26 Mei 2016
Hari
itu begitu cerah dengan langit yang sedikit meninggi, awan yang terlihat lembut
dan sinar matahari yang masih malu-malu untuk menampakkan dirinya.
Dia
duduk membenamkan dirinya di atas kursi kayu yang sedikit sudah mulai rapuh,
sembari menatap jam dinding yang terdapat di atas papan tulis berwarna putih
terpampang di depannya.
Sepertinya
masih terlalu pagi. Tatapannya beralih keluar jendela menatap rerumputan di
lapangan yang masih basah dihinggapi embun pagi.
Akhirnya
dia mengambil sebuah pensil dan sebuah buku dari tasnya, kemudian mulai menulis
sesuatu seperti angka-angka dan gambar di dalam garis.
“Selamat pagi, Dan.. akhirnya kau datang pagi juga”
kata sebuah suara menyapanya dari pintu
“Ah, pagi Ni.. kau juga, sepertinya” Dan menyeringai
“Kau
tau, hari ini piketku.. seharusnya kau tak perlu terkejut aku datang sepagi ini”
kata gadis itu sambil menaruh tasnya pada kursi yang belum diturunkan dari meja
“Aku tidak terkejut”
“Benarkah?”
“Iya benar”
Beberapa
menit kemudian Dan menyadari bahwa dunia telah menjadi semakin terang dan
hangat. Suara hiruk pikuk dari siswa berangsur-angsur menjadi ramai dari luar,
dan suara knalpot dari sepeda motor siswa yang parkir menjadi alasan baginya
untuk keluar sejenak dari dalam ruangan yang sedikit gelap itu untuk menikmati
hangatnya sinar sang mentari pagi.
Dia
memilih untuk duduk sejenak di sebuah bangku yang ada di taman depan kelasnya
sembari melanjutkan tulisannya itu.
“Woy, Dan... apa yang kau tulis?” kata seorang laki-laki
tinggi semampai menepuk bahunya
“Alan, kau ini. Seharusnya kau memanggil dulu
sebelum berbicara” katanya sedikit lesu
“Ah, kau ini seperti murid baru saja, kau tau siapa
aku” Alan tersenyum lebar
“Hmmm..” Dan bergumam rendah
“Jadi?”
“Ini hanya coretan lagu..” katanya pelan
“Kau tau, terkadang aku cemburu denganmu Dan” kata
lelaki itu sambil duduk di samping Dan
“Maksudmu?”
“Yah, kau begitu berbakat dalam hal ini” dia
tersenyum kecil
“Kau
melebih-lebihkan Lan. Kau juga berbakat” Alan meninggikan sedikit alis matanya “Tak
ada yang mampu menandingimu dalam hal hitung-menghitung di kelas”
“Yaah” dia tersenyum lebar-lebar lagi “Kau juga
melebih-lebihkan”
Beberapa
saat mereka duduk di bangku itu menatap banyaknya siswa yang berjalan kesana
kemari sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
“Kau tau,
terkadang aku berpikir bahwa kau harus ke kelas dan membantu bersih-bersih,
karena hari ini piketmu” kata Dan kemudian
“Ah iya!
Sial” Alan terperanjat dan langsung berlari menuju kelas yang jaraknya hanya
beberapa langkah kaki saja, dia melihat bahwa teman sepiketnya hampir
menuntaskan pekerjaan mereka
“Oh iya, Selamat ulang tahun Dan!” katanya sambil
membalikkan badannya
Dan
terkejut, untuk kali ini dia melupakan ulang tahunnya, mungkin karena
akhir-akhir ini dia jarang memperhatikan tanggal.
“Oke bro, Trims” Dan menyeringai lebar
#
‘Teet...Teet...T’eet’
dering suara bel berbunyi menandakan waktunya kembali ke rumah masing-masing.
Dan
berjalan menenteng tasnya yang berat dengan tangannya sambil sesekali berusaha
menaikkan tas itu ke punggunya.
“Hai
Dan!” sebuah suara yang teriak memanggilnya dari kejauhan meskipun teriakannya
hampir samar karena ributnya siswa yang berdesakan di koridor depan kelasnya.
Orang
itu mendekat kepada Dan “Hari ini latihan, untuk persiapan upacara besok”
katanya sambil berusaha menjelaskan suaranya agar terdengar baik oleh Dan
“Ah, baiklah.. Aku yang bawa kuncinya, jadi temui
aku jam 3 Ok?”
“Baiklah,
tapi mungkin aku akan hadir setelah ashar” Fikri tersenyum “Kalau begitu aku
pulang dulu, lapar” katanya dengan ekspresi khas orang yang tengah kelaparan
dan belum makan satu bulan
“Hati-hati Pik”
“Oke”
Dan
kembali melanjutkan perjalanannya, di tengah jalan dia berhenti sejenak menatap
gerombolan siswi yang sepertinya hendak berjalan pulang, namun pandangannya
terfokus pada salah satu dari gerombolan itu.
Dia melihat
seorang gadis menggunakan tas berwarna merah bercampur biru sedang berjalan
diantara tulang-tulang dan lemak-lemak itu. Gadis itu menoleh dan melihat Dan,
kemudian kembali berbincang dengan temannya. Namun sepertinya itu bukanlah
perbincangan yang lama.
Tak
lama kemudian gadis itu seperti berpamitan dengan temannya, dan seakan-akan
sekarang Dan mengerti apa maksud dari hal itu.
Dan
berjalan lagi dengan pelan dan pasti, jantungnya masih berdetak hebat kala
melihat gadis itu, sudah hampir 2 tahun dia tak bisa merubah perasaannya.
