9 Desember 2017

Hai Gufron!



 15 Januari 2017


Sebuah karangan biasa

Sebuah catatan buku harian seorang anak desa

Yang berusaha menggapai cita-citanya di langit

Tak peduli seberapa jauh

Gapai




“Hai, aku Gufron. Kata orang-orang aku adalah seorang pianis muda yang berbakat, aku baru menginjakkan kakiku di kelas 11 Sekolah Menengah Atas di daerahku.

Tapi terlepas dari semua kata orang tentangku, aku ya aku. Seorang bocah pedesaan yang melakukan pekerjaan menggiring itik-itik milik bapakku yang harus ku seberangi melewati sungai untuk mendapatkan makanan mereka di sawah kangkung di kompleks persawahan.

Namun aku juga memiliki cita-cita sebagai seorang pianis, tidak, seorang musisi berbakat juga tentunya karena pengaruh lingkunganku, ya walaupun sarana yang kupunya tidak begitu memadai karena aku hanya orang pedesaan.

Aku juga suka hidup seperti ini, menggiringku untuk selalu bersyukur atas apa yang kumiliki sekarang kepada Allah Yang Maha Kuasa. Tak bisa kubayangkan kerasnya kehidupan kota sana, asap-asap kendaraan yang tiap hari makin banyak, pabrik-pabrik yang tak peduli makna kebersihan, dan tangan-tangan yang berdosa membuang begitu saja sampahnya di tengah jalan, tak bisa kubayangkan sekalipun.

Berbeda denganku yang hidup di tengah keramahan desa yang masih asri. Pohon-pohonnya rindang menyapa siapa saja yang duduk bersandar di bawahnya, sungai-sungai berliku menjadi tempat ikan mujair bercengkrama tiap harinya, bau-bau rerumputan hijau yang menusuk hidung dikala hujan turun mengguyurnya. Aku bersyukur masih bisa mendapatkan karunia seperti ini.

Pernah suatu saat, ketika aku mengikuti kejuaraan piano tingkat daerah yang diadakan setiap tahun sekali di daerahku, yang tujuannya untuk mencari bakat-bakat muda yang tumbuh di daerah ini, lagu-lagunya pun bisa dikatakan tidak begitu sulit, hanya lagu-lagu gubahan dari komposer-komposer abad ini yang sebagian besar genrenya adalah pop seperti Yiruma, Joe Hisaishi, dan beberapa komponis Indonesia seperti Erwin Gutawa dan Addie MS. Dan aku di wakilkan oleh sekolahku untuk mengikuti kompetisi itu, karena aku sering kali di tunjuk untuk memimpin kelompok paduan suara di sekolahku.

Sekolahkupun maju, terdapat berbagai macam kebutuhan siswanya disiapkan disana, dan khususnya untukku, mereka mempunyai sebuah grand piano Steinway & Sons berukuran sedang berdiri tegap di dalam ruang kesenian di sekolahku itu.

Tapi ketika saat kompetisi akan berlangsung, aku tak bisa berlatih menggunakannya karena ruangan itu selalu terkunci ketika aku akan kesana berlatih. Hingga akhirnya aku mengalami kebuntuan pada jalanku, namun aku tak langsung putus asa begitu. Ku coba untuk membuat pianoku sendiri dengan alat dan bahan sedanya yang bisa ku temukan. Ku kumpulkan kayu-kayu dan besi-besi bekas lalu ku rangkai menjadi seperti sebuah trapesium, lalu senarnya aku gunakan senar-senar gitar yang di jual di pasaran dan ku tuning manual menggunakan tang.

Sulit memang membutuhkan waktu berbulan-bulan mengerjakannya, aku berpikir apakah ini yang dirasakan Bartolomeus Christophori saat membuat piano pertama di dunia. Tapi hasilnya begitu memuaskan walaupun tak seperti suara dari Steinway ataupun Kawai, tentunya karena hasil kerja sendiri.

Akhirnya kompetisi dimulai, saat disana aku melihat banyak sekali pianis-pianis seumuranku mengikuti kompetisi itu. Indah sekali, permainan dari semua pianis sangat membuat nyaliku makin tak karuan. Hingga akhirnya akupun maju di hadapan sebuah Steinway & Sons, dan



mulai ku mainkan lagu dari Yiruma yang berjudul Kiss The Rain, aku memilihnya karena lagunya memang lebih kompleks dari lagu-lagu lainnya.

