9 Desember 2017

Seuntai Kalimat




 30 Agustus 2015


“Bolehkah aku bertanya sesuatu, Hari?”

“Ya baiklah, tanyakan saja” jawab Hari dengan nada yang biasa.

“Tapi, kau yakin akan menjawabnya dengan jujur?” kata Helena dengan pelan

Hari yang tadinya bersemangat, langsung berubah sedikit muram.

Karena dia tau, jika Helena sudah mulai berkata tentang pertanyaan, dia yakin bahwa hal itulah yang akan ditanyakannya.

Hari sangat beruntung malam ini, karena saat gilirannya untuk jaga malam dia bertemu dengan Helena yang tengah membuat soal untuk materi pelantikan anggota baru PMR besok hari.

Suasana di sekolah saat itu memang masih ramai, karena waktu masih menunjukkan pukul 19:45.

Ini pertama kalinya Hari duduk berdua dengan Helena.

Dan hal ini baru berani dia lakukan sekarang, karena perasaannya dengan Helena telah berubah seiring dengan berlalunya waktu.

Hari sekarang hanya menganggap Helena adalah teman yang biasa saja, dan karena Helena juga yang memintanya saat itu, saat Helena menangis habis-habisan mengungkapkan penyesalannya kepada Hari.

“Aku akan berusaha menjawabnya dengan jujur” kata Hari dengan nada pelan sambil menatap ke arah Helena, namun Helena malah memalingkan pandangannya ke arah gerombolan anak-anak PMR yang tengah bermain-main di sana.

Hari berpikir mungkin Helena masih tidak sanggup untuk menatapnya lama, mengingat bahwa Helena begitu tulus mengatakan bahwa perasaannya masih sama waktu itu.

“Apakah perasaanmu masih sama kepadaku seperti dahulu?”

Helena berkata sangat pelan, hingga Hari hanya mendengar separuh kata itu saja. Namun anehnya dia bisa mengerti apa yang ditanyakan Helena.

Hari tertegun, dia merasa seperti patung. Tubuhnya kaku dan sedikit bergetar.

Dia tak tau jawaban apa yang akan dikatakannya kepada Helena. Dia merasa seolah-olah pikirannya berlari menjauh dan hilang.

“Bukankah kau telah menanyakannya dahulu?” katanya sesaat kemudian “Aku tau, tapi aku ingin mendengarnya langsung kepadamu” “A---Aku tidak yakin bagaimana mengatakannya, Helena” “Apa itu memberatkanmu? Maafkan aku”

“Tidak, tentu tidak. Jangan tiba-tiba meminta maaf”

Helena sekarang kembali menatap Hari, dan kedua mata mereka bertemu.

Tubuh Hari semakin bergetar tidak karuan, dia melihat bahwa mata itu adalah mata yang sama seperti dahulu, namun bayang-bayang orang itu muncul lagi di hadapan Hari.

Sekarang giliran Hari yang memalingkan pandangannya dari gadis itu.

“A---Aku,, bisakah aku ke belakang sebentar?”

Hari langsung beranjak pergi tanpa menunggu jawaban Helena. Dia tidak tahan lagi berada di sana, dia takut tak bisa mengucapkan apapun lagi.

Hari duduk di salah satu anak tangga di depan sebuah kelas. Gejolak di perutnya dan rasa sesak di dadanya perlahan menghilang.

Dia menyandarkan diri di tembok kelas itu sambil kembali memikirkan kata-kata Helena tadi, dan berusaha mencari jawabannya.

Walaupun sebenarnya dalam hati Hari ingin sekali mengatakan iya, namun lidahnya begitu kaku untuk mengucapkannya.

Lama dia berdiam diri di sana hingga sebuah suara yang sangat dikenalnya memanggil namanya.

“Hari, apa yang kau lakukan di sini?”

Hari terkesiap, dan langsung menoleh ke arah suara itu.

Gejolak di perut Hari sekarang semakin terasa, Helena berdiri di sampingnya dan perlahan duduk di sampingnya pula dengan jarak yang begitu jauh.

Hari yakin, gadis itu tidak bisa terlalu dekat dengannya, karena dia sangat mengenal gadis itu.

“Kau sendiri, apa yang kau lakukan di sini Helena?” katanya dengan sekuat tenaga

“Aku kira kau pergi untuk buang air atau semacamnya, namun kau terlalu lama, jadi aku menyusulmu, aku takut kau kenapa-kenapa”

“Aku tidak apa-apa, sungguh”

Hari tersenyum kepada Helena untuk meyakinkan bahwa dia memang tidak apa-apa.

“Tolong, jangan dipikirkan kata-kataku tadi”

“Sebenarnya aku sudah punya jawabannya” ucap Hari dengan nada biasa, berusaha menenangkan dirinya.

“Oh ya? Baguslah” kata Helena pelan

“Kau ingin mendengarnya?”

“Sebenarnya iya, namun apa itu tidak memberatkanmu?”

“Ya, itu tidak memberatkanku sama sekali” ucap Hari dengan penuh keyakinan “Baiklah, aku ingin mendengarnya” Helena tersenyum

Tanpa pikir panjang Hari langsung mengeluarkan ponsel dan memutar sebuah lagu lalu menaruh ponsel itu di sampingnya agar Helena bisa mendengar lagu itu.

