BAB 25 SUDAH
KELAS AKHIR YA
Satu bulan telah berlalu semenjak
ulangan akhir semester untuk kenaikan kelas 3 di SMP ku ini. Tapi semuanya
masih terlihat sama saja, tembok yang tetap kusam, ruangan yang masih
remang-remang, dan bunga di taman itu belum juga kunjung berbunga.
Tidak sebenarnya untuk beberapa hal, semenjak
setelah malam itu kehidupanku mulai berubah menjadi lebih berwarna. Desa yang
kutinggali mulai terlihat lebih hijau oleh padi-padi yang tertanam di sawah
pinggir jalan itu. Dan warna tulisan SMP 1 Aikmel ini, terlihat lebih ceria
daripada biasanya.
Perasaanku telah kusampaikan kepada Sintia, sungguh
malam yang berat bagiku. Tapi hasilnya tak pernah mengecewakan. Sejujurnya aku
juga teramat malu kepada diriku sendiri. Bisa-bisanya aku menjadi seperti ini,
mungkin proses kedewasaan. Tetap berfikir positif.
“Heri!”
Suaranya seperti menghentakkanku, suara yang
akhir-akhir ini sangat teramat ingin kudengar terus terngiang di telingaku.
“Hai Sintia” aku tersenyum membalas sapaan hangatnya
pagi itu
Hatinya yang lembut tercermin dari perilakunya,
walaupun terhadapku. Tetapi seringkali aku cemas jika bersama dengannya. Aku
belum siap jika hubungan kami ini diketahui oleh orang lain khususnya oleh
guru. Tak bisa ku bayangkan bagaimana jadinya nanti.
Setidaknya aku sudah berusaha melakukan yang terbaik
tanpa harus membuatnya merasa tidak nyaman.
Akhir-akhir ini, kami lebih sering berjumpa tanpa
kami rencanakan sebelumnya. Entah itu aku hanya lewat di depan kelasnya, dan
mendapatinya tersenyum kepadaku. Atau dia yang tak sengaja lewat depan kelasku
dan mendapatiku tersenyum kepadanya.
Dan tak jarang juga kami mengobrol sedikit tentang
keadaan kelas, sekolah, pelajaran, tugas, dan semacamnya seperti
gombalan-gombalan terlarang.
Tapi lambat laun, hubungan kami pasti akan diketahui
oleh orang lain. Seperti Erlina yang merupakan sahabat baik Sintia, dan hal
yang ku takutkan memang benar-benar terjadi.
#
“Hai, Heri. Apa benar kau berpacaran dengan Sintia?”
Tiba-tiba saja Erlina datang menjumpaiku yang sedang
menikmati makan siangku di kelas pada saat jam-jam renggang sebelum les.
Tentu saja aku terkejut bukan main saat dia begitu
saja melontarkan pertanyaan inti. Tanpa sadar makanan yang ku makan tersangkut
rasanya di tenggorokanku.
“Uhuuk—Uhuuk, air!”
Sempat air mata refleks itu keluar dari mataku
karena makanan yang ku makan itu bisa dibilang lumayan pedas sensasinya,
langsung begitu saja aku teguk air botol mineral di dekatku itu.
Sesaat setelah batuk itu mereda, akhirnya aku
mencoba menenangkan diriku. Erlina yang berada di sampingku sepertinya sudah
tau aku akan berteriak. Tapi aku tahan.
“Siapa yang bilang begitu? Aku tak
pernah---kami---aku dengan Sintia hanya teman biasa, apalagi?” kataku mencoba
bersikap sewajarnya, tapi sepertinya tak berhasil
“Naah, sikapmu berkata tidak sewajarnya” kata Erlina
mencoba menggodaku
“Apa maksudmu?” sekali lagi aku berusaha tidak
terlalu menanggapi Erlina dengan melanjutkan makan siangku
“Kau jangan mencoba menyembunyikan fakta ini dariku
Heri”
“Aku tak tau apa maksudmu?”
“Lalu, apa maksudmu dengan senyum-senyum ketika kau
bertemu dengan Sintia?”
Seketika makanku ku hentikan takut aku akan tersedak
lagi. Sepertinya aku berada dalam posisi yang tidak menguntungkan, Erlina
sepertinya menangkap basah aku.
Ku palingkan bola mataku disekitar ruangan itu
mewanti-wanti ada orang lain yang mendengar obrolan kami, untunglah di sana
hanya ada kami berdua dan Abdul yang sedang memakai mengerjakan tugas
sepertinya, tapi amanlah posisinya terlampau jauh di bangku bagian belakang
untuk mendengar pembicaraan kami.
