9 Desember 2017

Jiwa Yang Lain (Bagian 2)



Siapa yang perduli saat senja telah terbenam

Aku

Siapa yang perduli ketika hujan Juni tak menyampaikan rintihannya kepada sang pohon berbunga

Aku




Tunggulah,

Aku akan pulang”





16 Juli 2016





Sepi, hitam dan kegelapan bercampur menjadi satu menjanjikan suatu hal yang buruk bagi siapa saja yang menentangnya.

Di dalam ruangan sempit itu terasa bertambah pengap sehingga dia tidak bisa tertidur sama sekali. Matanya sesekali terpejam namun kembali terbuka. Dengungan nyamuk-nyamuk vampir dan desikan-desikan jangkrik menemani sepinya dalam kegelapan. Satu-satunya cahaya ialah berasal dari layar laptop kecilnya yang sesekali menjadi buram, namun setelah ia sentuh maka layarnya menjadi terang kembali.

Ia bingung, sangat bingung. Hal apa yang tengah menimpanya saat ini, padahal sebelumnya ia tak pernah merasakan sensasi seperti ini.

Rasanya begitu menyakitkan. Tidak, lebih terasa seperti menyesakkan dan memuakkan. Sudah hampir dua tahun Ia berada di tanah rantau untuk menuntut ilmu yang sering kali menjadi liar karena terus berlari tak ada habisnya. Tetapi, dia tak pernah putus asa. Kata-kata yang sering diucapkan oleh Ibundanya adalah satu-satunya alasan Ia tak pernah berhenti di satu titik, Ia hanya tinggal terus melaju dan melaju hingga mimpinya bisa tercapai.

Akhirnya dia bangkit dan menyalakan lampu dari sudut ruangan itu. Semuanya terlihat berantakan, pakaian-pakaian yang berserakan disana-sini, kabel-kabel elektrik yang tak pernah dirapikan, dan bungkus-bungkus makanan yang masih belum dibersekan menyisakan satu dinasti semut yang gagah dan kekar memimpin pasukannya mengambil sisa-sisa harta peperangan.

Dia berjalan menuju sebuah dispenser berukuran kecil dengan sebuah galon air dibawahnya, dia menekan dengan perlahan namun pasti hingga gemericik air keluar dari dispenser itu. Dia duduk meminumnya sambil memperhatikan keadaan kamarnya yang seperti kapal pecah.

Sejenak dia memperhatikan jam di dindingnya, pukul 2 pagi dia bergumam. Dan dengan langkah yang terlhat berat dia mulai membereskan semua kekacauan di dalam istananya, kemudian berusaha kembali tidur lagi.

Dia perlahan membuka matanya, sebuah cahaya remang-remang dan suara keributan yang kecil membuatnya terbangun. Matanya tertuju pada angka 5 pada jam favoritnya. Dengan lantas dia mengambil handuk yang tergantung kemudian keluar dari ruangan itu.

Saat dia membuka pintu, udara segar dari sang pagi langsung menyapanya dengan hangat. Udara itu langsung masuk kedalam tubuhnya membuatnya tersenyum untuk kala pertama kalinya dalam semalam.

“Pagi, Fauzan”

“Ah, pagi” sapanya

Di depannya terdapat beberapa mahasiswa yang sedang mengantri untuk menyegarkan badan, dan Fauzan pun ikut masuk ke dalam antrian yang sudah biasa dialaminya selama hampir satu tahun.

#

Mimpinya malam ini. Ia tengah berjalan di atas rerumputan hijau yang masih sedikit basah, kiri dan kanannya terbentang luas gerumunan padi yang masih setengah menguning.

Di depannya terdapat sebuah genangan air kecil yang dialiri oleh pipa bambu sekaligus untuk air padi, suara gemericiknya begitu damai, ia pun kemudian langsung duduk di atas pematang sawah itu bersebelahan dengannya.

Baru Fauzan sadari bahwa Ia tidak sendiri ditempat itu, disampingnya duduk seorang wanita sebayanya sambil menatap matahari senja.

Fauzan menoleh sekian waktu, namun Ia tak bisa menemukan wajah wanita itu, cahaya mentari seakan-akan menahannya untuk tidak melihat wajah seorang disampingnya itu.

Namun entah kenapa, Fauzan begitu nyaman didekatnya. Perasaan yang mungkin pernah dirasakan Fauzan sebelumnya, tapi kapan dan dimana? Ia biingung, namun satu hal yang pasti adalah dia tak ingin cepat-cepat bangun, dia ingin lebih lama dan lebih lama lagi merasakan hal seperti ini.



Fauzan dan wanita tanpa wajah itu, mereka duduk berdua di depan sang senja yang perlahan-lahan memudarkan lembayung rindunya, burung-burung sesekali berkicau seolah-olah merestui mereka berada di sana.

