9 Desember 2017

Perjalanan (Bagian 3)





Berjalanlah terus

Telusuri dunia ini

Jika kau takut

Gunakan pasir sebagai alasmu

Dan jika kau salah mengambil langkah

Mintalah ombak laut menghapusnya

(23 Desember 2016)




Kerlap-kerlip lampu-lampu jalanan perlahan membanjiri pikiranku, aku termenung terpaku memandang wajah tak berupa di depanku namun entah kenapa ketika ku memejamkan mataku,wajahnya jelas nampak, begitu sejuk, begitu sunyi, begitu damai, begitu nyaman ku tatap. Namun mimpi burukku yang tak kuharapkan terjadi.

“Titin, seandainya kita besok terpisah. Apa yang akan kau lakukan?” katanya lemah terhadapku yang masih tak bisa menatapnya erat

“Fauzan?” kataku menanyakan hal yang sama kepadanya

Dalam lubuk hatiku berkata, kau jahat sekali membiarkan seorang wanita untuk menjawab terlebih dahulu, padahal kau juga tau pertanyaanku sama sejak beberapa bulan yang lalu.

Namun ku tahan emosiku setidaknya untuk kali ini.

“Ah, maafkan aku Titin. Kau kan tau aku, aku menurut saja apa yang kau mau” dia terkekeh

Benar saja dugaanku, dia pasti akan menjawab seperti itu. Setiap kali, setiap kali aku bertanya selalu jawabnya seperti itu. Sepertinya dia masih bisa menerimaku sepenuhnya.

“Kau tak perlu marah Titin, kau mengenalku hampir 5 tahun lamanya. Kau mengerti aku, lagipula aku bukan seorang mentalis yang bisa membaca pikiranmu setiap saat”

Perlahan aku memberanikan diri untuk menatapnya. Tapi sering kali pandanganku mengarah ke arah lampu jalanan yang dikerumuni oleh ratusan nyamuk dan beberapa cicak di atas kami.

“Fauzan aku......” tatapanku melemah seiring dengan waktu yang terus memakan jiwaku yang

tengah sekarat

“Aku....” semua kalimatku ku telan mentah-mentah, tak mengenyangkan, tak nyaman sekali

rasanya.

Seandainya jika aku tak menahan diri, pastinya aku sudah dibanjiri oleh air mataku sendiri.

Namun aku tak mau menangis di tempat itu, tidak, tidak didepan Fauzan.

Ya Tuhan, mengapa hal ini harus terjadi, haruskah kau menuliskan suratan takdir yang begitu berat kepadaku? Rintihku dalam diam, dan ku tau hal itu tak berguna sama sekali karena aku telah diajarkan untuk ikhlas menerima oleh orang tuaku.

Lama sekali rasanya aku terdiam, dan segala sesuatu terasa jahat sekali. Malam yang berangin, menghembuskan nafas kebenciannya perlahan menusuk tulang-tulang.

“Maaf, Fauzan. Bisakah kau memperjelas pertanyaanmu sekali lagi?” tanyaku pelan #


Dududuk----dududuk----dududuk. Suara rel kereta api yang melintas itu mengalahkan lamunanku.



Hari itu cerah sedikit berawan, dengan ditemani hiruk-pikuk masyarakat yang mengantri untuk masuk ke dalam gerbong segi empat memanjang itu dari luar pintu, bau asap rokok menyebar kemana-mana dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.

Ku alihkan pandanganku ke arah jam dinding besar di depanku menunjukkan sekitar setengah jam lagi keretaku akan menjemputku.

Lantas sambil menunggu, ku pasang headset dari ponsel ke telinga dan memutar lagu kesukaanku dan meneguk sedikit demi sedikit lemonade yang ku beli di dekat loket stasiun tadi.

“Iiiin---Iiiin---IiiiiNn” sebuah suara menggangguku sedikit dari sampingku

“TITINNNN!!!”

Suara itu mendadak membesar, menggema di gendang telingaku. Siapa? Kurang ajar sekali.

Tiba-tiba ku arahkan pandanganku ke sumber suara tadi, astaga ternyata Riska sahabat SMA ku yang super heboh mendatangiku sendiri di sana.

“Riska?! Riska?! Ika!!! Aaaa!!!” “Titiiiinnn!!!!”

Aku senang bukan main di sana, di tengah kerumunan orang yang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, aku bertemu dengan sahabatku yang ku rindukan.

