ada yang mengganggumu?”
Dia bertanya lagi. Memang laki-laki itu banyak
pertanyaannya. Tapi akupun hanya bisa menjawabnya dengan lemah-lembut.
“Hmm,, baiklah” kataku akhirnya menyetujui daripada dia terus bertanya. “Nah,
gitu dong” dia tersenyum dan aku membalasnya dengan senyuman juga
Tanpa ku sadari kami telah berjalan hampir
seperempat jalan dari sawah itu. Selama perjalanan kami tak berbicara satu sama
lain. Bukannya tak mau, tapi kami bingung apa yang akan kami bicarakan, hingga
akhirnya aku memberanikan diri memulai percakapan dengannya.
“Fauzan?”
“Hmm?”
Ah, sial dia menatapku dengan tatapan khasnya. Aku
langsung memalingkan pandangan, tak mau jika aku pengsan di tempat itu.
“Setelah ini kau mau melanjutkan studi di mana?”
kataku sambil menatap kakiku sendiri, tapi aku yakin dia masih menatapku
“Entahlah, tapi aku ingin mengikuti keinginan orang
tuaku. Jika bisa aku kuliah di Jogjakarta dan mengambil jurusan seni musik di
sana”
Memang Fauzan suka sekali dengan musik, aku tau
dari dulu. Dan dia sering bernyanyi untukku, dan kami juga pernah berduet
walaupun hanya tawa sebagai lagu utama kami.
“Ooh, begitu ya”
Ternyata dia akan kuliah di Jogja, jauh sekali. Aku
merasa langsung melemah mendengar itu, itu berarti Fauzan akan jauh dariku
selama beberapa tahun.
“Lalu, kau sendiri bagaimana?”
katanya kemudian
“Aku.. mungkin aku kuliah di
Mataram saja, karena orang tuaku tak mau aku jauh-jauh”
“Ooh, begitu ya.. Tapi dimanapun
kita belajar ilmunya pasti sama saja”
“Yah, kau benar” kataku masih
melemah
“Tenang saja, selama perasaan kita masih terhubung, tak peduli berapa
jauh kita berada hati kita akan selalu bersama” katanya kemudian
Sontak aku terkejut, ku lihat dia dan seberkas
senyum lebar di wajahnya membangkitkan semangatku lagi. Memang dia adalah
laki-laki yang begitu sempurna setelah ayahku.
“Oh ya. Tadi pas aku datang, sepertinya kau ingin
mengatakan sesuatu apa itu?” katanya mengalihkan topik pembicaraan, mungkin dia
berpikir tak baik jika terlalu larut dalam perasaan.
“Hmm kapan?” kataku pelan
kemudian
“Tadi, saat kau dilempar pakai kue itu, terus Titin
bicara tapi terpotong oleh teman-temannya”
“Oooh, yang itu. Tidak ada apa-apa” aku tersenyum
kecil, tanpa sadar ternyata gaya bicaraku sudah mulai normal saat bicara dengan
Fauzan
“Hmm,, mulai dah buat penasaran”
katanya tertawa kecil
Aku tertawa sejenak dan berkata bahwa aku ingin
menanyakan apakan Fauzan dipaksa kesana oleh harimau itu atau tidak, dan Fauzan
menjawab bahwa ia datang dengan suka rela saat mendengar bahwa mereka akan
memberiku kejutan di sana.
#
Tak terasa kami telah sampai di rumahku, aku
kemudian memutar badan menghadap Fauzan untuk mengucapkan sampai jumpa. Tapi
lagi-lagi, kalimat yang ingin kuucapkan tak bisa keluar dari mulutku, jadi aku
hanya bisa terpaku di depan Fauzan sambil menatapnya erat.
“Ehm...” Fauzan berdeham sedikit keras membuatku
tersadar dalam lamunanku, kemudian menundukkan kepala
“Selamat ulang tahun ya sekali lagi. Kau sudah
dewasa sekarang jadi tak ada salahnya aku memberikan ini, karena aku yakin kau
akan menjaganya dengan baik”
Aku mengangkat kepalaku dan melihat Fauzan
menyodorkan sebuah kado kecil, lebih kecil dari telapak tanganku.
“A—apa ini?”
“Buka saja” dia tersenyum
Setelah ku buka ternyata di dalamnya terdapat
sebuah liontin berbentuk ukiran kunci G dalam sebuah tanda musik yang menawan.