Setelah ketegangan berakhir, waktunya untuk penjurian dilakukan. Aku bersama dengan pianis-pianis lainnya duduk tegap dibaluti dengan jas hitam yang mengkilat, walaupun dalam lubuk hati kami terdalam merasa sangat gugup sekali.

Pada akhirnya juri mengumumkan 3 besar dari kejuaraan dan anehnya aku masuk kedalamnya dengan peringkat ke satu. Senang sekali rasanya, bahagia, bercampur menjadi satu perasaanku kala itu, tak kusangka aku akan menjadi nomor satu pada kompetisi ini. Tapi itu bukan menjadi target utamaku pada kompetisi ini melainkan belajar untuk menjadi lebih baik lagi sambil mendapatkan teman baru tentunya.

Setelah kompetisi selesai, salah satu juri mendekatkan dirinya padaku. Dia bertanya kepadaku bahwa apa yang bisa menjadikanku sesempurna itu. Tapi aku hanya menjawab seadanya saja, berlatih keras, berdoa, dan kehidupanku di desa serta pianoku sendiri.

Juri itu terkagum-kagum tidak percaya, tapi itu memang benar adanya aku tak mengada-ada sama sekali, hingga akhirnya juri itu menyerahkan sebuah amplop kepadaku yang isinya adalah sebuah surat resmi seperti dari penjualan produk. “Ini untukmu, agar kamu bisa menjadi lebih baik lagi. Jangan sia-siakan bakatmu anak muda” katanya tersenyum lalu berbalik arah. Ku baca kalimat demi kalimat dalam surat itu, dan ternyata juri itu menghadiahkanku sebuah piano digital merk Yamaha Arjus yang dibelinya untuk dihadiahkan kepada pemenang lomba, dia terlihat begitu puas. Akupun langsung menundukkan badanku kepadanya dari balik punggungnya”

***



Hari itu sedikit agak mendung, waktu menunjukkan pukul 14.30 masih tiga puluh menit lagi aku punya waktu sebelum les sekolah mulai.

Aku berada di ruangan itu, ruangan yang penuh dengan rupa, nada, dan irama. Ya, ruang kesenian. Salah satu ruangan favoritku di sekolah ini.

Sambil menunggu waktu les tiba, ku sempatkan diriku untuk duduk di hadapan sang Steinway sedang. Mulai sejak saat itu setelah aku memenangkan kejuaraan piano, kunci ruangan inipun diserahkan kepadaku dengan harapan agar aku bisa berlatih untuk mengikuti kejuaraan lagi.

Namun saat aku hendak menekan tuts pertama, terdengar suara ketukan pintu di sebelahku. Dan ternyata adalah seorang gadis yang tak ku kenal “Cari siapa” tanyaku sopan kepadanya “Tolong terima ini!” dia lantas dengan sigap membungkukkan badannya ke arahku sambil menyodorkan sebuah kotak kecil, sepertinya kotak makanan dan sebuah potongan koran.

Akupun ternganga bukan main, ini kali pertamanya orang lain memperlakukanku seperti ini. “Apa maksudnya” kataku kemudian namun gadis itu masih saja terdiam seolah-olah dia tak punya nafas lagi untuk bergerak.

Akhirnya kuambil kotak dan sepotong koran itu darinya, baru saja aku mengatakan terima kasih, gadis itu langsung berlari dengan kecepatan yang sangat tinggi seperti seorang flash superhero itu.



Bingung aku bukan main, entah apa yang terjadi. Tapi ya sudah, ku buka kotak itu dan memang benar isinya bukan hanya makanan, tetapi sebuah makan siang dengan nasi lengkap dengan lauk di atasnya. Lagi-lagi aku bertanya kepada diriku sendiri, “Apa gadis itu memberikanku makan siang? Sebelumnya tak pernah ada”

Lantas ku buka septong lipatan koran itu, dan apa yang ku lihat ternyata adalah diriku beberapa minggu lalu di kompetisi piano daerah itu dengan caption di bawahnya “Anak Ajaib”

“Sepertinya mereka melebih-lebihkan, aku tak seperti itu” kataku sendiri. Ketika ku balik potongan kertas itu ternyata ada tulisan lagi di baliknya. Namun seperti tulisan tangan, tulisan dari gadis itu



“Hai, Gufron.

Bagaimana kabarmu? Kuharap sehat selalu

Oh, mungkin kau belum mengenalku walaupun kita sudah bersama di SMA ini hampir dua tahun. Aku Desi kelas 11 IPA D, tau? Pasti tidak, ya karena kita tak pernah saling sapa, dan aku juga jarang keluar kelas.

