21 Januari 2018

Daun-Daun yang Terbang Mencari Angin (Bab 17-19)



BAB 17 GUMPARAN
            Akhirnya pertemuan di pramuka selesai juga, ku lihat Kak Rozi sekarang sedang duduk di teras depan perpustakaan. Sepertinya dia sedang menjaga anggota-anggota lain yang tengah tertidur pulas.
Aku sekilas melihat ponselku dan di sana tertulis angka 23:15 di atasnya.
Ternyata sudah malam, pikirku.
Tetapi sebelum aku mengistirahatkan tubuhku, terlebih dahulu aku berencana untuk melihat keadaan PMR di ruangan sana, khususnya keadaan Sintia, apakah dia sudah tertidur atau belum.
Tiba-tiba saja Fian datang dari belakang dan menepuk bahuku, sontak saja aku langsung terkesiap dengan hal itu.
“Fian! Kau mengejutkanku” kataku sedikit berteriak
Dan Fian hanya tertawa-tawa melihat reaksiku.
“Hei Heri, apa kau ada acara di pramuka sekarang?” katanya kemudian
“Ah tidak, mungkin acara malam ini telah usai” kataku datar sembari berjalan menuju sebuah anak tangga di depan sebuah ruangan dekat perpustakaan berada.
“Tidak sepenuhnya benar” kata Fian sambil mengikutiku duduk di anak tangga itu.
“Apa maksudmu, aku mendengar bahwa Kak Widi mengatakan bahwa acara untuk calon pengurus OSIS akan dilanjutkan besok”
“Ya, kau benar aku juga mendengarnya. Tapi Pak Anto memintaku untuk berjaga-jaga di sekitar sekolah tadi”
“Jadi mengapa kau tidak keliling untuk berjaga-jaga?”
“Kau ingin membuatku gila?!” katanya sedikit berteriak
“Apakah baik bagi seorang pria kurus untuk berjaga-jaga sendirian?”
Ah, aku baru mengerti maksud Fian. Dan aku hanya tertawa kecil mendengarnya berkata begitu, khusunya pada saat dia berkata kurus.
“Tapi, kau tau juga tubuhku ini kurus, jadi mengapa kau mengajakku?”
“Karena aku tak punya pilihan lain lagi, sebagian besar teman-teman telah tertidur dan sebagiannya lagi mungkin pergi berjaga entah kemana” katanya pelan
Sesaat kemudian, aku mengiyakan permintaannya, aku pun menghampiri Kak Rozi dan memintanya untuk beristirahat, namun dia berkata belum mengantuk.
Mungkin ini kesempatan yang tidak terlalu buruk, pikirku. Sambil menuju ruangan tempat PMR berada, aku juga dapat teman bersamaku di malam yang sunyi ini.
Saat kami tengah berjalan dibelakang halaman sekolah untuk bejaga-jaga, halaman di sana sangatlah gelap.
Saat itu suasana ku pikir sedikit agak mencekam. Udaranya yang dingin menusuk kulitku walaupun aku mengenakan sarung yang kubawa untuk menghangatkan diri, dan lampu dari lapangan utama terlihat sangat redup di sana. Saking redupnya aku tidak melihat batu di depanku saat berjalan. Dan satu-satunya cahaya harapan adalah cahaya senter kecil yang dibawa Fian.
Namun anehnya, dia yang membawa sumber cahaya diantara kami berdua tetapi dia berjalan di depanku. Mungkin dia terlalu cepat berjalan, atau diriku yang terlalu lambat.
Hingga pada akhirnya aku mengambil sebuah batu kecil yang ku injak, dan melemparnya pelan ke arah kaki Fian.
“Woaaagh!!!!” Fian berteriak sambil meloncat dan mengarahkan senternya ke arah apa yang mengenainya tadi.
Sepertinya Fian sangat terkejut saat itu, sedangkan aku hanya tertawa terbahak-bahak dibelakangnya sambil melihat reaksinya.
“Woy, Heri!! Jangan main-main! Sial..” katanya kepadaku sambil tersenyum
Sepertinya dia telah sadar bahwa aku yang melempar benda itu kepadanya.
“Baik, baik.. Tapi tolong kau jangan berjalan terlalu cepat agar aku bisa melihat dari cahaya sentermu itu”
“Kau saja yang terlalu lambat” katanya datar, sepertinya dia masih marah tentang kejadian yang tadi.
Jadi terpaksa aku berjalan tidak dengan langkahku yang biasa agar mengimbangi kecepatan jalan Alfian.
Lama kami berjalan di tempat gelap itu, hingga pada suatu saat aku dan Fian mendengar suara derap kaki yang teramat banyak, sepertinya sedang berlari, dan suara sebuah teriakan yang sepertinya sedang marah-marah.
