30 Januari 2018

Daun-Daun yang Terbang Mencari Angin (Bab 25-E)



BAB 25 SUDAH KELAS AKHIR YA

            Satu bulan telah berlalu semenjak ulangan akhir semester untuk kenaikan kelas 3 di SMP ku ini. Tapi semuanya masih terlihat sama saja, tembok yang tetap kusam, ruangan yang masih remang-remang, dan bunga di taman itu belum juga kunjung berbunga.
Tidak sebenarnya untuk beberapa hal, semenjak setelah malam itu kehidupanku mulai berubah menjadi lebih berwarna. Desa yang kutinggali mulai terlihat lebih hijau oleh padi-padi yang tertanam di sawah pinggir jalan itu. Dan warna tulisan SMP 1 Aikmel ini, terlihat lebih ceria daripada biasanya.
Perasaanku telah kusampaikan kepada Sintia, sungguh malam yang berat bagiku. Tapi hasilnya tak pernah mengecewakan. Sejujurnya aku juga teramat malu kepada diriku sendiri. Bisa-bisanya aku menjadi seperti ini, mungkin proses kedewasaan. Tetap berfikir positif.
“Heri!”
Suaranya seperti menghentakkanku, suara yang akhir-akhir ini sangat teramat ingin kudengar terus terngiang di telingaku.
“Hai Sintia” aku tersenyum membalas sapaan hangatnya pagi itu
Hatinya yang lembut tercermin dari perilakunya, walaupun terhadapku. Tetapi seringkali aku cemas jika bersama dengannya. Aku belum siap jika hubungan kami ini diketahui oleh orang lain khususnya oleh guru. Tak bisa ku bayangkan bagaimana jadinya nanti.
Setidaknya aku sudah berusaha melakukan yang terbaik tanpa harus membuatnya merasa tidak nyaman.
Akhir-akhir ini, kami lebih sering berjumpa tanpa kami rencanakan sebelumnya. Entah itu aku hanya lewat di depan kelasnya, dan mendapatinya tersenyum kepadaku. Atau dia yang tak sengaja lewat depan kelasku dan mendapatiku tersenyum kepadanya.
Dan tak jarang juga kami mengobrol sedikit tentang keadaan kelas, sekolah, pelajaran, tugas, dan semacamnya seperti gombalan-gombalan terlarang.
Tapi lambat laun, hubungan kami pasti akan diketahui oleh orang lain. Seperti Erlina yang merupakan sahabat baik Sintia, dan hal yang ku takutkan memang benar-benar terjadi.
#
“Hai, Heri. Apa benar kau berpacaran dengan Sintia?”
Tiba-tiba saja Erlina datang menjumpaiku yang sedang menikmati makan siangku di kelas pada saat jam-jam renggang sebelum les.
Tentu saja aku terkejut bukan main saat dia begitu saja melontarkan pertanyaan inti. Tanpa sadar makanan yang ku makan tersangkut rasanya di tenggorokanku.
“Uhuuk—Uhuuk, air!”
Sempat air mata refleks itu keluar dari mataku karena makanan yang ku makan itu bisa dibilang lumayan pedas sensasinya, langsung begitu saja aku teguk air botol mineral di dekatku itu.
Sesaat setelah batuk itu mereda, akhirnya aku mencoba menenangkan diriku. Erlina yang berada di sampingku sepertinya sudah tau aku akan berteriak. Tapi aku tahan.
“Siapa yang bilang begitu? Aku tak pernah---kami---aku dengan Sintia hanya teman biasa, apalagi?” kataku mencoba bersikap sewajarnya, tapi sepertinya tak berhasil
“Naah, sikapmu berkata tidak sewajarnya” kata Erlina mencoba menggodaku
“Apa maksudmu?” sekali lagi aku berusaha tidak terlalu menanggapi Erlina dengan melanjutkan makan siangku
“Kau jangan mencoba menyembunyikan fakta ini dariku Heri”
“Aku tak tau apa maksudmu?”
“Lalu, apa maksudmu dengan senyum-senyum ketika kau bertemu dengan Sintia?”
Seketika makanku ku hentikan takut aku akan tersedak lagi. Sepertinya aku berada dalam posisi yang tidak menguntungkan, Erlina sepertinya menangkap basah aku.
Ku palingkan bola mataku disekitar ruangan itu mewanti-wanti ada orang lain yang mendengar obrolan kami, untunglah di sana hanya ada kami berdua dan Abdul yang sedang memakai mengerjakan tugas sepertinya, tapi amanlah posisinya terlampau jauh di bangku bagian belakang untuk mendengar pembicaraan kami.
