27 Januari 2018

Daun-Daun yang Terbang Mencari Angin (Bab 22-24)



BAB 22 YANG PERTAMA

            “Baiklah anak-anak, cukup untuk sore ini silahkan kembali ke rumah masing-masing dan kita akan lanjutkan minggu depan” “Oh, dan jangan lupa teruslah berlatih sendiri di waktu luang kalian”
Suara serak-serak yang sekarang semakin terdengar renta dan sedikit lemah namun bertenaga itu sontak memenuhi ruangan dan menghentikan segala pembicaraan di dalam ruangan remang itu.
Pak Subardan sekaligus pelatih kami menghentikan kegiatan ekstra musik kami sore itu, sedikit terlalu cepat memang. Sepertinya pria renta itu ada kegiatan lain yang lebih penting daripada duduk termenung di sini.
Dan akhirnya kamipun beranjak dari ruangan itu sembari menenteng beberapa buah gitar dan keyboard yang biasa kami gunakan untuk berlatih.
“Hei, Heri. Apa kau ada waktu sore ini?” kata Fian membisikku kecil
“Hmm, entahlah ada apa tiba-tiba saja?”
“Tak ada sesuatu yang penting” katanya sambil nyengir “Aku hanya tak punya sedikit waktu luang di rumah, jadi kau mau ke rumahku sebentar?”
“Benarkah? Orang tuamu kemana?” tanyaku kepadanya
“Ayahku belum pulang kerja, Ibuku masih di kota sana”
“Aku mengerti kau begitu menderita Ian?” kataku sedikit mencoba bergurau
“Yah, ironis memang” katanya mencoba menuruti akting orang yang sedang sedih

“Ah, bagaimana kalau kau ke rumahku saja, itu sama artinya dengan yang tadi bukan?” kataku akhirnya setelah berpikir agak lama
“Heeh, kalau memang sama untuk apa kau mempertimbangkan kembali Her?”
“Bukan begitu, aku hanya belum bisa membawa motor sendiri. Apa jadinya kalau aku terlalu larut dirumahmu?”
“Tenang saja, masalah seperti itu gampang” dia nyengir lagi dengan gigi khasnya yang bagian atasnya sedikit maju ke depan “Nanti aku antar kau pulang”
“Hmm... okelah”
Sebenarnya aku tak terlalu yakin sebelumnya ke rumah Fian, karena alasan ku tadi. Ditambah Ibuku juga tak begitu mengizinkanku untuk pulang sekolah terlalu larut.
Oh iya ada handphone. Akhirnya ku bulatkan saja tekadku ke rumah Fian, hitung-hitung menambah keakraban pikirku, nanti aku bisa mengirim pesan ke rumah.
“Jadi, ini rumahmu?” kataku setelah kami berhenti di sebuah bangunan kecil
“Tak begitu mewah memang, tapi mungkin saja jika kau masuk ke dalam kau akan merasakan hangatnya kekeluargaan” katanya tersenyum
Ku perhatikan dengan seksama bangunan itu, tak terlalu besar memang. Sederhana cukup untuknya.
Ukurannya sekitar 5x4 meter, dengan dinding luar yang berwarna biru muda seperti langit yang sedang cerah-cerahnya namun di beberapa sisi di samping kiri dan kanan warnanya terlihat luntur, sepertinya rumah ini sudah lama sekali belum direnovasi. Atapnya dari genteng semen yang hampir menjadi hitam karena sudah lama terkena panas dan dingin hujan. Di sekelilingnya terdapat rumah-rumah tetangga lain dan jalan raya di depannya.
“Ah, ini sangat bagus menurutku Fian” kataku mencoba memujinya
“Eee, tak usah sungkan-sungkan. Ayo masuk”
Dan kamipun masuk ke dalam rumah itu. Setelah Fian membuka pintu depan dengan kunci yang terselip di balik keset rumahnya dan dengan suara derik pintu yang rapuh, aku melihat sebuah ruangan yang gelap dengan hanya satu jalan sinar yang masuk ke dalamnya namun sepertinya sangat jauh di dalam rumah.
