10 Desember 2017

Separuh Mentari Sore Untukmu



20 Juli 2017



Tubuhku terasa dingin, apakah karena aku berada sendiri di dalam kamar yang gelap serta kosong ini, ataukah karena tiupan angin yang membawa udara lembab masuk melalui celah-celah jendela serta gorden gelap yang hanya bisa aku raba dalam kebisuan.

Lantunan lagu kesukaanku dari tape recorder satu-satunya yang bisa aku operasikan diantara barang-barang asing lainnya berdengung mesra di kedua telingaku seakan-akan aku bisa melihat penyanyi aslinya sedang memegang mikrofon sambil melenggokkan tangannya menyapa penonton yang juga ikut bernyanyi bersama dengannya.

Perlahan aku kembali merebahkan tubuhku dengan pelan diatas kasur empuk yang entah terbuat dari apa namun terasa seperti busa yang disusun sedemikian rupa untuk memberikan mimpi indah bagi siapa saja yang berani tidur diatasnya. Selimut tipis itu kutarik hingga sampai leherku, sementara aku meringkuk dalam kegelapan dunia membenamkan diri pada kehangatan fisik yang diberikan oleh selimutku.

Sementara musik pada tape recorder itu terus bernyanyi, khayalanku terputus ketika sebuah suara ketukan pintu berdentum di gendang telingaku mengisyaratkan sesuatu yang sangat penting sekali, atau mungkin hanya firasatku saja yang berpikir seperti itu karena sejak lama aku diajarkan untuk selalu berpikir cepat dan bertindak cepat jika ada sesuatu yang menghalangi jalanku, atau lebih nyatanya jika ada seseorang yang membutuhkan diriku.

Tok-tok “Tia?” suaranya memanggilku perlahan dibalik kusen pintu itu, aku pun bangkit seketika berniat untuk menghadapinya empat mata secara langsung melepas diriku dari kehangatan selimut menuju udara segar nan dingin sambil meraba jalan dengan kakiku.

“Buka saja, pintunya tidak terkunci” teriak ku perlahan berharap si pemanggil dapat mendengarnya, walaupun aku yakin teriakan ku sudah melebihi apa yang diharapkannya

Derap kaki orang itu kudengar perlahan dari balik bisingnya denyitan pintu yang terbuka membelalak mungkin karena sudah tua dan usang, engsel-engselnya pastilah sudah berkarat dan pintunya pastilah sudah rapuh ditandai dengan bubuk-bubuk kayu yang tertumpuk merata dibawah kakinya. Tapi tetap saja pintu tua itu tak pernah diganti sampai Ia benar-benar roboh dengan sendirinya.

“Hai Tia” sapa suara itu yang kini berasa tepat berada di depanku

“Diana, kaukah itu?” balasku pelan

Walaupun gelap tapi aku bisa merasakan hembusan nafasnya dengan sangat halus seperti nafas kucing yang sedang mendengkur dalam tidurnya, dan sekarang aku merasa begitu dekat dengan orang itu.

“Iya ini aku” katanya lagi

Aku meraba-raba mencari sumber suaranya, wajahnya dan kutemukan. Tanganku dengan tenang menemukan kedetailan dari wajah orang itu memastikan bahwa Ia bukanlah seorang


penjahat yang akan menculikku beberapa menit lagi, walaupun dari warna suaranya saja sudah cukup bagiku untuk mengenali Diana.

“Sudahlah ini aku” katanya pelan sambil menghembuskan nafas dan menyingkirkan tanganku dari wajahnya tanpa melepaskannya dengan segera

“Ah maaf Diana, aku hanya ingin memastikan” tuturku

“Jadi apa yang sedang kau lakukan?” dia bertanya sambil memegang tanganku, menyeretnya kembali masuk dalam kamarku yang masih terasa dingin

Diana kemudian mendudukkanku di seberang tempat tidurku, sementara aku tidak begitu paham apa yang sedang dia lakukan karena suasananya memang gelap sekali.