“Baiklah Erlina aku akui” kataku lemah “Tapi kami tak benar-benar pacaran seperti yang kau pikirkan, aku hanya mengatakan pada Sintia tentang perasaanku padanya, itu saja, aku bahkan tak pernah bertanya padanya apa dia mau pacaran atau tidak” kataku sambil memberikan Erlina pengertian dengan gerakan tanganku
“Oh, begitu ya. Sebaiknya kau berhati-hati Heri” katanya kemudian
“Ah, apa maksudmu?” kenapa tiba-tiba Erlina mendadak mengubah topik pembicaraan
“Cinta itu rumit” katanya singkat
Aku pun sedikit terpana mendengarkan katanya itu yang terdengar bijaksana sekali, jarang sekali Erlina peduli tentang hal ini “Eeh, kau dapat kata itu dari mana Erlina?”
“Dari ini!” katanya sambil menunjukkan padaku sebuah buku sepertinya sebuah novel yang tidak terlalu tebal, dan sampulnya bergambar siluet dua orang yang sedang bergandengan tangan.
Seketika aura kebijaksanaan itu terasa menghilang dari dirinya.
#
Teet—Teet—Teeet.. bel panjang itu berbunyi seperti biasa memenuhi gendang telingaku yang telah lama menantinya.
Semua siswa bergegas meninggalkan lantai berdebu itu dan kembali ke pangkuan ibu mereka masing-masing.
Semuanya telah keluar, kecuali aku yang masih berdiam diri di mejaku menulis sebuah karangan. Bukan karangan cerpen, puisi, novel atau sebagainya. Hanya tulisan-tulisan kecil yang mengingatkan ku pada Sintia.
Sepertinya sudah cukup, gumamku. Perutku sudah dari tadi mengajakku untuk kembali kerumah dan segera mencicipi hidangan lezat buatan ibu.
Saat aku berjalan sendiri di koridor remang itu, seperti biasanya. Aku mendapati Sintia sedang duduk di depan kelasnya, mungkin dia sedang menunggu temannya pikirku dan benar saja, seorang temannya keluar dari ruangan kelas dan menghampirinya, lalu mereka berjalan pergi berdua. Aku sadar sepertinya Sintia tau akan keberadaaanku di sana, sedetik sebelum dia menghilang dari pandanganku dia sempat memalingkan pandangannya ke arahku dan tersenyum. Lagi-lagi gejolak tubuhku menjadi-jadi seperti biasanya.
Beberapa menit setelahnya ku lanjutkan berjalan pulang ke rumah setelah singgah di kantin sekolah untuk membeli beberapa roti sebagai bekalku di perjalanan. Tapi anehnya aku menemukan Sintia sedang duduk sendiri di taman depan sekolah. Mungkin dia sedang menunggu temannya lagi, pikirku. Tapi setelah beberapa saat, tak ada seorangpun yang muncul menghampiri Sintia, aku jadi sedikit khawatir.
Ku hampiri Sintia di sana, dia yang duduk di tengah-tengah taman itu terlihat begitu cantik, bunga-bunga disekitarnya terlihat memunculkan lebih banyak warna, matahari bersinar begitu terangnya namun tak terasa panas sama sekali padahal waktu itu menunjukkan pukul satu siang.
“Apa, yang kau lakukan di sini Sintia?” kataku menghampirinya
Sepertinya Sintia tidak menyadari aku datang dari tadi, dia lekas-lekas menutup buku yang Ia sedang tulis.
“Oh, Heri. Kau mengejutkanku” katanya sambil tersenyum
Seperti biasanya, gejolak tubuhku muncul lagi, jantungku berdegup lebih kencang dari sebelumnya, tapi karena semuanya telah berubah, aku juga harus merubah pandanganku terhadap Sintia.
“Maaf, maaf. Aku kira kau tau” kataku sambil terkekeh
“Sudahlah tidak apa-apa” dia tersenyum
“Jadi apa yang kau lakukan di sini sendiri, Sintia? Menunggu temanmu?” kataku mencoba pelan
“Tidak, aku hanya sedang ingin sendiri” katanya pelan juga masih menatapku
Tatapan itu semakin membuatku tak bisa bergeming, akhirnya ku palingkan pandanganku kepada rumput-rumput hijau di taman itu “Aku kira kau tadi bersama seseorang”
“Oh, dia sudah pulang lebih dulu, di jemput orang tuanya” katanya pelan
“Jahat sekali, Sintia ditinggalkan sendiri” kataku mencoba bergurau
Sintia tertawa kecil mendengarnya dan akupun tersenyum
“Jadi, maukah kau jalan pulang bersamaku?”
