9 Desember 2017

Sebuah Liontin (Bagian 1)


12 November 2015





“Titin!!!”

“Selamat ulang tahun!”

Ucapan selamat ulang tahun itu terdengar nyaring dan ramai di telingaku, ada yang berteriak dan ada pula hanya mengucap seperlunya saja sambil tersenyum.

“Makasih ya.. Kalian memang...” kataku sambil tersenyum gregetan melihat tingkah laku teman-temanku itu.

Bahagia sekali rasanya, kali ini teman-temanku baik teman kelas maupun dari kelas lain yang ku kenal bersusah payah mengundangku ke tempat seperti ini. Padahal aku yang ulang tahun, malah aku yang di undang.

Pada mulanya sebelum bel pulang sekolah berbunyi, Riski seorang teman dudukku memintaku untuk menemuinya di sawah milik kakeknya karena ada suatu acara katanya. Namun setelah aku memenuhi ajakannya, ternyata tak ada satupun orang di sawah itu. Yang ada hanya beberapa petani yang nampak dari kejauhan sedang menyirami padi mereka dengan pestisida agar tidak terkena penyakit.

Aku lantas duduk di pematang sawah sembari mengirim pesan singkat kepada Riski, namun di tak menjawab sama sekali. Mungkin aku di kerjain, pikriku dalam hati. Tetapi tak lama Riski menelpon dan dia menyuruhku untuk melihat ke belakang dengan nada yang menahan tertawa. Aku lantas mengalihkan pandanganku ke arah belakangku, dan ternyata, oh!

Ramai sekali ku lihat teman-temanku yang masih memakai seragam putih abunya, ya memang saat itu kami baru saja pulang sekolah.

Tak ku sangka aku akan mendapat kejutan seperti ini, bagaimana mereka bisa tau, padahal aku sendiri tak ingat bahwa hari ini ulang tahunku.

Saat itu, Riski mengelurakan sebuah kue yang tidak terlalu besar namun jika dilihat akan cukup dibagi untuk semua orang yang ada di sana jika membaginya 1/100 per bagian.

Kue itu berbentuk segi empat, dilapisi dengan cokelat, dan dihiasi dengan lilin berbentuk angka 18.

“Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga” Mereka bernyanyi berempakan membuatku tersenyum-senyum sendiri melihat mereka.

Akhirnya ku tiup lilin itu dan mereka semua bertepuk tangan sambil bersorak gembira.

Saat Riski memotong kue itu dengan potongan yang sangat kecil dan memberikannya kepadaku, suatu hal yang tak ku inginkan terjadi.

Tiba-tiba Riski mendorong potongan kue itu ke arah wajahku, “Riski...?!” kataku terkejut

Namun dia hanya tertawa-tawa melihatku, hingga akhirnya semua teman-temanku ikut-ikutan melakukan hal yang serupa.


Akhirnya dengan perasaan jengkel bercampur senang seluruh bajuku dan rokku kotor terkena adonan kue.

“Dasar jahat!” kataku sambil tertawa kepada mereka semua “Titin, kami ada hadiah untukmu” kata Ayu kepadaku

Sambil menggosok-gosok mataku dari cream kue, terlihat buram seorang lelaki tengah berjalan ke arahku.

Siapa itu, pikirku. Dan ternyata setelah cream ku itu sedikit telah bersih, aku meyakini bahwa itu adalah seorang yang spesial dalam hidupku.

“Fauzan! Kau kah itu?” kataku tak percaya

“Selamat ulang tahun Titin”

Dengan senyumannya yang khas menatapku sambil mengucapkan selamat ulang tahun. Tak sadar tubuhku gemetar di atas pematang sawah itu, jantungku berdetak tak mesti, rasanya aku bisa jatuh kapan saja.

Entah kenapa rasanya masih saja sama, walaupun aku dan Fauzan telah bersama hampir 3 tahun semenjak kami kelas 2 SMA. Yah, walaupun Fauzan tak pernah menanyakan apakah aku mau menjadi pacarnya atau tidak dan aku tak pernah memintanya menanyakan hal konyol itu, tapi aku yakin perasaan Fauzan terhadapku sangat tulus dan ikhlas seperti perasaanku padanya.

