BAB 20 FACEBOOK BARU
“Assalamualaikum....”
“Waalaikumussalam..”
Terdengar suara seorang perempuan dari gerbang memberi
salam dan aku pun langsung menjawabnya, tanpa berpikir aku langsung keluar
melihat siapa itu.
Seorang wanita bertubuh kurus sedikit tinggi
menggunakan baju kemeja kotak-kotak warna kuning berlengan panjang dengan
celana jeans yang dibagian lutut kanannya hampir robek dan sepasang sepatu sneakers berwarna merah.
“Kak Yuli!”
“Heri!!”dia sedikit berteriak dari gerbang sana
“Mana Ibu?” katanya kemudian setelah sampai agak
dekat denganku sembari melepas helm yang melekat di kepalanya
“Ibu sedang keluar, mungkin sedang beli makan siang”
kataku pelan
“Ooh... siapa dirumah?”
“Tak ada, hanya aku dan bapak, Kak Ami belum pulang
dari Mataram”
“Baiklah, aku ingin buang air dulu” katanya sambil
berlalu menuju toilet
Ku dengar samar suaranya menyapa Bapak di dapur yang
sedang asik mengotak-atik motornya yang dari tadi belum bisa menyala.
Kak Yuli memang bukan kakak kandungku, dia kakak
tiriku dari Ibu. Maksudnya kami mempunyai Ibu yang sama tetapi Ayah yang
berbeda. Namun walaupun begitu, aku merasa dia lebih dari sekedar kakak
kandung. Karena dulu dia selalu menemaniku bermain saat aku masih kecil.
Sedangkan Kak Ami adalah kakak kandungku, dia
sekarang tengah kuliah di salah satu universitas di kota Mataram, Lombok Barat.
Namun, tak seperti Kak Yuli, Kak Ami adalah seorang yang suka berbicara. Hampir
setiap hari dia keluar hanya untuk bergosip dengan teman-temannya jika dia
berada di rumah.
“Kau tidak sekolah Ri?” katanya saat ku menjumpainya
sedang berbaring sambil menekan-nekan tombol remot televisi memindah channelnya
“Ah, Kak Yuli, sekarang Minggu” balasku sambil duduk
di sampingnya
“Siapa tau, Heri Hardiansyah.. Kau kan anak yang
rajin”
“Rajin memang rajin, tapi tak harus meninggalkan hak
bukan?”
“Ah, bicaramu seperti orang tua saja” katanya sambil
terkikik membuat aku membalasnya dengan senyum kecil saja
“Oh ya, kenapa Kak Ami tak ikut pulang?” tanyaku
“Ah, sebenarnya dia ikut pulang denganku tadi, tapi
katanya dia teringat bahwa dia ada mata kuliah biologi. Tidak mungkin kan, aku
telah berkemas rapi, menunda kepulanganku hanya karenanya?”
“Hmm...” gumamku sambil mengangkat bahu dan tangan
di sampingkan
“Lagipula, di kos juga banyak temannya yang berasal
dari Aikmel. Aku katakan bahwa jika dia ingin pulang, ajak saja temannya, Rani”
katanya sambil tak memperhatikanku, melainkan hanya tertuju pada sebuah acara
di televisi itu. Sepertinya acara sinetron
“Oke, oh ya, ngomong-ngomong kakak sudah makan?”
“Belum” dia menggeleng pelan
“Ayo, sepertinya Ibu sudah pulang dan mungkin dia
membawa sesuatu untuk di makan”
Benar saja, suara gerbang yang hanya terbuat dari
seng itu terbuka menandakan bahwa Ibuku sudah pulang dan dia membawa bungkusan
berwarna biru di tangan kanannya.
“Lho, Yuli?! Sejak kapan berada di sini?” katanya
sedikit terkejut saat berada di ambang pintu
“Bu, baru saja” dia tersenyum “Sebenarnya aku pulang
dengan Ami, tapi dia ada kuliah, jadi ku tinggal saja. Ku katakan dia bisa
pulang dengan temannya nanti”
“Oohh.. baiklah. Pasti kau belum makan, ayo makan
sama-sama” dia berkata sambil melangkah ke dapur “Ayo Heri, Ibu bawakan sayur
rebung”
#
“Hai, kak.. apa yang sedang kakak lakukan?”
Seorang wanita dengan rambut hitam panjang semampai
sedang duduk berhadapan dengan laptopnya yang berwarna biru cerah.
“Hmm.. biasa” katanya datar sambil memainkan
jari-jemarinya ke atas keyboard
laptopnya.
Benar saja, itu adalah salah satu kegiatan yang
paling disenangi kaum muda dewasa ini.
Di layar laptopnya tergambar sebuah halaman berwarna
dasar putih dengan kopnya yang biru tua. Di dalamnya terdapat banyak sekali coretan-coretan
tangan dari berbagai nama yang sesekali dibarengi dengan foto-foto.