“!”
Sial apa yang sudah kukatakan, aku mengajaknya pulang? Tak kusadari kalimat itu keuar begitu saja dari mulutku
“Maksudku kenapa kau tidak pulang?” “Maksudku aku pulang dulu” aku menjadi salah tingkah dan kehilangan kata-kataku
“Boleh saja, ayo” katanya sambil tersenyum
Benarkah? Benarkah ini, Sintia mengiyakan ajakanku yang tak kusadari, memang sungguh sebuah keajaiban bisa berjalan dengan Sintia.
Akhirnya kami berjalan berdua pulang, karena aku tau arah jalan pulangku sama dengan arah jalan Sintia.
Namun di perjalanan pulang, kami tak mengatakan sepatah kata apapun. Malah, aku berjalan sedikit lebih cepat dari Sintia sehingga Ia tertinggal di belakangku. Tapi aku sadari bahwa langkahku salah, jadinya aku berhenti menunggunya berjalan.
“Ayo” kataku pada Sintia yang ku lihat juga ikut berhenti
Aku tersenyum padanya, dan dia membalas senyuman itu.
“Jadi.... dimana tempatmu melanjutkan SMA, Sintia?” kataku mengawali setelah sekian lama
“Hmm.. ku rasa di sekitar sini saja. SMA 1 mungkin akan lebih baik” katanya kemudian
“Ooh, SMA 1 Aikmel ya, pilihan yang bagus” kataku tidak menatapnya
“Kalau kau, Heri?”
“Hmm.. ku rasa di sekitar sini saja. SMA 1 mungkin akan lebih baik” kataku mencoba menirukan kalimatnya
Sintia tertawa, dan caranya tertawa begitu lembut dan terdengar damai. Aku senang bisa membuatnya tertawa, itu tandanya dia bahagia.
“Dasar, Heri” katanya sambil tersenyum
“Hihi, maaf”
Akhirnya setelah beberapa lama kami berjalan, aku sampai di depan rumah Sintia, rumahnya tidak begitu mewah sederhana seperti orangnya, tapi aku yakin di dalam halaman rumah itu indah, karena aku bisa sedikit mengintip warna-warna hijau dan merah dari balik gerbang besinya yang berwarna hitam.
“Terima kasih ya, Heri” katanya kemudian menghadapku
Mulai lagi, gejolak ini memenuhi diriku “Ah ya, tak apa. Aku sangat senang bisa menemanimu pulang” kataku juga menghadapnya
“Aku juga” katanya
“Kalau begitu aku harus melanjutkan perjalananku, tinggal setengah perjalanan lagi” kataku padanya
“Kalau begitu, kau hati-hati di jalan” katanya pelan masih menatapku
“Iya” sadar aku jika kami terlalu lama berdua ditempat bisa jadi orang-orang yang melihat kami menjadi salah paham
“Kalau begitu aku jalan dulu, Assalamualaikum” kataku akhirnya dan beranjak pergi
“Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh” balasnya
Begitu aku berjalan cukup jauh darinya, kusempatkan diriku menoleh ke belakang dan kudapati Sintia belum masuk ke rumahnya, dia masih menatapku. Aku tersenyum kemudian melambaikan tangan dan menyuruhnya dengan cepat masuk ke rumahnya.


                                                                                  ***



BAB 26 UJIAN NASIONAL
            Berhari-hari bulan-bulan berlalu. Kehidupanku sekarang menjadi lebih terasa sempurna ketika ada Sintia di sampingku. Hampir setiap hari kami saling menanyakan kabar dan keadaan lewat sms, hampir setiap hari setiap kali aku mempunyai waktu senggang.
Namun, akhir-akhir ini aku sering tidak sempat menanyakan kabarnya karena saking dekatnya ujian akhir nasional kami sebagai kelas tiga. Tapi aku berharap Sintia mengerti kondisi, dan aku juga berpikir seandainya jika aku terus-terusan mengirim sms kepadanya, mungkin dia akan terganggu. Aku yakin Sintia, juga tengah mempersiapkan diri menghadapi ujian nasional yang beberapa hari lagi akan tiba.
Akhirnya malam sebelum aku tidur aku sempatkan untuk mengiriminya pesan penyemangat untuk ujian nasional esok harinya, dan dia pun membalas pesanku dengan ucapan selamat dan emoticon senyum. Tiada hariku tanpa ku membayangkan senyuman Sintia yang bisa membuatku bersemangat untuk belajar lagi.