“Seperti biasa” kataku sambil tersenyum tanpa memandang wajahnya yang aku tak tau berada dimana sekarang

Hembusan iliran angin kembali memenuhi telingaku membawa seberkas aura dingin untukku santap lagi pada hari itu, ingin sekali aku kembali tidur, menarik selimutku, membenamkan diriku, melenyapkan semua pikiranku dari gelapnya dunia ini kemudian menuju mimpi dimana aku bisa berimajinasi sepuasku, dimana aku bisa melihat bermacam-macam rupa, dimana aku bisa bercengkrama, dimana aku bisa melihat ekspresi orang-orang yang melihatku memainkan recorderku dengan lembut.

Aku memang buta sejak aku mengalami insiden di pabrik kimia ketika sekolahku mengadakan study khusus untuk langsung belajar di lapangan. Saat itu, tanpa sengaja aku dengan rasa penasaran menuangkan sebuah cairan kimia ke cairan lainnya tanpa aku tau apa yang sedang kulakukan dan apakah cairan kimia itu berbahaya atau tidak, aku masih kelas 6 SD saat itu. Dan tanpa aba-aba sama sekali, campuran cairan itu aku pikir akan menjadi sebuah senyawa yang luar biasa kegunaannya seperti yang pernah aku lihat pada kartun kesukaanku di tv, tetapi naas senyawa itu langsung meledak dan tanpa siap aku yang tidak mengenakan perlengkapan pengaman apapun langsung terlempar dari tempatku berdiri yang tak kusadari seberapa jauh aku terlempar, dan pada saat itu juga aku menemukan kegelapan abadi dalam hidupku, yang aku dengar hanyalah teriakan-teriakan histeris dari orang-orang disekitarku mungkin melihatku dengan sangat iba.

Setelah itu aku tak tau apa yang terjadi di atas dunia ini, satu-satunya adalah bahwa aku hanya bisa meraba-raba dalam kegelapan.

Hingga akhirnya sekarang aku sekolah di sekolah menengah pertama di desaku. Karena saat itu belum ada sekolah khusus yang akan menampung orang-orang cacat sepertiku, jadi aku mau-tidak mau harus menahan segala siksaan fisik yang menerpaku sebagai satu-satunya siswa yang berbeda di sekolah ini, sampai-sampai aku ingin mengakhiri hidupku saja sebagai seorang manusia. Kedua orang tuaku pun hanya bisa pasrah dan kerap kali kudengar menangis pada malam harinya entah dengan alasan yang tak kumengerti sama sekali tapi pasti initinya adalah karena aku.


Dan begitu aku di sekolah, berbagai macam hinaan polos dari teman-temanku selalu berdengung didalam telingaku, kemudian ke otakku dan akhirnya sampai di dasar hatiku. Ingin sekali aku menghajar orang-orang seperti itu, walaupun mereka tidak sadar dengan apa yang dirasakan oleh orang lain, tapi tetap saja aku hanya bisa terdiam menutup telingaku karena tak bisa melihat siapa dan darimana suara itu datang karena sebegitu banyaknya.

Hingga akhirnya aku bertemu dengan Diana, dia adalah teman sebangkuku sejak kelas satu SMP, dan sekarang menjelma menjadi sahabatku. Diana seperti matahari bagiku, dia seperti mata yang pernah aku gunakan untuk melihat sebelumnya, dia ada di saat orang-orang selalu mengejekku, Diana selalu menjagaku dan membelaku dengan lantang, di saat aku sedang sendiri meratapi diriku yang tak pernah ada akhirnya, Diana selalu datang dan memberikanku tempat untuk melepaskan semua kemarahanku, dan dia juga yang membantuku untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru, walaupun aku merasa sedikit dibedakan karena diberikan tugas yang lebih mudah daripada yang lainnya.