Wajahku yang mulanya memerah tambah memerah, Fauzan memberiku sebuah liontin?
“Kau tak usah terkejut, itu hal yang biasa” katanya
tersenyum lagi, sedangkan aku masih terdiam tak percaya apa yang dia berikan
kepadaku
“Tak begitu bagus memang, tapi
kuharap kau menyukainya”
“Aku begitu menyukainya sungguh! ini...” Tak ku
sadari aku berbicara begitu keras sehingga takut akan diperhatikan oleh orang
sekitar.
“Kenapa?”
“Ini,, aku akan menjaganya”
kataku tak bisa memikirkan kata-kata lagi
Fauzan tersenyum, dan sekarang di mengeluarkan
sebuah benda dari saku bajunya dan itu adalah
“Aku punya kembarannya, jadi aku
bisa.....” dia tak menyelesaikan kalimatnya
“Kau bisa..?”
“Hahaha,, tak apa. Hanya saja kita punya liontin
yang sama jadi, aku bisa mengingatmu kapan saja” katanya sambil menggaruk-garuk
kepalanya
Kata-katanya membuatku semakin tak karuan, ingin
sekali aku berlari meninggalkan tempat itu sekarang juga.
“Baiklah, ini terlihat sudah siang. Jadi aku pamit
pulang dulu, jangan lupa mandi ya setelah ini” katanya sambil tertawa kecil.
Aku tak yakin bisa membalas gurauannya, jadi aku
hanya tersenyum dan bilang ya sambil tertawa kecil juga.
“Fauzan! Hati-hati ya” kataku
sesaat setelah dia melangkah pergi dari tempatnya.
Fauzan membalikkan badannya dan tersenyum
mengangguk lalu melambaikan tangannya kemudian berjalan menjauh.
Aku hanya membalas lambaiannya sampai dia benar-benar hilang dari
pandanganku. #
Malam telah tiba, aroma dari kue-kue tadi sudah
hilang dan berganti harum yang menenangkan. Aku duduk-duduk sendiri di dalam
kamarku sambil memperhatikan foto-foto saat aku dilempar kue. Dan aku hanya
tertawa-tawa melihatnya, sampai akhirnya aku melihat foto dimana saat Fauzan
menghampiriku di saat aku tengah mengusap mataku saat itu.
Sontak teringat aku akan sesuatu, aku langsung
membuka laci mejaku, dan kutemukan sebuah kotak kecil. Ku keluarkan isi kotak
itu lalu kupandangi sesaat, entah kenapa aku tersenyum sendiri memperhatikan
benda itu. Sebuah liontin kecil yang berbentuk ukiran kunci G yang melingkar,
hadiah ulang tahunku dari Fauzan.
Lama ku perhatikan liontin itu, hingga akhirnya
ibuku memintaku keluar untuk makan malam. Ku pakai liontin itu dan keluar dari
kamarku.
#
Hari-hari telah berlalu semenjak kejadian itu, dan
semua berjalan biasa saja tanpa ada kendala apapun.
Hari ini adalah hari dimana hasil akhir UN akan diumumkan.
Di sekolah saat itu masih menunjukkan jam 07:30. Masih pagi, pikirku. Yah,
meskipun begitu tak ada salahnya berangkat pagi, daripada nanti akan
berdesak-desakan melihat papan pengumuman.
Lama aku duduk berbincang-bincang dengan
teman-temanku, tiba-tiba ada suatu hal yang menarik perhatian kami. Situasi
yang tadinya tenang berubah menjadi gempar saat beberapa siswa berlari-larian
menuju suatu tempat.
Ternyata hasil UN sudah ditempel di mading sekolah,
pantas saja anak-anak yang lain berlari-lari tak karuan seperti itu. Aku dan
teman-temanku yang tadinya duduk santai tak mau tinggal diam. Kami pun ikut
berlari menuju sumber masalah itu.
Sampai di sana, hal-hal seperti berdesak-desakan
tak menjadi masalah demi melihat nilai hasil akhir kami.
Aku pun bersusah payah mendongakkan kepalaku untuk
menyelinap di antara banyaknya kepala-kepala yang lain. Lama ku memperhatikan,
sementara ku dengar ada beberapa siswa yang bersorak gembira.