Sempat sesaat Fauzan menoleh ke arah wanita itu, dia bisa melihat senyumannya sekilas yang kemudian langsung memudar.

“Fauzan, apa yang kau pikirkan?”

Sontak pria itu langsung terkejut, dia tersadar bahwa dia disana hanya singgah untuk makan siang saja, setelah itu kembali ke kampusnya karena ada mata kuliah musik hari ini.

“Ah, Rendra. Maafkan aku, aku sedang tak enak badan”

“Benarkah, apa kau ingin aku antar pulang?”

“Ah tidak perlu, tidak mungkin aku meninggalkan kuliahku hanya karena perasaan tak biasa seperti ini” dia tersenyum

#

HHHHH...... suara itu terdengar lemah di setiap sudut ruangan kecil yang hanya beralaskan

karpet setengah saja.

Waktu telah menunjukkan pukul 6 sore. Hari itu sedikit agak muram, awan-awan hitam nan gelap membentang dari pucuk utara sampai selatan.

Laki-laki kuliahan itu masih membaringkan tubuhnya diatas kasur yang tak punya rak kasur.

Sekilas dia menoleh ke arah tumpukan buku-buku nan tebal dan rapi diatas meja belajarnya.

Dia menghela nafas sejenak.

„Sepertinya semua ini terlalu cepat‟ gumamnya.

“Hi, Fauzan kau di dalam sana?” sapa sebuah suara laki-laki dari balik pintu

“Ah, iya. Masuk” katanya masih terbaring

“Ini aku, Febian” katanya sambil melangkah masuk ke dalam ruangan Fauzan

“Kau tak apa, teman?”

“Entahlah, Febi.. sepertinya aku terlalu memaksakan diri” katanya melemah

“Bicara apa kau, kau memang seperti itu kan”

Febi benar, sepertinya ada yang salah dengan dirinya sendiri yang hanya dirinya yang mengetahui diamana letak kesalahan itu, namun apa.

Semua orang hanya melihatnya sebagai Fauzan si semangat, tak ada satu apapun yang salah. Febi, teman duduknya pada saat mereka melakukan ujian masuk perguruan tinggi dengan jurusan yang sama telah mengenalnya sebagai orang yang penuh semangat.

“Saat itu, saat kita mengerjakan soal-soal tes yang begitu sulit. Kau berbeda dari peserta lainnya. Kau terlihat begitu tenang saat mengerjakan semua tesnya, seakan-akan kau sudah tau apa jawaban tes itu”

Febian kemudian mengambil sebuah buku di seberang ruangan lalu bersandar di dinding sebelahnya, namun Fauzan sepertinya tidak memperhatikan sama sekali.

“Setelah aku bertanya bagaimana padamu, kau berkata bahwa kita harus memiliki sebuah tujuan, dan kau menunjukkan liontin itu padaku”

Ah benar saja, Fauzan langsung terkesiap mendengar hal itu, Ia kemudian langsung bangkit dari tempat tidurnya menuju laci lemari di dekat Febi.

Dia kemudian mengobrak-abrik isi dari laci itu, sementara Febian hanya mangut-mangut sambil mengangguk mengerti apa yang sedang dipikirkan Fauzan.

Akhirnya setelah hampir semua isi lemari itu keluar dan berserakan di lantai, Fauzan berhenti sejenak. Dia memandang lekat ke arah dalam lacinya itu.


Di sana terdapat sebuah benda yang mirip lebih seperti kalung logam berwarna perak bersih dengan ujung hiasannya berbentuk seperti lekukan kunci G nan rapi.

Dia kemudian mengambil pelan kalung liontin itu. Dan sontak sebuah kenangan yang begitu indah masuk ke dalam pikirannya.

Saat itu, dia menghadiri ulang tahun sahabatnya Titin. Pada hari itu Fauzan mengantarkan Titin menuju ke rumahnya, setelah sampai Fauzan memberikan sebuah hadiah ulang tahun kepada Titin yaitu liontin yang sama.

Akhirnya pengumuman kelulusan SMA telah tiba dan mereka berdua lulus dengan nilai ujian yang memuaskan. Saat itu Fauzan tengah berbicara dengan Titin, dia berkata bahwa dia akan pergi keluar daerah untuk meneruskan studinya.

Namun hal yang paling dia ingat dan mungkin juga paling dia tidak inginkan terjadi adalah saat hari dimana dia akan berangkat keluar daerah. Saat itu Ia sudah berada di ruang tunggu bandara, menunggu seseorang yang sebentar lagi akan Ia lihat dengan penuh perasaan sebelum Ia pergi.

