15 Januari 2017
Sebuah karangan biasa
Sebuah catatan buku harian
seorang anak desa
Yang berusaha menggapai
cita-citanya di langit
Tak peduli seberapa jauh
Gapai
“Hai, aku Gufron. Kata orang-orang aku adalah
seorang pianis muda yang berbakat, aku baru menginjakkan kakiku di kelas 11
Sekolah Menengah Atas di daerahku.
Tapi terlepas dari semua kata orang tentangku, aku
ya aku. Seorang bocah pedesaan yang melakukan pekerjaan menggiring itik-itik
milik bapakku yang harus ku seberangi melewati sungai untuk mendapatkan makanan
mereka di sawah kangkung di kompleks persawahan.
Namun aku juga memiliki cita-cita sebagai seorang
pianis, tidak, seorang musisi berbakat juga tentunya karena pengaruh
lingkunganku, ya walaupun sarana yang kupunya tidak begitu memadai karena aku
hanya orang pedesaan.
Aku juga suka hidup seperti ini, menggiringku untuk
selalu bersyukur atas apa yang kumiliki sekarang kepada Allah Yang Maha Kuasa.
Tak bisa kubayangkan kerasnya kehidupan kota sana, asap-asap kendaraan yang
tiap hari makin banyak, pabrik-pabrik yang tak peduli makna kebersihan, dan
tangan-tangan yang berdosa membuang begitu saja sampahnya di tengah jalan, tak
bisa kubayangkan sekalipun.
Berbeda denganku yang hidup di tengah keramahan
desa yang masih asri. Pohon-pohonnya rindang menyapa siapa saja yang duduk
bersandar di bawahnya, sungai-sungai berliku menjadi tempat ikan mujair
bercengkrama tiap harinya, bau-bau rerumputan hijau yang menusuk hidung dikala
hujan turun mengguyurnya. Aku bersyukur masih bisa mendapatkan karunia seperti
ini.
Pernah suatu saat, ketika aku mengikuti kejuaraan
piano tingkat daerah yang diadakan setiap tahun sekali di daerahku, yang
tujuannya untuk mencari bakat-bakat muda yang tumbuh di daerah ini,
lagu-lagunya pun bisa dikatakan tidak begitu sulit, hanya lagu-lagu gubahan
dari komposer-komposer abad ini yang sebagian besar genrenya adalah pop seperti
Yiruma, Joe Hisaishi, dan beberapa komponis Indonesia seperti Erwin Gutawa dan
Addie MS. Dan aku di wakilkan oleh sekolahku untuk mengikuti kompetisi itu,
karena aku sering kali di tunjuk untuk memimpin kelompok paduan suara di
sekolahku.
Sekolahkupun maju, terdapat berbagai macam
kebutuhan siswanya disiapkan disana, dan khususnya untukku, mereka mempunyai
sebuah grand piano Steinway & Sons berukuran sedang berdiri tegap di dalam
ruang kesenian di sekolahku itu.
Tapi ketika saat kompetisi akan berlangsung, aku
tak bisa berlatih menggunakannya karena ruangan itu selalu terkunci ketika aku
akan kesana berlatih. Hingga akhirnya aku mengalami kebuntuan pada jalanku,
namun aku tak langsung putus asa begitu. Ku coba untuk membuat pianoku sendiri
dengan alat dan bahan sedanya yang bisa ku temukan. Ku kumpulkan kayu-kayu dan
besi-besi bekas lalu ku rangkai menjadi seperti sebuah trapesium, lalu senarnya
aku gunakan senar-senar gitar yang di jual di pasaran dan ku tuning manual
menggunakan tang.
Sulit memang membutuhkan waktu berbulan-bulan
mengerjakannya, aku berpikir apakah ini yang dirasakan Bartolomeus Christophori
saat membuat piano pertama di dunia. Tapi hasilnya begitu memuaskan walaupun
tak seperti suara dari Steinway ataupun Kawai, tentunya karena hasil kerja
sendiri.
Akhirnya kompetisi dimulai, saat disana aku melihat
banyak sekali pianis-pianis seumuranku mengikuti kompetisi itu. Indah sekali,
permainan dari semua pianis sangat membuat nyaliku makin tak karuan. Hingga
akhirnya akupun maju di hadapan sebuah Steinway & Sons, dan
mulai ku mainkan lagu dari Yiruma yang berjudul
Kiss The Rain, aku memilihnya karena lagunya memang lebih kompleks dari
lagu-lagu lainnya.
Setelah ketegangan berakhir, waktunya untuk
penjurian dilakukan. Aku bersama dengan pianis-pianis lainnya duduk tegap
dibaluti dengan jas hitam yang mengkilat, walaupun dalam lubuk hati kami
terdalam merasa sangat gugup sekali.
