Dering bel berbunyi seiring dengan
langkah-langkah kaki siswa yang berderap beraturan seperti halnya sebuah
pasukan pengibar bendera yang dengan sigap akan menjaga tanggung jawabnya untuk
memastikan bendera itu sampai pada puncaknya. Dan sekarang mereka telah selesai
mengemban tugasnya, bendera itu telah sampai pada puncak tiang yang tertinggi
di masa ini, besok upacara perpisahan sekolah mungkin akan berlangsung dari
pagi hingga siang hari, hari ini hanyalah persiapan para siswa untuk bersikap
pada hari-H besok.
Begitu acara pelatihan selesai,
langkahku kemudian terhuyung-huyung menjejaki lantai yang penuh debu dari
sepatu-sepatu yang usang terpakai selama tiga tahun belakangan ini, mencari
sosok wajah yang ingin ku temui sebelum kami benar-benar akan terpisah dengan
sebuah materi yang mereka sebut dengan jarak.
Mentari siang masih melambai-lambai
memancarkan panasnya dengan lembut dan terkadang begitu keras, saat itu sedang
berlangsung kegiatan sholat dzuhur berjamaah pada musholla sekolah yang tak
begitu besar namun bisa menampung begitu banyak siswa yang menempuh pendidikan
disana. Aku, bukannya meninggalkan kewajibanku sebagai seorang muslim, tetapi
karena memang kondisiku yang kebetulan sedang tidak memungkinkan untuk
melaksanakan kewajiban itu, jadi aku hanya menunggu sosok yang kuharap akan
menghampiriku ditempatku duduk sekarang ini, karena kami sudah membicarakannya
malam hari kemarin.
Memikirkan tentang hari perpisahan yang
memang akan terjadi dengan sangat nyata, membuat batinku seolah-olah meredupkan
api semangatnya. Walaupun pada mestinya semua siswa telah dibekali untuk
menghadapi hari-hari seperti ini, bahkan lebih menguras mental dari ujian
nasional yang baru saja berlangsung beberapa minggu kemarin. Tetapi, aku
khususnya bukanlah seorang siswa yang begitu menampakkan diri di sekolah, akan
tetapi aku sudah mengukir begitu banyak kenangan di tempat ini, bersama
kawan-kawanku, sahabatku, dan dia.
Tak berlangsung lama, pikiranku terpecah
oleh sebuah panggilan yang begitu mendadak dari belakangku
“Hai, Diana. Ingin ikut makan siang?”
sapa sebuah suara itu dengan pelan namun sedikit menggangguku karena kondisiku
sekarang ini
“Oh, Dinda. Hai” jawabku padanya dengan
sunggingan senyum kecil di wajahku
“Kau tidak sholat?” Dinda bertanya
singkat
“Ah, ya. Penyakit bulanan” jawabku
sambil terkekeh kecil kemudian membuat Dinda mengangguk pelan
Dinda adalah seorang gadis yang tidak
lebih tua dariku, semenjak pertama kali bertemu kami menjadi sangat akrab
bahkan hari demi hari, membuatku merasa nyaman berada didekatnya, bahkan
beberapa rahasia dari diri sendiri pun kami mengetahuinya, termasuk tentang
seorang lelaki yang menjadi pokok masalah semua remaja begitu menginjak
usia-usia kritis seperti sekarang ini.
“Jadi mau ikut makan?” dia bertanya
kedua kalinya
Aku hanya bergumam sambil mengalihkan
pandanganku dari burung-burung yang terbang di balik kepalanya menuju
sekelompok keramaian yang telah selesai menunaikan sholatnya.
“Oooh, aku mengerti” tegasnya kemudian
sambil tersenyum lebar sekali hingga aku bisa melihat bagian dalam gusinya
bersinar terkena sambaran sinar matahari
Setelah kalimat terakhir dari Dinda,
terdapat bagian sunyi diantara kami berdua yang bunyinya hanya terisi oleh
alunan merdu dari angin semilir yang melintasi kami berdua, namun kemudian
kesunyian itu terpecah menjadi sesuatu hal yang amat teramat ganjil ketika aku
mendengar perutku berteriak dengan keras sekali, bahkan Dinda melototkan mata
sambil mendengarkan teriakan itu. Kamipun kemudian tertawa lepas, menertawakan
momen itu tak memperhatikan reaksi dari siswi lain yang berjalan melewati kami.
“Jangan paksakan dirimu, sebentar
setelah kita makan siang kau bisa kesini lagi” saran Dinda kemudian
“Hmm, baiklah” jawabku
“Oh, sebaiknya kau beritau dia bahwa kau
akan makan siang sebentar”
“Tidak perlu, aku tidak akan lama.
Lagipula dia juga perlu waktu untuk mengikatkan tali sepatunya” jawabku yang
kuharap dapat dimengerti oleh Dinda
“Eeeh, seperti yang diharapkan dari
murid kebanggaan Ibu Wanti. Kenapa kau menolak mengikuti lomba menulis sastra
dari dulu?” katanya sambil mengambil langkah menuju kantin
“Tidak, dan tidak” jawabku tanpa alasan
“Kau menyianyiakan kemampuanmu, Putri
Diana” katanya dengan nada yang mengejek
“Karena jika aku mengikuti lomba-lomba
seperti itu, maka aku akan punya sedikit waktu untuk bertemu denganmu” jawabku
sambil tertawa
“Waktu untuk bertemu denganku atau
dengannya?” Dinda kembali membalasku dengan kalimatnya yang sukses membuat
wajahku terasa panas, dan perutku mulai terasa aneh
Kami berduapun hanya tertawa kecil dalam
perjalanan menuju kantin sekolah yang berada di belakang bangunan kelas yang
terjejer rapi bagaikan barisan yang tengah mengikuti upacara bak tentara dengan
begitu disiplinnya.