Ditangannya terdapat sebuah amplop berwarna merah dan Ia akan berikan kepada Titin sebelum dia pergi. Namun lama dia menunggu, seorang yang ditunggunya tak kunjung tiba. Akhirnya setelah beberapa panggilan dari operator bandara, dia beranjak dari tempatnya menuju pesawat. Sesekali Ia menoleh ke belakang berharap Titin berlari sambil berteriak memanggil namanya. Namun apa daya, ini bukan film holywood ataupun semacamnya, dia akhirnya berkata kepada dirinya sendiri “Baik-baik disana” kemudian pergi.

Setelah Ia sampai di luar daerah tepatnya di kota Jogjakarta, Ia mendapat panggilan dari temannya dia sana, dia mengabarkan bahwa Titin mengalami kecelakaan pada saat menuju bandara dan ingin bertemu dengannya.

Hal itu membuat Fauzan langsung berhenti bernafas, dadanya sesak seperti terganjal sebuah bongkahan batu yang tak jelas darimana asalnya, mungkin saja jika Ia tak memperhatikan orang banyak, dia bisa terkapar jatuh ditempat itu.

Fauzan tak percaya, ternyata orang yang ditunggunya memang berniat kesana namun terhalang keadaan.

Lantas Ia mengeluarkan liontin itu dari dalam sakunya, dan berjanji akan segera pulang.

Lama Fauzan terperangkap dalam ingatannya sendiri, tanpa ia sadari air matanya terjatuh tetes demi tetes sambil menggenggam erat liontin itu.

“Apa yang telah ku lakukan selama ini. Seharusnya aku tau bahwa aku tak selalu sendiri, aku harusnya tau aku harus memberi kabar, dan aku harusnya tau bahwa kau adalah jawaban dari semua masalah ku saat ini, dan aku...aku... SIAL!!”

Fauzan kemudian langsung menutup pintu laci itu dengan sekuat tenaga hingga Febian yang terpaku didekatnya terkejut bukan main.

“Hei, sudahlah aku tak tau ada apa antara kau dengan liontin bodoh itu tapi....”

Sontak sebelum Febian menyelesaikan kalimatnya, Fauzan langsung saja tanpa aba-aba memeluk Febi dengan erat sambil mengusap air matanya. Febi yang terkejut tambah terkejut tak bisa berkata apa-apa. Saat ini Ia hanya bisa membiarkan Fauzan menyelesaikan masalahnya sendiri.

“Tak apa-apa, biarkan mengalir” kata Febi sambil menepuk bahu Fauzan

Setelah tersadar akan hal yang terjadi dan dia berada di dekapan Febi, Fauzan langsung melompat dan menjauhkan dirinya dari pria bodoh itu.

“Kenapa kau memelukku bodoh?” katanya sambil mengusap sisa air matanya lagi

“Lho, bukankah kau yang berlari begitu saja kearahku dan langsung memelukku?”

“Benarkah, Iiii.. aku harus mandi” katanya dengan ekspresi jijik



Namun mereka berdua tau, mereka hanya bercanda. Itu memang cara mereka melepaskan beban yang baru saja ia pikul.

“Jadi, apa rencanamu?” kata Febi datar

“Aku akan kembali ke Lombok” kata Fauzan dengan nada yang sangat meyakinkan

“Sungguh?”

“Iya, besok aku akan ke bandara untuk mempersiapkan semuanya. Aku harus menyelesaikan apa yang belum kuselesaikan dulu”

Lantas Fauzan kembali ke lacinya, kali ini mencari sebuah buku. Tidak, dia mencari apa yang ada di dalam buku itu. Dia membuka lembaran demi lembaran hingga akhirnya Ia temukan sebuah amplop merah yang sedikit sudah agak lusuh, namun Ia tak peduli. Ia harus yakin akan perasaannya yang sesungguhnya.

“Trims Febi”

#

Malam sekali lagi telah berlalu, laki-laki kuliahan itu sekarang melangkah ke bandara bukan ke kampusnya, hanya untuk beberapa hari pikirnya. Lagipula dia telah meminta izin ke dosen pembimbingnya untuk kembali kekampung halamannya.

Dengan koper yang di tarik dan sebuah tas Ia jinjing, Fauzan berpamitan dengan teman-teman kosnya khususnya Febian yang telah memberinya sebuah jalan untuk menyelesaikan masalahnya belakangan ini.


Saatnya sampailah Fauzan di bandara terdekat. Dia membujurkan kopernya disebelah tempatnya duduk sembari mengambil sebuah benda dari tasnya. Sebuah liontin berbentuk kunci G melingkar di tangan kanannya dan sebuah amplop merah di tangan kirinya dia kemudian memasukkan liontin itu kedalam amplop kemudian sambil beranjak dari tempat duduknya menuju pesawat sambil bergumam

Aku Akan Pulang.



***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tolonglah berkomentar dengan sopan, NO SPAM!, dan dengan bahasa yang santun pula. Karena komentar anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini ke depannya.