19 Februari 2018

Putri Diana




Dering bel berbunyi seiring dengan langkah-langkah kaki siswa yang berderap beraturan seperti halnya sebuah pasukan pengibar bendera yang dengan sigap akan menjaga tanggung jawabnya untuk memastikan bendera itu sampai pada puncaknya. Dan sekarang mereka telah selesai mengemban tugasnya, bendera itu telah sampai pada puncak tiang yang tertinggi di masa ini, besok upacara perpisahan sekolah mungkin akan berlangsung dari pagi hingga siang hari, hari ini hanyalah persiapan para siswa untuk bersikap pada hari-H besok.
Begitu acara pelatihan selesai, langkahku kemudian terhuyung-huyung menjejaki lantai yang penuh debu dari sepatu-sepatu yang usang terpakai selama tiga tahun belakangan ini, mencari sosok wajah yang ingin ku temui sebelum kami benar-benar akan terpisah dengan sebuah materi yang mereka sebut dengan jarak.
Mentari siang masih melambai-lambai memancarkan panasnya dengan lembut dan terkadang begitu keras, saat itu sedang berlangsung kegiatan sholat dzuhur berjamaah pada musholla sekolah yang tak begitu besar namun bisa menampung begitu banyak siswa yang menempuh pendidikan disana. Aku, bukannya meninggalkan kewajibanku sebagai seorang muslim, tetapi karena memang kondisiku yang kebetulan sedang tidak memungkinkan untuk melaksanakan kewajiban itu, jadi aku hanya menunggu sosok yang kuharap akan menghampiriku ditempatku duduk sekarang ini, karena kami sudah membicarakannya malam hari kemarin.
Memikirkan tentang hari perpisahan yang memang akan terjadi dengan sangat nyata, membuat batinku seolah-olah meredupkan api semangatnya. Walaupun pada mestinya semua siswa telah dibekali untuk menghadapi hari-hari seperti ini, bahkan lebih menguras mental dari ujian nasional yang baru saja berlangsung beberapa minggu kemarin. Tetapi, aku khususnya bukanlah seorang siswa yang begitu menampakkan diri di sekolah, akan tetapi aku sudah mengukir begitu banyak kenangan di tempat ini, bersama kawan-kawanku, sahabatku, dan dia.
Tak berlangsung lama, pikiranku terpecah oleh sebuah panggilan yang begitu mendadak dari belakangku
“Hai, Diana. Ingin ikut makan siang?” sapa sebuah suara itu dengan pelan namun sedikit menggangguku karena kondisiku sekarang ini
“Oh, Dinda. Hai” jawabku padanya dengan sunggingan senyum kecil di wajahku
“Kau tidak sholat?” Dinda bertanya singkat
“Ah, ya. Penyakit bulanan” jawabku sambil terkekeh kecil kemudian membuat Dinda mengangguk pelan
Dinda adalah seorang gadis yang tidak lebih tua dariku, semenjak pertama kali bertemu kami menjadi sangat akrab bahkan hari demi hari, membuatku merasa nyaman berada didekatnya, bahkan beberapa rahasia dari diri sendiri pun kami mengetahuinya, termasuk tentang seorang lelaki yang menjadi pokok masalah semua remaja begitu menginjak usia-usia kritis seperti sekarang ini.
“Jadi mau ikut makan?” dia bertanya kedua kalinya
Aku hanya bergumam sambil mengalihkan pandanganku dari burung-burung yang terbang di balik kepalanya menuju sekelompok keramaian yang telah selesai menunaikan sholatnya.
“Oooh, aku mengerti” tegasnya kemudian sambil tersenyum lebar sekali hingga aku bisa melihat bagian dalam gusinya bersinar terkena sambaran sinar matahari
Setelah kalimat terakhir dari Dinda, terdapat bagian sunyi diantara kami berdua yang bunyinya hanya terisi oleh alunan merdu dari angin semilir yang melintasi kami berdua, namun kemudian kesunyian itu terpecah menjadi sesuatu hal yang amat teramat ganjil ketika aku mendengar perutku berteriak dengan keras sekali, bahkan Dinda melototkan mata sambil mendengarkan teriakan itu. Kamipun kemudian tertawa lepas, menertawakan momen itu tak memperhatikan reaksi dari siswi lain yang berjalan melewati kami.
“Jangan paksakan dirimu, sebentar setelah kita makan siang kau bisa kesini lagi” saran Dinda kemudian
“Hmm, baiklah” jawabku
“Oh, sebaiknya kau beritau dia bahwa kau akan makan siang sebentar”
“Tidak perlu, aku tidak akan lama. Lagipula dia juga perlu waktu untuk mengikatkan tali sepatunya” jawabku yang kuharap dapat dimengerti oleh Dinda
“Eeeh, seperti yang diharapkan dari murid kebanggaan Ibu Wanti. Kenapa kau menolak mengikuti lomba menulis sastra dari dulu?” katanya sambil mengambil langkah menuju kantin
“Tidak, dan tidak” jawabku tanpa alasan
“Kau menyianyiakan kemampuanmu, Putri Diana” katanya dengan nada yang mengejek
“Karena jika aku mengikuti lomba-lomba seperti itu, maka aku akan punya sedikit waktu untuk bertemu denganmu” jawabku sambil tertawa
“Waktu untuk bertemu denganku atau dengannya?” Dinda kembali membalasku dengan kalimatnya yang sukses membuat wajahku terasa panas, dan perutku mulai terasa aneh
Kami berduapun hanya tertawa kecil dalam perjalanan menuju kantin sekolah yang berada di belakang bangunan kelas yang terjejer rapi bagaikan barisan yang tengah mengikuti upacara bak tentara dengan begitu disiplinnya.