“Baiklah Erlina aku akui” kataku lemah “Tapi kami
tak benar-benar pacaran seperti yang kau pikirkan, aku hanya mengatakan pada
Sintia tentang perasaanku padanya, itu saja, aku bahkan tak pernah bertanya
padanya apa dia mau pacaran atau tidak” kataku sambil memberikan Erlina
pengertian dengan gerakan tanganku
“Oh, begitu ya. Sebaiknya kau berhati-hati Heri”
katanya kemudian
“Ah, apa maksudmu?” kenapa tiba-tiba Erlina mendadak
mengubah topik pembicaraan
“Cinta itu rumit” katanya singkat
Aku pun sedikit terpana mendengarkan katanya itu
yang terdengar bijaksana sekali, jarang sekali Erlina peduli tentang hal ini
“Eeh, kau dapat kata itu dari mana Erlina?”
“Dari ini!” katanya sambil menunjukkan padaku sebuah
buku sepertinya sebuah novel yang tidak terlalu tebal, dan sampulnya bergambar
siluet dua orang yang sedang bergandengan tangan.
Seketika aura kebijaksanaan itu terasa menghilang
dari dirinya.
#
Teet—Teet—Teeet.. bel panjang itu berbunyi seperti
biasa memenuhi gendang telingaku yang telah lama menantinya.
Semua siswa bergegas meninggalkan lantai berdebu itu
dan kembali ke pangkuan ibu mereka masing-masing.
Semuanya telah keluar, kecuali aku yang masih
berdiam diri di mejaku menulis sebuah karangan. Bukan karangan cerpen, puisi,
novel atau sebagainya. Hanya tulisan-tulisan kecil yang mengingatkan ku pada
Sintia.
Sepertinya sudah cukup, gumamku. Perutku sudah dari
tadi mengajakku untuk kembali kerumah dan segera mencicipi hidangan lezat
buatan ibu.
Saat aku berjalan sendiri di koridor remang itu,
seperti biasanya. Aku mendapati Sintia sedang duduk di depan kelasnya, mungkin
dia sedang menunggu temannya pikirku dan benar saja, seorang temannya keluar
dari ruangan kelas dan menghampirinya, lalu mereka berjalan pergi berdua. Aku
sadar sepertinya Sintia tau akan keberadaaanku di sana, sedetik sebelum dia
menghilang dari pandanganku dia sempat memalingkan pandangannya ke arahku dan
tersenyum. Lagi-lagi gejolak tubuhku menjadi-jadi seperti biasanya.
Beberapa menit setelahnya ku lanjutkan berjalan
pulang ke rumah setelah singgah di kantin sekolah untuk membeli beberapa roti
sebagai bekalku di perjalanan. Tapi anehnya aku menemukan Sintia sedang duduk
sendiri di taman depan sekolah. Mungkin dia sedang menunggu temannya lagi,
pikirku. Tapi setelah beberapa saat, tak ada seorangpun yang muncul menghampiri
Sintia, aku jadi sedikit khawatir.
Ku hampiri Sintia di sana, dia yang duduk di
tengah-tengah taman itu terlihat begitu cantik, bunga-bunga disekitarnya
terlihat memunculkan lebih banyak warna, matahari bersinar begitu terangnya
namun tak terasa panas sama sekali padahal waktu itu menunjukkan pukul satu
siang.
“Apa, yang kau lakukan di sini Sintia?” kataku
menghampirinya
Sepertinya Sintia tidak menyadari aku datang dari
tadi, dia lekas-lekas menutup buku yang Ia sedang tulis.
“Oh, Heri. Kau mengejutkanku” katanya sambil
tersenyum
Seperti biasanya, gejolak tubuhku muncul lagi,
jantungku berdegup lebih kencang dari sebelumnya, tapi karena semuanya telah
berubah, aku juga harus merubah pandanganku terhadap Sintia.
“Maaf, maaf. Aku kira kau tau” kataku sambil
terkekeh
“Sudahlah tidak apa-apa” dia tersenyum
“Jadi apa yang kau lakukan di sini sendiri, Sintia?
Menunggu temanmu?” kataku mencoba pelan
“Tidak, aku hanya sedang ingin sendiri” katanya
pelan juga masih menatapku
Tatapan itu semakin membuatku tak bisa bergeming,
akhirnya ku palingkan pandanganku kepada rumput-rumput hijau di taman itu “Aku
kira kau tadi bersama seseorang”
“Oh, dia sudah pulang lebih dulu, di jemput orang
tuanya” katanya pelan
“Jahat sekali, Sintia ditinggalkan sendiri” kataku
mencoba bergurau
Sintia tertawa kecil mendengarnya dan akupun
tersenyum
“Jadi, maukah kau jalan pulang bersamaku?”
“!”