Namun setelah sekitar satu menit barulah aku bisa melihat dengan jelas beberapa buah kursi empuk yang biasanya disediakan untuk tamu dengan sebuah rak televisi dengan televisi kecil di atasnya dan sebuah mesin kontrol ditengahnya dan dua buah sound di kiri dan kanan.
“Masuklah, ayo. Tunggu aku sebentar, aku berganti dulu” katanya sambil bergegas menuju kamarnya
Akupun duduk di bawah kursi itu, tepatnya di atas karpet yang berada di bawah kursi. Aku mengambil ponselku dan mulai mengetik pesan untuk orang-orang dirumah untuk berjaga-jaga agar mereka tak khawatir.
Triing.... suara ponselku berbunyi sekali tanda ada pesan masuk.
Wah cepat sekali pikirku, padahal belum ada pemberitahuan bahwa pesan yang ku kirim kepada mereka telah diterima.
Namun setelah ku buka pesan masuk itu, bukan Ibuku yang membalas pesanku namun sebuah nama dari temanku yang paling ku kenal.
Dari Sintia...
“Assalamualaikum” bunyi pesannya
Aku sungguh bingung, bukan membingungkan kenapa Sintia tiba-tiba mengirimiku pesan singkat namun bingung kenapa aku bingung saat Sintia mengirim pesan singkat itu.
Sebentar aku tak memperhatikan Fian yang berdiri di sampingku namun sedikit jauh sehingga Ia mustahil bisa melihat pesan yang ada di ponselku.
“Hei, Heri. Apa kau mau makan sesuatu?” kata Fian menyapa
“Aah,, tak perlu repot-repot Ian, aku masih kenyang” kataku pelan sambil memegang perutku
“Kau ini, terlalu mustahil untukmu berbohong” katanya datar
“Maksudmu?”
“Aku tau kau, langka sekali pergi keluar kelas hanya untuk membeli makanan di sekolah”
“Benarkah?” “Kurasa kau benar” kataku sambil nyengir
“Kalau begitu ayo, aku ada mie instan jika kau suka
“Hmm,, baiklah” aku sebenarnya memang sedikit lapar, jadinya ini merupakan tawaran yang bagus
Ah, aku hampir lupa pesan dari Sintia.
Rasa bingung itu kembali melanda, hingga tak tau aku harus menulis kata selain “Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh” kepadanya
Sedikit tanganku sedikit gemetar saat menulis pesan itu. Apakah aku gemetar karena lapar ataukah.... ya, karena lapar pasti.
Akhirnya ku ikuti Fian menuju dapur rumahnya yang berada di belakang rumah.
Kamipun menunggu satu sama lain untuk mendidihkan air untuk mie instan kami, kebetulan tempat kami memasak air hanya ada satu, jadi aku dipersilahkan lebih dulu oleh Fian.
Setelah siap semuanya, aku dan Fian menuju ruang utama tempat aku duduk tadi untuk makan di sana, dan dengan lahapnya Fian langsung menyantap mienya itu.
“Hei, Ian. Baca do’a dulu”
“Astaga” katanya sambil menelan makanannya dan kemudian membaca Bismillah dengan suara yang kecil
Dasar Fian, pikirku.
Tiba-tiba ketika kami sedang asik menyantap makan siang kami walaupun hanya semangkuk mie instan, ponselku berdering lagi.
Pasti dari Sintia lagi pikirku....
“Wah, Heri. Aku tak tau kau punya ponsel” kata Fian melirikku
“Ah, hanya ponsel untuk kepentingan sekolah Ian” kataku pelan
“Coba kulihat” katanya tanpa aba-aba langsung merebut ponselku, sontak akupun terkejut
“Dari siapa?” katanya pelan
Benar saja, dia akan membaca pesan itu.