Lalu tanpa pikir panjang aku dan Fian segera berlari menuju sumber suara itu melalui koridor dan gang-gang terdekat.
Pada awalnya kami berpikir bahwa itu merupakan suara orang yang sedang kesurupan mengingat sekolah kami yang begitu manis ceritanya.
Namun setelah kami sampai di tempat itu, ternyata suara berisik itu datang dari anak-anak PMR yang tengah berlari karena dibangunkan dengan paksa oleh seorang pembina laki-laki di sana.
Mereka bergerombolan berlari menuju lapangan basket. Ternyata aku baru menyadari bahwa anggota PMR sangatlah banyak kala itu, sehingga aku tidak bisa membedakan di mana orang yang sedang ku cari.
Selepas itu, aku dan Fian melanjutkan penjagaan kami hingga saat kami berada di samping lapangan basket.
Di sana aku melihat segerombolan anak-anak PMR yang waktu tadi berlari yang sekarang tengah berbaris, dan di depan mereka berdiri seorang pembina yang tak ku tau apakah laki-laki yang tadi atau pembina mereka yang lain, karena redupnya pencahayaan.
Di sana aku memutuskan untuk beristirahat sejenak bersama Fian, namun Fian berjalan menuju musholla sepertinya ingin membasuh kotoran yang ia injak waktu kami berjaga tadi.
Aku duduk di rerumputan di samping lapang basket sambil memperhatikan anak-anak PMR yang berbaris itu.
Di antara barisan-barisan itu, mataku terhenti kepada salah satu anggota PMR di sana.
Sejenak aku langsung mengenali sosok itu walaupun di sana sangatlah redup.
Saat aku menatap orang itu, sontak jantungku langsung berdetak tak semestinya dan tubuhku menjadi sedikit bergetar.
Sintia, berdiri di antara barisan itu. Namun entah kenapa baru kali ini aku melihat Sintia tidak memakai jilbab, mungkin dia tak sempat memakainya saat di gusar oleh pembinanya tadi.
Ternyata Sintia, tidak hanya berjilbab saja aku melihatnya cantik. Tidak memakaipun apalagi. Aku terpaku di sana sambil menatapnya tak berkedip. Dan sepertinya dia tidak merasakan kehadiranku di sana.
Sintia begitu terlihat berbeda saat itu, rambutnya yang lurus dan panjang sebahu dan mungkin saja lebih terurai ke depan samping karena saat itu hanya cahaya yang sangat remang menyinari tempat itu, wajahnya membuatnya terlihat seperti bukan Sintia, walaupun aku masih mengenal mata bulat yang indah itu dan tinggi badan yang hanya sampai bahuku.
Lamunanku tersadar saat Fian kembali dari musholla, dan dia menepuk bahuku lagi berharap aku terkejut lagi seperti sebelumnya, namun harapannya gagal kali ini.
“Kenapa kau lama sekali?” tanyaku pelan
“Butuh waktu yang lama untuk menghilangkan harum dari kotoran yang ku injak tadi”
“Oh, aromanya harum?” kataku bercanda
“Ah, Heri.. kau tau itu hanya umpamaan”
Heri berkata singkat, namun aku hanya terkekeh-kekeh sendiri.
“Oh, dan juga aku bertemu dengan Pak Efendi di samping musholla”
“Ada apa, apa ada berita penting?” tanyaku sambil meninggikan alis mataku, walau tak ada harapan Fian dapat melihatnya.
“Ya, dan semua teman-teman harus mengetahui berita ini”
“Apa? Ada apa” aku semakin bingung
“Akan kuceritakan sambil berjalan ayo” Fian berkata sambil mengambil langkah yang panjang menuju ruang utama tempat calon pengurus OSIS tertidur.
“Ada apa?”
“Begini, tadi Pak Efendi berkata kepadaku untuk mengkonfirmasi kepada teman-teman untuk tidak berkeliaran di malam hari khususnya di bagian koridor di laboratorium biologi dan bahasa”
“Memangnya ada apa?”
“Kau tau, katanya dia telah bertemu dengan penjaganya”
“Penjaganya?!” kataku heran, aku mengerti dengan apa yang Fian maksud dengan penjaga dan hal itu membuat tubuhku sedikit merinding.
“Ah, kau bilang katanya”
“Tidak, beberapa guru juga telah ditegur oleh penjaga, bahkan Pak Satpam itu juga”
“Maksudmu Pak Epul?”
“Ya, itu. Tapi sekarang menyebarkan berita ini kepada kawan-kawan”
“Yah, kau benar”
Setelah beberapa waktu berjaga aku merasa sangat mengantuk, dan kulihat susana juga sudah sedikit sepi walapun masih ada beberapa dari pengurus OSIS yang lama berbincang-bincang di antara api unggun.
“Fian, ku rasa cukup untuk malam ini” kataku rendah kepada Fian
“Whoaam.. kau benar, lebih baik kita kembali ke ruangan” katanya sambil mengusap kedua matanya.