“Facebook?”
“Hmm”dia bergumam
Sambil kuperhatikan Kak Yuli bermain dengan halaman facebooknya, sambil ku ikut duduk di
sampingnya dengan rencana aku mungkin akan berlama-lama di tempat itu.
Beberapa saat setelah itu aku sontak teringat akan
sesuatu yang pernah ku dengar dikatakan oleh Kak Yuli sendiri
“Oh ya, kak... aku baru ingat jikalau dulu kakak
pernah berkata kepadaku bahwa kakak membuatkan halaman facebook untukku dan juga
Kak Ami”
“Hmm... ya, kakak ingat” katanya lagi-lagi datar
sekarang sambil memutar tombol mouse
lapotop itu ke atas dan lalu ke bawah
“Bisa kakak tunjukkan aku”
“Hmm,, iya tunggu dulu kakak sedang ada bisnis”
Lagi-lagi dia berkata dengan wajah yang datar
membuatku semakin risih dan penasaran.
Akhirnya ku putuskan untuk pergi dari tempat itu
untuk mengambil satu gelas minum dan beberapa makanan ringan dari lemari. Namun
sepertinya Kak Yuli salah paham, dia mungkin berpikir aku merasa jenuh karena
sikapnya dan membuatnya menahanku dengan sedikit teriak
“Eh, Heri.. Tunggu, kakak sudah selesai dengan
bisnis kakak. Kemarilah jika kau ingin melihat halaman facebookmu itu”
“Ah, tunggu dulu kak, aku ingin minum sebentar”
kataku datar
“Oh, baiklah kupikir..” dia tersenyum
Beberapa saat kemudian aku kembali dan kulihat dia
sudah tidak membuka halaman facebooknya
lagi melainkan hanya sedang browsing yang
sepertinya adalah sebuah blog yang ku tatap tak terlalu jelas karena latar
halamannya berwarna hitam.
“Ah Heri..kemarilah ku tunjukkan padamu halaman itu”
“Baiklah” kataku sembari duduk di dekatnya dan
menaruh sekaleng makanan ringan di sampingku
Dalam beberapa detik saja dia membuka halaman facebook lagi dan mulai mengetik sesuatu
di dalamnya
“Ini alamat e-mailmu : HeriH4@gmail.com”
“Hmmm...” aku mengangguk
“Dan ini kata sandinya : ********”
“Hmmm???” aku bergumam lagi sambil menaikkan sebelah
alis mata kananku
“Hahaha.. Heri-Heri, baiklah kakak hanya bergurau
saja. Kata sandimu adalah kalijaga” dia berkata dengan pelan
“Oohh, begitu, tunggu sebentar” kataku menahan
sambil mencari-cari sesuatu di atas meja di depan kami itu
“Hmm.. HeriH4@gmail.com, kalijaga” kataku ku pelan
sambil mencatat kata itu di tangan kiriku
“Sudah?”
“Iya sudah”
“Baiklah, dan Enter!”
Seketika halaman yang berisi identitas itu langsung
menghilang dan berganti dengan halaman yang pernah kulihat sebelumnya. Persis
sama, hanya saja jika kubaca sekilas terdapat beberapa tulisan-tulisan lama,
bahkan ada yang hampir setengah tahun.
“Nah, ini dia. Ayo gunakanlah” katanya sambil menepi
dari posisinya seakan-akan mempersilahkan aku mengambil posisinya itu
Aku bergumam datar. Sebenarnya aku masih tak terlalu
mengerti tentang halaman konyol yang disbut facebook.
“Jadi ini yang namanya facebook” yang aku lihat
hanya tulisan-tulisan yang penuh dengan curhatan-curhatan anak muda zaman
sekarang
“Aku masih tak mengerti kak” aku bertanya pelan
“Hal apa yang belum kau mengerti” katanya sambil
mendekatkan dirinya lagi
“Hmm,, entahlah.. apa maksudnya ini” tanyaku polos
“Ooh.. sederhana saja, facebook membantumu untuk
berkomunikasi dengan teman-temanmu”
“Jadi tak ada bedanya dengan pesan biasa kan”
“Ya, tapi ini sesuatu yang berbeda” dia tersenyum
“Jadi?”
“Pertama-tama kau harus mencari temanmu dahulu”
katanya sambil memindahkan kursos laptopnya menuju layar yang paling atas di
sana
“Klik, lalu tulis nama facebook temanmu, lalu klik
lagi dan ini ada gambar pesan dan kau buka gambar itu, dan mulai berbincang”
Katanya menjelaskan ku dengan wajah yang tak
dipalingkan dari layar laptopnya, sedangkan aku hanya menatapnya polos sembari
memindahkan tatapanku ke arah layar laptop sesekali waktu.
