20 Juli 2017
Tubuhku terasa dingin, apakah karena aku berada
sendiri di dalam kamar yang gelap serta kosong ini, ataukah karena tiupan angin
yang membawa udara lembab masuk melalui celah-celah jendela serta gorden gelap
yang hanya bisa aku raba dalam kebisuan.
Lantunan lagu kesukaanku dari tape recorder
satu-satunya yang bisa aku operasikan diantara barang-barang asing lainnya
berdengung mesra di kedua telingaku seakan-akan aku bisa melihat penyanyi
aslinya sedang memegang mikrofon sambil melenggokkan tangannya menyapa penonton
yang juga ikut bernyanyi bersama dengannya.
Perlahan aku kembali merebahkan tubuhku dengan
pelan diatas kasur empuk yang entah terbuat dari apa namun terasa seperti busa
yang disusun sedemikian rupa untuk memberikan mimpi indah bagi siapa saja yang
berani tidur diatasnya. Selimut tipis itu kutarik hingga sampai leherku,
sementara aku meringkuk dalam kegelapan dunia membenamkan diri pada kehangatan
fisik yang diberikan oleh selimutku.
Sementara musik pada tape recorder itu terus
bernyanyi, khayalanku terputus ketika sebuah suara ketukan pintu berdentum di
gendang telingaku mengisyaratkan sesuatu yang sangat penting sekali, atau
mungkin hanya firasatku saja yang berpikir seperti itu karena sejak lama aku
diajarkan untuk selalu berpikir cepat dan bertindak cepat jika ada sesuatu yang
menghalangi jalanku, atau lebih nyatanya jika ada seseorang yang membutuhkan
diriku.
Tok-tok “Tia?” suaranya memanggilku perlahan
dibalik kusen pintu itu, aku pun bangkit seketika berniat untuk menghadapinya
empat mata secara langsung melepas diriku dari kehangatan selimut menuju udara
segar nan dingin sambil meraba jalan dengan kakiku.
“Buka saja, pintunya tidak terkunci” teriak ku
perlahan berharap si pemanggil dapat mendengarnya, walaupun aku yakin teriakan
ku sudah melebihi apa yang diharapkannya
Derap kaki orang itu kudengar perlahan dari balik
bisingnya denyitan pintu yang terbuka membelalak mungkin karena sudah tua dan
usang, engsel-engselnya pastilah sudah berkarat dan pintunya pastilah sudah
rapuh ditandai dengan bubuk-bubuk kayu yang tertumpuk merata dibawah kakinya.
Tapi tetap saja pintu tua itu tak pernah diganti sampai Ia benar-benar roboh
dengan sendirinya.
“Hai Tia” sapa suara itu yang
kini berasa tepat berada di depanku
“Diana, kaukah itu?” balasku pelan
Walaupun gelap tapi aku bisa merasakan hembusan
nafasnya dengan sangat halus seperti nafas kucing yang sedang mendengkur dalam
tidurnya, dan sekarang aku merasa begitu dekat dengan orang itu.
“Iya ini aku” katanya lagi
Aku meraba-raba mencari sumber suaranya, wajahnya
dan kutemukan. Tanganku dengan tenang menemukan kedetailan dari wajah orang itu
memastikan bahwa Ia bukanlah seorang
penjahat yang akan menculikku beberapa menit lagi,
walaupun dari warna suaranya saja sudah cukup bagiku untuk mengenali Diana.
“Sudahlah ini aku” katanya pelan sambil
menghembuskan nafas dan menyingkirkan tanganku dari wajahnya tanpa
melepaskannya dengan segera
“Ah maaf Diana, aku hanya ingin
memastikan” tuturku
“Jadi apa yang sedang kau lakukan?” dia bertanya
sambil memegang tanganku, menyeretnya kembali masuk dalam kamarku yang masih
terasa dingin
Diana kemudian mendudukkanku di seberang tempat
tidurku, sementara aku tidak begitu paham apa yang sedang dia lakukan karena
suasananya memang gelap sekali.
