10 Desember 2017

Serenade



9 Juni 2017


Pernahkah kalian merasa, bahwa alunan murni serta merdu dari musik-musik itu dapat membawakan perasaan berbeda bagi tubuh kita? Melodinya mengalir jauh bukan hanya melalui rusuk-rusuk tulangmu, bahkan tidak juga pembuluh darahmu. Namun, merasuki sesuatu yang tidak pernah dapat kita lihat pada hakikatnya namun semua orang bisa merasakan dan mempunyai sesuatu itu, bahkan perampok sekejam-kejamnya perampok. Hati, begitulah mereka menyebutnya. Benda yang sangat rapuh bahkan hanya dengan kata pun dapat merobeknya dengan sangat baik.

Kisah ini berasal dari seorang anak yang hidup jauh dari ramainya kebisingan kota-kota, membuatnya menjadi pribadi yang sangat mencintai alam dengan segala keramahan hatinya.


Hari ini cerah seperti biasanya, langit biru yang terpadu dengan tipisnya awan-awan cirrus yang menghiasi hampir setengah sang langit namun masih bisa merasakan hawa biru dan sejuk darinya, sang penguasa langit pun masih senantiasa setia memburu awan-awan yang acap kali menghalangi jalannya menyuruh mereka mundur dari barisan dan membuatkan jalan. Di bawahnya penuh sesak dari aktivitas-aktivitas manusia yang setiap harinya menuntut berkah dari dunia.

Jalan yang hanya terdiri dari tanah dan batu-batuan karang namun tapak ku lewati sepanjang jalan. Baju putih dan celana abuku pun tak luput dari cipratan hangat sang mentari siang, dengan membawa tas lusuh dan mengenakan sepatu hitam bertali yang tampak lumayan cukup besar karena ditinggalkan oleh kakakku yang sekarang telah menggapai cita-citanya menjadi seorang prajurit muda dan siap mengabdi untuk tanah air. Di tanganku aku membawa sebuah buku yang mungkin saja tidak semua orang bisa membacanya, sebuah buku yang tidak terlalu nampak tebal dan hanya tersusun atas kertas-kertas tipis berwarna putih kekungingan mengisyaratkan bahwa buku itu telah lama dicetak oleh penerbitnya. Isi buku itu bukan merupakan rangkaian kata-kata yang membentuk pelangi di dalamnya seperti yang biasa dilakukan oleh pujangga-pujangga muda, namun tidak lebih berisi susunan lima garis lurus yang membentang dari kiri hingga kanan yang kemudian diteruskan hingga memenuhi satu lembar buku itu. Kemudian di dalam garis-garis itu terukir gambar-gambar bulatan kecil berwarna hitam pekat yang dalam beberapa gambar dilengkapi dengan garis lurus tegak di sisinya dan tidak ada bulatan hitam sama sekali. Pada halaman paling depan, tertoreh tulisan yang cukup besar dan tidak bermotif sama sekali yang bertulis ―F. CHOPIN‖.

Sejujurnya aku pun hanya menerka-nerka apa yang dimaksudkan isi buku ini, tak sepenuhnya aku pandai membaca sebuah part musik, terlebih bagi seorang anak kampung seperti ku.

Buku itu awalnya ku beli di perkotaan saat aku dan Ibu serta Ayahku menemani kakakku yang saat itu tengah melakukan tes untuk masuk ke dalam anggota bintara atau tentara muda. Tak sengaja kami melewati sebuah toko musik yang tidak jauh dari lokasi tesnya yang tak segan kumasuki dan mendapati berbagai macam alat musik yang sama sekali tak bisa kugapai dengan keadaan ekonomi keluargaku saat ini. Jujur saja, aku sangat ingin memiliki sebuah alat musik sendiri bahkan sampai sekarang namun kenyataannya adalah semua itu hanya terjadi di dalam pikiranku saja.


Kecintaanku terhadap musik bermula dari aku berusia lima tahun ketika ayah yang baru pulang dari kota membawa sebuah alat komunikasi yang sekarang aku kenal dengan telepon seluler. Saat itu aku tak sengaja asal tekan alat konyol itu yang menuntunku sampai kepada aplikasi pemutar suaranya, yang kemudian aku tau sekarang bahwa itu adalah lagu klasik yang dibawakan Wolfgang Amadeus Mozart dengan judul ―Ah-vous dirai je maman‖. Lagunya kudengar seperti lagu ―Twinkle-twinkle little star‖ yang kerap kali kudengar di radio dinyanyikan sebagai lagu pengantar tidur, namun bedanya hanyalah pada karya Mozart itu tak ada lirik sama sekali namun hanya berisi rangkaian nada-nada yang di poles sedemikian rupa dengan variasi-variasi gaya musik klasik di zamannya.

Sekarang aku bersekolah di salah satu Sekolah Menengah Atas di desaku. Sekolah tua yang terlihat sudah hampir bobrok dari luarnya. Area lapangan tanah yang tak begitu luas sangat menyilaukan mata dan pikiran tatkala matahari siang menghampirinya, dinding-dindingnya yang terlihat sudah lusuh seperti tak ada satupun upaya dari pemerintah untuk merenovasinya. Namun sekolah tetaplah sekolah tempat para generasi muda menuntut ilmu dari kumpulan guru-guru tua yang rambutnya mulai memutih karena beban pikiran yang ditangguhkan untuk anak-anak didiknya.

Harus ku akui, bahwa sekolah ku ini merupakan satu-satunya sekolah di desaku dan merupakan sekolah terbaik, tak jarang banyak siswanya yang keluar dari sekolah hanya untuk mengikuti berbagai even lomba seperti olimpiade sains, olahraga, bahkan seni. Berkat bimbingan dari guru-guru berpengalaman, tak jarang pula mereka menyabet juara dalam berbagai kompetisi itu.

Beda halnya denganku, walaupun aku juga termasuk dalam salah satu siswa yang sangat menggemari kejuaraan, aku tak pernah mengikuti lomba apapun bahkan dalam bidang seni. Teman-temanku sering kali mengejekku dengan kata ―Apa sih yang bisa dilakukan oleh anak kampung? Memakan tuts piano?‖ yang kemudian disambut oleh ledakan gelak tawa dari siapa saja yang mendengarnya. Namun, bagiku pribadi kalimat itu hanyalah sebatas senda gurau semata yang ingin membebaskan kutukan abadi dari kebosanan anak SMA yang harus menahan duduk menatap sang guru menyelesaikan kalimat-kalimatnya di depan kelas sampai bel berbunyi menandakan mereka harus menghentikan semua kegiatan untuk hari itu.

Ledekan-ledekan seperti itu kerap ku terima saat aku duduk di dalam satu-satunya ruangan di sekolahku yang menyimpan alat musik tua yang menyerupai piano dan dikenal dengan nama keyboard. Di sanalah aku berlatih mengasah kemampuanku untuk berlatih


piano, walaupun dengan tuts-tuts yang sangat terbatas namun hal itu tidak menyurutkan keinginanku untuk menjadi seorang pianis.

―Bagaimana untuk hari ini, bisa kita cukupkan?‖ kata seorang lelaki paruh baya yang berdiri dihadapanku sambil menatapku penuh dengan kelelahan

―Tolong sekali lagi‖ pintaku kepada lelaki itu

―Bapak ini seorang guru seni rupa, Gufron. Maaf jika bapak tak bisa membantumu banyak dalam hal musik‖ katanya parau sambil beranjak duduk di atas kursi kayu bundar yang ada di sebelahnya

Aku hanya menatapnya diam dari balik keyboard tua itu. ―Mungkin aku terlalu memaksa‖ batinku ketika melihat wajah sang guru yang sudah muncul keriput di keningnya dan selingsingnya yang sudah terlihat mulai memutih.

―Maafkan saya, pak‖ kataku akhirnya memecah keheningan diantara aku dan lelaki itu

Ku dengar dia mengendus pelan sembari menunduk menatap sepatu pantopelnya yang terlihat penuh debu dan tidak pernah disemir hingga akhirnya melanjutkan bicaranya terhadapku.

―Jadi, kau sudah menguasi tangga nada. Kau sudah tau bentuk-bentuk arpeggio dan chord. Apalagi yang bisa ku ajarkan padamu, nak?‖ katanya yang kudengar berusaha menyembunyikan nada mengeluh dalam kalimat itu namun tak berhasil sama sekali

―Saya masih belum terlalu paham dengan prima vista‖ kataku langsung tanpa memperhatikan situasi lelaki itu

―Prima vista itu sight reading‖ katanya kalem ―Atau bermain musik dengan membaca not‖ lanjutnya masih dengan suara yang lemah

Melihat kondisinya itu aku mulai terdiam lagi, dalam pikiranku berkecamuk segudang rasa ingin tau tentang hal-hal yang berbau musik dan bertanya kepada seorang guru yang mengajar kelas seni rupa. Tapi, tak ada lagi orang yang bisa kutanyakan selain dia saat ini, hanya lelaki itulah satu-satunya orang yang mengajarkan seni dan budaya mulai dari kelas sepuluh hingga kelas dua belas.