Rumput-rumpu lapangan hijau itu aku
lihat menjadi lebih indah saat mereka meliuk-liukkan badannya mengikuti ucapan
angin yang membimbing mereka, daunnya menjadi lebih terang terkena pantulan
dari sinar matahari siang yang saat itu sedang bersemangatnya menyinari seisi
bumi.
Begitu aku dan Dinda sampai pada ruangan
kantin yang terasa sedikit renggang daripada biasanya karena waktu ini tengah
memasuki jam belajar bagi kelas 10 dan 11, sedangkan kami kelas 12 hanya
tinggal menikmati waktu-waktu yang mereka sebut dengan waktu bebas. Perutku
yang semula merengek minta diisikan dengan sesuatu, sekarang aku rasa mulai
berhenti dan tidak lagi meminta bantuanku untuk mengobati rasa laparnya, akan
tetapi pada sebuah meja makan kantin aku melihat sekelompok kecil orang yang melambaikan
tangan sambil memanggil namaku dan Dinda.
“Jadi kemana kau akan melanjutkan kuliah
setelah ini, Diana?” tanya salah seorang temanku dari sebuah bangku di depanku
“Aku—sebenarnya sedikit bingung, tapi
memperdalam ilmu psikologi sepertinya menyenangkan” jawabku singkat sambil
menjaga nada bicaraku agar terdengar biasa dan mengarahkan pandanganku pada
sebuah gelas ukuran besar yang didalamnya terdapat beberapa pecahan es batu
yang mulai mencair dengan perlahan
“Aku kira sastra” tanggap seorang lagi
disebelahnya
“Ah, sastra hanyalah kegiatan luang
saja” kataku sambil terkekeh
“Jadi, apa kau sudah siap untuk berpisah
dengan teman-temanmu? Dengan Faiz?”
Setelah Ia selesai dengan kalimatnya,
aku merasakan sensasi aneh pada kepalaku terasa seperti sebuah ular yang
melilitnya dengan kasar. Terdapat diam beberapa saat setelah kalimat terakhir
itu yang kemudian diikuti dengan kata-kata godaan dari beberapa temanku yang
juga ikut mendengar.
Tersadar aku baru ingat akan sesuatu,
bahwa aku harus bertemu dengan lelaki itu hari ini. Dan tak kusangka telah
lebih dari satu jam dari waktu yang telah kami janjikan. Aku kemudian meneguk
habis jus jeruk yang mulai memanas seiring waktu berjalan kemudian tergesa-gesa
pergi dari tempat itu dengan alasan bahwa aku harus segera pulang karena ada
kegiatan yang belum terselesaikan di rumahku.
“Hati-hati, Diana!” teriak Dinda dari
kejauhan yang hanya kubalas dengan lambaian tangan dan senyuman
Aku tau dan sepenuhnya mengerti bahwa
kalimat-kalimat yang teman-temanku bicarakan hanya merupakan sebuah candaan
semata untuk menggodaku dan membuat suasana tidak terasa monoton, tetapi aku
sampai lupa waktu dan melupakan janjiku dengan Faiz.
“Ku
harap kau masih disana” batinku, akan tetapi mungkinkah karena ini sudah
satu jam lebih lamanya aku membuatnya menunggu
Perjalanan dari kantin menuju tempat
pertemuan terasa sangat panjang jaraknya, rerumputan yang semulanya berwajah
cerah seakan muram dan jengkel terhadapku dan kurasa mereka menahan langkah
kakiku untuk tidak lagi melanjutkan perjalanan karena mungkin saja Faiz sudah
pulang atau pergi makan siang di tempat lain.
Begitu sampai di koridor sekolah, dari
kejauhan aku bisa melihat tempat ku duduk menunggunya selesai sholat dzuhur
tadi, namun yang duduk bukanlah laki-laki itu namun sekelompok siswa kelas 11
yang sedang berdiskusi tentang sebuah tugas yang diberikan oleh guru mereka
disana. Aku pun merasa tambah was-was, merasa bersalah karena sudah lupa waktu
dengan teman-temanku. Aku pun melihat-lihat sekeliling mencari tanda-tanda
darinya, namun sia-sia, aku tak menemukan Faiz dimanapun.
“Bagaimana
bisa aku sebodoh ini!” batinku bercampur dengan perasaan jengkel yang
teramat sangat memenuhi pikiranku, membuatku ingin mencabik siapa saja,
termasuk beberapa guru yang lewat didepanku, namun aku masih bisa menahan diri
sambil tersenyum palsu pada mereka.
Pepohonan itu kembali melambai terkena
terpaan angin yang halus namun dan berhembus dengan cepat, sisa-sisanya
kemudian berakhir tepat pada wajahku membuatku sedikit memejamkan mata sambil
menahan jilbabku agar tidak melambai-lambai mengikuti arah angin. Begitu aku
berjalan dan hendak meninggalkan sekolah, ponsel ku berdering menandakan sebuah
pesan baru saja masuk melewati kabel-kabel yang tak kasat mata yang
menghubungkan satu ponsel dengan ponsel lainnya. Pikiranku kembali penuh harap,
agar pesan itu adalah dari Faiz yang mungkin melihatku dari kejauhan dan malu
untuk berteriak memanggilku.