“Khem.........” Fian berdeham keras dan aku sangat mengerti apa maksudnya itu
“Ini minum” kataku menyodorkan gelas padanya sambil mencoba memutar fakta yang ada
“Ternyata Sintia...” dia tersenyum lebar sekali
“Uhuk...” mie yang aku telan hampir saja kukeluarkan kembali mendengar Fian berbicara seperti itu “Apa maksudmu?”
“Nah, bohong lagi kan? Hahaha” katanya menggodaku
Tanpa aba-aba pula aku langsung mengambil ponselku kembali.
Licik Fian, dia lebih dulu membaca pesan itu daripada pemiliknya.
Akupun membuka isi pesan itu. Dan memang benar dari Sintia, sontak bingung itu datang lagi namun aku tak ingin terang-terangan di depan orang lain, aku hanya mencoba bertingkah biasa saja.
“Heri sedang apa?” begitu isi pesan yang kuterima dari Sintia
Wah, dia bertanya kali ini. Apa yang harus ku jawab, akhirnya aku mencoba jujur.
“Aku sedang duduk-duduk dengan Fian” jawabku singkat
“Sudah makan?” katanya tak lama lagi
“Ini sedang makan sama Fian juga” kataku menjawab lagi
“Hee,, tadi, kau berkata sedang duduk saja, sekarang makan” ponselku berbunyi lagi
Sial, akhirnya karena begitu mengganggu ku matikan suara ponselku dan kembali melihat pesannya
“Maksudku, kami sedang duduk sambil makan” kataku mencoba menjelaskan walaupun ku tak berharap akan menjadi jelas
Fian hanya termangut-mangut sambil sesekali berdeham dan melirik ke arahku.
“Kalau begitu lanjutkan makannya” katanya kemudian
“Kalau Sintia, sudah makan?” tanyaku lagi
Namun karena aku begitu terganggu dengan tingkah laku Fian, aku tak melihat ponselku lagi, dan karena suaranya aku matikan aku tak tau apakah Sintia membalas pesan itu atau tidak.