“Seperti biasa” kataku sambil tersenyum tanpa
memandang wajahnya yang aku tak tau berada dimana sekarang
Hembusan iliran angin kembali memenuhi telingaku
membawa seberkas aura dingin untukku santap lagi pada hari itu, ingin sekali
aku kembali tidur, menarik selimutku, membenamkan diriku, melenyapkan semua
pikiranku dari gelapnya dunia ini kemudian menuju mimpi dimana aku bisa
berimajinasi sepuasku, dimana aku bisa melihat bermacam-macam rupa, dimana aku
bisa bercengkrama, dimana aku bisa melihat ekspresi orang-orang yang melihatku
memainkan recorderku dengan lembut.
Aku memang buta sejak aku mengalami insiden di
pabrik kimia ketika sekolahku mengadakan study khusus untuk langsung belajar di
lapangan. Saat itu, tanpa sengaja aku dengan rasa penasaran menuangkan sebuah
cairan kimia ke cairan lainnya tanpa aku tau apa yang sedang kulakukan dan
apakah cairan kimia itu berbahaya atau tidak, aku masih kelas 6 SD saat itu.
Dan tanpa aba-aba sama sekali, campuran cairan itu aku pikir akan menjadi
sebuah senyawa yang luar biasa kegunaannya seperti yang pernah aku lihat pada
kartun kesukaanku di tv, tetapi naas senyawa itu langsung meledak dan tanpa
siap aku yang tidak mengenakan perlengkapan pengaman apapun langsung terlempar
dari tempatku berdiri yang tak kusadari seberapa jauh aku terlempar, dan pada
saat itu juga aku menemukan kegelapan abadi dalam hidupku, yang aku dengar
hanyalah teriakan-teriakan histeris dari orang-orang disekitarku mungkin melihatku
dengan sangat iba.
Setelah itu aku tak tau apa yang terjadi di atas
dunia ini, satu-satunya adalah bahwa aku hanya bisa meraba-raba dalam
kegelapan.
Hingga akhirnya sekarang aku sekolah di sekolah
menengah pertama di desaku. Karena saat itu belum ada sekolah khusus yang akan
menampung orang-orang cacat sepertiku, jadi aku mau-tidak mau harus menahan
segala siksaan fisik yang menerpaku sebagai satu-satunya siswa yang berbeda di
sekolah ini, sampai-sampai aku ingin mengakhiri hidupku saja sebagai seorang
manusia. Kedua orang tuaku pun hanya bisa pasrah dan kerap kali kudengar
menangis pada malam harinya entah dengan alasan yang tak kumengerti sama sekali
tapi pasti initinya adalah karena aku.
Dan begitu aku di sekolah, berbagai macam hinaan
polos dari teman-temanku selalu berdengung didalam telingaku, kemudian ke
otakku dan akhirnya sampai di dasar hatiku. Ingin sekali aku menghajar
orang-orang seperti itu, walaupun mereka tidak sadar dengan apa yang dirasakan
oleh orang lain, tapi tetap saja aku hanya bisa terdiam menutup telingaku
karena tak bisa melihat siapa dan darimana suara itu datang karena sebegitu
banyaknya.
Hingga akhirnya aku bertemu dengan Diana, dia
adalah teman sebangkuku sejak kelas satu SMP, dan sekarang menjelma menjadi
sahabatku. Diana seperti matahari bagiku, dia seperti mata yang pernah aku
gunakan untuk melihat sebelumnya, dia ada di saat orang-orang selalu
mengejekku, Diana selalu menjagaku dan membelaku dengan lantang, di saat aku
sedang sendiri meratapi diriku yang tak pernah ada akhirnya, Diana selalu
datang dan memberikanku tempat untuk melepaskan semua kemarahanku, dan dia juga
yang membantuku untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru,
walaupun aku merasa sedikit dibedakan karena diberikan tugas yang lebih mudah
daripada yang lainnya.
Aku terkejut merasa ada perubahan kondisi pada
tubuhku, aku merasa sedikit lebih hangat daripada sebelumnya, walaupun sang
angin dingin masih membisikku dari daun-daun telingaku dengan nadanya yang
lembut.
