24 Januari 2018

Daun-Daun yang Terbang Mencari Angin (Bab 20-22)



BAB 20 FACEBOOK BARU

            “Assalamualaikum....”
“Waalaikumussalam..”
Terdengar suara seorang perempuan dari gerbang memberi salam dan aku pun langsung menjawabnya, tanpa berpikir aku langsung keluar melihat siapa itu.
Seorang wanita bertubuh kurus sedikit tinggi menggunakan baju kemeja kotak-kotak warna kuning berlengan panjang dengan celana jeans yang dibagian lutut kanannya hampir robek dan sepasang sepatu sneakers berwarna merah.
“Kak Yuli!”
“Heri!!”dia sedikit berteriak dari gerbang sana
“Mana Ibu?” katanya kemudian setelah sampai agak dekat denganku sembari melepas helm yang melekat di kepalanya
“Ibu sedang keluar, mungkin sedang beli makan siang” kataku pelan
“Ooh... siapa dirumah?”
“Tak ada, hanya aku dan bapak, Kak Ami belum pulang dari Mataram”
“Baiklah, aku ingin buang air dulu” katanya sambil berlalu menuju toilet
Ku dengar samar suaranya menyapa Bapak di dapur yang sedang asik mengotak-atik motornya yang dari tadi belum bisa menyala.
Kak Yuli memang bukan kakak kandungku, dia kakak tiriku dari Ibu. Maksudnya kami mempunyai Ibu yang sama tetapi Ayah yang berbeda. Namun walaupun begitu, aku merasa dia lebih dari sekedar kakak kandung. Karena dulu dia selalu menemaniku bermain saat aku masih kecil.
Sedangkan Kak Ami adalah kakak kandungku, dia sekarang tengah kuliah di salah satu universitas di kota Mataram, Lombok Barat. Namun, tak seperti Kak Yuli, Kak Ami adalah seorang yang suka berbicara. Hampir setiap hari dia keluar hanya untuk bergosip dengan teman-temannya jika dia berada di rumah.
“Kau tidak sekolah Ri?” katanya saat ku menjumpainya sedang berbaring sambil menekan-nekan tombol remot televisi memindah channelnya
“Ah, Kak Yuli, sekarang Minggu” balasku sambil duduk di sampingnya
“Siapa tau, Heri Hardiansyah.. Kau kan anak yang rajin”
“Rajin memang rajin, tapi tak harus meninggalkan hak bukan?”
“Ah, bicaramu seperti orang tua saja” katanya sambil terkikik membuat aku membalasnya dengan senyum kecil saja
“Oh ya, kenapa Kak Ami tak ikut pulang?” tanyaku
“Ah, sebenarnya dia ikut pulang denganku tadi, tapi katanya dia teringat bahwa dia ada mata kuliah biologi. Tidak mungkin kan, aku telah berkemas rapi, menunda kepulanganku hanya karenanya?”
“Hmm...” gumamku sambil mengangkat bahu dan tangan di sampingkan
“Lagipula, di kos juga banyak temannya yang berasal dari Aikmel. Aku katakan bahwa jika dia ingin pulang, ajak saja temannya, Rani” katanya sambil tak memperhatikanku, melainkan hanya tertuju pada sebuah acara di televisi itu. Sepertinya acara sinetron
“Oke, oh ya, ngomong-ngomong kakak sudah makan?”
“Belum” dia menggeleng pelan
“Ayo, sepertinya Ibu sudah pulang dan mungkin dia membawa sesuatu untuk di makan”
Benar saja, suara gerbang yang hanya terbuat dari seng itu terbuka menandakan bahwa Ibuku sudah pulang dan dia membawa bungkusan berwarna biru di tangan kanannya.
“Lho, Yuli?! Sejak kapan berada di sini?” katanya sedikit terkejut saat berada di ambang pintu
“Bu, baru saja” dia tersenyum “Sebenarnya aku pulang dengan Ami, tapi dia ada kuliah, jadi ku tinggal saja. Ku katakan dia bisa pulang dengan temannya nanti”
“Oohh.. baiklah. Pasti kau belum makan, ayo makan sama-sama” dia berkata sambil melangkah ke dapur “Ayo Heri, Ibu bawakan sayur rebung”
#
“Hai, kak.. apa yang sedang kakak lakukan?”
Seorang wanita dengan rambut hitam panjang semampai sedang duduk berhadapan dengan laptopnya yang berwarna biru cerah.
“Hmm.. biasa” katanya datar sambil memainkan jari-jemarinya ke atas keyboard laptopnya.
Benar saja, itu adalah salah satu kegiatan yang paling disenangi kaum muda dewasa ini.