Mereka betemu dan tersenyum satu sama lain diam
sejenak hingga akhirnya Dan angkat bicara
“Pulang?” katanya singkat
“Iya” gadis itupun juga menjawab singkat
“Kalau
begitu, ayo kita pulang bersama” Dan tersenyum kemudian melangkah duluan
berharap gadis itu mengikutinya
“Ada apa Rina?” dia membalikkan badannya melihat
Rina yang masih terdiam ditempatnya
“Ah, tidak apa-apa” Rina kemudian tersenyum dan
mulai melangkah
Mereka
berjalan di sepanjang koridor itu bersama dengan murid-murid yang lain,
berharap jika ada yang melihatnya akan berpikir bahwa mereka hanya teman biasa.
Di
tengah perjalanan mereka masih ambigu untuk mulai membuka pembicaraan, walaupun
mereka berdua ingin sekali berbicara dalam waktu yang lama, namun tak bisa
memikirkan apa yang harus dikatakan.
“Jadi bagaimana hari ini?” Dan berkata pada akhirnya
“Maksudmu?” Gadis itu menatapnya
Sontak
Dan langsung bergetar melihat mata Rina, mata yang selalu membuatnya tenang dan
damai melihatnya
“Ya, bagaimana di kelas hari ini?”dia kembali
meluruskan pandangannya
“Ooh, ya seperti biasa” Rina tersenyum
“Apakah teman-temanmu membully mu lagi?” kata Dan mencoba bergurau
“Makanya seperti biasa” Rina tetap tersenyum, dan
Dan tau apa maknya senyuman itu
“Apa yang mereka katakan?”
“Mereka hanya bilang bahwa aku dan mereka harus
menjebakmu dalam suatu hal”
“Sungguh?”
“Hm mm” Rina mengangguk setuju
“Kenapa?” Dan sedikit bingung
“Sudah jelas bukan?” Rina tersenyum lagi
“Kau tak perlu berpura-pura Dan.. aku tau kau tau”
gadis itu mengalihkan pandangannya
Sepertinya
Dan telah melakukan hal yang salah sehingga membuat Rina terlihat sedikit
jengkel. Tapi benar, Dan semakin memacu pikirannya, apa yang dimaksud Rina.
Kemudian dia teringat Alan.
“Ooh,,, itu... Dasar, kau masih ingat pernah
menjebakku tahun lalu bukan?” akhirnya Dan mengerti
“Hmm” Rina tersenyum kecil sambil menyipitkan
matanya
“Hmmph,
jebakan yang sangat menyakitkan” kali ini, Dan yang mengalihkan pandangannya,
seperti orang yang sedang kesal akan sesuatu dia membuat bibirnya terlihat
seolah-olah sedang jengkel
Rina kemudian melangkah lebih cepat sekarang,
sehingga dia berada sedikit di depan Dan.
“Ayolah, itu disengaja” kini Rina terkekeh pelan
“Hmmph, disengaja benar”
“Kalau tidak seperti itu tidak akan berhasil bukan?”
“Tak pernah kusangka aku akan jadi muram seperti itu”
“Hehehe,, maaf-maaf” sekali lagi Rina tersenyum
“Iya ka, trims” Mereka berdua tersenyum satu sama
lain sekarang
“Jadi, kau akan ke sekolah lagi?” Rina bertanya
“Ya benar, tapi siapa yang memberitahumu?”
“Andin yang bilang, katanya dia harus latihan hari
ini”
“Ooh, kau sendiri?” Dan tersenyum kecil
“Hmm,, entahlah”
“Tolong jangan coba menjebakku lagi”
“Hahaha,, tenang saja, aku menolak permintaan mereka
tadi, aku bilang itu sudah cukup”
“Baiklah, kau sungguh baik Na”
Memang,
sungguh suatu anugrah Dan bisa bertemu dengan gadis itu. Dia telah mengenalnya
selama hampir 3 tahun dan Dan yakin Rina juga seperti itu.
Tak
lama mereka berjalan, sampailah Rina di rumahnya, sekarang tinggal Dan yang
harus melanjutkan perjalanan sendiri. Dia tak apa, dia sudah terbiasa
melanjutkan perjalanan sendiri saat berjalan pulang bersama Rina dan Rina sudah
sampai di depan rumahnya.
“Dan..” gadis itu memanggilnya lembut
“Maafkan aku”
“Memangnya
untuk apa?” Dan berkata seolah-olah dia tak mengerti maksud Rina itu, walaupun
hampir setiap saat mereka jalan pulang bersama, Rina selalu mengatakannya
“Aku tak bisa memberikanmu hadiah di ulang tahunmu
ini” katanya rendah sambil menunduk
Ternyata
Dan salah perkiraan, dia tak menyangka Rina mengatakan hal ini, dia hanya
berpikir Rina akan meminta maaf karena tak bisa menemaninya pulang.
“Ah,
tak apa Rina. Melihatmu dan berjalan bersamamu sudah merupakan hadiah terindah
yang kau berikan untukku” Dan tersenyum
Rina terperanjat, terkejut. Laki-laki itu memang tau
bagaiman cara menyusun kata yang indah
“Tapi” gadis itu mulai mendongak
“Tenanglah,
seperti yang ku bilang tadi. Jangan pernah merepotkan dirimu” sambil dua
jarinya menyentuh dahi Rina mengabaikan hiruk-pikuk orang-orang yang berjalan
“Terima kasih Dan” Dan tersenyum “tapi sebelum kau
pulang, ada yang ingin ku sampaikan padamu”
“Benarkah, apa itu?”
Rina terdiam sejenak. Dan tau dia sedang
mengumpulkan tenaganya untuk bicara
“Ah, tidak jadi” dia menyeringai lebar
“Lho, kenapa Na?”