“Fauzan....” aku tak tau harus berkata apa, tapi yang pasti aku hanya tersenyum

Baik sekali Fauzan datang ke tempat ini, tapi apakah dia dipaksa oleh wajah-wajah harimau itu.

“Fauzan ap...” belum aku mampu menyelesaikan kalimatku, tiba-tiba serempak harimau-harimau itu mengucapkan “Ciee, ciee” dan “Ciee” terus menerus, membuatku wajahku memerah malu dan lupa apa yang akan ku katakan ke Fauzan sebelumnya.

#

Hari itu memang sangat membahagiakan untukku, semuanya terlihat begitu senang mengerjaiku. Mulai dari Riska yang menipuku, Ayu yang menghadirkan hadiah untukku yang tak lain dan tak bukan adalah Fauzan, dan teman-teman kelasku yang lain yang nekat menceburkanku ke sungai dekat sawah itu hingga akhirnya Fauzan turun membantuku untuk naik dan kembali kami di Cie-ciekan.

Waktu telah menunjukkan pukul 12 kurang, sudah beberapa jam kami di sana. Yah, karena kami sudah kelas 3 dan UN pun telah kami lakukan, sehingga kami tinggal menunggu hasil saja.

“Baiklah Titin, kami pulang dulu. Maaf sudah mengerjaimu” kata Riska dengan senyum lebar di wajahnya

“Hmm, gimana ya. Tapi kau harus membelikanku rok dan baju baru” kataku membalasnya dengan candaan kecil


“Eh, tidak mungkin. Sia-sia jika aku membelikanmu baju baru, toh kita semua juga akan lulus sebentar lagi”

“Baiklah, tapi kau harus mentraktirku nasi goreng setelah ini” “Hmmm,, oke tapi kau yang bayar” katanya sambil tertawa “Jahatnya...”

Kami kemudian tersenyum satu sama lain, hingga akhirnya mereka semua telah beranjak pergi dari tempat itu.

Semenjak aku tersadar, dengan siapa aku pulang ke rumah? Lagi-lagi harimau itu, masa seorang gadis dibiarkan pulang sendiri, dasar kataku dalam hati.

“Mau pulang?” kata sebuah suara dari belakangku

Sontak aku terkejut bukan main, karena suara itu sangat ku kenali.

Fauzan tiba-tiba telah berada di dekatku, dia menatapku lekat menunggu jawaban dari pertanyaannya sebelumnya.

“Ah, I-iya” kataku seadanya

“Mau diantar?” katanya bertanya lagi

“Eh?!”

Sontak aku terkejut lagi. Pulang berdua dengan Fauzan, apa mimpiku semalam?

“Aah, tak usah. Lagipula rumahku dekat?” dengan kekuatan semampuku aku menjawabnya.

“Ya, aku tau. Tapi bagaimana jika nanti ada yang mengganggumu?”

Dia bertanya lagi. Memang laki-laki itu banyak pertanyaannya. Tapi akupun hanya bisa menjawabnya dengan lemah-lembut.

“Hmm,, baiklah” kataku akhirnya menyetujui daripada dia terus bertanya. “Nah, gitu dong” dia tersenyum dan aku membalasnya dengan senyuman juga

Tanpa ku sadari kami telah berjalan hampir seperempat jalan dari sawah itu. Selama perjalanan kami tak berbicara satu sama lain. Bukannya tak mau, tapi kami bingung apa yang akan kami bicarakan, hingga akhirnya aku memberanikan diri memulai percakapan dengannya.

“Fauzan?”

“Hmm?”

Ah, sial dia menatapku dengan tatapan khasnya. Aku langsung memalingkan pandangan, tak mau jika aku pengsan di tempat itu.