Di layar laptopnya tergambar sebuah halaman berwarna dasar putih dengan kopnya yang biru tua. Di dalamnya terdapat banyak sekali coretan-coretan tangan dari berbagai nama yang sesekali dibarengi dengan foto-foto.
“Facebook?”
“Hmm”dia bergumam
Sambil kuperhatikan Kak Yuli bermain dengan halaman facebooknya, sambil ku ikut duduk di sampingnya dengan rencana aku mungkin akan berlama-lama di tempat itu.
Beberapa saat setelah itu aku sontak teringat akan sesuatu yang pernah ku dengar dikatakan oleh Kak Yuli sendiri
“Oh ya, kak... aku baru ingat jikalau dulu kakak pernah berkata kepadaku bahwa kakak membuatkan halaman facebook untukku dan juga Kak Ami”
“Hmm... ya, kakak ingat” katanya lagi-lagi datar sekarang sambil memutar tombol mouse lapotop itu ke atas dan lalu ke bawah
“Bisa kakak tunjukkan aku”
“Hmm,, iya tunggu dulu kakak sedang ada bisnis”
Lagi-lagi dia berkata dengan wajah yang datar membuatku semakin risih dan penasaran.
Akhirnya ku putuskan untuk pergi dari tempat itu untuk mengambil satu gelas minum dan beberapa makanan ringan dari lemari. Namun sepertinya Kak Yuli salah paham, dia mungkin berpikir aku merasa jenuh karena sikapnya dan membuatnya menahanku dengan sedikit teriak
“Eh, Heri.. Tunggu, kakak sudah selesai dengan bisnis kakak. Kemarilah jika kau ingin melihat halaman facebookmu itu”
“Ah, tunggu dulu kak, aku ingin minum sebentar” kataku datar
“Oh, baiklah kupikir..” dia tersenyum
Beberapa saat kemudian aku kembali dan kulihat dia sudah tidak membuka halaman facebooknya lagi melainkan hanya sedang browsing yang sepertinya adalah sebuah blog yang ku tatap tak terlalu jelas karena latar halamannya berwarna hitam.
“Ah Heri..kemarilah ku tunjukkan padamu halaman itu”
“Baiklah” kataku sembari duduk di dekatnya dan menaruh sekaleng makanan ringan di sampingku
Dalam beberapa detik saja dia membuka halaman facebook lagi dan mulai mengetik sesuatu di dalamnya
“Ini alamat e-mailmu : HeriH4@gmail.com”
“Hmmm...” aku mengangguk
“Dan ini kata sandinya : ********”
“Hmmm???” aku bergumam lagi sambil menaikkan sebelah alis mata kananku
“Hahaha.. Heri-Heri, baiklah kakak hanya bergurau saja. Kata sandimu adalah kalijaga” dia berkata dengan pelan
“Oohh, begitu, tunggu sebentar” kataku menahan sambil mencari-cari sesuatu di atas meja di depan kami itu
“Hmm.. HeriH4@gmail.com, kalijaga” kataku ku pelan sambil mencatat kata itu di tangan kiriku
“Sudah?”
“Iya sudah”
“Baiklah, dan Enter!”
Seketika halaman yang berisi identitas itu langsung menghilang dan berganti dengan halaman yang pernah kulihat sebelumnya. Persis sama, hanya saja jika kubaca sekilas terdapat beberapa tulisan-tulisan lama, bahkan ada yang hampir setengah tahun.
“Nah, ini dia. Ayo gunakanlah” katanya sambil menepi dari posisinya seakan-akan mempersilahkan aku mengambil posisinya itu
Aku bergumam datar. Sebenarnya aku masih tak terlalu mengerti tentang halaman konyol yang disbut facebook.
“Jadi ini yang namanya facebook” yang aku lihat hanya tulisan-tulisan yang penuh dengan curhatan-curhatan anak muda zaman sekarang
“Aku masih tak mengerti kak” aku bertanya pelan
“Hal apa yang belum kau mengerti” katanya sambil mendekatkan dirinya lagi
“Hmm,, entahlah.. apa maksudnya ini” tanyaku polos
“Ooh.. sederhana saja, facebook membantumu untuk berkomunikasi dengan teman-temanmu”
“Jadi tak ada bedanya dengan pesan biasa kan”
“Ya, tapi ini sesuatu yang berbeda” dia tersenyum
“Jadi?”
“Pertama-tama kau harus mencari temanmu dahulu” katanya sambil memindahkan kursos laptopnya menuju layar yang paling atas di sana
“Klik, lalu tulis nama facebook temanmu, lalu klik lagi dan ini ada gambar pesan dan kau buka gambar itu, dan mulai berbincang”
Katanya menjelaskan ku dengan wajah yang tak dipalingkan dari layar laptopnya, sedangkan aku hanya menatapnya polos sembari memindahkan tatapanku ke arah layar laptop sesekali waktu.