“Jadi begitu..” kataku sambil mengangguk tanda
paham, walaupun hanya sedikit yang kumengerti dari perkataannya itu
Lantas Kak Yuli kembali menepi lagi dan aku kemudian
mencoba melakukan apa yang dikatakannya itu.
“Ayo cobalah” katanya sambil tersenyum
“Baiklah Kak” kataku pelan
“Cari di kotak warna putih itu Heri!” dia berkata
agak keras
“Ah, aku mengerti kak, aku hanya melihat-lihat sekilas
saja”
“Ooh,, begitu” dengan pelan dia kembali terbenam
menyandarkan dirinya di tembok sambil mengambil sedikit makanan ringan yang
kubawa tadi
“Kak Yuli, sepertinya ini semua orang tua saja”
kataku seperti sedang menyindir
“Aa? Hahaha,, Hmuaa—aa—emang—aa--“ katanya dengan
mulut yang penuh dengan makanan
“Ah? Apa yang kakak katakan?”
“Semuanya memang teman-teman kakak” katanya dengan
tenang setelah menelan habis semua makanan itu
“Baiklah, Heri kakak ingin keluar dulu, jika kau
telah bosan tolong di disconnect
internetnya oke”
“Oke Kak Yuli”
***
BAB 21 PEKERJAAN
RUMAH
Teet—teet---teeet... Suara dering
bel pulang sekolah berbunyi lantang memekikkan telinga.
Koridor-koridor itu penuh sesak dengan banyaknya
siswa-siswi yang berjalan kesana-kemari, sempitnya ditambah dengan guru-guru
yang tengah berjalan menuju kantor guru karena kelasnya telah selesai.
Aku berjalan menembus keramaian bak sungai orang itu
dengan langkah pelan namun pasti, walaupun aku tak tau harus kemana.
Hari ini aku telah membuat perjanjian dengan
kawan-kawanku untuk mengerjakan tugas matematika yang diberikan oleh Pak Rudi,
tugas akhir semester katanya. Tetapi entah dimana mereka berada. Kantin, tidak,
Koperasi, tidak, lapangan, tidak. Hingga akhirnya sebuah suara memanggilku dari
belakang
“HERI!!”
Aku yakin dia berteriak karena jaraknya lumayan jauh
dari tempatku berdiri
“Woy, Sat!” kataku sambil tersenyum lebar melihat
wajah itu
Sungguh tak ku sangka, Satrialah yang memanggilku
teriak dari kejauhan. Dia lantas menuju ke arahku sementara aku menuju ke
arahnya
“Pulang?” katanya singkat
“Hmm,, entahlah. Sebenarnya aku sedang mencari
orang, tapi...” kataku lemah
“Orang? Siapa?”
Kami berbincang sambil berjalan yang baru ku sadar
aku berjalan menuju ke gerbang sekolah, padahal aku tak punya niat ke sana
sebelumnya.
“Rendi.. Kau tau?”
“Owwh,, tidak” dia tersenyum
Sepertinya ada hal yang berbeda dari Satria, dia
hari ini sangat bahagia sekali. Yah walaupun tiap hari aku melihatnya tertawa.
Mungkin karena ini pertama kalinya aku berjalan bersamanya setelah sekian lama.
“Dasar, katanya ingin menyelesaikan tugas matematika
bersama. Hah, manusia..” kataku sedikit ketus memikirkan kata Rendi yang
mengajakku untuk kerja kelompok tadi siang
“Tugas matematik?! Yang mana?”
Satria sepertinya sedikit terkejut mendengar aku
mengatakan tugas matematika
“Tugas akhir dari Pak Rudi. Kenapa memang?” kataku
datar
“Ternyata kita dapat tugas yang sama Ri”
“Memang, Pak Rudi memang mengajar di semua kelas 8”
kataku sambil duduk di halte depan sekolah
“Ini hal yang bagus” dia berkata sambil cengengesan
“Bagus, kenapa?” kataku bingung
“Sudah jelas bukan?” tetap cengengesan
“Jelas?” Satria semakin membuatku bingung
“Baik, nanti sore aku akan kerumahmu untuk
menyelesaikan tugas itu bersama”
“Benarkah?”
Memang benar dugaanku, ada sesuatu yang tidak beres
dengan Satria, dia senang sekali hari ini, sampai dia akan kerumahku sore nanti
“Tapi apa kau masih ingat jalannya, sudah lama kau
tak ke sana?” kataku pelan
“Tenang, aku masih ingat sedikit. Akan ku ajak Rofi
dan Agung juga”
“Hmm..” gumamku masih bingung dengan tingkahnya itu
“Baiklah, terserah kau saja”
Akhirnya dengan ancungan jempol kecil, dia langsung
berbalik arah dan berjalan pulang.