Dimana, dimana, dimana, pikirku cemas. Hingga akhirnya ku temukan nama
Siti Jannatul Auliya di antara banyaknya kertas itu, mataku bergeser pelan
melihat nilai-nilai hingga akhirnya berhenti di sebuah tulisan yang mengatakan
LULUS.
Perasaanku bukan main senangnya, tak ku sadar aku
berteriak sangat keras di antara kerumunan itu. Ku cari teman-temanku yang lain
dan sepertinya mereka juga lulus yang kemudian ikut bersorak-sorak gembira
juga.
Sungguh bersyukur aku waktu itu. Akhirnya
perjuanganku dan teman-teman yang lain selama tiga tahun tidak, enam tahun
tidak sia-sia juga.
Lama kami di tempat itu menghabiskan suasana gembira yang mungkin tak
akan habis jika di teruskan. Terbesit di benakku aku merasa ada sesuatu yang
kurang. Hingga akhirnya aku kembali menatap di kertas pengumuman itu. Sekarang
situasi sudah agak kondusif jadi untuk mencari nama sedikit mudah.
Kertas demi kertas ku perhatikan hingga kemudian
berhenti di nama Fauzan Azim, ku perhatikan dengan seksama dan ternyata Fauzan
juga lulus. Hatiku merasa lega membacanya, tapi di mana dia sekarang.
“Teman-teman aku mau ke belakang dulu ya, entar ku
kesini lagi” kataku berbohong kepada mereka
“Hmmm... ya, baiklah. Mungkin Fauzan juga sedang
menunggumu” katanya dengan sedikit tawa kecil
“Eh?!”
Sedikit aku terkejut, kenapa mereka bisa tau?
Mungkin mereka melihat aku mencari nama Fauzan di sana.
“Kalian memang yang terbaik” kataku sambil
tersenyum kemudian melambaikan tangan kepada mereka sembari berjalan pergi.
Lama aku berjalan mengitari sekolah itu, sampai
pada akhirnya aku menemukan orang yang ku cari. Hatiku merasa gembira
melihatnya namun di sana banyak teman-temannya juga. Mereka sedang tertawa akan
suatu lelucon, jadi aku hanya bisa duduk diam di sebuah bangku sambil
mengeluarkan liontin yang Fauzan berikan kepadaku.
“Titin, sudah lama?”
Sebuah suara yang ku kenal tiba-tiba memanggilku,
aku sedikit terkejut mendengarnya. Ku dongakkan wajahku dan benar itu adalah
Fauzan.
“Fa-Fauzan, apa yang kau lakukan
di sini?”
“Ah, tak ada.. aku hanya
melihatmu dari kejauhan tadi” katanya sambil tersenyum
Lagi-lagi senyuman itu tak bisa
ku elakkan membuatku ikut tersenyum juga.
“Jadi, kau sendiri apa yang kau
lakukan di sini?” katanya kemudian
“A—aku, aku hanya duduk-duduk
saja” jawabku seadanya
“Dasar bohong” dia tertawa sambil memperlihatkan
ekspresi wajah yang nampak seperti orang yang sedang bercanda
“Untuk apa aku berbohong kepadamu Fauzan. Seperti
aku tidak punya kerjaan sampingan saja”
Kami berdua kemudian tertawa-tawa oleh gurauan
kecil itu, hingga sampai pada akhirnya Fauzan berbicara tentang reaksiku saat
melihat daftar kelulusan itu.
“Ku lihat kau begitu senang tadi” katanya kemudian
sambil duduk di dekatku, yah walaupun jaraknya sedikit jauh dariku. Aku
maklumi, mungkin dia masih menjaga tata krama di sini.
“Maksudmu?”
“Aku melihatmu bersorak-sorak dan meloncat-loncat
kegirangan bersama teman-temanmu tadi”
“Eh,,?!” ternyata dia
memperhatikanku waktu melihat pengumuman tadi
“Aku,,, hehehe” kataku tertawa kecil tak bisa
mengatakan apapun lagi, sedangkan hanya sedikit malu mendengarnya berkata
seperti itu.
“Ku lihat kau juga lulus, Fauzan” kataku kemudian “Ya, syukurlah.. semua
juga lulus, seratus persen lulus”
“Ah, benarkah?” kataku sok bingung, padahal aku
memang sudah tau jika semua siswa dari sini lulus seratus persen
“Ya, benar apa kau tak memperhatikan ada tulisan di ujung kertas paling
akhir itu?” “Hmm,, tidak. Setelah melihat namaku lulus aku langsung bersorak
kegirangan seperti itu”
Kemudian kami tertawa bersama lagi untuk sejenak.