Sial apa yang sudah kukatakan, aku mengajaknya
pulang? Tak kusadari kalimat itu keuar begitu saja dari mulutku
“Maksudku kenapa kau tidak pulang?” “Maksudku aku
pulang dulu” aku menjadi salah tingkah dan kehilangan kata-kataku
“Boleh saja, ayo” katanya sambil tersenyum
Benarkah? Benarkah ini, Sintia mengiyakan ajakanku
yang tak kusadari, memang sungguh sebuah keajaiban bisa berjalan dengan Sintia.
Akhirnya kami berjalan berdua pulang, karena aku tau
arah jalan pulangku sama dengan arah jalan Sintia.
Namun di perjalanan pulang, kami tak mengatakan
sepatah kata apapun. Malah, aku berjalan sedikit lebih cepat dari Sintia
sehingga Ia tertinggal di belakangku. Tapi aku sadari bahwa langkahku salah,
jadinya aku berhenti menunggunya berjalan.
“Ayo” kataku pada Sintia yang ku lihat juga ikut
berhenti
Aku tersenyum padanya, dan dia membalas senyuman
itu.
“Jadi.... dimana tempatmu melanjutkan SMA, Sintia?”
kataku mengawali setelah sekian lama
“Hmm.. ku rasa di sekitar sini saja. SMA 1 mungkin
akan lebih baik” katanya kemudian
“Ooh, SMA 1 Aikmel ya, pilihan yang bagus” kataku
tidak menatapnya
“Kalau kau, Heri?”
“Hmm.. ku rasa di sekitar sini saja. SMA 1 mungkin
akan lebih baik” kataku mencoba menirukan kalimatnya
Sintia tertawa, dan caranya tertawa begitu lembut
dan terdengar damai. Aku senang bisa membuatnya tertawa, itu tandanya dia
bahagia.
“Dasar, Heri” katanya sambil tersenyum
“Hihi, maaf”
Akhirnya setelah beberapa lama kami berjalan, aku
sampai di depan rumah Sintia, rumahnya tidak begitu mewah sederhana seperti
orangnya, tapi aku yakin di dalam halaman rumah itu indah, karena aku bisa
sedikit mengintip warna-warna hijau dan merah dari balik gerbang besinya yang
berwarna hitam.
“Terima kasih ya, Heri” katanya kemudian menghadapku
Mulai lagi, gejolak ini memenuhi diriku “Ah ya, tak
apa. Aku sangat senang bisa menemanimu pulang” kataku juga menghadapnya
“Aku juga” katanya
“Kalau begitu aku harus melanjutkan perjalananku,
tinggal setengah perjalanan lagi” kataku padanya
“Kalau begitu, kau hati-hati di jalan” katanya pelan
masih menatapku
“Iya” sadar aku jika kami terlalu lama berdua
ditempat bisa jadi orang-orang yang melihat kami menjadi salah paham
“Kalau begitu aku jalan dulu, Assalamualaikum”
kataku akhirnya dan beranjak pergi
“Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh” balasnya
Begitu aku berjalan cukup jauh darinya, kusempatkan
diriku menoleh ke belakang dan kudapati Sintia belum masuk ke rumahnya, dia
masih menatapku. Aku tersenyum kemudian melambaikan tangan dan menyuruhnya
dengan cepat masuk ke rumahnya.
BAB 26 UJIAN
NASIONAL
Berhari-hari bulan-bulan berlalu.
Kehidupanku sekarang menjadi lebih terasa sempurna ketika ada Sintia di
sampingku. Hampir setiap hari kami saling menanyakan kabar dan keadaan lewat
sms, hampir setiap hari setiap kali aku mempunyai waktu senggang.
Namun, akhir-akhir ini aku sering tidak sempat
menanyakan kabarnya karena saking dekatnya ujian akhir nasional kami sebagai
kelas tiga. Tapi aku berharap Sintia mengerti kondisi, dan aku juga berpikir
seandainya jika aku terus-terusan mengirim sms kepadanya, mungkin dia akan
terganggu. Aku yakin Sintia, juga tengah mempersiapkan diri menghadapi ujian
nasional yang beberapa hari lagi akan tiba.
Akhirnya malam sebelum aku tidur aku sempatkan untuk
mengiriminya pesan penyemangat untuk ujian nasional esok harinya, dan dia pun
membalas pesanku dengan ucapan selamat dan emoticon senyum. Tiada hariku tanpa
ku membayangkan senyuman Sintia yang bisa membuatku bersemangat untuk belajar
lagi.
#
Keesokan harinya, hari yang ku tunggu-tunggu tiba
yaitu ujian nasional tingkat SMP, hari ini adalah ujian Bahasa Indonesia yang
pertama. Begitu masuk ruangan aku terkejut dengan sebuah benda yang berada di
dalam meja ujianku.