“Setelah ini kau mau melanjutkan studi di mana?” kataku sambil menatap kakiku sendiri, tapi aku yakin dia masih menatapku


“Entahlah, tapi aku ingin mengikuti keinginan orang tuaku. Jika bisa aku kuliah di Jogjakarta dan mengambil jurusan seni musik di sana”

Memang Fauzan suka sekali dengan musik, aku tau dari dulu. Dan dia sering bernyanyi untukku, dan kami juga pernah berduet walaupun hanya tawa sebagai lagu utama kami.

“Ooh, begitu ya”

Ternyata dia akan kuliah di Jogja, jauh sekali. Aku merasa langsung melemah mendengar itu, itu berarti Fauzan akan jauh dariku selama beberapa tahun.

“Lalu, kau sendiri bagaimana?” katanya kemudian

“Aku.. mungkin aku kuliah di Mataram saja, karena orang tuaku tak mau aku jauh-jauh”

“Ooh, begitu ya.. Tapi dimanapun kita belajar ilmunya pasti sama saja”

“Yah, kau benar” kataku masih melemah

“Tenang saja, selama perasaan kita masih terhubung, tak peduli berapa jauh kita berada hati kita akan selalu bersama” katanya kemudian

Sontak aku terkejut, ku lihat dia dan seberkas senyum lebar di wajahnya membangkitkan semangatku lagi. Memang dia adalah laki-laki yang begitu sempurna setelah ayahku.

“Oh ya. Tadi pas aku datang, sepertinya kau ingin mengatakan sesuatu apa itu?” katanya mengalihkan topik pembicaraan, mungkin dia berpikir tak baik jika terlalu larut dalam perasaan.

“Hmm kapan?” kataku pelan kemudian

“Tadi, saat kau dilempar pakai kue itu, terus Titin bicara tapi terpotong oleh teman-temannya”

“Oooh, yang itu. Tidak ada apa-apa” aku tersenyum kecil, tanpa sadar ternyata gaya bicaraku sudah mulai normal saat bicara dengan Fauzan

“Hmm,, mulai dah buat penasaran” katanya tertawa kecil

Aku tertawa sejenak dan berkata bahwa aku ingin menanyakan apakan Fauzan dipaksa kesana oleh harimau itu atau tidak, dan Fauzan menjawab bahwa ia datang dengan suka rela saat mendengar bahwa mereka akan memberiku kejutan di sana.

#

Tak terasa kami telah sampai di rumahku, aku kemudian memutar badan menghadap Fauzan untuk mengucapkan sampai jumpa. Tapi lagi-lagi, kalimat yang ingin kuucapkan tak bisa keluar dari mulutku, jadi aku hanya bisa terpaku di depan Fauzan sambil menatapnya erat.

“Ehm...” Fauzan berdeham sedikit keras membuatku tersadar dalam lamunanku, kemudian menundukkan kepala

“Selamat ulang tahun ya sekali lagi. Kau sudah dewasa sekarang jadi tak ada salahnya aku memberikan ini, karena aku yakin kau akan menjaganya dengan baik”


Aku mengangkat kepalaku dan melihat Fauzan menyodorkan sebuah kado kecil, lebih kecil dari telapak tanganku.

“A—apa ini?”

“Buka saja” dia tersenyum

Setelah ku buka ternyata di dalamnya terdapat sebuah liontin berbentuk ukiran kunci G dalam sebuah tanda musik yang menawan. Wajahku yang mulanya memerah tambah memerah, Fauzan memberiku sebuah liontin?

“Kau tak usah terkejut, itu hal yang biasa” katanya tersenyum lagi, sedangkan aku masih terdiam tak percaya apa yang dia berikan kepadaku

“Tak begitu bagus memang, tapi kuharap kau menyukainya”

“Aku begitu menyukainya sungguh! ini...” Tak ku sadari aku berbicara begitu keras sehingga takut akan diperhatikan oleh orang sekitar.

“Kenapa?”

“Ini,, aku akan menjaganya” kataku tak bisa memikirkan kata-kata lagi

Fauzan tersenyum, dan sekarang di mengeluarkan sebuah benda dari saku bajunya dan itu adalah

“Aku punya kembarannya, jadi aku bisa.....” dia tak menyelesaikan kalimatnya

“Kau bisa..?”