Pada akhirnya juri mengumumkan 3 besar dari
kejuaraan dan anehnya aku masuk kedalamnya dengan peringkat ke satu. Senang
sekali rasanya, bahagia, bercampur menjadi satu perasaanku kala itu, tak
kusangka aku akan menjadi nomor satu pada kompetisi ini. Tapi itu bukan menjadi
target utamaku pada kompetisi ini melainkan belajar untuk menjadi lebih baik
lagi sambil mendapatkan teman baru tentunya.
Setelah kompetisi selesai, salah satu juri mendekatkan
dirinya padaku. Dia bertanya kepadaku bahwa apa yang bisa menjadikanku
sesempurna itu. Tapi aku hanya menjawab seadanya saja, berlatih keras, berdoa,
dan kehidupanku di desa serta pianoku sendiri.
Juri itu terkagum-kagum tidak percaya, tapi itu memang
benar adanya aku tak mengada-ada sama sekali, hingga akhirnya juri itu
menyerahkan sebuah amplop kepadaku yang isinya adalah sebuah surat resmi
seperti dari penjualan produk. “Ini untukmu, agar kamu bisa menjadi lebih baik
lagi. Jangan sia-siakan bakatmu anak muda” katanya tersenyum lalu berbalik
arah. Ku baca kalimat demi kalimat dalam surat itu, dan ternyata juri itu
menghadiahkanku sebuah piano digital merk Yamaha Arjus yang dibelinya untuk
dihadiahkan kepada pemenang lomba, dia terlihat begitu puas. Akupun langsung
menundukkan badanku kepadanya dari balik punggungnya”
***
Hari itu sedikit agak mendung, waktu menunjukkan
pukul 14.30 masih tiga puluh menit lagi aku punya waktu sebelum les sekolah
mulai.
Aku berada di ruangan itu, ruangan yang penuh
dengan rupa, nada, dan irama. Ya, ruang kesenian. Salah satu ruangan favoritku
di sekolah ini.
Sambil menunggu waktu les tiba, ku sempatkan diriku
untuk duduk di hadapan sang Steinway sedang. Mulai sejak saat itu setelah aku
memenangkan kejuaraan piano, kunci ruangan inipun diserahkan kepadaku dengan
harapan agar aku bisa berlatih untuk mengikuti kejuaraan lagi.
Namun saat aku hendak menekan tuts pertama,
terdengar suara ketukan pintu di sebelahku. Dan ternyata adalah seorang gadis
yang tak ku kenal “Cari siapa” tanyaku sopan kepadanya “Tolong terima ini!” dia
lantas dengan sigap membungkukkan badannya ke arahku sambil menyodorkan sebuah
kotak kecil, sepertinya kotak makanan dan sebuah potongan koran.
Akupun ternganga bukan main, ini kali pertamanya orang
lain memperlakukanku seperti ini. “Apa maksudnya” kataku kemudian namun gadis
itu masih saja terdiam seolah-olah dia tak punya nafas lagi untuk bergerak.
Akhirnya kuambil kotak dan sepotong koran itu
darinya, baru saja aku mengatakan terima kasih, gadis itu langsung berlari
dengan kecepatan yang sangat tinggi seperti seorang flash superhero itu.
Bingung aku bukan main, entah apa yang terjadi.
Tapi ya sudah, ku buka kotak itu dan memang benar isinya bukan hanya makanan,
tetapi sebuah makan siang dengan nasi lengkap dengan lauk di atasnya. Lagi-lagi
aku bertanya kepada diriku sendiri, “Apa gadis itu memberikanku makan siang?
Sebelumnya tak pernah ada”
Lantas ku buka septong lipatan koran itu, dan apa
yang ku lihat ternyata adalah diriku beberapa minggu lalu di kompetisi piano
daerah itu dengan caption di bawahnya “Anak Ajaib”
“Sepertinya mereka melebih-lebihkan, aku tak
seperti itu” kataku sendiri. Ketika ku balik potongan kertas itu ternyata ada
tulisan lagi di baliknya. Namun seperti tulisan tangan, tulisan dari gadis itu
“Hai, Gufron.
Bagaimana kabarmu? Kuharap sehat selalu
Oh,
mungkin kau belum mengenalku walaupun kita sudah bersama di SMA ini hampir dua
tahun. Aku Desi kelas 11 IPA D, tau? Pasti tidak, ya karena kita tak pernah
saling sapa, dan aku juga jarang keluar kelas.
