10 Desember 2017

Kacang yang Tak Lupa Kulitnya



14 September 2017



Deru ombak yang terhempas di tengah laut sebelum sampai ke pantai terdengar riuh samar-samar membawa arus kecil dari sisa hempasannya melewati celah-celah kayu dermaga yang beraroma tua namun tidak ada tanda-tanda bahwa ia akan roboh sedikitpun menenggelamkan setidaknya satu lusin manusia yang sedang berdiri di atasnya, di samping sebuah kapal yang sedang berlabuh menunggu manusia-manusia berkepentingan lainnya untuk segera masuk ke dalamnya.

Angin laut yang membawa suasana asin menampar wajahku dengan perlahan, seakan ingin mengucapkan selamat tinggal padaku dan kawanan lainnya. Sementara itu, di seberang dermaga, pada jalan-jalan setapak yang hanya teraspal seadanya berbaris rapi sapi-sapi dengan pemiliknya yang membawa cangkul pada pundaknya di belakang menggiring mereka sesekali berpapasan dengan ibu-ibu yang membawa bakul berisi pisang dan macam-macam hasil sawah lainnya yang berhenti semenjak bertegur sapa kemudian kembali berjalan lagi. Sungguh pemandangan yang menusuk perlahan dadaku, membuatnya sesak entah mengapa walaupun pemandangan seperti ini aku lihat dikeseharianku, apakah ini baru pertama kalinya aku melihat dengan sangat memperhatikan ataukah karena alasan lainnya.

Angin-angin laut yang melintas itu seakan-akan tersaring asinnya oleh dedaunan kelapa di pematang sawah yang lumayan dekat dengan laut, ditandai oleh lambaiannya yang penuh haru.

“Apa kau sudah yakin, barang-barangmu lengkap semuanya?” tanya Ibu dari sampingku berdiri diikuti oleh sorakan lembut ombak laut yang singkat dari bawah dermaga

“Tenang saja, bu. Ibu kan tau aku sudah memeriksanya sampai lima kali semalam” kataku meyakinkan orang tua itu agar melupakan rasa cemas yang auranya sampai luar sehingga aku bisa merasakannya, walaupun sebenarnya aku pun tak begitu yakin bahwa barang-barang di koperku sudah beres semua

“Tolong hubungi kami bila kau sempat” katanya sambil menyembunyikan wajah sedih yang tidak berhasil sama sekali “Dan jika kau kekurangan sesuatu bilanglah, jangan mempersulit dirimu” lanjutnya

“Ibu, aku pergi untuk menuntut ilmu dan belajar mandiri, jika aku bisa aku akan mencari makan ku sendiri” kataku pelan

“Sudah berapa kali harus Ibu bilang, tugasmu hanyalah fokus pada belajarmu!” kalimat ibu seperti tertahan dan tak melanjutkan

Sedangkan aku hanya bisa membalas perkataan Ibu dengan segurat senyum di wajahku, perlahan aku memalingkan wajah ke arah Ayah yang sedari tadi hanya memperhatikan kami berdua tidak ingin ikut campur ke dalam pembicaraan itu karena Ayah tau jika Ibu sudah bersikeras tak ada yang bisa menghalanginya. Ayah membalas pandanganku dengan senyum


kecil mengembang di wajahnya membuatnya terlihat lebih berkeriput daripada biasanya, tetapi aku tau bahwa itu adalah senyuman mengiyakan.

“Satu hal yang penting Imran, tetaplah ingat jati dirimu. Darimana asalmu dan siapa dirimu, itu akan membantumu dalam perjalananmu nantinya” kata Ayah akhirnya

Bunyi peluit kapal berbunyi memekakkan telinga menandakan waktu berlabuh telah usai dan sekarang memerintah dengan tegas supaya semua penumpang masuk ke dalamnya.

Aku akhirnya memperhatikan sejenak kapal besar itu, dengan dek belakang yang terangkat pelan menutup. Semua yang berkepentingan serentak membuat antrian panjang masuk ke dalam perahu besar itu.

Setelah mencium satu persatu tangan dari kedua manusia yang telah membesarkan tidak hanya namaku itu, aku pun menyeret pelan koper penuh yang berisi pakaian dan ransel yang berisi buku-buku dan pakaian yang tidak muat dalam koper itu.

Ramainya antrian sontak memisahkan pandanganku dengan kedua orang tuaku yang sekarang aku berbalik badan untuk melihatnya sejenak sudah menghilang dalam lautan manusia yang seperti dalam peristiwa demo, hanya saja di atas sebuah dermaga.