“Tak, ada apa-apa, nanti saja” dia masih menyeringai
“Hmm...
baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. Sampai jumpa Rina” Dan berjalan sambil
melambaikan satu tangannya kepada Rina, dan gadis itupun melakukan hal yang
sama
#
‘Ckrek’
bunyi kunci pintu yang terbuka menemani sunyinya siang ini. Di halaman itu
banyak terdapat berbagai jenis sepeda motor, dan terkadang beberapa unit
sepeda.
Sunyi
memang, karena ruangan itu terpisah jauh dengan halaman utama dimana para siswa
melakukan kegiatan sore hari disana.
Laki-laki
yang bertubuh hampir kurus itu melangkah masuk ke dalam ruangan yang gelap itu.
Tak banyak yang dapat dia lihat namun samar. Hanya pasangan korden yang
berukuran tak terlalu besar terpampang jelas di depannya.
Laki-laki
itu lantas membuka korden dan menyangga jendela dengan besinya, lantas apa yang
tadinya gelap gulita sekarang menjadi sangat jelas untuk dilihat.
Sebuah
piano tegak berwarna hitam, dua buah keyboard, tiga buah gitar satu melodi,
ritem dan bas, dan beberapa buah biola klasik.
Karpet
yang hangat terkena sinar matahari terasa di kakinya yang telanjang. Dia
menatap ruangan itu sejenak, dindingnya penuh dilapisi dengan kemasan telur dan
sterofom yang menempel kuat disana.
Sambil
menunggu semuanya datang, dia duduk sembari memainkan piano dengan lembut,
lagu-lagu melow yang dia mainkan memenuhi seluruh ruangan, hingga akhirnya
seorang gadis datang.
“Dan!” gadis itu terkejut
“Ah, Nini! Kau membuatku terkejut” Dan menoleh
melihat gadis itu
Sementara, permainan pianonya berhenti karena Dian
sontak saja mengagetkan konsentrasinya.
“Ku rasa ini, terlalu pagi” kata Dan kemudian sambil
menekan tuts piano di depannya
“Hmm..
ya benar, tapi tak ada salahnya aku datang pagi kan” kata gadis itu sambil
memeriksa jam tangannya “Lagipula rumahku jauh dari sini” katanya pelan
“Ya benar, tapi kau bawa sepeda motor bukan?”
“Iya, benar., sudahlah apa yang kita bicarakan”
“Entahlah...”
Percakapan mereka tiba-tiba berhenti kala seseorang
menampakkan dirinya di depan pintu.
“Rina! Apa yang kau lakukan di sini?” kata Dan
sedikit terkejut
“Eh, Rina? Kau sudah selesai?” Kata Nini kepada Rina
yang masih berdiri di depan pintu
“Selesai? Maksudmu?” Dan menyela bingung
Nini
memalingkan pandangannya kepada Dan “Sebenarnya aku tak pulang tadi, namun
pergi ke rumah kakakku di sekitar sini” katanya pelan
“Iya, aku tak terlalu tertarik dengan itu, tapi.. ‘selesai’?”
kata laki-laki itu tambah bingung
Kemudian Nini dan Rina berpandangan dan terkekeh
kecil di sana membuat Dan semakin bingung
“Mau
tau atau mau tau?” kata Rina kemudian masih di depan pintu sambil tersenyum
kecil kepada Dan
“Apa sih yang kalian mainkan?”
“Hmm..
aku juga tak tau” kata Rina sambil memasang muka polos bak anak panda yang
meminta ASI pada ibunya
“Jika kau ingin tau, ayo ikut kami” kata Nini
kemudian
Dan
pun menurut, tapi saat dia hendak memakai alas kakinya tiba-tiba dibalik pintu
itu telah ada beberapa sahabat Rina dan teman Dan.
Dan
sangat terkejut seperti seekor beruang yang di permainkan oleh seekor ikan
buronannya. Bagaimana tidak, diantara sekelompok wajah tua itu terdapat sebuah
nasi tumpeng yang tidak terlalu besar namun di atasnya terdapat lilin yang
berbentuk angka 18.
Dan sangat-sangat mengerti akan hal itu, dia masih
terpaku menatap apa yang tengah dia lihat.
Rina kemudian mengambil nasi tumpeng itu diikuti
dengan sahabat-sahabatnya dibelakang.
“Jadi, kau sudah mengerti maksudnya?” Rina tersenyum
manis sekali kepada laki-laki itu
“I—Iya”
kata Dan terbata-bata, matanya seperti ingin mengelurakan air mata, namun dia
dengan sekuat tenaga menahannya
“Eh, kenapa?” kata gadis itu lembut
“Tak
ada..” masih berkaca-kaca “Sudah ku katakan supaya kau tak perlu merepotkan
dirimu” katanya sambil mengusap air matanya yang hampir jatuh
“Sudahlah,,
tak apa.. aku melakukannya karena aku ingin melakukannya” kata Rina sambil maju
satu langkah ke arah Dan
Mereka
kini berjarak sangat dekat sekali sehingga Rina bisa melihat mata Dan yang
basah terkena air matanya sendiri.
Dan
ingin sekali gadis itu mengusap air mata itu untuknya, namun dia juga mengerti
tak mungkin di hadapan semua wajah polos ini.
“Terima kasih, sebenarnya aku belum terlalu terbiasa
dengan hal ini kau tau”
“Iya, aku sangat mengerti,, tak selamanya kau akan
merayakan ulang tahunmu bukan?”
Dan
terperanjat lalu menatap lekat gadis yang berdiri hampir sampai telinganya itu
di depannya. Ingin sekali dia memeluk gadis itu, namun niatnya tertahan saat
salah satu temannya menuju mereka untuk mengambil gambar dengan ponselnya.