Tapi cukup chit-chatnya, aku berani bertaruh bahwa kau pasti sedang kebingungan mengapa aku melakukan ini. Sederhana saja alasannya, itu karena aku mengagumimu. Bukan hanya sebagai seorang pianis yang luar biasa tapi karena sikapmu yang berbeda sekali dari orang lain.

Hanya itu saja,

Silahkan nikmati makanannya, aku yang buat sendiri :) “



Eh? Sontak aku terkejut bukan main setelah membacanya, “mengagumi” apa maksudnya ya? Aku tak mengerti, hingga pandanganku terhenti di atas gambar pada sepotong koran tadi dan samar-samar ku lihat ternyata gambar itu telah dicoret dan gambarku. Dalam ku perhatikan bahwa diriku di coret menggunakan spidol bertinta yang hampir habis dan model coretannya berbentuk hati

EEEEHH??!! Aneh sekali, tapi sekarang aku mengerti maknanya “mengagumi” sontak aku merasakan gejolak yang aneh, perutku tiba-tiba sakit sekali seperti ada yang mencengkramnya kuat tapi hanya aku sendiri di ruangan itu. Tubuhku mendadak panas, apa yang terjadi.

Saat aku masih ternganga disana tiba-tiba salah satu teman kelasku masuk, “Hei Gufron, apa yang sedang kau lakukan disini? Lima menit lagi kita masuk kelas, cepat habiskan makananmu dan berikan aku buku Matematikamu, tugas kemarin aku belum selesai” katanya sedikit berteriak. Tentu saja hal itu menyadarkanku dari lamunanku sedari tadi hingga aku normal kembali.

“Oke, kau ambil saja di tasku” kataku padanya.



Akupun memakan sedikit demi sedikit makanan yang diberikan Desi, akupun tersenyum sendiri “sedikit agak asin”

***



Tak terasa beberapa hari lagi Ujian Nasional pun tiba. Soal-soal eksak yang begitu rumit dikata orang banyak yang telah melakukannya terlebih dahulu ternyata tak begitu sulit dari perkataannya, mungkin saja karena efek lingkungan dan kesiapan tentunya.

Dan tiba saatnya perpisahan pada angkatan kami tahun ini. Bukan sesuatu yang patut ditunggu namun tetap saja ditunggu.

Bukan hanya soal Ujian Nasional dan perpisahan, namun tentunya juga soal masa depan apa yang akan kami tuju setelahnya. Dan aku, tentu saja sekolah musik saja. Bukan hanya jadi seorang pengajar bertalenta namun juga seniman yang berkharisma.

Tentang undangan masuk ke perguruan tinggi, seleksi nasional dan ujian mandiri sudah biasa terdengar dalam telingaku. Ujian ini, nilai itu, praktik ini praktik itu. Tak lagi ingin ku pikirkan yang terpenting adalah bagaimana aku akan melakukan perjalanan ke depannya. Dan Alhamdulillah, beruntungnya aku berkat doa dan usaha aku di terima di universitas ternama di Yogjakarta. Kotanya seni, pikirku.

Bersyukurnya aku tak berhenti ku curahkan pada Tuhanku, dan kedua orang tuaku terima kasihku ucapkan berkat doa kalian dan dukungan kalian aku akhirnya bisa melanjutkan pendidikanku di sana.

“Gufron, kau jaga diri baik-baik” kata Desi menyapaku sambil menatapku erat di sebuah tangga sekolah di belakang panggung utama pada hari perpisahan. Sudah lama kami mengenal sejak kejadian hari itu, tak kusangka aku juga akan mencintainya juga. Bukan karena dia hanya mengagumiku tentunya, tapi karena aku juga mengaguminya.

“Kau juga Desi, jaga dirimu baik-baik” kataku pelan terhadapnya. Dia ingin menangis namun tertahan. Jentik-jentik jernih perlahan membasahi pupil matanya. Hanya ini yang bisa ku katakan padanya, kataku, ragaku, bahkan musikku tak bisa menggapainya kala itu. Hanya jiwa yang menyatukan aku dan Desi.

Dia cinta pertamaku, dan kuharap bahwa dia juga merupakan yang terakhir bagiku.



Ya Allah

Jika jarak mampu memisahkan kami

Jangan mampukan waktu menggunakan kekuatannya menjauhkan kami



Ya Rabb

Jika dia yang pertama



Jadikanlah ia yang terakhir


Dan jika bukan, jagalah ia dengan segala hartanya

Mantapkanlah ia dalam jalannya

Hingga mimpi besarnya berlayar pada luasnya samudera

Ya Rahman

Ya Rahim

Hanya dengan kehendakmu kami bisa bersatu kembali



“Mungkin aku harus lebih dulu pergi ke Jawa, aku harus tes instrumen dahulu untuk lebih meyakinkan mereka” kataku kemudian lalu tersenyum “Ya, aku mengerti. Semoga berhasil” katanya kemudian lalu tersenyum juga.

