Siapa
yang perduli saat senja telah terbenam
Aku
Siapa yang perduli ketika hujan Juni tak
menyampaikan rintihannya kepada sang pohon berbunga
Aku
Tunggulah,
Aku
akan pulang”
16 Juli 2016
Sepi, hitam dan kegelapan bercampur menjadi satu
menjanjikan suatu hal yang buruk bagi siapa saja yang menentangnya.
Di dalam ruangan sempit itu terasa bertambah pengap
sehingga dia tidak bisa tertidur sama sekali. Matanya sesekali terpejam namun
kembali terbuka. Dengungan nyamuk-nyamuk vampir dan desikan-desikan jangkrik
menemani sepinya dalam kegelapan. Satu-satunya cahaya ialah berasal dari layar
laptop kecilnya yang sesekali menjadi buram, namun setelah ia sentuh maka layarnya
menjadi terang kembali.
Ia bingung, sangat bingung. Hal apa yang tengah
menimpanya saat ini, padahal sebelumnya ia tak pernah merasakan sensasi seperti
ini.
Rasanya begitu menyakitkan. Tidak, lebih terasa
seperti menyesakkan dan memuakkan. Sudah hampir dua tahun Ia berada di tanah
rantau untuk menuntut ilmu yang sering kali menjadi liar karena terus berlari
tak ada habisnya. Tetapi, dia tak pernah putus asa. Kata-kata yang sering
diucapkan oleh Ibundanya adalah satu-satunya alasan Ia tak pernah berhenti di
satu titik, Ia hanya tinggal terus melaju dan melaju hingga mimpinya bisa
tercapai.
Akhirnya dia bangkit dan menyalakan lampu dari
sudut ruangan itu. Semuanya terlihat berantakan, pakaian-pakaian yang
berserakan disana-sini, kabel-kabel elektrik yang tak pernah dirapikan, dan
bungkus-bungkus makanan yang masih belum dibersekan menyisakan satu dinasti
semut yang gagah dan kekar memimpin pasukannya mengambil sisa-sisa harta
peperangan.
Dia berjalan menuju sebuah dispenser berukuran
kecil dengan sebuah galon air dibawahnya, dia menekan dengan perlahan namun
pasti hingga gemericik air keluar dari dispenser itu. Dia duduk meminumnya
sambil memperhatikan keadaan kamarnya yang seperti kapal pecah.
Sejenak dia memperhatikan jam di dindingnya, pukul
2 pagi dia bergumam. Dan dengan langkah yang terlhat berat dia mulai
membereskan semua kekacauan di dalam istananya, kemudian berusaha kembali tidur
lagi.
Dia perlahan membuka matanya, sebuah cahaya
remang-remang dan suara keributan yang kecil membuatnya terbangun. Matanya
tertuju pada angka 5 pada jam favoritnya. Dengan lantas dia mengambil handuk
yang tergantung kemudian keluar dari ruangan itu.
Saat dia membuka pintu, udara segar dari sang pagi
langsung menyapanya dengan hangat. Udara itu langsung masuk kedalam tubuhnya
membuatnya tersenyum untuk kala pertama kalinya dalam semalam.
“Ah, pagi” sapanya
Di depannya terdapat beberapa mahasiswa yang sedang
mengantri untuk menyegarkan badan, dan Fauzan pun ikut masuk ke dalam antrian
yang sudah biasa dialaminya selama hampir satu tahun.
#
Mimpinya malam ini. Ia tengah berjalan di atas
rerumputan hijau yang masih sedikit basah, kiri dan kanannya terbentang luas
gerumunan padi yang masih setengah menguning.
Di depannya terdapat sebuah genangan air kecil yang
dialiri oleh pipa bambu sekaligus untuk air padi, suara gemericiknya begitu
damai, ia pun kemudian langsung duduk di atas pematang sawah itu bersebelahan
dengannya.
Baru Fauzan sadari bahwa Ia tidak sendiri ditempat
itu, disampingnya duduk seorang wanita sebayanya sambil menatap matahari senja.
Fauzan menoleh sekian waktu, namun Ia tak bisa
menemukan wajah wanita itu, cahaya mentari seakan-akan menahannya untuk tidak
melihat wajah seorang disampingnya itu.
Namun entah kenapa, Fauzan begitu nyaman
didekatnya. Perasaan yang mungkin pernah dirasakan Fauzan sebelumnya, tapi
kapan dan dimana? Ia biingung, namun satu hal yang pasti adalah dia tak ingin
cepat-cepat bangun, dia ingin lebih lama dan lebih lama lagi merasakan hal
seperti ini.
Fauzan dan wanita tanpa wajah itu, mereka duduk
berdua di depan sang senja yang perlahan-lahan memudarkan lembayung rindunya,
burung-burung sesekali berkicau seolah-olah merestui mereka berada di sana.
