Berjalanlah terus
Telusuri dunia ini
Jika kau takut
Gunakan pasir sebagai alasmu
Dan jika kau salah mengambil langkah
Mintalah ombak laut menghapusnya
(23 Desember 2016)
Kerlap-kerlip lampu-lampu jalanan perlahan
membanjiri pikiranku, aku termenung terpaku memandang wajah tak berupa di
depanku namun entah kenapa ketika ku memejamkan mataku,wajahnya jelas nampak,
begitu sejuk, begitu sunyi, begitu damai, begitu nyaman ku tatap. Namun mimpi
burukku yang tak kuharapkan terjadi.
“Titin, seandainya kita besok terpisah. Apa yang
akan kau lakukan?” katanya lemah terhadapku yang masih tak bisa menatapnya erat
“Fauzan?” kataku menanyakan hal
yang sama kepadanya
Dalam lubuk hatiku berkata, kau jahat sekali
membiarkan seorang wanita untuk menjawab terlebih dahulu, padahal kau juga tau
pertanyaanku sama sejak beberapa bulan yang lalu.
Namun ku tahan emosiku setidaknya
untuk kali ini.
“Ah, maafkan aku Titin. Kau kan
tau aku, aku menurut saja apa yang kau mau” dia terkekeh
Benar saja dugaanku, dia pasti akan menjawab
seperti itu. Setiap kali, setiap kali aku bertanya selalu jawabnya seperti itu.
Sepertinya dia masih bisa menerimaku sepenuhnya.
“Kau tak perlu marah Titin, kau mengenalku hampir 5
tahun lamanya. Kau mengerti aku, lagipula aku bukan seorang mentalis yang bisa
membaca pikiranmu setiap saat”
Perlahan aku memberanikan diri untuk menatapnya.
Tapi sering kali pandanganku mengarah ke arah lampu jalanan yang dikerumuni
oleh ratusan nyamuk dan beberapa cicak di atas kami.
“Fauzan aku......” tatapanku
melemah seiring dengan waktu yang terus memakan jiwaku yang
tengah sekarat
“Aku....” semua kalimatku ku
telan mentah-mentah, tak mengenyangkan, tak nyaman sekali
rasanya.
Seandainya jika aku tak menahan
diri, pastinya aku sudah dibanjiri oleh air mataku sendiri.
Namun aku tak mau menangis di
tempat itu, tidak, tidak didepan Fauzan.
Ya Tuhan, mengapa hal ini harus terjadi, haruskah
kau menuliskan suratan takdir yang begitu berat kepadaku? Rintihku dalam diam,
dan ku tau hal itu tak berguna sama sekali karena aku telah diajarkan untuk
ikhlas menerima oleh orang tuaku.
Lama sekali rasanya aku terdiam, dan segala sesuatu
terasa jahat sekali. Malam yang berangin, menghembuskan nafas kebenciannya
perlahan menusuk tulang-tulang.
“Maaf, Fauzan. Bisakah kau memperjelas pertanyaanmu sekali lagi?”
tanyaku pelan #
Dududuk----dududuk----dududuk. Suara rel kereta api
yang melintas itu mengalahkan lamunanku.
Hari itu cerah sedikit berawan, dengan ditemani
hiruk-pikuk masyarakat yang mengantri untuk masuk ke dalam gerbong segi empat
memanjang itu dari luar pintu, bau asap rokok menyebar kemana-mana dari
tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.
Ku alihkan pandanganku ke arah jam dinding besar di
depanku menunjukkan sekitar setengah jam lagi keretaku akan menjemputku.
Lantas sambil menunggu, ku pasang headset dari
ponsel ke telinga dan memutar lagu kesukaanku dan meneguk sedikit demi sedikit
lemonade yang ku beli di dekat loket stasiun tadi.
“Iiiin---Iiiin---IiiiiNn” sebuah
suara menggangguku sedikit dari sampingku
“TITINNNN!!!”
Suara itu mendadak membesar,
menggema di gendang telingaku. Siapa? Kurang ajar sekali.
Tiba-tiba ku arahkan pandanganku ke sumber suara
tadi, astaga ternyata Riska sahabat SMA ku yang super heboh mendatangiku
sendiri di sana.
“Riska?! Riska?! Ika!!! Aaaa!!!” “Titiiiinnn!!!!”
Aku senang bukan main di sana, di tengah kerumunan
orang yang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, aku bertemu dengan
sahabatku yang ku rindukan.