Tapi
cukup chit-chatnya, aku berani bertaruh bahwa kau pasti sedang kebingungan
mengapa aku melakukan ini. Sederhana saja alasannya, itu karena aku
mengagumimu. Bukan hanya sebagai seorang pianis yang luar biasa tapi karena
sikapmu yang berbeda sekali dari orang lain.
Hanya itu saja,
Silahkan nikmati makanannya, aku yang buat sendiri :) “
Eh? Sontak aku terkejut bukan main setelah
membacanya, “mengagumi” apa maksudnya ya? Aku tak mengerti, hingga pandanganku
terhenti di atas gambar pada sepotong koran tadi dan samar-samar ku lihat
ternyata gambar itu telah dicoret dan gambarku. Dalam ku perhatikan bahwa
diriku di coret menggunakan spidol bertinta yang hampir habis dan model
coretannya berbentuk hati
EEEEHH??!! Aneh sekali, tapi sekarang aku mengerti
maknanya “mengagumi” sontak aku merasakan gejolak yang aneh, perutku tiba-tiba
sakit sekali seperti ada yang mencengkramnya kuat tapi hanya aku sendiri di
ruangan itu. Tubuhku mendadak panas, apa yang terjadi.
Saat aku masih ternganga disana tiba-tiba salah
satu teman kelasku masuk, “Hei Gufron, apa yang sedang kau lakukan disini? Lima
menit lagi kita masuk kelas, cepat habiskan makananmu dan berikan aku buku
Matematikamu, tugas kemarin aku belum selesai” katanya sedikit berteriak. Tentu
saja hal itu menyadarkanku dari lamunanku sedari tadi hingga aku normal
kembali.
“Oke, kau ambil saja di tasku”
kataku padanya.
Akupun memakan sedikit demi sedikit makanan yang
diberikan Desi, akupun tersenyum sendiri “sedikit agak asin”
***
Tak terasa beberapa hari lagi Ujian Nasional pun
tiba. Soal-soal eksak yang begitu rumit dikata orang banyak yang telah
melakukannya terlebih dahulu ternyata tak begitu sulit dari perkataannya,
mungkin saja karena efek lingkungan dan kesiapan tentunya.
Dan tiba saatnya perpisahan pada angkatan kami
tahun ini. Bukan sesuatu yang patut ditunggu namun tetap saja ditunggu.
Bukan hanya soal Ujian Nasional dan perpisahan,
namun tentunya juga soal masa depan apa yang akan kami tuju setelahnya. Dan
aku, tentu saja sekolah musik saja. Bukan hanya jadi seorang pengajar
bertalenta namun juga seniman yang berkharisma.
Tentang undangan masuk ke perguruan tinggi, seleksi
nasional dan ujian mandiri sudah biasa terdengar dalam telingaku. Ujian ini,
nilai itu, praktik ini praktik itu. Tak lagi ingin ku pikirkan yang terpenting
adalah bagaimana aku akan melakukan perjalanan ke depannya. Dan Alhamdulillah,
beruntungnya aku berkat doa dan usaha aku di terima di universitas ternama di
Yogjakarta. Kotanya seni, pikirku.
Bersyukurnya aku tak berhenti ku curahkan pada
Tuhanku, dan kedua orang tuaku terima kasihku ucapkan berkat doa kalian dan
dukungan kalian aku akhirnya bisa melanjutkan pendidikanku di sana.
“Gufron, kau jaga diri baik-baik” kata Desi
menyapaku sambil menatapku erat di sebuah tangga sekolah di belakang panggung
utama pada hari perpisahan. Sudah lama kami mengenal sejak kejadian hari itu,
tak kusangka aku juga akan mencintainya juga. Bukan karena dia hanya
mengagumiku tentunya, tapi karena aku juga mengaguminya.
“Kau juga Desi, jaga dirimu baik-baik” kataku pelan
terhadapnya. Dia ingin menangis namun tertahan. Jentik-jentik jernih perlahan
membasahi pupil matanya. Hanya ini yang bisa ku katakan padanya, kataku,
ragaku, bahkan musikku tak bisa menggapainya kala itu. Hanya jiwa yang
menyatukan aku dan Desi.
Dia cinta pertamaku, dan kuharap
bahwa dia juga merupakan yang terakhir bagiku.
Ya Allah
Jika jarak mampu memisahkan kami
Jangan mampukan waktu menggunakan kekuatannya menjauhkan kami
Ya Rabb
Jika dia yang pertama
Jadikanlah ia yang terakhir
Mantapkanlah ia dalam jalannya
Hingga mimpi besarnya berlayar pada luasnya samudera
Ya Rahman
Ya Rahim
Hanya dengan kehendakmu kami bisa bersatu kembali
“Mungkin aku harus lebih dulu pergi ke Jawa, aku
harus tes instrumen dahulu untuk lebih meyakinkan mereka” kataku kemudian lalu
tersenyum “Ya, aku mengerti. Semoga berhasil” katanya kemudian lalu tersenyum
juga.
