9 Desember 2017

Lautan Seribu Bisu



26 Mei 2016



Hari itu begitu cerah dengan langit yang sedikit meninggi, awan yang terlihat lembut dan sinar matahari yang masih malu-malu untuk menampakkan dirinya.

Dia duduk membenamkan dirinya di atas kursi kayu yang sedikit sudah mulai rapuh, sembari menatap jam dinding yang terdapat di atas papan tulis berwarna putih terpampang di depannya.

Sepertinya masih terlalu pagi. Tatapannya beralih keluar jendela menatap rerumputan di lapangan yang masih basah dihinggapi embun pagi.

Akhirnya dia mengambil sebuah pensil dan sebuah buku dari tasnya, kemudian mulai menulis sesuatu seperti angka-angka dan gambar di dalam garis.

“Selamat pagi, Dan.. akhirnya kau datang pagi juga” kata sebuah suara menyapanya dari pintu

“Ah, pagi Ni.. kau juga, sepertinya” Dan menyeringai

“Kau tau, hari ini piketku.. seharusnya kau tak perlu terkejut aku datang sepagi ini” kata gadis itu sambil menaruh tasnya pada kursi yang belum diturunkan dari meja

“Aku tidak terkejut”

“Benarkah?”

“Iya benar”

Beberapa menit kemudian Dan menyadari bahwa dunia telah menjadi semakin terang dan hangat. Suara hiruk pikuk dari siswa berangsur-angsur menjadi ramai dari luar, dan suara knalpot dari sepeda motor siswa yang parkir menjadi alasan baginya untuk keluar sejenak dari dalam ruangan yang sedikit gelap itu untuk menikmati hangatnya sinar sang mentari pagi.

Dia memilih untuk duduk sejenak di sebuah bangku yang ada di taman depan kelasnya sembari melanjutkan tulisannya itu.

“Woy, Dan... apa yang kau tulis?” kata seorang laki-laki tinggi semampai menepuk bahunya

“Alan, kau ini. Seharusnya kau memanggil dulu sebelum berbicara” katanya sedikit lesu

“Ah, kau ini seperti murid baru saja, kau tau siapa aku” Alan tersenyum lebar

“Hmmm..” Dan bergumam rendah

“Jadi?”

“Ini hanya coretan lagu..” katanya pelan

“Kau tau, terkadang aku cemburu denganmu Dan” kata lelaki itu sambil duduk di samping Dan

“Maksudmu?”

“Yah, kau begitu berbakat dalam hal ini” dia tersenyum kecil


“Kau melebih-lebihkan Lan. Kau juga berbakat” Alan meninggikan sedikit alis matanya “Tak ada yang mampu menandingimu dalam hal hitung-menghitung di kelas”

“Yaah” dia tersenyum lebar-lebar lagi “Kau juga melebih-lebihkan”

Beberapa saat mereka duduk di bangku itu menatap banyaknya siswa yang berjalan kesana kemari sibuk dengan urusan mereka masing-masing.

“Kau tau, terkadang aku berpikir bahwa kau harus ke kelas dan membantu bersih-bersih, karena hari ini piketmu” kata Dan kemudian

“Ah iya! Sial” Alan terperanjat dan langsung berlari menuju kelas yang jaraknya hanya beberapa langkah kaki saja, dia melihat bahwa teman sepiketnya hampir menuntaskan pekerjaan mereka

“Oh iya, Selamat ulang tahun Dan!” katanya sambil membalikkan badannya

Dan terkejut, untuk kali ini dia melupakan ulang tahunnya, mungkin karena akhir-akhir ini dia jarang memperhatikan tanggal.

“Oke bro, Trims” Dan menyeringai lebar

#

‘Teet...Teet...T’eet’ dering suara bel berbunyi menandakan waktunya kembali ke rumah masing-masing.

Dan berjalan menenteng tasnya yang berat dengan tangannya sambil sesekali berusaha menaikkan tas itu ke punggunya.

“Hai Dan!” sebuah suara yang teriak memanggilnya dari kejauhan meskipun teriakannya hampir samar karena ributnya siswa yang berdesakan di koridor depan kelasnya.

Orang itu mendekat kepada Dan “Hari ini latihan, untuk persiapan upacara besok” katanya sambil berusaha menjelaskan suaranya agar terdengar baik oleh Dan

“Ah, baiklah.. Aku yang bawa kuncinya, jadi temui aku jam 3 Ok?”

“Baiklah, tapi mungkin aku akan hadir setelah ashar” Fikri tersenyum “Kalau begitu aku pulang dulu, lapar” katanya dengan ekspresi khas orang yang tengah kelaparan dan belum makan satu bulan

“Hati-hati Pik”

“Oke”

Dan kembali melanjutkan perjalanannya, di tengah jalan dia berhenti sejenak menatap gerombolan siswi yang sepertinya hendak berjalan pulang, namun pandangannya terfokus pada salah satu dari gerombolan itu.

Dia melihat seorang gadis menggunakan tas berwarna merah bercampur biru sedang berjalan diantara tulang-tulang dan lemak-lemak itu. Gadis itu menoleh dan melihat Dan, kemudian kembali berbincang dengan temannya. Namun sepertinya itu bukanlah perbincangan yang lama.


Tak lama kemudian gadis itu seperti berpamitan dengan temannya, dan seakan-akan sekarang Dan mengerti apa maksud dari hal itu.

Dan berjalan lagi dengan pelan dan pasti, jantungnya masih berdetak hebat kala melihat gadis itu, sudah hampir 2 tahun dia tak bisa merubah perasaannya.

