30 Agustus 2015
“Bolehkah aku bertanya sesuatu, Hari?”
“Ya baiklah, tanyakan saja” jawab Hari dengan nada yang
biasa.
“Tapi, kau yakin akan menjawabnya dengan jujur?” kata Helena
dengan pelan
Hari yang tadinya bersemangat, langsung berubah sedikit
muram.
Karena
dia tau, jika Helena sudah mulai berkata tentang pertanyaan, dia yakin bahwa
hal itulah yang akan ditanyakannya.
Hari
sangat beruntung malam ini, karena saat gilirannya untuk jaga malam dia bertemu
dengan Helena yang tengah membuat soal untuk materi pelantikan anggota baru PMR
besok hari.
Suasana
di sekolah saat itu memang masih ramai, karena waktu masih menunjukkan pukul
19:45.
Ini pertama kalinya Hari duduk berdua dengan Helena.
Dan
hal ini baru berani dia lakukan sekarang, karena perasaannya dengan Helena
telah berubah seiring dengan berlalunya waktu.
Hari
sekarang hanya menganggap Helena adalah teman yang biasa saja, dan karena
Helena juga yang memintanya saat itu, saat Helena menangis habis-habisan
mengungkapkan penyesalannya kepada Hari.
“Aku
akan berusaha menjawabnya dengan jujur” kata Hari dengan nada pelan sambil
menatap ke arah Helena, namun Helena malah memalingkan pandangannya ke arah
gerombolan anak-anak PMR yang tengah bermain-main di sana.
Hari
berpikir mungkin Helena masih tidak sanggup untuk menatapnya lama, mengingat
bahwa Helena begitu tulus mengatakan bahwa perasaannya masih sama waktu itu.
“Apakah perasaanmu masih sama kepadaku seperti dahulu?”
Helena
berkata sangat pelan, hingga Hari hanya mendengar separuh kata itu saja. Namun
anehnya dia bisa mengerti apa yang ditanyakan Helena.
Hari tertegun, dia merasa seperti patung. Tubuhnya kaku dan
sedikit bergetar.
Dia tak tau
jawaban apa yang akan dikatakannya kepada Helena. Dia merasa seolah-olah
pikirannya berlari menjauh dan hilang.
“Bukankah kau
telah menanyakannya dahulu?” katanya sesaat kemudian “Aku tau, tapi aku ingin
mendengarnya langsung kepadamu” “A---Aku tidak yakin bagaimana mengatakannya,
Helena” “Apa itu memberatkanmu? Maafkan aku”
Helena sekarang kembali menatap Hari, dan kedua mata mereka
bertemu.
Tubuh Hari semakin
bergetar tidak karuan, dia melihat bahwa mata itu adalah mata yang sama seperti
dahulu, namun bayang-bayang orang itu muncul lagi di hadapan Hari.
Sekarang giliran Hari yang memalingkan pandangannya dari
gadis itu.
“A---Aku,, bisakah aku ke belakang sebentar?”
Hari langsung
beranjak pergi tanpa menunggu jawaban Helena. Dia tidak tahan lagi berada di
sana, dia takut tak bisa mengucapkan apapun lagi.
Hari duduk di salah satu anak tangga
di depan sebuah kelas. Gejolak di perutnya dan rasa sesak di dadanya perlahan
menghilang.
Dia menyandarkan
diri di tembok kelas itu sambil kembali memikirkan kata-kata Helena tadi, dan
berusaha mencari jawabannya.
Walaupun
sebenarnya dalam hati Hari ingin sekali mengatakan iya, namun lidahnya begitu
kaku untuk mengucapkannya.
Lama dia berdiam
diri di sana hingga sebuah suara yang sangat dikenalnya memanggil namanya.
“Hari, apa yang kau lakukan di sini?”
Hari terkesiap, dan langsung menoleh ke arah suara itu.
Gejolak di perut
Hari sekarang semakin terasa, Helena berdiri di sampingnya dan perlahan duduk
di sampingnya pula dengan jarak yang begitu jauh.
Hari yakin, gadis
itu tidak bisa terlalu dekat dengannya, karena dia sangat mengenal gadis itu.
“Kau sendiri, apa yang kau lakukan di sini Helena?” katanya
dengan sekuat tenaga
“Aku kira kau
pergi untuk buang air atau semacamnya, namun kau terlalu lama, jadi aku
menyusulmu, aku takut kau kenapa-kenapa”
“Aku tidak apa-apa, sungguh”
Hari tersenyum kepada Helena untuk meyakinkan bahwa dia
memang tidak apa-apa.
“Tolong, jangan dipikirkan kata-kataku tadi”
“Sebenarnya aku
sudah punya jawabannya” ucap Hari dengan nada biasa, berusaha menenangkan
dirinya.
“Oh ya? Baguslah” kata Helena pelan
“Sebenarnya iya, namun apa itu tidak memberatkanmu?”
“Ya, itu tidak
memberatkanku sama sekali” ucap Hari dengan penuh keyakinan “Baiklah, aku ingin
mendengarnya” Helena tersenyum
Tanpa pikir
panjang Hari langsung mengeluarkan ponsel dan memutar sebuah lagu lalu menaruh
ponsel itu di sampingnya agar Helena bisa mendengar lagu itu.
