BAB 22 YANG
PERTAMA
“Baiklah anak-anak, cukup untuk
sore ini silahkan kembali ke rumah masing-masing dan kita akan lanjutkan minggu
depan” “Oh, dan jangan lupa teruslah berlatih sendiri di waktu luang kalian”
Suara serak-serak yang sekarang semakin terdengar
renta dan sedikit lemah namun bertenaga itu sontak memenuhi ruangan dan
menghentikan segala pembicaraan di dalam ruangan remang itu.
Pak Subardan sekaligus pelatih kami menghentikan
kegiatan ekstra musik kami sore itu, sedikit terlalu cepat memang. Sepertinya
pria renta itu ada kegiatan lain yang lebih penting daripada duduk termenung di
sini.
Dan akhirnya kamipun beranjak dari ruangan itu
sembari menenteng beberapa buah gitar dan keyboard yang biasa kami gunakan
untuk berlatih.
“Hei, Heri. Apa kau ada waktu sore ini?” kata Fian
membisikku kecil
“Hmm, entahlah ada apa tiba-tiba saja?”
“Tak ada sesuatu yang penting” katanya sambil
nyengir “Aku hanya tak punya sedikit waktu luang di rumah, jadi kau mau ke
rumahku sebentar?”
“Benarkah? Orang tuamu kemana?” tanyaku kepadanya
“Ayahku belum pulang kerja, Ibuku masih di kota
sana”
“Aku mengerti kau begitu menderita Ian?” kataku
sedikit mencoba bergurau
“Yah, ironis memang” katanya mencoba menuruti akting
orang yang sedang sedih
“Ah, bagaimana kalau kau ke rumahku saja, itu sama
artinya dengan yang tadi bukan?” kataku akhirnya setelah berpikir agak lama
“Heeh, kalau memang sama untuk apa kau
mempertimbangkan kembali Her?”
“Bukan begitu, aku hanya belum bisa membawa motor
sendiri. Apa jadinya kalau aku terlalu larut dirumahmu?”
“Tenang saja, masalah seperti itu gampang” dia nyengir
lagi dengan gigi khasnya yang bagian atasnya sedikit maju ke depan “Nanti aku
antar kau pulang”
“Hmm... okelah”
Sebenarnya aku tak terlalu yakin sebelumnya ke rumah
Fian, karena alasan ku tadi. Ditambah Ibuku juga tak begitu mengizinkanku untuk
pulang sekolah terlalu larut.
Oh iya ada handphone. Akhirnya ku bulatkan saja
tekadku ke rumah Fian, hitung-hitung menambah keakraban pikirku, nanti aku bisa
mengirim pesan ke rumah.
“Jadi, ini rumahmu?” kataku setelah kami berhenti di
sebuah bangunan kecil
“Tak begitu mewah memang, tapi mungkin saja jika kau
masuk ke dalam kau akan merasakan hangatnya kekeluargaan” katanya tersenyum
Ku perhatikan dengan seksama bangunan itu, tak
terlalu besar memang. Sederhana cukup untuknya.
Ukurannya sekitar 5x4 meter, dengan dinding luar
yang berwarna biru muda seperti langit yang sedang cerah-cerahnya namun di
beberapa sisi di samping kiri dan kanan warnanya terlihat luntur, sepertinya
rumah ini sudah lama sekali belum direnovasi. Atapnya dari genteng semen yang
hampir menjadi hitam karena sudah lama terkena panas dan dingin hujan. Di
sekelilingnya terdapat rumah-rumah tetangga lain dan jalan raya di depannya.
“Ah, ini sangat bagus menurutku Fian” kataku mencoba
memujinya
“Eee, tak usah sungkan-sungkan. Ayo masuk”
Dan kamipun masuk ke dalam rumah itu. Setelah Fian
membuka pintu depan dengan kunci yang terselip di balik keset rumahnya dan
dengan suara derik pintu yang rapuh, aku melihat sebuah ruangan yang gelap
dengan hanya satu jalan sinar yang masuk ke dalamnya namun sepertinya sangat
jauh di dalam rumah.
Namun setelah sekitar satu menit barulah aku bisa
melihat dengan jelas beberapa buah kursi empuk yang biasanya disediakan untuk
tamu dengan sebuah rak televisi dengan televisi kecil di atasnya dan sebuah
mesin kontrol ditengahnya dan dua buah sound di kiri dan kanan.
“Masuklah, ayo. Tunggu aku sebentar, aku berganti
dulu” katanya sambil bergegas menuju kamarnya
Akupun duduk di bawah kursi itu, tepatnya di atas
karpet yang berada di bawah kursi. Aku mengambil ponselku dan mulai mengetik
pesan untuk orang-orang dirumah untuk berjaga-jaga agar mereka tak khawatir.
Triing.... suara ponselku berbunyi sekali tanda ada
pesan masuk.