Jangkar itu mulai dilepaskan dari tempat persemayamannya, tali-tali nilon besar dan kuat sekarang tengah digulung menjadi satu agar tetap rapi dan mudah digunakan kembali. Arus air laut perlahan menarik sisi kapal menjauh dari dermaga dengan bantuan mesin hidrolik yang ada di bawahnya. Lambaian tangan-tangan perpisahan dengan kompak bergerak dari kiri ke kanan dan dibalas dengan hal serupa dari manusia dari atas kapal.

Matahari mulai tergelincir, angin dingin mulai menjalar melalui celah-celah baju berusaha menembus kulit, aku hanya berharap bahwa malam ini tidak ada badai laut yang akan datang menerjang. Melihat ukiran senja seperti ini aku mulai teringat ketika hari perpisahan itu tiba. Aku belum sempat menyatakan perasaanku pada seorang gadis yang berada pada perbedaan satu ruang kelas dari kelasku. Namun, senja itu terasa seperti saat sekarang ini disaat kami bertukar surat satu sama lain yang isinya hanyalah rangkaian doa menuju sukses dengan coretan tangan yang mengisyaratkan perasaan yang sama pada masing-masing tinta pena.

Tak kusangka senja itu begitu indah sore ini, di tengah laut ini, dengan lalu-lalangnya burung-burung laut yang terbang mencari tempat tinggalnya, bersama anak-anaknya, dan sesekali percikan air laut yang asin terlontar ke atas akibat benturan ombak dengan badan kapal.

***

Peluit kapal itu kembali berbunyi, perlahan mataku membuka dengan sinar-sinar terang dari matahari pagi menyusup dari balik kaca jendela. Rupanya kapal sudah berlabuh kembali, dan kali ini adalah pelabuhan yang berbeda. Segera kuperbaiki diriku dan mengambil koper serta ransel dari tempat tidur.


Saat ini, langkahku sebagai seorang yang baru akan dimulai, bisikku dalam hati. Dan dengan lantunan basmalah yang sangat dalam dari lubuk hatiku aku mengambil langkah pertama menuju dunia luar.

Begitu sampai di dermaga besi yang terlihat sangat modern sekali dengan balutan aspal di atasnya, segala sesuatunya terasa berbeda sekali yang tak pernah berubah hanyalah aroma asin laut beserta keheningan ombak-ombaknya. Di sana aku telah dijemput oleh pamanku yang sepertinya telah menunggu sejak tadi sambil melambaikan tangannya, aku pun mendekat kemudian menjabat tangan orang itu.

“Apa kau ketiduran di dalam kapal?” katanya berusaha mengejekku

“Ah, tadi aku tertidur lagi setelah subuh” kataku terkikik

Paman ikut tertawa seadanya kemudian mengangguk dan mengajakku menuju parkiran tempat mobilnya terparkir.

Begitu mobil itu berjalan menjauh dari dermaga, pemandangannya mulai berubah lagi. Gedung-gedung apartemen yang tinggi membuat satu barisan khusus pada bayangannya di tanah, begitu pula swalayan-swalayan yang semuanya hampir terisi oleh kegiatan manusia di pagi hari. Aroma laut seakan menghilang begitu saja tergantikan oleh riuhnya suara kendaraan baik yang beroda dua maupun beroda empat. Panas dari asap knalpot yang ditambah dengan asap knalpot lainnya seakan menambah gerahnya pagi itu. Aku berpikir jika pagi saja sudah seperti ini bagaiamana dengan siang nanti.

“Tak apa, nanti kau juga terbiasa” kata paman perlahan seakan mengerti sambil menutup jendela mobil menghindari polusi udara pagi

Sedangkan aku hanya diam masih menatap gedung-gedung pencakar langit yang masih dibangun oleh sekelompok pekerja itu sambil berpikir, bagaimana jika ada orang yang jatuh dari ketinggian seperti itu.

Setelah sejam lebih terasa aku dan paman berada dalam mobil itu, paman mulai menghentikan mobilnya dengan pelan.

“Kita sudah sampai”

Kami pun turun sambil menghirup udara yang lumayan baik ketimbang yang berada pada jalanan besar itu.

“Nah, itu adalah kampusmu seperti yang kau tau” kata paman menunjuk sebuah bangunan besar yang hanya terlihat sekilas tersembunyi dibalik pepohonan hijau besar di depan kami.

Aku dan paman mulai menurunkan barang-barangku kemudian menuju ke dalam rumah sementaraku saat ini lalu memulai aktivitasku dengan merapikan barang-barang itu di dalam kamar.