“Hahaha,, tak apa. Hanya saja kita punya liontin yang sama jadi, aku bisa mengingatmu kapan saja” katanya sambil menggaruk-garuk kepalanya

Kata-katanya membuatku semakin tak karuan, ingin sekali aku berlari meninggalkan tempat itu sekarang juga.

“Baiklah, ini terlihat sudah siang. Jadi aku pamit pulang dulu, jangan lupa mandi ya setelah ini” katanya sambil tertawa kecil.

Aku tak yakin bisa membalas gurauannya, jadi aku hanya tersenyum dan bilang ya sambil tertawa kecil juga.

“Fauzan! Hati-hati ya” kataku sesaat setelah dia melangkah pergi dari tempatnya.

Fauzan membalikkan badannya dan tersenyum mengangguk lalu melambaikan tangannya kemudian berjalan menjauh.

Aku hanya membalas lambaiannya sampai dia benar-benar hilang dari pandanganku. #

Malam telah tiba, aroma dari kue-kue tadi sudah hilang dan berganti harum yang menenangkan. Aku duduk-duduk sendiri di dalam kamarku sambil memperhatikan foto-foto saat aku dilempar kue. Dan aku hanya tertawa-tawa melihatnya, sampai akhirnya aku melihat foto dimana saat Fauzan menghampiriku di saat aku tengah mengusap mataku saat itu.


Sontak teringat aku akan sesuatu, aku langsung membuka laci mejaku, dan kutemukan sebuah kotak kecil. Ku keluarkan isi kotak itu lalu kupandangi sesaat, entah kenapa aku tersenyum sendiri memperhatikan benda itu. Sebuah liontin kecil yang berbentuk ukiran kunci G yang melingkar, hadiah ulang tahunku dari Fauzan.

Lama ku perhatikan liontin itu, hingga akhirnya ibuku memintaku keluar untuk makan malam. Ku pakai liontin itu dan keluar dari kamarku.

#

Hari-hari telah berlalu semenjak kejadian itu, dan semua berjalan biasa saja tanpa ada kendala apapun.

Hari ini adalah hari dimana hasil akhir UN akan diumumkan. Di sekolah saat itu masih menunjukkan jam 07:30. Masih pagi, pikirku. Yah, meskipun begitu tak ada salahnya berangkat pagi, daripada nanti akan berdesak-desakan melihat papan pengumuman.

Lama aku duduk berbincang-bincang dengan teman-temanku, tiba-tiba ada suatu hal yang menarik perhatian kami. Situasi yang tadinya tenang berubah menjadi gempar saat beberapa siswa berlari-larian menuju suatu tempat.

Ternyata hasil UN sudah ditempel di mading sekolah, pantas saja anak-anak yang lain berlari-lari tak karuan seperti itu. Aku dan teman-temanku yang tadinya duduk santai tak mau tinggal diam. Kami pun ikut berlari menuju sumber masalah itu.

Sampai di sana, hal-hal seperti berdesak-desakan tak menjadi masalah demi melihat nilai hasil akhir kami.

Aku pun bersusah payah mendongakkan kepalaku untuk menyelinap di antara banyaknya kepala-kepala yang lain. Lama ku memperhatikan, sementara ku dengar ada beberapa siswa yang bersorak gembira.

Dimana, dimana, dimana, pikirku cemas. Hingga akhirnya ku temukan nama Siti Jannatul Auliya di antara banyaknya kertas itu, mataku bergeser pelan melihat nilai-nilai hingga akhirnya berhenti di sebuah tulisan yang mengatakan LULUS.

Perasaanku bukan main senangnya, tak ku sadar aku berteriak sangat keras di antara kerumunan itu. Ku cari teman-temanku yang lain dan sepertinya mereka juga lulus yang kemudian ikut bersorak-sorak gembira juga.

Sungguh bersyukur aku waktu itu. Akhirnya perjuanganku dan teman-teman yang lain selama tiga tahun tidak, enam tahun tidak sia-sia juga.