Wah cepat sekali pikirku, padahal belum ada
pemberitahuan bahwa pesan yang ku kirim kepada mereka telah diterima.
Namun setelah ku buka pesan masuk itu, bukan Ibuku
yang membalas pesanku namun sebuah nama dari temanku yang paling ku kenal.
Dari Sintia...
“Assalamualaikum” bunyi pesannya
Aku sungguh bingung, bukan membingungkan kenapa
Sintia tiba-tiba mengirimiku pesan singkat namun bingung kenapa aku bingung
saat Sintia mengirim pesan singkat itu.
Sebentar aku tak memperhatikan Fian yang berdiri di
sampingku namun sedikit jauh sehingga Ia mustahil bisa melihat pesan yang ada
di ponselku.
“Hei, Heri. Apa kau mau makan sesuatu?” kata Fian
menyapa
“Aah,, tak perlu repot-repot Ian, aku masih kenyang”
kataku pelan sambil memegang perutku
“Kau ini, terlalu mustahil untukmu berbohong”
katanya datar
“Maksudmu?”
“Aku tau kau, langka sekali pergi keluar kelas hanya
untuk membeli makanan di sekolah”
“Benarkah?” “Kurasa kau benar” kataku sambil nyengir
“Kalau begitu ayo, aku ada mie instan jika kau suka
“Hmm,, baiklah” aku sebenarnya memang sedikit lapar,
jadinya ini merupakan tawaran yang bagus
Ah, aku hampir lupa pesan dari Sintia.
Rasa bingung itu kembali melanda, hingga tak tau aku
harus menulis kata selain “Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh”
kepadanya
Sedikit tanganku sedikit gemetar saat menulis pesan
itu. Apakah aku gemetar karena lapar ataukah.... ya, karena lapar pasti.
Akhirnya ku ikuti Fian menuju dapur rumahnya yang
berada di belakang rumah.
Kamipun menunggu satu sama lain untuk mendidihkan
air untuk mie instan kami, kebetulan tempat kami memasak air hanya ada satu,
jadi aku dipersilahkan lebih dulu oleh Fian.
Setelah siap semuanya, aku dan Fian menuju ruang
utama tempat aku duduk tadi untuk makan di sana, dan dengan lahapnya Fian
langsung menyantap mienya itu.
“Hei, Ian. Baca do’a dulu”
“Astaga” katanya sambil menelan makanannya dan
kemudian membaca Bismillah dengan suara yang kecil
Dasar Fian, pikirku.
Tiba-tiba ketika kami sedang asik menyantap makan
siang kami walaupun hanya semangkuk mie instan, ponselku berdering lagi.
Pasti dari Sintia lagi pikirku....
“Wah, Heri. Aku tak tau kau punya ponsel” kata Fian
melirikku
“Ah, hanya ponsel untuk kepentingan sekolah Ian”
kataku pelan
“Coba kulihat” katanya tanpa aba-aba langsung
merebut ponselku, sontak akupun terkejut
“Dari siapa?” katanya pelan
Benar saja, dia akan membaca pesan itu.
“Khem.........” Fian berdeham keras dan aku sangat
mengerti apa maksudnya itu
“Ini minum” kataku menyodorkan gelas padanya sambil
mencoba memutar fakta yang ada
“Ternyata Sintia...” dia tersenyum lebar sekali
“Uhuk...” mie yang aku telan hampir saja kukeluarkan
kembali mendengar Fian berbicara seperti itu “Apa maksudmu?”
“Nah, bohong lagi kan? Hahaha” katanya menggodaku
Tanpa aba-aba pula aku langsung mengambil ponselku
kembali.
Licik Fian, dia lebih dulu membaca pesan itu
daripada pemiliknya.
Akupun membuka isi pesan itu. Dan memang benar dari
Sintia, sontak bingung itu datang lagi namun aku tak ingin terang-terangan di
depan orang lain, aku hanya mencoba bertingkah biasa saja.
“Heri sedang apa?” begitu isi pesan yang kuterima
dari Sintia
Wah, dia bertanya kali ini. Apa yang harus ku jawab,
akhirnya aku mencoba jujur.
“Aku sedang duduk-duduk dengan Fian” jawabku singkat
“Sudah makan?” katanya tak lama lagi
“Ini sedang makan sama Fian juga” kataku menjawab
lagi
“Hee,, tadi, kau berkata sedang duduk saja, sekarang
makan” ponselku berbunyi lagi
Sial, akhirnya karena begitu mengganggu ku matikan
suara ponselku dan kembali melihat pesannya
“Maksudku, kami sedang duduk sambil makan” kataku
mencoba menjelaskan walaupun ku tak berharap akan menjadi jelas
Fian hanya termangut-mangut sambil sesekali berdeham
dan melirik ke arahku.
“Kalau begitu lanjutkan makannya” katanya kemudian
“Kalau Sintia, sudah makan?” tanyaku lagi
Namun karena aku begitu terganggu dengan tingkah
laku Fian, aku tak melihat ponselku lagi, dan karena suaranya aku matikan aku
tak tau apakah Sintia membalas pesan itu atau tidak.