Sempat sesaat Fauzan menoleh ke arah wanita itu, dia bisa melihat
senyumannya sekilas yang kemudian langsung memudar.
“Fauzan, apa yang kau pikirkan?”
Sontak pria itu langsung terkejut, dia tersadar
bahwa dia disana hanya singgah untuk makan siang saja, setelah itu kembali ke
kampusnya karena ada mata kuliah musik hari ini.
“Ah, Rendra. Maafkan aku, aku
sedang tak enak badan”
“Benarkah, apa kau ingin aku
antar pulang?”
“Ah tidak perlu, tidak mungkin aku meninggalkan
kuliahku hanya karena perasaan tak biasa seperti ini” dia tersenyum
#
karpet setengah saja.
Waktu telah menunjukkan pukul 6 sore. Hari itu
sedikit agak muram, awan-awan hitam nan gelap membentang dari pucuk utara
sampai selatan.
Laki-laki kuliahan itu masih membaringkan
tubuhnya diatas kasur yang tak punya rak kasur.
Sekilas dia menoleh ke arah
tumpukan buku-buku nan tebal dan rapi diatas meja belajarnya.
Dia menghela nafas sejenak.
„Sepertinya semua ini terlalu
cepat‟ gumamnya.
“Hi, Fauzan kau di dalam sana?”
sapa sebuah suara laki-laki dari balik pintu
“Ah, iya. Masuk” katanya masih
terbaring
“Ini aku, Febian” katanya sambil
melangkah masuk ke dalam ruangan Fauzan
“Kau tak apa, teman?”
“Entahlah, Febi.. sepertinya aku
terlalu memaksakan diri” katanya melemah
“Bicara apa kau, kau memang
seperti itu kan”
Febi benar, sepertinya ada yang salah dengan
dirinya sendiri yang hanya dirinya yang mengetahui diamana letak kesalahan itu,
namun apa.
Semua orang hanya melihatnya sebagai Fauzan si
semangat, tak ada satu apapun yang salah. Febi, teman duduknya pada saat mereka
melakukan ujian masuk perguruan tinggi dengan jurusan yang sama telah
mengenalnya sebagai orang yang penuh semangat.
“Saat itu, saat kita mengerjakan soal-soal tes yang
begitu sulit. Kau berbeda dari peserta lainnya. Kau terlihat begitu tenang saat
mengerjakan semua tesnya, seakan-akan kau sudah tau apa jawaban tes itu”
Febian kemudian mengambil sebuah buku di seberang
ruangan lalu bersandar di dinding sebelahnya, namun Fauzan sepertinya tidak
memperhatikan sama sekali.
“Setelah aku bertanya bagaimana padamu, kau berkata
bahwa kita harus memiliki sebuah tujuan, dan kau menunjukkan liontin itu padaku”
Ah benar saja, Fauzan langsung terkesiap mendengar
hal itu, Ia kemudian langsung bangkit dari tempat tidurnya menuju laci lemari
di dekat Febi.
Dia kemudian mengobrak-abrik isi dari laci itu,
sementara Febian hanya mangut-mangut sambil mengangguk mengerti apa yang sedang
dipikirkan Fauzan.
Akhirnya setelah hampir semua isi lemari itu keluar
dan berserakan di lantai, Fauzan berhenti sejenak. Dia memandang lekat ke arah
dalam lacinya itu.
Di sana terdapat sebuah benda yang mirip lebih
seperti kalung logam berwarna perak bersih dengan ujung hiasannya berbentuk
seperti lekukan kunci G nan rapi.
Dia kemudian mengambil pelan kalung liontin itu.
Dan sontak sebuah kenangan yang begitu indah masuk ke dalam pikirannya.
Saat itu, dia menghadiri ulang tahun sahabatnya
Titin. Pada hari itu Fauzan mengantarkan Titin menuju ke rumahnya, setelah
sampai Fauzan memberikan sebuah hadiah ulang tahun kepada Titin yaitu liontin
yang sama.
Akhirnya pengumuman kelulusan SMA telah tiba dan
mereka berdua lulus dengan nilai ujian yang memuaskan. Saat itu Fauzan tengah
berbicara dengan Titin, dia berkata bahwa dia akan pergi keluar daerah untuk
meneruskan studinya.
Namun hal yang paling dia ingat dan mungkin juga
paling dia tidak inginkan terjadi adalah saat hari dimana dia akan berangkat
keluar daerah. Saat itu Ia sudah berada di ruang tunggu bandara, menunggu
seseorang yang sebentar lagi akan Ia lihat dengan penuh perasaan sebelum Ia
pergi.