Dan benar saja, itu dari Faiz. Namun dia
tidak sedang berada disini, isi pesannya hanya berupa permintaan maaf karena
tidak bisa bertemu denganku hari ini karena ada urusan mendadak yang baru saja
terjadi seperti seekor piaraan miliknya sedang sakit. Aku hanya bisa
menghembuskan nafas membaca pesan singkat itu dengan sebuah emoticon tersenyum manis di akhir
kalimatnya yang entah itu adalah nafas kelegaan ataukah nafas kekecewaan, aku
kemudian melanjutkan perjalananku menuju rumah karena sudah terlanjur aku
meninggalkan teman-temanku di ruangan kantin.
***
Dering ponselku berbunyi dengan lembut
diatas tempat tidurku yang akhirnya ku ketahui letaknya tersembunyi dibawah
selimutku, sementara aku masih duduk di depan laptopku sambil menulis sebuah
cerita pendek.
Aku mengambil ponsel yang tertindih
selimut itu dan menyelamatkannya dari kegelapan. Begitu aku periksa sebuah
pesan masuk darinya, jantungku mulai meningkatkan intensitas detakannya
perdetik menjadi lebih cepat saat membaca sebuah nama yang tak begitu asing
lagi dimataku, dan pesan singkat yang hanya bertuliskan namaku disana.
“Tumben
dia memulai sebuah percakapan lebih dulu, ah dia pasti sedang rindu” batinku
memikirkan sesuatu yang membuatku kemudian tersenyum lebar sekali dibalik kaca
jendela yang beberapa kali terdengar berderik karena terpaan angin.
Akhirnya setelah beberapa percakapan
kecil lewat pesan teks, aku berniat untuk menghubunginya secara langsung agar
aku bisa mendengar suaranya tentu saja. Simbol telepon berwarna hijau yang ada
pada layar ponselku ku tekan dengan perlahan, kemudian jantungku kembali
meningkatkan degupannya lagi ketika sebuah suara yang khas dari ponsel
seseorang ketika sedang melakukan panggilang keluar dan menunggu orang yang
dipanggilnya menekan simbol yang sama pada ponsel mereka.
Setelah beberapa saat, suara sambungan
telepon itupun berhenti tergantikan dengan suara aneh seperti sebuah bisikan
dari angin-angin yang melintas melalui genggaman tangan orang yang berada
dibalik ponsel itu.
“Assalamualaikum” kataku mencoba memulai
pembicaraan
“Waalaikumussalam warahmatullahi
wabarakatuh” jawabnya yang berada entah dimana sekarang. Suara itu khas sekali,
aku bisa mengenalinya walaupun dia hanya mengucapkan satu huruf saja yang bisa
kudengar, membuat detak jantungku meningkat lagi bahkan berimbas pada suasana
perutku yang mulai menggerutu “Ingin membicarakan apa?” dia bertanya dibalik
ponselnya
“Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin
mendengar suaramu itu saja” kataku pelan sambil tersenyum kecil, dia hanya
bergumam kecil dan kupastikan dia juga seperti itu “Diana?” panggilku pada nama
yang sudah terus terngiang dalam kepalaku selama tiga tahun terakhir ini
“Iya?” jawabnya singkat
“Aku ingin menanyakan sesuatu”
“Tanyakan saja”
Aku menarik nafas yang lumayan panjang
sebelum memberanikan diri untuk mengatakan kalimat selanjutnya.
“Sebenarnya bukan suatu hal yang
penting” kataku lagi mencoba menghindar, atau mencoba untuk memancing dirinya
untuk memaksaku bertanya
“Tak penting bagimu, tetapi penting
bagiku. Sudah tanyakan saja” katanya lembut
“Kau ingin mengirimku ke rumah sakit
jiwa, Diana?” kataku dengan nada yang mengejek namun tetap pada porsi untuk
mencairkan keadaan
“Hahaha, jika aku mengirmmu ke rumah
sakit jiwa. Yang akan ku ajak untuk mengobrol, lantas siapa?” katanya terkekeh
“Sudahlah” balasku dengan sedikit gelak
tawa yang singkat
“Jadi kau ingin menanyakan apa?” dia bertanya
lagi
“Hmm--- tentang kelanjutannya—tentang
kelanjutan ini” kataku sedikit tergugup
Diana terdiam sejenak, sepertinya
memikirkan kalimat yang pas untuk diucapkan “Maksudku, kemana kau akan
melanjutkan kuliah, jika aku boleh tau” kataku lagi sebelum Diana mengucapkan
kalimatnya. Aku rasa belum saat yang tepat untuk mengatakan hal itu
“Hmmm... mungkin jurusan psikologi akan
terasa menyenangkan” balasnya membuatku sedikit terkejut
“Bukan, sastra?” tanyaku lagi
“Bukan” jawabnya. Sungguh jawaban yang
sedikit menjengkelkan, “Padahal aku akan
mengambil jurusan sastra karena kupikir kau juga akan melakukan hal yang sama”
batinku kesal dalam hati
“Ooh, baiklah. Aku rasa itu juga pilihan
yang bagus” kataku jelas berbohong, namun terselamatkan karena kami hanya berbicara
via telepon saja
“Benarkah?”