#
Keesokan harinya, hari yang ku tunggu-tunggu tiba yaitu ujian nasional tingkat SMP, hari ini adalah ujian Bahasa Indonesia yang pertama. Begitu masuk ruangan aku terkejut dengan sebuah benda yang berada di dalam meja ujianku.
Apa ini. Pikirku. Dan seketika ku tarik betapa terkejutnya aku melihat kunci jawaban soal ujian Bahasa Indonesia untuk hari ini.
Aku melihat sekeliling ruangan, dan Al ada di sana tersenyum kepadaku
“Biasa saja” katanya datar
Sepertinya aku tau maksudnya itu, dan dia juga sepertinya paham dari gelagatku
“Maksudmu semuanya?” kataku kemudian
“Iya, semua” jawabnya
Dasar, lagi-lagi seperti di berita-berita tahun lalu saat ditemukan kunci jawaban untuk ujian nasional. Tapi, ya mau bagaimana lagi. Sepertinya kali ini oknum yang menaruh kunci jawaban itu memang menginginkan yang terbaik untuk kami, dan mungkin saja dia hanya mengetes kami untuk berlaku jujur atau tidak.
Ujian pun dimulai, pengawas itu datang membawa beberapa berkas soal beserta lembar jawaban komputer yang kemudian di bagikan kepada peserta ujian. Pengawas itu tidak berkata apapun selama membagikan kami soal-soal itu, dan kamipun tak menggubris hal itu. Semua hanya terpaku kepada apa yang ada di depan mereka.
Inilah hal yang aku paling tidak suka dari ujian, membulatkan, mengarsir, terlalu lama, sedangkan waktu terus berjalan dan ada setidaknya 50 soal untuk di jawab.
“Tolong mengarsir jawaban jangan terlalu di tekan, cukup seadanya saja” kata pengawas itu akhirnya
“Iya Pak” kata kami serentak
Sudah lebih dari satu jam aku berada dalam ruangan itu dan kurang lebih tinggal sekitar sepuluh nomor lagi aku akan menyelesaikan soal Bahasa Indonesia ini, kebanyakan soal-soal yang ku lompati adalah soal wacana yang teksnya begitu panjang dan menguras pikiran.
Begitu aku terfokus kepada soal itu, aku teringat akan kunci jawaban yang ada di dalam kolong meja ku ini. Perlahan aku masukkan tanganku untuk meraba apakah jawaban itu masih ada atau tidak. Dan ternyata masih ada. Perlahan sekali aku menariknya hingga sisi terluar kertas kunci jawaban itu terlihat. Namun, terlintas di pikiranku tentang kebaikan. Akhirnya ku berpikir, mungkin tak semua jawaban ini benar.
Akhirnya aku meninggalkan kertas terlihat saja ujungnya. Aku memperhatikan pengawas itu, namun sepertinya dia tidak sadar apa yang ku lakukan.
Tinggal beberapa menit lagi, waktu ujian akan berakhir dan aku tinggal menyelesaikan beberapa nomor lagi. Dan nomor ini membuatku semakin bingung.
Akhirnya ku coba menarik kunci jawaban itu, dan begitu tergiurnya aku melihat semua nomor itu terisi dengan abjad dari A sampai D, niat burukku memenuhi diriku. Akhirnya aku tak bisa menahan diriku untuk tidak memakai kunci jawaban yang belum ku tau benar atau tidak, dan begitu aku selesai mengarsir nomor terakhir, bel itu berbunyi nyaring pertanda ujian untuk hari ini telah selesai.
Akhirnya ku kumpulkan dengan perasaan yang kurang nyaman, tapi bagus juga.
“Cukup membantu” kataku kemudian sesaat setelah selesai ulangan kepada Al
“Itu hal yang biasa kau tau” katanya kemudian
Aku berani bertaruh, Zizi yang saat ini tidak bersama denganku dalam satu ruangan pasti sangat kegirangan untuk mengerjakan ujian karena kunci jawabannya sudah ada.

“Bagaimana soalnya? Aku harap kau tidak memakai kunci jawaban itu ya. Hehe” tulis ku di ponsel dan kukirimkan kepada Sintia, mencoba mengajaknya bercanda
Akhirnya aku sampai dirumah, berbaring di atas tempat tidurku sambil mengecek ponselku. Tetapi tidak ada balasan dari Sintia, mungkin dia sedang tak memegang ponselnya pikirku. Akhirnya ku tulis lagi
“Tetap semangat! Tinggal 3 mata pelajaran lagi”
Dan beberapa lama aku menunggu, tetap tidak ada jawaban dari Sintia. Dan aku meyakinkan diriku bahwa dia memang tidak membawa ponsel.