Rumput-rumpu lapangan hijau itu aku lihat menjadi lebih indah saat mereka meliuk-liukkan badannya mengikuti ucapan angin yang membimbing mereka, daunnya menjadi lebih terang terkena pantulan dari sinar matahari siang yang saat itu sedang bersemangatnya menyinari seisi bumi.
Begitu aku dan Dinda sampai pada ruangan kantin yang terasa sedikit renggang daripada biasanya karena waktu ini tengah memasuki jam belajar bagi kelas 10 dan 11, sedangkan kami kelas 12 hanya tinggal menikmati waktu-waktu yang mereka sebut dengan waktu bebas. Perutku yang semula merengek minta diisikan dengan sesuatu, sekarang aku rasa mulai berhenti dan tidak lagi meminta bantuanku untuk mengobati rasa laparnya, akan tetapi pada sebuah meja makan kantin aku melihat sekelompok kecil orang yang melambaikan tangan sambil memanggil namaku dan Dinda.
“Jadi kemana kau akan melanjutkan kuliah setelah ini, Diana?” tanya salah seorang temanku dari sebuah bangku di depanku
“Aku—sebenarnya sedikit bingung, tapi memperdalam ilmu psikologi sepertinya menyenangkan” jawabku singkat sambil menjaga nada bicaraku agar terdengar biasa dan mengarahkan pandanganku pada sebuah gelas ukuran besar yang didalamnya terdapat beberapa pecahan es batu yang mulai mencair dengan perlahan
“Aku kira sastra” tanggap seorang lagi disebelahnya
“Ah, sastra hanyalah kegiatan luang saja” kataku sambil terkekeh
“Jadi, apa kau sudah siap untuk berpisah dengan teman-temanmu? Dengan Faiz?”
Setelah Ia selesai dengan kalimatnya, aku merasakan sensasi aneh pada kepalaku terasa seperti sebuah ular yang melilitnya dengan kasar. Terdapat diam beberapa saat setelah kalimat terakhir itu yang kemudian diikuti dengan kata-kata godaan dari beberapa temanku yang juga ikut mendengar.
Tersadar aku baru ingat akan sesuatu, bahwa aku harus bertemu dengan lelaki itu hari ini. Dan tak kusangka telah lebih dari satu jam dari waktu yang telah kami janjikan. Aku kemudian meneguk habis jus jeruk yang mulai memanas seiring waktu berjalan kemudian tergesa-gesa pergi dari tempat itu dengan alasan bahwa aku harus segera pulang karena ada kegiatan yang belum terselesaikan di rumahku.
“Hati-hati, Diana!” teriak Dinda dari kejauhan yang hanya kubalas dengan lambaian tangan dan senyuman
Aku tau dan sepenuhnya mengerti bahwa kalimat-kalimat yang teman-temanku bicarakan hanya merupakan sebuah candaan semata untuk menggodaku dan membuat suasana tidak terasa monoton, tetapi aku sampai lupa waktu dan melupakan janjiku dengan Faiz.
“Ku harap kau masih disana” batinku, akan tetapi mungkinkah karena ini sudah satu jam lebih lamanya aku membuatnya menunggu
Perjalanan dari kantin menuju tempat pertemuan terasa sangat panjang jaraknya, rerumputan yang semulanya berwajah cerah seakan muram dan jengkel terhadapku dan kurasa mereka menahan langkah kakiku untuk tidak lagi melanjutkan perjalanan karena mungkin saja Faiz sudah pulang atau pergi makan siang di tempat lain.
Begitu sampai di koridor sekolah, dari kejauhan aku bisa melihat tempat ku duduk menunggunya selesai sholat dzuhur tadi, namun yang duduk bukanlah laki-laki itu namun sekelompok siswa kelas 11 yang sedang berdiskusi tentang sebuah tugas yang diberikan oleh guru mereka disana. Aku pun merasa tambah was-was, merasa bersalah karena sudah lupa waktu dengan teman-temanku. Aku pun melihat-lihat sekeliling mencari tanda-tanda darinya, namun sia-sia, aku tak menemukan Faiz dimanapun.
“Bagaimana bisa aku sebodoh ini!” batinku bercampur dengan perasaan jengkel yang teramat sangat memenuhi pikiranku, membuatku ingin mencabik siapa saja, termasuk beberapa guru yang lewat didepanku, namun aku masih bisa menahan diri sambil tersenyum palsu pada mereka.
Pepohonan itu kembali melambai terkena terpaan angin yang halus namun dan berhembus dengan cepat, sisa-sisanya kemudian berakhir tepat pada wajahku membuatku sedikit memejamkan mata sambil menahan jilbabku agar tidak melambai-lambai mengikuti arah angin. Begitu aku berjalan dan hendak meninggalkan sekolah, ponsel ku berdering menandakan sebuah pesan baru saja masuk melewati kabel-kabel yang tak kasat mata yang menghubungkan satu ponsel dengan ponsel lainnya. Pikiranku kembali penuh harap, agar pesan itu adalah dari Faiz yang mungkin melihatku dari kejauhan dan malu untuk berteriak memanggilku.