―Mungkin kita bisa melanjutkan besok, ada acara yang harus bapak datangi‖ katanya kemudian terlihat sedikit bersemangat sembari melihat arlojinya yang kuketahui bahwa saat ini masih pukul tiga siang

―Baik, pak--- baik pak Wan‖ kataku akhirnya sempat terdiam sesaat

Pak Wan tersenyum sambil melambaikan dirinya meninggalkanku dari ruangan itu, jalannya terlihat sedikit pincang mungkin karena sepatu yang Ia kenakan terlalu kecil bagi ukuran kakinya, rambutnya yang sedikit keriting seperti menggumamkan sesuatu seperti bersyukur padaku.

―Ah ya, jika ingin mengetahui sesuatu tentang hal-hal konyol— ehm, maksud bapak tentang musik, kau mungkin bisa pergi ke perpustakaan‖ katanya berbalik menghadapku

―Iya, pak akan saya usahakan‖ jawabku sambil tersenyum, padahal di dalam hatiku berkata ―Kenapa tidak anda saja yang pergi, anda tau bahwa perpustakaan sekolah ini sangat tidak ramah, baik itu kepada siswa‖

Pak Wan akhirnya sekarang sudah benar-benar lenyap dari pandanganku ketika lelaki itu berbelok ke arah lain di sisi sekolah yang sepertinya menuju ke parkiran untuk mengambil sepeda motor bututnya.

―Akhirnya dia pergi, hah‖ gumamku sendiri masih terduduk diam di depan keyboard usang itu. Suasana dalam ruang kesenian itu mendadak suram ketika matahari disembunyikan oleh awan tebal di bawahnya yang kemudian berangsur-angsur kembali terang.

Perutku kudengar mulai menggetarkan sesuatu yang tidak mengenakkan sama sekali, suaranya seperti dentuman alarm jam tua besar yang terdengar sangat menyakitkan telinga. Tak kurasa bahwa aku sudah berada di tempat ini hampir dua jam semenjak dering bel sekolah berbunyi. Namun rasanya tak ada satupun niatku untuk beranjak dari tempat ini, hanya disinlah aku bisa mengekspresikan diriku sebagai seorang seniman yang masih belajar. Bahkan Ibuku sendiri tak terlalu berminat untuk mengetahui apa saja yang aku lakukan di sekolah hingga pulang sangat larut.

Pandanganku tiba-tiba berubah akan sesuatu yang menyenangkan, aku berdiri di atas sebuah panggung besar dengan sebuah piano menghadap depan yang terletak tak jauh dari posisiku berdiri. Riuh suara kudengar dari arah depan panggung suaranya banyak sekali, namun yang terlihat hanyalah bayangan hitam yang menandakan tak ada satupun pergerakan


di sana. Langkahku terpaku menatap bayangan-bayangan itu dan kemudian terhenti pada satu titik terlihat dimana sebuah cahaya terang yang tak begitu terlalu jelas namun aku merasa dia tersenyum lembut kepadaku. Akhirnya ku lanjutkan langkahku dan duduk di depan piano besar itu yang bertuliskan ―Steinway & Sons‖.

―Gufron!‖

Baru saja aku akan menekan tuts pertama piano itu kemudian lamunanku terganggu oleh sebuah suara yang tidak jelas dari mana asalnya. Pandanganku pun kembali ke dalam sebuah ruangan suram yang lubang ventilasinya telah menjadi sarang yang sangat nyaman bagi para laba-laba.

Aku pun menoleh ke arah kiri dan kanan ku mencari sumber suara yang memanggil namaku beberapa saat tadi, tapi yang terlihat hanyalah sebuah keyboard tua yang memanjangkan tuts-tutsnya di depanku. ―Ah, masa kau‖ batinku. Kemudian tanpa sadar sesuatu telah memukul lenganku, keras sekali seperti sesuatu itu langsung mengena ke bagian otot dan tulangku yang kemudian tanpa berpikir panjang langsung merefleksikan diri tanganku yang satunya lagi memgangi bagian lengan yang terkena pukulan. Aku pun menoleh dan melihat seorang lelaki yang mengenakan seragam sama sepertiku hanya saja dia lebih pendek dan lebih besar.

―Kau melamun, Gufron‖ katanya sesaat kemudian

―Dan kau merusak lamunanku‖ balasku kemudian setelah melihat dengan jelas siapa orang yang berdiri di belakangku sekarang

―Haha, masih seperti biasanya kan?‖ katanya sambil terkekeh yang sekarang berjalan ke depan dan mengambil sebuah kursi yang digunakannya untuk memperbaiki posisi

―Kali ini kau menghancurkan bagian terbaiknya‖ kataku dengan nada menyindir yang tak kusembunyikan sedikitpun

―Sudahlah, minum?‖ katanya mencoba menghindari perdebatan panjang yang akan terjadi sambil menyodorkan ku sebuah botol minuman kecil yang sepertinya adalah sebuah air mineral

―Trims, Dul‖ kataku menyeringai mengambil botol itu kemudian meneguknya perlahan


―Namaku adalah Abdul Jaelani!‖ katanya sedikit berteriak membuatku meliriknya dari balik botol minumanku

―Memang apa masalahmu dengan itu?‖ kataku sekarang saling bertatap wajah yang serius

―Jadi, setidaknya kau bisa memanggilku Jaelani‖ katanya parau

―Hah kau ini‖ kataku sambil mendengus pelan ―Aku sudah memanggilmu begitu sejak kita kelas dua SMP. Dan sekarang kau mempersalahkannya karena kita sudah kelas dua belas?‖ kataku sekarang balas seperti memakinya

―Ah tidak juga‖ katanya melemah yang dalam nada suaranya mengaku kalah

―Jika kau mau, aku bisa memanggilmu Ani‖

―Kenapa seperti itu?‖ katanya bingung menatapku

―Ya, Jael-ANI‖ kataku pelan sambil membuat penekanan yang betul-betul mengejek pada dua suku kata terakhir di sana

―Tidak-tidak, Dul lebih baik‖ katanya sekarang yang kemudian membuat kami tertawa lepas karena perdebatan kecil yang selalu saja terjadi dan pasti diakhiri dengan gelak tawa diantara kami berdua.

Abdul merupakan sahabat karibku semenjak kami bertemu sewaktu satu sekolah di Sekolah Menengah Pertama beberapa tahun yang lalu. Namun dia merupakan warga dari desa lain dan desa kami lumayan jauh jaraknya. Namun persahabatan bisa terjadi dimanapun, bukan.

Untung saja Abdul datang sore itu sambil membawakanku air minum dan beberapa potong roti kecil yang Ia beli dari toko yang berada di seberang sekolah.

Sore itu kami habiskan dengan bercanda sambil belajar matematika karena Abdul adalah salah satu dari sekial banyak murid yang sangat lihai dalam hal hitung-menghitung. Yah, walaupun bercanda merupakan topik utama kami sore itu, aku pun tak terlalu banyak mengerti tentang matematika ini matematika itu aku hanya mengiyakan dan mencoba trik-trik yang di demonstrasikan oleh Abdul kepadaku dan mencobanya pada salah satu soal yang lumayan sulit, dan walaupun sesekali berhasil dan beberapa kali tak berhasil sama sekali.


―Hidup itu seperti matematika, Gufron kau tau‖ katanya sambil menggambar sebuah kurva yang di dalamnya terdapat garis parabola yang melengkung ke atas

―Apa maksudmu?‖ tanyaku yang kuakui sedikit kebingungan sekarang

―Yah, untuk menggapai kehidupan yang lebih baik kau harus tetap menghitung entah itu kau berada pada ujung paling bawah‖ katanya sambil menunjukkan salah satu ujung gambar parabolanya itu menggunakan pensilnya yang terlihat sudah memendek dengan pelan ―Ujung yang paling tinggi‖ katanya sekarang menunjuk bagian parabola yang melengkung ―Bahkan jika hidupmu kembali lagi seperti sebelumnya‖ lanjutnya sekarang menjalankan pensilnya di atas kertas mengikuti gambar parabola yang dibuatnya sendiri sampai berhenti pada salah satu ujung parabola yang lain ―Kau harus tetap menghitung kemudian mengkaitkannya satu-sama lain hingga tercipta hasil yang memuaskan‖ jelasnya sekarang sambil menulis rumus yang ku ketahui merupakan rumus untuk mencari persamaan dan titik-titik stasioner dari parabola yang ditulis oleh Abdul menghasilkan hasil sama dengan.