“Heri, bagaimana ulanganmu?” tanya Ibuku dari balik pintu
“Bagus bu” jawabku
“Kalau begitu ayo keluar dan makan siang”
“Baik bu,”
#
Empat hari telah berlalu, dan ujian nasionalpun telah selesai. Akhirnya aku bisa sedikit lebih bebas kali ini, namun satu hal yang mengganjalku. Aku belum menerima pesan satu hurufpun dari Sintia, ada apakah dengannya, apakah dia sibuk? Ataukah dia kurang sehat?
Hari ini aku aku sedang berada di perpustakaan sekolah membaca buku tentang kesenian, dan rupanya di sana sedang ada pembersihan. Beberapa siswi ditugaskan untuk merapikan buku-buku dan membersihkan lantai. Karena aku juga berada di sana saat itu. Akupun di minta untuk ikut serta membereskan perpustakaan itu.
Membosankan sekali, gumamku. Padahal aku ingin membaca saja.
Ketika aku sedang terfokus membagi-bagi buku sesuai dengan genrenya, pandanganku terfokus pada satu titik, tak ku sangka ternyata ada Sintia yang juga ikut merapikan buku ini.
Tapi hendak aku ingin memanggilnya, dia berdiri dan beranjak keluar dari perpustakaan itu sepertinya ingin mengambil bulu ayam. Akupun beranjak juga dan hendak menyusul Sintia, tapi entah kenapa dia telah menghilang begitu saja dari pandanganku.
Mungkin dia pergi ke ruang tata usaha untuk mengambil bulu ayam, akupun tak bisa memperhatikannya berjalan karena banyaknya siswi yang berjalan kesana kemari di luar perpustakaan.
Akhirnya setelah selesai merapikan buku-buku itu, akupun ingin pulang karena tak ada lagi yang bisa kulakukan di sekolah, minggu-minggu ini terasa sangat bebas karena tak belajar seperti biasanya di dalam kelas.
Sebelum pulang, aku menyempatkan diri dulu singgah di koperasi siswa untuk membeli segelas minuman, namun tak ku sangka aku akan bertemu lagi dengan Sintia di sana.
Di hadapanku ada Sintia sedang memilih-milih makanan, dia mendapatiku dan sontak akupun tersenyum melihatnya, namun sepertinya Sintia sedang dalam keadaan yang kurang baik. Dia hanya melihatku saja tanpa berekspresi apa-apa ataupun berkata apa-apa, lalu dia beranjak pergi.
Kenapa, dengannya. Gumamku. Apakah dia marah kepadaku atau seperti apa.
Aku pun duduk di depan koperasi siswa sambil meneguk minuman yang baru saja kubeli untuk menghilangkan dahagaku. Al pun menghampiriku di sana. Dan dia mengatakan sesuatu yang sangat tidak ingin ku dengar.
“Sudahlah, Heri. Ikhlaskan saja Sintia” katanya pelan
Bagaimana dia bisa tau tentang hubunganku dan Sintia, aku yakin tak pernah memberitahukan orang lain selain Erlina tentang hubunganku dengan Sintia, apakah Erlina yang menyebarkan. Tidak mungkin Erlina seperti itu.
“Apa maksudmu Al? Aku tak mengerti” kataku mencoba menyalahkan kalimatnya
“Kami tau hubunganmu dengan Sintia, Heri. Mengaku saja”
Aku benar-benar terkejut Al bisa tau tentang hal ini. Lama Al mencoba membujukku untuk mengakui hal itu, dan akhirnya akupun mengakuinya.
“Baiklah, aku akui itu. Tapi bagaimana kau bisa tau?” tanyaku penuh heran
“Ah, semua orang juga tau dari gelagatmu Heri” katanya mengejek
“Benarkah?!”
Sepertinya selama ini aku memang begitu egois dalam menjalin hubungan dengan seseorang, tapi mau bagaimana lagi aku tak tau harus berbuat apa. Aku memang tak ingin hubunganku dengan Sintia diketahui orang lain, tapi aku justru membuatnya mudah diketahui. Terima kasih Al, kau sudah menyadarkanku.
“Mulai sekarang kau ikhlaskan saja Sintia. Sintia itu sudah miliknya Satria”
Pelan sekali kalimat itu menyentuh telingaku, seperti hembusan angin yang perlahan-lahan menjadi keras.
Rasanya dalam, teramat dalam. Tubuhku bergetar hebat, jantungku mulai berdetak lebih cepat. Apa maksud Al mengatakan hal itu, Satria? Tidak mungkin.