Aku harap kebahagiaan hari ini tidak cepat hilang, karena aku tau setelah ini
Fauzan mungkin akan pergi ke Jogjakarta untuk mendaftar di Fakultas impiannya.
“Jadi, kapan kau ke Jogja,
Fauzan?” tanyaku kemudian
“Hmm,, aku tak begitu tau.
Mungkin besok setelah ijazah kita dibagikan” katanya pelan
“Ooh, begitu” jawabku lemah
“Jangan sedih, setelah mendaftar
aku pasti langsung pulang”
“Tapi, apakah itu tak memberatkan
orang tuamu berjalan pulang-balik seperti itu?”
“Ah, mungkin aku akan kembali setelah ujian masuk
saja” katanya sambil menggaruk-garuk kepalanya
#
Hari ini adalah hari di mana Fauzan akan berangkat
ke bandara untuk pergi ke Jogjakarta untuk mendaftarkan dirinya di Fakultas
Seni.
Mulanya aku ingin ke rumahnya
untuk mengucapkan selamat jalan dan....
Tapi, alangkah malangnya diriku, saat ini waktu
telah menunjukkan pukul 9:45 sedangkan Fauzan akan berangkat jam 10 tepat.
Aku kaget bukan main, lantas aku langsung mengganti
pakaianku mencuci muka sebentar dan langsung berlari keluar dari rumah.
“Titin! Ada apa kau terlihat sangat gelisah?” tanya
ibuku saat melihatku keluar dari kamarku dengan tergopoh-gopoh
“Ah, ibu. Titin lupa memberitau ibu bahwa hari ini
teman Titin akan pergi ke Jogja dan dia mungkin sudah mau berangkat sekarang,
sedangkan Titin sudah terlambat untuk mengantarnya ke bandara”
“Ah, kau ini. Ya sudah hati-hati
di jalan.. Apa kau bawa uang?”
“Ya Titin bawa” kataku sambil
berlari menuju pintu
“Ibu aku berangkat!” kataku
dengan suara yang keras dari luar.
Sambil berlari menunggu taksi, aku berharap tidak terlambatdan Fauzan
belum berangkat dari bandara karena aku belum mengucapkan selamat tinggal
kepadanya.
Sial! Taksi yang ku tunggu-tunggu tak kunjung
datang, lantas ku ambil handphoneku dan menelpon Riska untuk mengantarku menuju
bandara karena ku tau, hanya Riska yang bisa mengendarai mobil.
“Hai, Titin.. ada apa kau
terdengar aneh” katanya bingung di ujung telponnya
“Aku harus pergi ke bandara!”
“Ada apa, kenapa terburu-buru
sekali?”
“Sudah nanti ku beri tau, cepat
siapkan mobilmu kita berangkat sekarang!”
“Ta....” Tuut---tuuut---tuuut
Belum sempat dia menyelesaikan
kalimatnya aku langsung menutup telponku.
Setelah beberapa menit menunggu dalam kegelisahan
akhirnya Riski datang bersama dengan mobilnya. Tanpa dipersilahkan aku langsung
naik dan menutup pintu dengan sedikit keras.
“Hei Titin tenanglah.. ada apa
sebenarnya?” katanya sambil menginjak pedal gas
“Bagaimana aku bisa tenang? Fauzan hari ini akan
pergi ke Jogja untuk mendaftar kuliah dan dia mungkin hampir berangkat dari bandara
sekarang”
Kata-kata itu aku ucapkan tanpa sadar saking
paniknya. Aku bisa melihat ekspresi terkejut sekaligus ingin tertawa dari wajah
Riski.
“Oooh begitu rupanya. Tenang
saja, kita akan tiba tepat waktu”
Seketika Riski langsung menarik transmisi mobilnya
dan langsung menginjak pedal gas dengan keras. Dan seketika itu juga tubuhku
terpental ke belakang.
Dalam perjalanan itu sungguh sangat mendebarkan,
apalagi saat lampu merah menyala, ingin sekali aku keluar dari mobil itu dan
berlari di tengah jalan.