―Terkadang aku kagum dengan anugerah yang diberikan Tuhan kepadamu, Dul‖ kataku pelan sambil mengangguk-angguk tak paham dengan penjelasannya itu ―Tapi darimana kau mendapatkan rangkaian kata-kata itu?‖ tanyaku sekarang berbalik kepadanya

―Ah yaa--‖ jawabnya terdengar sedikit gelagapan ―Tentu saja dari Pak Lutfi!‖ katanya sambil melebarkan senyumnya sendiri

―Sudah ku duga‖ kataku kemudian sambil tersenyum kecil kepadanya dan mengalihkan perhatian

―Tenang saja, aku pasti bisa merangkai kata seperti tulisan-tulisan yang kau buat di mading sekolah, Gufron!‖ katanya sangat bersemangat

―Iya, mungkin seratus tahun lagi‖ gumamku dengan suara yang sangat kecil sekali berharap Abdul tidak mendengarnya

―Hmm, apa kau bilang?‖ katanya menatapku lekat

―Ah, tak ada apa-apa?‖ jawabku tersenyum sambil kembali memusatkan perhatianku kepada langit sore yang di perindah dengang lantunan serenade dari burung-burung sore yang terbang beramai-ramai kembali ke sarang mereka sambil mencicit-cicit teratur


Langit sore itu terlihat semakin memerah mengikuti jejak matahari yang sekarang hampir menyentuh cakrawala dan diikuti oleh awan-awan yang terlihat seperti kapas itu menghalau jalan sang raja langit di atasnya berharap agar dia tak kembali lagi naik dari posisinya sekarang, alunan angin sepoi-sepoi pun bergetar menyambut siswa yang telah selesai dari kelas sorenya.

Aku dan Abdul kemudian beranjak meninggalkan tempat itu karena tak ingin berlama-lama dihisap oleh serangkaian vampir terbang yang berukuran sangat kecil menggerogoti kami. Aku yang biasa pulang bersama dengan Abdul pun sama seperti biasanya membawaku dengan sepeda motornya melewati jalanan setapak sore dan hiruk-pikuk masyarakat yang juga akan kembali ke rumah mereka membawa hasil keringat yang seharian penuh telah ditampung untuk dihadiahkan kepada keluarga dan anak-anak mereka.

Kami pun berpisah di pertigaan kecil yang memisahkan desaku dan desa Abdul yang tidak terlalu jauh dari sekolah namun perjalanan menuju ke rumahku adalah yang paling tidak menyenangkan, yaitu harus melewati perkebunan rindang yang menutupi sinar matahari untuk menembuskan cahayanya melewati daun-daun hijau yang nampak tidak berminat sama sekali untuk menggugurkannya. Memang nyaman jika berjalan di pagi hari yang segar, namun jika ini adalah sore hari bahkan menjelang malam, seperti yang ku katakan bahwa vampir-vampir kecil yang terbang itu siap mengintai dari mana saja di celah-celah semak.

Sesampainya di rumah, aku disambut oleh aroma masakan terlezat yang dimasak oleh Ibuku dari dapur. Aroma ini seperti membangkitkan suatu hewan yang lumayan lama tertidur dalam perutku, rasanya seperti Ia sedang mengeram dan saat ini seperti sedang mengaum karena ikut menghirup aroma menggugah selera dari arah dapur. Aku pun langsung berlari mengikuti nasehat hewan dalam perutku menuju dapur, di sana aku mendapati Ibuku yang tengah sibuk memotong-motong sayur dengan pisaunya sambil bersenandung yang tak begitu jelas kudengar karena bunyi dari percikan air yang bercampur dengan minyak panas diatas penggorengan.

―Wah tumis, kangkung!‖ derik ku ketika melihat pemandangan itu

―Eeeit! Bersihkan dulu tubuhmu, nak‖ kata Ibuku sementara tangannya yang lain telah meninggalkan sayurannya dan menahan laju tanganku untuk mengambil sebuah sendok yang berada di sebelah penggorengan itu


―Baik bu, tapi tolong jauhkan pisau itu dari anakmu ini‖ kataku pelan sambil tersenyum dan berlalu dari dapur menuju kamar mandi untuk membersihkan diri seperti yang diperintahkan

―Jadi Gufron, sudahkah kau memikirkan masa depanmu?‖ tanya Ibuku dari balik meja ketika kami makan pada malam harinya. Kami hanya berdua saat itu karena kakakku belum pulang dari pekerjaannya dan Ayahku juga seperti itu

―Hmm‖ aku langsung terbawa kepada pandangan seperti piano dalam diriku ketika Ibuku mengajukan pertanyaan itu ―Bagaimana dengan seorang seniman?‖ kataku kemudian sambil tetap menjaga nada suaraku terdengar sopan karena Ibu mungkin tak setuju dengan perkataanku dan lebih memilih sesuatu yang lebih baik dan lebih tinggi menurutnya

―Seniman?‖ tanya Ibu lagi dan aku mengangguk ―Apa kau tak ingin menjadi seorang pegawai bank, bekerja di pertambangan, atau sejenisnya seperti itu?‖ katanya lagi

Aku terdiam sejenak mendengarnya berkata seperti itu, mungkin sudah dugaanku bahwa Ibu akan sedikit menolak ketika aku menyebutkan tentang seniman ―Entahlah, bu. Mungkin itu terlalu berat bagiku‖ kataku lemah

―Kau bahkan belum mencoba‖ katanya lagi sekarang memakan kerupuknya hingga terdengar sampai ke seberang meja tidak menghiraukanku yang perlahan meninggalkan makananku di atas meja

―Kalau begitu aku harus mulai lagi dari awal‖ kataku tetap kalem sambil tersenyum kecil

―Apa maksudmu?‖ kata Ibu sambil menatapku

―Ibu tau, kalau nilaiku di bidang hitungan sangatlah tidak pantas untuk pekerjaan itu sekarang?‖

―Itu karena kau kurang belajar!‖ katanya sedikit berteriak mengejutkanku

Aku terdiam sejenak memikirkan kata-katanya, sejenak mungkin aku melihat Ibu sedikit bangkit dari tempat duduknya tatkala mengucapkan kata terakhirnya tadi dari gelagatnya seperti orang yang akan duduk ke posisinya semula. Hening untuk sementara suasana di atas meja makan itu, suasana yang aku tidak sukai hingga ku putuskan untuk kembali melahap makananku walaupun rasanya menjadi sedikit tidak sedap sekarang. Ibu pun begitu, Ia kembali dalam lauknya yang sekarang terlihat menggenang karena air dari tumisan yang beraroma sedap tadi.


―Baiklah jika kau berkeras seperti itu, Ibu tidak memaksa‖ katanya pelan memecah keheningan di sana ―Ibu dulu juga sempat bertengkar dengan kakakmu karena ingin menjadi seorang tentara. Ibu katakan bahwa Ibu tidak punya cukup uang untuk membantunya mewujudkan impiannya, tetapi dia bersikeras dan akhirnya Ibu relakan hingga sekarang dia menjadi seorang tentara sungguhan. Dan sepertinya Tuhan juga selalu memberikan kita bantuan saat kita butuh‖ jelasnya pelan masih dari balik lauknya yang sekarang tersenyum kecil membuatku ikut tersenyum juga malam itu

―Apakah para Ibu memang seperti ini?‖ Gumamku namun hal itu tidak masalah, sebab Ibu telah merestuiku untuk menjadi seorang seniman yang begitu saja muncul dikepalaku ketika orang lain mengajukan pertanyaan yang sama seperti Ibu.