Aku akui memang kalimat yang dia gunakan sangat umum sekali, tapi entah kenapa begitu mendengarnya aku langsung mengerti apa maksudnya.
“Apa maksudmu?” kataku sambil mencoba bersikap sewajarnya seakan hal itu bohong
“Ya, kau ikhlaskan saja. Oke?” katanya singkat kemudian pergi dari tempat itu.

Sintia? Satria? Tidak mungkin. Maksudku tidak mungkin Sintia melakukan hal itu, aku percaya padanya. Dan Satria, memang mungkin Satria akhir-akhir ini jarang bicara denganku, tapi apakah itu sudah cukup untuk ku jadikan alasan?
Selama perjalanan pulang aku terus memikirkan hal yang dikatakan Al. Aku bersikeras tidak mau menerimanya, aku yakin Al hanya bercanda tentang itu.
Tapi bagaimana jika benar? Semakin dalam aku memikirkannya semakin sakit rasanya.
Hanya satu langkah yang bisa ku tempuh, yaitu dengan bertanya kepada Sintia secara langsung. Hal ini mungkin akan sangat beresiko daripada saat aku mengungkapkan perasaanku kepadanya dulu. Tapi untuk kepastian, aku akan melakukannya, dan ini merupakan Ujian Nasional sesungguhnya bagiku.

***


BAB 27 HUJAN DAN KEJUJURAN
            Malam itu akhirnya setelah aku berpikir sekian lama, aku menelpon Sintia. Dering ponselnya berbunyi seiring dengan pikiranku yang menolak apa yang aku pikirkan akan dikatakan oleh Sintia.
Tuut----tuuutt.. Sintia mengangkat telponnya, seketika tubuhku langsung gemetar, jantungku lagi-lagi berpacu dengan cepat. Dari balik teleponnya aku bisa merasakan suara nafasnya yang teratur seakan berbisik agar aku tak menelponnya malam itu. Tapi aku harus, supaya kepastian yang ku dapatkan memang benar-benar nyata atau tidak.
“Assalamualaikum” kataku mengawali pembicaraan
“Waalaikumussalam warahmatullahi wabaraktuh” balasnya kemudian
Suara Sintia terdengar tetap manis seperti biasanya, seolah-olah tak ada apapun yang terjadi.
“Bagaimana kabarmu, Sintia?”
“Alhamdulillah baik” jawabnya pelan “Heri?”
“Alhamdulillah baik juga” jawabku seadanya berusaha mencoba biasa
“Tumben kau menelpon Heri, ada apa?” nadanya terdengar lembut seperti biasa, tapi entah kenapa aku merasa seperti disindir
“A—Aku hanya ingin mendengar suaramu saja” jawabku mencoba membuatnya tersipu
“Hehehe, kau ada-ada saja” dia tertawa kecil
Seperti biasanya selalu setiap kali aku dan Sintia berbicara pasti ada saja waktu dimana kami terdiam cukup memikirkan kata apa yang harus di ucapkan ataupun menunggu lawan bicara untuk berbicara terlebih dahulu.
Lama kami terdiam, akhirnya aku mencoba untuk mengutarakan maksudku yang sesungguhnya menelponnya.
“Sintia...” aku memanggilnya
“Iya?” jawabnya pelan
“Aku ingin bertanya sesuatu, boleh?” kataku mencoba memulai
“Hmm.. Iya boleh sekali, silahkan” katanya dengan nada yang tak biasa kali ini, sepertinya Sintia sudah mengetahui apa yang akan kutanyakan
Ku ambil nafas panjang dan ku hembuskan perlahan untuk menenangkan diriku.
“Aku ingin bertanya tentang kabar itu, Sintia?” kataku lalu menelan ludah
Benar saja, Sintia sepertinya sudah mengetahui maksudku terlihat dari tanggapannya yang diam beberapa saat.
“Apa maksudmu, Heri?” katanya berpura-pura tidak mengerti
“Maafkan aku sebelumnya Sintia, jika pertanyaan ini membuatmu tidak nyaman. Tapi aku hanya ingin memastikan apakah kabar itu benar atau tidak”
“Sepertinya aku tau maksudmu Heri” sekarang suara Sintia mendadak berubah drastis, sepertinya dia sedang berkaca-kaca saat ini. Satu hal yang paling membuatku tidak nyaman, sepertinya resiko yang aku pikirkan tentang hal ini memang benar
“Jadi?”
“Itu benar, Heri. Tapi---tapi aku tidak benar-benar berniat melakukannya Heri, sungguh, ak---“
“Maaf Sintia, aku minta maaf kepadamu” kataku memotong kalimatnya sebelum Ia bisa menyelesaikannya
“Heri, kau tak marah?”