Kami berduapun memeluk erat satu sama lain
melepaskan rindu yang amat lama kami pendam.
“Ngomong-ngomong, apa yang dilakukan mahasiswi IPB
ditempat seperti ini?” kata Riska menyindirku
“Hmm... dan apa yang dilakukan
mahasiswi UNY di tempat seperti ini” balasku pelan
Kamipun hanya bertatap sejenak kemudian melepas
tawa bersama-sama tanpa memperdulikan tatapan keheranan orang-orang di sekitar.
“Hahaha.. Kau selalu tau bagaimana membuatku
tertawa Titin” katanya sambil mengusap matanya dengan tangan
“Kau tau aku kan” aku tersenyum
Kamipun duduk berdampingan di
sana, tinggal beberapa menit lagi keretaku sampai.
“Apa yang kau lakukan di sini
Riska?” tanyaku terlebih dahulu kepadanya
“Aku, sedang berlibur ke rumah nenekku di sini,
tapi tak kusangka akan menemukanmu juga di sini Tin”
“Mungkin kebetulan saja” kataku
merendah
“Oh ya, kau sendiri?” dia
menatapku
Riska menatapku menunggu jawaban, namun aku terdiam menunduk tersenyum
sendiri. Lalu, ku keluarkan sebuah benda kecil dari tasku. Sebuah kalung yang
mirip seperti liontin dan berukir kunci G yang ada pada partitur musik yang
sering kulihat.
“Ooo... Fau----“ belum selesai dia mengucap
kalimatnya aku sontak menutup mulutnya dengan tanganku
“Hmmm.... F” dia tersenyum dan mengangguk
“Baiklah telah ku putuskan aku
akan membantumu mencari F itu” katanya tegas
“Eeeh?”
Dia tersenyum lebar kali ini
“Ahhh, tak perlu repot Ka, aku bisa mencari sendiri
dan kuyakin nenekmu juga sudah menunggu”
“Ayolah, berapa lama kita kenal.
Nenek bisa menunggu, tapi Fauzan tidak! Hihi”
Aku hanya ternganga melihat tingkah orang satu ini,
ceria, penuh warna, sepertinya dia tidak pernah stres.
Beberapa menit kemudian keretaku datang membunyikan
bel khasnya dan mengercitkan suara roda dan rel yang tergesek karena di rem.
“Ah, keretemu datang ayo!”
Riska menarikku cepat, aku pun hanya menurut saja
sambil menarik koperku masuk ke dalam gerbong panas itu.
#
Sejenak beberapa lama kami turun dari gerbong kereta.
Udara segar kembali menyapaku setelah hampir aku tak bisa bernafas didalam
gerbong kereta.
“Nah, Titin. Inilah Yogyakarta” kata Riska
menunjukkanku suasana kota yang ramai. Banyak orang melakukan
aktifitas-aktifitas sehari-hari seperti belanja, bersepeda, jalan kaki, dan
beberapa juga kutemui seniman-seniman jalanan, yang tengah melukis dan bermain
musik. Tentunya aku tak berharap bertemu Fauzan di antara seniman-seniman itu.
“Ayo, Tin kampus UNY kesini” kata
Riska menuntunku ke arah keramaian.
“Riska, kau kuliah di UNY kan?”
kataku pelan namun masih bisa terdengar
“Jelas” katanya singkat
“Fauzan kuliah di UNY juga kan?”
“Mmm” dia mengangguk sambil terus
berjalan
“Jadi, bagaimana dia. Bagaimana
kabarnya?”
Sontak, Riska menghentikan
langkahnya
“Sudah kuduga kau akan bertanya seperti itu”
katanya berbalik arah kepadaku kemudian melanjutkan jalan lagi
“Dia baik, sangat baik, dia ikut organisasi
mahasiswa disana yah walaupun tak terlalu aktif, dan dia juga sering terlihat
dalam acara-acara festival seni dengan memainkan piano. Dan yah, aku juga
jarang bertemu dengannya karena fakultas kami berbeda”
“Begitu ya” akupun tersenyum
sendiri tanpa sadar mendengar penjelasan Riska
“Aku iri dengan kalian Titin,
Fauzan. Hebat sekali, mempertahankan hubungan selama ini”
“Ah, hanya satu kuncinya”
“Dan apa itu?”
“Percaya”
Kamipun bertatapan dan tertawa
melihat tingkah konyol kami.