“Ayo, Rina ada yang ingin kau sampaikan?” kata salah
satu sahabatnya
Sekarang
giliran Rina yang malu, wajahnya terlihat jelas hampir memerah. Sedangkan Dan
hanya dapat melihat Nini di belakangnya sedang tersenyum gembira.
“Baiklah”
kata Rina sambil sedikit mendongak menatap Dan “Mungkin, banyak do’a, mimpi dan
harapan yang kau panjatkan di hari ini. Pastinya berharap yang terbaik dan
terindah untuk dapat merubah sikap, merubah kepribadian, merubah pemikiran, dan
merubah segalanya menjadi lebih baik lagi” Rina berhenti sejenak masih menatap
Dan, sepertinya dia masih memikirkan kata-kata selanjutnya “Selamat ulang tahun
ke 18 Dani, semoga kau diberikan umur yang panjang, kesehatan yang selalu
tertimpa, semakin cerdas, semakin dewasa, semoga senantiasa berbakti kepada
orang tua, dan engkau selalu berada dalam lindungan Yang Maha Kuasa... hiks”
Sekarang
Rina yang mulai meneteskan air matanya, seakan-akan dia mengatakan hal itu
kepada dirinya sendiri. Sedangkan dan masih tetap dalam diam, terpaku,
terkesima, tak biasanya Rina bisa mengatakan hal seperti ini dalam waktu yang begitu
singkat.
“...
Serta... serta tetaplah menjadi Dani yang aku sayangi, yang aku kagumi, yang
rendah hati, yang toleran bagi semua teman, sahabat, dan keluargamu. Dan,,
masih lagi yang ingin ku katakan, tapi cukup banyak untuk hari ini, sekali lagi
selamat ulang tahun”
Sekarang
Rina menunduk masih berkaca-kaca sambil mengusap kedua matanya dengan sebelah
tangannya.
“Terima
kasih.. Ini adalah sesuatu yang sangat berarti dan sangat baik khususnya bagiku
sendiri, ku Amin kan semua doamu untukku, tetapi dalam pemikiranku doa itu
bukan hanya untukku seorang, namun jika kau mengizinkan, aku akan membagikan
doa itu untukmu juga”
“Maksudmu?”
sekarang Rina kembali mendongak lagi, kali ini Dan bisa melihat jelas matanya
basah melebihi dirinya
“Sungguh
mengejutkan, sebelumnya aku yang ingin menangis tapi ku tahan, namun sekarang
kau menangis lebih hebat dariku” katanya sambil nyengir lebar
“Ah, maaf hihi” Rina pun ikut tersenyum “Tapi apa,
maksudmu dengan perkataanmu yang tadi?”
“Sudah jelas bukan? Doa itu untukmu juga”
“Tapi, hari ini bukan ulang tahunku”
“Aah,,
tak perlu menunggu ulang tahun untuk memberikan doa Rina, aku selalu berdoa
untukmu setiap hari”
Rina terkejut bukan main, sungguh Dan telah
menyentuh hatinya yang paling dalam.
“Tolong
jangan menangis lagi, aku tak bisa mengusap matamu di depan semua kucing-kucing
ini bukan?” kata Dan bergurau berusaha mencairkan suasana
“Hehe,, baiklah”
Tentu, berhasil.. Rina sekarang ingin tertawa
mendengarnya.
Tiba-tiba
salah satu sahabat Rina berteriak dari belakang membuat semua orang tertawa
mendengar ucapannya
“Hei kalian
berdua, ayolah cepat selesaikan. Tinggal tiup lilin bodoh itu dan potong nasi konyol
itu, kami sudah kelaparan dari tadi”
Sontak semua kepala memandang suara itu dan tertawa
terbahak-bahak, sungguh gadis yang ceria.
Akhirnya
Dan dibantu Rina meniup lilin angka 18 itu kemudian memotong nasi tumpeng itu
memakai sendok makan biasa.
Dengan
desakan yang sangat dari teman-temannya, Dan dan Rina akhirnya mau menyuapi
satu sama lain dan menyuapi satu-satu dari mereka.
Hari
itu menjadi hari yang terindah bagi Dan khususnya dan Rina. Sungguh insan yang
mendukung kehidupan satu sama lain.
Pada
akhirnya latihan telah usai, dan waktu telah menunjukkan pukul 5.50 sore.
Setelah semua pulang dan beres Dan memutuskan untuk menemani Rina untuk pulang
menggunakan angkutan umum yang biasa lalu-lalang di jalanan.
#
Hari
itu upacara berjalan dengan baik, terima kasih untuk para paduan suara yang
telah memberikan usaha yang terbaik untuk hari ini.
Teet.... bel berdering sangat memekikkan telinga.
Walaupun upacara berjalan sukses, tak berarti
pekerjaan lainnya juga ikut sukses.
Dan
berjalan sambil menenteng sebuah flashdisk
di tangannya dengan terburu-buru. Dia memasang raut yang juga terlihat jengkel,
mengapa harus dia yang pergi untuk mencetak dokumen ini padahal tugasnya untuk
hari ini masih lagi.
“Kak Upa,
minta tolong cetakkan dokumen bernama laporan di folder tugas ini” katanya
kepada salah satu petugas Koperasi siswa di sana sembari terus berusaha
terlihat tenang dibalik kejengkelannya.
“Baiklah.. tunggu sebentar” kata Kak Upa sambil
mencolokkan flashdisk itu ke
komputernya
Memang di sekolah itu semua kebutuhan siswa hampir
di sediakan oleh Koperasi siswanya.