Dan benar saja, itu dari Faiz. Namun dia tidak sedang berada disini, isi pesannya hanya berupa permintaan maaf karena tidak bisa bertemu denganku hari ini karena ada urusan mendadak yang baru saja terjadi seperti seekor piaraan miliknya sedang sakit. Aku hanya bisa menghembuskan nafas membaca pesan singkat itu dengan sebuah emoticon tersenyum manis di akhir kalimatnya yang entah itu adalah nafas kelegaan ataukah nafas kekecewaan, aku kemudian melanjutkan perjalananku menuju rumah karena sudah terlanjur aku meninggalkan teman-temanku di ruangan kantin.
***
Dering ponselku berbunyi dengan lembut diatas tempat tidurku yang akhirnya ku ketahui letaknya tersembunyi dibawah selimutku, sementara aku masih duduk di depan laptopku sambil menulis sebuah cerita pendek.
Aku mengambil ponsel yang tertindih selimut itu dan menyelamatkannya dari kegelapan. Begitu aku periksa sebuah pesan masuk darinya, jantungku mulai meningkatkan intensitas detakannya perdetik menjadi lebih cepat saat membaca sebuah nama yang tak begitu asing lagi dimataku, dan pesan singkat yang hanya bertuliskan namaku disana.
“Tumben dia memulai sebuah percakapan lebih dulu, ah dia pasti sedang rindu” batinku memikirkan sesuatu yang membuatku kemudian tersenyum lebar sekali dibalik kaca jendela yang beberapa kali terdengar berderik karena terpaan angin.
Akhirnya setelah beberapa percakapan kecil lewat pesan teks, aku berniat untuk menghubunginya secara langsung agar aku bisa mendengar suaranya tentu saja. Simbol telepon berwarna hijau yang ada pada layar ponselku ku tekan dengan perlahan, kemudian jantungku kembali meningkatkan degupannya lagi ketika sebuah suara yang khas dari ponsel seseorang ketika sedang melakukan panggilang keluar dan menunggu orang yang dipanggilnya menekan simbol yang sama pada ponsel mereka.
Setelah beberapa saat, suara sambungan telepon itupun berhenti tergantikan dengan suara aneh seperti sebuah bisikan dari angin-angin yang melintas melalui genggaman tangan orang yang berada dibalik ponsel itu.
“Assalamualaikum” kataku mencoba memulai pembicaraan
“Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh” jawabnya yang berada entah dimana sekarang. Suara itu khas sekali, aku bisa mengenalinya walaupun dia hanya mengucapkan satu huruf saja yang bisa kudengar, membuat detak jantungku meningkat lagi bahkan berimbas pada suasana perutku yang mulai menggerutu “Ingin membicarakan apa?” dia bertanya dibalik ponselnya
“Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin mendengar suaramu itu saja” kataku pelan sambil tersenyum kecil, dia hanya bergumam kecil dan kupastikan dia juga seperti itu “Diana?” panggilku pada nama yang sudah terus terngiang dalam kepalaku selama tiga tahun terakhir ini
“Iya?” jawabnya singkat
“Aku ingin menanyakan sesuatu”
“Tanyakan saja”
Aku menarik nafas yang lumayan panjang sebelum memberanikan diri untuk mengatakan kalimat selanjutnya.
“Sebenarnya bukan suatu hal yang penting” kataku lagi mencoba menghindar, atau mencoba untuk memancing dirinya untuk memaksaku bertanya
“Tak penting bagimu, tetapi penting bagiku. Sudah tanyakan saja” katanya lembut
“Kau ingin mengirimku ke rumah sakit jiwa, Diana?” kataku dengan nada yang mengejek namun tetap pada porsi untuk mencairkan keadaan
“Hahaha, jika aku mengirmmu ke rumah sakit jiwa. Yang akan ku ajak untuk mengobrol, lantas siapa?” katanya terkekeh
“Sudahlah” balasku dengan sedikit gelak tawa yang singkat
“Jadi kau ingin menanyakan apa?” dia bertanya lagi
“Hmm--- tentang kelanjutannya—tentang kelanjutan ini” kataku sedikit tergugup
Diana terdiam sejenak, sepertinya memikirkan kalimat yang pas untuk diucapkan “Maksudku, kemana kau akan melanjutkan kuliah, jika aku boleh tau” kataku lagi sebelum Diana mengucapkan kalimatnya. Aku rasa belum saat yang tepat untuk mengatakan hal itu
“Hmmm... mungkin jurusan psikologi akan terasa menyenangkan” balasnya membuatku sedikit terkejut
“Bukan, sastra?” tanyaku lagi
“Bukan” jawabnya. Sungguh jawaban yang sedikit menjengkelkan, “Padahal aku akan mengambil jurusan sastra karena kupikir kau juga akan melakukan hal yang sama” batinku kesal dalam hati
“Ooh, baiklah. Aku rasa itu juga pilihan yang bagus” kataku jelas berbohong, namun terselamatkan karena kami hanya berbicara via telepon saja
“Benarkah?”
