14 September 2017
Deru ombak yang terhempas di tengah laut sebelum
sampai ke pantai terdengar riuh samar-samar membawa arus kecil dari sisa
hempasannya melewati celah-celah kayu dermaga yang beraroma tua namun tidak ada
tanda-tanda bahwa ia akan roboh sedikitpun menenggelamkan setidaknya satu lusin
manusia yang sedang berdiri di atasnya, di samping sebuah kapal yang sedang
berlabuh menunggu manusia-manusia berkepentingan lainnya untuk segera masuk ke
dalamnya.
Angin laut yang membawa suasana asin menampar
wajahku dengan perlahan, seakan ingin mengucapkan selamat tinggal padaku dan
kawanan lainnya. Sementara itu, di seberang dermaga, pada jalan-jalan setapak
yang hanya teraspal seadanya berbaris rapi sapi-sapi dengan pemiliknya yang
membawa cangkul pada pundaknya di belakang menggiring mereka sesekali
berpapasan dengan ibu-ibu yang membawa bakul berisi pisang dan macam-macam
hasil sawah lainnya yang berhenti semenjak bertegur sapa kemudian kembali
berjalan lagi. Sungguh pemandangan yang menusuk perlahan dadaku, membuatnya
sesak entah mengapa walaupun pemandangan seperti ini aku lihat dikeseharianku,
apakah ini baru pertama kalinya aku melihat dengan sangat memperhatikan ataukah
karena alasan lainnya.
Angin-angin laut yang melintas itu seakan-akan
tersaring asinnya oleh dedaunan kelapa di pematang sawah yang lumayan dekat
dengan laut, ditandai oleh lambaiannya yang penuh haru.
“Apa kau sudah yakin, barang-barangmu lengkap
semuanya?” tanya Ibu dari sampingku berdiri diikuti oleh sorakan lembut ombak
laut yang singkat dari bawah dermaga
“Tenang saja, bu. Ibu kan tau aku sudah
memeriksanya sampai lima kali semalam” kataku meyakinkan orang tua itu agar
melupakan rasa cemas yang auranya sampai luar sehingga aku bisa merasakannya,
walaupun sebenarnya aku pun tak begitu yakin bahwa barang-barang di koperku
sudah beres semua
“Tolong hubungi kami bila kau sempat” katanya
sambil menyembunyikan wajah sedih yang tidak berhasil sama sekali “Dan jika kau
kekurangan sesuatu bilanglah, jangan mempersulit dirimu” lanjutnya
“Ibu, aku pergi untuk menuntut ilmu dan belajar
mandiri, jika aku bisa aku akan mencari makan ku sendiri” kataku pelan
“Sudah berapa kali harus Ibu bilang, tugasmu
hanyalah fokus pada belajarmu!” kalimat ibu seperti tertahan dan tak
melanjutkan
Sedangkan aku hanya bisa membalas perkataan Ibu
dengan segurat senyum di wajahku, perlahan aku memalingkan wajah ke arah Ayah
yang sedari tadi hanya memperhatikan kami berdua tidak ingin ikut campur ke
dalam pembicaraan itu karena Ayah tau jika Ibu sudah bersikeras tak ada yang
bisa menghalanginya. Ayah membalas pandanganku dengan senyum
kecil mengembang di wajahnya membuatnya terlihat
lebih berkeriput daripada biasanya, tetapi aku tau bahwa itu adalah senyuman
mengiyakan.
“Satu hal yang penting Imran, tetaplah ingat jati
dirimu. Darimana asalmu dan siapa dirimu, itu akan membantumu dalam
perjalananmu nantinya” kata Ayah akhirnya
Bunyi peluit kapal berbunyi memekakkan telinga
menandakan waktu berlabuh telah usai dan sekarang memerintah dengan tegas
supaya semua penumpang masuk ke dalamnya.
Aku akhirnya memperhatikan sejenak kapal besar itu,
dengan dek belakang yang terangkat pelan menutup. Semua yang berkepentingan
serentak membuat antrian panjang masuk ke dalam perahu besar itu.
Setelah mencium satu persatu tangan dari kedua
manusia yang telah membesarkan tidak hanya namaku itu, aku pun menyeret pelan
koper penuh yang berisi pakaian dan ransel yang berisi buku-buku dan pakaian
yang tidak muat dalam koper itu.
Ramainya antrian sontak memisahkan pandanganku
dengan kedua orang tuaku yang sekarang aku berbalik badan untuk melihatnya
sejenak sudah menghilang dalam lautan manusia yang seperti dalam peristiwa
demo, hanya saja di atas sebuah dermaga.