“Jadi begitu..” kataku sambil mengangguk tanda paham, walaupun hanya sedikit yang kumengerti dari perkataannya itu
Lantas Kak Yuli kembali menepi lagi dan aku kemudian mencoba melakukan apa yang dikatakannya itu.
“Ayo cobalah” katanya sambil tersenyum
“Baiklah Kak” kataku pelan
“Cari di kotak warna putih itu Heri!” dia berkata agak keras
“Ah, aku mengerti kak, aku hanya melihat-lihat sekilas saja”
“Ooh,, begitu” dengan pelan dia kembali terbenam menyandarkan dirinya di tembok sambil mengambil sedikit makanan ringan yang kubawa tadi
“Kak Yuli, sepertinya ini semua orang tua saja” kataku seperti sedang menyindir
“Aa? Hahaha,, Hmuaa—aa—emang—aa--“ katanya dengan mulut yang penuh dengan makanan
“Ah? Apa yang kakak katakan?”
“Semuanya memang teman-teman kakak” katanya dengan tenang setelah menelan habis semua makanan itu
“Baiklah, Heri kakak ingin keluar dulu, jika kau telah bosan tolong di disconnect internetnya oke”
“Oke Kak Yuli”
***



BAB 21 PEKERJAAN RUMAH
 
            Teet—teet---teeet... Suara dering bel pulang sekolah berbunyi lantang memekikkan telinga.
Koridor-koridor itu penuh sesak dengan banyaknya siswa-siswi yang berjalan kesana-kemari, sempitnya ditambah dengan guru-guru yang tengah berjalan menuju kantor guru karena kelasnya telah selesai.
Aku berjalan menembus keramaian bak sungai orang itu dengan langkah pelan namun pasti, walaupun aku tak tau harus kemana.
Hari ini aku telah membuat perjanjian dengan kawan-kawanku untuk mengerjakan tugas matematika yang diberikan oleh Pak Rudi, tugas akhir semester katanya. Tetapi entah dimana mereka berada. Kantin, tidak, Koperasi, tidak, lapangan, tidak. Hingga akhirnya sebuah suara memanggilku dari belakang
“HERI!!”
Aku yakin dia berteriak karena jaraknya lumayan jauh dari tempatku berdiri
“Woy, Sat!” kataku sambil tersenyum lebar melihat wajah itu
Sungguh tak ku sangka, Satrialah yang memanggilku teriak dari kejauhan. Dia lantas menuju ke arahku sementara aku menuju ke arahnya
“Pulang?” katanya singkat
“Hmm,, entahlah. Sebenarnya aku sedang mencari orang, tapi...” kataku lemah
“Orang? Siapa?”
Kami berbincang sambil berjalan yang baru ku sadar aku berjalan menuju ke gerbang sekolah, padahal aku tak punya niat ke sana sebelumnya.
“Rendi.. Kau tau?”
“Owwh,, tidak” dia tersenyum
Sepertinya ada hal yang berbeda dari Satria, dia hari ini sangat bahagia sekali. Yah walaupun tiap hari aku melihatnya tertawa. Mungkin karena ini pertama kalinya aku berjalan bersamanya setelah sekian lama.
“Dasar, katanya ingin menyelesaikan tugas matematika bersama. Hah, manusia..” kataku sedikit ketus memikirkan kata Rendi yang mengajakku untuk kerja kelompok tadi siang
“Tugas matematik?! Yang mana?”
Satria sepertinya sedikit terkejut mendengar aku mengatakan tugas matematika
“Tugas akhir dari Pak Rudi. Kenapa memang?” kataku datar
“Ternyata kita dapat tugas yang sama Ri”
“Memang, Pak Rudi memang mengajar di semua kelas 8” kataku sambil duduk di halte depan sekolah
“Ini hal yang bagus” dia berkata sambil cengengesan
“Bagus, kenapa?” kataku bingung
“Sudah jelas bukan?” tetap cengengesan
“Jelas?” Satria semakin membuatku bingung
“Baik, nanti sore aku akan kerumahmu untuk menyelesaikan tugas itu bersama”
“Benarkah?”
Memang benar dugaanku, ada sesuatu yang tidak beres dengan Satria, dia senang sekali hari ini, sampai dia akan kerumahku sore nanti
“Tapi apa kau masih ingat jalannya, sudah lama kau tak ke sana?” kataku pelan
“Tenang, aku masih ingat sedikit. Akan ku ajak Rofi dan Agung juga”
“Hmm..” gumamku masih bingung dengan tingkahnya itu “Baiklah, terserah kau saja”
Akhirnya dengan ancungan jempol kecil, dia langsung berbalik arah dan berjalan pulang.