“Jadi, Sintia?” katanya setelah meneguk segelas air disebelahnya
“Apa maksudmu?” kataku mencoba mengelak
“Ayolah, Heri.. kau tak perlu malu” katanya mencoba membujukku bicara
Namun aku hanya diam melanjutkan makan siangku walaupun mie di mangkukku sudah tinggal kuah saja.
“Kau tau, aku juga pernah seperti itu. Anak kota” katanya sambil berbisik kepadaku namun dengan suara seperti orang yang bukan sedang berbisik
“Benarkah? Jadi bagaimana?” kataku meluruskan
“Haha, sebelum aku bercerita.. kau lebih dulu harus bercerita kepadaku” katanya nyengir
Aaah,, Fian lagi-lagi berhasil menjebakku

“Baiklah,” kataku setelah agak lama terdiam
“Nah begitu lebih bagus”
“Kau yang pertama yang ku beritau, dimana orang lain hanya menebak-nebak sisanya”
“Oh ya? Wah aku merasa tersanjung” katanya mencoba bergurau

“Aku sebenarnya menyukai Sintia” kataku setelah lama sekali mengambil nafas, seakan-akan paru-paruku tak ada batas udaranya
Untuk mengucapkan kalimat seperti itu aku membutuhkan lebih dari seratus ribu ton keberanian walaupun hanya dengan sahabatku ini.
“Benarkah? Jadi apakah Sintia tau?” Fian bertanya lagi
“Tentu saja tidak! Tapi, iya.. tidak... aku tak tau” kataku lemah
“Heri-Heri... aku begitu merasa kasihan denganmu” katanya kembali memperlihatkan giginya yang bagian atasnya maju sedikit “Jadi bagaimana awalnya?”
“Aku tak tau Ian, aku sungguh bingung. Perasaan ini tak pernah ku rasakan sebelumnya, dan perasaan ini datang dengan sendirinya”
“Benarkah,, sungguh pengalaman dari seorang anak yang labil” katanya sok dewasa, bukannya menanggapi dengan serius, Fian hanya mencoba bercanda dengan menggodaku sejak tadi

“Mungkin, sepertinya aku suka sifatnya, tingkah-lakunya, senyumnya” kataku akhirnya mulai berani berbicara masalah ini bersama Fian saja
“Jangan mungkin, kau tak boleh labil dalam hal seperti ini Heri” kata Fian menegaskan
“Baiklah, aku suka sifatnya, tingkah-lakunya, senyumnya” kataku kemudian
“Haha, begitu lebih baik” dia tersenyum “Hanya itu?”
“Entahlah, mungkin masih banyak lagi namun aku tau tau bagaimana harus mengatakannya”
“Yaah, mungkin lagi” katanya nyengir
“Aku tak tau pasti!”
“Jadi, apakah Sintia tau bahwa kau menyukainya?”
“Entahlah, mungkin tidak” kataku melemah lagi
“Kalau begitu coba saja katakan padanya” kata Fian kemudian
“Kau bodoh, bagaimana mungkin aku mengatakan hal seperti itu pada Sintia”
“Memangnya kenapa?”
“Aku takut aku akan merusak hubunganku yang sekarang dengan dia”
“Yah, kalau begitu.. lakukanlah apa yang menurutmu baik untuk dilakukan. Ingatlah Heri, ini merupakan salah satu jalan menuju kedewasaan”
“Benarkah?”
“Iya, dan itu juga sudah merupaka hukum alam, yang kita tak bisa mengganggunya”
“Kurasa kau ada benarnya”
Kamipun terdiam sejenak sampai aku melihat angka di jam dinding milik Fian,
“Astaga sudah pukul setengah enam, apakah kau bisa mengantarku pulang sekarang Ian?” kataku sedikti panik
“Ah, iya boleh saja. Ayo. Kapan-kapan kita bisa bercerita lagi, dan aku akan memberitahumu tentang anak kota itu”
“Terserah kaulah, ayo”
“Hehe” dia nyengir lebar