“Tentu” kataku riang
Setelah kata terakhir itu, terdapat
sebuah momen dimana kami tak bisa memikirkan hal apapun untuk dibicarakan lagi,
dan mengakhiri pembicaraan adalah hal yang terbaik, tetapi masing-masing dari
kami tak bisa melakukan itu, dan tak ingin yang kemudian menyebabkan hal yang
terdengar hanyalah kesunyian diantara aku dan Diana.
“Faiz?” katanya kemudian setelah
beberapa lama
“Iya?” jawabku singkat
“Aku mengerti maksud dari apa yang ingin
kau tanyakan sebelumnya”
“Eh? Maksudmu?” tanyaku bingung
“Hehehe, besok saja ku ceritakan selesai
acara pelatihan upacara di sekolah” katanya kemudian. Sungguh kalimat yang tak
pernah ku duga sebelumnya dari seorang Diana sepertinya, mungkin karena
perpisahan sekolah sebentar lagi tiba gadis itu menjadi semakin temperamen pada
akhirnya, dan aku hanya bisa memakluminya karena aku sudah mengenalnya lama.
“Baiklah, sampai jumpa besok. Assalamualaikum”
“Waalaikumussalam warahmatullahi
wabarakatuh” jawabku, akhirnya panggilan itu terputus dengan nada yang diulang
terus menerus pada ponselku sebelum akhirnya berhenti setelah simbol telepon
merah yang terpampang itu aku tekan
Hari ini entah mengapa terasa begitu
baik sekali lebih dari hari sebelumnya, sang raja langit masih terus berusaha
menggapai cakrawala di ujung barat sana, dengan lamunandari awan-awan tipis
yang membimbing langkahnya agar Ia tidak berjalan kembali menuju titik semula
Ia datang.
Jendela kamar itu aku buka dengan lebar,
memaksanya menjerit dengan keras juga mempersilahkan angin sore itu masuk
dengan leluasa dari sela-sela korden jendela yang melambai ke dalam. Aku merasa
sedikit terbuai dengan suasana itu, ku hirup nafas sedalam-dalamnya kemudian ku
hembuskan dengan perlahan namun keras.
“Awas nanti keluar dari belakang” kata
sebuah suara yang sedikit mengejutkanku yang entah darimana datangnya
Setelah kulihat sekeliling, ternyata
suara itu dari kakakku yang sedang merawat tanaman-tanaman miliknya agar tak
terkena penyakit tanaman. Mendengar hal itu aku hanya bisa tertawa dan berkata
suatu hal sederhana untuk membuatnya merasa tenang.
#
Keeseokan harinya, seperti yang telah
diminta oleh pihak sekolah. Semua siswa kelas 12 berkumpul untuk menjalani
latihan upacara perpisahan yang akan digelar keesokan harinya. Sungguh acara
yang begitu membosankan bagiku, karena aku ingin cepat-cepat bertemu dengan
Diana seperti yang telah kami janjikan kemarin malam.
Hari sangat panas sekali, sang mentari
terasa begitu bersinar sekaligus menyengat kulit-kulit yang terkena oleh cahayanya,
bahkan burung-burung yang biasanya mondar-mandir serasa tak segan untuk
menjelajahi sekeliling sekolah, mereka hanya bertengger mematuk-matuk ranting
pohon pada dahannya.
Begitu acara telah selesai dilaksanakan
dengan hasil beberapa siswa terciduk tertidur saat pembacaan pidato perpisahan
oleh ketua panitia yang berasal dari siswa tentunya yang kemudian disuruh untuk
berlari mengelilingi lapangan dibawah teriknya sinar matahari. Acara
selanjutnya adalah sholat dzuhur berjamaah yang sebenarnya telah menjadi
kebiasaan di sekolah karena semua muridnya adalah beragama Islam.
Begitu acara sholat berjamaah telah
selesai, semangatku mulai terisi lagi dan tak bisa bersabar ingin bertemu
dengan Diana setelah sekitar satu minggu tidak bertatap muka. Begitu aku hendak
memasang kembali sepatuku, seorang teman menepuk bahuku dari sebelah.
“Hai, Faiz!” sapanya tak kalah semangat
juga
“Oh, Danis. Kau kah itu?!” kejutku
setelah berbalik melihat sosok yang tak asing bagiku
“Apakah kumis ini tak terlalu meyakinkan
bagimu?” katanya bergurau sambil menunjukkan deretan kumisnya yang membentang
dari ujung bibirnya ke ujung yang lain
“Hahaha, tentu saja tidak” kataku sambil
tertawa
“Jadi mau kemana kau sekarang?” dia
bertanya sambil merapikan sepatunya yang terinjak-injak oleh siswa lain
“Sebenarnya aku hendak bertemu
seseorang” kataku dengan jujur padanya
Danis kemudian menatapku tajam seperti
reaksi orang yang terkejut setengah mati “Aah, baiklah” katanya kemudian sambil
tersenyum hampir tertawa dan kembali memasang sepatunya, sedangkan aku hanya
bisa bersikap aneh dalam hati karena tingkahnya yang unik semenjak kami bertemu
“Oh, ya. Jika kau lapar temui aku di ruang OSIS ya, kami punya makan siang”
katanya sambil berkedip dan berlalu
“Oke, trims Danis” kataku dari balik
punggungnya
Akhirnya, pengganggu sudah pergi dan
dengan semangat aku berdiri dan melanjutkan perjalanan menuju tujuan pertamaku
datang ke sekolah, yaitu bertemu dengan Diana. Siang itu terasa makin terik
seiring berjalannya waktu, trotoar yang diperuntukkan untuk berjalan kaki yang
terbentang diatas rerumputan itu terlihat seperti meleleh karena pembiasan
cahaya dan suhu yang lumayan panas, dari kejauhan terlihat samar tempat
pertemuan kami.