Dasar Satria, pikirku.
#
Tik-tok-tik-tok.. Lama aku perhatikan jam dinding yang terpampang di atas tembok berwarna oranye terang hampir putih itu, yang jarum pendeknya menunjukkan pukul 3 lebih beberapa menit.
Bayangan Satria akan kemari tidak pernah lepas dari pikiranku, apakah ini reuni yang terulang setelah sekian lama pikirku.
Di sana, kami belajar bersama. Mengerjakan hitungan demi hitungan dan rumus-rumus yang memekakkan mata. Bermain video game, karena Satria memang suka mengoleksi game di laptop yang dia miliki.
Namun lamunanku segera buyar setelah suara adzan ashar memanggil. Lantas ku langsung menuju masjid untuk menunaikan sholat.
Setelah selesai sholat, aku membaringkan diri sejenak di atas tempat tidurku.
Hari yang lelah, gumamku dalam hati. Sepertinya Satria tak akan kemari jua.
“Assalamualaikum”
Sebuah suara yang sayup-sayup terdengar dari arah luar, dan sepertinya aku mengenal suara itu.
Dia mengucap salam lagi, dan aku memastikan suaranya dengan seksama. Akhirnya setelah yakin, aku langsung bangkit dari tempat tidur itu dan langsung menuju gerbang.
“Waalaikumussalam..”
Ku buka pintu gerbang seng itu, dan apa yang kutemukan adalah senyuman rendah yang berasal dari 2 orang di sana.
“Lho, Rofi mana?” tanyaku pada salah satunya
“Dia tak ada dirumahnya, ibunya bilang dia pergi kerumah temannya” dia menjawab datar
“Ooh.. baiklah, ayo ke dalam” ajakku sambil menyodorkan tanganku pada mereka
“Kau bisa naik motor, Satria?” tanyaku pada Satria
“Yaah, begitulah..” dia tersenyum di balik wajahnya
“Sejak kapan?”
“Sebenarnya, dari mulai masuk SMP, namun Ibuku tak mengizinkanku naik motor ke sekolah, itu sebabnya kau tak tau jika aku bisa naik motor”
“Lagipula, sekolah tak mengizinkan siswanya pakai motor” kata Agung
Sambil mereka duduk di kamarku, sembari aku menuju dapur untuk membawa beberapa makanan kecil.
“Siapa itu Heri?” kata ibuku sambil memfokuskan dirinya ke arah tumis yang sedang di aduk
“Ooh, itu Satria dan Agung” kataku pelan
“Satria? Kok tumben?” katanya mengangkat alisnya terkejut
“Kita ada tugas akhir semester, makanya dia kemari”
“Ooh” dia mengangguk pelan
Ibuku memang menganal Satria dari sejak kami masih kelas 7, aku banyak bercerita tentangnya dan karena Ibu Hidayah juga merupakan teman kelas Ibuku dahulu waktu SMP.
“Hai, Heri kau punya facebook?” kata Agung bertanya padaku
“Facebook” sontak pikiranku langsung tertuju pada saat Kak Yuli mengatakan facebook kepadaku
“Iya, aku punya” kataku sambil menaruh makanan kecil itu di samping kami
“Weiis, hebat kau Ri” kata Satria yang duduk di atas kursi belajarku
“Kenapa?”
“Tak apa, ngomong-ngomong apa nama facebookmu? Biar aku bisa menambahmu jadi teman”
“Heri Hardiansyah” kataku pada mereka
Beberapa saat suasana sepi sejenak, yang terlihat hanya Satria dan Agung sedang mengetik di laptopnya
“Hahahaha....!!” mereka tertawa lepas beberapa saat kemudian
“Kalian kenapa?” kataku bingung
“Heri-Heri.. Ini kau?” Kata Satria sambil menyodorkanku laptopnya
Di laptop itu terpampang halaman seperti yang aku dan Kak Yuli buka kemarin, itu adalah facebook dengan latar belakang berwarna birunya yang khas terdapat sebuah foto yang tak ku tau siapa.
Lama ku perhatikan foto itu, ternyata itu fotoku! Tapi mengapa begini, kemarin tidak seperti ini, pikirku. Pasti ulah Kak Yuli.
“Aku?” tanyaku heran
“Iya kau” mereka masih terkekeh-kekeh
“Foto profilmu, Heri” kata Agung kemudian
Kak Yuli, mengganti foto profilku yang kemarin dengan fotoku saat aku sedang duduk bersila sambil mengekspresikan wajah yang aduhai memakai jilbab.