Dasar Satria, pikirku.
#
Tik-tok-tik-tok.. Lama aku perhatikan jam dinding
yang terpampang di atas tembok berwarna oranye terang hampir putih itu, yang
jarum pendeknya menunjukkan pukul 3 lebih beberapa menit.
Bayangan Satria akan kemari tidak pernah lepas dari
pikiranku, apakah ini reuni yang terulang setelah sekian lama pikirku.
Di sana, kami belajar bersama. Mengerjakan hitungan
demi hitungan dan rumus-rumus yang memekakkan mata. Bermain video game, karena
Satria memang suka mengoleksi game di laptop yang dia miliki.
Namun lamunanku segera buyar setelah suara adzan ashar
memanggil. Lantas ku langsung menuju masjid untuk menunaikan sholat.
Setelah selesai sholat, aku membaringkan diri
sejenak di atas tempat tidurku.
Hari yang lelah, gumamku dalam hati. Sepertinya
Satria tak akan kemari jua.
“Assalamualaikum”
Sebuah suara yang sayup-sayup terdengar dari arah
luar, dan sepertinya aku mengenal suara itu.
Dia mengucap salam lagi, dan aku memastikan suaranya
dengan seksama. Akhirnya setelah yakin, aku langsung bangkit dari tempat tidur
itu dan langsung menuju gerbang.
“Waalaikumussalam..”
Ku buka pintu gerbang seng itu, dan apa yang
kutemukan adalah senyuman rendah yang berasal dari 2 orang di sana.
“Lho, Rofi mana?” tanyaku pada salah satunya
“Dia tak ada dirumahnya, ibunya bilang dia pergi
kerumah temannya” dia menjawab datar
“Ooh.. baiklah, ayo ke dalam” ajakku sambil
menyodorkan tanganku pada mereka
“Kau bisa naik motor, Satria?” tanyaku pada Satria
“Yaah, begitulah..” dia tersenyum di balik wajahnya
“Sejak kapan?”
“Sebenarnya, dari mulai masuk SMP, namun Ibuku tak mengizinkanku
naik motor ke sekolah, itu sebabnya kau tak tau jika aku bisa naik motor”
“Lagipula, sekolah tak mengizinkan siswanya pakai
motor” kata Agung
Sambil mereka duduk di kamarku, sembari aku menuju
dapur untuk membawa beberapa makanan kecil.
“Siapa itu Heri?” kata ibuku sambil memfokuskan
dirinya ke arah tumis yang sedang di aduk
“Ooh, itu Satria dan Agung” kataku pelan
“Satria? Kok tumben?” katanya mengangkat alisnya
terkejut
“Kita ada tugas akhir semester, makanya dia kemari”
“Ooh” dia mengangguk pelan
Ibuku memang menganal Satria dari sejak kami masih
kelas 7, aku banyak bercerita tentangnya dan karena Ibu Hidayah juga merupakan
teman kelas Ibuku dahulu waktu SMP.
“Hai, Heri kau punya facebook?” kata Agung bertanya
padaku
“Facebook” sontak pikiranku langsung tertuju pada
saat Kak Yuli mengatakan facebook kepadaku
“Iya, aku punya” kataku sambil menaruh makanan kecil
itu di samping kami
“Weiis, hebat kau Ri” kata Satria yang duduk di atas
kursi belajarku
“Kenapa?”
“Tak apa, ngomong-ngomong apa nama facebookmu? Biar
aku bisa menambahmu jadi teman”
“Heri Hardiansyah” kataku pada mereka
Beberapa saat suasana sepi sejenak, yang terlihat
hanya Satria dan Agung sedang mengetik di laptopnya
“Hahahaha....!!” mereka tertawa lepas beberapa saat
kemudian
“Kalian kenapa?” kataku bingung
“Heri-Heri.. Ini kau?” Kata Satria sambil
menyodorkanku laptopnya
Di laptop itu terpampang halaman seperti yang aku
dan Kak Yuli buka kemarin, itu adalah facebook dengan latar belakang berwarna
birunya yang khas terdapat sebuah foto yang tak ku tau siapa.
Lama ku perhatikan foto itu, ternyata itu fotoku!
Tapi mengapa begini, kemarin tidak seperti ini, pikirku. Pasti ulah Kak Yuli.
“Aku?” tanyaku heran
“Iya kau” mereka masih terkekeh-kekeh
“Foto profilmu, Heri” kata Agung kemudian
Kak Yuli, mengganti foto profilku yang kemarin
dengan fotoku saat aku sedang duduk bersila sambil mengekspresikan wajah yang
aduhai memakai jilbab.