Aku terkejut merasa ada perubahan kondisi pada tubuhku, aku merasa sedikit lebih hangat daripada sebelumnya, walaupun sang angin dingin masih membisikku dari daun-daun telingaku dengan nadanya yang lembut.

“Pakailah” kata Diana perlahan dan terasa sedang tersenyum

“Apa ini?” tanyaku sambil mendekap erat sebuah kain yang diberikan oleh Diana kepadaku

“Itu sweaterku, aku rasa itu bisa membuat dirimu lebih hangat di cuaca seperti ini” jelasnya

Aku terdiam sejenak memikirkan diriku yang tidak bisa melakukan apa-apa sendiri, entahlah apa aku harus menolak bantuan dari orang lain atau tidak, ini begitu memalukan bagiku tapi mengapa juga aku harus menolak bantuan dari orang lain toh aku juga benar tidak bisa melakukan apapun sendiri.

“Diana?” panggilku pada gadis itu

“Hmm” gumamnya perlahan

“Apa cuaca di luar hujan?”

“Iya, sedikit gerimis. Bagaimana kau bisa tau?” katanya penuh minat padaku

“Entahlah, aku rasa aku bisa mendengarnya” jawabku sambil tersenyum kecil

Giliran Diana yang terdiam sekarang, aku mendengarnya sedang menarik kursi di meja dekat tempat tidurku, pasti dari derit suara kayu kursinya di lantai. Dan sekarang dia sedang membolak-balikkan kertas-per kertas dari sebuah buku.

“Apa yang kau lakukan Diana?” tanyaku

“Coba dengar, kau pasti tau kan?” dia bertanya kembali

“Hmmm.. kau sedang membaca?” jawabku terheran

“Iya benar sekali!” katanya sedikit bersemangat sekarang

Aku berpikir dalam tentang gadis ini, apa yang terjadi dengannya. Beberapa saat yang lalu, suaranya begitu pelan seperti sedang tidak bahagia sama sekali, tetapi sekarang auranya berubah menjadi sangat menyenangkan.

“Apa tepatnya yang kau baca?”

“Ah, bukan apa-apa. Aku hanya membaca diary mu”

“Apa? Kembalikan! Itu privasi!” kataku sekarang bangkit mencoba merebut kembali buku harian itu dari Diana

“Sudahlah, kita kan sahabat. Apa masalahnya?!” katanya sambil membendung tanganku yang kesana kemari tanpa arah dan tujuan dimana buku itu berada

Aku sedikit terenyuh mendengar kata „sahabat‟ dari Diana, ini baru pertama kalinya dia menyebutku begitu. Walaupun aku sudah lama menganggapnya sebagai sahabat, tetapi aku tak pernah menyebut-nyebut soal sahabat kepadanya, dan aku kira kami telah mengerti satu sama lain.

“Huuh!” dengus ku sedikit kesal namun sebenarnya dalam hatiku aku senang dengan kondisi ini. Perlahan aku kembali berjalan menuju tempat tidurku dan duduk seperti biasa masih mendekap sweater hangat yang diberikan Diana untukku

“Kau tau, Tia. Aku bangga padamu” katanya pelan masih membalik-balik halaman kertas buku harian itu ditangannya “Kau adalah gadis yang luar biasa, walaupun kau tidak melihat yang kulihat tapi kau mendengar apa yang tidak aku dengar” lanjutnya setelah aku terdiam beberapa detik tidak menjawab

“Trims, Diana” kataku tidak tau harus berkata apalagi

“Tidak, aku serius! Maksudku bagaimana mungkin kau bisa mengetahui wujud orang lain tanpa melihatnya?”

“Apa maksudmu?” tanyaku heran

“Maksudku, kau tidak benar-benar menyukai si Alfi bukan?”

Mendengar kalimat itu, aku merasa wajahku langsung memerah. Hangat dan semakin hangat, tidak menghiraukan cuaca yang saat itu sedang dingin-dinginnya seakan-akan langsung berubah dengan seketika menjadi suasana yang sangat hangat.