Terlepas
dari hal itu, Dan yang sedang duduk di sebuah bangku depan Koperasi mendengar
sesuatu yang tidak ingin sama sekali ia dengar, membuat gejolak dalam hatinya
meningkat lagi.
“Hei,
kau tau. Sepertinya Sami dan Rina kembali menjalin hubungan lagi” kata salah
seorang siswa yang sedang merapikan makanan di sana.
Dan
yang sedang berusaha hampir tenang kembali mendadak merah lagi. Apa yang baru
saja dia dengar.
Dia
tau dan dia sadar tak seharusnya langsung percaya dengan hal itu, namun
kehendaknya berkata lain.
Sesaat,
setelah siswa tersebut terus membicarakan tentang Rina dan Sami yang
desas-desusnya dikabarkan menjalin hubungan lagi, membuat Dan tak bisa lagi
mengekang emosinya.
Darahnya
naik dengan cepat, dia berjalan pelan menuju siswa yang membicarakan hal
tersebut lalu tak di sangka Dan langsung memukuli siswa tersebut sampai hampir
jatuh
“Apa yang kau bicarakan hah!” katanya dengan amarah
yang menggelegar
Semua
mata yang ada di sana memeperhatikan dirinya seorang. Dan juga tak sadar dia
melakukan hal tersebut, padahal dia tak pernah sekalipun sampai detik ini
melakukan hal yang keji tersebut.
Semua
terdiam, dan sepertinya siswa yang bergosip tadi menyadari bahwa dia salah dan
kurang peka lewat tatapan matanya kepada Dan.
Segera
setelah hal itu, Dan langsung sadar bahwa tak ada gunanya melanjutkan. Dia
sontak langsung mengambil flashdisk
dan dokumen laporan yang telah tercetak lalu memberikan sejumlah uang kepada
Kak Upa kemudian langsung bergegas pergi.
Sesampainya
di kelas, dia mendapatkan suasana yang berbeda, sepertinya kabar tentang
dirinya yang memukuli salah seorang siswa di sana belum sampai di telinga
kelasnya.
Dan
hanya bersyukur lega. Menyerahkan dokumen itu kepada teman kelompoknya kemudian
langsung membenamkan diri di balik kursinya berharap agar waktu bisa ia putar
kembali sehingga kejadian memalukan tadi tidak terjadi.
“Panggilan kepada Dani Ganta dimohon menuju ruangan
badan konseling, terima kasih”
Suara itu terdengar samar-samar dalam ruangan kelas
itu, namun begitu jelas di telinganya.
Apa
yang telah ia lakukan sebegitu sangat sehingga dia dipanggil ke ruang BK,
apakah karena hal memalukan tempo waktu, dia tak tau. Dia hanya sadar bahwa dia
berjalan dengan pelan meninggalkan ruang kelas itu dengan hampa.
Begitu
sampai di depan sebuah ruangan yang bertuliskan Badan Konseling, dia menghirup
nafas dalam lalu menghembuskannya pelan keluar, memastikan bahwa jika apa yang
ia khawatirkan bisa ia tangani dengan santai.
“Permisi
Bu..” kata lelaki itu dengan sopan sembari melangkah masuk ke dalam ruangan yg
pengap itu
“Ah, Dani.. mari duduk” sapa seorang wanita di
depannya
“Kamu tau kenapa kau dipanggil?” kata wanita itu
ramah dibalik wajahnya
“Entahlah bu, minum secangkir teh?” katanya berusaha
mencairkan suasana
“Heheh, kau memang murid yang hebat Dani” wanita itu
terkekeh
“Jadi, apa
yang bisa saya bantu bu?” ucap Dan langsung to the point, karena ia tak mau
berlama-lama di ruangan itu
“Beberapa
menit yang lalu kami mendapat laporan bahwa kamu bertengkar dengan salah satu murid
di sini, benar?”
Sontak
Dan langsung terkejut bukan main, matanya kosong menatap ke bawah menyadari
bahwa apa yang dia khawatirkan itu memang terjadi.
Untuk
beberapa saat Dan tak bisa berbicara sepatah kata pun, dia hanya menyadari
bahwa ancang-ancangnya kurang tepat.
“Be..Benar
bu” ucapnya melemah kemudian “Tapi tolong bu, itu tak saya sengaja.. tolong
jangan keluarkan saya dari sekolah ini”
“Maafkan Ibu Dan, kau sudah tau betul aturan di
sekolah kita ini” wanita itupun ikut melemah
Tak peduli apapun alasan yang Dan berikan, tak sedikitpun
dapat melonggarkannya dari aturan itu
“Tapi bu... tolong beri saya keringanan” katanya
memohon
“Huff,, baiklah Ibu akan berikan keringanan untuk
tidak mengeluarkanmu dari sekolah ini”
Mendengar hal itu batin Dan sontak langsung kembali
cerah seperti semula lagi
“Namun
memindahkanmu ke sekolah lain” kata wanita itu kemudian “Tapi, Ibu akan
bicarakan hal ini dengan kepala sekolah dahulu, ini pelanggaran yang sangat
berat Dani”
Dan yang semula tersenyum, kembali murung lagi
mendengarnya, tak ada bedanya.
“Baiklah bu, terima kasih banyak” kata Dan kemudian
melangkah meninggalkan ruangan itu
“Dani...” “Maafkan Ibu nak”
Dan menoleh dan hanya tersenyum sekilas lalu pergi.
#
Laki-laki
itu berjalan pelan menyusuri jalan setapak yang terbuat dari semen dan kerikil
berwarna-warni di sekolahnya, sambil memikirkan keputusan final dari sang
sekolah. Makin memikirkannya, makin murung wajahnya.