Apa ini. Pikirku. Dan seketika ku tarik
betapa terkejutnya aku melihat kunci jawaban soal ujian Bahasa Indonesia untuk
hari ini.
Aku melihat sekeliling ruangan, dan Al
ada di sana tersenyum kepadaku
“Biasa saja” katanya datar
Sepertinya aku tau maksudnya itu, dan
dia juga sepertinya paham dari gelagatku
“Maksudmu semuanya?” kataku kemudian
“Iya, semua” jawabnya
Dasar, lagi-lagi seperti di
berita-berita tahun lalu saat ditemukan kunci jawaban untuk ujian nasional.
Tapi, ya mau bagaimana lagi. Sepertinya kali ini oknum yang menaruh kunci
jawaban itu memang menginginkan yang terbaik untuk kami, dan mungkin saja dia
hanya mengetes kami untuk berlaku jujur atau tidak.
Ujian pun dimulai, pengawas itu datang
membawa beberapa berkas soal beserta lembar jawaban komputer yang kemudian di
bagikan kepada peserta ujian. Pengawas itu tidak berkata apapun selama
membagikan kami soal-soal itu, dan kamipun tak menggubris hal itu. Semua hanya
terpaku kepada apa yang ada di depan mereka.
Inilah hal yang aku paling tidak suka
dari ujian, membulatkan, mengarsir, terlalu lama, sedangkan waktu terus
berjalan dan ada setidaknya 50 soal untuk di jawab.
“Tolong mengarsir jawaban jangan terlalu
di tekan, cukup seadanya saja” kata pengawas itu akhirnya
“Iya Pak” kata kami serentak
Sudah lebih dari satu jam aku berada
dalam ruangan itu dan kurang lebih tinggal sekitar sepuluh nomor lagi aku akan
menyelesaikan soal Bahasa Indonesia ini, kebanyakan soal-soal yang ku lompati
adalah soal wacana yang teksnya begitu panjang dan menguras pikiran.
Begitu aku terfokus kepada soal itu, aku
teringat akan kunci jawaban yang ada di dalam kolong meja ku ini. Perlahan aku
masukkan tanganku untuk meraba apakah jawaban itu masih ada atau tidak. Dan
ternyata masih ada. Perlahan sekali aku menariknya hingga sisi terluar kertas
kunci jawaban itu terlihat. Namun, terlintas di pikiranku tentang kebaikan.
Akhirnya ku berpikir, mungkin tak semua jawaban ini benar.
Akhirnya aku meninggalkan kertas
terlihat saja ujungnya. Aku memperhatikan pengawas itu, namun sepertinya dia
tidak sadar apa yang ku lakukan.
Tinggal beberapa menit lagi, waktu ujian
akan berakhir dan aku tinggal menyelesaikan beberapa nomor lagi. Dan nomor ini
membuatku semakin bingung.
Akhirnya ku coba menarik kunci jawaban
itu, dan begitu tergiurnya aku melihat semua nomor itu terisi dengan abjad dari
A sampai D, niat burukku memenuhi diriku. Akhirnya aku tak bisa menahan diriku
untuk tidak memakai kunci jawaban yang belum ku tau benar atau tidak, dan
begitu aku selesai mengarsir nomor terakhir, bel itu berbunyi nyaring pertanda
ujian untuk hari ini telah selesai.
Akhirnya ku kumpulkan dengan perasaan
yang kurang nyaman, tapi bagus juga.
“Cukup membantu” kataku kemudian sesaat
setelah selesai ulangan kepada Al
“Itu hal yang biasa kau tau” katanya
kemudian
Aku berani bertaruh, Zizi yang saat ini
tidak bersama denganku dalam satu ruangan pasti sangat kegirangan untuk
mengerjakan ujian karena kunci jawabannya sudah ada.
“Bagaimana
soalnya? Aku harap kau tidak memakai kunci jawaban itu ya. Hehe” tulis ku di
ponsel dan kukirimkan kepada Sintia, mencoba mengajaknya bercanda
Akhirnya aku sampai dirumah, berbaring
di atas tempat tidurku sambil mengecek ponselku. Tetapi tidak ada balasan dari
Sintia, mungkin dia sedang tak memegang ponselnya pikirku. Akhirnya ku tulis
lagi
“Tetap semangat!
Tinggal 3 mata pelajaran lagi”
Dan beberapa lama aku menunggu, tetap
tidak ada jawaban dari Sintia. Dan aku meyakinkan diriku bahwa dia memang tidak
membawa ponsel.