Jangkar itu mulai dilepaskan dari tempat
persemayamannya, tali-tali nilon besar dan kuat sekarang tengah digulung
menjadi satu agar tetap rapi dan mudah digunakan kembali. Arus air laut
perlahan menarik sisi kapal menjauh dari dermaga dengan bantuan mesin hidrolik
yang ada di bawahnya. Lambaian tangan-tangan perpisahan dengan kompak bergerak
dari kiri ke kanan dan dibalas dengan hal serupa dari manusia dari atas kapal.
Matahari mulai tergelincir, angin dingin mulai
menjalar melalui celah-celah baju berusaha menembus kulit, aku hanya berharap
bahwa malam ini tidak ada badai laut yang akan datang menerjang. Melihat ukiran
senja seperti ini aku mulai teringat ketika hari perpisahan itu tiba. Aku belum
sempat menyatakan perasaanku pada seorang gadis yang berada pada perbedaan satu
ruang kelas dari kelasku. Namun, senja itu terasa seperti saat sekarang ini
disaat kami bertukar surat satu sama lain yang isinya hanyalah rangkaian doa
menuju sukses dengan coretan tangan yang mengisyaratkan perasaan yang sama pada
masing-masing tinta pena.
Tak kusangka senja itu begitu indah sore ini, di
tengah laut ini, dengan lalu-lalangnya burung-burung laut yang terbang mencari
tempat tinggalnya, bersama anak-anaknya, dan sesekali percikan air laut yang
asin terlontar ke atas akibat benturan ombak dengan badan kapal.
***
Peluit kapal itu kembali berbunyi, perlahan mataku
membuka dengan sinar-sinar terang dari matahari pagi menyusup dari balik kaca
jendela. Rupanya kapal sudah berlabuh kembali, dan kali ini adalah pelabuhan
yang berbeda. Segera kuperbaiki diriku dan mengambil koper serta ransel dari
tempat tidur.
Saat ini, langkahku sebagai seorang yang baru akan
dimulai, bisikku dalam hati. Dan dengan lantunan basmalah yang sangat dalam
dari lubuk hatiku aku mengambil langkah pertama menuju dunia luar.
Begitu sampai di dermaga besi yang terlihat sangat
modern sekali dengan balutan aspal di atasnya, segala sesuatunya terasa berbeda
sekali yang tak pernah berubah hanyalah aroma asin laut beserta keheningan
ombak-ombaknya. Di sana aku telah dijemput oleh pamanku yang sepertinya telah
menunggu sejak tadi sambil melambaikan tangannya, aku pun mendekat kemudian
menjabat tangan orang itu.
“Apa kau ketiduran di dalam
kapal?” katanya berusaha mengejekku
“Ah, tadi aku tertidur lagi setelah
subuh” kataku terkikik
Paman ikut tertawa seadanya kemudian mengangguk dan
mengajakku menuju parkiran tempat mobilnya terparkir.
Begitu mobil itu berjalan menjauh dari dermaga,
pemandangannya mulai berubah lagi. Gedung-gedung apartemen yang tinggi membuat
satu barisan khusus pada bayangannya di tanah, begitu pula swalayan-swalayan
yang semuanya hampir terisi oleh kegiatan manusia di pagi hari. Aroma laut
seakan menghilang begitu saja tergantikan oleh riuhnya suara kendaraan baik
yang beroda dua maupun beroda empat. Panas dari asap knalpot yang ditambah
dengan asap knalpot lainnya seakan menambah gerahnya pagi itu. Aku berpikir
jika pagi saja sudah seperti ini bagaiamana dengan siang nanti.
“Tak apa, nanti kau juga terbiasa” kata paman
perlahan seakan mengerti sambil menutup jendela mobil menghindari polusi udara
pagi
Sedangkan aku hanya diam masih menatap
gedung-gedung pencakar langit yang masih dibangun oleh sekelompok pekerja itu
sambil berpikir, bagaimana jika ada orang yang jatuh dari ketinggian seperti
itu.
Setelah sejam lebih terasa aku dan paman berada
dalam mobil itu, paman mulai menghentikan mobilnya dengan pelan.
“Kita sudah sampai”
Kami pun turun sambil menghirup udara yang lumayan
baik ketimbang yang berada pada jalanan besar itu.
“Nah, itu adalah kampusmu seperti yang kau tau”
kata paman menunjuk sebuah bangunan besar yang hanya terlihat sekilas
tersembunyi dibalik pepohonan hijau besar di depan kami.
Aku dan paman mulai menurunkan barang-barangku
kemudian menuju ke dalam rumah sementaraku saat ini lalu memulai aktivitasku
dengan merapikan barang-barang itu di dalam kamar.