Namun,
ada satu hal yang bisa membuatnya tersenyum sejenak. Wajah seorang gadis
melambaikan tangannya kepadanya dari kejauhan
“Hai Dan. Apa kabarmu?” kata gadis itu
“Hai juga Rina, aku baik.. kau sendiri?”
“Sangat baik” dia tersenyum, mereka tersenyum “Jadi
kau akan pulang?”
“Ya, kau juga Rin?”
“Hmm,, iya” gadis itu nyengir lebar
Itu
memang senyuman yang bisa membuat Dan bahagia untuk sejenak, namun beban yang
menunggunya sangatlah berat mampu meruntuhkan seluruh dinasti Cina sekalipun.
Dia
hanya bisa membalas senyuman gadis itu dan menemaninya berjalan pulang untuk
hari ini, dan mungkin untuk yang terakhir, karena dia tau Senin lusa dia sudah
tak di sekolah ini lagi.
Dia
hanya ingin memberitau gadis itu tentang apa yang menimpanya, namun tak bisa ia
ucapkan meski satu huruf pun. Dan tak bisa mengambil resiko menyakitkan hati
gadis itu, ataupun membuatnya tak nyaman, atau yang paling parah membuatnya
meneteskan air mata.
Dan
hanya ingin menatap gadis itu, senyumnya, setidaknya untuk hari ini. Mendengar
suaranya bagaikan musik di telinga Dan.
“Aku,
pulang dulu.. Seperti biasa maaf, aku hanya bisa menemanimu sampai di sini”
kata Dan sedikit kacau, namun dia tersenyum
“Hehe, tak apa..” Rina juga tersenyum “Seperti
biasa, kau hati-hati di jalan”
Dan mengangguk lemah kemudian berjalan ke depan
sambil melambaikan tangannya.
#
Pagi itu cerah namun langit masih terlihat gelap
karena masih terlalu pagi.
Dan
terpaku menatap bintang yang masih bersinar terang berharap bahwa itu
memberikannya segenggam semangat.
Setelah
dia membasuh dirinya dan sarapan, Dan mulai berkemas karena sekolah tempat ia
dipindahkan sedikit jauh dari tempat tinggalnya sekarang hingga akhirnya
setelah berdiskusi dengan orang tuanya, Dan setuju bahwa dia harus tinggal di
sebuah kosan.
“Dani berangkat Bu, Yah” katanya sambil mencium
kedua tangan orang tuanya itu
“Hati-hatilah nak” Ibunya tersenyum
“Kami akan mengunjungimu setiap akhir pekan” Ayahnya
berkata
“Tenang saja, Dani sudah 18 tahun..” Dan nyengir
Akhirnya
dengan salam perpisahan yang sederhana, Dan meninggalkan rumahnya yang
membuatnya terkenang begitu lama, sekarang menuju sebuah rumah yang telah
disiapkan sebelumnya untuk ia tulis lembaran baru kenangannya.
Sesampainya
di tujuan, dia menemukan bahwa pemilik kos itu memang merupakan sahabat karib
ibunya membuat Dan juga merasa lebih cepat beradaptasi.
Dia
masuk ke kamarnya, dan setelah melakukan sedikit pembersihan dia membenamkan
diri di atas tempat tidurnya.
Baju-bajunya
masih tergeletak di koper dan tasnya. Dia sekarang mengambil ponselnya dan
menatap lekat pesan-pesan dari kemarin malam yang tak ia hiraukan.
Beberapa
pesan singkat dari gadis pujaanya kerap kali menghubunginya, namun Dan tak ada
niat membalas pesan itu atau mengangkat telpon itu.
Dia
hanya bisa yakin bahwa Rina dapat mengerti keadaanya sekarang ini, dia yakin
lambat-laun dia akan mengerti.
Akhirnya, hari yang dia nanti untuk mengukir sejarah
baru telah datang.
Senin,
pagi. Cuaca begitu cerah seperti biasanya. Bunyi gemercik air dan
seretan-seretan pakaian terdengar hingga ke lorong-lorong ruangan.
Saat
dia hendak melangkah, dia berhenti sejenak dan menatap ponselnya berbunyi,
hendak dia ingin mengambil ponselnya dia tertahan, waktu telah menunjukkan
pukul 7:30 dia langsung berangkat dan tak mau terlambat sedikitpun hari ini.
Dengan
nafas yang berusaha dia ringankan dia masuk ke sebuah ruangan dimana disana tak
ada satupun wajah yang ia kenali baik lelaki maupun perempuan. Dia hanya
membiarkan semua tatap mata itu memandangnya heran.
Beberapa
saat bel berbunyi, suaranya sangat berbeda dengan yang biasa didengarnya.
Kemudian tak lama seorang guru datang dengan langkah kaki yang mantap. Pria itu
duduk di meja kursinya dan dengan ceria dia memulai pembicaraan
“Selamat
pagi anak-anak, hari yang begitu cerah bukan?” katanya dengan ekspresi yang Dan
pikir dia buat-buat
“Seperti
yang kita semua tau, pasti kalian bertanya-tanya bahwasanya ada sesuatu yang
sedikit berbeda dengan kelas kita pada hari ini” “Ya benar, mulai hari ini
seorang murid telah bertambah dan marilah kita persilahkan untuk memperkenalkan
dirinya” kata sang guru sambil menunjuk Dan dari ujung ruangan
Dengan sedikit gugup, Dan melangkah dan mulai
berbicara seadanya
“Nama
saya Dani Ganta, saya dipindahkan ke sekolah ini karena keadaan.. dan saya
sangat menanti kerja sama dari teman-teman semua”
Setelah itu dia langsung kembali ke tempat duduknya
dan membiarkan Pria itu mengoceh lagi.