Sesaat setelah lampu hijau akan menyala, Riski
langsung menancap gas mobilnya. Dan seketika saat itu terjadi suatu hal yang
tak diinginkan
“Riski awas!!!”
Daaaarrrrr!!!!
Seketika saat itu aku merasa berada di dalam sebuah
ruangan yang sangat gelap, gelap sampai aku tak bisa melihat diriku sendiri,
tetapi satu hal yang penting aku dapat mendengar sebuah suara, tidak ada
beberapa suara yang memanggil.
“Titin!” suara itu terdengar
samar di telingaku
Titin? Siapa titin pikirku dalam
hati, dan mengapa suara itu terdengar gelisah.
Dan beberapa saat kemudian aku tersadar aku berada
di sebuah tempat, terbaring menatap langit-langit tempat itu yang berwarna
putih dengan sebuah bohlam di tengahnya.
Di mana aku? Kataku dalam hati.
Dan yang terpenting siapa aku?
“Titin!”
Sekarang suara itu terdengar sangat jelas sekali.
Seorang gadis muda berdiri di sampingku bersama dengan beberapa orang lainnya.
“Titin, kau baik-baik saja,
syukurlah”
Gadis itu sedikit menangis
mengatakan hal itu.
Siapa Titin? Aku bertanya-tanya sendiri dalam hati.
Ah, iya itu aku ternyata dan kedua orang yang sedikit agak tua itu adalah orang
tuaku yang juga terlihat khawatir.
Aku mencoba bangun dari tempat itu, tiba-tiba
kepalaku mendadak sakit sekali seperti tertusuk paku yang sangat tajam, hampir
aku terjatuh jika tidak beberapa orang dan gadis itu menolongku untuk duduk.
Setelah ku sadari aku ternyata berada di rumah
sakit. Apa yang terjadi, rasanya aku baru saja bangun setelah semalaman
beristirahat.
“Ibu, apa yang terjadi?” tanyaku
pelan kepada ibuku
Ibuku terdiam sejenak, mengambil nafas dalam dan menghembuskannya pelan
hingga akhirnya dia berkata bahwa aku terkena kecelakaan sampai tak sadarkan
diri, dan dokter berkata bahwa aku terkena amnesia sementara.
Hal itu kemudian ku tau setelah
merasakan bahwa ada perban di kepalaku.
“Titin, apa kau mengingatku?” kata
gadis itu dengan wajah penasaran menatap mataku lekat
Ku pandangi gadis itu dalam-dalam sambil mencoba
mengingat sesuatu, rasanya aku telah hilang ingatan.
“Riska?” kataku pelan
“Ah ternyata kau mengingatku” dia
bersorak gembira lalu memelukku dengan erat
Sesaat setelah itu, aku mulai merasa familiar
dengan orang-orang disekitarku, dan aku mulai merasa mengingat sesuatu, dan
kecelakaan itu walaupun tak begitu detail.
#
Hari-hari telah berlalu, dan aku merasa bahwa
kehidupanku sudah mulai normal kembali. Dan hari ini aku bersama ibuku akan
menemui kakakku yang ada di Mataram untuk meminta bantuannya mendaftarkanku
kuliah di salah satu perguruan tinggi di sana.
Beberapa saat setelah aku selesai mendaftar, kakak
bersama ibuku kembali ke kosnya untuk mengambil suatu barang yang tertinggal,
jadi aku diminta menunggu mereka di sini.
Akupun duduk disebuah bangku yang dinaungi oleh
sebuah pohon mangga yang sangat lebat daunnya, sambil mendengarkan musik aku
menunggu kedua orang tua itu datang.
Tiba-tiba saat aku tengah asiknya mendengarkan
musik kesukaanku, sebuah suara seorang laki-laki memanggilku dari samping,
sedikit ku terkejut mendengarnya
“Titin, bagaimana kabarmu? Aku dengar kau terkena
kecelakaan. Jadi aku kemari secepat yang ku bisa, eh.. tak sengaja kita bertemu
di sini” kata lelaki itu sambil tersenyum lebar dan menggaruk-garuk kepalanya.
“Ah, ya aku baik” kataku seadanya
sambil menatap kembali pada hanphoneku di tangan
“Kau mengingatku?” dia bertanya
kemudian
“Oh ya, maaf tapi kau siapa ya?” kataku
sambil tersenyum kepada lelaki itu
“Kau serius tak mengenalku?” katanya
kemudian
Dengan wajah yang penasaran aku
mengangguk pelan, masih menatap lelaki itu.