***



BAB 23 PERTEMUAN YANG TAK TERDUGA

            Blarrr!!
“Astaga!? Apa!?”
Aku langsung terkejut mendengar suara pukulan meja seperti ledakan bom bali yang baru saja meledak itu memenuhi gendang telingaku.
“Hei Heri mengapa kau tidur di sini?” sapa sebuah suara kepadaku yang masih setengah sadar
“Oh, Hai Erlina” jawabku dengan mata yang masih terbuka setengah
“Ada apa denganmu, kau sakit?” tanyanya pelan
“Ah tidak...”
Tanpa menyelesaikan kalimatku aku bergegas keluar dari tempat itu menuju sebuah keran air yang ada di depan sana.
Tak lama aku membasuh wajahku, aku pun merasa sedikit agak lumayan. Didepanku kulihat dua sosok perempuan yang sedang berbincang-bincang menghadap satu sama lain yang aku tak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka perdebatkan.
“Hai, Erlina.. maaf aku tertidur dan....”
Lagi-lagi tanpa bisa menyelesaikan kalimatku aku tertahan oleh sebuah batu kerikil yang besar teramat sangat, sepertinya menghadang tenggorokanku untuk mengeluarkan kalimat lebih jauh lagi.
Sintia? Tak mungkin pikirku. Sintia ada di sini bersama Erlina teman kelasku?
Erlina memang teman sekelasku. Kami sebelumnya belum saling kenal walaupun sesaat kami tau bahwa kami berasal dari desa yang sama. Hanya saja mungkin dia juga jarang keluar rumah sehingga aku tak begitu mengenalnya.
Erilina bertubuh sedikit agak pendek, sebelas-dua belas dengan perempuan yang ada di dekatnya itu, Sintia. Ah, tidak. Seperti sepuluh-dua belas, kurang lebih. Seorang yang pandai berbicara, jika berbicara sangat cepat sekali hingga pernah aku mendengarnya mengucapkan kalimat ‘kau dari mana?” kurang dari setengah detik.
“Sintia?” kataku sontak
“Hai Heri?” jawabnya pelan
Sebelumnya aku tak yakin bahwa yang kulihat adalah Sintia, namun entah mengapa juga, lidahku seakan-akan sudah mengetahui nama dari wanita itu. Tetapi setelah kepalaku sudah sepenuhnya sadar, aku yakin bahwa itu memang Sintia.
“Kau tidur di sini?” katanya pelan
“Ah, tidak juga. Benarkah?”
Sesaat aku merasa ruang kelasku itu menjadi gelap gulita tanpa ada cahaya sedikitpun. Bukan karena awan sedang menghalangi sinar sang mentari, namun lebih seperti kosong.
“Aku melihatmu tertidur pulas sekali di sini”
“Benarkah? Sebenarnya aku tak begitu ingat detailnya. Yang pasti sebelumnya aku sedang belajar untuk persiapan ulangan semester akhir besok” kataku sambil menggaruk-garuk kepalaku
“Benarkah? Kau begitu rajin” katanya sambil tersenyum tetapi aku hanya masih nyengir lebar sekali, bukan karena hal lain namun, aku tak bisa mengucapkan kata apa yang harus ku katakan “Tapi, jika bisa kau jangan terlalu memaksakan dirimu, jangan sampai karena terlalu banyak belajar kau membuat dirimu sakit” katanya pelan
Sontak, kalimat itu membuat sekujur tubuhku melemas, rasanya aku bisa jatuh kapan saja. Tanganku gemetar, isi perutku terasa bergejolak. Sintia akhir-akhir ini begitu menaruh perhatian kepadaku.
Saat itu aku benar-benar tak bisa melakukan apa-apa lagi selain menatap matanya yang begitu membuatku tenang, seperti aliran sungai yang berada di samping bawah rumahku. Tenang, mengalir mengikuti arus yang tenang dengan sesekali ikan-ikan mujair kecil itu melompat menelan serangga yang melintas di atasnya.
“Mengapa kau tak seperti Erlina saja, dia tak pernah menghawatirkan tentang ulangan semester” katanya mencoba bergurau
“Asal kau tau, Sintia. Dirumah, jika aku tak belajar satu menitpun pasti akan kena marah dari Ibuku”
Ah, yang benar saja aku hampir melupakan Erlina yang berada di sana juga.
“Benarkah? Kau bohong” kataku membalas lawakannya
“Kau bukan aku Heri, mana mungkin kau tau” balas Erlina dengan wajah sinis
“Ah, benar. Kenapa kalian belum pulang?” kataku kepada mereka berdua namun dengan pandangan ke arah Erlina tentunya dengan sebuah alasan
“Kami baru saja ingin pulang, namun aku meninggalkan bukuku di kelas, dan tanpa sengaja kami menemukan seperti orang tak bernyawa di sini” kata Erlina
“Wah, sungguh mengharukan” kataku pelan
“Kau sendiri mengapa tak pulang Her?”
“Ku rasa aku telah memberitahumu bahwa aku sedang belajar untuk semester nanti”
“Kau tak bilang padaku, kau hanya bilang pada Sintia saja”
“Benarkah? Yah, setidaknya kau juga mendengarkan”
Sesaat kami berdebat tentang hal kecil itu, aku bisa melihat Sintia menyembunyikan tawa dibalik wajahnya di sana. Aku bisa melihat senyumnya yang khas itu lagi membuatku ingin menyunggingkan senyum juga.
“Aah,, aku tau. Ada apa dengan kalian?” katanya pelan
“Apa maksudmu?” jawabku berpura-pura bodoh, walaupun aku tau apa maksud dari pertanyaan Erlina
“Apa kalian, berpacaran?”
“TIDAK!” aku dan Sintia hampir berbarengan menyebutkan kata itu dengan lantang, sontak kamipun memandang satu sama lain lagi dan mata kami pun bertemu lagi.
“Nah, ternyata benar” balas Erlina, aku bisa melihat dengan jelas wajah setan pengganggu di sana
“Jadi, seperti apa? Bagaimana kalian bisa bertemu?” katanya dengan muka yang penuh rasa ingin tau
“Apa lagi yang kau bicarakan Erlina, lebih baik kau memikirkan tentang ulangan semester minggu depan daripada hal seperti ini” kataku sinis padanya
Ingin tau urusan orang lain saja. Pikirku dalam hati.
“Kau begitu jahat Heri, aku akan bertanya pada Sintia saja kalau begitu” katanya sambil sengaja memalingkan pandangannya kali ini “Sintia......”
“Aah,, sepertinya ini sudah hampir terlalu sore. Aku yakin aku telah di khawatirkan oleh orang tuaku”
Sedetik sebelum Erlina menyelesaikan kalimatnya, Sintia sontak langsung menarik tangannya untuk pergi dari tempat itu. Sepertinya Sintia juga merasakan hal yang sama.
Sebenarnya aku ingin sekali Erlina menanyakan hal itu dan Sintia menjawabnya jujur, namun apa daya. Sepertinya kekuatan yang kumiliki sekarang belum mampu menopang tubuh pemiliknya sendiri.
Mungkin suatu saat. Pikirku.
“Sampai jumpa Heri, kami pulang dulu” kata Sintia sambil menarik tangan Erlina sebelah, dan sebelahnya lagi melambai kepadaku yang masih terpaku diam.
Rasanya seperti mimpi. Walaupun hanya beberapa menit saja, aku merasa sangat senang sekali bisa bertemu tanpa sengaja dengan Sintia sore ini.
Dia tersenyum, dia tertawa, dan dia berbicara kepadaku.
“Ah, iya.. hati-hati” kataku kemudian