Mereka betemu dan tersenyum satu sama lain diam sejenak hingga akhirnya Dan angkat bicara

“Pulang?” katanya singkat

“Iya” gadis itupun juga menjawab singkat

“Kalau begitu, ayo kita pulang bersama” Dan tersenyum kemudian melangkah duluan berharap gadis itu mengikutinya

“Ada apa Rina?” dia membalikkan badannya melihat Rina yang masih terdiam ditempatnya

“Ah, tidak apa-apa” Rina kemudian tersenyum dan mulai melangkah

Mereka berjalan di sepanjang koridor itu bersama dengan murid-murid yang lain, berharap jika ada yang melihatnya akan berpikir bahwa mereka hanya teman biasa.

Di tengah perjalanan mereka masih ambigu untuk mulai membuka pembicaraan, walaupun mereka berdua ingin sekali berbicara dalam waktu yang lama, namun tak bisa memikirkan apa yang harus dikatakan.

“Jadi bagaimana hari ini?” Dan berkata pada akhirnya

“Maksudmu?” Gadis itu menatapnya

Sontak Dan langsung bergetar melihat mata Rina, mata yang selalu membuatnya tenang dan damai melihatnya

“Ya, bagaimana di kelas hari ini?”dia kembali meluruskan pandangannya

“Ooh, ya seperti biasa” Rina tersenyum

“Apakah teman-temanmu membully mu lagi?” kata Dan mencoba bergurau

“Makanya seperti biasa” Rina tetap tersenyum, dan Dan tau apa maknya senyuman itu

“Apa yang mereka katakan?”

“Mereka hanya bilang bahwa aku dan mereka harus menjebakmu dalam suatu hal”

“Sungguh?”

“Hm mm” Rina mengangguk setuju

“Kenapa?” Dan sedikit bingung

“Sudah jelas bukan?” Rina tersenyum lagi

“Jelas apanya?” Dan semakin bingung

“Kau tak perlu berpura-pura Dan.. aku tau kau tau” gadis itu mengalihkan pandangannya

Sepertinya Dan telah melakukan hal yang salah sehingga membuat Rina terlihat sedikit jengkel. Tapi benar, Dan semakin memacu pikirannya, apa yang dimaksud Rina. Kemudian dia teringat Alan.

“Ooh,,, itu... Dasar, kau masih ingat pernah menjebakku tahun lalu bukan?” akhirnya Dan mengerti

“Hmm” Rina tersenyum kecil sambil menyipitkan matanya

“Hmmph, jebakan yang sangat menyakitkan” kali ini, Dan yang mengalihkan pandangannya, seperti orang yang sedang kesal akan sesuatu dia membuat bibirnya terlihat seolah-olah sedang jengkel

Rina kemudian melangkah lebih cepat sekarang, sehingga dia berada sedikit di depan Dan.

“Ayolah, itu disengaja” kini Rina terkekeh pelan

“Hmmph, disengaja benar”

“Kalau tidak seperti itu tidak akan berhasil bukan?”

“Tak pernah kusangka aku akan jadi muram seperti itu”

“Hehehe,, maaf-maaf” sekali lagi Rina tersenyum

“Iya ka, trims” Mereka berdua tersenyum satu sama lain sekarang

“Jadi, kau akan ke sekolah lagi?” Rina bertanya

“Ya benar, tapi siapa yang memberitahumu?”

“Andin yang bilang, katanya dia harus latihan hari ini”

“Ooh, kau sendiri?” Dan tersenyum kecil

“Hmm,, entahlah”

“Tolong jangan coba menjebakku lagi”

“Hahaha,, tenang saja, aku menolak permintaan mereka tadi, aku bilang itu sudah cukup”

“Baiklah, kau sungguh baik Na”

Memang, sungguh suatu anugrah Dan bisa bertemu dengan gadis itu. Dia telah mengenalnya selama hampir 3 tahun dan Dan yakin Rina juga seperti itu.

Tak lama mereka berjalan, sampailah Rina di rumahnya, sekarang tinggal Dan yang harus melanjutkan perjalanan sendiri. Dia tak apa, dia sudah terbiasa melanjutkan perjalanan sendiri saat berjalan pulang bersama Rina dan Rina sudah sampai di depan rumahnya.

“Dan..” gadis itu memanggilnya lembut

“Iya?”

“Maafkan aku”

“Memangnya untuk apa?” Dan berkata seolah-olah dia tak mengerti maksud Rina itu, walaupun hampir setiap saat mereka jalan pulang bersama, Rina selalu mengatakannya

“Aku tak bisa memberikanmu hadiah di ulang tahunmu ini” katanya rendah sambil menunduk

Ternyata Dan salah perkiraan, dia tak menyangka Rina mengatakan hal ini, dia hanya berpikir Rina akan meminta maaf karena tak bisa menemaninya pulang.

“Ah, tak apa Rina. Melihatmu dan berjalan bersamamu sudah merupakan hadiah terindah yang kau berikan untukku” Dan tersenyum

Rina terperanjat, terkejut. Laki-laki itu memang tau bagaiman cara menyusun kata yang indah

“Tapi” gadis itu mulai mendongak

“Tenanglah, seperti yang ku bilang tadi. Jangan pernah merepotkan dirimu” sambil dua jarinya menyentuh dahi Rina mengabaikan hiruk-pikuk orang-orang yang berjalan

“Terima kasih Dan” Dan tersenyum “tapi sebelum kau pulang, ada yang ingin ku sampaikan padamu”

“Benarkah, apa itu?”