“Pakailah” kata Diana perlahan
dan terasa sedang tersenyum
“Apa ini?” tanyaku sambil
mendekap erat sebuah kain yang diberikan oleh Diana kepadaku
“Itu sweaterku, aku rasa itu bisa
membuat dirimu lebih hangat di cuaca seperti ini” jelasnya
Aku terdiam sejenak memikirkan diriku yang tidak
bisa melakukan apa-apa sendiri, entahlah apa aku harus menolak bantuan dari
orang lain atau tidak, ini begitu memalukan bagiku tapi mengapa juga aku harus
menolak bantuan dari orang lain toh aku juga benar tidak bisa melakukan apapun
sendiri.
“Diana?” panggilku pada gadis itu
“Hmm” gumamnya perlahan
“Apa cuaca di luar hujan?”
“Iya, sedikit gerimis. Bagaimana
kau bisa tau?” katanya penuh minat padaku
“Entahlah, aku rasa aku bisa
mendengarnya” jawabku sambil tersenyum kecil
Giliran Diana yang terdiam sekarang, aku
mendengarnya sedang menarik kursi di meja dekat tempat tidurku, pasti dari
derit suara kayu kursinya di lantai. Dan sekarang dia sedang membolak-balikkan
kertas-per kertas dari sebuah buku.
“Apa yang kau lakukan Diana?”
tanyaku
“Coba dengar, kau pasti tau kan?”
dia bertanya kembali
“Iya benar sekali!” katanya
sedikit bersemangat sekarang
Aku berpikir dalam tentang gadis ini, apa yang
terjadi dengannya. Beberapa saat yang lalu, suaranya begitu pelan seperti
sedang tidak bahagia sama sekali, tetapi sekarang auranya berubah menjadi
sangat menyenangkan.
“Apa tepatnya yang kau baca?”
“Ah, bukan apa-apa. Aku hanya
membaca diary mu”
“Apa? Kembalikan! Itu privasi!” kataku sekarang
bangkit mencoba merebut kembali buku harian itu dari Diana
“Sudahlah, kita kan sahabat. Apa masalahnya?!”
katanya sambil membendung tanganku yang kesana kemari tanpa arah dan tujuan
dimana buku itu berada
Aku sedikit terenyuh mendengar kata „sahabat‟ dari
Diana, ini baru pertama kalinya dia menyebutku begitu. Walaupun aku sudah lama
menganggapnya sebagai sahabat, tetapi aku tak pernah menyebut-nyebut soal
sahabat kepadanya, dan aku kira kami telah mengerti satu sama lain.
“Huuh!” dengus ku sedikit kesal namun sebenarnya
dalam hatiku aku senang dengan kondisi ini. Perlahan aku kembali berjalan
menuju tempat tidurku dan duduk seperti biasa masih mendekap sweater hangat
yang diberikan Diana untukku
“Kau tau, Tia. Aku bangga padamu” katanya pelan
masih membalik-balik halaman kertas buku harian itu ditangannya “Kau adalah
gadis yang luar biasa, walaupun kau tidak melihat yang kulihat tapi kau
mendengar apa yang tidak aku dengar” lanjutnya setelah aku terdiam beberapa
detik tidak menjawab
“Trims, Diana” kataku tidak tau
harus berkata apalagi
“Tidak, aku serius! Maksudku bagaimana mungkin kau
bisa mengetahui wujud orang lain tanpa melihatnya?”
“Apa maksudmu?” tanyaku heran
“Maksudku, kau tidak benar-benar
menyukai si Alfi bukan?”
Mendengar kalimat itu, aku merasa wajahku langsung
memerah. Hangat dan semakin hangat, tidak menghiraukan cuaca yang saat itu
sedang dingin-dinginnya seakan-akan langsung berubah dengan seketika menjadi
suasana yang sangat hangat.