Kami melewati satu hari penuh hari itu. Tak bisa ku
bayangkan bahwa kesempatan seperti ini hanya datang sekali dalam hidup
remajaku. Lagipula sesekali tak ada masalah bukan. Lagipula kisah ini bukan
kisah Chopin yang tak pernah berhubungan dengan kekasihnya walaupun mereka
saling mencintai, Beethoven yang tak pernah menikah, ataupun Mozart yang
meninggal dalam usia muda.
Musik itu tak pernah mengutuk, melainkan memberikan
cinta dan kasih sayang yang lembut kepada orang-orang yang memahaminya.
***
Sudah hampir 3 tahun aku menempuh pendidikan di
sini. Kotanya seni. Benar kata orang, hampir disemua penjuru kota aku menemukan
semua kalangan seniman mulai dari pro sampai yang jalanan. Begitu mengguggah
selera.
Saatnya semester ini aku memikirkan tentang skripsi
akhir sarjana ku. Tugas yang sangat memberatkan bagi beberapa kalangan
mahasiswa. Salah sedikit, coret, salah banyak, robek. Dosen-dosen pembimbing
yang begitu disiplin membimbing anak buahnya untuk menggapai mimpinya yang
tergantung di langit sana.
Namun untungnya, aku dibimbing oleh seorang dosen
yang sangat friendly sekali, ya walaupun sesaat bisa menjadi sangat killer.
Beliau membimbingku untuk membenahi semua yang
kuperlukan dalam skripsi maupun proposal milikku untuk ku ajukan kepada dosen
penguji nanti.
Akhirnya ujian skripsi pun dimulai, ketegangan
terjadi dimana-mana bahkan beberapa diantaranya adalah dosen pembimbing itu
sendiri. Dan sesuai dugaanku, apapun yang terjadi terjadilah. Tuhan telah
mengatur semuanya, yang penting adalah telah berdoa dan berusaha.
Setelah aku di hujani dengan banyak sekali
pertanyaan hanya untuk menguji skripsi terhadapku. Aku pun diluluskan oleh
kumpulan kumis-kumis tebal yang duduk pada kursi panas itu. Aku dapat nilai cum
laude, Alhamdulillah. Semuanya berkat doa dan usaha dari semua, dan orang tuaku,
dan Desi yang aku harap dia disana baik-baik saja dengan ujiannya.
Saatnya wisuda dimulai, ruangan auditorium kampus
penuh sesak dengan mahasiswa yang siap dipindahkan tali topi wisudanya dari
kiri ke kanan. Dan juga tentunya yang paling sakral adalah foto-foto. Tentunya
kenangan seperti ini tak akan pernah ingin dilewatkan oleh semua orang termasuk
aku dan keluargaku.
Semuanya di sini, Ayah, Ibu, Kakak. Bersama-sama
kami merayakan wisuda sarjanaku di Yogyakarta. Hanya Desi tak ada di sini
mengucapkan selamat untukku, tidak secara langsung, kami hanya mengirim pesan
balik dan memberi ucapan selamat.
Hingga akhirnya aku ingin meneruskan mimpiku lagi,
aku tak pernah puas bermimpi jika tak bisa kuwujudkan. Oleh karena itu aku
mengambil program Magister pendidikan seni musik di sini.
Terkejutnya aku bukan main,
setelah aku mengajukan diri untuk ikut program pasca sarjana.
Terpaut undangan dengan tulisan
namaku di atas kertasnya.
Bukan main, aku diundang untuk
mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri, di Austria.
Negerinya Mozart.
Ucapan syukurku tak hentinya aku ucapkan, memang
tak ada yang bisa menggambarkan syukur apa yang sesuai dengan keadaan saat ini.
Sungguh aneh tapi nyata.
Akhirnya setelah mengikuti tes untuk mendapatkan
beasiswa melanjutkan kuliah ke luar negeri, ternyata masih ada tes lainnya.
Bukan tes, tapi sejenis pelatihan seperti itu. Hanya saja syaratnya untuk masuk
ke Universitas musik di Austria, semua mahasiswanya harus bisa berbahasa
Jerman.