“Woy, bagaimana cara menggantinya?!” kataku sedikit berteriak
“Tak apa Heri, ini bagus” kata Satria kemudian
“Bagus sekali tentu! Cepat beritau aku”
Kali ini, amarahku naik. Aku mengerti memang jika Kak Yuli memasang itu sebagai bahan gurauan saja, namun tidak di depan teman-temanku.
“Baiklah, coba kau buka dulu facebook milikmu” kata Satria yang berangsur-angsur tertawanya menghilang
“Sudah, lalu?”
“Begini, kau klik gambar ini, lalu kau tinggal ganti fotomu”
Aku melakukan apa yang dikatakan Satria, hingga akhirnya foto itu telah ku ganti dengan yang baru. Awas saja Kak Yuli, pikirku.
“Hai, Heri” kata Satria menyiku tubuhku “Kau ingin melihat facebook Sintia?” katanya pelan
Aku sedikit terkejut mendengarnya mengatakan hal itu. Bagaimana dia tau hal itu, aku tak pernah terpikir bahwa Sintia juga mempunyai akun facebook.
“Apa maksudmu Sat?” kataku berpura tidak tau hal apapun
“Alah, jangan berbohong Heri. Kau tak pandai berbohong. Semua tau bahwa kau menyukai Sintia”
“HHKK” aku menelan liur sejenak.
Bagaimana? Bagaimana hal ini bisa terjadi? Bagaimana dia bisa tau?
“Hei Sat....”
“Tentu saja aku tau, dari semua gelagatmu jika berada di dekat dia. Kau tidak bisa menyembunyikan itu” dia terkekeh
Pada akhirnya aku terus bingung apa yang Satria maksud, tapi aku juga tidak bisa menyangkal fakta bahwa aku memang menyukai gadis itu sejak aku mengenalnya.
“Baiklah, kau menang Satria, aku memang bingung bagaimana kau bisa tau, tapi sudahlah aku rasa hal itu tak perlu kita permasalahkan” kataku melemah
“Haha, tenang saja teman. Itu hal yang wajar” dia sekarang tertawa terbahak-bahak, sedangkan Agus masih terfokus pada laptopnya.
Kamipun meninggalkan aktifitas kami sejenak untuk berjalan menuju tujuan utama kami berkumpul di dalam ruangan yang pengap ini meskipun hanya bertiga.
“Hei, Agung kau yang pintar IPS tolong koreksi jawabanku, kau sudah menjawab bagian B halaman 70 kah?” tanyaku pada Agung sambil bersandar di kursi tempat Satria duduk
“Ah iya, tentu saja semuanya sudah ku jawab”
“Kalau begitu, ini nomor satu....”
#
Tak terasa hampir 2 jam kami berada di dalam ruangan buram yang hanya diterangi oleh setitik cahaya matahari sore dari jendela di sebelah barat.
Akhirnya aku permisi untuk mengambilkan beberapa cemilan dan air untuk istirahat sejenak.
“Hi, Satria” sapaku pada Satria yang sekarang sedang bermain game dengan laptopnya sambil menaruh cemilan yang ku bawa di atas meja
“Hmm” gumamnya
“Aku.... hmmm,, aku masih terpikir dengan hal yang kau katakan sebelumnya”
“Hmm,, apa maksudmu?”
“Yaa,, tentang.. maksudku, tentang hmm, facebook dan semacamnya”
“Oooh,, itu.. haha tenang kawan.. kau yakin tentang ini?” dia tersenyum
“Iya, aku yakin” kataku menegaskan
“Oho, tenang kawan. Akan ku beritahukan kepadamu”
Sontak Satria langsung memperbaiki posisi duduknya seperti orang yang sudah siap untuk menghadapi ledakan bom dari udara.
Dia mulai membuka sebuah halaman seperti yang dilakukan oleh Agung sebelumnya.
Tik-tak-tak-tak-tik-tak.. suara dari derikan keyboard laptopnya berbunyi seiring gerakan tangannya menekan tombol-demi tombol di sana.
“Nah ini dia” katanya sambil memperlihatkan aku layar laptopnya
“Hmmm...” gumamku sambil memperhatikan apa saja yang ada di sana “Heh, aku rasa namanya salah ini bukan dia” kataku kemudian
Benar saja di dalam layar laptop itu tak ada satupun tulisan ataupun foto yang berkenaan dengan Sintia terkecuali satu hal.