Tanpa ada konfirmasi sebelumnya aku langsung menerjang Diana dengan sekuat tenagaku sambil berusaha mengambil buku harianku kembali walaupun harus dengan robek sebagai bayarannya.


Diana yang belum siap menerimaku langsung terkejut dan memberontak, sementara aku masih memegang tangannya dan mengunci tubuhnya dengan tanganku sambil meraba ujung tangannya mencari buku harian itu sementara dia hanya tertawa geli melihat tingkahku seperti itu.

“Mana bukuku?!” teriakku namun masih dengan nada yang terdengar seperti bercanda

“Aku tidak tau!” balasnya berteriak “Lepaskan aku Tia! Kau tidak merasa bahwa kita akan jatuh sebentar lagi bukan?!”

Akhirnya dengan tangan yang satunya lagi aku berhasil meraih sebuah buku yang tergenggam erat pada tangan yang lainnya.

“Aha!”

Kami terdiam sejenak merasa ada yang aneh dengan posisi kami, aku tidak ingat bahwa Diana sedang duduk pada kursi kayu yang sudah berumur sebelum aku menerjangnya, itu artinya aku langsung mendekap Diana diatas kursi itu?

Kemudian terdengar suara jerit kayu dengan perlahan dari bawah kami. Kursi kayu itu kini terasa memberikan karmanya kepadaku dan Diana, perlahan-lahan aku merasakan tubuhku terayun kebawah dan tak bisa bergerak karena memikirkan kami berdua akan jatuh dilantai.

“Tia?” kata Diana dengan pelan sekali sambil mencoba mempertahankan posisinya dengan sebelah tangannya yang kurasa sedang menahan tubuh kami berdua diatas kursi reot itu pada sebuah lemari disebelahnya

Tapi nyatanya hal itu hanya berguna untuk sementara saja, rupanya karma dari sang kursi tidak memberikan kami untuk lebih berlama-lama lagi diatas kursi, dan akhirnya “Gubrak!!!” separuh dari kaki kursi itu patah menjadi dua, dan tiga sisanya lagi tak kuat menyeimbangkan posisinya sehingga menjungkalkan kami ke lantai dengan suara tubuh jatuh yang lumayan besar.

“Aduh, mmm Tia” ucap Diana dengan nada yang mendesah

“Ah, maaf!” kataku kemudian langsung menyingkirkan diriku setelah mengetahui bahwa kami terjatuh ke lantai berdua dengan posisi aku di atas menindih Diana yang terkulai tak berdaya di lantai

“Ini salahmu!” teriakku pada Diana yang sekarang ku rasakan dengan tanganku sudah duduk normal kembali

“Salahku?! Kau yang tiba-tiba terjun dari belakangku Tia!” balasnya berteriak

“Ada apa ini ribut-ribut, suaranya seperti akan merobohkan rumah ini saja!” kata sebuah suara orang ketiga yang secara tak kami sadari sudah berada di ambang pintu dan sepertinya sedang menyaksikan kami sedang duduk berhadapan dengan sebuah kursi yang sudah patah di tengah-tengahnya dengan konyol “Kenapa kursinya patah?!” lanjutnya bertanya


“Ah tidak apa-apa, bu. Aku hanya menolong Diana yang baru saja terjatuh dari kursi tua ini” kata ku masih dengan nada kesal yang sulit ku sembunyikan

Ibuku terdiam sejenak, aku dengan jelas merasa bahwa pandangannya yang tadi datang dengan emosi perlahan memudar dari suasana hatinya.

“Jika kalian ingin bermain, bermainlah di luar. Hujannya sudah reda” katanya pelan kemudian terdengar berbalik arah menjauhi kami dari derap kakinya

Kami berdua terdiam sejenak, hening untuk beberapa saat. Yang terasa hanya kehangatan sinar matahari yang telah keluar dari balik awan persembunyiannya memberikan harapan bagi kehidupan di muka bumi, aku bisa merasakannya walaupun rupanya masih sama terlihat gelap, bersama dengan angin sepo-sepoi yang membawa arus dingin pergi menjauhi tempat itu.