“Tentu” kataku riang
Setelah kata terakhir itu, terdapat sebuah momen dimana kami tak bisa memikirkan hal apapun untuk dibicarakan lagi, dan mengakhiri pembicaraan adalah hal yang terbaik, tetapi masing-masing dari kami tak bisa melakukan itu, dan tak ingin yang kemudian menyebabkan hal yang terdengar hanyalah kesunyian diantara aku dan Diana.
“Faiz?” katanya kemudian setelah beberapa lama
“Iya?” jawabku singkat
“Aku mengerti maksud dari apa yang ingin kau tanyakan sebelumnya”
“Eh? Maksudmu?” tanyaku bingung
“Hehehe, besok saja ku ceritakan selesai acara pelatihan upacara di sekolah” katanya kemudian. Sungguh kalimat yang tak pernah ku duga sebelumnya dari seorang Diana sepertinya, mungkin karena perpisahan sekolah sebentar lagi tiba gadis itu menjadi semakin temperamen pada akhirnya, dan aku hanya bisa memakluminya karena aku sudah mengenalnya lama. “Baiklah, sampai jumpa besok. Assalamualaikum”
“Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh” jawabku, akhirnya panggilan itu terputus dengan nada yang diulang terus menerus pada ponselku sebelum akhirnya berhenti setelah simbol telepon merah yang terpampang itu aku tekan
Hari ini entah mengapa terasa begitu baik sekali lebih dari hari sebelumnya, sang raja langit masih terus berusaha menggapai cakrawala di ujung barat sana, dengan lamunandari awan-awan tipis yang membimbing langkahnya agar Ia tidak berjalan kembali menuju titik semula Ia datang.
Jendela kamar itu aku buka dengan lebar, memaksanya menjerit dengan keras juga mempersilahkan angin sore itu masuk dengan leluasa dari sela-sela korden jendela yang melambai ke dalam. Aku merasa sedikit terbuai dengan suasana itu, ku hirup nafas sedalam-dalamnya kemudian ku hembuskan dengan perlahan namun keras.
“Awas nanti keluar dari belakang” kata sebuah suara yang sedikit mengejutkanku yang entah darimana datangnya
Setelah kulihat sekeliling, ternyata suara itu dari kakakku yang sedang merawat tanaman-tanaman miliknya agar tak terkena penyakit tanaman. Mendengar hal itu aku hanya bisa tertawa dan berkata suatu hal sederhana untuk membuatnya merasa tenang.
#
Keeseokan harinya, seperti yang telah diminta oleh pihak sekolah. Semua siswa kelas 12 berkumpul untuk menjalani latihan upacara perpisahan yang akan digelar keesokan harinya. Sungguh acara yang begitu membosankan bagiku, karena aku ingin cepat-cepat bertemu dengan Diana seperti yang telah kami janjikan kemarin malam.
Hari sangat panas sekali, sang mentari terasa begitu bersinar sekaligus menyengat kulit-kulit yang terkena oleh cahayanya, bahkan burung-burung yang biasanya mondar-mandir serasa tak segan untuk menjelajahi sekeliling sekolah, mereka hanya bertengger mematuk-matuk ranting pohon pada dahannya.
Begitu acara telah selesai dilaksanakan dengan hasil beberapa siswa terciduk tertidur saat pembacaan pidato perpisahan oleh ketua panitia yang berasal dari siswa tentunya yang kemudian disuruh untuk berlari mengelilingi lapangan dibawah teriknya sinar matahari. Acara selanjutnya adalah sholat dzuhur berjamaah yang sebenarnya telah menjadi kebiasaan di sekolah karena semua muridnya adalah beragama Islam.
Begitu acara sholat berjamaah telah selesai, semangatku mulai terisi lagi dan tak bisa bersabar ingin bertemu dengan Diana setelah sekitar satu minggu tidak bertatap muka. Begitu aku hendak memasang kembali sepatuku, seorang teman menepuk bahuku dari sebelah.
“Hai, Faiz!” sapanya tak kalah semangat juga
“Oh, Danis. Kau kah itu?!” kejutku setelah berbalik melihat sosok yang tak asing bagiku
“Apakah kumis ini tak terlalu meyakinkan bagimu?” katanya bergurau sambil menunjukkan deretan kumisnya yang membentang dari ujung bibirnya ke ujung yang lain
“Hahaha, tentu saja tidak” kataku sambil tertawa
“Jadi mau kemana kau sekarang?” dia bertanya sambil merapikan sepatunya yang terinjak-injak oleh siswa lain
“Sebenarnya aku hendak bertemu seseorang” kataku dengan jujur padanya
Danis kemudian menatapku tajam seperti reaksi orang yang terkejut setengah mati “Aah, baiklah” katanya kemudian sambil tersenyum hampir tertawa dan kembali memasang sepatunya, sedangkan aku hanya bisa bersikap aneh dalam hati karena tingkahnya yang unik semenjak kami bertemu “Oh, ya. Jika kau lapar temui aku di ruang OSIS ya, kami punya makan siang” katanya sambil berkedip dan berlalu
“Oke, trims Danis” kataku dari balik punggungnya
Akhirnya, pengganggu sudah pergi dan dengan semangat aku berdiri dan melanjutkan perjalanan menuju tujuan pertamaku datang ke sekolah, yaitu bertemu dengan Diana. Siang itu terasa makin terik seiring berjalannya waktu, trotoar yang diperuntukkan untuk berjalan kaki yang terbentang diatas rerumputan itu terlihat seperti meleleh karena pembiasan cahaya dan suhu yang lumayan panas, dari kejauhan terlihat samar tempat pertemuan kami.