Akhirnya luar negeri. Di Wina, Austria. Kota
kelahiran musisi klasik ternama Wolfgang Amadeus Mozart. Dan sekarang Gufron
berdiri di sini dengan kedua kakinya. Tegap memandang gedung-gedung
berastiketur kental peradaban dari zaman klasik, bahkan Universitasnya juga. Di
sini aku akan belajar bagaimana menjadi seorang musisi, dari seorang
penggembala itik menjadi seorang musisi terkenal nantinya. Aamiin.
***
Hari itu cerah saat aku akan menghadiri sebuah
konser musik, dan aku diundang untuk menjadi pianis yang bermain di sana waktu
itu. Beruntung sekali.
Aroma debu yang begitu menyengat saat pertama kali
membuka pintu aula tempat konser diadakan. Lantas sementara semua itu
dibersihkan aku keluar sejenak untuk mencari udara segar baru untuk mengatasi
kegugupanku untuk tampil dipanggung luar negeri.
Semerbak aroma bunga mawar tercium dari jarak
seratus meter di depanku, dan pandanganku terhadap orang-orang yang sedang
bercengkrama riang dengan anak-anak mereka dan sahabat-sahabat mereka di atas
rumput yang hijau beralaskan kain seadanya.
Mengarahkan tatapanku ke arah partitur musik yang
tak terlalu tebal yang kubawa. “Das denken an Desi” judulnya membuatku
tersenyum-senyum sendiri. Kira-kira apa yang sedang dilakukan Desi saat ini?
Apakah dia sedang memberikan sosialisasi kepada masyarakat
tentang pentingnya gizi untuk pertumbuhan bayi?
Kuharap dia tak melupakanku, sudah hampir 5 tahun kami tak bertemu.
“Gufron, kommen in” kata seorang panitia terhadapku
yang sedang melamun disana. Akupun mengangguk pelan kemudian masuk ke dalam
aula besar itu.
Tak kusangka penontonnya akan sebanyak ini, sungguh
tak terduga. Setelah memberikan hormat akupun duduk di depan sebuah Steinway
& Sons ukuran orkestra. Kemudian mulai menekan tuts demi tuts memainkan
laguku
“Das denken an Desi”
Lagu yang kuciptakan saat memikirkan seorang yang
berharga dalam hidupku. Ketika memainkan lagu itu, tiba-tiba saja pandangan
tentang sosok seorang Desi muncul di pikiranku. Tentang pribadinya, suka
dukanya bercampur menjadi satu kala itu. Air mataku pun tak bisa ku bendung,
mengalir deras membasahi tuts yang ku mainkan menjadikannya sedikit agak licin
jika ku tekan.
Setelah selesai dengan konser itu, akupun memberi
hormat kepada penonton yang masih bertepuk tangan sepertinya ikut terhanyut
dalam lagu itu.
#
Sepertinya aku harus kembali ke Indonesia, sudah
lama aku hilang tanpa jejak. Seperti kata pepatah, setinggi-tinggi katak
melompat pasti akan jatuh ke tanah juga. Aku juga rindu keluargaku dan Desi,
seperti apa dia sekarang.
Akhirnya aku kembali menginjakkan
kakiku ke negara yang merinduiku teramat sangat.
Indonesia. Di sana aku telah
berjanji dengan Desi untuk bersedia menjemputku di bandara.
Aku memang tak begitu berharap
akan mengenalinya langsung saat pertama kali mendarat.
Jujur saja, aku hanya masih ingat
wajahnya pada saat masih SMA.
Lama aku berjalan mengitari bandara itu tanpa
tujuan, namun entah apa yang menggerakkan kakiku aku tak tau. Dia berjalan
dengan sendirinya. Hingga berhentilah aku di depan taman sebuah masjid di
bandara itu. Tepat sekali aku hendak akan sholat juga.
Tetapi, langkahku terhenti pada sebuah bayangan
seorang wanita dari kejauhan. Dia berlari seperti hendak mengejar sesuatu,
namun ke arahku. Dia berhenti di depanku, aku pun berhenti hendak melepas
ranselku yang berat penuh buku dan pakaian.
Wanita itu seperti tidak asing sekali bagiku,
sepertinya aku pernah melihatnya di suatu tempat, tapi dimana. Hingga akhirnya
dia mulai mengatakan sesuatu padaku
“Hai Gufron” katanya pelan
Sontak saja aku terkejut bukan main, gejolak di
perutku mulai terasa sama seperti saat pertama kali bertemu dengannya. Dia
tidak berubah sedikitpun. Hanya saja dia telihat lebih dewasa dan berwibawa.
Aku pun melepas ranselku dan berdiri di depannya “Hai Desi” jawabku
pelan
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tolonglah berkomentar dengan sopan, NO SPAM!, dan dengan bahasa yang santun pula. Karena komentar anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini ke depannya.