“Jadi, Sintia?” katanya setelah meneguk segelas air
disebelahnya
“Apa maksudmu?” kataku mencoba mengelak
“Ayolah, Heri.. kau tak perlu malu” katanya mencoba
membujukku bicara
Namun aku hanya diam melanjutkan makan siangku
walaupun mie di mangkukku sudah tinggal kuah saja.
“Kau tau, aku juga pernah seperti itu. Anak kota”
katanya sambil berbisik kepadaku namun dengan suara seperti orang yang bukan
sedang berbisik
“Benarkah? Jadi bagaimana?” kataku meluruskan
“Haha, sebelum aku bercerita.. kau lebih dulu harus
bercerita kepadaku” katanya nyengir
Aaah,, Fian lagi-lagi berhasil menjebakku
“Baiklah,” kataku setelah agak lama terdiam
“Nah begitu lebih bagus”
“Kau yang pertama yang ku beritau, dimana orang lain
hanya menebak-nebak sisanya”
“Oh ya? Wah aku merasa tersanjung” katanya mencoba
bergurau
“Aku sebenarnya menyukai Sintia” kataku setelah lama
sekali mengambil nafas, seakan-akan paru-paruku tak ada batas udaranya
Untuk mengucapkan kalimat seperti itu aku
membutuhkan lebih dari seratus ribu ton keberanian walaupun hanya dengan
sahabatku ini.
“Benarkah? Jadi apakah Sintia tau?” Fian bertanya
lagi
“Tentu saja tidak! Tapi, iya.. tidak... aku tak tau”
kataku lemah
“Heri-Heri... aku begitu merasa kasihan denganmu”
katanya kembali memperlihatkan giginya yang bagian atasnya maju sedikit “Jadi
bagaimana awalnya?”
“Aku tak tau Ian, aku sungguh bingung. Perasaan ini
tak pernah ku rasakan sebelumnya, dan perasaan ini datang dengan sendirinya”
“Benarkah,, sungguh pengalaman dari seorang anak
yang labil” katanya sok dewasa, bukannya menanggapi dengan serius, Fian hanya
mencoba bercanda dengan menggodaku sejak tadi
“Mungkin, sepertinya aku suka sifatnya,
tingkah-lakunya, senyumnya” kataku akhirnya mulai berani berbicara masalah ini
bersama Fian saja
“Jangan mungkin, kau tak boleh labil dalam hal
seperti ini Heri” kata Fian menegaskan
“Baiklah, aku suka sifatnya, tingkah-lakunya,
senyumnya” kataku kemudian
“Haha, begitu lebih baik” dia tersenyum “Hanya itu?”
“Entahlah, mungkin masih banyak lagi namun aku tau
tau bagaimana harus mengatakannya”
“Yaah, mungkin lagi” katanya nyengir
“Aku tak tau pasti!”
“Jadi, apakah Sintia tau bahwa kau menyukainya?”
“Entahlah, mungkin tidak” kataku melemah lagi
“Kalau begitu coba saja katakan padanya” kata Fian
kemudian
“Kau bodoh, bagaimana mungkin aku mengatakan hal
seperti itu pada Sintia”
“Memangnya kenapa?”
“Aku takut aku akan merusak hubunganku yang sekarang
dengan dia”
“Yah, kalau begitu.. lakukanlah apa yang menurutmu
baik untuk dilakukan. Ingatlah Heri, ini merupakan salah satu jalan menuju
kedewasaan”
“Benarkah?”
“Iya, dan itu juga sudah merupaka hukum alam, yang
kita tak bisa mengganggunya”
“Kurasa kau ada benarnya”
Kamipun terdiam sejenak sampai aku melihat angka di
jam dinding milik Fian,
“Astaga sudah pukul setengah enam, apakah kau bisa
mengantarku pulang sekarang Ian?” kataku sedikti panik
“Ah, iya boleh saja. Ayo. Kapan-kapan kita bisa
bercerita lagi, dan aku akan memberitahumu tentang anak kota itu”
“Terserah kaulah, ayo”
“Hehe” dia nyengir lebar
***
BAB 23 PERTEMUAN
YANG TAK TERDUGA
Blarrr!!
“Astaga!? Apa!?”
Aku langsung terkejut mendengar suara pukulan meja seperti
ledakan bom bali yang baru saja meledak itu memenuhi gendang telingaku.
“Hei Heri mengapa kau tidur di sini?” sapa sebuah
suara kepadaku yang masih setengah sadar
“Oh, Hai Erlina” jawabku dengan mata yang masih
terbuka setengah
“Ada apa denganmu, kau sakit?” tanyanya pelan
“Ah tidak...”
Tanpa menyelesaikan kalimatku aku bergegas keluar
dari tempat itu menuju sebuah keran air yang ada di depan sana.