Kami berduapun memeluk erat satu sama lain melepaskan rindu yang amat lama kami pendam.

“Ngomong-ngomong, apa yang dilakukan mahasiswi IPB ditempat seperti ini?” kata Riska menyindirku

“Hmm... dan apa yang dilakukan mahasiswi UNY di tempat seperti ini” balasku pelan

Kamipun hanya bertatap sejenak kemudian melepas tawa bersama-sama tanpa memperdulikan tatapan keheranan orang-orang di sekitar.

“Hahaha.. Kau selalu tau bagaimana membuatku tertawa Titin” katanya sambil mengusap matanya dengan tangan

“Kau tau aku kan” aku tersenyum

Kamipun duduk berdampingan di sana, tinggal beberapa menit lagi keretaku sampai.

“Apa yang kau lakukan di sini Riska?” tanyaku terlebih dahulu kepadanya

“Aku, sedang berlibur ke rumah nenekku di sini, tapi tak kusangka akan menemukanmu juga di sini Tin”

“Mungkin kebetulan saja” kataku merendah

“Oh ya, kau sendiri?” dia menatapku

Riska menatapku menunggu jawaban, namun aku terdiam menunduk tersenyum sendiri. Lalu, ku keluarkan sebuah benda kecil dari tasku. Sebuah kalung yang mirip seperti liontin dan berukir kunci G yang ada pada partitur musik yang sering kulihat.


Melihat hal itu, Riska mengerti dengan sekejap.

“Ooo... Fau----“ belum selesai dia mengucap kalimatnya aku sontak menutup mulutnya dengan tanganku

“Hmmm.... F” dia tersenyum dan mengangguk

“Baiklah telah ku putuskan aku akan membantumu mencari F itu” katanya tegas

“Eeeh?”

Dia tersenyum lebar kali ini

“Ahhh, tak perlu repot Ka, aku bisa mencari sendiri dan kuyakin nenekmu juga sudah menunggu”

“Ayolah, berapa lama kita kenal. Nenek bisa menunggu, tapi Fauzan tidak! Hihi”

Aku hanya ternganga melihat tingkah orang satu ini, ceria, penuh warna, sepertinya dia tidak pernah stres.

Beberapa menit kemudian keretaku datang membunyikan bel khasnya dan mengercitkan suara roda dan rel yang tergesek karena di rem.

“Ah, keretemu datang ayo!”

Riska menarikku cepat, aku pun hanya menurut saja sambil menarik koperku masuk ke dalam gerbong panas itu.

#



Sejenak beberapa lama kami turun dari gerbong kereta. Udara segar kembali menyapaku setelah hampir aku tak bisa bernafas didalam gerbong kereta.

“Nah, Titin. Inilah Yogyakarta” kata Riska menunjukkanku suasana kota yang ramai. Banyak orang melakukan aktifitas-aktifitas sehari-hari seperti belanja, bersepeda, jalan kaki, dan beberapa juga kutemui seniman-seniman jalanan, yang tengah melukis dan bermain musik. Tentunya aku tak berharap bertemu Fauzan di antara seniman-seniman itu.

“Ayo, Tin kampus UNY kesini” kata Riska menuntunku ke arah keramaian.

“Riska, kau kuliah di UNY kan?” kataku pelan namun masih bisa terdengar

“Jelas” katanya singkat

“Fauzan kuliah di UNY juga kan?”

“Mmm” dia mengangguk sambil terus berjalan

“Jadi, bagaimana dia. Bagaimana kabarnya?”

Sontak, Riska menghentikan langkahnya



“Sudah kuduga kau akan bertanya seperti itu” katanya berbalik arah kepadaku kemudian melanjutkan jalan lagi

“Dia baik, sangat baik, dia ikut organisasi mahasiswa disana yah walaupun tak terlalu aktif, dan dia juga sering terlihat dalam acara-acara festival seni dengan memainkan piano. Dan yah, aku juga jarang bertemu dengannya karena fakultas kami berbeda”

“Begitu ya” akupun tersenyum sendiri tanpa sadar mendengar penjelasan Riska

“Aku iri dengan kalian Titin, Fauzan. Hebat sekali, mempertahankan hubungan selama ini”

“Ah, hanya satu kuncinya”

“Dan apa itu?”