Rina terdiam sejenak. Dan tau dia sedang mengumpulkan tenaganya untuk bicara

“Ah, tidak jadi” dia menyeringai lebar

“Lho, kenapa Na?”

“Tak, ada apa-apa, nanti saja” dia masih menyeringai

“Hmm... baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. Sampai jumpa Rina” Dan berjalan sambil melambaikan satu tangannya kepada Rina, dan gadis itupun melakukan hal yang sama

#

‘Ckrek’ bunyi kunci pintu yang terbuka menemani sunyinya siang ini. Di halaman itu banyak terdapat berbagai jenis sepeda motor, dan terkadang beberapa unit sepeda.

Sunyi memang, karena ruangan itu terpisah jauh dengan halaman utama dimana para siswa melakukan kegiatan sore hari disana.

Laki-laki yang bertubuh hampir kurus itu melangkah masuk ke dalam ruangan yang gelap itu. Tak banyak yang dapat dia lihat namun samar. Hanya pasangan korden yang berukuran tak terlalu besar terpampang jelas di depannya.

Laki-laki itu lantas membuka korden dan menyangga jendela dengan besinya, lantas apa yang tadinya gelap gulita sekarang menjadi sangat jelas untuk dilihat.


Sebuah piano tegak berwarna hitam, dua buah keyboard, tiga buah gitar satu melodi, ritem dan bas, dan beberapa buah biola klasik.

Karpet yang hangat terkena sinar matahari terasa di kakinya yang telanjang. Dia menatap ruangan itu sejenak, dindingnya penuh dilapisi dengan kemasan telur dan sterofom yang menempel kuat disana.

Sambil menunggu semuanya datang, dia duduk sembari memainkan piano dengan lembut, lagu-lagu melow yang dia mainkan memenuhi seluruh ruangan, hingga akhirnya seorang gadis datang.

“Dan!” gadis itu terkejut

“Ah, Nini! Kau membuatku terkejut” Dan menoleh melihat gadis itu

Sementara, permainan pianonya berhenti karena Dian sontak saja mengagetkan konsentrasinya.

“Ku rasa ini, terlalu pagi” kata Dan kemudian sambil menekan tuts piano di depannya

“Hmm.. ya benar, tapi tak ada salahnya aku datang pagi kan” kata gadis itu sambil memeriksa jam tangannya “Lagipula rumahku jauh dari sini” katanya pelan

“Ya benar, tapi kau bawa sepeda motor bukan?”

“Iya, benar., sudahlah apa yang kita bicarakan”

“Entahlah...”

Percakapan mereka tiba-tiba berhenti kala seseorang menampakkan dirinya di depan pintu.

“Rina! Apa yang kau lakukan di sini?” kata Dan sedikit terkejut

“Eh, Rina? Kau sudah selesai?” Kata Nini kepada Rina yang masih berdiri di depan pintu

“Selesai? Maksudmu?” Dan menyela bingung

Nini memalingkan pandangannya kepada Dan “Sebenarnya aku tak pulang tadi, namun pergi ke rumah kakakku di sekitar sini” katanya pelan

“Iya, aku tak terlalu tertarik dengan itu, tapi.. ‘selesai’?” kata laki-laki itu tambah bingung

Kemudian Nini dan Rina berpandangan dan terkekeh kecil di sana membuat Dan semakin bingung

“Mau tau atau mau tau?” kata Rina kemudian masih di depan pintu sambil tersenyum kecil kepada Dan

“Apa sih yang kalian mainkan?”

“Hmm.. aku juga tak tau” kata Rina sambil memasang muka polos bak anak panda yang meminta ASI pada ibunya

“Jika kau ingin tau, ayo ikut kami” kata Nini kemudian


Dan pun menurut, tapi saat dia hendak memakai alas kakinya tiba-tiba dibalik pintu itu telah ada beberapa sahabat Rina dan teman Dan.

Dan sangat terkejut seperti seekor beruang yang di permainkan oleh seekor ikan buronannya. Bagaimana tidak, diantara sekelompok wajah tua itu terdapat sebuah nasi tumpeng yang tidak terlalu besar namun di atasnya terdapat lilin yang berbentuk angka 18.

Dan sangat-sangat mengerti akan hal itu, dia masih terpaku menatap apa yang tengah dia lihat.

Rina kemudian mengambil nasi tumpeng itu diikuti dengan sahabat-sahabatnya dibelakang.

“Jadi, kau sudah mengerti maksudnya?” Rina tersenyum manis sekali kepada laki-laki itu

“I—Iya” kata Dan terbata-bata, matanya seperti ingin mengelurakan air mata, namun dia dengan sekuat tenaga menahannya

“Eh, kenapa?” kata gadis itu lembut

“Tak ada..” masih berkaca-kaca “Sudah ku katakan supaya kau tak perlu merepotkan dirimu” katanya sambil mengusap air matanya yang hampir jatuh

“Sudahlah,, tak apa.. aku melakukannya karena aku ingin melakukannya” kata Rina sambil maju satu langkah ke arah Dan

Mereka kini berjarak sangat dekat sekali sehingga Rina bisa melihat mata Dan yang basah terkena air matanya sendiri.

Dan ingin sekali gadis itu mengusap air mata itu untuknya, namun dia juga mengerti tak mungkin di hadapan semua wajah polos ini.

“Terima kasih, sebenarnya aku belum terlalu terbiasa dengan hal ini kau tau”

“Iya, aku sangat mengerti,, tak selamanya kau akan merayakan ulang tahunmu bukan?”

Dan terperanjat lalu menatap lekat gadis yang berdiri hampir sampai telinganya itu di depannya. Ingin sekali dia memeluk gadis itu, namun niatnya tertahan saat salah satu temannya menuju mereka untuk mengambil gambar dengan ponselnya.