Tanpa ada konfirmasi sebelumnya aku langsung
menerjang Diana dengan sekuat tenagaku sambil berusaha mengambil buku harianku
kembali walaupun harus dengan robek sebagai bayarannya.
Diana yang belum siap menerimaku langsung terkejut
dan memberontak, sementara aku masih memegang tangannya dan mengunci tubuhnya
dengan tanganku sambil meraba ujung tangannya mencari buku harian itu sementara
dia hanya tertawa geli melihat tingkahku seperti itu.
“Mana bukuku?!” teriakku namun
masih dengan nada yang terdengar seperti bercanda
“Aku tidak tau!” balasnya berteriak “Lepaskan aku
Tia! Kau tidak merasa bahwa kita akan jatuh sebentar lagi bukan?!”
Akhirnya dengan tangan yang satunya lagi aku
berhasil meraih sebuah buku yang tergenggam erat pada tangan yang lainnya.
“Aha!”
Kami terdiam sejenak merasa ada yang aneh dengan posisi
kami, aku tidak ingat bahwa Diana sedang duduk pada kursi kayu yang sudah
berumur sebelum aku menerjangnya, itu artinya aku langsung mendekap Diana
diatas kursi itu?
Kemudian terdengar suara jerit kayu dengan perlahan
dari bawah kami. Kursi kayu itu kini terasa memberikan karmanya kepadaku dan
Diana, perlahan-lahan aku merasakan tubuhku terayun kebawah dan tak bisa
bergerak karena memikirkan kami berdua akan jatuh dilantai.
“Tia?” kata Diana dengan pelan sekali sambil
mencoba mempertahankan posisinya dengan sebelah tangannya yang kurasa sedang
menahan tubuh kami berdua diatas kursi reot itu pada sebuah lemari disebelahnya
Tapi nyatanya hal itu hanya berguna untuk sementara
saja, rupanya karma dari sang kursi tidak memberikan kami untuk lebih berlama-lama
lagi diatas kursi, dan akhirnya “Gubrak!!!” separuh dari kaki kursi itu patah
menjadi dua, dan tiga sisanya lagi tak kuat menyeimbangkan posisinya sehingga
menjungkalkan kami ke lantai dengan suara tubuh jatuh yang lumayan besar.
“Aduh, mmm Tia” ucap Diana dengan
nada yang mendesah
“Ah, maaf!” kataku kemudian langsung menyingkirkan
diriku setelah mengetahui bahwa kami terjatuh ke lantai berdua dengan posisi
aku di atas menindih Diana yang terkulai tak berdaya di lantai
“Ini salahmu!” teriakku pada Diana yang sekarang ku
rasakan dengan tanganku sudah duduk normal kembali
“Salahku?! Kau yang tiba-tiba
terjun dari belakangku Tia!” balasnya berteriak
“Ada apa ini ribut-ribut, suaranya seperti akan
merobohkan rumah ini saja!” kata sebuah suara orang ketiga yang secara tak kami
sadari sudah berada di ambang pintu dan sepertinya sedang menyaksikan kami
sedang duduk berhadapan dengan sebuah kursi yang sudah patah di
tengah-tengahnya dengan konyol “Kenapa kursinya patah?!” lanjutnya bertanya
“Ah tidak apa-apa, bu. Aku hanya menolong Diana
yang baru saja terjatuh dari kursi tua ini” kata ku masih dengan nada kesal
yang sulit ku sembunyikan
Ibuku terdiam sejenak, aku dengan jelas merasa
bahwa pandangannya yang tadi datang dengan emosi perlahan memudar dari suasana
hatinya.
“Jika kalian ingin bermain, bermainlah di luar.
Hujannya sudah reda” katanya pelan kemudian terdengar berbalik arah menjauhi
kami dari derap kakinya
Kami berdua terdiam sejenak, hening untuk beberapa
saat. Yang terasa hanya kehangatan sinar matahari yang telah keluar dari balik
awan persembunyiannya memberikan harapan bagi kehidupan di muka bumi, aku bisa
merasakannya walaupun rupanya masih sama terlihat gelap, bersama dengan angin
sepo-sepoi yang membawa arus dingin pergi menjauhi tempat itu.