Lama kami di tempat itu menghabiskan suasana gembira yang mungkin tak akan habis jika di teruskan. Terbesit di benakku aku merasa ada sesuatu yang kurang. Hingga akhirnya aku kembali menatap di kertas pengumuman itu. Sekarang situasi sudah agak kondusif jadi untuk mencari nama sedikit mudah.

Kertas demi kertas ku perhatikan hingga kemudian berhenti di nama Fauzan Azim, ku perhatikan dengan seksama dan ternyata Fauzan juga lulus. Hatiku merasa lega membacanya, tapi di mana dia sekarang.

“Teman-teman aku mau ke belakang dulu ya, entar ku kesini lagi” kataku berbohong kepada mereka


“Hmmm... ya, baiklah. Mungkin Fauzan juga sedang menunggumu” katanya dengan sedikit tawa kecil

“Eh?!”

Sedikit aku terkejut, kenapa mereka bisa tau? Mungkin mereka melihat aku mencari nama Fauzan di sana.

“Kalian memang yang terbaik” kataku sambil tersenyum kemudian melambaikan tangan kepada mereka sembari berjalan pergi.

Lama aku berjalan mengitari sekolah itu, sampai pada akhirnya aku menemukan orang yang ku cari. Hatiku merasa gembira melihatnya namun di sana banyak teman-temannya juga. Mereka sedang tertawa akan suatu lelucon, jadi aku hanya bisa duduk diam di sebuah bangku sambil mengeluarkan liontin yang Fauzan berikan kepadaku.

“Titin, sudah lama?”

Sebuah suara yang ku kenal tiba-tiba memanggilku, aku sedikit terkejut mendengarnya. Ku dongakkan wajahku dan benar itu adalah Fauzan.

“Fa-Fauzan, apa yang kau lakukan di sini?”

“Ah, tak ada.. aku hanya melihatmu dari kejauhan tadi” katanya sambil tersenyum

Lagi-lagi senyuman itu tak bisa ku elakkan membuatku ikut tersenyum juga.

“Jadi, kau sendiri apa yang kau lakukan di sini?” katanya kemudian

“A—aku, aku hanya duduk-duduk saja” jawabku seadanya

“Dasar bohong” dia tertawa sambil memperlihatkan ekspresi wajah yang nampak seperti orang yang sedang bercanda

“Untuk apa aku berbohong kepadamu Fauzan. Seperti aku tidak punya kerjaan sampingan saja”

Kami berdua kemudian tertawa-tawa oleh gurauan kecil itu, hingga sampai pada akhirnya Fauzan berbicara tentang reaksiku saat melihat daftar kelulusan itu.

“Ku lihat kau begitu senang tadi” katanya kemudian sambil duduk di dekatku, yah walaupun jaraknya sedikit jauh dariku. Aku maklumi, mungkin dia masih menjaga tata krama di sini.

“Maksudmu?”

“Aku melihatmu bersorak-sorak dan meloncat-loncat kegirangan bersama teman-temanmu tadi”

“Eh,,?!” ternyata dia memperhatikanku waktu melihat pengumuman tadi

“Aku,,, hehehe” kataku tertawa kecil tak bisa mengatakan apapun lagi, sedangkan hanya sedikit malu mendengarnya berkata seperti itu.

“Ku lihat kau juga lulus, Fauzan” kataku kemudian “Ya, syukurlah.. semua juga lulus, seratus persen lulus”


“Ah, benarkah?” kataku sok bingung, padahal aku memang sudah tau jika semua siswa dari sini lulus seratus persen

“Ya, benar apa kau tak memperhatikan ada tulisan di ujung kertas paling akhir itu?” “Hmm,, tidak. Setelah melihat namaku lulus aku langsung bersorak kegirangan seperti itu”

Kemudian kami tertawa bersama lagi untuk sejenak. Aku harap kebahagiaan hari ini tidak cepat hilang, karena aku tau setelah ini Fauzan mungkin akan pergi ke Jogjakarta untuk mendaftar di Fakultas impiannya.