“Hai,
Dani aku Wawan, senang bertemu kau” kata teman duduknya yang baru tersenyum
sembari menjulurkan tangannya untuk berkenalan
“Hai,
Wawan. Senang bertemu kau juga. Kau bisa panggil aku Dan saja” ucap Dan
menyambut tangan teman barunya itu dengan senyuman
#
Waktu
kian berlalu, sekarang Dan sudah merasa satu dengan sekolah barunya begitu juga
dengan lingkungan sekitarnya. Orang tuanya juga terkadang datang ke kosnya
untuk menjenguknya.
Walaupun
terkadang Dan merasa khawatir dengan keadaan orang yang paling dinantikannya,
Rina. Baru sekarang dia merasa bodoh tak pernah memberitahu Rina tentang
kabarnya, dan kenapa dia pindah.
Mungkin
gadis itu sekarang tak pernah berhenti resah, walaupun Dan yakin bahwa Rina tau
bahwa dia telah pindah sekolah.
Mungkin
juga Rina sedang marah tak terkendali karena sikapnya yang semena-mena, dia
mungkin tak ingin bicara lagi walaupun Dan berusaha menghubunginya. Terlebih
lagi Dan telah mengganti nomor ponselnya.
“Hai, Wawan.. terima kasih kau membuatku tersedak”
kata Dan tersenyum
“Eehh,
tak kusangka jika di hari aku bertemu denganmu kau begitu polos, sekarang
menjadi seorang yang mudah tersinggung”
“Aku hanya bercanda Wan, memangnya ada apa?”
“Ah, aku hampir lupa.. Kau tau kabar terbaru?”
“Kabar apa?” Dan mulai bingung
“Kalau hari ini ada seorang murid baru di sekolah
kita” kata Wawan begitu semangat
“Benarkah?” kata Dan sedikit terkejut
“Iya, dan terlebih lagi katanya dia berasal dari
sekolahmu yang dulu juga”
Dan
yang tengah mengunyah makanannya tiba-tiba tersedak hebat hingga hampir
memuntahkan makanannya itu, namun untung saja dia masih bisa menahannya
walaupun matanya berubah merah dan berair.
“Kau tak apa? Kau begitu kaget” kata Wawan
“Ekhm..
aku tak apa” katanya kemudian meneguk air minum “Apa kau bilang tadi?” katanya
kemudian
“Iya, dia murid pindahan dari sekolahmu dulu?”
“Sungguh? Siapa yang memberitahumu?”
“Yaa..
itu yang kudengar” “Kau ingin bertemu dengannya? Siapa tau kau ingin membuka
kenangan” kata Wawan sambil terkekeh-kekeh
“Hmm..
tak usahlah, aku bisa bertemu dengannya nanti. Lagipula kelas akan dimulai
beberapa menit lagi” “Kelas berapa tadi kau bilang?”
“Hmm.. kelas 11.C”
#
Teet---
suara dering bel berbunyi lantang tanda berakhirnya pelajaran hari ini membuat
seluruh siswa melangkahkan kaki melangkah pulang. Tak terkecuali dengan Dan.
Saat
hendak berjalan pulang, Dan seketika teringat percakapannya dengan Wawan saat
istirahat tadi.
Dan
penasaran siapa yang dimaksud Wawan, terlebih lagi dia berasal dari sekolah
yang sama dulunya.
Lantas Dan pun berjalan menuju kelas 11.C dengan
tujuan hanya melintas saja.
Begitu
dia melintas, dia memalingkan pandangannya sejenak ke dalam ruangan kelas itu.
Hampir semua isinya telah hilang terkecuali satu orang yang masih
berkemas-kemas.
Ternyata
perempuan, pikir Dan. Diapun menyipitkan matanya untuk memperjelas pandangannya
ke dalam ruangan itu. Dan betapa terkejutnya Dan saat perempuan itu membalikkan
badannya dan sepertinya perempuan itu juga merasa hal yang sama.
Mereka
berdua terpaku satu sama lain, menatap kosong masih terkejut, tidak percaya apa
yang dilihatnya.
“Rina?”
“Dan?”
Mereka hampir mengucap nama satu sama lain dalam
tempo yang sama.
Mereka hanya
terdiam seribu bahasa tak tau apa yang harus mereka ucapkan masing-masing.
Hanya bisa memandang diri mereka yang berdiri diam tanpa gerak satupun.
Sungguh
pertemuan yang tak terduga. Dan sama sekali tidak menyangka bahwa dia akan
bertemu Rina lagi di tempat seperti ini.
Dalam diam, Rina memberanikan diri melangkah duluan.
Dan bergerak sedikit menaikkan bahunya.
Dia melihat Rina melangkah dengan begitu cepat ke
arahnya sambil menundukkan kepalanya.
Begitu
gadis itu berada beberapa senti di depannya, Dan sekali lagi bisa melihat wajah
yang sangat dirindukannya begitu lama. Namun apa yang terjadi diluar ekspektasi
Dan, dan mungkin juga Dan telah tau hal ini akan terjadi.
Rina berjalan dengan cepat melewati Dan seakan
lelaki itu tak pernah berdiri di sana.
“Rina!” “Tunggu..” kata Dan berteriak membuat
langkah gadis itu terhenti
“Kenapa?” katanya pelan kepada gadis itu
Rina
memutar badannya seratus delapanpuluh derajat, dan kini Dan bisa melihat dengan
jelas gadis itu menangis tanpa suara.