“Ayo, Rina ada yang ingin kau sampaikan?” kata salah satu sahabatnya

Sekarang giliran Rina yang malu, wajahnya terlihat jelas hampir memerah. Sedangkan Dan hanya dapat melihat Nini di belakangnya sedang tersenyum gembira.

“Baiklah” kata Rina sambil sedikit mendongak menatap Dan “Mungkin, banyak do’a, mimpi dan harapan yang kau panjatkan di hari ini. Pastinya berharap yang terbaik dan terindah untuk dapat merubah sikap, merubah kepribadian, merubah pemikiran, dan merubah segalanya menjadi lebih baik lagi” Rina berhenti sejenak masih menatap Dan, sepertinya dia masih memikirkan kata-kata selanjutnya “Selamat ulang tahun ke 18 Dani, semoga kau diberikan umur yang panjang, kesehatan yang selalu tertimpa, semakin cerdas, semakin dewasa, semoga senantiasa berbakti kepada orang tua, dan engkau selalu berada dalam lindungan Yang Maha Kuasa... hiks”


Sekarang Rina yang mulai meneteskan air matanya, seakan-akan dia mengatakan hal itu kepada dirinya sendiri. Sedangkan dan masih tetap dalam diam, terpaku, terkesima, tak biasanya Rina bisa mengatakan hal seperti ini dalam waktu yang begitu singkat.

“... Serta... serta tetaplah menjadi Dani yang aku sayangi, yang aku kagumi, yang rendah hati, yang toleran bagi semua teman, sahabat, dan keluargamu. Dan,, masih lagi yang ingin ku katakan, tapi cukup banyak untuk hari ini, sekali lagi selamat ulang tahun”

Sekarang Rina menunduk masih berkaca-kaca sambil mengusap kedua matanya dengan sebelah tangannya.

“Terima kasih.. Ini adalah sesuatu yang sangat berarti dan sangat baik khususnya bagiku sendiri, ku Amin kan semua doamu untukku, tetapi dalam pemikiranku doa itu bukan hanya untukku seorang, namun jika kau mengizinkan, aku akan membagikan doa itu untukmu juga”

“Maksudmu?” sekarang Rina kembali mendongak lagi, kali ini Dan bisa melihat jelas matanya basah melebihi dirinya

“Sungguh mengejutkan, sebelumnya aku yang ingin menangis tapi ku tahan, namun sekarang kau menangis lebih hebat dariku” katanya sambil nyengir lebar

“Ah, maaf hihi” Rina pun ikut tersenyum “Tapi apa, maksudmu dengan perkataanmu yang tadi?”

“Sudah jelas bukan? Doa itu untukmu juga”

“Tapi, hari ini bukan ulang tahunku”

“Aah,, tak perlu menunggu ulang tahun untuk memberikan doa Rina, aku selalu berdoa untukmu setiap hari”

Rina terkejut bukan main, sungguh Dan telah menyentuh hatinya yang paling dalam.

“Tolong jangan menangis lagi, aku tak bisa mengusap matamu di depan semua kucing-kucing ini bukan?” kata Dan bergurau berusaha mencairkan suasana

“Hehe,, baiklah”

Tentu, berhasil.. Rina sekarang ingin tertawa mendengarnya.

Tiba-tiba salah satu sahabat Rina berteriak dari belakang membuat semua orang tertawa mendengar ucapannya

“Hei kalian berdua, ayolah cepat selesaikan. Tinggal tiup lilin bodoh itu dan potong nasi konyol itu, kami sudah kelaparan dari tadi”

Sontak semua kepala memandang suara itu dan tertawa terbahak-bahak, sungguh gadis yang ceria.

Akhirnya Dan dibantu Rina meniup lilin angka 18 itu kemudian memotong nasi tumpeng itu memakai sendok makan biasa.


Dengan desakan yang sangat dari teman-temannya, Dan dan Rina akhirnya mau menyuapi satu sama lain dan menyuapi satu-satu dari mereka.

Hari itu menjadi hari yang terindah bagi Dan khususnya dan Rina. Sungguh insan yang mendukung kehidupan satu sama lain.

Pada akhirnya latihan telah usai, dan waktu telah menunjukkan pukul 5.50 sore. Setelah semua pulang dan beres Dan memutuskan untuk menemani Rina untuk pulang menggunakan angkutan umum yang biasa lalu-lalang di jalanan.

#

Hari itu upacara berjalan dengan baik, terima kasih untuk para paduan suara yang telah memberikan usaha yang terbaik untuk hari ini.

Teet.... bel berdering sangat memekikkan telinga. Walaupun upacara berjalan sukses, tak berarti

pekerjaan lainnya juga ikut sukses.

Dan berjalan sambil menenteng sebuah flashdisk di tangannya dengan terburu-buru. Dia memasang raut yang juga terlihat jengkel, mengapa harus dia yang pergi untuk mencetak dokumen ini padahal tugasnya untuk hari ini masih lagi.

“Kak Upa, minta tolong cetakkan dokumen bernama laporan di folder tugas ini” katanya kepada salah satu petugas Koperasi siswa di sana sembari terus berusaha terlihat tenang dibalik kejengkelannya.

“Baiklah.. tunggu sebentar” kata Kak Upa sambil mencolokkan flashdisk itu ke komputernya

Memang di sekolah itu semua kebutuhan siswa hampir di sediakan oleh Koperasi siswanya.