Aku merasakan tangan Diana menyentuh pundakku namun ku tepis dengan sigap. Aku masih kesal dengannya, tindakannya membuat kami seperti ini, membaca buku yang seharusnya tidak dia baca, dan seharusnya dia lebih mengerti keadaanku saat ini daripada memberikan kalimat yang tidak jelas seperti itu.

Keheningan yang lumayan lama kemudian terpecahkan oleh suara kekeh tawa dari Diana. Semenatara ku yang masih kesal tidak menatapnya sama sekali. Perlahan-lahan gelak tawa Diana semakin menjadi-jadi, dia sekarang tertawa dengan semangat sekali seperti habis menonton film kartun yang paling lucu di dunia sekalipun. Mendengarnya tertawa dengan bebas dan tanpa batas seperti itu membuatku juga ikut terkekeh kecil mengesampingkan perasaan dongkol yang masih mengikatku dan kemudian ikut tertawa lepas seperti yang Diana lakukan.

Sore itu aku merasa sangat bahagia bersama dengan sahabatku sendiri, walaupun perasaan kesalku kepadanya karena telah membaca buku harianku terutama pada halaman yang sangat spesial sekali, tetapi perlahan-lahan perasaan itu mulai reda tergantikan oleh hangatnya aura persahabatan kami yang diiringi oleh kehangatan sang mentari sore.

“Oh ya, apa kau keluar?” Diana bertanya kepadaku dengan nada yang biasanya, seperti hal-hal konyol yang baru saja terjadi tidak pernah terjadi sama sekali dalam hidup kami

Sepertinya bagus jika keluar di bawah sinar matahari sore yang begitu kemilauan ini. Walaupun aku tak bisa melihatnya sama sekali tetapi instingku melihatnya dengan jelas sembari berkata “Inilah waktu yang tepat untuk keluar dan menikmati senja hari”.

“Baiklah, tapi tolong kau jangan meninggalkanku di tengah jalan” jawabku mencoba bergurau

“Tenang saja, lagipula kau bisa melihat dengan kakimu kan, Tia?” balasnya seperti mengejekku dengan keadaan, namun anehnya aku tak menemukan sama sekali nada mengejek dalam kalimatnya itu, dan benar saja itu berhasil dengan sempurna.


Diana menggandengku keluar rumah dengan perlahan seraya aku masih berusaha mengingat langkah-langkah kakiku dan ke arah mana dia berputar, berbalik, dan berpindah. Hampir semua hal yang ku lewati ku raba dan kumasukkan dengan perlahan ke dalam memoriku, kali ini semuanya kulakukan tanpa sadar menggunakan hatiku dan melupakan tentang mataku sama sekali seolah-olah semua orang yang ada di dunia ini terlahir tanpa mata dan hanya mengandalkan pendengaran dan instingnya saja.

Pintu-pintu rumah, meja makan, kursi, gorden, rak piring, bahkan kucing yang suka mengeong di depan pintu rumah pun aku dengar dengan jelas dan selalu ku imajinasikan dengan hatiku sendiri, dengan caraku sendiri, tak peduli rupanya seperti apa, warnanya seperti apa, yang terpenting adalah bahwa benda itu memang benar-benar ada dan digunakan sesuai fungsinya.

Begitu sahabatku membukakan pintu utama untuk kami, aroma segar rerumputan basah secara sigap menghampiri hidungku, baunya tercampur antara rumput basah yang diguyur hujan, kotoran serangga yang singgah diantara rerumputan itu untuk menghindari hujan dan mengeringkan sayapnya sebelum terbang, serta aroma buah-buahan yang semulanya kering dan hampir rusak di atas pohonnya jatuh diantara rerumputan itu dan basah menyisakan aroma buah yang busuk. Perpaduan antara aroma-aroma itu memenuhi pikiranku seperti apa dunia ini seutuhnya, kerlap sinar mentari sore dan hembusan sepoi angin baik itu seraya memperkuat keindahannya.