Tak lama aku membasuh wajahku, aku pun merasa
sedikit agak lumayan. Didepanku kulihat dua sosok perempuan yang sedang
berbincang-bincang menghadap satu sama lain yang aku tak bisa mendengar dengan
jelas apa yang mereka perdebatkan.
“Hai, Erlina.. maaf aku tertidur dan....”
Lagi-lagi tanpa bisa menyelesaikan kalimatku aku
tertahan oleh sebuah batu kerikil yang besar teramat sangat, sepertinya
menghadang tenggorokanku untuk mengeluarkan kalimat lebih jauh lagi.
Sintia? Tak mungkin pikirku. Sintia ada di sini
bersama Erlina teman kelasku?
Erlina memang teman sekelasku. Kami sebelumnya belum
saling kenal walaupun sesaat kami tau bahwa kami berasal dari desa yang sama.
Hanya saja mungkin dia juga jarang keluar rumah sehingga aku tak begitu
mengenalnya.
Erilina bertubuh sedikit agak pendek, sebelas-dua
belas dengan perempuan yang ada di dekatnya itu, Sintia. Ah, tidak. Seperti
sepuluh-dua belas, kurang lebih. Seorang yang pandai berbicara, jika berbicara
sangat cepat sekali hingga pernah aku mendengarnya mengucapkan kalimat ‘kau
dari mana?” kurang dari setengah detik.
“Sintia?” kataku sontak
“Hai Heri?” jawabnya pelan
Sebelumnya aku tak yakin bahwa yang kulihat adalah
Sintia, namun entah mengapa juga, lidahku seakan-akan sudah mengetahui nama
dari wanita itu. Tetapi setelah kepalaku sudah sepenuhnya sadar, aku yakin
bahwa itu memang Sintia.
“Kau tidur di sini?” katanya pelan
“Ah, tidak juga. Benarkah?”
Sesaat aku merasa ruang kelasku itu menjadi gelap
gulita tanpa ada cahaya sedikitpun. Bukan karena awan sedang menghalangi sinar
sang mentari, namun lebih seperti kosong.
“Aku melihatmu tertidur pulas sekali di sini”
“Benarkah? Sebenarnya aku tak begitu ingat
detailnya. Yang pasti sebelumnya aku sedang belajar untuk persiapan ulangan
semester akhir besok” kataku sambil menggaruk-garuk kepalaku
“Benarkah? Kau begitu rajin” katanya sambil
tersenyum tetapi aku hanya masih nyengir lebar sekali, bukan karena hal lain
namun, aku tak bisa mengucapkan kata apa yang harus ku katakan “Tapi, jika bisa
kau jangan terlalu memaksakan dirimu, jangan sampai karena terlalu banyak
belajar kau membuat dirimu sakit” katanya pelan
Sontak, kalimat itu membuat sekujur tubuhku melemas,
rasanya aku bisa jatuh kapan saja. Tanganku gemetar, isi perutku terasa
bergejolak. Sintia akhir-akhir ini begitu menaruh perhatian kepadaku.
Saat itu aku benar-benar tak bisa melakukan apa-apa
lagi selain menatap matanya yang begitu membuatku tenang, seperti aliran sungai
yang berada di samping bawah rumahku. Tenang, mengalir mengikuti arus yang
tenang dengan sesekali ikan-ikan mujair kecil itu melompat menelan serangga
yang melintas di atasnya.
“Mengapa kau tak seperti Erlina saja, dia tak pernah
menghawatirkan tentang ulangan semester” katanya mencoba bergurau
“Asal kau tau, Sintia. Dirumah, jika aku tak belajar
satu menitpun pasti akan kena marah dari Ibuku”
Ah, yang benar saja aku hampir melupakan Erlina yang
berada di sana juga.
“Benarkah? Kau bohong” kataku membalas lawakannya
“Kau bukan aku Heri, mana mungkin kau tau” balas
Erlina dengan wajah sinis
“Ah, benar. Kenapa kalian belum pulang?” kataku
kepada mereka berdua namun dengan pandangan ke arah Erlina tentunya dengan
sebuah alasan
“Kami baru saja ingin pulang, namun aku meninggalkan
bukuku di kelas, dan tanpa sengaja kami menemukan seperti orang tak bernyawa di
sini” kata Erlina
“Wah, sungguh mengharukan” kataku pelan
“Kau sendiri mengapa tak pulang Her?”
“Ku rasa aku telah memberitahumu bahwa aku sedang
belajar untuk semester nanti”
“Kau tak bilang padaku, kau hanya bilang pada Sintia
saja”
“Benarkah? Yah, setidaknya kau juga mendengarkan”
Sesaat kami berdebat tentang hal kecil itu, aku bisa
melihat Sintia menyembunyikan tawa dibalik wajahnya di sana. Aku bisa melihat
senyumnya yang khas itu lagi membuatku ingin menyunggingkan senyum juga.