“Marah? Tentu saja tidak, lagipula kenapa aku harus marah?” kataku mencoba berbohong tentang keadaanku sekarang
“Benarkah? Kalau begitu kenapa kau minta maaf?”
“Aku minta maaf padamu karena aku tidak bisa menjadi orang yang kau inginkan, Sintia. Sepertinya aku sudah mengerti kenapa kau melakukan ini, dan aku merasa salah, jadi maafkan aku” kataku melemah, jantungku sedari tadi berdegup tak karuan, seakan-akan menjadi sesak rasanya mengucapkan kalimat itu
Dia terdiam, sepertinya Sintia mengabaikan ponselnya tergeletak sementara aku bisa mendengar lirih tangisnya dari sini.
“Aku yang seharusnya minta maaf Heri, bukan kau! Kau tidak pernah salah bagiku, aku yang egois, ma—maafkan aku” suaranya tertahan
Sulit sekali menerima kenyataan ini. Dan yang teramat sulit adalah mendengarnya menangis langsung membuat dadaku semakin sesak, perutku semakin bergejolak. Tidak bisa ku tahan akhirnya air mataku pun tumpah juga, namun cerdiknya aku tak bisa membuatnya tau jika aku juga menangis.
“Kalau begitu tak ada yang perlu disalahkan sekarang” kataku sambil menghela nafas panjang “Kau tidak salah, aku tidak salah, begitupun keadaan. Tapi aku yakin kau melakukannya karena niat baik, jadi aku hargai itu. Sulit memang, teramat sulit jika kita dihadapkan pada dua pilihan yang sama. Aku mengerti itu”
“Heri, maafkan aku...hiks” sekarang tangisnya semakin menjadi-jadi, tak kuasa aku mendengarnya lagi, seakan aku harus pergi kesana memeluknya agar Ia tak menangis lagi
“Sudahlah, Sintia. Untuk apa kau membuang air mata itu?” kataku mencoba menenangkannya “Kau sudah memilih jalanmu sendiri, jadi tolong jangan berbelok arah lagi” kataku suram
“Heriiiii....”
Aku kemudian membiarkannya sementara, mungkin dia bisa tenang. Sementara itu aku mengurung diri dibawah bantal tidurku sembari mencoba untuk tidak bersuara menahan sakitnya sesak di dadaku ini.
Perlahan tanpa kusadari, hujan telah mengguyur rumahku dari luar. Petir itu seakan-akan berbisik, “aku turut menyesal” kepadaku, baiklah akan kulepaskan semuanya malam ini sehingga tak ada lagi penyesalan di hari esok kataku di dalam hati.
“Sudah tenang?” kataku mendapatkan teleponnya belum dimatikan
“Su-sudah” katanya masih terisak
“Baiklah, mungkin ini akhirnya Sintia. Setiap pertemuan pasti ada akhir bukan? Setiap ada senang pasti ada susah bukan? Kita berdua telah melewati berbagai hal, kita senang dan sekarang saatnya kita susah. Dan kita harus melewati hal itu tanpa terkecuali” sekarang aku semakin bisa mengontrol apa yang harus kukatakan padanya
“Maafkan aku Heri”
“Aku sudah bilang kau tak salah”
“Tapi---“
“Walaupun kau tak salah, aku akan tetap memaafkanmu seperti biasanya”
“Benarkah?”
“Dengan satu kondisi”
“Apa?”
“Ku mohon jangan menangis lagi, atau aku akan menarik kata-kataku” kataku mencoba menghiburnya
Kami terdiam lagi, lama sekali. Hujan diluar masih mengguyur, waktu menunjukkan pukul 1 dini hari tetapi kami masih menyalakan ponsel.
“Heri?” katanya kemudian
“Iya?” jawabku
“Aku punya permintaan” katanya pelan
“Apa itu sebutkan saja”
“Aku ingin kau bernyanyi, untukku”
Dia mau aku bernyanyi? Di malam yang basah dan gelap ini?
“Hmm.. Tidak, aku tidak mau bernyanyi untukmu, Sintia” kataku datar
“Kenapa?”
“Tapi aku ingin bernyanyi bersamamu” kataku pelan
Sintia terdiam, sepertinya dia tersentuh.
“Baiklah” katanya kemudian
“Tapi sebelumnya aku juga punya permintaan”
“Apa?”
“Setelah ini, kau tidak boleh menangis lagi, kau tidak boleh bersedih lagi, kau hanya perlu menerima apa yang terjadi, kau hanya perlu menerima apa pilihanmu, dan..”