“Woy, bagaimana cara menggantinya?!” kataku sedikit
berteriak
“Tak apa Heri, ini bagus” kata Satria kemudian
“Bagus sekali tentu! Cepat beritau aku”
Kali ini, amarahku naik. Aku mengerti memang jika
Kak Yuli memasang itu sebagai bahan gurauan saja, namun tidak di depan
teman-temanku.
“Baiklah, coba kau buka dulu facebook milikmu” kata
Satria yang berangsur-angsur tertawanya menghilang
“Sudah, lalu?”
“Begini, kau klik gambar ini, lalu kau tinggal ganti
fotomu”
Aku melakukan apa yang dikatakan Satria, hingga
akhirnya foto itu telah ku ganti dengan yang baru. Awas saja Kak Yuli, pikirku.
“Hai, Heri” kata Satria menyiku tubuhku “Kau ingin
melihat facebook Sintia?” katanya pelan
Aku sedikit terkejut mendengarnya mengatakan hal
itu. Bagaimana dia tau hal itu, aku tak pernah terpikir bahwa Sintia juga
mempunyai akun facebook.
“Apa maksudmu Sat?” kataku berpura tidak tau hal
apapun
“Alah, jangan berbohong Heri. Kau tak pandai
berbohong. Semua tau bahwa kau menyukai Sintia”
“HHKK” aku menelan liur sejenak.
Bagaimana? Bagaimana hal ini bisa terjadi? Bagaimana
dia bisa tau?
“Hei Sat....”
“Tentu saja aku tau, dari semua gelagatmu jika
berada di dekat dia. Kau tidak bisa menyembunyikan itu” dia terkekeh
Pada akhirnya aku terus bingung apa yang Satria
maksud, tapi aku juga tidak bisa menyangkal fakta bahwa aku memang menyukai
gadis itu sejak aku mengenalnya.
“Baiklah, kau menang Satria, aku memang bingung
bagaimana kau bisa tau, tapi sudahlah aku rasa hal itu tak perlu kita
permasalahkan” kataku melemah
“Haha, tenang saja teman. Itu hal yang wajar” dia
sekarang tertawa terbahak-bahak, sedangkan Agus masih terfokus pada laptopnya.
Kamipun meninggalkan aktifitas kami sejenak untuk
berjalan menuju tujuan utama kami berkumpul di dalam ruangan yang pengap ini
meskipun hanya bertiga.
“Hei, Agung kau yang pintar IPS tolong koreksi
jawabanku, kau sudah menjawab bagian B halaman 70 kah?” tanyaku pada Agung
sambil bersandar di kursi tempat Satria duduk
“Ah iya, tentu saja semuanya sudah ku jawab”
“Kalau begitu, ini nomor satu....”
#
Tak terasa hampir 2 jam kami berada di dalam ruangan
buram yang hanya diterangi oleh setitik cahaya matahari sore dari jendela di
sebelah barat.
Akhirnya aku permisi untuk mengambilkan beberapa
cemilan dan air untuk istirahat sejenak.
“Hi, Satria” sapaku pada Satria yang sekarang sedang
bermain game dengan laptopnya sambil menaruh cemilan yang ku bawa di atas meja
“Hmm” gumamnya
“Aku.... hmmm,, aku masih terpikir dengan hal yang
kau katakan sebelumnya”
“Hmm,, apa maksudmu?”
“Yaa,, tentang.. maksudku, tentang hmm, facebook dan
semacamnya”
“Oooh,, itu.. haha tenang kawan.. kau yakin tentang
ini?” dia tersenyum
“Iya, aku yakin” kataku menegaskan
“Oho, tenang kawan. Akan ku beritahukan kepadamu”
Sontak Satria langsung memperbaiki posisi duduknya
seperti orang yang sudah siap untuk menghadapi ledakan bom dari udara.
Dia mulai membuka sebuah halaman seperti yang
dilakukan oleh Agung sebelumnya.
Tik-tak-tak-tak-tik-tak.. suara dari derikan
keyboard laptopnya berbunyi seiring gerakan tangannya menekan tombol-demi
tombol di sana.
“Nah ini dia” katanya sambil memperlihatkan aku
layar laptopnya
“Hmmm...” gumamku sambil memperhatikan apa saja yang
ada di sana “Heh, aku rasa namanya salah ini bukan dia” kataku kemudian
Benar saja di dalam layar laptop itu tak ada satupun
tulisan ataupun foto yang berkenaan dengan Sintia terkecuali satu hal.