Dibawah pohon besar nan rindang yang
telah ada bahkan sebelum aku menginjakkan kaki di sekolah ini, terdapat sebuah
tempat duduk panjang yang terbuat dari campuran semen dan keramik diperuntukkan
untuk mereka yang ingin mengerjakan tugas maupun yang hanya ingin menikmati
suasana sekolah.
Namun, tempat itu sepi. Yang terdengar
hanyalah gurauan dari guru yang dijawab dengan gelak tawa muridnya yang berasal dari ruang kelas terdekat.
Awalnya aku hanya berpikir bahwa Diana masih sibuk mengurusi perlatan sholatnya
selepas sholat dan berbincang kecil seperti apa yang telah aku dan Danis
bicarakan beberapa saat yang lalu di tepian musholla, sehingga aku memutuskan
untuk menunggu gadis itu disini sambil melihat pemandangan yang mungkin tak
bisa aku lihat lagi untuk beberapa waktu kedepan, suasana saat mengerjakan
tugas dibawah pepohonan rindang secara berkelompok yang hanya diisi dengan
candaan daripada berfokus untuk mengerjakan tugas, suasana saat guru memberikan
nasehat pada murid yang terkenal bebal, suasana saat tidak mengikuti pelajaran
karena ada perlombaan penting yang harus diikuti, dan yang terpenting adalah
suasana saat bertemu dengan orang yang kau anggap ada untuk dirimu.
Lama aku menunggu Diana ditempat itu,
kemudian terdengar derap langkah dari seseorang yang berjalan kearahku akan
tetapi kemudian menjadi banyak terdengar, akupun menolehkan pandanganku ke arah
suara derap kaki itu datang, dan ternyata siswa dari ruang kelas sebelahku
ingin menggunakan tempat itu sebagai tempat untuk mengerjakan tugas
kelompoknya, yang dibimbing oleh seorang guru.
“Ah, Faiz. Lama tidak berjumpa” sapa
guru yang membimbing siswa itu padaku
“Maklum, bu banyak yang harus
dipersiapkan” balasku sambil tersenyum “Kabar baik bu?”
“Alhamdulillah baik. Sepertinya kamu
sedang menunggu seseorang, benar?” tanya guru itu padaku
“Ah, tidak bu” jawabku sedikit kaku
“Apakah?” dia bertanya dengan nada yang
sebentar lagi berubah menjadi kalimat yang tidak begitu nyaman didengar,
akhirnya aku melangkah dari tempat itu dengan alasan hendak makan siang
“Cepatlah, sebelum hari perpisahan tiba!” katanya lagi dari kejauhan sambil
terkekeh dan aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman dan anggukan kepala
sembari terus berjalan untuk menghindari kalimat selanjutnya
Aku menghela nafas lega bisa lepas dari
situasi yang rasa-rasanya akan menyulitkanku jika terus ku lanjutkan. Namun
terkejutnya aku ketika melintas di depan kantin sekolah, di salah satu meja
makan kantin kutemukan Diana dengan teman-temannya sedang tertawa lepas
menanggapi sebuah lelucon yang baru saja terlontar dari temannya. Melihat
pemandangan itu, sebuah perasaan yang kurang menyenangkan menjalar dari perutku
dan menyebar. Sejujurnya aku senang melihat gadis itu tertawa, akan tetapi
bukankah dia telah membuat janji sebelumnya denganku.
Akhirnya aku hanya bisa membiarkan Diana
dengan keadaannya sekarang, aku tak ingin menghentikan kegembiraannya dan
teman-temannya gara-gara hanya ingin bertemu denganku. Akupun melanjutkan
langkahku yang entah ku tau akan kemana, yang pasti aku mengirimkan pesan
singkat untuk Diana seolah-olah aku yang membatalkan pertemuan kami karena ada
urusan mendadak.
***
Hari perpisahan disambut dengan baik
oleh keadaan orang-orang sekolah dan begitupun dengan keadaan alamnya. Semilir
angin mengiringi cerahnya sinar mentari yang semakin bergeser waktu terasa
semakin panas dan menyengat, wajar saja karena bulan Juli sudah memasuki musim
kemarau untuk wilayah ini. Bunga-bunga daendelion perlahan mengelupas satu
persatu membuat alunan melodi yang berkesinambung dengan kelopak-kelopak
putihnya yang kecil.
Dibawah sinar sang mentari yang menyengat,
kursi-kursi berjejer rapi membentuk hingga empat hingga lima baris memanjang
kebelakang dinaungi terop kain yang terjalin satu membentuk persegi yang
luasnya mengikuti hampir luas lapangan basket disana. Pada sudut pandang
pertama berdiri tegak panggung utama yang dihiasi dengan bunga-bunga yang jelas
sekali berasal dari pot-pot bunga sekolah yang berjejer di setiap kelas, di
atasnya terlihat sekelompok orang yang bahu membahu mengatur posisi sebuah
mimbar sedang yang lainnya mengikuti dengan memegang seperangkat alat pengeras
suara.
Aku duduk sembari memainkan ponselku
dengan pelan menggeser-geser layar layanan pesan yang jelas saja tidak ada
satupun kabar yang baru. Mengharap dibalik sinar matahari yang mengintip dari
balik terop-terop yang tidak terikat sempurna, bahwa orang yang ku ingin lihat
pagi ini muncul dari balik gerbang, berjalan pelan dengan senyumannya sambil
melambaikan tangan. Tapi, sudahlah. Sepertinya Ia menuju tempat yang selayaknya
Ia tuju, pikirku tatkala melihat kursi-kursi kosong itu terisi satu persatu
hingga penuh.