Kemudian dia melangkah maju dan
duduk di sampingku.
Apa-apaan ini, belum kenal saja dia sudah berani
duduk di sampingku, kataku sedikit jengkel dalam hati.
Lantas aku menjauhkan diriku sedikit darinya, tapi
lelaki itu tak merespon sama sekali, tetapi dia hanya mengambil tas
selempangnya dan dikeluarkanlah sebuah dompet.
Awalnya ku kira dia akan mengeluarkan sebuah uang
untuk membeli jajan di sekitaran tempat itu, namun yang dia keluarkan adalah
sebuah kalung. Sebuah kalung berbentuk ukiran kunci G yang sangat rapi dalam
sebuah tanda musik.
Dia lantas menunjukkan kepadaku kalung itu. Aku
terkejut bukan main, kalung itu sama persis dengan kalung yang kumiliki.
Ku kelurkan kalung itu dari bajuku dan memperhatikannya
dengan seksama, berharap ada perbedaan pada kalung itu. Namun aku salah,
semuanya persis sama, mulai bentuknya, ukirannya, ukurannya, sampai rantai
kalungnya pun sama dengan milikku.
“Kalung itu...?” aku bertanya sambil terus menatap kalung miliknya “Ini
bukan kalung, tapi liontin..” katanya pelan “Eh!?”
“Apa kau ingat, aku memberimu ini bukan sekedar
hadiah ulang tahun, tapi aku ingin kau menjaganya, dan kau menepati janjimu”
Sontak bayangan-bayangan suram berada di depanku.
Seorang lelaki berdiri di depanku dan mengeluarkan sebuah kotak yang isinya
adalah kalung, tidak, isinya adalah liontin yang ku pegang ini.
Bayangan saat pengumuman kelulusan tiba, aku dan
lelaki itu duduk dan berbincang-bincang sedikit mengenai di mana tempat kita
akan bersekolah selanjutnya.
Sampai pada akhirnya aku mengejar lelaki itu ke bandara yang akan pergi
ke Jogjakarta untuk kuliah, namun di tengah perjalanan aku mengalami sebuah
kecelakaan. Mobil yang ku tumpangi bersama dengan Riska ditabrak oleh sebuah
mobil lain dengan begitu kencang, dan mobil itu menabrak persis di mana tempat
aku duduk saat itu. Kepalaku terbentur dengan pintu mobil Riska sampai tak
sadarkan diri, dan akhirnya aku terbangun di rumah sakit.
Tak lama kemudian aku tersadar dari lamunanku, aku kembali
menatap liontin yang kupegang bersamaan liontin yang dipegang oleh lelaki itu.
Aku menatap pelan dari liontin menuju wajah lelaki itu.
“Titin...” katanya pelan
“Fauzan” jawabku dengan pelan
juga
“Aku pulang” sambil dia tersenyum
manis menatap wajahku
Sesaat mata kami bertemu satu sama lain, aku merasa
aku telah mengingat satu hal yang telah hilang dari ingatanku usai kecelakaan
itu yaitu Fauzan.
Tanpa kusadari air mataku perlahan keluar dan jatuh mengaliri kedua
pipiku. Dan tanpa sadar pun aku langsung menuju arah Fauzan dan memeluknya
dengan sangat erat, Fauzan pun membalas pelukanku saat itu.
“Aku merindukanmu..” kataku masih
terisak-isak dalam pelukannya
“Tak apa, aku sudah di sini” katanya
pelan dan mempererat pelukannya
Aku sudah tak bisa berkata apa-apa lagi, aku hanya
membenamkan diriku padanya yang berusaha menenangkanku.
Akhirnya, aku bisa merasa terbebas dari belenggu ingatan ini. Seorang
lelaki yang sangat ku rindukan sekarang telah ada di sini, memelukku,
menenangkanku, walaupun beberapa saat sebelumnya aku sama sekali tak mengingat
lelaki ini, namun di sisi lain aku masih bisa merasakan seseorang yang sangat
istimewa di dalam hatiku. Terima kasih kuucapkan kepadamu.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tolonglah berkomentar dengan sopan, NO SPAM!, dan dengan bahasa yang santun pula. Karena komentar anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini ke depannya.