#

―Jadi bagaimana cara kejanya, pak?‖ tanyaku penuh semangat di hari aku dan Pak Wan mulai lagi berdua memperbincangkan yang mungkin saja membuat lelaki paruh baya itu merasa bosan di menit-menit terakhir

―Baiklah, perhatikan lima garis ini dan empat ruang kosong diantaranya, itu disebut spasi. Bapak ingin kau menghitung seperti biasa tapi dari bawah‖ katanya pelan sambil menunjukkanku sebuah paranada yang pendek dan belum terisi satu gambar not pun di dalamnya ―Baiklah, sekarang‖ katanya melanjutkan sambil menggambar sesuatu yang melengkung di ujung kiri paranada ―Ini di sebut dengan kunci G‖

―Atau treble cleff‖ kataku melanjutkan setelah ada jeda sedikit diantara kalimat Pak Wan

―Ya, kurang lebih seperti itulah‖ katanya sedikit kaku

―Jadi jika kau melihat tanda seperti ini, maka kau harus paham bahwa di garis kedua ini adalah---―

―Sol!‖ putusku lagi sebelum dia berhasil menyelesaikannya. Pak Wan sekarang menatapku dengan curiga, seakan dalam matanya menyimpan perasaan yang berkata ―Mengapa aku harus bersusah payah mengajarimu semua ini jika kau telah mengetahuinya?!‖ dengan nada yang sungguh sangat mengena di dalam dada ―Maaf, pak. Silahkan‖ kataku pelan menghindari tatapannya itu


―Baiklah sekarang coba kau buat sendiri paranada mu sendiri beserta notnya‖ katanya ketus ingin sekali membuatku tertawa namun kutahan karena aku merasa tidak sopan sama sekali tertawa hanya karena aku menganggap perkataannya lucu

Pagi itu sudah hampir menjelang siang, maklum karena hari ini ada kegiatan guru yang mengharuskan mereka untuk menghentikan kegiatan pembelajaran, setidaknya untuk hari ini. Tapi, hanya karena mereka adalah guru dan yang merasakan imbas yang sangat positif karena penundaan ini tentunya adalah siswa itu sendiri, karena jelas telah tertanam dan terwarisi dari dalam jiwa mereka sendiri perasaan senang untuk pulang lebih pagi dari biasanya dari rutinitas yang sungguh melelahkan, tidak terkecuali bagiku yang juga merupakan siswa biasa yang tak memiliki prestasi apapun entah itu dari kelas maupun dari guru. ―Ah tidak juga, beberapa guru mengakuiku‖ batinku tatkala melihat tampang Pak Wan yang masih ketus namun tersembunyi di balik rambutnya yang mulai mengkriting setiap saat dia merasa aneh.

Sembari aku terus saja berlatih menulis sebuah part dengan asal sambil memainkannya di atas tuts keyboard lusuh itu, ku dengar sosok-sosok berbicara dari arah yang tak begitu jauh dariku. Sepertinya Pak Wan tengah mengobrol serius dengan seorang guru yang aku lirik sepersekian detik dan kukenali bukan guru sekolah ini.

―Apa yang mereka bicarakan‖ tanyaku dalam hati mendengar sekaligus melirik kedua orang tua itu membicarakan sesuatu yang sepertinya sangat penting sekali, apalagi saat beberapa momen aku mendapati bahwa pandangan lelaki yang Pak Wan tengah ajak berbicara itu mendapati mataku yang langsung saja mengarah ke sisi lain dari ruangan menghindari tatapannya.

Pak Wan kemudian masuk setelah teman sepermainannya itu pergi sambil menggerakkan tangannya untuk bersalam dan berkata sesuatu seperti ucapan perpisahan yang terdengar sayup-sayup ditutupi oleh suara tuts keyboard yang sengaja ku nyaringkan karena percakapan mereka sangat mengganggu konsentrasiku mempelajari seluk beluk part nada ini.

―Tolong kecilkan suaranya‖ derik Pak Wan sembari memegang salah satu daun telinganya dengan satu tangannya yang langsung saja ku turuti dengan segera ―Jadi, sepertinya ada kabar baik untukmu, Gufron‖ katanya pelan kepadaku


Aku yang tengah memainkan jari-jariku di atas tuts keyboard itu sontak langsung terpaku, berhenti bergerak. ―Kabar baik menurutnya, atau menurutku‖ tanyaku heran dalam hati karena sedari tadi aku memperhatikan gelagat kedua lelaki itu berbincang dengan tidak jelas.

―Ah sepertinya kau bisa menjadi guru yang lebih baik dariku‖ kata Pak Wan dengan senyum terpaksa sekarang sambil melihat coretan-coretan kertasku yang lumayan banyak dengan para nada beserta not-notnya yang telah kulengkapi dengan variasi dari kunci bass dan not-not kres, serta modulasi dari tangga nada dasar ke tangga nada yang lain

Aku pun menatap laki-laki itu dengan penuh tanya dan ikut tersenyum kecil memberi isyarat bahwa Pak Wan sepertinya melebih-lebihkan kemampuanku.

―Jadi, kabar baik apa pak?‖ kataku pelan menyambung topik pembicaraan yang sempat terhenti

―Ah ya, kau tau orang yang tadi?‖ katanya sekarang sedikit berminat untuk berbicara denganku yang kusambut dengan gelengan pelan kepalaku

―Dia adalah guru seni musik yang sebenarnya‖ katanya dengan memberikan penekanan yang kuat di setiap kata-katanya

Aku yang mendengar hal itu langsung merasakan sensasi yang aneh dalam tubuhku, pergelanganku seperti mati rasa, kakiku tak bisa bergerak, dan perutku yang mulai mengerang karena sesuatu selain rasa lapar yang terus melanda mengingat kami sudah berada di dalam ruangan itu sampai hari telah menjelang sore, sementara itu yang bekerja hanyalah bagian otakku yang masih memikirkan lekat-lekat kalimat Pak Wan. ―Setauku, di daerah sini tak ada seorang guru yang benar-benar menjurui bidang seni musik‖ batinku

―Maksud bapak?‖ kataku kaku

―Namanya adalah Pak Joko, dia sebenarnya bukan orang sini melainkan dari Jawa, yah kuyakin kau tau itu setelah mendengar namanya‖ sambutnya terkekeh ―Tapi beberapa hari yang lalu dia kembali kesini karena ada keluarganya yang harus Ia nafkahi‖ lanjutnya

―Apakah, Pak Joko ini pernah mengajar di sini?‖ tanyaku penuh semangat sekarang

―Ah ya, tentunya sebelum dia pindah ke Jawa mengajar di sana dan bapak yang mengambil alih‖ katanya sedikit terkesan dengan kata-katanya sendiri


Dalam batinku berkata ―Mengapa harus anda yang menggantikannya, mengapa bukan anda saja yang digantikan?‖ sambil memasang senyum yang terus kepada Pak Wan yang terlihat tak kalah bersemangatnya saat itu

―Dan apa kabar baik itu, pak?‖ tanyaku lagi dengan heran

―Sejujurnya ceritanya panjang sekali, tapi akan coba bapak singkat supaya kau mengerti‖ katanya pelan ―Jadi, Pak Joko baru saja kembali dari Jawa kesini dan dia akan mengadakan sebuah lomba sekaligus pertunjukan bagi anak-anak berbakat dari penjuru Nusantara‖ jelasnya yang aku dapati diriku tak paham sama sekali dengan ucapannya ―Mungkin terlalu singkat‖ katanya parau ―Yang kumaksudkan adalah lomba piano‖ katanya menutup perkataannya sambil duduk di kursi terdekat.

Aku yang mendengar hal itu pun langsung merespon dengan jantungku yang berdegup kuat sampai-sampai aku merasa sekujur tubuhku juga terkena dampaknya. Dan aku merasa Pak Wan begitu bersemangat kali ini denganku.

―Ta—tapi pak. Bagaimana bisa dikatakan jika acara yang akan diadakan Pak Joko merupakan lomba sekaligus pertunjukan, dan mengapa dari seluruh nusantara, mengapa tidak hanya dari daerah sini saja?‖ tanyaku kaku kepada Pak Wan

―Tolong jangan bertanya langsung seperti itu, Gufron‖ katanya pelan ―Aku bisa memahami kondisimu saat ini‖ lanjutnya

―Apa maksud bapak?‖ kataku yang aku bisa mendengar sendiri jelas merendah

―Jadi, dia berkeliling di setiap sekolah di daerah ini dan kebetulan kesini dan menemukan bapak dan dirimu tengah berlatih musik. Dan mendapati hanya dirimu yang Ia temukan berlatih musik dari semua sekolah. Dan oleh sebab itu dia mengadakan ini untuk secara nasional‖ katanya menjelaskan yang masih belum bisa kucerna dengan baik

―Walaupun begitu, saya harus bersaing dengan seluruh orang dari Indonesia?‖ kataku parau

―Jangan berkecil begitu. Bapak tau kau anak yang berbakat‖ katanya tersenyum sekarang

Aku merasa seperti berada di bawah sinar matahari yang sangat hangat saat itu walaupun dalam kenyataannya bahwa aku dan Pak Wan berada diam dalam ruangan muram ini, tapi rasanya sekali lagi aneh. Tubuhku dan pikiranku merespon semua hal yang dikatakan oleh Pak Wan dengan baik, seakan setuju tanpa menunggu perintah dari tuannya.