Aku merasakan tangan Diana menyentuh pundakku namun
ku tepis dengan sigap. Aku masih kesal dengannya, tindakannya membuat kami
seperti ini, membaca buku yang seharusnya tidak dia baca, dan seharusnya dia
lebih mengerti keadaanku saat ini daripada memberikan kalimat yang tidak jelas
seperti itu.
Keheningan yang lumayan lama kemudian terpecahkan
oleh suara kekeh tawa dari Diana. Semenatara ku yang masih kesal tidak
menatapnya sama sekali. Perlahan-lahan gelak tawa Diana semakin menjadi-jadi,
dia sekarang tertawa dengan semangat sekali seperti habis menonton film kartun
yang paling lucu di dunia sekalipun. Mendengarnya tertawa dengan bebas dan
tanpa batas seperti itu membuatku juga ikut terkekeh kecil mengesampingkan
perasaan dongkol yang masih mengikatku dan kemudian ikut tertawa lepas seperti
yang Diana lakukan.
Sore itu aku merasa sangat bahagia bersama dengan
sahabatku sendiri, walaupun perasaan kesalku kepadanya karena telah membaca
buku harianku terutama pada halaman yang sangat spesial sekali, tetapi
perlahan-lahan perasaan itu mulai reda tergantikan oleh hangatnya aura
persahabatan kami yang diiringi oleh kehangatan sang mentari sore.
“Oh ya, apa kau keluar?” Diana bertanya kepadaku
dengan nada yang biasanya, seperti hal-hal konyol yang baru saja terjadi tidak
pernah terjadi sama sekali dalam hidup kami
Sepertinya bagus jika keluar di bawah sinar
matahari sore yang begitu kemilauan ini. Walaupun aku tak bisa melihatnya sama
sekali tetapi instingku melihatnya dengan jelas sembari berkata “Inilah waktu
yang tepat untuk keluar dan menikmati senja hari”.
“Baiklah, tapi tolong kau jangan meninggalkanku di
tengah jalan” jawabku mencoba bergurau
“Tenang saja, lagipula kau bisa melihat dengan
kakimu kan, Tia?” balasnya seperti mengejekku dengan keadaan, namun anehnya aku
tak menemukan sama sekali nada mengejek dalam kalimatnya itu, dan benar saja
itu berhasil dengan sempurna.
Diana menggandengku keluar rumah dengan perlahan
seraya aku masih berusaha mengingat langkah-langkah kakiku dan ke arah mana dia
berputar, berbalik, dan berpindah. Hampir semua hal yang ku lewati ku raba dan
kumasukkan dengan perlahan ke dalam memoriku, kali ini semuanya kulakukan tanpa
sadar menggunakan hatiku dan melupakan tentang mataku sama sekali seolah-olah
semua orang yang ada di dunia ini terlahir tanpa mata dan hanya mengandalkan
pendengaran dan instingnya saja.
Pintu-pintu rumah, meja makan, kursi, gorden, rak
piring, bahkan kucing yang suka mengeong di depan pintu rumah pun aku dengar
dengan jelas dan selalu ku imajinasikan dengan hatiku sendiri, dengan caraku
sendiri, tak peduli rupanya seperti apa, warnanya seperti apa, yang terpenting
adalah bahwa benda itu memang benar-benar ada dan digunakan sesuai fungsinya.
Begitu sahabatku membukakan pintu utama untuk kami,
aroma segar rerumputan basah secara sigap menghampiri hidungku, baunya
tercampur antara rumput basah yang diguyur hujan, kotoran serangga yang singgah
diantara rerumputan itu untuk menghindari hujan dan mengeringkan sayapnya
sebelum terbang, serta aroma buah-buahan yang semulanya kering dan hampir rusak
di atas pohonnya jatuh diantara rerumputan itu dan basah menyisakan aroma buah
yang busuk. Perpaduan antara aroma-aroma itu memenuhi pikiranku seperti apa
dunia ini seutuhnya, kerlap sinar mentari sore dan hembusan sepoi angin baik
itu seraya memperkuat keindahannya.