#

Dan semenjak ada dia

Kamu bukan kamu yang seperti dulu

Tiada lagi kisah indah

Dan kini ku sendiri berteman bayangmu

Malam kini berganti sunyi sepi untukku

Meskipun engkau telah pergi

Mungkin takkan kembali

Aku di sini tetap di sini sayangku

Aku masih rindu padamu

Aku masih sayang padamu

Meski kini cintamu bukan aku

Dan kini aku tahu

Jendela hatimu tertutup untukku

Ingin ku lihat lagi

Wajah yang selalu ku rindu

Ingin rasa aku berlari

Walau hanya mengejar mimpi

#

Hari dapat melihat bahwa Helena sekarang tengah terisak-isak terlarut dalam lagu itu.
Rintik air matanya perlahan jatuh, dan hal itu membuat Hari ingin menangis juga.

Dia sebenarnya tidak pernah ingin membuat Helena menangis, namun itulah jawabannya.

“Helena?” kata Hari pelan

“Iya” Helena menjawab masih dengan nada yang terisak sambil mengusap matanya dengan tangannya

“Kenapa nangis?” ucap Hari dengan nada yang sangat ia jaga, agar membuat suasana di sana tak sedih lagi

“Aku, mendengar jawabanmu” katanya masih terisak

Mereka terdiam sejenak. Udara dingin menembus Heri dan dia yakin bahwa Helena juga merasakannya.

“Aku minta maaf jika jawabanku membuatmu menangis”

“Aku tidak menangis,, hanya rintik saja” berkata Helena sembari berusaha untuk membuat lelucon

Namun Hari tak tertawa sedikitpun mendengar hal itu. “Aku sangat mengerti perasaanmu saat ini Helena” Helena masih terdiam di balik wajahnya

“Namun, aku takut. Jika aku mengatakan bahwa aku masih menyukaimu, suatu hal yang buruk akan terjadi lagi”

“Apa maksudmu?”

“Maksudku, aku tau jika kau tak ada hubungan apa-apa lagi dengan Hendra, dan aku tau kau masih menyimpan perasaan denganku. Tapi aku juga yakin perasaanmu tak mudah lepas begitu saja dengan Hendra bukan?”

Helena terdiam lagi, dia memandang sepatunya sambil mengusap kedua matanya kembali

“Dulu aku memang tidak terima saat kau bilang hubunganmu dengan Hendra itu memang benar, namun seiring berjalannya waktu aku belajar untuk tetap menghormatimu sebagai temanku. Sampai di saat kau mengatakan bahwa kau telah menyesal dan hubunganmu dengan Hendrapun telah usai. Kau tau, saat itu seberkas harapan muncul dibenakku namun di saat yang sama rasa sakit itu juga muncul”

“Maksudmu, kau tidak senang jika aku kembali”

Hari sekarang mendengar Helena lebih berani untuk berbicara

“Bukan seperti itu, tapi aku takut....”

“Takut kenapa?”

“Aku takut jika aku tak bisa membuatmu bahagia”

“Tak apa Hari, melihatmu saja aku sudah bahagia”

“Tapi, kau juga tau perasaan itu tak mudah lepas”

“Yah aku mengerti bagaimana perasaanmu saat ini, memang sulit untuk melupakan semuanya begitu saja. Dan maaf saja jika harapanku terlalu tinggi saat ini”

Suasana hati Hari langsung berubah mendengar kata-kata Helena. Hari tersenyum. “Kau masih menyukaiku?” Hari bertanya walaupun dia sendiri tau jawabannya

“Iya, dan maafkan aku jika aku memendam perasaan ini Hari, aku tak bisa. Aku tau kau tak mungkin begitu saja memaafkanku setelah semua yang aku lakukan padamu. Aku akan menunggu sampai waktu itu tiba”

“Tak apa, memang begitu seharusnya. Dan sampai waktu itu tiba, aku akan tetap menjadi teman seperti permintaanmu dahulu. Aku akan berusaha.....”

Hari berkata pelan sambil beranjak dan menarik Helena untuk bangkit, segera setelah Helena berdiri Hari langsung mendekap tubuh itu.

Dia memeluk Helena, tetapi Helena terdiam seperti patung.

Hari yakin dia pasti terkjut, karena baru pertama kali ini Hari memeluknya.

“Maafkan tingkahku ini Helena, aku akan tetap menjadi temanmu”

“Kau yakin?” Helena berkata dari dalam dekapan Hari.

“Ya, sampai waktu itu tiba. Tuhan telah mengatur semuanya”

“Kau benar” Helena kemudian dengan pelan membalas pelukan Hari, dia tersenyum di balik wajahnya

“Baik, sepertinya ini sudah larut malam. Akan ku antar kau kembali ke tendamu” kata Hari sambil melepas dirinya dan menggandeng tangan Helena kembali menuju area perkemahan PMR.

“Kau juga, sepertinya anggota Pramuka semakin banyak belakangan ini”

“Yah, semakin sulit juga mengatur mereka. Aku seperti penggembala”

“Hihi,,” Helena tertawa kecil dan Hari hanya tersenyum melihatnya.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tolonglah berkomentar dengan sopan, NO SPAM!, dan dengan bahasa yang santun pula. Karena komentar anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini ke depannya.