“Percaya”

Kamipun bertatapan dan tertawa melihat tingkah konyol kami.

“Ini dia!” kata Riska sedikit berteriak

Akhirnya kami sampai di kampus UNY, besar sekali mewah. Tak kalah dengan kampus IPB tempatku di sana.

“Sebaiknya kita bergegas, siapa tau Fauzan di ruang seni” Akupun hanya menurut dan mengiyakan kalimat Riska.

Kami berjalan menyusuri lorong demi lorong, ruangan demi ruangan hingga akhirnya didepan kami terpampang sebuah papan nama ruangan bertuliskan Seni. Namun entah kenapa sepertinya aku terhenti untuk melangkah, batinku memintaku untuk menunggu saja di luar.

“Sepertinya mereka sedang berlatih” kataku pada Riska “dan sebaiknya kita menunggu saja di sini”

Beberapa menit kami menunggu, aku mendengar derap-derap kaki yang begitu banyak terdengar semakin mendekat, degup jantungku mulai tak karuan, lekat ku tatap pintu yang ada di sampingku, sabar, sebentar lagi. Engsel pintu itupun mulai perlahan berputar dan derit suara pintu terdengar pelan sekali.

Saat itu waktu seakan mencabik jiwaku, dia seakan-akan sengaja membiarkan semuanya berjalan begitu lambat kurasakan.

Tiba saatnya isi dari ruangan itu keluar. Ramai sekali, tatapku masih liar mencari-cari sosok yang familiar diantara kerumunan itu. Dan benar saja pada barisan paling terakhir, Ia kutemukan, sesosok laki-laki yang sangat ingin kulihat belakangan tahun ini.

Dia telah tumbuh tinggi, semakin dewasa daripada sebelumnya.

Namun satu yang sangat mengganggu pikiranku, dia seakan tengah menunggu seseorang juga. Dan benar saja, ketika seseorang yang ditunggu Fauzan muncul mereka mulai berjalan berlawanan dariku, hingga aku hanya bisa melihatnya dari belakang.

Dan satu hal yang paling tak kumengerti, dia berjalan dengan seorang wanita yang tingginya hanya sampai bahu Fauzan.



“Fa---“ ingin sekali aku berteriak memanggilnya, menantinya melihatku dan berteriak memanggil namaku juga. Namun sepertinya lagi tenggorokanku terhalang sesuatu yang tak ku mengerti kenapa.

Akhirnya aku hanya melihat Fauzan dari pundaknya berjalan berdampingan bersama wanita itu sambil tertawa gembira.

Sulit rasanya ku mengerti. Benarkah apa yang dikatakan Riska saat tadi? Mungkinkah aku terlalu percaya diri?

Akhirnya aku meminta Riska untuk mengantarku balik ke stasiun dan aku akan kembali ke Lombok untuk menghabiskan sisa liburanku di sana.

“Sudahlah Tin, berpikir positif saja, siapa tau itu hanya temannya” kata Riska mencoba menghiburku

“Aku tau Ka, hanya saja ada sesuatu yang mengganjalku” kataku melemah

“Itu, biasa kan, bukan pertama kalinya terjadi kan?”

“Hmmm” “Aku mengerti sekarang Ka” kataku merendah pada Riska

“Apa itu?”

“Aku mengerti sekarang bahwa, aku terlalu percaya”

“Lalu?” Riska mengangguk

“Aku akan mengiklaskannya, asalkan dia tetap tertawa dan sehat”

Sesak rasanya dadaku sesaat mengucapkan kalimatku, ku genggam erat liontin Fauzan dengan kedua tanganku. Riska yang sedari tadi semakin bingung dengan tingkahku hanya bisa menenangkanku sejenak dengan memegang tanganku.

“Aku juga percaya” katanya kemudian “Aku percaya kalau Fauzan tidak seperti itu” “Maksudmu?” kataku mengangkat kepalaku akhirnya

“Ya, aku pernah bilang bukan bahwa aku iri melihat kalian bisa menjaga hubungan lama sekali, lagipula aku tak pernah mendengar bahwa Fauzan dekat dengan wanita lain”

“Terima kasih Ka, itu cukup membantu” kataku tersenyum lemah

Namun dalam hatiku berkata bahwa aku tau bahwa kau tidak mendengar kabar tentang Fauzan, ya tentunya karena fakultas kalian berbeda.