Terlepas dari hal itu, Dan yang sedang duduk di sebuah bangku depan Koperasi mendengar sesuatu yang tidak ingin sama sekali ia dengar, membuat gejolak dalam hatinya meningkat lagi.

“Hei, kau tau. Sepertinya Sami dan Rina kembali menjalin hubungan lagi” kata salah seorang siswa yang sedang merapikan makanan di sana.

Dan yang sedang berusaha hampir tenang kembali mendadak merah lagi. Apa yang baru saja dia dengar.

Dia tau dan dia sadar tak seharusnya langsung percaya dengan hal itu, namun kehendaknya berkata lain.

Sesaat, setelah siswa tersebut terus membicarakan tentang Rina dan Sami yang desas-desusnya dikabarkan menjalin hubungan lagi, membuat Dan tak bisa lagi mengekang emosinya.

Darahnya naik dengan cepat, dia berjalan pelan menuju siswa yang membicarakan hal tersebut lalu tak di sangka Dan langsung memukuli siswa tersebut sampai hampir jatuh

“Apa yang kau bicarakan hah!” katanya dengan amarah yang menggelegar


Semua mata yang ada di sana memeperhatikan dirinya seorang. Dan juga tak sadar dia melakukan hal tersebut, padahal dia tak pernah sekalipun sampai detik ini melakukan hal yang keji tersebut.

Semua terdiam, dan sepertinya siswa yang bergosip tadi menyadari bahwa dia salah dan kurang peka lewat tatapan matanya kepada Dan.

Segera setelah hal itu, Dan langsung sadar bahwa tak ada gunanya melanjutkan. Dia sontak langsung mengambil flashdisk dan dokumen laporan yang telah tercetak lalu memberikan sejumlah uang kepada Kak Upa kemudian langsung bergegas pergi.

Sesampainya di kelas, dia mendapatkan suasana yang berbeda, sepertinya kabar tentang dirinya yang memukuli salah seorang siswa di sana belum sampai di telinga kelasnya.

Dan hanya bersyukur lega. Menyerahkan dokumen itu kepada teman kelompoknya kemudian langsung membenamkan diri di balik kursinya berharap agar waktu bisa ia putar kembali sehingga kejadian memalukan tadi tidak terjadi.

“Panggilan kepada Dani Ganta dimohon menuju ruangan badan konseling, terima kasih”

Suara itu terdengar samar-samar dalam ruangan kelas itu, namun begitu jelas di telinganya.

Apa yang telah ia lakukan sebegitu sangat sehingga dia dipanggil ke ruang BK, apakah karena hal memalukan tempo waktu, dia tak tau. Dia hanya sadar bahwa dia berjalan dengan pelan meninggalkan ruang kelas itu dengan hampa.

Begitu sampai di depan sebuah ruangan yang bertuliskan Badan Konseling, dia menghirup nafas dalam lalu menghembuskannya pelan keluar, memastikan bahwa jika apa yang ia khawatirkan bisa ia tangani dengan santai.

“Permisi Bu..” kata lelaki itu dengan sopan sembari melangkah masuk ke dalam ruangan yg pengap itu

“Ah, Dani.. mari duduk” sapa seorang wanita di depannya

“Kamu tau kenapa kau dipanggil?” kata wanita itu ramah dibalik wajahnya

“Entahlah bu, minum secangkir teh?” katanya berusaha mencairkan suasana

“Heheh, kau memang murid yang hebat Dani” wanita itu terkekeh

“Jadi, apa yang bisa saya bantu bu?” ucap Dan langsung to the point, karena ia tak mau berlama-lama di ruangan itu

“Beberapa menit yang lalu kami mendapat laporan bahwa kamu bertengkar dengan salah satu murid di sini, benar?”

Sontak Dan langsung terkejut bukan main, matanya kosong menatap ke bawah menyadari bahwa apa yang dia khawatirkan itu memang terjadi.

Untuk beberapa saat Dan tak bisa berbicara sepatah kata pun, dia hanya menyadari bahwa ancang-ancangnya kurang tepat.


“Be..Benar bu” ucapnya melemah kemudian “Tapi tolong bu, itu tak saya sengaja.. tolong jangan keluarkan saya dari sekolah ini”

“Maafkan Ibu Dan, kau sudah tau betul aturan di sekolah kita ini” wanita itupun ikut melemah

Tak peduli apapun alasan yang Dan berikan, tak sedikitpun dapat melonggarkannya dari aturan itu

“Tapi bu... tolong beri saya keringanan” katanya memohon

“Huff,, baiklah Ibu akan berikan keringanan untuk tidak mengeluarkanmu dari sekolah ini”

Mendengar hal itu batin Dan sontak langsung kembali cerah seperti semula lagi

“Namun memindahkanmu ke sekolah lain” kata wanita itu kemudian “Tapi, Ibu akan bicarakan hal ini dengan kepala sekolah dahulu, ini pelanggaran yang sangat berat Dani”

Dan yang semula tersenyum, kembali murung lagi mendengarnya, tak ada bedanya.

“Baiklah bu, terima kasih banyak” kata Dan kemudian melangkah meninggalkan ruangan itu

“Dani...” “Maafkan Ibu nak”

Dan menoleh dan hanya tersenyum sekilas lalu pergi.

#

Laki-laki itu berjalan pelan menyusuri jalan setapak yang terbuat dari semen dan kerikil berwarna-warni di sekolahnya, sambil memikirkan keputusan final dari sang sekolah. Makin memikirkannya, makin murung wajahnya.