Dari arah kejauhan, kudengar suara anak-anak yang sedang bermain dan berlari-lari di atas jalanan yang hanya beralaskan tanah yang basah dengan riangnya sambil sesekali terdengar suara orang tua yang memperingatkan mereka untuk tidak terlalu semangat berlari-lari jika mereka tak ingin jatuh dan terluka membuatku tersenyum dan teringat masa kecilku pun juga sama seperti mereka.

“Entah mengapa sore ini begitu damai” desis Diana dari mulutnya dengan volume suara yang amat kecil namun masih bisa ditangkap oleh gendang telingaku

Bibirku masih mengembangkan senyuman kecil pada pemandangan sore itu, sementara Diana masih menggandeng tanganku dan aku yang membalas dengan memegang lengannya dengan erat.

“Tia? Kaukah itu?” sapa sebuah suara seorang gadis dari depanku yang langsung menghentikan langkahku dan Diana

Aku merasa sedikit agak canggung ketika bertemu seseorang selain Diana, mungkin wajar karena aku sangat jarang keluar dari rumah.

“Hai, kami-----“

“Hahahahaha!!!”

Gadis itu tertawa sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku sepenuhnya, dan nada tertawanya seperti sangat tidak menyenangkan dan seperti akan terpuaskan oleh suatu hal,


sementara aku terdiam dan Diana masih berada di sampingku tak bergerak sedikitpun, suasana hatinya terasa seperti akan terfokus pada suatu hal yang keras.

“Tak biasanya kau keluar dari kamarmu yang nyaman, Tia” katanya dan aku bisa merasakan dia sedang tersenyum

“Ah, kami hanya------“

“Yah, wajar saja. Mungkin kau bosan dengan suasana kamarmu yang gelap dan tak ada kehidupan sama sekali” “Oh dan mungkin saja kemana pun kau pergi semuanya terasa gelap!”

Perkataannya sekarang membuat ku terdiam sekali lagi, namun pada keadaan sedikit geram dan aku merasa sesuatu dalam dadaku mengaung marah.

“Apa maksudmu!?” desak Diana yang mencoba membelaku dari kalimat gadis yang tak ku kenal itu

“Tidak ada maksud apapun” katanya pelan “Hanya saja, bagaimana kau bisa tahan mendampingi orang buta seperti ini” lanjutnya

Kali ini aku bisa merasakan lengan Diana mengeras dan sepertinya kekesalannya sudah mencapai puncak. Tangan Diana bergerak dengan cepat, dan aku tanpa harus berpikir berbuat apa langsung saja menahan tangan Diana sementara gadis itu terceguk kaget.

“Hentikan Diana! Sudahlah” kataku pelan

“Apa yang kau bicarakan, orang seperti itu harus diberi pelajaran!” kata Diana masih dalam nada yang penuh emosi

“Aku tak ada masalah dengan orang lain, kau tau” kataku yang langsung membuat Diana melemah dan menghela nafas dengan berat

Kami berdua pun kembali berjalan layaknya orang lain yang seperti hal itu tak penah terjadi sama sekali, tetapi Diana masih terdiam membuatku merasa sedikit tidak enak. Mungkin, Diana benar bahwa orang itu mestinya diberi sedikit pelajaran, aku pun merasa sangat marah saat mendengar perkataannya yang sedemikian kasar terhadapku.

Akhirnya kami berhenti di sebuah tempat yang aku tak begitu tau dimana, walaupun ini adalah wilayah tempat tinggalku sendiri tetapi termenung dalam keadaan gulita yang begitu lama membuatku tak mengingat lagi tempat-tempat yang biasa aku kunjungi untuk bermain pada saat masih kecil dulu.