Dari arah kejauhan, kudengar suara anak-anak yang
sedang bermain dan berlari-lari di atas jalanan yang hanya beralaskan tanah
yang basah dengan riangnya sambil sesekali terdengar suara orang tua yang
memperingatkan mereka untuk tidak terlalu semangat berlari-lari jika mereka tak
ingin jatuh dan terluka membuatku tersenyum dan teringat masa kecilku pun juga
sama seperti mereka.
“Entah mengapa sore ini begitu damai” desis Diana
dari mulutnya dengan volume suara yang amat kecil namun masih bisa ditangkap
oleh gendang telingaku
Bibirku masih mengembangkan senyuman kecil pada
pemandangan sore itu, sementara Diana masih menggandeng tanganku dan aku yang
membalas dengan memegang lengannya dengan erat.
“Tia? Kaukah itu?” sapa sebuah suara seorang gadis
dari depanku yang langsung menghentikan langkahku dan Diana
Aku merasa sedikit agak canggung ketika bertemu
seseorang selain Diana, mungkin wajar karena aku sangat jarang keluar dari
rumah.
“Hai, kami-----“
“Hahahahaha!!!”
Gadis itu tertawa sebelum aku sempat menyelesaikan
kalimatku sepenuhnya, dan nada tertawanya seperti sangat tidak menyenangkan dan
seperti akan terpuaskan oleh suatu hal,
sementara aku terdiam dan Diana masih berada di
sampingku tak bergerak sedikitpun, suasana hatinya terasa seperti akan terfokus
pada suatu hal yang keras.
“Tak biasanya kau keluar dari kamarmu yang nyaman,
Tia” katanya dan aku bisa merasakan dia sedang tersenyum
“Ah, kami hanya------“
“Yah, wajar saja. Mungkin kau bosan dengan suasana
kamarmu yang gelap dan tak ada kehidupan sama sekali” “Oh dan mungkin saja
kemana pun kau pergi semuanya terasa gelap!”
Perkataannya sekarang membuat ku terdiam sekali
lagi, namun pada keadaan sedikit geram dan aku merasa sesuatu dalam dadaku
mengaung marah.
“Apa maksudmu!?” desak Diana yang mencoba membelaku
dari kalimat gadis yang tak ku kenal itu
“Tidak ada maksud apapun” katanya pelan “Hanya
saja, bagaimana kau bisa tahan mendampingi orang buta seperti ini” lanjutnya
Kali ini aku bisa merasakan lengan Diana mengeras
dan sepertinya kekesalannya sudah mencapai puncak. Tangan Diana bergerak dengan
cepat, dan aku tanpa harus berpikir berbuat apa langsung saja menahan tangan
Diana sementara gadis itu terceguk kaget.
“Hentikan Diana! Sudahlah” kataku
pelan
“Apa yang kau bicarakan, orang seperti itu harus
diberi pelajaran!” kata Diana masih dalam nada yang penuh emosi
“Aku tak ada masalah dengan orang lain, kau tau” kataku
yang langsung membuat Diana melemah dan menghela nafas dengan berat
Kami berdua pun kembali berjalan layaknya orang
lain yang seperti hal itu tak penah terjadi sama sekali, tetapi Diana masih
terdiam membuatku merasa sedikit tidak enak. Mungkin, Diana benar bahwa orang
itu mestinya diberi sedikit pelajaran, aku pun merasa sangat marah saat
mendengar perkataannya yang sedemikian kasar terhadapku.
Akhirnya kami berhenti di sebuah tempat yang aku
tak begitu tau dimana, walaupun ini adalah wilayah tempat tinggalku sendiri
tetapi termenung dalam keadaan gulita yang begitu lama membuatku tak mengingat
lagi tempat-tempat yang biasa aku kunjungi untuk bermain pada saat masih kecil
dulu.