Namun, ada satu hal yang bisa membuatnya tersenyum sejenak. Wajah seorang gadis melambaikan tangannya kepadanya dari kejauhan

“Hai Dan. Apa kabarmu?” kata gadis itu

“Hai juga Rina, aku baik.. kau sendiri?”

“Sangat baik” dia tersenyum, mereka tersenyum “Jadi kau akan pulang?”

“Ya, kau juga Rin?”

“Hmm,, iya” gadis itu nyengir lebar

Itu memang senyuman yang bisa membuat Dan bahagia untuk sejenak, namun beban yang menunggunya sangatlah berat mampu meruntuhkan seluruh dinasti Cina sekalipun.

Dia hanya bisa membalas senyuman gadis itu dan menemaninya berjalan pulang untuk hari ini, dan mungkin untuk yang terakhir, karena dia tau Senin lusa dia sudah tak di sekolah ini lagi.

Dia hanya ingin memberitau gadis itu tentang apa yang menimpanya, namun tak bisa ia ucapkan meski satu huruf pun. Dan tak bisa mengambil resiko menyakitkan hati gadis itu, ataupun membuatnya tak nyaman, atau yang paling parah membuatnya meneteskan air mata.


Dan hanya ingin menatap gadis itu, senyumnya, setidaknya untuk hari ini. Mendengar suaranya bagaikan musik di telinga Dan.

“Aku, pulang dulu.. Seperti biasa maaf, aku hanya bisa menemanimu sampai di sini” kata Dan sedikit kacau, namun dia tersenyum

“Hehe, tak apa..” Rina juga tersenyum “Seperti biasa, kau hati-hati di jalan”

Dan mengangguk lemah kemudian berjalan ke depan sambil melambaikan tangannya.

#

Pagi itu cerah namun langit masih terlihat gelap karena masih terlalu pagi.

Dan terpaku menatap bintang yang masih bersinar terang berharap bahwa itu memberikannya segenggam semangat.

Setelah dia membasuh dirinya dan sarapan, Dan mulai berkemas karena sekolah tempat ia dipindahkan sedikit jauh dari tempat tinggalnya sekarang hingga akhirnya setelah berdiskusi dengan orang tuanya, Dan setuju bahwa dia harus tinggal di sebuah kosan.

“Dani berangkat Bu, Yah” katanya sambil mencium kedua tangan orang tuanya itu

“Hati-hatilah nak” Ibunya tersenyum

“Kami akan mengunjungimu setiap akhir pekan” Ayahnya berkata

“Tenang saja, Dani sudah 18 tahun..” Dan nyengir

Akhirnya dengan salam perpisahan yang sederhana, Dan meninggalkan rumahnya yang membuatnya terkenang begitu lama, sekarang menuju sebuah rumah yang telah disiapkan sebelumnya untuk ia tulis lembaran baru kenangannya.

Sesampainya di tujuan, dia menemukan bahwa pemilik kos itu memang merupakan sahabat karib ibunya membuat Dan juga merasa lebih cepat beradaptasi.

Dia masuk ke kamarnya, dan setelah melakukan sedikit pembersihan dia membenamkan diri di atas tempat tidurnya.

Baju-bajunya masih tergeletak di koper dan tasnya. Dia sekarang mengambil ponselnya dan menatap lekat pesan-pesan dari kemarin malam yang tak ia hiraukan.

Beberapa pesan singkat dari gadis pujaanya kerap kali menghubunginya, namun Dan tak ada niat membalas pesan itu atau mengangkat telpon itu.

Dia hanya bisa yakin bahwa Rina dapat mengerti keadaanya sekarang ini, dia yakin lambat-laun dia akan mengerti.

Akhirnya, hari yang dia nanti untuk mengukir sejarah baru telah datang.

Senin, pagi. Cuaca begitu cerah seperti biasanya. Bunyi gemercik air dan seretan-seretan pakaian terdengar hingga ke lorong-lorong ruangan.

Dan menatap sejenak dirinya di depan cermin, memastikan bahwa dia telah siap untuk berangkat.

Saat dia hendak melangkah, dia berhenti sejenak dan menatap ponselnya berbunyi, hendak dia ingin mengambil ponselnya dia tertahan, waktu telah menunjukkan pukul 7:30 dia langsung berangkat dan tak mau terlambat sedikitpun hari ini.

Dengan nafas yang berusaha dia ringankan dia masuk ke sebuah ruangan dimana disana tak ada satupun wajah yang ia kenali baik lelaki maupun perempuan. Dia hanya membiarkan semua tatap mata itu memandangnya heran.

Beberapa saat bel berbunyi, suaranya sangat berbeda dengan yang biasa didengarnya. Kemudian tak lama seorang guru datang dengan langkah kaki yang mantap. Pria itu duduk di meja kursinya dan dengan ceria dia memulai pembicaraan

“Selamat pagi anak-anak, hari yang begitu cerah bukan?” katanya dengan ekspresi yang Dan pikir dia buat-buat

“Seperti yang kita semua tau, pasti kalian bertanya-tanya bahwasanya ada sesuatu yang sedikit berbeda dengan kelas kita pada hari ini” “Ya benar, mulai hari ini seorang murid telah bertambah dan marilah kita persilahkan untuk memperkenalkan dirinya” kata sang guru sambil menunjuk Dan dari ujung ruangan

Dengan sedikit gugup, Dan melangkah dan mulai berbicara seadanya

“Nama saya Dani Ganta, saya dipindahkan ke sekolah ini karena keadaan.. dan saya sangat menanti kerja sama dari teman-teman semua”

Setelah itu dia langsung kembali ke tempat duduknya dan membiarkan Pria itu mengoceh lagi.