“Kenapa? Kenapa?! Setelah semua ini?” kata Rina. Dia
jelas terlihat marah
Dan
Dan sangat mengerti semua itu, dia hanya pasrah apapun yang akan dikatakan Rina
sekarang, dia akan menerimanya. Namun, Rina tak mengeluarkan sepatah katapun
melainkan hanya suara tangis yang tak bisa ia bendung lagi.
Melihat
itu, sontak tubuh Dani bergerak sendiri. Dia melangkah maju dan langsung
menyeret tangan Rina pergi dari sana. Dan tau bahwa Rina sangat terkejut, namun
dia tak melawan sama sekali.
Enatah
apa yang dipikirkan Dan, pikirannya kosong. Yang dia tau sekarang hanyalah dia
sedang menggenggam tangan Rina dan berjalan kemudian berhenti di taman depan
sekolah.
Dan
berdiri di depan Rina yang masih terkejut dan masih meneteskan air mata namun
tak sebanyak yang tadi.
“Maafkan
aku Rina” tangannya sekarang mengepal kuat “Aku tau aku salah, aku bodoh, aku
konyol. Aku tau kau marah kepadaku karena aku tak memberitahumu tentang hal ini
jauh hari sebelum aku pergi. Aku minta maaf, aku hanya ingin kau mengerti
keadaanku sekarang Rina” kalimat-kalimat itu terlontar begitu saja dari
mulutnya tanpa dia sadari, seperti dia ingin sekali mengucapkan kalimat itu lama
sekali
“Kau
tau? Setiap hari aku berusaha menghubungimu, namun kenapa kau tidak menjawabku?
Apakah semua pesanku disadap?” katanya masih berkaca-kaca
“Tidak, tentu saja tidak. Aku menerima semua
pesanmu, hanya saja---“
“Hanya apa?! Kau tidak peduli denganku lagi?”
katanya sedikit keras kali ini
“Hanya
saja aku tak tau harus menjawab apa. Aku selalu hampir menangis membaca pesan
darimu, hingga aku mengganti nomor ponselku”
Rina
sangat terkejut dia langsung membenamkan diri menutup mukanya di bangku di
depannya. Suaranya terdengar menangis lagi
“Maafkan aku Rina. Karena aku mencintaimu” katanya
pelan
Rina mendadak berhenti menangis, sekarang dia
mendongak menatap Dan berdiri di depannya.
“Kenapa kau pergi Dan?” sepertinya dia sudah mulai
tenang sekarang
“Seperti
yang aku katakan tadi, kau mengerti keadaanku Rina” katanya sekarang duduk di
samping Rina bersandar di bangku itu
“Keadaanmu?” katanya pelan
“Iya, mungkin kau telah mendengar bahwa aku
dipindahkan karena melanggar aturan sekolah”
“Iya, aku telah mendengarnya”
“Dulu
itu, aku sedang berada di koperasi sekolah. Namun tak sengaja aku mendengar
sesuatu yang kurang nyaman”
“Sesuatu?”
“Iya,
aku mendengar bahwa kau dengan Sami bersama lagi. Mulanya aku bersikap biasa
saja. Namun mereka tetap saja berbicara tentang hal bodoh itu hingga akhirnya
tak sengaja aku memukul salah satu diantara mereka” Dan bercerita sambil
sesekali tertawa kecil mengingat kejadian konyol yang dialaminya
“Begitu ya” “Terkadang kau sangat mengerikan saat
marah kau tau?” Rina tersenyum ke arah Dan
Dan
menatap gadis itu, senyumannya masih sama persis terkahir kali dia melihat
senyum itu. Dan Dan sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan gadis itu lagi.
“Hmmm?”
“Ya, kenapa kau pindah kemari?”
“Ooh..Sebenarnya aku dulu memang bercita-cita
sekolah di sini”
“Benarkah?”
“Iya,
karena dulu aku lahir di kota ini dan besar di kota ini. Namun Ibuku tak ingin
aku sekolah di sini karena kami pindah rumah hingga aku tak jadi sekolah di
sini” Rina tersenyum “Ini seperti aku pulang kampung” katanya nyengir
“Eeeh”
“Sekarang
aku pindah kesini karena dua alasan. Yang pertama karena Ibuku bekerja di kota
ini, dia bekerja dalam waktu yang lumayan panjang katanya, hingga aku ditawarkan
untuk ikut dengannya dan sekolah di sini mengingat aku sangat ingin sekolah di
sini dulu”
“Begitu ya.. Lalu yang kedua?”
“Hmm.. Sudah jelas bukan?” katanya nyengir lagi
“Maksudmu?” Dan bingung
“Untuk menyusulmu lah” sekarang senyum Rina bertambah
lebar
Dan baru
sadar bahwa gadis itu sekarang lebih sedikit terbuka kepadanya. Mungkin suatu
kejadian telah merubahnya. Namun Dan tak mau tau, satu yang penting bahwa gadis
itu sekarang berada di sini, di dekatnya, seseorang yang merubah dirinya menjadi
lebih dewasa, seseorang yang selalu memberikannya dukungan dan semangat kala
dia jatuh.
“Soal kabar
yang tak jelas itu tolong jangan kau dengarkan, karena itu tak benar sama
sekali, seperti yang sering ku katakan.. jangan pernah dengarkan apa yang orang-orang
katakan tentang kita biarkan seperti angin yang berlalu, buang negatifnya ambil
baiknya” kata Rina sekarang menyandarkan dirinya pada Dan
Dan
yang sedikit terkejut hanya bisa membalasnya dengan menggenggam tangan gadis
itu dengan lembut dan tak pernah membiarkannya berlari lagi.
“Tenang saja. Kau tau aku”
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tolonglah berkomentar dengan sopan, NO SPAM!, dan dengan bahasa yang santun pula. Karena komentar anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini ke depannya.