***
“Hari ini ya?” sapa paman sembari membersihkan
sepatu pantofelnya dengan kain bersih sehingga nampak mengkilat diterpa sinar
mentari pagi
“Iya, semoga hari ini lancar”
balasku
Pagi itu terasa sejuk sekali, walaupun nyatanya
sinar ultraviolet dari raja hari terasa sangat lah panas jika tidak ditahan
oleh rimbunnya pepohonan besar di samping rumah paman.
Langkah ku ditemani dengan semilir sejuk udara pagi
yang melintas dari sela-sela rambutku, para penduduk yang memulai aktivitas
pagi mereka dengan bermacam-macam kegiatan, ada yang berjualan ditengah
keramaian para pembeli yang menunggu mereka, ada yang tengah menikmati pagi
dengan jalan-jalan, serta remaja-remaja sekolah yang berlalu lalang melewati
jalanan sempit yang hanya muat jika diisi dengan sebuah mobil dan sebuah sepeda
motor dari arah yang berlawanan. Aku yang hanya merupakan sosok baru di
lingkungan itu hanya menatap ke depan sambil sesekali melirik ke samping
mendengar celotehan-celotehan bahasa yang tak kumengerti sedikitpun.
Matahari siang perlahan meninggi dengan sigapnya,
tanpa terasa kerumunan manusia yang berada pada nanungan pepohonan yang paling
rindang sekalipun tak luput dari sinarnya.
Kuliah telah usai untuk hari ini, kuliah pertama,
beserta bertemu dengan teman-teman baru yang aku telah kenali sebelumnya pada
masa-masa orientasi mahasiswa yang tak terlupakan, dan juga tentunya beserta
tugas-tugas dari dosen yang diberikan walaupun hari ini adalah kuliah perdana.
“Imran! Kau ada acara nanti
malam?” sapa sebuah suara dari sampingku
“Sepertinya tidak, ada apa?”
jawabku pelan
“Kami membuat sebuah acara keakraban. Jadi,
datanglah ke kampus malam ini jika kau sempat”
“Baiklah, akan ku usahakan” kataku sambil
melambaikan senyum pada temanku itu sembari aku melihatnya melangkah menjauh
dari tempatku berada sekarang, sepertinya ingin menginfokan acara untuk malam
nanti
Sang surya mulai tergelincir pada tempat yang
seharusnya, awan-awan berselimut merah terlihat di atas cakrawala dengan
setitik cahaya venus yang meneranginya. Malam pun tiba, setelah menunaikan
kewajibanku, aku pun langsung menuju lokasi acara yang telah dijanjikan.
Begitu sampai, ku lihat mahasiswa telah ramai
memenuhi lapangan kecil di balik bangunan kuliah yang biasa kami gunakan.
“Sudah lengkap semua?!” teriak seseorang yang tak
begitu ku kenal dari atas sebuah mimbar “Baiklah, ayo” katanya sambil berlalu
setelah melihat selama beberapa detik wajah-wajah yang memperhatikannya
Seketika, kumpulan mahasiswa itu mulai melangkah
yang entah kemana aku juga tidak begitu mengerti karena info yang aku dapatkan
tidak begitu detail, namun yang pasti aku hanya mengekor dari belakang dengan
terpaksa karena tak ingin terlihat bodoh di hadapan teman-temanku.
Akhirnya setelah kami berjalan
beberapa ratus meter dari tempat berkumpul, kami tiba di hadapan sebuah
bangunan megah yang menjulang tinggi. Dalam anganku bertanya “apakah ini sebuah
hotel, dan mengapa kita di sini?” walaupun tak ada satupun yang bisa menjawab
pertanyaanku, bahkan dari seorang gadis yang berada beberapa centi dariku.
Begitu aku tiba di hadapan pintu yang terbuat dari
kaca, aku terdiam, memandang sebuah pemandangan mempesona yang tak pernah
kulihat secara langsung dalam hidupku.
“Ini sebuah sebuah club!” pekikku
pelan teramat sangat
Langkahku pun terhenti, pikiranku langsung
teralihkan pada pemandangan desa jauh sebelum aku menginjakkan kaki di kota
ini, aroma laut beserta segala suasananya.
Aku pun berbalik arah dengan sendiriku meninggalkan
tempat itu dengan langkah pasti, dengan senyum. Aku tau pasti bahwa mereka akan
mengejekku jika mereka tau aku meninggalkan tempat itu dengan sendiriku, tanpa
berpamitan sama sekali. Tapi aku tau diriku, aku sadar akan diriku, aku tidak
ingin menjadi ketagihan dan memusnahkan mimpiku beserta mimpi orang-orang yang
mencintaiku.
-Selesai-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tolonglah berkomentar dengan sopan, NO SPAM!, dan dengan bahasa yang santun pula. Karena komentar anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini ke depannya.