Dibawah pohon besar nan rindang yang telah ada bahkan sebelum aku menginjakkan kaki di sekolah ini, terdapat sebuah tempat duduk panjang yang terbuat dari campuran semen dan keramik diperuntukkan untuk mereka yang ingin mengerjakan tugas maupun yang hanya ingin menikmati suasana sekolah.
Namun, tempat itu sepi. Yang terdengar hanyalah gurauan dari guru yang dijawab dengan gelak tawa muridnya  yang berasal dari ruang kelas terdekat. Awalnya aku hanya berpikir bahwa Diana masih sibuk mengurusi perlatan sholatnya selepas sholat dan berbincang kecil seperti apa yang telah aku dan Danis bicarakan beberapa saat yang lalu di tepian musholla, sehingga aku memutuskan untuk menunggu gadis itu disini sambil melihat pemandangan yang mungkin tak bisa aku lihat lagi untuk beberapa waktu kedepan, suasana saat mengerjakan tugas dibawah pepohonan rindang secara berkelompok yang hanya diisi dengan candaan daripada berfokus untuk mengerjakan tugas, suasana saat guru memberikan nasehat pada murid yang terkenal bebal, suasana saat tidak mengikuti pelajaran karena ada perlombaan penting yang harus diikuti, dan yang terpenting adalah suasana saat bertemu dengan orang yang kau anggap ada untuk dirimu.
Lama aku menunggu Diana ditempat itu, kemudian terdengar derap langkah dari seseorang yang berjalan kearahku akan tetapi kemudian menjadi banyak terdengar, akupun menolehkan pandanganku ke arah suara derap kaki itu datang, dan ternyata siswa dari ruang kelas sebelahku ingin menggunakan tempat itu sebagai tempat untuk mengerjakan tugas kelompoknya, yang dibimbing oleh seorang guru.
“Ah, Faiz. Lama tidak berjumpa” sapa guru yang membimbing siswa itu padaku
“Maklum, bu banyak yang harus dipersiapkan” balasku sambil tersenyum “Kabar baik bu?”
“Alhamdulillah baik. Sepertinya kamu sedang menunggu seseorang, benar?” tanya guru itu padaku
“Ah, tidak bu” jawabku sedikit kaku
“Apakah?” dia bertanya dengan nada yang sebentar lagi berubah menjadi kalimat yang tidak begitu nyaman didengar, akhirnya aku melangkah dari tempat itu dengan alasan hendak makan siang “Cepatlah, sebelum hari perpisahan tiba!” katanya lagi dari kejauhan sambil terkekeh dan aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman dan anggukan kepala sembari terus berjalan untuk menghindari kalimat selanjutnya
Aku menghela nafas lega bisa lepas dari situasi yang rasa-rasanya akan menyulitkanku jika terus ku lanjutkan. Namun terkejutnya aku ketika melintas di depan kantin sekolah, di salah satu meja makan kantin kutemukan Diana dengan teman-temannya sedang tertawa lepas menanggapi sebuah lelucon yang baru saja terlontar dari temannya. Melihat pemandangan itu, sebuah perasaan yang kurang menyenangkan menjalar dari perutku dan menyebar. Sejujurnya aku senang melihat gadis itu tertawa, akan tetapi bukankah dia telah membuat janji sebelumnya denganku.
Akhirnya aku hanya bisa membiarkan Diana dengan keadaannya sekarang, aku tak ingin menghentikan kegembiraannya dan teman-temannya gara-gara hanya ingin bertemu denganku. Akupun melanjutkan langkahku yang entah ku tau akan kemana, yang pasti aku mengirimkan pesan singkat untuk Diana seolah-olah aku yang membatalkan pertemuan kami karena ada urusan mendadak.
***
Hari perpisahan disambut dengan baik oleh keadaan orang-orang sekolah dan begitupun dengan keadaan alamnya. Semilir angin mengiringi cerahnya sinar mentari yang semakin bergeser waktu terasa semakin panas dan menyengat, wajar saja karena bulan Juli sudah memasuki musim kemarau untuk wilayah ini. Bunga-bunga daendelion perlahan mengelupas satu persatu membuat alunan melodi yang berkesinambung dengan kelopak-kelopak putihnya yang kecil.
Dibawah sinar sang mentari yang menyengat, kursi-kursi berjejer rapi membentuk hingga empat hingga lima baris memanjang kebelakang dinaungi terop kain yang terjalin satu membentuk persegi yang luasnya mengikuti hampir luas lapangan basket disana. Pada sudut pandang pertama berdiri tegak panggung utama yang dihiasi dengan bunga-bunga yang jelas sekali berasal dari pot-pot bunga sekolah yang berjejer di setiap kelas, di atasnya terlihat sekelompok orang yang bahu membahu mengatur posisi sebuah mimbar sedang yang lainnya mengikuti dengan memegang seperangkat alat pengeras suara.
Aku duduk sembari memainkan ponselku dengan pelan menggeser-geser layar layanan pesan yang jelas saja tidak ada satupun kabar yang baru. Mengharap dibalik sinar matahari yang mengintip dari balik terop-terop yang tidak terikat sempurna, bahwa orang yang ku ingin lihat pagi ini muncul dari balik gerbang, berjalan pelan dengan senyumannya sambil melambaikan tangan. Tapi, sudahlah. Sepertinya Ia menuju tempat yang selayaknya Ia tuju, pikirku tatkala melihat kursi-kursi kosong itu terisi satu persatu hingga penuh.