“Ini dia!” kata Riska sedikit
berteriak
Akhirnya kami sampai di kampus UNY, besar sekali
mewah. Tak kalah dengan kampus IPB tempatku di sana.
“Sebaiknya kita bergegas, siapa tau Fauzan di ruang seni” Akupun hanya
menurut dan mengiyakan kalimat Riska.
Kami berjalan menyusuri lorong demi lorong, ruangan
demi ruangan hingga akhirnya didepan kami terpampang sebuah papan nama ruangan
bertuliskan Seni. Namun entah kenapa sepertinya aku terhenti untuk melangkah,
batinku memintaku untuk menunggu saja di luar.
“Sepertinya mereka sedang berlatih” kataku pada
Riska “dan sebaiknya kita menunggu saja di sini”
Beberapa menit kami menunggu, aku mendengar
derap-derap kaki yang begitu banyak terdengar semakin mendekat, degup jantungku
mulai tak karuan, lekat ku tatap pintu yang ada di sampingku, sabar, sebentar
lagi. Engsel pintu itupun mulai perlahan berputar dan derit suara pintu
terdengar pelan sekali.
Saat itu waktu seakan mencabik jiwaku, dia
seakan-akan sengaja membiarkan semuanya berjalan begitu lambat kurasakan.
Tiba saatnya isi dari ruangan itu keluar. Ramai
sekali, tatapku masih liar mencari-cari sosok yang familiar diantara kerumunan
itu. Dan benar saja pada barisan paling terakhir, Ia kutemukan, sesosok
laki-laki yang sangat ingin kulihat belakangan tahun ini.
Dia telah tumbuh tinggi, semakin
dewasa daripada sebelumnya.
Namun satu yang sangat mengganggu pikiranku, dia
seakan tengah menunggu seseorang juga. Dan benar saja, ketika seseorang yang
ditunggu Fauzan muncul mereka mulai berjalan berlawanan dariku, hingga aku
hanya bisa melihatnya dari belakang.
Dan satu hal yang paling tak kumengerti, dia
berjalan dengan seorang wanita yang tingginya hanya sampai bahu Fauzan.
“Fa---“ ingin sekali aku berteriak memanggilnya,
menantinya melihatku dan berteriak memanggil namaku juga. Namun sepertinya lagi
tenggorokanku terhalang sesuatu yang tak ku mengerti kenapa.
Akhirnya aku hanya melihat Fauzan dari pundaknya
berjalan berdampingan bersama wanita itu sambil tertawa gembira.
Sulit rasanya ku mengerti. Benarkah apa yang
dikatakan Riska saat tadi? Mungkinkah aku terlalu percaya diri?
Akhirnya aku meminta Riska untuk mengantarku balik
ke stasiun dan aku akan kembali ke Lombok untuk menghabiskan sisa liburanku di
sana.
“Sudahlah Tin, berpikir positif saja, siapa tau itu
hanya temannya” kata Riska mencoba menghiburku
“Aku tau Ka, hanya saja ada
sesuatu yang mengganjalku” kataku melemah
“Itu, biasa kan, bukan pertama
kalinya terjadi kan?”
“Hmmm” “Aku mengerti sekarang Ka”
kataku merendah pada Riska
“Apa itu?”
“Aku mengerti sekarang bahwa, aku
terlalu percaya”
“Lalu?” Riska mengangguk
“Aku akan mengiklaskannya,
asalkan dia tetap tertawa dan sehat”
Sesak rasanya dadaku sesaat mengucapkan kalimatku,
ku genggam erat liontin Fauzan dengan kedua tanganku. Riska yang sedari tadi
semakin bingung dengan tingkahku hanya bisa menenangkanku sejenak dengan
memegang tanganku.
“Aku juga percaya” katanya kemudian “Aku percaya kalau Fauzan tidak
seperti itu” “Maksudmu?” kataku mengangkat kepalaku akhirnya
“Ya, aku pernah bilang bukan bahwa aku iri melihat
kalian bisa menjaga hubungan lama sekali, lagipula aku tak pernah mendengar
bahwa Fauzan dekat dengan wanita lain”
“Terima kasih Ka, itu cukup
membantu” kataku tersenyum lemah
Namun dalam hatiku berkata bahwa aku tau bahwa kau tidak mendengar kabar
tentang Fauzan, ya tentunya karena fakultas kalian berbeda.