―Dan sebetulnya ada kabar baik satu lagi‖ katanya yang kurasakan masih mendapatiku memendam kata-kataku sendiri. Aku pun kembali menatap Pak Wan dengan perlahan menunggu kabar baik apa lagi yang akan Ia sampaikan dengan hati yang masih bergetar ―Pak Joko ingin melatihmu secara pribadi di rumahnya, dan kebetulan dia mempunyai piano asli yang mungkin saja akan digunakan untuk acara nanti‖ jelasnya pelan. Namun bisa kurasakan ada aura tersendiri yang terbangun lagi dari tidurnya dari dalam diriku. Aku merasa jelas senyumku mengembang dengan murni tanpa ada paksaan sama sekali seperti yang tertulis dalam part musik yang telah ku coret-coret di atas lembaran kertas buram itu dan kubuang

Sungguh aku tak bisa berkata apa-apa lagi untuk saat ini. Aku hanya menuruti keinginanku untuk mengiyakan dan segera berlatih secepat mungkin.

Hari itu berakhir dengan kenyataan indah bahwa aku akan dilatih secara pribadi oleh Pak Joko yang diceritakan oleh Pak Wan memiliki kemampuan dalam bermusik yang sangat pro, dan dia dikabarkan tengah menggubah beberapa lagu ciptaannya sendiri dalam bentuk klasik-kontemporer. ―Seperti apa Pak Joko ini‖ batinku ―Dan dia memiliki piano asli‖ kataku lagi dalam hati, terbenam sendiri dalam kamarku yang sudah gelap mengikuti keadaan malam yang tak kusadari sudah sangat larut.

#

―Pria tua itu mendapatimu sedang berlatih dengan Pak Wan?‖ tekas Abdul dengan nada yang luar biasa terkejutnya padaku yang kujawab dengan anggukan pelan dan senyuman kecil yang tidak bisa ku tahan kala mengingat momen itu ―Tak mungkin‖ pekiknya

―Aku juga mengatakan hal itu‖ kataku pelan sekarang menatap lembut goyangan semak-semak yang kian hari kian meninggi di belakang ruangan kelasku melalui balik jendela

Jam-jam istirahat aku bercerita dengan penuh minat kepada sahabatku di dalam kelas yang mulai penuh bising setiap kali guru keluar dari tempatnya. Obrolan-obrolan aneh yang ku dengar menjadi makan siangku setiap harinya di sekolah. Begitupun Abdul yang mendengar dengan penuh semangat juga namun terlebih dia juga menolak beberapa kalimat yang ku sampaikan kepadanya.

―Tapi Gufron, kau tidak melupakan sesuatu kan?‖ katanya pelan kali ini dicampur dengan perasaan gelisah yang bisa kurasakan dari balik mejaku

―Apa aku ini seorang pelupa?‖ jawabku mencoba bergurau kepadanya


―Tidak, bukan begitu maksudku‖ katanya sekarang ikut menatap keheningan di alam luar sekolah ―Tapi apa kau lupa bahwa beberapa minggu lagi kita akan menjalani ujian akhir sekolah?‖

Perkataan Abdul sontak membuatku tidak bergeming sedikitpun, aku terpaku memandang semak belukar yang ada di depanku tanpa ekspresi dengan khayalan bahwa aku ada berada di tengah-tengah semak itu tengah kebingungan mencari jalan keluar, rasanya seperti berada dalam labirin gelap yang setiap waktu menjadi semakin tinggi dan semakin membingungkan, di celah-celah semaknya aku merasakan ada hawa yang bergerak mengikuti langkahku seperti ular besar yang siap menerkam kapan saja aku lengah.

―Kau tidak lupa kan?‖ kata Abdul lagi memecah pandanganku

Sekarang aku menatapnya dan menatap diriku sendiri dengan penuh kebodohan ―Bagaimana mungkin aku melupakan sesuatu yang sangat penting di sekolahku sendiri‖ batinku ―Mungkinkah aku terlalu senang karena kabar Pak Joko, ataukah aku terlalu takut dengan perlombaan itu sehingga aku melupakan tentang ujian akhir sekolah yang akan menentukan kelulusan kami selama tiga tahun berjalan di atas lantai sekolah ini?‖

―Kau ini!‖ kata Abdul lagi dengan ketus ―Kau begitu kegirangan sekali dengan kabar yang belum pasti akan terjadi atau tidak sehingga---―

―Kabar itu pasti! Dan aku tau itu‖ kataku memotong kalimat Abdul sebelum Ia sempat menyelesaikannya ―Lagipula aku tidak mungkin melupakan soal ujian sekolah‖ kataku berbohong mencoba menyembunyikan rasa maluku namun sepertinya sia-sia terdengar dari raut wajah dan nada bicaraku yang sedikit gemetar

―Kau berbohong‖ jawab Abdul masih tidak mau melihatku

Terdapat jeda sejenak diantara perdebatan kecil, singkat, namun penuh makna itu diantara kami. Satu-satunya hal yang terdengar adalah gemuruh suara siswa yang sedang bergosip dan sedang berlarian di dalam kelas memenuhi telingaku hampir seperti bisikan-bisikan halus yang teramat sangat jahat.

Kemudian, dering bel konyol itu berbunyi dengan angkuhnya memekakkan telinga dengan sangat nyata menghentikan segala aktifitas diluar selain membaca dari semua siswa yang tengah menikmati waktu istirahat mereka dengan tenang. Guru-guru pun mulai bergerak


menuju ke arah yang berlainan, berpencar mencari tujuan mereka untuk mengajar selanjutnya.

―Kalau begitu bisakah kau membantuku?‖ bisikku pelan kepada Abdul yang duduk persis di depanku setelah beberapa saat seorang guru yang penuh uban masuk ke dalam ruang kelas

Abdul terdiam sejenak menatap ke arah depan dengan aura yang bisa kurasakan keluar darinya menandakan bahwa Ia sedang jengkel.

―Baik, jika kau mengaku berbohong‖ Katanya setelah ada jeda semenit yang sangat menggoncangkan hatiku

―Baik, aku mengaku‖ jawabku pelan dengan nada terpaksa

Abdul akhirnya sekarang menghadapku dengan raut wajah yang sontak dirubahnya dengan cepat dari wajah datar dengan senyum lebar sekarang sambil menggerakkan alis matanya mengisyaratkan kata oke kepadaku lalu berbalik lagi menghadap depan dengan tenang sembari orang tua yang sedang berbicara di depan papan tulis itu tak melihat dan tak mendengar.

Melihatnya bertingkah seperti itu membuat suasana hatiku menjadi tenang kembali lalu berterima kasih dengan memukul kepalanya dengan buku yang sudah kugulung dengan lumayan tebal yang disambutnya dengan kekeh kecil.

#

―Sepertinya kita perlu mulai dari awal‖ kata Pak Joko ketika aku dan orang tua kejawa-jawaan itu berlatih untuk persiapan perlombaan di rumahnya yang cukup lumayan besar karena mungkin saja ada sebuah piano grand di dalamnya ―Kau selalu salah di bar ke enam belas‖ katanya sedikit melemah di kata-kata terakhrinya sambil menunjuk sebuah part lagu dengan tulisan ―J.S. Bach – BWV 846 (Prelude And Fugue in C Major)‖ ―Padahal ini adalah part lagu yang sangat mudah‖ lanjutnya

―Mudah bagi anda‖ batinku ketus pada orang tua itu. Tetapi memang kuakui bahwa lagu ini terdengar sangat mudah dan memang mudah dimainkan dengan tuts-tuts piano yang begitu banyak di hadapanku, namun entah kenapa seperti ada sesuatu yang sangat mengganjal pikiranku saat ini.


―Ada masalah, nak?‖ Pak Joko bertanya kepadaku sekarang masih tetap berdiri di samping piano sambil membungkukkan badannya menatapku penuh keheranan

―Sebenarnya saya akan menghadapi ujian sekolah satu minggu lagi‖ kataku parau setelah beberapa saat terdiam memikirkan apakah aku harus jujur ataukah berbohong, tapi memang jujur mungkin adalah hal yang terbaik

Pak Joko pun membisu masih menatapku seperti mencari-cari sesuatu yang hilang di wajahku pada satu tempat.