Akhirnya acara pun dimulai, rasanya lama sekali saat kepala sekolah botak itu berbicara dibalik kacamatanya sembari melihat teks pidato yang harus dibacakan sambil sesekali diselingi dengan guyonan-guyonan yang tawanya dipaksakan bahkan oleh sesama bapak-bapak seusianya.
Rangkaian acara demi acara terlewati, tak terasa aku sudah duduk ditempat yang sama selama tiga jam lebih tanpa berbicara satu kata pun, persis seperti ketika gladi resih hari kemarin. Bahkan Danis yang berada disebelahku seperti menikmati dengan paksa acara itu, kerap kali kutemukan matanya mengatup-ngatup kemudian kembali melotot lagi. Pikiranku sekarang kembali menjadi liar ditambah dengan suara dari dalam lambungku merengek meminta sesuap saja makanan untuk dileburkan. Tinggal satu acara lagi yaitu penyampaian kata-kata terima kasih dari perwakilan siswa. Terima kasih hanya berjumlah dua kata dan lima suku kata mengapa perlu dibuat rangkaian paragraf yang sebegitu panjang, pikirku.
Tiba-tiba saja ditengah pidato, aku merasa seperti tersentak oleh suatu hal yang aneh. Sebuah percakapan singkat terlintas dikepalaku, sebuah janji yang harusnya ditepati kemarin. Aku pun sedikit menengok ke arah samping bahkan belakang, mencari-cari sosok Diana yang sedang fokus memperhatikan, hingga nanti aku langsung bisa menemuinya sesaat setelah acara selesai. Namun, sepertinya dia duduk ditempat lain selain disini, pikiriku setelah melenggak-lenggok mencari batang hidungnya tetapi tak ada hasil. Hingga aku pun hanya bisa menghela nafas membiarkannya dulu, jikapun dia ingat dia akan mencariku.
Segera setelah pidato terima kasih itu dibacakan, sorak sorai dan tepuk tangan yang begitu meriah dilontarkan oleh semua hadirin, dan aku yang hampir tidak menangkap kalimat-kalimat penting yang disampaikan, akan tetapi aku hanya bisa merasa aneh melihat Danis yang matanya seperti berkaca-kaca, pastilah karena pidato itu.
Akhirnya, semua hadirin dipersilahkan keluar dari tempat acara kecuali mereka yang ingin melihat penampilan dari siswa-siswa yang mendadak jadi artis di atas panggung itu. Aku pun dengan sigap membalikkan badan meninggalkan kerumunan itu menuju ke arah kerumunan yang lain mencari Diana, mulai dari memperhatikan kerumunan siswi yang bercengkrama dengan riang melepas suasana perpisahan sejenak, melepas fakta bahwa besok mereka tidak akan bertemu lagi dan memulai meniti jalan masing-masing, kemudian menuju kantin sekolah yang sama halnya dengan area lain hanya saja ditambah dengan sedikit aroma makanan, hingga menuju ke kelas dan bagian sekolah yang lumayan tenang, berharap bahwa Diana mungkin menungguku disana. Tetapi negatif, yang ada hanya bisikan angin yang kosong diantara pantulan sinar matahari.
***
Mataku perlahan terpejam lalu kemudian bangkit lagi ke posisi sadar lalu perlahan memudar, begitu seterusnya. Tak kusangka bahwa pidato-pidato ini lama sekali rasanya, aku ingin segera bertemu dengan Faiz karena janjiku waktu kemarin tak bisa kutepati. Pikiranku mulai merasa bersalah, mungkinkah Faiz marah kepadaku karena itu, kuharap tidak karena Faiz orangnya tidak seperti itu. Namun semakin lama aku larut dalam pikiranku sendiri semakin stres rasanya. Akhirnya aku pun mendongak sedikit melihat sekeliling berharap menemukan wajah Faiz yang sedang terfokus perhatiannya kepada perwakilan siswa yang sedang menyampaikan kalimat-kalimat terima kasih itu.
Ternyata cara yang ku gunakan semakin memperburuk keadaanku sendiri setelah menyadari bahwa aku tak menamukan wajah Faiz sedikitpun, bahkan model rambutnya yang khas. Akhirnya setelah acara selesai aku langsung menuju kerumunan yang sedang bercengkrama bahkan mengeluh tentang acara ini, mencari-cari. Namun tak kusangka, sebuah pemandangan yang kulihat segera merubah persepsi ku. Sesosok yang sangat familiar terlihat hampir terengah-engah dengan langkah kakinya, dia terlihat seperti orang gila yang mencari sepatunya yang hilang diantara kerumunan. Aku pun kemudian tersenyum sendiri dalam diamku, kemudian memutuskan mengikuti langkahnya membawaku.
Sosok itu kemudian berhenti di sebuah tempat duduk yang terbuat dari susunan semen yang menyerupai batu. Dia terlihat mempesona ketika angin menerpa tubuhnya dengan anggun, menatap area hijau didepannya. Jantungku perlahan berdenyut dengan perlahan-lahan menjadi cepat dan sangat cepat. Haruskah aku menemuinya, sepertinya dia tidak menyadariku disini, fikirku.