“Jadi, kapan kau ke Jogja, Fauzan?” tanyaku kemudian

“Hmm,, aku tak begitu tau. Mungkin besok setelah ijazah kita dibagikan” katanya pelan

“Ooh, begitu” jawabku lemah

“Jangan sedih, setelah mendaftar aku pasti langsung pulang”

“Tapi, apakah itu tak memberatkan orang tuamu berjalan pulang-balik seperti itu?”

“Ah, mungkin aku akan kembali setelah ujian masuk saja” katanya sambil menggaruk-garuk kepalanya

#

Hari ini adalah hari di mana Fauzan akan berangkat ke bandara untuk pergi ke Jogjakarta untuk mendaftarkan dirinya di Fakultas Seni.

Mulanya aku ingin ke rumahnya untuk mengucapkan selamat jalan dan....

Tapi, alangkah malangnya diriku, saat ini waktu telah menunjukkan pukul 9:45 sedangkan Fauzan akan berangkat jam 10 tepat.

Aku kaget bukan main, lantas aku langsung mengganti pakaianku mencuci muka sebentar dan langsung berlari keluar dari rumah.

“Titin! Ada apa kau terlihat sangat gelisah?” tanya ibuku saat melihatku keluar dari kamarku dengan tergopoh-gopoh

“Ah, ibu. Titin lupa memberitau ibu bahwa hari ini teman Titin akan pergi ke Jogja dan dia mungkin sudah mau berangkat sekarang, sedangkan Titin sudah terlambat untuk mengantarnya ke bandara”

“Ah, kau ini. Ya sudah hati-hati di jalan.. Apa kau bawa uang?”

“Ya Titin bawa” kataku sambil berlari menuju pintu

“Ibu aku berangkat!” kataku dengan suara yang keras dari luar.

Sambil berlari menunggu taksi, aku berharap tidak terlambatdan Fauzan belum berangkat dari bandara karena aku belum mengucapkan selamat tinggal kepadanya.

Sial! Taksi yang ku tunggu-tunggu tak kunjung datang, lantas ku ambil handphoneku dan menelpon Riska untuk mengantarku menuju bandara karena ku tau, hanya Riska yang bisa mengendarai mobil.

“Halo, Riska” kataku dengan nada terengah-engah

“Hai, Titin.. ada apa kau terdengar aneh” katanya bingung di ujung telponnya

“Aku harus pergi ke bandara!”

“Ada apa, kenapa terburu-buru sekali?”

“Sudah nanti ku beri tau, cepat siapkan mobilmu kita berangkat sekarang!”

“Ta....” Tuut---tuuut---tuuut

Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya aku langsung menutup telponku.

Setelah beberapa menit menunggu dalam kegelisahan akhirnya Riski datang bersama dengan mobilnya. Tanpa dipersilahkan aku langsung naik dan menutup pintu dengan sedikit keras.

“Hei Titin tenanglah.. ada apa sebenarnya?” katanya sambil menginjak pedal gas

“Bagaimana aku bisa tenang? Fauzan hari ini akan pergi ke Jogja untuk mendaftar kuliah dan dia mungkin hampir berangkat dari bandara sekarang”

Kata-kata itu aku ucapkan tanpa sadar saking paniknya. Aku bisa melihat ekspresi terkejut sekaligus ingin tertawa dari wajah Riski.

“Oooh begitu rupanya. Tenang saja, kita akan tiba tepat waktu”

Seketika Riski langsung menarik transmisi mobilnya dan langsung menginjak pedal gas dengan keras. Dan seketika itu juga tubuhku terpental ke belakang.

Dalam perjalanan itu sungguh sangat mendebarkan, apalagi saat lampu merah menyala, ingin sekali aku keluar dari mobil itu dan berlari di tengah jalan.

Sesaat setelah lampu hijau akan menyala, Riski langsung menancap gas mobilnya. Dan seketika saat itu terjadi suatu hal yang tak diinginkan

“Riski awas!!!”

Daaaarrrrr!!!!

Seketika saat itu aku merasa berada di dalam sebuah ruangan yang sangat gelap, gelap sampai aku tak bisa melihat diriku sendiri, tetapi satu hal yang penting aku dapat mendengar sebuah suara, tidak ada beberapa suara yang memanggil.