                                                                                  ***


BAB 24 ULANGAN AKHIR SEMESTER

            Perlahan namun pasti, sedikit demi sedikit matahari itu terbangun dari kasurnya yang ramah dan panjang.
Waktu menunjukkan masih pukul 5 pagi, aku masih terdiam kosong di depan meja belajarku sejak beberapa menit lalu.
Ini kan hanya ujian akhir biasa, sama seperti kelas 1 tahun lalu, pikirku. Namun rasanya seperti ada yang tidak beres.
Untuk pertama kalinya aku merasa seperti bosan dengan buku-buku dan kertas fotocopy di atas meja itu, berantakan. Aku pun kembali membenamkan tubuhku menuju atas tempat tidur yang sedikit agak dingin karena terkena hembusan angin pagi yang masuk melalui celah-celah jendela kamarku.
Kring!! Sontak sebuah suara dering ponsel menggangguku, siapa sih yang mengirim pesan sepagi ini?
”Semoga hari ini semua berjalan lancar dan kita diberikan kemudahan dalam menjawab soal oleh Allah. SUKSES!”
Begitu aku selesai membaca pesan itu, aku langsung tersadar dari lamunanku. Sintia, pagi-pagi sekali, tak seperti biasanya.
Aku pun tanpa sadar tersenyum-senyum sendiri kemudian membalas pesan itu seadanya.
Aku selalu bertanya heran kepada diriku selama ini, mengapa setiap kali aku terhubung dengan Sintia, rasanya seperti ada sesuatu yang berbeda di sekelilingku, berbeda namun sangat nyaman sekali, seolah-olah perbedaan itu membuat semuanya tak kekurangan.
Apakah yang dikatakan Satria itu benar, apakah yang ditanyakan Erlina itu benar, apakah yang kami lakukan adalah suatu kebohongan besar, apakah ini disebut cinta?
“Heri, kau tidak sekolah hari ini?”
Tersadar, Ibuku sedikit berteriak dari luar memanggilku untuk mandi
“Iya, bu. Aku sekolah” sahutku
“Maka begitu, keluarlah!” katanya sedikit marah
Ah yang benar saja, sudah hampir satu jam aku di sana. Aku pun langsung menyeret handuk di atas pintu itu kemudian berlari.
“Aku berangkat bu, Assalamualaikum”
Pagi itu terasa berwarna sekali, entah kenapa. Apakah karena dari diriku atau dari orang lain, entahlah aku merasa begitu labil hari ini, tapi yasudahlah.
#
Benar saja ulangan kali ini seperti biasanya. Tak ada yang begitu menarik, Aziz yang selalu memintaiku jawaban selalu seperti biasanya.
Ternyata tak begitu buruk kelihatannya, soal-soal semester yang kuperkirakan tak sesulit kisi-kisi yang diberikan.
Lama sekali rasanya, hampir aku bosan melakukan hal ini. Apakah aku bisa melakukannya atau tidak. Ujian akhir ini sama sekali seperti ujian biasanya, kertas-kertas soal yang berbau menyengat baru keluar dari cetakan semerta menggebu di hidungku.
Pagi ini Bahasa Indonesia, kalimat-kalimat soalnya yang mencapai 15 lembar untuk 50 nomor itupun perlahan ku baca. Dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah, hingga akhirnya aku membaca perintah soalnya dan tersadar bahwa aku harus membaca ulang dari huruf awal lagi untuk memecahkan soal itu.
“Ssst... Heri! Nomor 37?!”
Satu jam telah berlalu dan aku pun menyelesaikan semua soal itu tanpa tertinggal satu biji untuk dihitamkan. Malas tapi rasanya untuk berdiri menggeser kursi menuju ke depan meja pengawas yang masih tertidur pulas, yah walaupun jaraknya hanya satu deret meja dariku.
Akhirnya ku pilih untuk diam saja memandang awan-awan putih bercorak biru kehitaman di langit itu yang tertutup oleh bayangan-bayangan daun nangka yang tersinari oleh matahari.
Seketika lamunanku semakin menjadi-jadi. Terpaku nyawaku duduk di atas kursi yang semakin panas itu. Di depanku ku lihat Sintia tengah berjalan dengan temannya. Dia tertawa kecil dengan caranya sendiri membuat jantungku bergetar, tersenyum aku sendiri melihat hal itu.
“Aww!”
Tersadar aku dari lamunanku itu, dengan cepat scene Sintia berganti menjadi tangan Zizi yang tengah mencubit lenganku. Dia pasti dari tadi sudah menunggu responku yang tiada memperhatikannya.
“B C C E B C A C C D E E D” kataku padanya kemudian beranjak mengumpulkan pekerjaanku yang rupanya telah terbangun dari tidur panjangnya.
“Ah, selesai juga”
Akhirnya, untuk hari ini selesai sudah ulangan untuk sementara, semua siswa mesti menyiapkan materi untuk ulangan selanjutnya besok.
Sementara aku berjalan pelan dengan kedua kakiku yang terasa pegal karena duduk satu jam lebih di dalam ruangan pengap itu, langkahku terhenti. Sekarang apa yang terjadi pada waktu tadi seperti terjadi begitu saja di depan mataku.
Aku terpaku menatap senyum penuh makna itu tepat di depan wajahku sendiri, darahku mengalir deras bagai perosotan yang sering dimainkan oleh anak-anak yang tertawa riang di kolam renang dekat bangunan tua sana.