“Ah, maaf Heri, aku lupa memberitahumu sebelumnya, bahwa itu bukan facebook miliknya tapi itu milik adiknya” kata Satria sambil menggaruk-garuk kepalanya
“Benarkah?” pantas saja ada kemiripan di foto itu “Jadi, kenapa kau menunjukkan ku facebook milik adiknya”
“Yah, sudah jelas bukan. Dia tak punya facebook, tapi sering kali dia menggunakan facebook milik adiknya”
“Kenapa seperti itu”
“Entahlah, mungkin dia malu” dia terkekeh
“Eh, malu..?” yah mungkin saja pikirku
***


BAB 22 YANG PERTAMA

            “Baiklah anak-anak, cukup untuk sore ini silahkan kembali ke rumah masing-masing dan kita akan lanjutkan minggu depan” “Oh, dan jangan lupa teruslah berlatih sendiri di waktu luang kalian”
Suara serak-serak yang sekarang semakin terdengar renta dan sedikit lemah namun bertenaga itu sontak memenuhi ruangan dan menghentikan segala pembicaraan di dalam ruangan remang itu.
Pak Subardan sekaligus pelatih kami menghentikan kegiatan ekstra musik kami sore itu, sedikit terlalu cepat memang. Sepertinya pria renta itu ada kegiatan lain yang lebih penting daripada duduk termenung di sini.
Dan akhirnya kamipun beranjak dari ruangan itu sembari menenteng beberapa buah gitar dan keyboard yang biasa kami gunakan untuk berlatih.
“Hei, Heri. Apa kau ada waktu sore ini?” kata Fian membisikku kecil
“Hmm, entahlah ada apa tiba-tiba saja?”
“Tak ada sesuatu yang penting” katanya sambil nyengir “Aku hanya tak punya sedikit waktu luang di rumah, jadi kau mau ke rumahku sebentar?”
“Benarkah? Orang tuamu kemana?” tanyaku kepadanya
“Ayahku belum pulang kerja, Ibuku masih di kota sana”
“Aku mengerti kau begitu menderita Ian?” kataku sedikit mencoba bergurau
“Yah, ironis memang” katanya mencoba menuruti akting orang yang sedang sedih

“Ah, bagaimana kalau kau ke rumahku saja, itu sama artinya dengan yang tadi bukan?” kataku akhirnya setelah berpikir agak lama
“Heeh, kalau memang sama untuk apa kau mempertimbangkan kembali Her?”
“Bukan begitu, aku hanya belum bisa membawa motor sendiri. Apa jadinya kalau aku terlalu larut dirumahmu?”
“Tenang saja, masalah seperti itu gampang” dia nyengir lagi dengan gigi khasnya yang bagian atasnya sedikit maju ke depan “Nanti aku antar kau pulang”
“Hmm... okelah”
Sebenarnya aku tak terlalu yakin sebelumnya ke rumah Fian, karena alasan ku tadi. Ditambah Ibuku juga tak begitu mengizinkanku untuk pulang sekolah terlalu larut.
Oh iya ada handphone. Akhirnya ku bulatkan saja tekadku ke rumah Fian, hitung-hitung menambah keakraban pikirku, nanti aku bisa mengirim pesan ke rumah.
“Jadi, ini rumahmu?” kataku setelah kami berhenti di sebuah bangunan kecil
“Tak begitu mewah memang, tapi mungkin saja jika kau masuk ke dalam kau akan merasakan hangatnya kekeluargaan” katanya tersenyum
Ku perhatikan dengan seksama bangunan itu, tak terlalu besar memang. Sederhana cukup untuknya.
Ukurannya sekitar 5x4 meter, dengan dinding luar yang berwarna biru muda seperti langit yang sedang cerah-cerahnya namun di beberapa sisi di samping kiri dan kanan warnanya terlihat luntur, sepertinya rumah ini sudah lama sekali belum direnovasi. Atapnya dari genteng semen yang hampir menjadi hitam karena sudah lama terkena panas dan dingin hujan. Di sekelilingnya terdapat rumah-rumah tetangga lain dan jalan raya di depannya.
“Ah, ini sangat bagus menurutku Fian” kataku mencoba memujinya
“Eee, tak usah sungkan-sungkan. Ayo masuk”
Dan kamipun masuk ke dalam rumah itu. Setelah Fian membuka pintu depan dengan kunci yang terselip di balik keset rumahnya dan dengan suara derik pintu yang rapuh, aku melihat sebuah ruangan yang gelap dengan hanya satu jalan sinar yang masuk ke dalamnya namun sepertinya sangat jauh di dalam rumah.
Namun setelah sekitar satu menit barulah aku bisa melihat dengan jelas beberapa buah kursi empuk yang biasanya disediakan untuk tamu dengan sebuah rak televisi dengan televisi kecil di atasnya dan sebuah mesin kontrol ditengahnya dan dua buah sound di kiri dan kanan.
“Masuklah, ayo. Tunggu aku sebentar, aku berganti dulu” katanya sambil bergegas menuju kamarnya
Akupun duduk di bawah kursi itu, tepatnya di atas karpet yang berada di bawah kursi. Aku mengambil ponselku dan mulai mengetik pesan untuk orang-orang dirumah untuk berjaga-jaga agar mereka tak khawatir.