“Aah,, aku tau. Ada apa dengan kalian?” katanya
pelan
“Apa maksudmu?” jawabku berpura-pura bodoh, walaupun
aku tau apa maksud dari pertanyaan Erlina
“Apa kalian, berpacaran?”
“TIDAK!” aku dan Sintia hampir berbarengan
menyebutkan kata itu dengan lantang, sontak kamipun memandang satu sama lain
lagi dan mata kami pun bertemu lagi.
“Nah, ternyata benar” balas Erlina, aku bisa melihat
dengan jelas wajah setan pengganggu di sana
“Jadi, seperti apa? Bagaimana kalian bisa bertemu?”
katanya dengan muka yang penuh rasa ingin tau
“Apa lagi yang kau bicarakan Erlina, lebih baik kau
memikirkan tentang ulangan semester minggu depan daripada hal seperti ini”
kataku sinis padanya
Ingin tau urusan orang lain saja. Pikirku dalam
hati.
“Kau begitu jahat Heri, aku akan bertanya pada
Sintia saja kalau begitu” katanya sambil sengaja memalingkan pandangannya kali
ini “Sintia......”
“Aah,, sepertinya ini sudah hampir terlalu sore. Aku
yakin aku telah di khawatirkan oleh orang tuaku”
Sedetik sebelum Erlina menyelesaikan kalimatnya,
Sintia sontak langsung menarik tangannya untuk pergi dari tempat itu.
Sepertinya Sintia juga merasakan hal yang sama.
Sebenarnya aku ingin sekali Erlina menanyakan hal
itu dan Sintia menjawabnya jujur, namun apa daya. Sepertinya kekuatan yang
kumiliki sekarang belum mampu menopang tubuh pemiliknya sendiri.
Mungkin suatu saat. Pikirku.
“Sampai jumpa Heri, kami pulang dulu” kata Sintia
sambil menarik tangan Erlina sebelah, dan sebelahnya lagi melambai kepadaku
yang masih terpaku diam.
Rasanya seperti mimpi. Walaupun hanya beberapa menit
saja, aku merasa sangat senang sekali bisa bertemu tanpa sengaja dengan Sintia
sore ini.
Dia tersenyum, dia tertawa, dan dia berbicara
kepadaku.
“Ah, iya.. hati-hati” kataku kemudian
BAB 24 ULANGAN
AKHIR SEMESTER
Perlahan namun pasti, sedikit
demi sedikit matahari itu terbangun dari kasurnya yang ramah dan panjang.
Waktu menunjukkan masih pukul 5 pagi, aku masih
terdiam kosong di depan meja belajarku sejak beberapa menit lalu.
Ini kan hanya ujian akhir biasa, sama seperti kelas
1 tahun lalu, pikirku. Namun rasanya seperti ada yang tidak beres.
Untuk pertama kalinya aku merasa seperti bosan
dengan buku-buku dan kertas fotocopy di atas meja itu, berantakan. Aku pun
kembali membenamkan tubuhku menuju atas tempat tidur yang sedikit agak dingin
karena terkena hembusan angin pagi yang masuk melalui celah-celah jendela
kamarku.
Kring!! Sontak sebuah suara dering ponsel
menggangguku, siapa sih yang mengirim pesan sepagi ini?
”Semoga hari ini
semua berjalan lancar dan kita diberikan kemudahan dalam menjawab soal oleh
Allah. SUKSES!”
Begitu aku selesai membaca pesan itu, aku langsung
tersadar dari lamunanku. Sintia, pagi-pagi sekali, tak seperti biasanya.
Aku pun tanpa sadar tersenyum-senyum sendiri
kemudian membalas pesan itu seadanya.
Aku selalu bertanya heran kepada diriku selama ini,
mengapa setiap kali aku terhubung dengan Sintia, rasanya seperti ada sesuatu
yang berbeda di sekelilingku, berbeda namun sangat nyaman sekali, seolah-olah
perbedaan itu membuat semuanya tak kekurangan.
Apakah yang dikatakan Satria itu benar, apakah yang
ditanyakan Erlina itu benar, apakah yang kami lakukan adalah suatu kebohongan
besar, apakah ini disebut cinta?
“Heri, kau tidak sekolah hari ini?”
Tersadar, Ibuku sedikit berteriak dari luar
memanggilku untuk mandi
“Iya, bu. Aku sekolah” sahutku
“Maka begitu, keluarlah!” katanya sedikit marah
Ah yang benar saja, sudah hampir satu jam aku di
sana. Aku pun langsung menyeret handuk di atas pintu itu kemudian berlari.
“Aku berangkat bu, Assalamualaikum”
Pagi itu terasa berwarna sekali, entah kenapa.
Apakah karena dari diriku atau dari orang lain, entahlah aku merasa begitu
labil hari ini, tapi yasudahlah.