“Duduklah” kata Diana kepadaku
dengan pelan
Aku pun yang hanya bisa mematuhi perkataannya hanya
bisa meraba-raba dengan tanganku dimana posisi ku sekarang berada. Aku
merasakan sesuatu yang teramat keras dan dingin, namun begitu tanganku meraba
pada sisi lainnya lagi terasa hangat tapi tetap keras seperti sisi lainnya.
“Kita sekarang berada di pinggir
sawah, Tia” kata Diana lebih meyakinkanku lagi
“Sawah? Sawah siapa? Bagaimana jika nanti
pemiliknya datang dan melihat kita duduk di sini?” kataku sedikit khawatir
“Hahaha, tenanglah. Lagipula kita
tidak berbuat apa-apa dengan sawah ini” kekeh Diana
Kami pun tertawa kecil bersama menikmati suasana
sore itu, aku merasa hembusan angin perlahan menerbangkanku ke atas awan, lama
sekali sejak aku merasakan suasana luar rumah seperti ini, mentari sore pun
terasa hangat diantara pori-pori wajahku yang kurasa sekarang sedang duduk
menatapnya, suara gemericik air di tepi sawah itu pun ku dengar dengan jelas
dipadukan dengan suara burung yang beramai-ramai terbang melintas di atas kami,
dan dengan suara jejak-jejak kaki petani dan sapinya sedang berjalan dengan
perlahan menyusuri ladang-ladang sawah.
“Hai, Tia?” kata Diana dengan
pelan tanpa memecah kehangatan suasana sore itu
“Hmm” Gumamku
“Mengapa kau membiarkan orang itu menghinamu,
padahal kau tau sendiri bahwa kata-katanya itu sangat---“
“Sudahlah. Aku tak mempersalahkan itu” kataku
memotong kalimat Diana yang karena ku tau jika terus dia lanjutkan akan
menyulut kemarahannya lagi
“Tapi....”
“Kau tau, untungnya sebagai orang buta itu kau
tidak perlu memperhatikan penampilan fisikmu. Aku tak peduli seperti apa
penampilanku, dan aku tak pernah ingin mencari perhatian orang lain” jelasku
dengan suara yang tertahan
“Tapi aku memperhatikanmu, Tia” kata Diana yang
sontak saja membuatku terkejut. Setelah semua yang ku alami, Diana selalu saja
masih ada untukku, dia adalah sahabatku yang terbaik
Aku masih terdiam dalam lamunanku tentang diriku
sendiri, apakah tidak hanya gelap, apakah aku juga menyusahkan orang lain
dengan keadaanku ini.
“Tak apa, Tia. Aku akan selalu ada untukmu” kata
Diana yang tiba-tiba saja memelukku dari tempatnya, menenangkan suasana hatiku
yang teramat rapuh sekarang ini yang bisa saja satu kerikil yang teramat kecil
bisa menghancurkan kekokohannya
“Terima kasih, Diana. Kau memang sahabatku yang
terbaik, tidak ada orang lain yang seperti ini padaku selain orang tuaku dan
kau” kataku mengenyakkan diri pada pelukannya “Kau tidak akan pergi
meninggalkanku kan?”
“Sudah ku bilang padamu, aku akan selalu ada
untukmu, aku akan menjadi separuh dari mentari sore yang hangat ini untuk
menyinari kegelapanmu” katanya yang aku bisa rasakan sedang tersenyum dan ikut
mengenyakkan dirinya juga dalam pelukannya sendiri
Tanpa ku sadari, air mataku perlahan jatuh mengalir
diantara kedua pipiku. Aku tidak merasakan sedih apapun, mereka mengalir begitu
saja dari mataku. Tanpa ada alasan, tanpa ada kesusahan, tanpa ada kemarahan,
tapi aku begitu senang saat itu berharap bahwa waktu ini bisa kuhentikan,
membiarkan mentari sore itu terbelah menjadi dua, satu untukku dan satu untuk
Diana.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tolonglah berkomentar dengan sopan, NO SPAM!, dan dengan bahasa yang santun pula. Karena komentar anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini ke depannya.