“Heri, bagaimana ulanganmu?” tanya Ibuku
dari balik pintu
“Bagus bu” jawabku
“Kalau begitu ayo keluar dan makan
siang”
“Baik bu,”
#
Empat hari telah berlalu, dan ujian
nasionalpun telah selesai. Akhirnya aku bisa sedikit lebih bebas kali ini,
namun satu hal yang mengganjalku. Aku belum menerima pesan satu hurufpun dari
Sintia, ada apakah dengannya, apakah dia sibuk? Ataukah dia kurang sehat?
Hari ini aku aku sedang berada di
perpustakaan sekolah membaca buku tentang kesenian, dan rupanya di sana sedang
ada pembersihan. Beberapa siswi ditugaskan untuk merapikan buku-buku dan
membersihkan lantai. Karena aku juga berada di sana saat itu. Akupun di minta untuk
ikut serta membereskan perpustakaan itu.
Membosankan sekali, gumamku. Padahal aku
ingin membaca saja.
Ketika aku sedang terfokus membagi-bagi
buku sesuai dengan genrenya, pandanganku terfokus pada satu titik, tak ku
sangka ternyata ada Sintia yang juga ikut merapikan buku ini.
Tapi hendak aku ingin memanggilnya, dia
berdiri dan beranjak keluar dari perpustakaan itu sepertinya ingin mengambil
bulu ayam. Akupun beranjak juga dan hendak menyusul Sintia, tapi entah kenapa
dia telah menghilang begitu saja dari pandanganku.
Mungkin dia pergi ke ruang tata usaha
untuk mengambil bulu ayam, akupun tak bisa memperhatikannya berjalan karena
banyaknya siswi yang berjalan kesana kemari di luar perpustakaan.
Akhirnya setelah selesai merapikan
buku-buku itu, akupun ingin pulang karena tak ada lagi yang bisa kulakukan di
sekolah, minggu-minggu ini terasa sangat bebas karena tak belajar seperti
biasanya di dalam kelas.
Sebelum pulang, aku menyempatkan diri
dulu singgah di koperasi siswa untuk membeli segelas minuman, namun tak ku
sangka aku akan bertemu lagi dengan Sintia di sana.
Di hadapanku ada Sintia sedang
memilih-milih makanan, dia mendapatiku dan sontak akupun tersenyum melihatnya,
namun sepertinya Sintia sedang dalam keadaan yang kurang baik. Dia hanya
melihatku saja tanpa berekspresi apa-apa ataupun berkata apa-apa, lalu dia
beranjak pergi.
Kenapa, dengannya. Gumamku. Apakah dia
marah kepadaku atau seperti apa.
Aku pun duduk di depan koperasi siswa
sambil meneguk minuman yang baru saja kubeli untuk menghilangkan dahagaku. Al
pun menghampiriku di sana. Dan dia mengatakan sesuatu yang sangat tidak ingin
ku dengar.
“Sudahlah, Heri. Ikhlaskan saja Sintia”
katanya pelan
Bagaimana dia bisa tau tentang
hubunganku dan Sintia, aku yakin tak pernah memberitahukan orang lain selain
Erlina tentang hubunganku dengan Sintia, apakah Erlina yang menyebarkan. Tidak
mungkin Erlina seperti itu.
“Apa maksudmu Al? Aku tak mengerti”
kataku mencoba menyalahkan kalimatnya
“Kami tau hubunganmu dengan Sintia,
Heri. Mengaku saja”
Aku benar-benar terkejut Al bisa tau
tentang hal ini. Lama Al mencoba membujukku untuk mengakui hal itu, dan
akhirnya akupun mengakuinya.
“Baiklah, aku akui itu. Tapi bagaimana
kau bisa tau?” tanyaku penuh heran
“Ah, semua orang juga tau dari gelagatmu
Heri” katanya mengejek
“Benarkah?!”
Sepertinya selama ini aku memang begitu
egois dalam menjalin hubungan dengan seseorang, tapi mau bagaimana lagi aku tak
tau harus berbuat apa. Aku memang tak ingin hubunganku dengan Sintia diketahui
orang lain, tapi aku justru membuatnya mudah diketahui. Terima kasih Al, kau
sudah menyadarkanku.
“Mulai sekarang kau ikhlaskan saja
Sintia. Sintia itu sudah miliknya Satria”
Pelan sekali kalimat itu menyentuh
telingaku, seperti hembusan angin yang perlahan-lahan menjadi keras.
Rasanya dalam, teramat dalam. Tubuhku
bergetar hebat, jantungku mulai berdetak lebih cepat. Apa maksud Al mengatakan
hal itu, Satria? Tidak mungkin.
Aku akui memang kalimat yang dia gunakan
sangat umum sekali, tapi entah kenapa begitu mendengarnya aku langsung mengerti
apa maksudnya.