#
Benar saja ulangan kali ini seperti biasanya. Tak
ada yang begitu menarik, Aziz yang selalu memintaiku jawaban selalu seperti
biasanya.
Ternyata tak begitu buruk kelihatannya, soal-soal
semester yang kuperkirakan tak sesulit kisi-kisi yang diberikan.
Lama sekali rasanya, hampir aku bosan melakukan hal
ini. Apakah aku bisa melakukannya atau tidak. Ujian akhir ini sama sekali
seperti ujian biasanya, kertas-kertas soal yang berbau menyengat baru keluar
dari cetakan semerta menggebu di hidungku.
Pagi ini Bahasa Indonesia, kalimat-kalimat soalnya
yang mencapai 15 lembar untuk 50 nomor itupun perlahan ku baca. Dari kiri ke
kanan, dari atas ke bawah, hingga akhirnya aku membaca perintah soalnya dan
tersadar bahwa aku harus membaca ulang dari huruf awal lagi untuk memecahkan
soal itu.
“Ssst... Heri! Nomor 37?!”
Satu jam telah berlalu dan aku pun menyelesaikan
semua soal itu tanpa tertinggal satu biji untuk dihitamkan. Malas tapi rasanya
untuk berdiri menggeser kursi menuju ke depan meja pengawas yang masih tertidur
pulas, yah walaupun jaraknya hanya satu deret meja dariku.
Akhirnya ku pilih untuk diam saja memandang
awan-awan putih bercorak biru kehitaman di langit itu yang tertutup oleh
bayangan-bayangan daun nangka yang tersinari oleh matahari.
Seketika lamunanku semakin menjadi-jadi. Terpaku
nyawaku duduk di atas kursi yang semakin panas itu. Di depanku ku lihat Sintia
tengah berjalan dengan temannya. Dia tertawa kecil dengan caranya sendiri
membuat jantungku bergetar, tersenyum aku sendiri melihat hal itu.
“Aww!”
Tersadar aku dari lamunanku itu, dengan cepat scene
Sintia berganti menjadi tangan Zizi yang tengah mencubit lenganku. Dia pasti
dari tadi sudah menunggu responku yang tiada memperhatikannya.
“B C C E B C A C C D E E D” kataku padanya kemudian
beranjak mengumpulkan pekerjaanku yang rupanya telah terbangun dari tidur
panjangnya.
“Ah, selesai juga”
Akhirnya, untuk hari ini selesai sudah ulangan untuk
sementara, semua siswa mesti menyiapkan materi untuk ulangan selanjutnya besok.
Sementara aku berjalan pelan dengan kedua kakiku
yang terasa pegal karena duduk satu jam lebih di dalam ruangan pengap itu,
langkahku terhenti. Sekarang apa yang terjadi pada waktu tadi seperti terjadi
begitu saja di depan mataku.
Aku terpaku menatap senyum penuh makna itu tepat di
depan wajahku sendiri, darahku mengalir deras bagai perosotan yang sering
dimainkan oleh anak-anak yang tertawa riang di kolam renang dekat bangunan tua
sana.
“Bagaimana hari ini?” katanya pelan
Terkejut aku bukan main, Ibu. Gejolak perutku
meronta tak karuan. Banyak sekali hal yang ku khawatirkan pada diriku pada
saat-saat seperti ini. Apakah bibirku terlihat pucat, apakah keterkejutanku
membuatnya penasaran dan pergi, apakah bagian belakang seragamku tak keluar,
apakah tali sepatuku sudah terikat kuat hingga aku bisa berlari terjun ke dalam
kolam air belakang sekolah, apakah nafasku tak berbau hingga aku bisa menjawab
pertanyaan kecil itu.
Pandangan kami masih terikat, dan akhirnya aku
berusaha menenangkan diriku. Mulai sekarang aku harus berjanji agar tidak
bertingkah aneh lagi di depannya.
“Ba---aaik saja” sial ludahku tertelan sebelum aku
bisa menyelesaikan kata itu
“Sintia bagaimana?” tanyaku balik
“Hmmm... bagus juga” dia tersenyum “Ah ya, aku ke
koperasi dulu, papan ujian ku rusak” katanya sambil berlalu
“Ah iya” kataku pelan
Semuanya begitu nyata, cara senyuman itu dia
melambai saat melangkahkan kakinya menjauh dariku. Di samping kiri kanannya
hanya terdapat tembok yang memisahkan kami dengan siswa yang masih fokus dengan
kewajiban mereka sampai nomor 50.
Entah kenapa ruangan itu agak remang karena sedikit
cahaya yang mengenainya, namun hangat dan lebih berwarna dari biasanya, mungin
ini yang disebut cinta. Iya, benar sekali aku yakin akan hal itu.
#
Aku tak bisa berpikir apakah yang Ia rasakan sama
ataukah beda dengan apa yang ku rasakan saat ini.