Sepertinya sekarang Sintia sudah lebih bisa menerima keadaannya sendiri daripada sebelumnya.
“Dan?” tanyanya heran
“Dan jangan lupakan aku, jangan benci aku, terima aku sebagai teman saja. Teman biasa” kataku pelan
Sintia terdiam lagi untuk beberapa saat.
“Hiiks, Iya. Aku akan melakukannya, Insya Allah” katanya seperti akan menangis lagi tapi, tersenyum
“Waktu terasa semakin berlalu tinggalkan cerita tentang kita
Akan tiada lagi kini tawamu tuk hapuskan semua sepi di hati
Begitu aku menyanyikannya sampai ke bagian Refrain, Sintia ikut menyanyikan lagu itu sambil terisak lagi
“Ada cerita tentang aku dan dia
Dan kita bersama saat dulu kala
Ada cerita tentang masa yang indah
Saat kita berduka, saat kita tertawa”
Sesaat lagu itu telah selesai kami nyanyikan, akhirnya aku dan Sintia lebih bisa menerima keadaan lagi setelah ini.
“Terima kasih, Heri” katanya pelan
“Terima kasih kembali, Sintia” jawabku pelan
Sunyi lagi terdengar, hanya suara derik jangkrik yang berusaha memanggil temannya untuk bernyanyi di malam ini. Tanpa kusadari ternyata hujan di luar sudah berhenti. Ku sempatkan diriku menuju jendela dan membuka jendela itu, sekarang yang terlihat hanyalah beberapa sisa awan hitam yang terlihat jelas mengangkasa di sekitar rembulan itu. Gelapnya terkalahkan oleh hangatnya sinar sang rembulan.
“Hujan itu sudah berhenti, Sintia. Dan sekarang berganti menjadi hangatnya sinar bulan” kataku pelan di ponselku
“Iya” jawabnya singkat
“Jadi mengapa kau tidak tidur saja, relakan semua masalah itu. Dan mulailah berjalan lagi esok hari” kataku mencoba memberikan nasehat lagi
Sintia terdiam “Baiklah, kau juga istirahat Heri”
“Baiklah, selamat malam. Assalamualaikum”
“Selamat malam, Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh”
Akhirnya telepon itu aku putus, berakhir lah hubungan kami untuk saat ini. Aku hanya bisa berharap dia selalu bisa bahagia walaupun bukan denganku. Aku harap dia tidak tau aku selalu mendoakannya di sini.

***



EPILOG
            Hari perpisahan sekarang telah tiba, kursi-kursi itu tersusun rapi berbaris berbanjar dan bersaf di bawah naungan sebuah terop besar yang bisa menghalau sinar matahari yang panas, menghadap sebuah panggung sederhana yang bertuliskan “Selamat Jalan Kakak-Kakakku, Do’a Kami Selalu Menyertaimu”.
Tak ku sangka tahun lalu aku yang membuat tulisan itu untuk perpisahan kakak kelas kami, dan sekarang tulisan itu dibuat untuk perpisahan kami.
Singkat sekali rasanya, dan kuharap aku bisa membuat kenangan bahagia selama masa-masa terakhirku di SMP, dan aku berhasil. Aku sekarang akrab dengan beberapa guru, teman-teman dan sahabat yang selalu ada bersamaku. Aku bahagia bisa menjalin hubungan seperti itu. Tapi, satu hal yang kurang dan bisa membuat hal lainnya terasa kurang berwarna, malam itu. Kelam, sepi dan sunyi itu ditemani oleh guyuran hujan dan langkah-langkah petir berlari menyambar pelan bagaikan meriam yang ditaruhkan peredam didalamnya.
Sintia sudah tak disini lagi, namun aku masih bisa melihat wajahnya yang polos dari kejauhan, dia tertawa, bersama teman-temannya. Aku mendapati diriku tersenyum seorang diri melihat pemandangan itu. Doaku sekarang telah dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa. Dan aku harap akan seperti ini selanjutnya.
Walaupun aku tak bisa membuat kenanganku sempurna pada masa ini, dan akupun tak terlalu berharap tinggi. Selanjutnya pada langkah yang selanjutnya akan kucoba membuat seluruh kenanganku berarti sehingga aku takkan menyesal setelahnya. Aku akan pergi berpetualang, mencari jalan yang tersulit hingga membuatku menjadi dewasa yang utuh.





 P.S. : Aku sedang mengerjakan bagian keduanya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tolonglah berkomentar dengan sopan, NO SPAM!, dan dengan bahasa yang santun pula. Karena komentar anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini ke depannya.