“Apa maksudmu?” kataku sambil mencoba
bersikap sewajarnya seakan hal itu bohong
“Ya, kau ikhlaskan saja. Oke?” katanya
singkat kemudian pergi dari tempat itu.
Sintia? Satria? Tidak mungkin. Maksudku
tidak mungkin Sintia melakukan hal itu, aku percaya padanya. Dan Satria, memang
mungkin Satria akhir-akhir ini jarang bicara denganku, tapi apakah itu sudah
cukup untuk ku jadikan alasan?
Selama perjalanan pulang aku terus
memikirkan hal yang dikatakan Al. Aku bersikeras tidak mau menerimanya, aku
yakin Al hanya bercanda tentang itu.
Tapi bagaimana jika benar? Semakin dalam
aku memikirkannya semakin sakit rasanya.
Hanya satu langkah yang bisa ku tempuh,
yaitu dengan bertanya kepada Sintia secara langsung. Hal ini mungkin akan
sangat beresiko daripada saat aku mengungkapkan perasaanku kepadanya dulu. Tapi
untuk kepastian, aku akan melakukannya, dan ini merupakan Ujian Nasional
sesungguhnya bagiku.
***
BAB 27 HUJAN DAN
KEJUJURAN
Malam itu akhirnya setelah aku
berpikir sekian lama, aku menelpon Sintia. Dering ponselnya berbunyi seiring
dengan pikiranku yang menolak apa yang aku pikirkan akan dikatakan oleh Sintia.
Tuut----tuuutt.. Sintia mengangkat
telponnya, seketika tubuhku langsung gemetar, jantungku lagi-lagi berpacu
dengan cepat. Dari balik teleponnya aku bisa merasakan suara nafasnya yang
teratur seakan berbisik agar aku tak menelponnya malam itu. Tapi aku harus,
supaya kepastian yang ku dapatkan memang benar-benar nyata atau tidak.
“Assalamualaikum” kataku mengawali
pembicaraan
“Waalaikumussalam warahmatullahi
wabaraktuh” balasnya kemudian
Suara Sintia terdengar tetap manis
seperti biasanya, seolah-olah tak ada apapun yang terjadi.
“Bagaimana kabarmu, Sintia?”
“Alhamdulillah baik” jawabnya pelan
“Heri?”
“Alhamdulillah baik juga” jawabku
seadanya berusaha mencoba biasa
“Tumben kau menelpon Heri, ada apa?”
nadanya terdengar lembut seperti biasa, tapi entah kenapa aku merasa seperti
disindir
“A—Aku hanya ingin mendengar suaramu saja”
jawabku mencoba membuatnya tersipu
“Hehehe, kau ada-ada saja” dia tertawa
kecil
Seperti biasanya selalu setiap kali aku
dan Sintia berbicara pasti ada saja waktu dimana kami terdiam cukup memikirkan
kata apa yang harus di ucapkan ataupun menunggu lawan bicara untuk berbicara
terlebih dahulu.
Lama kami terdiam, akhirnya aku mencoba
untuk mengutarakan maksudku yang sesungguhnya menelponnya.
“Sintia...” aku memanggilnya
“Iya?” jawabnya pelan
“Aku ingin bertanya sesuatu, boleh?”
kataku mencoba memulai
“Hmm.. Iya boleh sekali, silahkan”
katanya dengan nada yang tak biasa kali ini, sepertinya Sintia sudah mengetahui
apa yang akan kutanyakan
Ku ambil nafas panjang dan ku hembuskan
perlahan untuk menenangkan diriku.
“Aku ingin bertanya tentang kabar itu,
Sintia?” kataku lalu menelan ludah
Benar saja, Sintia sepertinya sudah
mengetahui maksudku terlihat dari tanggapannya yang diam beberapa saat.
“Apa maksudmu, Heri?” katanya
berpura-pura tidak mengerti
“Maafkan aku sebelumnya Sintia, jika
pertanyaan ini membuatmu tidak nyaman. Tapi aku hanya ingin memastikan apakah
kabar itu benar atau tidak”
“Sepertinya aku tau maksudmu Heri”
sekarang suara Sintia mendadak berubah drastis, sepertinya dia sedang
berkaca-kaca saat ini. Satu hal yang paling membuatku tidak nyaman, sepertinya
resiko yang aku pikirkan tentang hal ini memang benar
“Jadi?”
“Itu benar, Heri. Tapi---tapi aku tidak
benar-benar berniat melakukannya Heri, sungguh, ak---“
“Maaf Sintia, aku minta maaf kepadamu”
kataku memotong kalimatnya sebelum Ia bisa menyelesaikannya
“Heri, kau tak marah?”