“Titin!” suara itu terdengar samar di telingaku

Titin? Siapa titin pikirku dalam hati, dan mengapa suara itu terdengar gelisah.

Dan beberapa saat kemudian aku tersadar aku berada di sebuah tempat, terbaring menatap langit-langit tempat itu yang berwarna putih dengan sebuah bohlam di tengahnya.

Di mana aku? Kataku dalam hati.

Dan yang terpenting siapa aku?

“Titin!”


Sekarang suara itu terdengar sangat jelas sekali. Seorang gadis muda berdiri di sampingku bersama dengan beberapa orang lainnya.

“Titin, kau baik-baik saja, syukurlah”

Gadis itu sedikit menangis mengatakan hal itu.

Siapa Titin? Aku bertanya-tanya sendiri dalam hati. Ah, iya itu aku ternyata dan kedua orang yang sedikit agak tua itu adalah orang tuaku yang juga terlihat khawatir.

Aku mencoba bangun dari tempat itu, tiba-tiba kepalaku mendadak sakit sekali seperti tertusuk paku yang sangat tajam, hampir aku terjatuh jika tidak beberapa orang dan gadis itu menolongku untuk duduk.

Setelah ku sadari aku ternyata berada di rumah sakit. Apa yang terjadi, rasanya aku baru saja bangun setelah semalaman beristirahat.

“Ibu, apa yang terjadi?” tanyaku pelan kepada ibuku

Ibuku terdiam sejenak, mengambil nafas dalam dan menghembuskannya pelan hingga akhirnya dia berkata bahwa aku terkena kecelakaan sampai tak sadarkan diri, dan dokter berkata bahwa aku terkena amnesia sementara.

Hal itu kemudian ku tau setelah merasakan bahwa ada perban di kepalaku.

“Titin, apa kau mengingatku?” kata gadis itu dengan wajah penasaran menatap mataku lekat

Ku pandangi gadis itu dalam-dalam sambil mencoba mengingat sesuatu, rasanya aku telah hilang ingatan.

“Riska?” kataku pelan

“Ah ternyata kau mengingatku” dia bersorak gembira lalu memelukku dengan erat

Sesaat setelah itu, aku mulai merasa familiar dengan orang-orang disekitarku, dan aku mulai merasa mengingat sesuatu, dan kecelakaan itu walaupun tak begitu detail.

#

Hari-hari telah berlalu, dan aku merasa bahwa kehidupanku sudah mulai normal kembali. Dan hari ini aku bersama ibuku akan menemui kakakku yang ada di Mataram untuk meminta bantuannya mendaftarkanku kuliah di salah satu perguruan tinggi di sana.

Beberapa saat setelah aku selesai mendaftar, kakak bersama ibuku kembali ke kosnya untuk mengambil suatu barang yang tertinggal, jadi aku diminta menunggu mereka di sini.

Akupun duduk disebuah bangku yang dinaungi oleh sebuah pohon mangga yang sangat lebat daunnya, sambil mendengarkan musik aku menunggu kedua orang tua itu datang.

Tiba-tiba saat aku tengah asiknya mendengarkan musik kesukaanku, sebuah suara seorang laki-laki memanggilku dari samping, sedikit ku terkejut mendengarnya

“Titin, bagaimana kabarmu? Aku dengar kau terkena kecelakaan. Jadi aku kemari secepat yang ku bisa, eh.. tak sengaja kita bertemu di sini” kata lelaki itu sambil tersenyum lebar dan menggaruk-garuk kepalanya.

Rasanya aku mengenal lelaki ini, tapi siapa?

“Ah, ya aku baik” kataku seadanya sambil menatap kembali pada hanphoneku di tangan

“Kau mengingatku?” dia bertanya kemudian

“Oh ya, maaf tapi kau siapa ya?” kataku sambil tersenyum kepada lelaki itu

“Kau serius tak mengenalku?” katanya kemudian

Dengan wajah yang penasaran aku mengangguk pelan, masih menatap lelaki itu.

Kemudian dia melangkah maju dan duduk di sampingku.