Kami melewati satu hari penuh hari itu. Tak bisa ku bayangkan bahwa kesempatan seperti ini hanya datang sekali dalam hidup remajaku. Lagipula sesekali tak ada masalah bukan. Lagipula kisah ini bukan kisah Chopin yang tak pernah berhubungan dengan kekasihnya walaupun mereka saling mencintai, Beethoven yang tak pernah menikah, ataupun Mozart yang meninggal dalam usia muda.

Musik itu tak pernah mengutuk, melainkan memberikan cinta dan kasih sayang yang lembut kepada orang-orang yang memahaminya.

***



Sudah hampir 3 tahun aku menempuh pendidikan di sini. Kotanya seni. Benar kata orang, hampir disemua penjuru kota aku menemukan semua kalangan seniman mulai dari pro sampai yang jalanan. Begitu mengguggah selera.

Saatnya semester ini aku memikirkan tentang skripsi akhir sarjana ku. Tugas yang sangat memberatkan bagi beberapa kalangan mahasiswa. Salah sedikit, coret, salah banyak, robek. Dosen-dosen pembimbing yang begitu disiplin membimbing anak buahnya untuk menggapai mimpinya yang tergantung di langit sana.

Namun untungnya, aku dibimbing oleh seorang dosen yang sangat friendly sekali, ya walaupun sesaat bisa menjadi sangat killer.

Beliau membimbingku untuk membenahi semua yang kuperlukan dalam skripsi maupun proposal milikku untuk ku ajukan kepada dosen penguji nanti.

Akhirnya ujian skripsi pun dimulai, ketegangan terjadi dimana-mana bahkan beberapa diantaranya adalah dosen pembimbing itu sendiri. Dan sesuai dugaanku, apapun yang terjadi terjadilah. Tuhan telah mengatur semuanya, yang penting adalah telah berdoa dan berusaha.

Setelah aku di hujani dengan banyak sekali pertanyaan hanya untuk menguji skripsi terhadapku. Aku pun diluluskan oleh kumpulan kumis-kumis tebal yang duduk pada kursi panas itu. Aku dapat nilai cum laude, Alhamdulillah. Semuanya berkat doa dan usaha dari semua, dan orang tuaku, dan Desi yang aku harap dia disana baik-baik saja dengan ujiannya.


#

Saatnya wisuda dimulai, ruangan auditorium kampus penuh sesak dengan mahasiswa yang siap dipindahkan tali topi wisudanya dari kiri ke kanan. Dan juga tentunya yang paling sakral adalah foto-foto. Tentunya kenangan seperti ini tak akan pernah ingin dilewatkan oleh semua orang termasuk aku dan keluargaku.

Semuanya di sini, Ayah, Ibu, Kakak. Bersama-sama kami merayakan wisuda sarjanaku di Yogyakarta. Hanya Desi tak ada di sini mengucapkan selamat untukku, tidak secara langsung, kami hanya mengirim pesan balik dan memberi ucapan selamat.

Hingga akhirnya aku ingin meneruskan mimpiku lagi, aku tak pernah puas bermimpi jika tak bisa kuwujudkan. Oleh karena itu aku mengambil program Magister pendidikan seni musik di sini.

Terkejutnya aku bukan main, setelah aku mengajukan diri untuk ikut program pasca sarjana.

Terpaut undangan dengan tulisan namaku di atas kertasnya.

Bukan main, aku diundang untuk mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri, di Austria.

Negerinya Mozart.

Ucapan syukurku tak hentinya aku ucapkan, memang tak ada yang bisa menggambarkan syukur apa yang sesuai dengan keadaan saat ini. Sungguh aneh tapi nyata.

Akhirnya setelah mengikuti tes untuk mendapatkan beasiswa melanjutkan kuliah ke luar negeri, ternyata masih ada tes lainnya. Bukan tes, tapi sejenis pelatihan seperti itu. Hanya saja syaratnya untuk masuk ke Universitas musik di Austria, semua mahasiswanya harus bisa berbahasa Jerman.