“Marah? Tentu saja tidak, lagipula
kenapa aku harus marah?” kataku mencoba berbohong tentang keadaanku sekarang
“Benarkah? Kalau begitu kenapa kau minta
maaf?”
“Aku minta maaf padamu karena aku tidak
bisa menjadi orang yang kau inginkan, Sintia. Sepertinya aku sudah mengerti
kenapa kau melakukan ini, dan aku merasa salah, jadi maafkan aku” kataku
melemah, jantungku sedari tadi berdegup tak karuan, seakan-akan menjadi sesak
rasanya mengucapkan kalimat itu
Dia terdiam, sepertinya Sintia
mengabaikan ponselnya tergeletak sementara aku bisa mendengar lirih tangisnya
dari sini.
“Aku yang seharusnya minta maaf Heri,
bukan kau! Kau tidak pernah salah bagiku, aku yang egois, ma—maafkan aku”
suaranya tertahan
Sulit sekali menerima kenyataan ini. Dan
yang teramat sulit adalah mendengarnya menangis langsung membuat dadaku semakin
sesak, perutku semakin bergejolak. Tidak bisa ku tahan akhirnya air mataku pun
tumpah juga, namun cerdiknya aku tak bisa membuatnya tau jika aku juga
menangis.
“Kalau begitu tak ada yang perlu
disalahkan sekarang” kataku sambil menghela nafas panjang “Kau tidak salah, aku
tidak salah, begitupun keadaan. Tapi aku yakin kau melakukannya karena niat
baik, jadi aku hargai itu. Sulit memang, teramat sulit jika kita dihadapkan
pada dua pilihan yang sama. Aku mengerti itu”
“Heri, maafkan aku...hiks” sekarang
tangisnya semakin menjadi-jadi, tak kuasa aku mendengarnya lagi, seakan aku
harus pergi kesana memeluknya agar Ia tak menangis lagi
“Sudahlah, Sintia. Untuk apa kau membuang
air mata itu?” kataku mencoba menenangkannya “Kau sudah memilih jalanmu
sendiri, jadi tolong jangan berbelok arah lagi” kataku suram
“Heriiiii....”
Aku kemudian membiarkannya sementara,
mungkin dia bisa tenang. Sementara itu aku mengurung diri dibawah bantal
tidurku sembari mencoba untuk tidak bersuara menahan sakitnya sesak di dadaku
ini.
Perlahan tanpa kusadari, hujan telah
mengguyur rumahku dari luar. Petir itu seakan-akan berbisik, “aku turut
menyesal” kepadaku, baiklah akan kulepaskan semuanya malam ini sehingga tak ada
lagi penyesalan di hari esok kataku di dalam hati.
“Sudah tenang?” kataku mendapatkan
teleponnya belum dimatikan
“Su-sudah” katanya masih terisak
“Baiklah, mungkin ini akhirnya Sintia.
Setiap pertemuan pasti ada akhir bukan? Setiap ada senang pasti ada susah
bukan? Kita berdua telah melewati berbagai hal, kita senang dan sekarang
saatnya kita susah. Dan kita harus melewati hal itu tanpa terkecuali” sekarang
aku semakin bisa mengontrol apa yang harus kukatakan padanya
“Maafkan aku Heri”
“Aku sudah bilang kau tak salah”
“Tapi---“
“Walaupun kau tak salah, aku akan tetap
memaafkanmu seperti biasanya”
“Benarkah?”
“Dengan satu kondisi”
“Apa?”
“Ku mohon jangan menangis lagi, atau aku
akan menarik kata-kataku” kataku mencoba menghiburnya
Kami terdiam lagi, lama sekali. Hujan
diluar masih mengguyur, waktu menunjukkan pukul 1 dini hari tetapi kami masih
menyalakan ponsel.
“Heri?” katanya kemudian
“Iya?” jawabku
“Aku punya permintaan” katanya pelan
“Apa itu sebutkan saja”
“Aku ingin kau bernyanyi, untukku”
Dia mau aku bernyanyi? Di malam yang
basah dan gelap ini?
“Hmm.. Tidak, aku tidak mau bernyanyi
untukmu, Sintia” kataku datar
“Kenapa?”
“Tapi aku ingin bernyanyi bersamamu”
kataku pelan
Sintia terdiam, sepertinya dia
tersentuh.
“Baiklah” katanya kemudian
“Tapi sebelumnya aku juga punya
permintaan”
“Apa?”
“Setelah ini, kau tidak boleh menangis
lagi, kau tidak boleh bersedih lagi, kau hanya perlu menerima apa yang terjadi,
kau hanya perlu menerima apa pilihanmu, dan..”