“Hai, Dani aku Wawan, senang bertemu kau” kata teman duduknya yang baru tersenyum sembari menjulurkan tangannya untuk berkenalan

“Hai, Wawan. Senang bertemu kau juga. Kau bisa panggil aku Dan saja” ucap Dan menyambut tangan teman barunya itu dengan senyuman

#

Waktu kian berlalu, sekarang Dan sudah merasa satu dengan sekolah barunya begitu juga dengan lingkungan sekitarnya. Orang tuanya juga terkadang datang ke kosnya untuk menjenguknya.

Walaupun terkadang Dan merasa khawatir dengan keadaan orang yang paling dinantikannya, Rina. Baru sekarang dia merasa bodoh tak pernah memberitahu Rina tentang kabarnya, dan kenapa dia pindah.

Mungkin gadis itu sekarang tak pernah berhenti resah, walaupun Dan yakin bahwa Rina tau bahwa dia telah pindah sekolah.

Mungkin juga Rina sedang marah tak terkendali karena sikapnya yang semena-mena, dia mungkin tak ingin bicara lagi walaupun Dan berusaha menghubunginya. Terlebih lagi Dan telah mengganti nomor ponselnya.

“Dan!”kata sebuah suara mengganggu konsentrasi Dan memakan makan siangnya di kelas saat itu

“Hai, Wawan.. terima kasih kau membuatku tersedak” kata Dan tersenyum

“Eehh, tak kusangka jika di hari aku bertemu denganmu kau begitu polos, sekarang menjadi seorang yang mudah tersinggung”

“Aku hanya bercanda Wan, memangnya ada apa?”

“Ah, aku hampir lupa.. Kau tau kabar terbaru?”

“Kabar apa?” Dan mulai bingung

“Kalau hari ini ada seorang murid baru di sekolah kita” kata Wawan begitu semangat

“Benarkah?” kata Dan sedikit terkejut

“Iya, dan terlebih lagi katanya dia berasal dari sekolahmu yang dulu juga”

Dan yang tengah mengunyah makanannya tiba-tiba tersedak hebat hingga hampir memuntahkan makanannya itu, namun untung saja dia masih bisa menahannya walaupun matanya berubah merah dan berair.

“Kau tak apa? Kau begitu kaget” kata Wawan

“Ekhm.. aku tak apa” katanya kemudian meneguk air minum “Apa kau bilang tadi?” katanya kemudian

“Iya, dia murid pindahan dari sekolahmu dulu?”

“Sungguh? Siapa yang memberitahumu?”

“Yaa.. itu yang kudengar” “Kau ingin bertemu dengannya? Siapa tau kau ingin membuka kenangan” kata Wawan sambil terkekeh-kekeh

“Hmm.. tak usahlah, aku bisa bertemu dengannya nanti. Lagipula kelas akan dimulai beberapa menit lagi” “Kelas berapa tadi kau bilang?”

“Hmm.. kelas 11.C”

#

Teet--- suara dering bel berbunyi lantang tanda berakhirnya pelajaran hari ini membuat seluruh siswa melangkahkan kaki melangkah pulang. Tak terkecuali dengan Dan.

Saat hendak berjalan pulang, Dan seketika teringat percakapannya dengan Wawan saat istirahat tadi.

Dan penasaran siapa yang dimaksud Wawan, terlebih lagi dia berasal dari sekolah yang sama dulunya.

Lantas Dan pun berjalan menuju kelas 11.C dengan tujuan hanya melintas saja.


Begitu dia melintas, dia memalingkan pandangannya sejenak ke dalam ruangan kelas itu. Hampir semua isinya telah hilang terkecuali satu orang yang masih berkemas-kemas.

Ternyata perempuan, pikir Dan. Diapun menyipitkan matanya untuk memperjelas pandangannya ke dalam ruangan itu. Dan betapa terkejutnya Dan saat perempuan itu membalikkan badannya dan sepertinya perempuan itu juga merasa hal yang sama.

Mereka berdua terpaku satu sama lain, menatap kosong masih terkejut, tidak percaya apa yang dilihatnya.

“Rina?”

“Dan?”

Mereka hampir mengucap nama satu sama lain dalam tempo yang sama.

Mereka hanya terdiam seribu bahasa tak tau apa yang harus mereka ucapkan masing-masing. Hanya bisa memandang diri mereka yang berdiri diam tanpa gerak satupun.

Sungguh pertemuan yang tak terduga. Dan sama sekali tidak menyangka bahwa dia akan bertemu Rina lagi di tempat seperti ini.

Dalam diam, Rina memberanikan diri melangkah duluan. Dan bergerak sedikit menaikkan bahunya.

Dia melihat Rina melangkah dengan begitu cepat ke arahnya sambil menundukkan kepalanya.

Begitu gadis itu berada beberapa senti di depannya, Dan sekali lagi bisa melihat wajah yang sangat dirindukannya begitu lama. Namun apa yang terjadi diluar ekspektasi Dan, dan mungkin juga Dan telah tau hal ini akan terjadi.

Rina berjalan dengan cepat melewati Dan seakan lelaki itu tak pernah berdiri di sana.

“Rina!” “Tunggu..” kata Dan berteriak membuat langkah gadis itu terhenti

“Kenapa?” katanya pelan kepada gadis itu

Rina memutar badannya seratus delapanpuluh derajat, dan kini Dan bisa melihat dengan jelas gadis itu menangis tanpa suara.

“Kenapa? Kenapa?! Setelah semua ini?” kata Rina. Dia jelas terlihat marah

Dan Dan sangat mengerti semua itu, dia hanya pasrah apapun yang akan dikatakan Rina sekarang, dia akan menerimanya. Namun, Rina tak mengeluarkan sepatah katapun melainkan hanya suara tangis yang tak bisa ia bendung lagi.