“Bagaimana hari ini?” katanya pelan
Terkejut aku bukan main, Ibu. Gejolak perutku meronta tak karuan. Banyak sekali hal yang ku khawatirkan pada diriku pada saat-saat seperti ini. Apakah bibirku terlihat pucat, apakah keterkejutanku membuatnya penasaran dan pergi, apakah bagian belakang seragamku tak keluar, apakah tali sepatuku sudah terikat kuat hingga aku bisa berlari terjun ke dalam kolam air belakang sekolah, apakah nafasku tak berbau hingga aku bisa menjawab pertanyaan kecil itu.
Pandangan kami masih terikat, dan akhirnya aku berusaha menenangkan diriku. Mulai sekarang aku harus berjanji agar tidak bertingkah aneh lagi di depannya.
“Ba---aaik saja” sial ludahku tertelan sebelum aku bisa menyelesaikan kata itu
“Sintia bagaimana?” tanyaku balik
“Hmmm... bagus juga” dia tersenyum “Ah ya, aku ke koperasi dulu, papan ujian ku rusak” katanya sambil berlalu
“Ah iya” kataku pelan
Semuanya begitu nyata, cara senyuman itu dia melambai saat melangkahkan kakinya menjauh dariku. Di samping kiri kanannya hanya terdapat tembok yang memisahkan kami dengan siswa yang masih fokus dengan kewajiban mereka sampai nomor 50.
Entah kenapa ruangan itu agak remang karena sedikit cahaya yang mengenainya, namun hangat dan lebih berwarna dari biasanya, mungin ini yang disebut cinta. Iya, benar sekali aku yakin akan hal itu.
#
Aku tak bisa berpikir apakah yang Ia rasakan sama ataukah beda dengan apa yang ku rasakan saat ini.
Langkahku tak bisa tertahan berjalan menuju ujung ke ujung ruangan kamarku seiring dengan pikiranku tentang gadis itu.
Buku-buku itu ku geletakkan begitu saja tanpa ingin sama sekali membuka dan membacanya. Satu yang ku inginkan hanyalah agar pikiran ini tetap merasuki keinginanku.
Apa yang bisa ku lakukan, ini adalah pertama kalinya aku merasakan hal seperti ini, hingga akhirnya aku teringat kata Kak Rozi waktu latihan pramuka “Usia-usia kalian sekarang memang sangat rentang dan labil jadi kakak memaafkan sikap kalian jika seperti ini”
Ternyata ini yang bernama labil, dan ini yang bernama cinta pertama.
Pikiranku masih terpaku pada Sintia. Mungkin aku harus mencoba. Mungkin aku harus bertanya padanya langsung untuk memastikan perasaan yang terus meniupku ini.
Tapi akan sangat beresiko jika aku bertanya padanya langsung.
Pikiranku masih menggebu-gebu saat ini. Tanya tidak-tanya tidak, hal itu terus terulang dan terulang di dalam kepalaku.
Baiklah aku harus mencoba, kemungkinannya memang 50-50, tapi aku harus menerima keputusan itu.
Akhirnya ku tetapkan hatiku untuk mencoba bertanya padanya malam ini.
#
Malam tiba, akhirnya ku tutup buku itu dengan keras dan menaruhnya di atas meja lalu menyandarkan diriku di atas kursi.
Assalamualaikum” tulisku awalnya melalui sms, untuk berjaga-jaga siapa tau Ibunya yang memegang handphone itu.
Tak lama kemudian Ia menjawab “Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh”
Yes, kataku dalam hati dan akhirnya kami pun membuka percakapan seperti biasanya.
“Sintia, bolehkah aku bertanya sesuatu?” Tanyaku menuju ke topik utama kami malam ini
“Tentu saja, silahkan” Jawabnya singkat
“Tapi, kita harus bicara” Kataku mencoba agar bisa untuk berbicara langsung
“Oke” balasnya dengan emoticon senyum
Akhirnya aku pun memberanikan diri untuk menelponnya dengan membaca basmalah, tombol hijau pada ponselku ku tekan perlahan.
“Tuuut----Tuuut”
Aku yakin ponselnya sudah mulai berdering. Hingga kemudian Sintia menjawab teleponku.
Kami terdiam sejenak “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” kataku memulai
“Waalaikumussalam warahmatullahi wabaraktuh” jawabnya
Untuk sejenak kupikir suaranya berbeda saat ku dengar dia berbicara lewat telepon dibandingkan secara langsung, atau mungkin karena perasaanku saja, mungkin juga karena aku jarang berbicara dengannya.
Tapi terlepas dari hal itu semua, suranya terdengar sangat manis.
“Jadi, apa yang ingin kau tanyakan Heri?” tanyanya pelan membuat aku menelan ludah, dan jantungku, perutku mulai bergejolak lagi
Aku terdiam sejenak memikirkan kalimat yang pas untuk mengatakannya, namun semakin dalam aku berpikir entah kenapa aku makin tertelan oleh pikiranku sendiri.
Aku berani bertaruh dia juga menunggu bicara karena dia juga masih sabar menungguku bicara.
Baiklah aku mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan
“Sintia?” panggilku
“Iya?” jawabnya
“Aku tak begitu mengerti juga bagaimana hal ini bisa terjadi, ini semua terjadi begitu saja tanpa aku mau, tanpa aku tau. Dan mungkin aku telah berpikir lama mengenai ini sejak kita naik kelas delapan. Aku tak yakin bagaimana menjelaskannya sekarang, tapi kuharap kau memaafkanku jika perkataanku salah dan membuat posisimu menjadi tak nyaman. Tapi ku rasa aku-----menyukaimu Sintia”