Langkahku tak bisa tertahan berjalan menuju ujung ke
ujung ruangan kamarku seiring dengan pikiranku tentang gadis itu.
Buku-buku itu ku geletakkan begitu saja tanpa ingin
sama sekali membuka dan membacanya. Satu yang ku inginkan hanyalah agar pikiran
ini tetap merasuki keinginanku.
Apa yang bisa ku lakukan, ini adalah pertama kalinya
aku merasakan hal seperti ini, hingga akhirnya aku teringat kata Kak Rozi waktu
latihan pramuka “Usia-usia kalian sekarang memang sangat rentang dan labil jadi
kakak memaafkan sikap kalian jika seperti ini”
Ternyata ini yang bernama labil, dan ini yang
bernama cinta pertama.
Pikiranku masih terpaku pada Sintia. Mungkin aku
harus mencoba. Mungkin aku harus bertanya padanya langsung untuk memastikan
perasaan yang terus meniupku ini.
Tapi akan sangat beresiko jika aku bertanya padanya
langsung.
Pikiranku masih menggebu-gebu saat ini. Tanya
tidak-tanya tidak, hal itu terus terulang dan terulang di dalam kepalaku.
Baiklah aku harus mencoba, kemungkinannya memang
50-50, tapi aku harus menerima keputusan itu.
Akhirnya ku tetapkan hatiku untuk mencoba bertanya
padanya malam ini.
#
Malam tiba, akhirnya ku tutup buku itu dengan keras
dan menaruhnya di atas meja lalu menyandarkan diriku di atas kursi.
“Assalamualaikum”
tulisku awalnya melalui sms, untuk berjaga-jaga siapa tau Ibunya yang
memegang handphone itu.
Tak lama kemudian Ia menjawab “Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh”
Yes, kataku dalam hati dan akhirnya kami pun membuka
percakapan seperti biasanya.
“Sintia, bolehkah
aku bertanya sesuatu?” Tanyaku menuju ke topik utama kami malam ini
“Tentu saja,
silahkan” Jawabnya
singkat
“Tapi, kita
harus bicara” Kataku
mencoba agar bisa untuk berbicara langsung
“Oke” balasnya dengan
emoticon senyum
Akhirnya aku pun memberanikan diri untuk menelponnya
dengan membaca basmalah, tombol hijau pada ponselku ku tekan perlahan.
“Tuuut----Tuuut”
Aku yakin ponselnya sudah mulai berdering. Hingga
kemudian Sintia menjawab teleponku.
Kami terdiam sejenak “Assalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh” kataku memulai
“Waalaikumussalam warahmatullahi wabaraktuh”
jawabnya
Untuk sejenak kupikir suaranya berbeda saat ku
dengar dia berbicara lewat telepon dibandingkan secara langsung, atau mungkin
karena perasaanku saja, mungkin juga karena aku jarang berbicara dengannya.
Tapi terlepas dari hal itu semua, suranya terdengar
sangat manis.
“Jadi, apa yang ingin kau tanyakan Heri?” tanyanya
pelan membuat aku menelan ludah, dan jantungku, perutku mulai bergejolak lagi
Aku terdiam sejenak memikirkan kalimat yang pas
untuk mengatakannya, namun semakin dalam aku berpikir entah kenapa aku makin
tertelan oleh pikiranku sendiri.
Aku berani bertaruh dia juga menunggu bicara karena
dia juga masih sabar menungguku bicara.
Baiklah aku mengambil nafas dalam-dalam dan
mengeluarkannya perlahan
“Sintia?” panggilku
“Iya?” jawabnya
“Aku tak begitu mengerti juga bagaimana hal ini bisa
terjadi, ini semua terjadi begitu saja tanpa aku mau, tanpa aku tau. Dan
mungkin aku telah berpikir lama mengenai ini sejak kita naik kelas delapan. Aku
tak yakin bagaimana menjelaskannya sekarang, tapi kuharap kau memaafkanku jika
perkataanku salah dan membuat posisimu menjadi tak nyaman. Tapi ku rasa
aku-----menyukaimu Sintia”
Akhirnya perasaan yang lama sekali terpendam bisa ku
utarakan, akhirnya ulangan akhir semesterku yang seseungguhnya bisa ku
selesaikan walaupun tak begitu baik kelihatannya. Aku harap Ia tidak begitu
kaget dan emosional seperti yang pernah ku saksikan di film-film FTV. Ku harap
dia mengerti maksudku karena rasanya semua kalimat itu terlontar begitu saja
dari mulutku.
Kami terdiam, begitu lama. Mungkin hampir 10 menit.
Aku masih menunggu Ia menanggapinya terlebih dahulu sebelum aku berbicara lagi.
“Hmmm... Jadi?” katanya kemudian setelah begitu lama
“Jadi, ya. Itu saja, aku hanya ingin memberitahumu
itu saja” aku semakin terdengar salah tingkah
“Kalau tak salah dengar tadi kau bilang ingin
bertanya bukan ingin memberitahu sesuatu” katanya pelan sekali, dan sangat
dalam
Aku terenyuh, oh ya aku berkata aku ingin bertanya
“Jadi, bagaimana?” tanyaku memberanikan diri lagi
“Bagaimana apanya?”