Melihat itu, sontak tubuh Dani bergerak sendiri. Dia melangkah maju dan langsung menyeret tangan Rina pergi dari sana. Dan tau bahwa Rina sangat terkejut, namun dia tak melawan sama sekali.

Enatah apa yang dipikirkan Dan, pikirannya kosong. Yang dia tau sekarang hanyalah dia sedang menggenggam tangan Rina dan berjalan kemudian berhenti di taman depan sekolah.


Dan berdiri di depan Rina yang masih terkejut dan masih meneteskan air mata namun tak sebanyak yang tadi.

“Maafkan aku Rina” tangannya sekarang mengepal kuat “Aku tau aku salah, aku bodoh, aku konyol. Aku tau kau marah kepadaku karena aku tak memberitahumu tentang hal ini jauh hari sebelum aku pergi. Aku minta maaf, aku hanya ingin kau mengerti keadaanku sekarang Rina” kalimat-kalimat itu terlontar begitu saja dari mulutnya tanpa dia sadari, seperti dia ingin sekali mengucapkan kalimat itu lama sekali

“Kau tau? Setiap hari aku berusaha menghubungimu, namun kenapa kau tidak menjawabku? Apakah semua pesanku disadap?” katanya masih berkaca-kaca

“Tidak, tentu saja tidak. Aku menerima semua pesanmu, hanya saja---“

“Hanya apa?! Kau tidak peduli denganku lagi?” katanya sedikit keras kali ini

“Hanya saja aku tak tau harus menjawab apa. Aku selalu hampir menangis membaca pesan darimu, hingga aku mengganti nomor ponselku”

Rina sangat terkejut dia langsung membenamkan diri menutup mukanya di bangku di depannya. Suaranya terdengar menangis lagi

“Maafkan aku Rina. Karena aku mencintaimu” katanya pelan

Rina mendadak berhenti menangis, sekarang dia mendongak menatap Dan berdiri di depannya.

“Kenapa kau pergi Dan?” sepertinya dia sudah mulai tenang sekarang

“Seperti yang aku katakan tadi, kau mengerti keadaanku Rina” katanya sekarang duduk di samping Rina bersandar di bangku itu

“Keadaanmu?” katanya pelan

“Iya, mungkin kau telah mendengar bahwa aku dipindahkan karena melanggar aturan sekolah”

“Iya, aku telah mendengarnya”

“Dulu itu, aku sedang berada di koperasi sekolah. Namun tak sengaja aku mendengar sesuatu yang kurang nyaman”

“Sesuatu?”

“Iya, aku mendengar bahwa kau dengan Sami bersama lagi. Mulanya aku bersikap biasa saja. Namun mereka tetap saja berbicara tentang hal bodoh itu hingga akhirnya tak sengaja aku memukul salah satu diantara mereka” Dan bercerita sambil sesekali tertawa kecil mengingat kejadian konyol yang dialaminya

“Begitu ya” “Terkadang kau sangat mengerikan saat marah kau tau?” Rina tersenyum ke arah Dan

Dan menatap gadis itu, senyumannya masih sama persis terkahir kali dia melihat senyum itu. Dan Dan sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan gadis itu lagi.

“Hehe.. Cukup tentangku Rina. Bagaimana denganmu sendiri?”

“Hmmm?”

“Ya, kenapa kau pindah kemari?”

“Ooh..Sebenarnya aku dulu memang bercita-cita sekolah di sini”

“Benarkah?”

“Iya, karena dulu aku lahir di kota ini dan besar di kota ini. Namun Ibuku tak ingin aku sekolah di sini karena kami pindah rumah hingga aku tak jadi sekolah di sini” Rina tersenyum “Ini seperti aku pulang kampung” katanya nyengir

“Eeeh”

“Sekarang aku pindah kesini karena dua alasan. Yang pertama karena Ibuku bekerja di kota ini, dia bekerja dalam waktu yang lumayan panjang katanya, hingga aku ditawarkan untuk ikut dengannya dan sekolah di sini mengingat aku sangat ingin sekolah di sini dulu”

“Begitu ya.. Lalu yang kedua?”

“Hmm.. Sudah jelas bukan?” katanya nyengir lagi

“Maksudmu?” Dan bingung

“Untuk menyusulmu lah” sekarang senyum Rina bertambah lebar

Dan baru sadar bahwa gadis itu sekarang lebih sedikit terbuka kepadanya. Mungkin suatu kejadian telah merubahnya. Namun Dan tak mau tau, satu yang penting bahwa gadis itu sekarang berada di sini, di dekatnya, seseorang yang merubah dirinya menjadi lebih dewasa, seseorang yang selalu memberikannya dukungan dan semangat kala dia jatuh.

“Soal kabar yang tak jelas itu tolong jangan kau dengarkan, karena itu tak benar sama sekali, seperti yang sering ku katakan.. jangan pernah dengarkan apa yang orang-orang katakan tentang kita biarkan seperti angin yang berlalu, buang negatifnya ambil baiknya” kata Rina sekarang menyandarkan dirinya pada Dan

Dan yang sedikit terkejut hanya bisa membalasnya dengan menggenggam tangan gadis itu dengan lembut dan tak pernah membiarkannya berlari lagi.

“Tenang saja. Kau tau aku”






***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tolonglah berkomentar dengan sopan, NO SPAM!, dan dengan bahasa yang santun pula. Karena komentar anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini ke depannya.