“Ah, maaf Heri, aku lupa memberitahumu sebelumnya,
bahwa itu bukan facebook miliknya tapi itu milik adiknya” kata Satria sambil
menggaruk-garuk kepalanya
“Benarkah?” pantas saja ada kemiripan di foto itu
“Jadi, kenapa kau menunjukkan ku facebook milik adiknya”
“Yah, sudah jelas bukan. Dia tak punya facebook,
tapi sering kali dia menggunakan facebook milik adiknya”
“Kenapa seperti itu”
“Entahlah, mungkin dia malu” dia terkekeh
“Eh, malu..?” yah mungkin saja pikirku
***
BAB 22 YANG
PERTAMA
“Baiklah anak-anak, cukup untuk
sore ini silahkan kembali ke rumah masing-masing dan kita akan lanjutkan minggu
depan” “Oh, dan jangan lupa teruslah berlatih sendiri di waktu luang kalian”
Suara serak-serak yang sekarang semakin terdengar
renta dan sedikit lemah namun bertenaga itu sontak memenuhi ruangan dan
menghentikan segala pembicaraan di dalam ruangan remang itu.
Pak Subardan sekaligus pelatih kami menghentikan
kegiatan ekstra musik kami sore itu, sedikit terlalu cepat memang. Sepertinya
pria renta itu ada kegiatan lain yang lebih penting daripada duduk termenung di
sini.
Dan akhirnya kamipun beranjak dari ruangan itu
sembari menenteng beberapa buah gitar dan keyboard yang biasa kami gunakan
untuk berlatih.
“Hei, Heri. Apa kau ada waktu sore ini?” kata Fian
membisikku kecil
“Hmm, entahlah ada apa tiba-tiba saja?”
“Tak ada sesuatu yang penting” katanya sambil
nyengir “Aku hanya tak punya sedikit waktu luang di rumah, jadi kau mau ke
rumahku sebentar?”
“Benarkah? Orang tuamu kemana?” tanyaku kepadanya
“Ayahku belum pulang kerja, Ibuku masih di kota
sana”
“Aku mengerti kau begitu menderita Ian?” kataku
sedikit mencoba bergurau
“Yah, ironis memang” katanya mencoba menuruti akting
orang yang sedang sedih
“Ah, bagaimana kalau kau ke rumahku saja, itu sama
artinya dengan yang tadi bukan?” kataku akhirnya setelah berpikir agak lama
“Heeh, kalau memang sama untuk apa kau
mempertimbangkan kembali Her?”
“Bukan begitu, aku hanya belum bisa membawa motor
sendiri. Apa jadinya kalau aku terlalu larut dirumahmu?”
“Tenang saja, masalah seperti itu gampang” dia nyengir
lagi dengan gigi khasnya yang bagian atasnya sedikit maju ke depan “Nanti aku
antar kau pulang”
“Hmm... okelah”
Sebenarnya aku tak terlalu yakin sebelumnya ke rumah
Fian, karena alasan ku tadi. Ditambah Ibuku juga tak begitu mengizinkanku untuk
pulang sekolah terlalu larut.
Oh iya ada handphone. Akhirnya ku bulatkan saja
tekadku ke rumah Fian, hitung-hitung menambah keakraban pikirku, nanti aku bisa
mengirim pesan ke rumah.
“Jadi, ini rumahmu?” kataku setelah kami berhenti di
sebuah bangunan kecil
“Tak begitu mewah memang, tapi mungkin saja jika kau
masuk ke dalam kau akan merasakan hangatnya kekeluargaan” katanya tersenyum
Ku perhatikan dengan seksama bangunan itu, tak
terlalu besar memang. Sederhana cukup untuknya.
Ukurannya sekitar 5x4 meter, dengan dinding luar
yang berwarna biru muda seperti langit yang sedang cerah-cerahnya namun di
beberapa sisi di samping kiri dan kanan warnanya terlihat luntur, sepertinya
rumah ini sudah lama sekali belum direnovasi. Atapnya dari genteng semen yang
hampir menjadi hitam karena sudah lama terkena panas dan dingin hujan. Di
sekelilingnya terdapat rumah-rumah tetangga lain dan jalan raya di depannya.
“Ah, ini sangat bagus menurutku Fian” kataku mencoba
memujinya
“Eee, tak usah sungkan-sungkan. Ayo masuk”
Dan kamipun masuk ke dalam rumah itu. Setelah Fian
membuka pintu depan dengan kunci yang terselip di balik keset rumahnya dan
dengan suara derik pintu yang rapuh, aku melihat sebuah ruangan yang gelap
dengan hanya satu jalan sinar yang masuk ke dalamnya namun sepertinya sangat
jauh di dalam rumah.
Namun setelah sekitar satu menit barulah aku bisa
melihat dengan jelas beberapa buah kursi empuk yang biasanya disediakan untuk
tamu dengan sebuah rak televisi dengan televisi kecil di atasnya dan sebuah
mesin kontrol ditengahnya dan dua buah sound di kiri dan kanan.
“Masuklah, ayo. Tunggu aku sebentar, aku berganti
dulu” katanya sambil bergegas menuju kamarnya
Akupun duduk di bawah kursi itu, tepatnya di atas
karpet yang berada di bawah kursi. Aku mengambil ponselku dan mulai mengetik
pesan untuk orang-orang dirumah untuk berjaga-jaga agar mereka tak khawatir.