Triing.... suara ponselku berbunyi sekali tanda ada pesan masuk.
Wah cepat sekali pikirku, padahal belum ada pemberitahuan bahwa pesan yang ku kirim kepada mereka telah diterima.
Namun setelah ku buka pesan masuk itu, bukan Ibuku yang membalas pesanku namun sebuah nama dari temanku yang paling ku kenal.
Dari Sintia...
“Assalamualaikum” bunyi pesannya
Aku sungguh bingung, bukan membingungkan kenapa Sintia tiba-tiba mengirimiku pesan singkat namun bingung kenapa aku bingung saat Sintia mengirim pesan singkat itu.
Sebentar aku tak memperhatikan Fian yang berdiri di sampingku namun sedikit jauh sehingga Ia mustahil bisa melihat pesan yang ada di ponselku.
“Hei, Heri. Apa kau mau makan sesuatu?” kata Fian menyapa
“Aah,, tak perlu repot-repot Ian, aku masih kenyang” kataku pelan sambil memegang perutku
“Kau ini, terlalu mustahil untukmu berbohong” katanya datar
“Maksudmu?”
“Aku tau kau, langka sekali pergi keluar kelas hanya untuk membeli makanan di sekolah”
“Benarkah?” “Kurasa kau benar” kataku sambil nyengir
“Kalau begitu ayo, aku ada mie instan jika kau suka
“Hmm,, baiklah” aku sebenarnya memang sedikit lapar, jadinya ini merupakan tawaran yang bagus
Ah, aku hampir lupa pesan dari Sintia.
Rasa bingung itu kembali melanda, hingga tak tau aku harus menulis kata selain “Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh” kepadanya
Sedikit tanganku sedikit gemetar saat menulis pesan itu. Apakah aku gemetar karena lapar ataukah.... ya, karena lapar pasti.
Akhirnya ku ikuti Fian menuju dapur rumahnya yang berada di belakang rumah.
Kamipun menunggu satu sama lain untuk mendidihkan air untuk mie instan kami, kebetulan tempat kami memasak air hanya ada satu, jadi aku dipersilahkan lebih dulu oleh Fian.
Setelah siap semuanya, aku dan Fian menuju ruang utama tempat aku duduk tadi untuk makan di sana, dan dengan lahapnya Fian langsung menyantap mienya itu.
“Hei, Ian. Baca do’a dulu”
“Astaga” katanya sambil menelan makanannya dan kemudian membaca Bismillah dengan suara yang kecil
Dasar Fian, pikirku.
Tiba-tiba ketika kami sedang asik menyantap makan siang kami walaupun hanya semangkuk mie instan, ponselku berdering lagi.
Pasti dari Sintia lagi pikirku....
“Wah, Heri. Aku tak tau kau punya ponsel” kata Fian melirikku
“Ah, hanya ponsel untuk kepentingan sekolah Ian” kataku pelan
“Coba kulihat” katanya tanpa aba-aba langsung merebut ponselku, sontak akupun terkejut
“Dari siapa?” katanya pelan
Benar saja, dia akan membaca pesan itu.

“Khem.........” Fian berdeham keras dan aku sangat mengerti apa maksudnya itu
“Ini minum” kataku menyodorkan gelas padanya sambil mencoba memutar fakta yang ada
“Ternyata Sintia...” dia tersenyum lebar sekali
“Uhuk...” mie yang aku telan hampir saja kukeluarkan kembali mendengar Fian berbicara seperti itu “Apa maksudmu?”
“Nah, bohong lagi kan? Hahaha” katanya menggodaku
Tanpa aba-aba pula aku langsung mengambil ponselku kembali.
Licik Fian, dia lebih dulu membaca pesan itu daripada pemiliknya.
Akupun membuka isi pesan itu. Dan memang benar dari Sintia, sontak bingung itu datang lagi namun aku tak ingin terang-terangan di depan orang lain, aku hanya mencoba bertingkah biasa saja.
“Heri sedang apa?” begitu isi pesan yang kuterima dari Sintia
Wah, dia bertanya kali ini. Apa yang harus ku jawab, akhirnya aku mencoba jujur.
“Aku sedang duduk-duduk dengan Fian” jawabku singkat
“Sudah makan?” katanya tak lama lagi
“Ini sedang makan sama Fian juga” kataku menjawab lagi
“Hee,, tadi, kau berkata sedang duduk saja, sekarang makan” ponselku berbunyi lagi
Sial, akhirnya karena begitu mengganggu ku matikan suara ponselku dan kembali melihat pesannya
“Maksudku, kami sedang duduk sambil makan” kataku mencoba menjelaskan walaupun ku tak berharap akan menjadi jelas
Fian hanya termangut-mangut sambil sesekali berdeham dan melirik ke arahku.