Ditangannya terdapat sebuah amplop berwarna merah
dan Ia akan berikan kepada Titin sebelum dia pergi. Namun lama dia menunggu,
seorang yang ditunggunya tak kunjung tiba. Akhirnya setelah beberapa panggilan
dari operator bandara, dia beranjak dari tempatnya menuju pesawat. Sesekali Ia
menoleh ke belakang berharap Titin berlari sambil berteriak memanggil namanya.
Namun apa daya, ini bukan film holywood ataupun semacamnya, dia akhirnya berkata
kepada dirinya sendiri “Baik-baik disana” kemudian pergi.
Setelah Ia sampai di luar daerah tepatnya di kota
Jogjakarta, Ia mendapat panggilan dari temannya dia sana, dia mengabarkan bahwa
Titin mengalami kecelakaan pada saat menuju bandara dan ingin bertemu
dengannya.
Hal itu membuat Fauzan langsung berhenti bernafas,
dadanya sesak seperti terganjal sebuah bongkahan batu yang tak jelas darimana
asalnya, mungkin saja jika Ia tak memperhatikan orang banyak, dia bisa terkapar
jatuh ditempat itu.
Fauzan tak percaya, ternyata orang yang ditunggunya
memang berniat kesana namun terhalang keadaan.
Lantas Ia mengeluarkan liontin
itu dari dalam sakunya, dan berjanji akan segera pulang.
Lama Fauzan terperangkap dalam ingatannya sendiri,
tanpa ia sadari air matanya terjatuh tetes demi tetes sambil menggenggam erat
liontin itu.
“Apa yang telah ku lakukan selama ini. Seharusnya
aku tau bahwa aku tak selalu sendiri, aku harusnya tau aku harus memberi kabar,
dan aku harusnya tau bahwa kau adalah jawaban dari semua masalah ku saat ini,
dan aku...aku... SIAL!!”
Fauzan kemudian langsung menutup pintu laci itu
dengan sekuat tenaga hingga Febian yang terpaku didekatnya terkejut bukan main.
Sontak sebelum Febian menyelesaikan kalimatnya,
Fauzan langsung saja tanpa aba-aba memeluk Febi dengan erat sambil mengusap air
matanya. Febi yang terkejut tambah terkejut tak bisa berkata apa-apa. Saat ini
Ia hanya bisa membiarkan Fauzan menyelesaikan masalahnya sendiri.
“Tak apa-apa, biarkan mengalir”
kata Febi sambil menepuk bahu Fauzan
Setelah tersadar akan hal yang terjadi dan dia
berada di dekapan Febi, Fauzan langsung melompat dan menjauhkan dirinya dari
pria bodoh itu.
“Kenapa kau memelukku bodoh?”
katanya sambil mengusap sisa air matanya lagi
“Lho, bukankah kau yang berlari
begitu saja kearahku dan langsung memelukku?”
“Benarkah, Iiii.. aku harus mandi”
katanya dengan ekspresi jijik
Namun mereka berdua tau, mereka hanya bercanda. Itu
memang cara mereka melepaskan beban yang baru saja ia pikul.
“Jadi, apa rencanamu?” kata Febi
datar
“Aku akan kembali ke Lombok” kata
Fauzan dengan nada yang sangat meyakinkan
“Sungguh?”
“Iya, besok aku akan ke bandara untuk mempersiapkan
semuanya. Aku harus menyelesaikan apa yang belum kuselesaikan dulu”
Lantas Fauzan kembali ke lacinya, kali ini mencari
sebuah buku. Tidak, dia mencari apa yang ada di dalam buku itu. Dia membuka
lembaran demi lembaran hingga akhirnya Ia temukan sebuah amplop merah yang
sedikit sudah agak lusuh, namun Ia tak peduli. Ia harus yakin akan perasaannya
yang sesungguhnya.
“Trims Febi”
#
Malam sekali lagi telah berlalu, laki-laki kuliahan
itu sekarang melangkah ke bandara bukan ke kampusnya, hanya untuk beberapa hari
pikirnya. Lagipula dia telah meminta izin ke dosen pembimbingnya untuk kembali
kekampung halamannya.
Dengan koper yang di tarik dan sebuah tas Ia
jinjing, Fauzan berpamitan dengan teman-teman kosnya khususnya Febian yang
telah memberinya sebuah jalan untuk menyelesaikan masalahnya belakangan ini.
Saatnya sampailah Fauzan di bandara terdekat. Dia
membujurkan kopernya disebelah tempatnya duduk sembari mengambil sebuah benda
dari tasnya. Sebuah liontin berbentuk kunci G melingkar di tangan kanannya dan
sebuah amplop merah di tangan kirinya dia kemudian memasukkan liontin itu
kedalam amplop kemudian sambil beranjak dari tempat duduknya menuju pesawat
sambil bergumam
Aku Akan Pulang.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tolonglah berkomentar dengan sopan, NO SPAM!, dan dengan bahasa yang santun pula. Karena komentar anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini ke depannya.