Akhirnya acara pun dimulai, rasanya lama
sekali saat kepala sekolah botak itu berbicara dibalik kacamatanya sembari
melihat teks pidato yang harus dibacakan sambil sesekali diselingi dengan
guyonan-guyonan yang tawanya dipaksakan bahkan oleh sesama bapak-bapak
seusianya.
Rangkaian acara demi acara terlewati,
tak terasa aku sudah duduk ditempat yang sama selama tiga jam lebih tanpa
berbicara satu kata pun, persis seperti ketika gladi resih hari kemarin. Bahkan
Danis yang berada disebelahku seperti menikmati dengan paksa acara itu, kerap
kali kutemukan matanya mengatup-ngatup kemudian kembali melotot lagi. Pikiranku
sekarang kembali menjadi liar ditambah dengan suara dari dalam lambungku
merengek meminta sesuap saja makanan untuk dileburkan. Tinggal satu acara lagi
yaitu penyampaian kata-kata terima kasih dari perwakilan siswa. Terima kasih
hanya berjumlah dua kata dan lima suku kata mengapa perlu dibuat rangkaian
paragraf yang sebegitu panjang, pikirku.
Tiba-tiba saja ditengah pidato, aku
merasa seperti tersentak oleh suatu hal yang aneh. Sebuah percakapan singkat
terlintas dikepalaku, sebuah janji yang harusnya ditepati kemarin. Aku pun
sedikit menengok ke arah samping bahkan belakang, mencari-cari sosok Diana yang
sedang fokus memperhatikan, hingga nanti aku langsung bisa menemuinya sesaat
setelah acara selesai. Namun, sepertinya dia duduk ditempat lain selain disini,
pikiriku setelah melenggak-lenggok mencari batang hidungnya tetapi tak ada
hasil. Hingga aku pun hanya bisa menghela nafas membiarkannya dulu, jikapun dia
ingat dia akan mencariku.
Segera setelah pidato terima kasih itu
dibacakan, sorak sorai dan tepuk tangan yang begitu meriah dilontarkan oleh
semua hadirin, dan aku yang hampir tidak menangkap kalimat-kalimat penting yang
disampaikan, akan tetapi aku hanya bisa merasa aneh melihat Danis yang matanya
seperti berkaca-kaca, pastilah karena pidato itu.
Akhirnya, semua hadirin dipersilahkan
keluar dari tempat acara kecuali mereka yang ingin melihat penampilan dari
siswa-siswa yang mendadak jadi artis di atas panggung itu. Aku pun dengan sigap
membalikkan badan meninggalkan kerumunan itu menuju ke arah kerumunan yang lain
mencari Diana, mulai dari memperhatikan kerumunan siswi yang bercengkrama
dengan riang melepas suasana perpisahan sejenak, melepas fakta bahwa besok
mereka tidak akan bertemu lagi dan memulai meniti jalan masing-masing, kemudian
menuju kantin sekolah yang sama halnya dengan area lain hanya saja ditambah
dengan sedikit aroma makanan, hingga menuju ke kelas dan bagian sekolah yang
lumayan tenang, berharap bahwa Diana mungkin menungguku disana. Tetapi negatif,
yang ada hanya bisikan angin yang kosong diantara pantulan sinar matahari.
***
Mataku perlahan terpejam lalu kemudian
bangkit lagi ke posisi sadar lalu perlahan memudar, begitu seterusnya. Tak
kusangka bahwa pidato-pidato ini lama sekali rasanya, aku ingin segera bertemu
dengan Faiz karena janjiku waktu kemarin tak bisa kutepati. Pikiranku mulai
merasa bersalah, mungkinkah Faiz marah kepadaku karena itu, kuharap tidak
karena Faiz orangnya tidak seperti itu. Namun semakin lama aku larut dalam
pikiranku sendiri semakin stres rasanya. Akhirnya aku pun mendongak sedikit
melihat sekeliling berharap menemukan wajah Faiz yang sedang terfokus
perhatiannya kepada perwakilan siswa yang sedang menyampaikan kalimat-kalimat
terima kasih itu.
Ternyata cara yang ku gunakan semakin
memperburuk keadaanku sendiri setelah menyadari bahwa aku tak menamukan wajah
Faiz sedikitpun, bahkan model rambutnya yang khas. Akhirnya setelah acara
selesai aku langsung menuju kerumunan yang sedang bercengkrama bahkan mengeluh
tentang acara ini, mencari-cari. Namun tak kusangka, sebuah pemandangan yang
kulihat segera merubah persepsi ku. Sesosok yang sangat familiar terlihat
hampir terengah-engah dengan langkah kakinya, dia terlihat seperti orang gila
yang mencari sepatunya yang hilang diantara kerumunan. Aku pun kemudian tersenyum
sendiri dalam diamku, kemudian memutuskan mengikuti langkahnya membawaku.
Sosok itu kemudian berhenti di sebuah
tempat duduk yang terbuat dari susunan semen yang menyerupai batu. Dia terlihat
mempesona ketika angin menerpa tubuhnya dengan anggun, menatap area hijau
didepannya. Jantungku perlahan berdenyut dengan perlahan-lahan menjadi cepat
dan sangat cepat. Haruskah aku menemuinya, sepertinya dia tidak menyadariku
disini, fikirku.