Aku pun berjalan dengan pelan dan pasti dari balik tubuhnya, sepertiga duaan dengan kecepatan denyut nadiku, perutku pun terasa aneh. Tak kusangka aku akan segugup ini bertemu dengan Faiz. Apakah ini juga yang dirasakan Faiz jika bertemu denganku, aku bertanya-tanya.
Akhirnya ku putuskan untuk duduk pada kursi batu lain yang ada disebelahnya, sambil berdeham dengan tenang.
“Ekhm” gumamku sambil mengambil posisi duduk yang nyaman
Faiz pun lumayan terkejut, matanya dengan sangar mencari sumber suara itu kemudian menjadi jinak setelah menemukanku berada disebelahnya, aku dapat mendengarnya menghela nafasnya sambil berusaha terlihat tidak memperdulikan aku, namun tak berhasil sama sekali, bibirnya kudapati tersenyum sesaat sebelum dia membalikkan badannya dariku. Aku pun sontak ikut tersenyum juga.
Sebelum itu hanya terdapat keheningan diantara kami berdua yang jelas sekali sedang mengumpulkan tenaga untuk mengawali pembicaraan. Bersama dengan semilir angin yang lebih terasa sejuk daripada dibawah terop acara, dengungan-dengungan gitar ku dengar sayup-sayup dari kejauhan begitupun dengan sorakan siswa yang sepertinya menikmati hiburan itu.
“Kau tau aku disini?” tanya Faiz
“Umm.. aku mengikutimu” jawabku pelan
Tiba-tiba saja Faiz membalikkan badannya menatapku dalam, membuat jantungku seakan-akan terjun dengan bebas ke dasar perutku.
“Mengikuti? Kau mengikutiku!?” katanya dengan keras namun tetap saja terdengar lembut
“Aa---“
“Aku mencarimu kemana-mana. Ke kantin, kerumunan, bahkan tempat yang seperti apa ini namanya, dan kau mengikutiku” katanya sebelum aku bisa meneruskan kalimatku “Jahat sekali” dia mengakhiri dengan nada yang seperti mengejekku namun tidak terasa seperti itu
“Salahmu sendiri, tidak diam saja di tempat itu agar aku bisa menemukanmu dengan cepat” balasku sedikit kecut
“Salahku, bukankah....” Faiz berhenti ditengah-tengah kalimatnya, seperti menghindari kalimat yang mungkin dia pikir akan membuatku tidak nyaman
Aku pun terdiam sejenak, mengetahui jelas apa sebenarnya yang akan dikatakan Faiz setelahnya.
“Aku minta maaf” ucapku pelan, namun Faiz hanya terdiam “Kau tidak marah kan?” Tanyaku pada diamnya, sungguh menanti jawaban yang hanya berupa satu kata itu sangat menguras tenaga ku, ya atau tidak. Faiz masih terdiam dalam pandangannya. Beberapa saat kemudian dia melihatku dengan senyum yang mengembang lalu menatapku dalam, memerosotkan lagi jantungku yang baru saja kembali ke posisinya yang semula.
“Tentu saja tidak, tolong jangan buat ini rumit lagi, aku hanya bercanda” balasnya tersenyum
Aku pun menghela nafas dengan lega mendengarnya.
“Kau tau, kemarin aku benar-benar lupa namun segera aku mengingatnya aku pun berlari menemuimu tapi kau tidak ada disana, aku mengira kau marah denganku. Malamnya pun kau tidak memberiku kabar sama sekali, dan hal itu membuat ku sangat......huh” ucapanku terhenti dengan nafas yang tersendat
“Sangat kenapa?” tanya Faiz
“Jangan buat aku mengatakannya lagi”
Dia mengangguk
“Sangat... khawatir” aku mengucapkan kalimat itu dengan perasaan malu sekali, pasalnya ini pertama kalinya aku mengatakannya secara langsung pada Faiz. Sontak aku bisa merasakan wajahku memerah, panas, dan malu.
Perlahan ku lihat Faiz, sepertinya dia sengaja menungguku melihatnya.
“Aku tidak dengar, suaramu terlalu pelan. Bisakah kau mengatakannya sekali lagi” katanya sambil menahan tawa
Aku pun hanya bisa merasa kesal terhadapnya, namun ini adalah kesal yang berbeda. Dasar laki-laki, pikirku.
“Dasar!!!” kataku sambil meninju lengannya dengan pelan
“Baiklah aku minta maaf, aku tidak marah kepadamu. Bagaimana bisa aku marah pada bidadari, ekhm... ekhm”
Ucapannya sontak membuatku terkejut, dan lagi-lagi membuat jantungku jatuh untuk kesekian kalinya, sudahlah Faiz jantung ku sudah lelah naik turun dibuatmu.
“Apa?! Aku tidak dengar?” kataku nyengir membalas perkataanya dengan kalimat yang sama
“Ah, ada pesawat melintas” katanya menunjuk ke atas lalu melihatku sambil tersenyum
Kami pun kemudian terdiam membiarkan gesekan-gesekan rumput melanjutkan pembicaraan kami yang tak masuk akal itu.
“Jadi bagaimana kelanjutannya?” tanya Faiz kemudian
Aku masih terdiam dalam mulutku tak bisa terbuka, aku pun sebenarnya tak ingin menjawab pertanyaan itu, hanya akan membuatku merasa seperti perempuan yang tidak baik memutuskan semuanya sendiri.