―Aku tidak heran sama sekali‖ katanya sambil beranjak dari tempatnya membelakangiku di belakang kursi piano ―Kalau begitu, fokuslah pada ujianmu, Gufron‖ katanya pelan

―Tapi pak----―

―Tenang saja, kita akan membereskan ini setelah kau selesai. Aku tau kau anak yang berbakat‖ katanya memotong kalimatku masih membelakangi sebelum aku menyelesaikannya namun dapat kurasakan bahwa terdapat senyum keikhlasan di balik wajahnya itu


Hari itu lumayan mendung saat aku berada di rumah Pak Joko, angin-anginnya halus merebahkan daun-daun pohon kelapa yang menjulang tinggi di sawah sebelah rumah sekaligus masuk memenuhi seisi ruangan menyibakkan rambut Pak Joko dengan pelan yang sontak membuatku berpikir bahwa dia menggunakan wig untuk kepalanya. Suara nada piano terngiang di dalam kepalaku, memenuhi diriku dengan sensasi yang berbeda ketika Pak Joko mengambil alih tempatku di depan piano sambil mulai melihat part lagu itu kemudian memainkannya dalam tempo moderato secara halus. Sontak aku merasakan hawa sejuk dari lingkunganku bukan karena angin sepoi dingin yang terbawa oleh awan yang menghitam di atas rumah tetapi karena alunan nada-nada yang dimainkan oleh jari-jemari Pak Joko seperti membawa sebuah musim semi dengan bunga-bunga yang bermekaran di dalam ruangan.




Seminggu sebelum ujian berlangsung aku pun belajar dengan intensif seperti yang telah diminta oleh Pak Joko bersama dengan sahabatku Abdul, namun rasanya sia-sia saja walaupun aku memaksa diriku untuk terus terfokus dengan apa yang dijelaskan oleh Abdul ketika aku bertanya, aku merasa semakin aku terfokus dengan buku bacaan dan hitungan-hitungan rumit Fisika, Kimia dan Matematika aku semakin terbenam dalam pikiranku tentang


lomba yang akan digelar oleh Pak Joko beberapa minggu setelah ujian sekolah berakhir serta keinginan untuk bersegera memulai latihan lagi dengannya sontak membuat penglihatanku menjadi kabur seolah-olah dengan perlahan semua rumus-rumus yang tertulis di atas kertas buku yang tebal itu berubah menjadi garis-garis lurus yang terdiri atas lima garis membentang sepanjang buku dan dari atas kebawah memenuhi halaman buku dilengkapi dengan ukiran garis melengkung kunci G yang memutar di sisi tengahnya, di bawahnnya juga terukir kunci F dengan ukiran hitam yang sangat menarik perhatian meminta untuk dibaca dan kumpulan not-not balok berbaris berjejer rapi di dalam garis-garis itu, tak jarang pula not-not itu keluar dari garis saking tinggi nadanya dan harus diberikan garis bantu untuk meletakkannya di dalam paranada, di bawah lima susunan garis-garis itu terlihat tanda-tanda forte, piano dan lengkungan legato membentuk garis melengkung menghubungkan not yang satu dengan lainnya, semuanya membentuk sebuah part lagu yang sama sekali tak kumengerti.

Abdul kerap menjumpaiku membolak-balik halaman buku itu dengan cepat dan dengan tingkah yang tak pantas, dia bertanya kebingungan dan sontak pandanganku tentang part nada yang tertulis di dalam lembaran buku itu menghilang begitu saja tergantikan sekali lagi oleh tulisan-tulisan kimia yang bersatu membentuk suatu senyawa.

Namun akhirnya dengan usaha keras yang kukerahkan dengan sekeras-kerasnya membuahkan hasil nyata bagiku dalam ujian.

Ketika ujian berlangsung aku merasa sangat percaya diri dapat menjawab hampir semua soal-soal yang diujikan pada ujian akhir ini, walaupun aku tak tau apakah jawaban yang kupilih mengantarkanku kepada poin yang benar ataukah salah dan walaupun kerap kali bayangan tentang part lagu itu terus muncul menggantikan soal-soal dalam lembaran soal ujian, menghantuiku tiap kali aku mengalihkan perhatian menuju jam dinding yang terus berdetak dengan tempo yang ku rasakan berubah dari larghetto menjadi andante dengan sangat lambat. Tapi akhirnya keputusanku untuk berubah dan ingin segera menyelesaikan semua penyiksaan ini membuat semuanya menjadi normal kembali, jam yang berdetak semestinya dan soal-soal yang rumit semestinya.

Akhirnya ujian sekolah telah selesai dan akupun tak sabar ingin segera melanjutkan pelatihan dengan Pak Joko di dalam ruangan rumahnya yang penuh dengan emosi keceriaan dan kesedihan karena nada-nada yang dihasilkannya dari tuts-tuts piano yang monoton itu dengan sangat cermat.


Ruangan yang terasa dingin karena area persawahan disekelilingnya membawa angin sepoi sore dengan pelan dan lembut melayang melalui sela-sela kerangka tubuh, gorden-gorden jendela terlihat seakan-akan melambai kepada seisi rumah saat itu. Berbeda sekali dengan kondisi lingkungan luar yang terasa panas karena sengatan sinar matahari yang sangat labil beberapa hari belakangan ini terkadang panasnya menimbulkan hujan dan terkadang juga panas yang sangat membakar jiwa.

Hari itu aku dan Pak Joko melanjutkan latihan kami yang tertunda karena aku haris memfokuskan diri pada ujian akhir sekolahku satu minggu yang lalu. Pak Joko masih memberikanku trik-trik bagaimana cara menguasai teknik prima vista dengan baik dan efisien serta bagaimana mengaplikasikannya ke dalam nada-nada dan melodi yang dihasilkan oleh gambar-gambar not balok itu oleh tuts-tuts hitam dan putih piano yang terbentang memanjang dari kiri ke kanan.

―Bukan seperti itu‖ kata Pak Joko sedikit tegas ketika dia mengetahui aku membuat kesalahan dalam menekan tuts piano sehingga membuat suaranya menjadi fals ―Pertahankan pandanganmu pada part, jangan terlalu melihat posisi permainanmu‖ lanjutnya sambil menunjuk part musik yang bertuliskan ―J.S. Bach – BWV 846 (Prelude And Fugue in C Major)‖ yang sekiranya tinggal seperempat bagian lagi aku bisa menguasainya

―Tapi bagaimana saya bisa melihat nada yang saya mainkan jika tidak melihat tuts?‖ kataku sambil tetap menjaga nada suaraku dalam nada yang konstan

―Wirasa, Gufron. Rasakan nada yang kau mainkan‖ katanya pelan

Aku pun hanya menelan mentah-mentah kalimat Pak Joko sembari melanjutkan permainanku pada part piano yang sekarang telah masuk ke bagian fugue dan not-notnya terlihat lebih berbelit-belit dari sebelumnya.

―Kau adalah anak yang paling cepat berkembang diantara semua yang pernah kulatih‖ katanya kalem yang sontak langsung menghentikan permainanku di bar-bar terakhir pada part lagu itu ―Ah, tak apa. Lanjutkan‖ katanya tersenyum sehingga membuatku tersenyum juga

Sore itu penuh aku berlatih dengan Pak Joko di rumahnya, aku pun merasa seperti ada peningkatan dalam permainanku setiap harinya aku berlatih dengan orang tua itu. Aku merasa bahwa aku semakin yakin dengan pilihan jalan hidupku, dan aku yakin bahwa hari-hari juga mendukung perjalananku selama ini.

―Tempomu terlambat‖ kata Pak Joko datar

Sudah beberapa minggu aku berlatih dengan Pak Joko mempersiapkan perlombaan yang akan Ia adakan sendiri, yang aku merasa bahwa setiap harinya aku semakin was-was menunggu hari itu akan datang, dan sekarang aku hanya mempunyai beberapa hari lagi untuk mempersiapkan diriku untuk mengikuti perlombaan ini dan menghadapi berbagai orang dari seluruh penjuru negeri.

―Tapi bapak bilang bahwa lagu ini, temponya memang selalu berubah-ubah‖ kataku pelan kepada Pak Joko

―Nocturne Op. 9 No. 2. Lagu yang sangat melankolik sekali dan ini adalah salah satu favoritku‖ katanya pelan sambil mengambil part lagu yang bertuliskan ―Chopin – Nocturne Op. 9 No.2‖ di bagian atas kertasnya dari piano ―Melodi-melodi Chopin memang sangat kaya akan emosi‖ katanya parau tidak memperhatikanku sama sekali namun aku benar-benar setuju dengannya ―Tapi kau bukan harus bermain secara rubato, nak. Kalau kau ingin memainkan lagu ini pada perlombaan nanti kau harus benar-benar merasakan bahwa Chopin juga ikut tersenyum ketika kau memainkannya‖ lanjutnya

Aku pun hanya tertunduk diam kala itu, aku yang memilih sendiri lagu yang akan kumainkan pada saat lomba nanti tak kusangka juga merupakan lagu favorit dari Pak Joko. Jadi mestinya dia juga membantuku bagaimana cara memainkannya dengan baik, batinku kepada diriku sendiri.