Apa-apaan ini, belum kenal saja dia sudah berani duduk di sampingku, kataku sedikit jengkel dalam hati.

Lantas aku menjauhkan diriku sedikit darinya, tapi lelaki itu tak merespon sama sekali, tetapi dia hanya mengambil tas selempangnya dan dikeluarkanlah sebuah dompet.

Awalnya ku kira dia akan mengeluarkan sebuah uang untuk membeli jajan di sekitaran tempat itu, namun yang dia keluarkan adalah sebuah kalung. Sebuah kalung berbentuk ukiran kunci G yang sangat rapi dalam sebuah tanda musik.

Dia lantas menunjukkan kepadaku kalung itu. Aku terkejut bukan main, kalung itu sama persis dengan kalung yang kumiliki.

Ku kelurkan kalung itu dari bajuku dan memperhatikannya dengan seksama, berharap ada perbedaan pada kalung itu. Namun aku salah, semuanya persis sama, mulai bentuknya, ukirannya, ukurannya, sampai rantai kalungnya pun sama dengan milikku.

“Kalung itu...?” aku bertanya sambil terus menatap kalung miliknya “Ini bukan kalung, tapi liontin..” katanya pelan “Eh!?”

“Apa kau ingat, aku memberimu ini bukan sekedar hadiah ulang tahun, tapi aku ingin kau menjaganya, dan kau menepati janjimu”

Sontak bayangan-bayangan suram berada di depanku. Seorang lelaki berdiri di depanku dan mengeluarkan sebuah kotak yang isinya adalah kalung, tidak, isinya adalah liontin yang ku pegang ini.

Bayangan saat pengumuman kelulusan tiba, aku dan lelaki itu duduk dan berbincang-bincang sedikit mengenai di mana tempat kita akan bersekolah selanjutnya.

Sampai pada akhirnya aku mengejar lelaki itu ke bandara yang akan pergi ke Jogjakarta untuk kuliah, namun di tengah perjalanan aku mengalami sebuah kecelakaan. Mobil yang ku tumpangi bersama dengan Riska ditabrak oleh sebuah mobil lain dengan begitu kencang, dan mobil itu menabrak persis di mana tempat aku duduk saat itu. Kepalaku terbentur dengan pintu mobil Riska sampai tak sadarkan diri, dan akhirnya aku terbangun di rumah sakit.


Tak lama kemudian aku tersadar dari lamunanku, aku kembali menatap liontin yang kupegang bersamaan liontin yang dipegang oleh lelaki itu. Aku menatap pelan dari liontin menuju wajah lelaki itu.

“Titin...” katanya pelan

“Fauzan” jawabku dengan pelan juga

“Aku pulang” sambil dia tersenyum manis menatap wajahku

Sesaat mata kami bertemu satu sama lain, aku merasa aku telah mengingat satu hal yang telah hilang dari ingatanku usai kecelakaan itu yaitu Fauzan.

Tanpa kusadari air mataku perlahan keluar dan jatuh mengaliri kedua pipiku. Dan tanpa sadar pun aku langsung menuju arah Fauzan dan memeluknya dengan sangat erat, Fauzan pun membalas pelukanku saat itu.

“Aku merindukanmu..” kataku masih terisak-isak dalam pelukannya

“Tak apa, aku sudah di sini” katanya pelan dan mempererat pelukannya

Aku sudah tak bisa berkata apa-apa lagi, aku hanya membenamkan diriku padanya yang berusaha menenangkanku.

Akhirnya, aku bisa merasa terbebas dari belenggu ingatan ini. Seorang lelaki yang sangat ku rindukan sekarang telah ada di sini, memelukku, menenangkanku, walaupun beberapa saat sebelumnya aku sama sekali tak mengingat lelaki ini, namun di sisi lain aku masih bisa merasakan seseorang yang sangat istimewa di dalam hatiku. Terima kasih kuucapkan kepadamu.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tolonglah berkomentar dengan sopan, NO SPAM!, dan dengan bahasa yang santun pula. Karena komentar anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini ke depannya.