Sepertinya sekarang Sintia sudah lebih
bisa menerima keadaannya sendiri daripada sebelumnya.
“Dan?” tanyanya heran
“Dan jangan lupakan aku, jangan benci
aku, terima aku sebagai teman saja. Teman biasa” kataku pelan
Sintia terdiam lagi untuk beberapa saat.
“Hiiks, Iya. Aku akan melakukannya,
Insya Allah” katanya seperti akan menangis lagi tapi, tersenyum
“Waktu terasa
semakin berlalu tinggalkan cerita tentang kita
Akan tiada lagi
kini tawamu tuk hapuskan semua sepi di hati
Begitu aku menyanyikannya sampai ke
bagian Refrain, Sintia ikut menyanyikan lagu itu sambil terisak lagi
“Ada cerita
tentang aku dan dia
Dan kita bersama
saat dulu kala
Ada cerita
tentang masa yang indah
Saat kita
berduka, saat kita tertawa”
Sesaat lagu itu telah selesai kami
nyanyikan, akhirnya aku dan Sintia lebih bisa menerima keadaan lagi setelah
ini.
“Terima kasih, Heri” katanya pelan
“Terima kasih kembali, Sintia” jawabku
pelan
Sunyi lagi terdengar, hanya suara derik
jangkrik yang berusaha memanggil temannya untuk bernyanyi di malam ini. Tanpa
kusadari ternyata hujan di luar sudah berhenti. Ku sempatkan diriku menuju
jendela dan membuka jendela itu, sekarang yang terlihat hanyalah beberapa sisa
awan hitam yang terlihat jelas mengangkasa di sekitar rembulan itu. Gelapnya
terkalahkan oleh hangatnya sinar sang rembulan.
“Hujan itu sudah berhenti, Sintia. Dan
sekarang berganti menjadi hangatnya sinar bulan” kataku pelan di ponselku
“Iya” jawabnya singkat
“Jadi mengapa kau tidak tidur saja,
relakan semua masalah itu. Dan mulailah berjalan lagi esok hari” kataku mencoba
memberikan nasehat lagi
Sintia terdiam “Baiklah, kau juga
istirahat Heri”
“Baiklah, selamat malam.
Assalamualaikum”
“Selamat malam, Waalaikumussalam
warahmatullahi wabarakatuh”
Akhirnya telepon itu aku putus, berakhir
lah hubungan kami untuk saat ini. Aku hanya bisa berharap dia selalu bisa
bahagia walaupun bukan denganku. Aku harap dia tidak tau aku selalu
mendoakannya di sini.
***
EPILOG
Hari
perpisahan sekarang telah tiba, kursi-kursi itu tersusun rapi berbaris
berbanjar dan bersaf di bawah naungan sebuah terop besar yang bisa menghalau
sinar matahari yang panas, menghadap sebuah panggung sederhana yang bertuliskan
“Selamat Jalan Kakak-Kakakku, Do’a Kami Selalu Menyertaimu”.
Tak ku sangka tahun lalu aku yang
membuat tulisan itu untuk perpisahan kakak kelas kami, dan sekarang tulisan itu
dibuat untuk perpisahan kami.
Singkat sekali rasanya, dan kuharap aku
bisa membuat kenangan bahagia selama masa-masa terakhirku di SMP, dan aku
berhasil. Aku sekarang akrab dengan beberapa guru, teman-teman dan sahabat yang
selalu ada bersamaku. Aku bahagia bisa menjalin hubungan seperti itu. Tapi,
satu hal yang kurang dan bisa membuat hal lainnya terasa kurang berwarna, malam
itu. Kelam, sepi dan sunyi itu ditemani oleh guyuran hujan dan langkah-langkah
petir berlari menyambar pelan bagaikan meriam yang ditaruhkan peredam
didalamnya.
Sintia sudah tak disini lagi, namun aku
masih bisa melihat wajahnya yang polos dari kejauhan, dia tertawa, bersama
teman-temannya. Aku mendapati diriku tersenyum seorang diri melihat pemandangan
itu. Doaku sekarang telah dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa. Dan aku harap akan
seperti ini selanjutnya.
Walaupun aku tak bisa
membuat kenanganku sempurna pada masa ini, dan akupun tak terlalu berharap
tinggi. Selanjutnya pada langkah yang selanjutnya akan kucoba membuat seluruh
kenanganku berarti sehingga aku takkan menyesal setelahnya. Aku akan pergi
berpetualang, mencari jalan yang tersulit hingga membuatku menjadi dewasa yang
utuh.P.S. : Aku sedang mengerjakan bagian keduanya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tolonglah berkomentar dengan sopan, NO SPAM!, dan dengan bahasa yang santun pula. Karena komentar anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini ke depannya.