―Maaf, Gufron. Tapi aku tidak bisa mencontohkanmu bagaimana cara memainkannya karena setiap orang punya gaya masing-masing dan aku ingin kau menemukan gaya Chopinmu sendiri‖ katanya tersenyum kecil menatapku sekarang. Aku merasa terhentak mendengarnya berkata tiba-tiba saja seperti bisa membaca pikiranku. ―Baiklah mungkin kita harus bersistirahat sejenak‖ katanya pelan sambil membawa part musik itu entah kemana

Siang menjelang sore itu masih terasa tenang dan melankolis seperti lagu Nocturne-nya Chopin, yah walaupun Nocturne memang musik yang diperuntukkan untuk malam hari seperti judulnya.

Kicauan burung-burung kecil terdengar mencicit bergerombol tiap kali mereka lewat dan hinggap di atas kabel listrik yang membentang panjang dari desa ke desa lain di atas samping rumah Pak Joko sembari terlihat membuang kotorannya secara sembarangan kepada orang-


orang yang berniat jahat hari itu dan kebetulan lewat di bawah mereka. Bunga-bunga sore hari tersenyum merayu dalam kuncup mereka yang terlihat akan mekar beberapa saat lagi mengikuti arah datangnya sinar sang mentari dari langit membujur ke barat. Awan-awan cumulus yang terlihat putih empuk layaknya kapas yang keluar dari cangkangnya terlihat sesekali berusaha menutupi wajah sang surya namun tak berhasil karena selalu saja didorong oleh kekuatan angin dengan lembut menasehatinya untuk tidak segera memudarkan kedamaian yang tengah terjadi di bawah mereka.

Tanpa kusadar dalam keheningan yang hanya ditemani oleh suara-suara kicauan burung dan hembusan angin sepoi-sepoi segar yang menerpa wajahku, terdengar satu suara lain lagi yang sangat familiar di telingaku dan suaranya seperti sangat mendukung suasana.

Pak Joko sekarang duduk mengambil alih posisiku di atas kursi pianonya sembari jari-jarinya dengan luwes menari di atas tuts-tuts piano yang terasa sangat lembut ketika Ia memainkan lagunya.

―Frederich Chopin – Nocturne Op. 9 No.2‖ gumamku tenang di dalam hati sambil terpaku melihat gaya permainan dari Pak Joko membelakangiku menghadap piano besar itu. Wajahnya sama sekali tak melihat tangan ataupun part lagu yang menuntunnya memainkan lagu itu tetapi Ia terasa sangat menghayati lagu sampai-sampai kepalanya melambai terkadang ke arah samping dan terkadang ke arah bawah seperti Ia dan jari-jarinya sudah sangat menghafal tuts mana yang harus mereka tekan selanjutnya tanpa diberikan aba-aba oleh otaknya.

Pak Joko pun mengakhiri permainannya dengan aksen lembut pada sentuhan akord terakhir pada lagu itu membuatnya menarik nafas dan memandangku sekarang. Orang tua itu tersenyum dan terasa sangat penuh arti seakan-akan Ia berkata ―Aku yakin Chopin pasti tersenyum‖ dalam senyumannya, uban-uban kecil yang berada di rambut kepalanya terlihat mulai bercahaya dan juga senang dengan suasana setelahnya, begitupun burung-burung yang tetap berkicau serasi di luar rumah dan angin-angin lembut menerpa gorden jendela menyibakkannya sekali lagi membuat sinar matahari sore hari yang hangat memenuhi ruangan itu, sungguh suasana yang sangat nyaman. ―Aku tak tau bahwa musik bisa menghasilkan suasana seperti ini‖ batinku kemudian membalas senyuman ramah Pak Joko dengan perlahan.

#


Akhirnya hari yang ku tunggu pun tiba. Aku berada di dalam gedung besar seperti gedung bioskop yang pernah ku lihat di buku-buku, dan ini adalah kota. Pak Joko membawaku ke kota tempat lomba dilaksanakan dengan sebelumnya aku bertanya mengapa lomba tidak dilaksanakan di pedesaan saja namun Pak Joko hanya menjawab dengan simpel bahwa di pedesaan jarang sekali orang menghargai seni klasik dan mereka hanya berkutat pada budayanya saja.

Hiruk-pikuk keramaian kota terasa berbeda seratus delapan puluh derajat dari kondisi di desaku, banyak sekali hal yang telah berubah sejak terakhir kali aku datang ke tempat ini. Dari jendela-jendela gedung aku bisa melihat gedung-gedung pencakar langit yang berdiri di sana-sini namun tak bisa merasakan hawa lain selain sejuk karena sejak aku masuk ke dalam ruangan, hawa panas dari kemacetan kota berganti dengan sangat tiba-tiba sekali karena pengaruh dari mesin pendingin ruangan.

Aku merasa sangat kikuk melihat orang-orang sekelilingku mengenakan setelah jas yang sangat bersih dan rapi sedangkan aku hanya dipinjamkan oleh Pak Joko setelah jas hitam lamanya yang sudah kekecilan dan kebetulan saja pas dipakai olehku. Semua orang sangat sibuk entah tengah melakukan hal apa akupun tak mengerti, di sudut ruangan terlihat seperti wanita yang terlihat dewasa namun kata Pak Joko kami semua adalah seumuran karena lomba ini diperuntukkan untuk anak sekolah menengah atas saja, wanita itu sedang menunduk seraya menyatukan kedua telapak tangannya menggenggam telapak tangan yang lain seperti sedang berdoa sambil menundukkan kepalanya, di sisi ruangan yang lebih luas ada beberapa anak laki-laki tengah berbincang sangat akrab dengan temannya yang sesama peserta, di sis ruangan yang lain, beberapa orang tengah fokus membaca part lagu dan seperti menghafalkan karena setiap kali mereka membaca langsung memejamkan mata dan menggerakkan bibir mereka mengikuti tempo dan nada yang ada di part lagu itu seperti seakan-akan membaca jampi-jampi.

Sedangkan aku, seorang anak kampung hanya bisa terdiam membisu kala Pak Joko berkata akan mengambil jadwal di belakang ruangan sambil melihat semua pesaingku dan melihat diriku sendiri sambil bergumam ―Apakah aku bisa melakukan ini‖ dalam hatiku, dan akupun tak punya pilihan lain selain mengikuti alur suasana mereka semua dan mencoba menyapa beberapa orang yang kulihat mungkin cukup bersahabat dari ekspresi wajahnya, dan itupun sama sekali berhasil.


Aku bahagia bisa mendapat beberapa orang teman dan mengobrol sejenak menghilangkan stresku tentang lomba ini, sebelum suara yang mirip dengan dering bel sekolah berbunyi hanya saja lebih pelan dak tidak sekonyol bel yang ada di sekolahku.

Semua peserta pun mengambil posisi di dalam ruang persiapan. Aku melihat nomor urutku yang telah diberikan oleh Pak Joko merasa lebih beruntung karena nomor urut ku yang lumayan jauh yaitu nomor 24 dari 30 orang peserta, sedangkan Pak Joko keluar dan berjanji akan menonton penampilanku dari balik meja juri.

Setelah akhirnya dari nomor satu, kemudian nomor dua, lalu nomor 3, begitu seterusnya hingga akhirnya nomor dua puluh tiga dipanggil untuk bersiap-siap naik ke atas panggung. Jantungku mulai berdetak tak karuan, tangan dan kakiku seperti mati rasa dan mungkin rasanya aku sudah tak sadarkan diri jika bukan karena kondisi ruang persiapan yang ramai dan beberapa diantara peserta yang mengeluh karena merasa tak bisa menampilkan permainan yang bagus.

―Nomor 24, silahkan bersiap di belakang panggung‖ teriak sebuah suara dari sebuah pintu besar dari seberang ruangan sontak membuatku langsung berdiri tanpa ada perintah sadar dari otakku

Aku pun berjalan dengan pelan masih dengan perasaan was-was apakah aku bisa menampilkan permainan yang baik, mungkin cukup adalah sangat baik, khusunya bagi Pak Wan mentorku. Apakah Pak Wan sudah bercerita kepada sesama kawan jurinya bahwa aku adalah anak didiknya sebelum mengikuti perlombaan ini, ataukah dia hanya terdiam karena merasa bahwa jika bercerita akan memalukan dirinya sendiri.