Aku pun berjalan dengan pelan dan pasti
dari balik tubuhnya, sepertiga duaan dengan kecepatan denyut nadiku, perutku
pun terasa aneh. Tak kusangka aku akan segugup ini bertemu dengan Faiz. Apakah
ini juga yang dirasakan Faiz jika bertemu denganku, aku bertanya-tanya.
Akhirnya ku putuskan untuk duduk pada kursi
batu lain yang ada disebelahnya, sambil berdeham dengan tenang.
“Ekhm” gumamku sambil mengambil posisi
duduk yang nyaman
Faiz pun lumayan terkejut, matanya
dengan sangar mencari sumber suara itu kemudian menjadi jinak setelah
menemukanku berada disebelahnya, aku dapat mendengarnya menghela nafasnya
sambil berusaha terlihat tidak memperdulikan aku, namun tak berhasil sama
sekali, bibirnya kudapati tersenyum sesaat sebelum dia membalikkan badannya
dariku. Aku pun sontak ikut tersenyum juga.
Sebelum itu hanya terdapat keheningan
diantara kami berdua yang jelas sekali sedang mengumpulkan tenaga untuk
mengawali pembicaraan. Bersama dengan semilir angin yang lebih terasa sejuk
daripada dibawah terop acara, dengungan-dengungan gitar ku dengar sayup-sayup
dari kejauhan begitupun dengan sorakan siswa yang sepertinya menikmati hiburan
itu.
“Kau tau aku disini?” tanya Faiz
“Umm.. aku mengikutimu” jawabku pelan
Tiba-tiba saja Faiz membalikkan badannya
menatapku dalam, membuat jantungku seakan-akan terjun dengan bebas ke dasar
perutku.
“Mengikuti? Kau mengikutiku!?” katanya
dengan keras namun tetap saja terdengar lembut
“Aa---“
“Aku mencarimu kemana-mana. Ke kantin,
kerumunan, bahkan tempat yang seperti apa ini namanya, dan kau mengikutiku”
katanya sebelum aku bisa meneruskan kalimatku “Jahat sekali” dia mengakhiri
dengan nada yang seperti mengejekku namun tidak terasa seperti itu
“Salahmu sendiri, tidak diam saja di
tempat itu agar aku bisa menemukanmu dengan cepat” balasku sedikit kecut
“Salahku, bukankah....” Faiz berhenti
ditengah-tengah kalimatnya, seperti menghindari kalimat yang mungkin dia pikir
akan membuatku tidak nyaman
Aku pun terdiam sejenak, mengetahui
jelas apa sebenarnya yang akan dikatakan Faiz setelahnya.
“Aku minta maaf” ucapku pelan, namun
Faiz hanya terdiam “Kau tidak marah kan?” Tanyaku pada diamnya, sungguh menanti
jawaban yang hanya berupa satu kata itu sangat menguras tenaga ku, ya atau
tidak. Faiz masih terdiam dalam pandangannya. Beberapa saat kemudian dia
melihatku dengan senyum yang mengembang lalu menatapku dalam, memerosotkan lagi
jantungku yang baru saja kembali ke posisinya yang semula.
“Tentu saja tidak, tolong jangan buat
ini rumit lagi, aku hanya bercanda” balasnya tersenyum
Aku pun menghela nafas dengan lega
mendengarnya.
“Kau tau, kemarin aku benar-benar lupa
namun segera aku mengingatnya aku pun berlari menemuimu tapi kau tidak ada
disana, aku mengira kau marah denganku. Malamnya pun kau tidak memberiku kabar
sama sekali, dan hal itu membuat ku sangat......huh” ucapanku terhenti dengan
nafas yang tersendat
“Sangat kenapa?” tanya Faiz
“Jangan buat aku mengatakannya lagi”
Dia mengangguk
“Sangat... khawatir” aku mengucapkan
kalimat itu dengan perasaan malu sekali, pasalnya ini pertama kalinya aku
mengatakannya secara langsung pada Faiz. Sontak aku bisa merasakan wajahku
memerah, panas, dan malu.
Perlahan ku lihat Faiz, sepertinya dia
sengaja menungguku melihatnya.
“Aku tidak dengar, suaramu terlalu
pelan. Bisakah kau mengatakannya sekali lagi” katanya sambil menahan tawa
Aku pun hanya bisa merasa kesal terhadapnya,
namun ini adalah kesal yang berbeda. Dasar laki-laki, pikirku.
“Dasar!!!” kataku sambil meninju
lengannya dengan pelan
“Baiklah aku minta maaf, aku tidak marah
kepadamu. Bagaimana bisa aku marah pada bidadari, ekhm... ekhm”
Ucapannya sontak membuatku terkejut, dan
lagi-lagi membuat jantungku jatuh untuk kesekian kalinya, sudahlah Faiz jantung
ku sudah lelah naik turun dibuatmu.
“Apa?! Aku tidak dengar?” kataku nyengir
membalas perkataanya dengan kalimat yang sama
“Ah, ada pesawat melintas” katanya
menunjuk ke atas lalu melihatku sambil tersenyum
Kami pun kemudian terdiam membiarkan
gesekan-gesekan rumput melanjutkan pembicaraan kami yang tak masuk akal itu.
“Jadi bagaimana kelanjutannya?” tanya
Faiz kemudian
Aku masih terdiam dalam mulutku tak bisa
terbuka, aku pun sebenarnya tak ingin menjawab pertanyaan itu, hanya akan
membuatku merasa seperti perempuan yang tidak baik memutuskan semuanya sendiri.