“Ya, bagaimana mengenai itu. Ku harap kau merasa
nyaman”
“Hmm, bagaimana ya” sekarang ku dengarkan katanya
sudah mulai ada respon positif
“Aku hanya mengutarakan perasaanku saja padamu Sintia,
aku tak berharap lain. Ya kalaupun kau merasa tak nyaman atau merasa dari
kebalikan itu, aku tak apa. Aku tak pernah memasukkannya ke hati”
“Iya aku mengerti kau Heri” “Tak ku sangka kau juga
bisa seperti ini?” katanya mencoba bercanda
“Hah, memang tak boleh?” kataku membalasnya kemudian
tak mau aku terlalu berlarut dalam perasaan yang tak pasti ini.
“Boleh saja, siapa bilang tak boleh. Itu manusiawi”
“Jadi, bagaimana menurutmu?”
“Hmm..”
Kami terdiam lagi, menunggu. Pikiranku kembali
memikirkan hal-hal tentang Sintia lagi tanpa ku perintah.
“Sintia?”
“Iya?”
“Aku tau, kau pasti tak bisa langsung menjawabnya.
Aku tau kau butuh waktu, tapi entah itu kapan, aku tak bisa memaksamu”
“Hmmm” Sintia hanya bergumam
Ternyata jika aku mengatakan bahwa ini adalah
resiko, bukan. Dan walaupun ini adalah jawaban juga bukan. Aku sekarang
terjebak di tengah-tengah kelabilan karena akibatku sendiri.
“Kau bisa beri aku waktu Heri?” katanya kemudian
“Tentu saja, semua waktu itu milikmu” kataku pelan
“Tapi bolehkah aku bertanya juga?” katanya lagi
“Tentu saja, silahkan” kataku dan dia sedikit
tertawa mengetahui aku menggunakan kata yang sama dengannya saat aku berkata
ingin bertanya
“Kenapa kau menyukaiku, Heri?” pelan sekali
Aku terdiam kembali, sama seperti sebelumnya segala
yang kupikirkan untuk menyusun kata tak ada gunanya lagi.
“Aku----tak punya alasan khusus Sintia, hanya saja
begitu aku bertemu denganmu, entah kenapa aku selalu merasa berbeda dari
sebelumnya, mungkin jika kau perhatikan tubuhku selalu bergetar jika didekatmu”
“Dan kau begitu baik, berbeda dari orang umumnya, kau cantik. Hatimu maupun
parasmu, senyummu begitu indah jika ku pandang, kau sopan, dan--- “ lagi-lagi,
kalimatku tak bisa aku perintah lagi
“Dan?”
“Dan ya, seperti itulah. Aku hanya ingin bilang
bahwa aku menyukaimu”
“Aku juga menyukaimu Heri”
Sontak tubuhku kaku tak bergerak untuk beberapa
detik, nafasku terhenti, dan jantungku rasanya berdetak lebih kencang dari
sebelumnya, perutku.
“Tapi, kau bilang kau butuh waktu” kataku kemudian
“Iya, dan kau telah memberiku waktu itu Heri”
Aku berani bertaruh berapa saja, dia pasti sedang
menggila di sana, dia pasti sedang tersenyum. Seperti halnya aku, kertas di
dekatku ku ambil dan ku gigit dengan keras, bantal guling itu aku pukul dengan
keras hingga aku terjatuh dari kursi tempat ku duduk.
“Suara apa itu Heri?” tanya Sintia kemudian
Dia pasti mendengarnya, pikirku
“Ah tidak ada, cuma suara kucing” kataku sambil
terkekeh dan dia juga terkekeh
Lama sekali kami berbincang malam itu, tak sadar
bahwa jam dinding itu telah menunjukkan angka 1. Akhirnya ku putuskan untuk
mengakhiri percakapan untuk malam ini, setidaknya tujuanku sudah tercapai untuk
sekarang. Setidaknya aku mendapatkan kepastian darinya.
“Mungkin kau sudah mengantuk, Sintia. Aku minta maaf
telah membuatmu terjaga sampai selarut ini”
“Ah tidak apa-apa Heri”
“Terima kasih banyak ya” kataku pelan
“Hmm.. terima kasih juga”
“Okelah, selamat tidur Sintia semoga mimpi indah.
Assalamualaikum warahmatullahi wabaraktuh”
“Baik, juga Heri. Waalaikumussalam warahmatullahi
wabaraktuh”
Tuut---Tuuut-Tuuut
Terima kasih Ya Allah
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tolonglah berkomentar dengan sopan, NO SPAM!, dan dengan bahasa yang santun pula. Karena komentar anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini ke depannya.