Triing.... suara ponselku berbunyi sekali tanda ada
pesan masuk.
Wah cepat sekali pikirku, padahal belum ada
pemberitahuan bahwa pesan yang ku kirim kepada mereka telah diterima.
Namun setelah ku buka pesan masuk itu, bukan Ibuku
yang membalas pesanku namun sebuah nama dari temanku yang paling ku kenal.
Dari Sintia...
“Assalamualaikum” bunyi pesannya
Aku sungguh bingung, bukan membingungkan kenapa
Sintia tiba-tiba mengirimiku pesan singkat namun bingung kenapa aku bingung
saat Sintia mengirim pesan singkat itu.
Sebentar aku tak memperhatikan Fian yang berdiri di
sampingku namun sedikit jauh sehingga Ia mustahil bisa melihat pesan yang ada
di ponselku.
“Hei, Heri. Apa kau mau makan sesuatu?” kata Fian
menyapa
“Aah,, tak perlu repot-repot Ian, aku masih kenyang”
kataku pelan sambil memegang perutku
“Kau ini, terlalu mustahil untukmu berbohong”
katanya datar
“Maksudmu?”
“Aku tau kau, langka sekali pergi keluar kelas hanya
untuk membeli makanan di sekolah”
“Benarkah?” “Kurasa kau benar” kataku sambil nyengir
“Kalau begitu ayo, aku ada mie instan jika kau suka
“Hmm,, baiklah” aku sebenarnya memang sedikit lapar,
jadinya ini merupakan tawaran yang bagus
Ah, aku hampir lupa pesan dari Sintia.
Rasa bingung itu kembali melanda, hingga tak tau aku
harus menulis kata selain “Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh”
kepadanya
Sedikit tanganku sedikit gemetar saat menulis pesan
itu. Apakah aku gemetar karena lapar ataukah.... ya, karena lapar pasti.
Akhirnya ku ikuti Fian menuju dapur rumahnya yang
berada di belakang rumah.
Kamipun menunggu satu sama lain untuk mendidihkan
air untuk mie instan kami, kebetulan tempat kami memasak air hanya ada satu,
jadi aku dipersilahkan lebih dulu oleh Fian.
Setelah siap semuanya, aku dan Fian menuju ruang
utama tempat aku duduk tadi untuk makan di sana, dan dengan lahapnya Fian
langsung menyantap mienya itu.
“Hei, Ian. Baca do’a dulu”
“Astaga” katanya sambil menelan makanannya dan
kemudian membaca Bismillah dengan suara yang kecil
Dasar Fian, pikirku.
Tiba-tiba ketika kami sedang asik menyantap makan
siang kami walaupun hanya semangkuk mie instan, ponselku berdering lagi.
Pasti dari Sintia lagi pikirku....
“Wah, Heri. Aku tak tau kau punya ponsel” kata Fian
melirikku
“Ah, hanya ponsel untuk kepentingan sekolah Ian”
kataku pelan
“Coba kulihat” katanya tanpa aba-aba langsung
merebut ponselku, sontak akupun terkejut
“Dari siapa?” katanya pelan
Benar saja, dia akan membaca pesan itu.
“Khem.........” Fian berdeham keras dan aku sangat
mengerti apa maksudnya itu
“Ini minum” kataku menyodorkan gelas padanya sambil
mencoba memutar fakta yang ada
“Ternyata Sintia...” dia tersenyum lebar sekali
“Uhuk...” mie yang aku telan hampir saja kukeluarkan
kembali mendengar Fian berbicara seperti itu “Apa maksudmu?”
“Nah, bohong lagi kan? Hahaha” katanya menggodaku
Tanpa aba-aba pula aku langsung mengambil ponselku
kembali.
Licik Fian, dia lebih dulu membaca pesan itu
daripada pemiliknya.
Akupun membuka isi pesan itu. Dan memang benar dari
Sintia, sontak bingung itu datang lagi namun aku tak ingin terang-terangan di
depan orang lain, aku hanya mencoba bertingkah biasa saja.
“Heri sedang apa?” begitu isi pesan yang kuterima
dari Sintia
Wah, dia bertanya kali ini. Apa yang harus ku jawab,
akhirnya aku mencoba jujur.
“Aku sedang duduk-duduk dengan Fian” jawabku singkat
“Sudah makan?” katanya tak lama lagi
“Ini sedang makan sama Fian juga” kataku menjawab
lagi
“Hee,, tadi, kau berkata sedang duduk saja, sekarang
makan” ponselku berbunyi lagi
Sial, akhirnya karena begitu mengganggu ku matikan
suara ponselku dan kembali melihat pesannya
“Maksudku, kami sedang duduk sambil makan” kataku
mencoba menjelaskan walaupun ku tak berharap akan menjadi jelas
Fian hanya termangut-mangut sambil sesekali berdeham
dan melirik ke arahku.