“Bagaimana denganmu?” tanyaku kembali
Faiz terdiam beberapa saat sebelum
menjawab pertanyaannya yang ku lontarkan kembali.
“Sebenarnya, aku tidak ingin memutuskan
hubungan kita sekarang. Aku ingin terikat denganmu, aku ingin mengenalmu lebih,
keluargamu, sifatmu, namun aku juga tidak ingin membuatmu merasa tidak nyaman
dengan keadaanku yang mungkin nanti aku akan sangat jarang bisa menghubungimu,
memberimu kabar, mungkin aku akan membuatmu khawatir” Jelas Faiz dengan lancar
tanpa terbata-bata, seperti kalimat itu sudah Ia hafalkan sebelumnya, atau
murni dari hatinya.
Aku yang mendengarkan penjelasan Faiz
terdiam seribu bahasa, tak tau bagaimana caraku membalas Faiz yang sekarang
terdiam menunggu. Diantara keheningan itu terdengar jelas lambaian daun kelapa
yang saling bergesekan dari sawah yang berada di ujung sekolah, sinar matahari
kini berjalan diatas awan yang menjadi alasnya, membuat beberapa bagian bumi
menjadi lebih teduh daripada bagian lainnya.
Aku kemudian teringat kalimat bijak yang
pernah kubaca disebuah situs di internet, mungkin jika ku katakan pada Faiz
bisa membuatnya lebih tenang.
“Aku mengerti, aku juga sudah memikirkan
apa yang akan bisa terjadi jika kita menjalin hubungan jarak jauh dan
konsekuensinya. Tapi, aku mengerti. Aku siap, dengan izin-Nya aku siap.
Jikalaupun kita memang ditakdirkan untuk bersama, maka kita akan bersama. Dan
jika sebaliknya.... coba jangan pikirkan itu untuk sekarang” terangku tak kalah
lancarnya dengan Faiz, sambil terheran akan diriku ini sejak kapan aku menjadi
seorang yang terdengar bijaksana.
Faiz kemudian mendongak melihat pesawat
yang melintas, akupun bisa mendengarnya makin lama makin sayup terdengar karena
semakin menjauh. Dia kemudian tersenyum melihatku, bayangan awan-awan hingga
pepohonan rindang tergambar didalam matanya, sejuk sekali, aku ingin waktu bisa
ku hentikan, bersama dengannya.
“Baiklah jika kau bilang seperti itu,
aku pun bisa mendengarmu jujur kali ini”
“Jadi menurutmu selama ini aku tidak
jujur?”
“Eh, bukan seperti itu” jawabnya
gelagapan
“Jadi, bagaimana?”
“Besok aku akan pergi”
Dadaku terasa ditusuku oleh sebuah
pedang yang sangat tajam, tidak terlihat. Jantungku sekarang terasa jatuh tanpa
mengenai dasar jatuhnya, seperti melayang-layang dalam gravitasi yang terus
menariknya ke bawah. Ada sebuah hal yang sangat janggal dalam diriku, namun aku
tau bahwa kalimat itu sepenuhnya benar.
“Ke—kenapa tiba-tiba sekali?” tanyaku
menahan mulutku yang bergetar “Kenapa kau tidak memberitahuku lebih awal?”
“Iya, aku terlalu terbawa suasana. Aku
bahkan baru ingat bahwa besok aku harus pergi” katanya sambil tersenyum. Namun
kali ini senyumannya tidak lagi membuat jantungku terperosost, karena
sebelumnya sudah terjatuh terlebih dahulu
“A—aku... tidak menduga” kataku mencoba
membalas kalimatnya sembari menahan diriku agar tidak menangis, walaupun ingin
sekali aku menangis lalu melempar diriku padanya. Namun, apa yang kudapati
hanyalah diriku yang masih menjaga kodratku. “Kalau begitu jagalah dirimu
baik-baik” lanjutku sambil menggigit bibirku sendiri “Ingatlah semua pesan---“
Tiba-tiba saja Faiz menangkap bahuku dan
sontak membuatku terkejut, dan akhirnya dia mendapatiku yang berkaca-kaca lewat
tatapannya. Namun, dia hanya tersenyum.
“Aku akan ingat semua pesanmu, dan jika
kau ada waktu ingatkanlah aku agar aku tak lupa”
“Hmm, kau juga” kataku sambil mencoba
membalas senyumannya
“Mari kita berjanji untuk berusaha
menjadi yang terbaik”
“Hmm, kau juga” kataku mengangguk
Sang raja langit kembali memancarkan
sinarnya, bersama dengan kepakan sayap dari burung-burung yang terbang sambil
bernyanyi melawan arus angin yang berhembus kuat menerpa bulu-bulunya yang lembut.
Sebenarnya aku tidak ingin Faiz pergi
lebih cepat, masih banyak yang ingin kuceritakan padanya, dan aku pun belum
membuatkan kado perpisahan yang sesuai dengan kebutuhannya. Akan tetapi tak
mengapa, aku ingin tetap disini bersamanya, sebelum Ia melangkah ke dalam zona
lain yang bahkan aku pun tak bisa mencium aromanya. Aku ingin disini
mendoakannya dalam diam, dalam hening, dalam teriakan bisuku.
***
-Je-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tolonglah berkomentar dengan sopan, NO SPAM!, dan dengan bahasa yang santun pula. Karena komentar anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini ke depannya.