#
Dan semenjak ada
dia
Kamu bukan kamu
yang seperti dulu
Tiada lagi kisah
indah
Dan kini ku
sendiri berteman bayangmu
Malam kini
berganti sunyi sepi untukku
Meskipun engkau
telah pergi
Mungkin takkan
kembali
Aku di sini tetap
di sini sayangku
Aku masih rindu
padamu
Aku masih sayang
padamu
Meski kini cintamu
bukan aku
Dan kini aku tahu
Jendela hatimu
tertutup untukku
Ingin ku lihat
lagi
Wajah yang selalu
ku rindu
Ingin rasa aku
berlari
Walau hanya
mengejar mimpi
#
Hari dapat melihat bahwa Helena sekarang tengah terisak-isak
terlarut dalam lagu itu.
Rintik air matanya perlahan jatuh,
dan hal itu membuat Hari ingin menangis juga.
Dia sebenarnya tidak pernah ingin membuat Helena menangis,
namun itulah jawabannya.
“Iya” Helena
menjawab masih dengan nada yang terisak sambil mengusap matanya dengan
tangannya
“Kenapa
nangis?” ucap Hari dengan nada yang sangat ia jaga, agar membuat suasana di
sana tak sedih lagi
“Aku, mendengar jawabanmu” katanya masih terisak
Mereka
terdiam sejenak. Udara dingin menembus Heri dan dia yakin bahwa Helena juga
merasakannya.
“Aku minta maaf jika jawabanku membuatmu menangis”
“Aku
tidak menangis,, hanya rintik saja” berkata Helena sembari berusaha untuk
membuat lelucon
Namun Hari tak
tertawa sedikitpun mendengar hal itu. “Aku sangat mengerti perasaanmu saat ini
Helena” Helena masih terdiam di balik wajahnya
“Namun,
aku takut. Jika aku mengatakan bahwa aku masih menyukaimu, suatu hal yang buruk
akan terjadi lagi”
“Apa maksudmu?”
“Maksudku,
aku tau jika kau tak ada hubungan apa-apa lagi dengan Hendra, dan aku tau kau
masih menyimpan perasaan denganku. Tapi aku juga yakin perasaanmu tak mudah
lepas begitu saja dengan Hendra bukan?”
Helena terdiam lagi, dia memandang sepatunya sambil mengusap
kedua matanya kembali
“Dulu
aku memang tidak terima saat kau bilang hubunganmu dengan Hendra itu memang
benar, namun seiring berjalannya waktu aku belajar untuk tetap menghormatimu
sebagai temanku. Sampai di saat kau mengatakan bahwa kau telah menyesal dan
hubunganmu dengan Hendrapun telah usai. Kau tau, saat itu seberkas harapan
muncul dibenakku namun di saat yang sama rasa sakit itu juga muncul”
“Maksudmu, kau tidak senang jika aku kembali”
Hari sekarang mendengar Helena lebih berani untuk berbicara
“Bukan seperti itu, tapi aku takut....”
“Takut kenapa?”
“Aku takut jika aku tak bisa membuatmu bahagia”
“Tapi, kau juga tau perasaan itu tak mudah lepas”
“Yah
aku mengerti bagaimana perasaanmu saat ini, memang sulit untuk melupakan
semuanya begitu saja. Dan maaf saja jika harapanku terlalu tinggi saat ini”
Suasana hati Hari
langsung berubah mendengar kata-kata Helena. Hari tersenyum. “Kau masih
menyukaiku?” Hari bertanya walaupun dia sendiri tau jawabannya
“Iya,
dan maafkan aku jika aku memendam perasaan ini Hari, aku tak bisa. Aku tau kau
tak mungkin begitu saja memaafkanku setelah semua yang aku lakukan padamu. Aku
akan menunggu sampai waktu itu tiba”
“Tak
apa, memang begitu seharusnya. Dan sampai waktu itu tiba, aku akan tetap
menjadi teman seperti permintaanmu dahulu. Aku akan berusaha.....”
Hari
berkata pelan sambil beranjak dan menarik Helena untuk bangkit, segera setelah
Helena berdiri Hari langsung mendekap tubuh itu.
Dia memeluk Helena, tetapi Helena terdiam seperti patung.
Hari yakin dia pasti terkjut, karena baru pertama kali ini
Hari memeluknya.
“Maafkan tingkahku ini Helena, aku akan tetap menjadi
temanmu”
“Kau yakin?” Helena berkata dari dalam dekapan Hari.
“Ya, sampai waktu itu tiba. Tuhan telah mengatur semuanya”
“Kau
benar” Helena kemudian dengan pelan membalas pelukan Hari, dia tersenyum di
balik wajahnya
“Baik, sepertinya
ini sudah larut malam. Akan ku antar kau kembali ke tendamu” kata Hari sambil
melepas dirinya dan menggandeng tangan Helena kembali menuju area perkemahan
PMR.
“Kau juga, sepertinya anggota Pramuka semakin banyak
belakangan ini”
“Yah, semakin sulit juga mengatur mereka. Aku seperti
penggembala”
“Hihi,,” Helena tertawa kecil dan Hari hanya tersenyum
melihatnya.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tolonglah berkomentar dengan sopan, NO SPAM!, dan dengan bahasa yang santun pula. Karena komentar anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini ke depannya.