Akhirnya luar negeri. Di Wina, Austria. Kota kelahiran musisi klasik ternama Wolfgang Amadeus Mozart. Dan sekarang Gufron berdiri di sini dengan kedua kakinya. Tegap memandang gedung-gedung berastiketur kental peradaban dari zaman klasik, bahkan Universitasnya juga. Di sini aku akan belajar bagaimana menjadi seorang musisi, dari seorang penggembala itik menjadi seorang musisi terkenal nantinya. Aamiin.

***



Hari itu cerah saat aku akan menghadiri sebuah konser musik, dan aku diundang untuk menjadi pianis yang bermain di sana waktu itu. Beruntung sekali.

Aroma debu yang begitu menyengat saat pertama kali membuka pintu aula tempat konser diadakan. Lantas sementara semua itu dibersihkan aku keluar sejenak untuk mencari udara segar baru untuk mengatasi kegugupanku untuk tampil dipanggung luar negeri.

Semerbak aroma bunga mawar tercium dari jarak seratus meter di depanku, dan pandanganku terhadap orang-orang yang sedang bercengkrama riang dengan anak-anak mereka dan sahabat-sahabat mereka di atas rumput yang hijau beralaskan kain seadanya.

Mengarahkan tatapanku ke arah partitur musik yang tak terlalu tebal yang kubawa. “Das denken an Desi” judulnya membuatku tersenyum-senyum sendiri. Kira-kira apa yang sedang dilakukan Desi saat ini? Apakah dia sedang memberikan sosialisasi kepada masyarakat



tentang pentingnya gizi untuk pertumbuhan bayi? Kuharap dia tak melupakanku, sudah hampir 5 tahun kami tak bertemu.

“Gufron, kommen in” kata seorang panitia terhadapku yang sedang melamun disana. Akupun mengangguk pelan kemudian masuk ke dalam aula besar itu.

Tak kusangka penontonnya akan sebanyak ini, sungguh tak terduga. Setelah memberikan hormat akupun duduk di depan sebuah Steinway & Sons ukuran orkestra. Kemudian mulai menekan tuts demi tuts memainkan laguku

“Das denken an Desi”

Lagu yang kuciptakan saat memikirkan seorang yang berharga dalam hidupku. Ketika memainkan lagu itu, tiba-tiba saja pandangan tentang sosok seorang Desi muncul di pikiranku. Tentang pribadinya, suka dukanya bercampur menjadi satu kala itu. Air mataku pun tak bisa ku bendung, mengalir deras membasahi tuts yang ku mainkan menjadikannya sedikit agak licin jika ku tekan.

Setelah selesai dengan konser itu, akupun memberi hormat kepada penonton yang masih bertepuk tangan sepertinya ikut terhanyut dalam lagu itu.

#

Sepertinya aku harus kembali ke Indonesia, sudah lama aku hilang tanpa jejak. Seperti kata pepatah, setinggi-tinggi katak melompat pasti akan jatuh ke tanah juga. Aku juga rindu keluargaku dan Desi, seperti apa dia sekarang.

Akhirnya aku kembali menginjakkan kakiku ke negara yang merinduiku teramat sangat.
Indonesia. Di sana aku telah berjanji dengan Desi untuk bersedia menjemputku di bandara.
Aku memang tak begitu berharap akan mengenalinya langsung saat pertama kali mendarat.

Jujur saja, aku hanya masih ingat wajahnya pada saat masih SMA.

Lama aku berjalan mengitari bandara itu tanpa tujuan, namun entah apa yang menggerakkan kakiku aku tak tau. Dia berjalan dengan sendirinya. Hingga berhentilah aku di depan taman sebuah masjid di bandara itu. Tepat sekali aku hendak akan sholat juga.

Tetapi, langkahku terhenti pada sebuah bayangan seorang wanita dari kejauhan. Dia berlari seperti hendak mengejar sesuatu, namun ke arahku. Dia berhenti di depanku, aku pun berhenti hendak melepas ranselku yang berat penuh buku dan pakaian.

Wanita itu seperti tidak asing sekali bagiku, sepertinya aku pernah melihatnya di suatu tempat, tapi dimana. Hingga akhirnya dia mulai mengatakan sesuatu padaku

“Hai Gufron” katanya pelan

Sontak saja aku terkejut bukan main, gejolak di perutku mulai terasa sama seperti saat pertama kali bertemu dengannya. Dia tidak berubah sedikitpun. Hanya saja dia telihat lebih dewasa dan berwibawa.

Aku pun melepas ranselku dan berdiri di depannya “Hai Desi” jawabku pelan

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tolonglah berkomentar dengan sopan, NO SPAM!, dan dengan bahasa yang santun pula. Karena komentar anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini ke depannya.