“Oke, keretamu lima menit lagi datang. Jadi aku
bisa pulang, kalau terlalu larut nanti nenek tak memberiku ruang tidur” kata
Riska nampaknya ingin sekali pulang, wajar saja karena jam menunjukkan pukul 9
malam
“Oke Ka, aku baik di sini. Kau hati-hati di jalan” kataku masih lemah “Kau
yakin” Aku tersenyum “Oke, jaga dirimu Tin!”
Kamipun melambaikan tangan sembari Riska perlahan
menjauh dan menghilang dari pandanganku.
Ini buruk, skenario yang buruk. Aku sendiri lagi
dalam lamunanku mengingat malam yang kelam itu.
“Kau yakin harus pulang malam-malam
begini?”
Sebuah suara yang dalam menyadarkanku dalam hening.
Sepertinya aku mengenal suara itu, familiar sekali. Suara yang ingin sekali ku
dengar, damai, tenang, akupun menoleh melihat siapa yang mempunyai suara itu.
“FA!!!” aku terkesiap melihat siapa orang yang sedang duduk di
belakangku “Fauzan” “Titin, lama tak jumpa” katanya tenang
“Fauzan, ap—“ banyak sekali hal yang terlintas di
pikiranku, banyak sekali hal inginku tanyakan padanya tapi aku tak enak “Apa
yang kau lakukan di sini?” hanya itu yang bisa keluar dari mulut penjaraku
“Apa yang aku lakukan disini?
Bukankah sudah jelas” katanya pelan
“Maksudmu?”
“Ya karena kau disini” dia
tersenyum membuatku ingin lari
“Aku---aku tak begitu mengerti” kataku
tertunduk
“Jangan kira aku tak melihatmu di kampus tadi
siang. Aku melihatmu pertama kali dari sudut pintu tua itu, tapi kau lihat
bahwa di sana ada seorang wanita bersamaku bukan?”
Ternyata Fauzan mengerti apa yang ingin sekali ku
dengar darinya, namun kami terdiam beberapa saat, hanya suara bisik angin yang
terdengar melambaikan senyuman di dalam ruangan tunggu stasiun itu.
“Apa kau tak keberatan memberitahuku siapa wanita
itu?” kataku kemudian memberanikan diri menunggu apa jawaban Fauzan setelahnya
Dia tersenyum padaku lalu berkata
“Dia dosenku”
Aku ternganga sesaat, dosen?
Bagaimana mungkin
“Dosen? Tapi dia lebih muda
darimu?” kataku menyangkal
“Iya, benar dia lebih muda satu tahun tapi dia
dosen yang paling galak diantara dosen yang lainnya, tapi tumben saja dia
memujiku tadi” Fauzan terkekeh
Ternyata dosennya, lega aku mendengarnya langsung
dari Fauzan. Ternyata apa yang dibilang Riska memang benar, dan sial sepertinya
dia sudah tau Fauzan ada disini makanya dia pulang lebih dulu.
Dasar Riska, aku pun hanya
tersenyum sendiri lagi di sana.
Terkejutnya aku saat aku menyadari bahwa Fauzan
sudah duduk disampingku, dia kemudian mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan itu
adalah sesuatu yang mirip dengan kepunyaanku, sebuah liontin dengan ukiran
kunci G yang bersinar dibawah lampu ruangan yang dikerumuni nyamuk-nyamuk yang
tertarik dengan nyalanya.
Sementara aku masih terdiam,
Fauzan tak mengizinkanku berkata apa-apa lagi.
“Kau tak perlu bertanya lagi Titin, aku minta maaf sudah membuatmu
khawatir. Dan sepertinya aku kalah lagi darimu”
“Maksudmu?”
“Sebenarnya besok aku akan ke Bogor untuk menemuimu, tapi kau lebih dulu
kesini menemuiku”
“Aoooh” kami berdua kemudian tertawa kemudian, sudah lama perasaan ini
tak ku rasakan semenjak kami lulus dari bangku SMA.
Tanpa sadar kereta api yang ingin ku naiki sudah lama berada di depanku,
dan aku pun meminta pamit pada Fauzan
“Fauzan aku, per—“
“Oh, sudah datang ya, ayo” katanya
sambil menarik tanganku untuk ikut berlari sepertinya
“Heh?”
***
Aku ikut pulang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tolonglah berkomentar dengan sopan, NO SPAM!, dan dengan bahasa yang santun pula. Karena komentar anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini ke depannya.