Akhirnya perasaan yang lama sekali terpendam bisa ku utarakan, akhirnya ulangan akhir semesterku yang seseungguhnya bisa ku selesaikan walaupun tak begitu baik kelihatannya. Aku harap Ia tidak begitu kaget dan emosional seperti yang pernah ku saksikan di film-film FTV. Ku harap dia mengerti maksudku karena rasanya semua kalimat itu terlontar begitu saja dari mulutku.
Kami terdiam, begitu lama. Mungkin hampir 10 menit. Aku masih menunggu Ia menanggapinya terlebih dahulu sebelum aku berbicara lagi.
“Hmmm... Jadi?” katanya kemudian setelah begitu lama
“Jadi, ya. Itu saja, aku hanya ingin memberitahumu itu saja” aku semakin terdengar salah tingkah
“Kalau tak salah dengar tadi kau bilang ingin bertanya bukan ingin memberitahu sesuatu” katanya pelan sekali, dan sangat dalam
Aku terenyuh, oh ya aku berkata aku ingin bertanya
“Jadi, bagaimana?” tanyaku memberanikan diri lagi
“Bagaimana apanya?”
“Ya, bagaimana mengenai itu. Ku harap kau merasa nyaman”
“Hmm, bagaimana ya” sekarang ku dengarkan katanya sudah mulai ada respon positif
“Aku hanya mengutarakan perasaanku saja padamu Sintia, aku tak berharap lain. Ya kalaupun kau merasa tak nyaman atau merasa dari kebalikan itu, aku tak apa. Aku tak pernah memasukkannya ke hati”
“Iya aku mengerti kau Heri” “Tak ku sangka kau juga bisa seperti ini?” katanya mencoba bercanda
“Hah, memang tak boleh?” kataku membalasnya kemudian tak mau aku terlalu berlarut dalam perasaan yang tak pasti ini.
“Boleh saja, siapa bilang tak boleh. Itu manusiawi”
“Jadi, bagaimana menurutmu?”
“Hmm..”
Kami terdiam lagi, menunggu. Pikiranku kembali memikirkan hal-hal tentang Sintia lagi tanpa ku perintah.
“Sintia?”
“Iya?”
“Aku tau, kau pasti tak bisa langsung menjawabnya. Aku tau kau butuh waktu, tapi entah itu kapan, aku tak bisa memaksamu”
“Hmmm” Sintia hanya bergumam
Ternyata jika aku mengatakan bahwa ini adalah resiko, bukan. Dan walaupun ini adalah jawaban juga bukan. Aku sekarang terjebak di tengah-tengah kelabilan karena akibatku sendiri.
“Kau bisa beri aku waktu Heri?” katanya kemudian
“Tentu saja, semua waktu itu milikmu” kataku pelan
“Tapi bolehkah aku bertanya juga?” katanya lagi
“Tentu saja, silahkan” kataku dan dia sedikit tertawa mengetahui aku menggunakan kata yang sama dengannya saat aku berkata ingin bertanya
“Kenapa kau menyukaiku, Heri?” pelan sekali
Aku terdiam kembali, sama seperti sebelumnya segala yang kupikirkan untuk menyusun kata tak ada gunanya lagi.
“Aku----tak punya alasan khusus Sintia, hanya saja begitu aku bertemu denganmu, entah kenapa aku selalu merasa berbeda dari sebelumnya, mungkin jika kau perhatikan tubuhku selalu bergetar jika didekatmu” “Dan kau begitu baik, berbeda dari orang umumnya, kau cantik. Hatimu maupun parasmu, senyummu begitu indah jika ku pandang, kau sopan, dan--- “ lagi-lagi, kalimatku tak bisa aku perintah lagi
“Dan?”
“Dan ya, seperti itulah. Aku hanya ingin bilang bahwa aku menyukaimu”
“Aku juga menyukaimu Heri”
Sontak tubuhku kaku tak bergerak untuk beberapa detik, nafasku terhenti, dan jantungku rasanya berdetak lebih kencang dari sebelumnya, perutku.
“Tapi, kau bilang kau butuh waktu” kataku kemudian
“Iya, dan kau telah memberiku waktu itu Heri”
Aku berani bertaruh berapa saja, dia pasti sedang menggila di sana, dia pasti sedang tersenyum. Seperti halnya aku, kertas di dekatku ku ambil dan ku gigit dengan keras, bantal guling itu aku pukul dengan keras hingga aku terjatuh dari kursi tempat ku duduk.
“Suara apa itu Heri?” tanya Sintia kemudian
Dia pasti mendengarnya, pikirku
“Ah tidak ada, cuma suara kucing” kataku sambil terkekeh dan dia juga terkekeh
Lama sekali kami berbincang malam itu, tak sadar bahwa jam dinding itu telah menunjukkan angka 1. Akhirnya ku putuskan untuk mengakhiri percakapan untuk malam ini, setidaknya tujuanku sudah tercapai untuk sekarang. Setidaknya aku mendapatkan kepastian darinya.
“Mungkin kau sudah mengantuk, Sintia. Aku minta maaf telah membuatmu terjaga sampai selarut ini”
“Ah tidak apa-apa Heri”
“Terima kasih banyak ya” kataku pelan
“Hmm.. terima kasih juga”
“Okelah, selamat tidur Sintia semoga mimpi indah. Assalamualaikum warahmatullahi wabaraktuh”
“Baik, juga Heri. Waalaikumussalam warahmatullahi wabaraktuh”
Tuut---Tuuut-Tuuut
Terima kasih Ya Allah

***
  
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tolonglah berkomentar dengan sopan, NO SPAM!, dan dengan bahasa yang santun pula. Karena komentar anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini ke depannya.