“Kalau begitu lanjutkan makannya” katanya kemudian
“Kalau Sintia, sudah makan?” tanyaku lagi
Namun karena aku begitu terganggu dengan tingkah
laku Fian, aku tak melihat ponselku lagi, dan karena suaranya aku matikan aku
tak tau apakah Sintia membalas pesan itu atau tidak.
“Jadi, Sintia?” katanya setelah meneguk segelas air
disebelahnya
“Apa maksudmu?” kataku mencoba mengelak
“Ayolah, Heri.. kau tak perlu malu” katanya mencoba
membujukku bicara
Namun aku hanya diam melanjutkan makan siangku
walaupun mie di mangkukku sudah tinggal kuah saja.
“Kau tau, aku juga pernah seperti itu. Anak kota”
katanya sambil berbisik kepadaku namun dengan suara seperti orang yang bukan
sedang berbisik
“Benarkah? Jadi bagaimana?” kataku meluruskan
“Haha, sebelum aku bercerita.. kau lebih dulu harus
bercerita kepadaku” katanya nyengir
Aaah,, Fian lagi-lagi berhasil menjebakku
“Baiklah,” kataku setelah agak lama terdiam
“Nah begitu lebih bagus”
“Kau yang pertama yang ku beritau, dimana orang lain
hanya menebak-nebak sisanya”
“Oh ya? Wah aku merasa tersanjung” katanya mencoba
bergurau
“Aku sebenarnya menyukai Sintia” kataku setelah lama
sekali mengambil nafas, seakan-akan paru-paruku tak ada batas udaranya
Untuk mengucapkan kalimat seperti itu aku
membutuhkan lebih dari seratus ribu ton keberanian walaupun hanya dengan
sahabatku ini.
“Benarkah? Jadi apakah Sintia tau?” Fian bertanya
lagi
“Tentu saja tidak! Tapi, iya.. tidak... aku tak tau”
kataku lemah
“Heri-Heri... aku begitu merasa kasihan denganmu”
katanya kembali memperlihatkan giginya yang bagian atasnya maju sedikit “Jadi
bagaimana awalnya?”
“Aku tak tau Ian, aku sungguh bingung. Perasaan ini
tak pernah ku rasakan sebelumnya, dan perasaan ini datang dengan sendirinya”
“Benarkah,, sungguh pengalaman dari seorang anak
yang labil” katanya sok dewasa, bukannya menanggapi dengan serius, Fian hanya
mencoba bercanda dengan menggodaku sejak tadi
“Mungkin, sepertinya aku suka sifatnya,
tingkah-lakunya, senyumnya” kataku akhirnya mulai berani berbicara masalah ini
bersama Fian saja
“Jangan mungkin, kau tak boleh labil dalam hal
seperti ini Heri” kata Fian menegaskan
“Baiklah, aku suka sifatnya, tingkah-lakunya,
senyumnya” kataku kemudian
“Haha, begitu lebih baik” dia tersenyum “Hanya itu?”
“Entahlah, mungkin masih banyak lagi namun aku tau
tau bagaimana harus mengatakannya”
“Yaah, mungkin lagi” katanya nyengir
“Aku tak tau pasti!”
“Jadi, apakah Sintia tau bahwa kau menyukainya?”
“Entahlah, mungkin tidak” kataku melemah lagi
“Kalau begitu coba saja katakan padanya” kata Fian
kemudian
“Kau bodoh, bagaimana mungkin aku mengatakan hal
seperti itu pada Sintia”
“Memangnya kenapa?”
“Aku takut aku akan merusak hubunganku yang sekarang
dengan dia”
“Yah, kalau begitu.. lakukanlah apa yang menurutmu
baik untuk dilakukan. Ingatlah Heri, ini merupakan salah satu jalan menuju
kedewasaan”
“Benarkah?”
“Iya, dan itu juga sudah merupaka hukum alam, yang
kita tak bisa mengganggunya”
“Kurasa kau ada benarnya”
Kamipun terdiam sejenak sampai aku melihat angka di
jam dinding milik Fian,
“Astaga sudah pukul setengah enam, apakah kau bisa
mengantarku pulang sekarang Ian?” kataku sedikti panik
“Ah, iya boleh saja. Ayo. Kapan-kapan kita bisa
bercerita lagi, dan aku akan memberitahumu tentang anak kota itu”
“Terserah kaulah, ayo”
“Hehe” dia nyengir lebar
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tolonglah berkomentar dengan sopan, NO SPAM!, dan dengan bahasa yang santun pula. Karena komentar anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini ke depannya.