“Bagaimana denganmu?” tanyaku kembali
Faiz terdiam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaannya yang ku lontarkan kembali.
“Sebenarnya, aku tidak ingin memutuskan hubungan kita sekarang. Aku ingin terikat denganmu, aku ingin mengenalmu lebih, keluargamu, sifatmu, namun aku juga tidak ingin membuatmu merasa tidak nyaman dengan keadaanku yang mungkin nanti aku akan sangat jarang bisa menghubungimu, memberimu kabar, mungkin aku akan membuatmu khawatir” Jelas Faiz dengan lancar tanpa terbata-bata, seperti kalimat itu sudah Ia hafalkan sebelumnya, atau murni dari hatinya.
Aku yang mendengarkan penjelasan Faiz terdiam seribu bahasa, tak tau bagaimana caraku membalas Faiz yang sekarang terdiam menunggu. Diantara keheningan itu terdengar jelas lambaian daun kelapa yang saling bergesekan dari sawah yang berada di ujung sekolah, sinar matahari kini berjalan diatas awan yang menjadi alasnya, membuat beberapa bagian bumi menjadi lebih teduh daripada bagian lainnya.
Aku kemudian teringat kalimat bijak yang pernah kubaca disebuah situs di internet, mungkin jika ku katakan pada Faiz bisa membuatnya lebih tenang.
“Aku mengerti, aku juga sudah memikirkan apa yang akan bisa terjadi jika kita menjalin hubungan jarak jauh dan konsekuensinya. Tapi, aku mengerti. Aku siap, dengan izin-Nya aku siap. Jikalaupun kita memang ditakdirkan untuk bersama, maka kita akan bersama. Dan jika sebaliknya.... coba jangan pikirkan itu untuk sekarang” terangku tak kalah lancarnya dengan Faiz, sambil terheran akan diriku ini sejak kapan aku menjadi seorang yang terdengar bijaksana.
Faiz kemudian mendongak melihat pesawat yang melintas, akupun bisa mendengarnya makin lama makin sayup terdengar karena semakin menjauh. Dia kemudian tersenyum melihatku, bayangan awan-awan hingga pepohonan rindang tergambar didalam matanya, sejuk sekali, aku ingin waktu bisa ku hentikan, bersama dengannya.
“Baiklah jika kau bilang seperti itu, aku pun bisa mendengarmu jujur kali ini”
“Jadi menurutmu selama ini aku tidak jujur?”
“Eh, bukan seperti itu” jawabnya gelagapan
“Jadi, bagaimana?”
“Besok aku akan pergi”
Dadaku terasa ditusuku oleh sebuah pedang yang sangat tajam, tidak terlihat. Jantungku sekarang terasa jatuh tanpa mengenai dasar jatuhnya, seperti melayang-layang dalam gravitasi yang terus menariknya ke bawah. Ada sebuah hal yang sangat janggal dalam diriku, namun aku tau bahwa kalimat itu sepenuhnya benar.
“Ke—kenapa tiba-tiba sekali?” tanyaku menahan mulutku yang bergetar “Kenapa kau tidak memberitahuku lebih awal?”
“Iya, aku terlalu terbawa suasana. Aku bahkan baru ingat bahwa besok aku harus pergi” katanya sambil tersenyum. Namun kali ini senyumannya tidak lagi membuat jantungku terperosost, karena sebelumnya sudah terjatuh terlebih dahulu
“A—aku... tidak menduga” kataku mencoba membalas kalimatnya sembari menahan diriku agar tidak menangis, walaupun ingin sekali aku menangis lalu melempar diriku padanya. Namun, apa yang kudapati hanyalah diriku yang masih menjaga kodratku. “Kalau begitu jagalah dirimu baik-baik” lanjutku sambil menggigit bibirku sendiri “Ingatlah semua pesan---“
Tiba-tiba saja Faiz menangkap bahuku dan sontak membuatku terkejut, dan akhirnya dia mendapatiku yang berkaca-kaca lewat tatapannya. Namun, dia hanya tersenyum.
“Aku akan ingat semua pesanmu, dan jika kau ada waktu ingatkanlah aku agar aku tak lupa”
“Hmm, kau juga” kataku sambil mencoba membalas senyumannya
“Mari kita berjanji untuk berusaha menjadi yang terbaik”
“Hmm, kau juga” kataku mengangguk
Sang raja langit kembali memancarkan sinarnya, bersama dengan kepakan sayap dari burung-burung yang terbang sambil bernyanyi melawan arus angin yang berhembus kuat menerpa bulu-bulunya yang lembut.
Sebenarnya aku tidak ingin Faiz pergi lebih cepat, masih banyak yang ingin kuceritakan padanya, dan aku pun belum membuatkan kado perpisahan yang sesuai dengan kebutuhannya. Akan tetapi tak mengapa, aku ingin tetap disini bersamanya, sebelum Ia melangkah ke dalam zona lain yang bahkan aku pun tak bisa mencium aromanya. Aku ingin disini mendoakannya dalam diam, dalam hening, dalam teriakan bisuku.

***

-Je-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tolonglah berkomentar dengan sopan, NO SPAM!, dan dengan bahasa yang santun pula. Karena komentar anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini ke depannya.