***


“Hari ini ya?” sapa paman sembari membersihkan sepatu pantofelnya dengan kain bersih sehingga nampak mengkilat diterpa sinar mentari pagi

“Iya, semoga hari ini lancar” balasku

Pagi itu terasa sejuk sekali, walaupun nyatanya sinar ultraviolet dari raja hari terasa sangat lah panas jika tidak ditahan oleh rimbunnya pepohonan besar di samping rumah paman.

Langkah ku ditemani dengan semilir sejuk udara pagi yang melintas dari sela-sela rambutku, para penduduk yang memulai aktivitas pagi mereka dengan bermacam-macam kegiatan, ada yang berjualan ditengah keramaian para pembeli yang menunggu mereka, ada yang tengah menikmati pagi dengan jalan-jalan, serta remaja-remaja sekolah yang berlalu lalang melewati jalanan sempit yang hanya muat jika diisi dengan sebuah mobil dan sebuah sepeda motor dari arah yang berlawanan. Aku yang hanya merupakan sosok baru di lingkungan itu hanya menatap ke depan sambil sesekali melirik ke samping mendengar celotehan-celotehan bahasa yang tak kumengerti sedikitpun.

Matahari siang perlahan meninggi dengan sigapnya, tanpa terasa kerumunan manusia yang berada pada nanungan pepohonan yang paling rindang sekalipun tak luput dari sinarnya.

Kuliah telah usai untuk hari ini, kuliah pertama, beserta bertemu dengan teman-teman baru yang aku telah kenali sebelumnya pada masa-masa orientasi mahasiswa yang tak terlupakan, dan juga tentunya beserta tugas-tugas dari dosen yang diberikan walaupun hari ini adalah kuliah perdana.

“Imran! Kau ada acara nanti malam?” sapa sebuah suara dari sampingku

“Sepertinya tidak, ada apa?” jawabku pelan

“Kami membuat sebuah acara keakraban. Jadi, datanglah ke kampus malam ini jika kau sempat”

“Baiklah, akan ku usahakan” kataku sambil melambaikan senyum pada temanku itu sembari aku melihatnya melangkah menjauh dari tempatku berada sekarang, sepertinya ingin menginfokan acara untuk malam nanti

Sang surya mulai tergelincir pada tempat yang seharusnya, awan-awan berselimut merah terlihat di atas cakrawala dengan setitik cahaya venus yang meneranginya. Malam pun tiba, setelah menunaikan kewajibanku, aku pun langsung menuju lokasi acara yang telah dijanjikan.

Begitu sampai, ku lihat mahasiswa telah ramai memenuhi lapangan kecil di balik bangunan kuliah yang biasa kami gunakan.

“Sudah lengkap semua?!” teriak seseorang yang tak begitu ku kenal dari atas sebuah mimbar “Baiklah, ayo” katanya sambil berlalu setelah melihat selama beberapa detik wajah-wajah yang memperhatikannya


Seketika, kumpulan mahasiswa itu mulai melangkah yang entah kemana aku juga tidak begitu mengerti karena info yang aku dapatkan tidak begitu detail, namun yang pasti aku hanya mengekor dari belakang dengan terpaksa karena tak ingin terlihat bodoh di hadapan teman-temanku.

Akhirnya setelah kami berjalan beberapa ratus meter dari tempat berkumpul, kami tiba di hadapan sebuah bangunan megah yang menjulang tinggi. Dalam anganku bertanya “apakah ini sebuah hotel, dan mengapa kita di sini?” walaupun tak ada satupun yang bisa menjawab pertanyaanku, bahkan dari seorang gadis yang berada beberapa centi dariku.

Begitu aku tiba di hadapan pintu yang terbuat dari kaca, aku terdiam, memandang sebuah pemandangan mempesona yang tak pernah kulihat secara langsung dalam hidupku.

“Ini sebuah sebuah club!” pekikku pelan teramat sangat

Langkahku pun terhenti, pikiranku langsung teralihkan pada pemandangan desa jauh sebelum aku menginjakkan kaki di kota ini, aroma laut beserta segala suasananya.

Aku pun berbalik arah dengan sendiriku meninggalkan tempat itu dengan langkah pasti, dengan senyum. Aku tau pasti bahwa mereka akan mengejekku jika mereka tau aku meninggalkan tempat itu dengan sendiriku, tanpa berpamitan sama sekali. Tapi aku tau diriku, aku sadar akan diriku, aku tidak ingin menjadi ketagihan dan memusnahkan mimpiku beserta mimpi orang-orang yang mencintaiku.

-Selesai-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tolonglah berkomentar dengan sopan, NO SPAM!, dan dengan bahasa yang santun pula. Karena komentar anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini ke depannya.