“Oke, keretamu lima menit lagi datang. Jadi aku bisa pulang, kalau terlalu larut nanti nenek tak memberiku ruang tidur” kata Riska nampaknya ingin sekali pulang, wajar saja karena jam menunjukkan pukul 9 malam

“Oke Ka, aku baik di sini. Kau hati-hati di jalan” kataku masih lemah “Kau yakin” Aku tersenyum “Oke, jaga dirimu Tin!”

Kamipun melambaikan tangan sembari Riska perlahan menjauh dan menghilang dari pandanganku.



Ini buruk, skenario yang buruk. Aku sendiri lagi dalam lamunanku mengingat malam yang kelam itu.

“Kau yakin harus pulang malam-malam begini?”

Sebuah suara yang dalam menyadarkanku dalam hening. Sepertinya aku mengenal suara itu, familiar sekali. Suara yang ingin sekali ku dengar, damai, tenang, akupun menoleh melihat siapa yang mempunyai suara itu.

“FA!!!” aku terkesiap melihat siapa orang yang sedang duduk di belakangku “Fauzan” “Titin, lama tak jumpa” katanya tenang

“Fauzan, ap—“ banyak sekali hal yang terlintas di pikiranku, banyak sekali hal inginku tanyakan padanya tapi aku tak enak “Apa yang kau lakukan di sini?” hanya itu yang bisa keluar dari mulut penjaraku

“Apa yang aku lakukan disini? Bukankah sudah jelas” katanya pelan

“Maksudmu?”

“Ya karena kau disini” dia tersenyum membuatku ingin lari

“Aku---aku tak begitu mengerti” kataku tertunduk

“Jangan kira aku tak melihatmu di kampus tadi siang. Aku melihatmu pertama kali dari sudut pintu tua itu, tapi kau lihat bahwa di sana ada seorang wanita bersamaku bukan?”

Ternyata Fauzan mengerti apa yang ingin sekali ku dengar darinya, namun kami terdiam beberapa saat, hanya suara bisik angin yang terdengar melambaikan senyuman di dalam ruangan tunggu stasiun itu.

“Apa kau tak keberatan memberitahuku siapa wanita itu?” kataku kemudian memberanikan diri menunggu apa jawaban Fauzan setelahnya

Dia tersenyum padaku lalu berkata “Dia dosenku”

Aku ternganga sesaat, dosen? Bagaimana mungkin

“Dosen? Tapi dia lebih muda darimu?” kataku menyangkal

“Iya, benar dia lebih muda satu tahun tapi dia dosen yang paling galak diantara dosen yang lainnya, tapi tumben saja dia memujiku tadi” Fauzan terkekeh

Ternyata dosennya, lega aku mendengarnya langsung dari Fauzan. Ternyata apa yang dibilang Riska memang benar, dan sial sepertinya dia sudah tau Fauzan ada disini makanya dia pulang lebih dulu.

Dasar Riska, aku pun hanya tersenyum sendiri lagi di sana.

Terkejutnya aku saat aku menyadari bahwa Fauzan sudah duduk disampingku, dia kemudian mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan itu adalah sesuatu yang mirip dengan kepunyaanku, sebuah liontin dengan ukiran kunci G yang bersinar dibawah lampu ruangan yang dikerumuni nyamuk-nyamuk yang tertarik dengan nyalanya.

Sementara aku masih terdiam, Fauzan tak mengizinkanku berkata apa-apa lagi.



“Kau tak perlu bertanya lagi Titin, aku minta maaf sudah membuatmu khawatir. Dan sepertinya aku kalah lagi darimu”

“Maksudmu?”

“Sebenarnya besok aku akan ke Bogor untuk menemuimu, tapi kau lebih dulu kesini menemuiku”

“Aoooh” kami berdua kemudian tertawa kemudian, sudah lama perasaan ini tak ku rasakan semenjak kami lulus dari bangku SMA.

Tanpa sadar kereta api yang ingin ku naiki sudah lama berada di depanku, dan aku pun meminta pamit pada Fauzan

“Fauzan aku, per—“

“Oh, sudah datang ya, ayo” katanya sambil menarik tanganku untuk ikut berlari sepertinya

“Heh?”



***

Aku ikut pulang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tolonglah berkomentar dengan sopan, NO SPAM!, dan dengan bahasa yang santun pula. Karena komentar anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini ke depannya.