“Duduklah” kata Diana kepadaku dengan pelan

Aku pun yang hanya bisa mematuhi perkataannya hanya bisa meraba-raba dengan tanganku dimana posisi ku sekarang berada. Aku merasakan sesuatu yang teramat keras dan dingin, namun begitu tanganku meraba pada sisi lainnya lagi terasa hangat tapi tetap keras seperti sisi lainnya.

“Ini batu!” kataku meyakinkan diriku sendiri

“Kita sekarang berada di pinggir sawah, Tia” kata Diana lebih meyakinkanku lagi

“Sawah? Sawah siapa? Bagaimana jika nanti pemiliknya datang dan melihat kita duduk di sini?” kataku sedikit khawatir

“Hahaha, tenanglah. Lagipula kita tidak berbuat apa-apa dengan sawah ini” kekeh Diana

Kami pun tertawa kecil bersama menikmati suasana sore itu, aku merasa hembusan angin perlahan menerbangkanku ke atas awan, lama sekali sejak aku merasakan suasana luar rumah seperti ini, mentari sore pun terasa hangat diantara pori-pori wajahku yang kurasa sekarang sedang duduk menatapnya, suara gemericik air di tepi sawah itu pun ku dengar dengan jelas dipadukan dengan suara burung yang beramai-ramai terbang melintas di atas kami, dan dengan suara jejak-jejak kaki petani dan sapinya sedang berjalan dengan perlahan menyusuri ladang-ladang sawah.

“Hai, Tia?” kata Diana dengan pelan tanpa memecah kehangatan suasana sore itu

“Hmm” Gumamku

“Mengapa kau membiarkan orang itu menghinamu, padahal kau tau sendiri bahwa kata-katanya itu sangat---“

“Sudahlah. Aku tak mempersalahkan itu” kataku memotong kalimat Diana yang karena ku tau jika terus dia lanjutkan akan menyulut kemarahannya lagi

“Tapi....”

“Kau tau, untungnya sebagai orang buta itu kau tidak perlu memperhatikan penampilan fisikmu. Aku tak peduli seperti apa penampilanku, dan aku tak pernah ingin mencari perhatian orang lain” jelasku dengan suara yang tertahan

“Tapi aku memperhatikanmu, Tia” kata Diana yang sontak saja membuatku terkejut. Setelah semua yang ku alami, Diana selalu saja masih ada untukku, dia adalah sahabatku yang terbaik

Aku masih terdiam dalam lamunanku tentang diriku sendiri, apakah tidak hanya gelap, apakah aku juga menyusahkan orang lain dengan keadaanku ini.

“Tak apa, Tia. Aku akan selalu ada untukmu” kata Diana yang tiba-tiba saja memelukku dari tempatnya, menenangkan suasana hatiku yang teramat rapuh sekarang ini yang bisa saja satu kerikil yang teramat kecil bisa menghancurkan kekokohannya

“Terima kasih, Diana. Kau memang sahabatku yang terbaik, tidak ada orang lain yang seperti ini padaku selain orang tuaku dan kau” kataku mengenyakkan diri pada pelukannya “Kau tidak akan pergi meninggalkanku kan?”


“Sudah ku bilang padamu, aku akan selalu ada untukmu, aku akan menjadi separuh dari mentari sore yang hangat ini untuk menyinari kegelapanmu” katanya yang aku bisa rasakan sedang tersenyum dan ikut mengenyakkan dirinya juga dalam pelukannya sendiri

Tanpa ku sadari, air mataku perlahan jatuh mengalir diantara kedua pipiku. Aku tidak merasakan sedih apapun, mereka mengalir begitu saja dari mataku. Tanpa ada alasan, tanpa ada kesusahan, tanpa ada kemarahan, tapi aku begitu senang saat itu berharap bahwa waktu ini bisa kuhentikan, membiarkan mentari sore itu terbelah menjadi dua, satu untukku dan satu untuk Diana.



***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tolonglah berkomentar dengan sopan, NO SPAM!, dan dengan bahasa yang santun pula. Karena komentar anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini ke depannya.