“Kalau begitu lanjutkan makannya” katanya kemudian
“Kalau Sintia, sudah makan?” tanyaku lagi
Namun karena aku begitu terganggu dengan tingkah laku Fian, aku tak melihat ponselku lagi, dan karena suaranya aku matikan aku tak tau apakah Sintia membalas pesan itu atau tidak.

“Jadi, Sintia?” katanya setelah meneguk segelas air disebelahnya
“Apa maksudmu?” kataku mencoba mengelak
“Ayolah, Heri.. kau tak perlu malu” katanya mencoba membujukku bicara
Namun aku hanya diam melanjutkan makan siangku walaupun mie di mangkukku sudah tinggal kuah saja.
“Kau tau, aku juga pernah seperti itu. Anak kota” katanya sambil berbisik kepadaku namun dengan suara seperti orang yang bukan sedang berbisik
“Benarkah? Jadi bagaimana?” kataku meluruskan
“Haha, sebelum aku bercerita.. kau lebih dulu harus bercerita kepadaku” katanya nyengir
Aaah,, Fian lagi-lagi berhasil menjebakku

“Baiklah,” kataku setelah agak lama terdiam
“Nah begitu lebih bagus”
“Kau yang pertama yang ku beritau, dimana orang lain hanya menebak-nebak sisanya”
“Oh ya? Wah aku merasa tersanjung” katanya mencoba bergurau

“Aku sebenarnya menyukai Sintia” kataku setelah lama sekali mengambil nafas, seakan-akan paru-paruku tak ada batas udaranya
Untuk mengucapkan kalimat seperti itu aku membutuhkan lebih dari seratus ribu ton keberanian walaupun hanya dengan sahabatku ini.
“Benarkah? Jadi apakah Sintia tau?” Fian bertanya lagi
“Tentu saja tidak! Tapi, iya.. tidak... aku tak tau” kataku lemah
“Heri-Heri... aku begitu merasa kasihan denganmu” katanya kembali memperlihatkan giginya yang bagian atasnya maju sedikit “Jadi bagaimana awalnya?”
“Aku tak tau Ian, aku sungguh bingung. Perasaan ini tak pernah ku rasakan sebelumnya, dan perasaan ini datang dengan sendirinya”
“Benarkah,, sungguh pengalaman dari seorang anak yang labil” katanya sok dewasa, bukannya menanggapi dengan serius, Fian hanya mencoba bercanda dengan menggodaku sejak tadi

“Mungkin, sepertinya aku suka sifatnya, tingkah-lakunya, senyumnya” kataku akhirnya mulai berani berbicara masalah ini bersama Fian saja
“Jangan mungkin, kau tak boleh labil dalam hal seperti ini Heri” kata Fian menegaskan
“Baiklah, aku suka sifatnya, tingkah-lakunya, senyumnya” kataku kemudian
“Haha, begitu lebih baik” dia tersenyum “Hanya itu?”
“Entahlah, mungkin masih banyak lagi namun aku tau tau bagaimana harus mengatakannya”
“Yaah, mungkin lagi” katanya nyengir
“Aku tak tau pasti!”
“Jadi, apakah Sintia tau bahwa kau menyukainya?”
“Entahlah, mungkin tidak” kataku melemah lagi
“Kalau begitu coba saja katakan padanya” kata Fian kemudian
“Kau bodoh, bagaimana mungkin aku mengatakan hal seperti itu pada Sintia”
“Memangnya kenapa?”
“Aku takut aku akan merusak hubunganku yang sekarang dengan dia”
“Yah, kalau begitu.. lakukanlah apa yang menurutmu baik untuk dilakukan. Ingatlah Heri, ini merupakan salah satu jalan menuju kedewasaan”
“Benarkah?”
“Iya, dan itu juga sudah merupaka hukum alam, yang kita tak bisa mengganggunya”
“Kurasa kau ada benarnya”
Kamipun terdiam sejenak sampai aku melihat angka di jam dinding milik Fian,
“Astaga sudah pukul setengah enam, apakah kau bisa mengantarku pulang sekarang Ian?” kataku sedikti panik
“Ah, iya boleh saja. Ayo. Kapan-kapan kita bisa bercerita lagi, dan aku akan memberitahumu tentang anak kota itu”
“Terserah kaulah, ayo”
“Hehe” dia nyengir lebar

***
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tolonglah berkomentar dengan sopan, NO SPAM!, dan dengan bahasa yang santun pula. Karena komentar anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini ke depannya.