Suara-suara dalam pikiranku sejenak membuyarkan konsentrasiku, namun untung saja ketika aku berdiri di sayap panggung menunggu giliran nomor dua puluh tiga untuk menyelesaikan permainannya. Sejenak kudengar beberapa part akhir dari lagu yang dimainkan oleh nomor dua puluh tiga. Tak kusangka dia memainkan ini, batinku ―Chopin – Etude Op. 10 No.12‖ Ini adalah part lagu yang lumayan sulit menurutku, didengar dari nadanya saja penuh sekali dengan teknik-teknik jemari tangan yang membutuhkan latihan yang sangat lama untuk bisa menguasainya. Namun begitu aku mendengar coda dari lagu yang dibawakannya itu, membuatku merasa berbeda. ―Jika dia bisa, aku juga bisa‖ erangku dalam hati. Gaya permainannya sangat luwes hampir mendekati gaya permainan Chopin oleh Pak Joko, nada-nada yang dihasilkan mereka terasa sangat hidup.


Setelah selesai dengan permainannya, aku melihatnya menunduk memberikan hormat kepada penonton dengan rendah sembari para penonton bertepuk tangan dengan meriahnya, kagum akan permainan si nomor dua puluh tiga.

Aku pun dipersilahkan naik ke atas panggung oleh seorang panitia yang memanggilku beberapa saat yang lalu. Aku pun sontak langsung mengikuti perintahnya dengan berjalan pelan di atas panggung yang menyerupai susunan balok kayu itu namun nyatanya adalah plastik tebal yang memang dicat seperti kayu untuk membuat kesan klasik.

Auranya pun terasa berubah, dari sebelumnya terdengar riuh tepuk tangan penonton sekarang berganti dengan kesenyapan yang teramat sangat menyiksa batinku. Aku bisa merasakan semua pandangan mata tertuju padaku. Langkahku pun terhenti dengan tiba-tiba tanpa aku bisa pikirkan sama sekali, wajahku ku palingkan ke arah tribun penonton berharap bisa menemukan sebuah pintu yang bertuliskan ―KELUAR‖. Senyap sekali hingga akupun tak bisa mendengar nafasku sendiri yang kurasakan mulai tak beraturan. Namun, anehnya pandanganku terpaku pada satu titik di meja juri, Pak Joko menatapku erat, penuh harap, kemudian tersenyum kepadaku dengan ramah dan pelan mengisyaratkan bahwa aku harus segera menyelesaikan hal ini dengan segala kemampuanku. ―Seperti deja-vu saja‖ batinku tatkala pikiranku langsung merasakan sensasi yang sama seperti pada waktu dulu aku pernah berada dalam kondisi seperti ini, ruangan yang sama, piano yang sama, namun tidak dengan penonton dan Pak Joko.

Aku pun akhirnya bisa mengendalikan dengan penuh tubuhku lagi, kemudian beranjak menuju piano hitam yang terlihat sangat menggoda dan berkata ―Mainkan aku‖ sambil berteriak. Pada bagian depannya tertulis ―Steinway & Sons‖ dengan ukiran tinta emas yang sangat elegan, aku berani bertaruh bahwa piano ini sangat mahal harganya bahkan mungkin tak bisa kubayangkan mengingat bahwa aku hanyalah seorang anak kampung biasa.

Begitu duduk di atas kursi empuk sang Steinway & Sons, aku tersenyum kecil sambil menghembuskan nafas panjang sambil bergumam dalam hati ―Aku tidak percaya berada di sini sekarang, semuanya seperti mimpi‖ namun faktanya berbeda, hal ini sangatlah nyata, tuts-tuts lembut sang piano dan badan serta pedalnya terlihat mengkilat dibawah sinar lampu-lampu sorot yang tajam.

Aku pun mengambil nada pertamaku dengan lembut di atas tuts piano itu. Sebuah sensasi yang luar biasa, aku merasa aku menjadi orang lain sekarang namun masih bisa


berpikir dan menghayalkan serta merasakan tubuhku. Jari-jariku seperti bergerak tanpa diperintah mengambil tuts-tuts piano dengan lembut, sepertinya Chopin melihat pikirku dalam hati yang membuatku tersenyum sendiri.

Pada tengah-tengah permainan aku merasa sensasi yang berbeda ketika memainkan lagu ini. Semakin aku terus bermain di atas tuts piano itu semakin aku merasa tenggelam dalam permainanku, namun bukan perasaan yang buruk, hanya saja aku merasakan suasana disekitarku berubah seperti keadaan malam yang sangat damai, dikala orang-orang tertidur lelap dalam mimpi indah mereka dengan senyuman ikhlas yang mengembang dibibirnya, suara-suara jangkrik yang bersahutan dengan temannya yang berada jauh dari tempatnya sambil disinari oleh lampu tidur yang berasal dari kamar seseorang, kunang-kunang malam seakan-akan terbang sambil memberikan penerangan bagi mereka yang terlelap di luar tanpa ada tempat untuk berlindung memberikan kehangatan dengan cahaya dari tubuhnya layaknya menjadi sebuah selimut tebal yang sangat nyaman, sinar-sinar rembulan pun berpadu dengan sinar bintang membuatnya tampak redup sedikit namun sama sekali tak bisa bersembunyi di bawah bayang-bayang bulan, angin-angin malam yang dingin seperti membawa kenangan di dalam setiap hembusannya.

Tanpa aku sadari, di atas kursi piano itu aku telah berhenti bermain dengan sendirinya. Namun aku merasakan bahwa aku bisa menampilkan permainan yang sempurna untuk penonton. Suasana mulai berubah lagi, aku sekarang berdiri di samping piano besar itu menghadap penonton dengan wajah yang masih tersenyum kecil di sela-sela bibirku. Jujur saja dalam hatiku aku tak tau apakah permainanku bagus ataukah aku hanya membayangkan sesuatu yang tiba-tiba saja terasa di dalam pikiranku, namun semua menjadi sangat jelas ketika satu tepukan dari penonton terdengar dari pojok ruangan kemudian berangsur-angsur di sambut oleh tepukan lainnya, begitu seterusnya hingga ruangan itu penuh dengan tepuk tangan meriah dari penonton yang membuatku merasa bahwa aku spesial, aku pun bisa melihat Pak Joko bertepuk tangan pelan sambil tersenyum kecil dari balik meja jurinya.

―Kau menampilkan permainan yang bagus‖ katanya pelan setelah acara perlombaan selesai dan kami berdua duduk di bangku panjang yang berada di bawah pohon tempat gedung berada

―Saya tidak yakin, pak‖ kataku parau namun bahagia


―Yah, walaupun tempomu terkadang tak mengikuti aturan dan terdapat beberapa aksen di sana-sini membuatmu tak mendapatkan juara tapi----―

―Saya tak menginginkan juara, pak‖ kataku sebelum orang tua itu menyelesaikan kalimatnya

―Ah, juara tidak terlalu penting. Yang penting bahwa kau telah bermain dengan sepenuh hati untuk dirimu dan untuk mereka yang butuh kasih sayang‖ katanya pelan yang sama sekali tak bisa kumengerti yang kemudian kubalas dengan senyuman kecil ―Kau melihatnya kan?‖ katanya sekarang

―Hmm, iya‖ jawabku pelan sontak langsung mengerti maksud dari pertanyaan Pak Joko ―Indah sekali‖ lanjutku

―Memang seperti itu. Walaupun kau memainkannya berulang-ulang kali, tapi tak akan ada perasaan yang berubah tentang itu‖ katanya kalem

Terdapat adegan sunyi dimana aku dan Pak Joko duduk di atas bangku panjang itu, masih diterpa dengan angin-angin lembut yang terasa menguping percakapan kami.

―Baiklah‖ kata Pak Joko sekarang sambil berdiri dan menggeliat dan terdengar seperti suara ―krok‖ dari ruas-ruas tulangnya yang meregang membuatku ingin tertawa namun ku tahan ―Sepertinya kita harus terus melatih kemampuanmu itu. Walaupun aku mengatakan juara itu tak terlalu penting, tapi kita tetaplah seorang manusia yang butuh sesuatu untuk hidup‖ katanya sambil mengerling kepadaku ―Kau tau apa maksudku kan, Gufron?‖

Aku pun terdiam membalasnya dengan isyarat bola mata dan alis yang ku gerakkan naik dengan ekspresi iya dalam tulang-tulang wajahku.




***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tolonglah berkomentar dengan sopan, NO SPAM!, dan dengan bahasa yang santun pula. Karena komentar anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini ke depannya.