Kami pun melangkah ke ruangan OSIS, dan di sana telah teridur beberapa selimut yang beralaskan tikar.
“Selamat malam Heri” kata Fian sembari menarik selimutnya
“Selamat malam” kataku datar, namun Fian sudah tertidur pulas
Sebelum tidur, tak lupa kukirimi sebuah pesan bertuliskan selamat malam ke nomor yang bertuliskan nama Sintia di ponselku, walaupun aku tak berharap dia harus membacanya.
***



BAB 18 PENUNDAAN
            “Hmmmm....” gumamku saat tersadar setelah mendengar suara ayam berkokok dari sebuah rumah di samping sekolah.
Pagi itu aku merasa menjadi seorang yang sangat malas sekali.
Bagaimana tidak, semua teman-temanku masih terlungkup dibalik sarungnya yang digunakan untuk menyelimuti diri. Dan suasana pagi yang begitu dingin menusuk tulang, membuatku ingin kembali jatuh dalam sebuah alas tikar seadanya di lantai.
Namun beberapa saat aku hendak tidur lagi, sebuah suara adzan berkumandang dari sebuah masjid yang sedikit agak jauh dari sekolah, tepatnya beberapa puluh meter setelah menyebrang jalan keluar sekolah.
Akan tetapi, suaranya begitu nyaring sehingga membangunkan beberapa temanku yang tertidur nyenyak.
Diantara tulang-belulang dan lemak-lemak yang berbaring itu, hanya aku sendiri dan Fian yang meloncat berdiri dari alas tidur kami.
“Selamat pagi, Herii...” katanya sambil menggosok-gosok sebelah matanya bergantian.
Suaranya terdengar muram dan sedikit malas. Dan aku mengerti akan hal itu.
“Pagi Ian,,” kataku singkat, dan tanpa kusadari suaraku juga ikut serak seperti kebanyakan orang yang baru bangun tidur.
“Mimpi indah?” tanyaku kemudian pada Fian
Namun dia tidak merespon sama sekali, mungkin tidak mendengarku. Pikirku.
Dia hanya sibuk mencari sesuatu di sebelahnya tempat dia tertidur, yang kulihat adalah sebuah ponsel kecil berwarna putih.
“Heri...”
Katanya masih dalam nada yang berat sambil menunjuk ke arah luar dan memberi isyarat sholat dengan mengangkat kedua tangannya lalu menaruhnya ke dadanya.
“Bagaimana dengan yang lain?” kataku sambil melihat tubuh-tubuh yang terbenam dalam selimut itu.
Fian pun melakukan hal yang sama dan berkata “Bangun!” masih dengan nada yang berat sambil mengguling-gulingkan badan yang entah siapa yang berada paling dekat dengannya.
Namun diantara sekelompok sarung tidur itu hanya beberapa yang tersadar dan beranjak untuk pergi sholat subuh bersama.
Sesaat setelah sholat subuh di musholla sekolah, aku melihat sesosok siluet manusia tengah duduk di depan perpustakaan sekolah.
Sosok itu tengah menatap ponsel yang dipeganginya sebelah tangan, sehingga cahaya redup dari ponsel itu menerangi beberapa bagian wajahnya.
‘Seperti aku mengenalnya’ kataku dalam hati.
Aku pun mencoba mendekatinya.
Sosok bayangan itu kini semakin dekat dan semakin jelas, dan semakin jelas.
“Kak Rozi!” kataku sedikit keras
“Eh, Heri... Selamat pagi” katanya pelan
Suaranya terdengar sedikit serak,dan terlihat jelas kantung mata yang lebar itu menanadakan dia hampir tidak tidur semalaman.
“Kakak terlihat tidak begitu baik, apa yang terjadi?”
“Ah, kakak tidak bisa tidur semalam”
“Apa yang terjadi?”
Kak Rozi menghela nafas sejenak di udara yang dingin.
“Kemarin malam ada sesuatu hal yang membuat kakak tidak bisa tidur”
“Makanya, hal apa itu?” tanyaku semakin penasaran
“Itu, kau lihat?” katanya sambil menunjuk dengan ibu jarinya ke arah samping musholla sekolah, tepatnya ke arah laboratorium biologi.
Aku mengarahkan pandanganku ke sana, lalu mengkerutkan dahiku sambil memandang Kak Rozi kembali.
“Kau tau tentang penjaga?”
“Penjaga?” gumamku rendah, lalu sontak teringat dengan kejadian semalam saat aku berjaga dengan Fian.
“Kau tau bukan?”
“Ya, aku tau”
“Kemarin malam, kakak melihat penjaga itu di sana. Dan terpakasa kakak harus terjaga untuk menjaga teman-teman yang lain untuk tidak berbuat hal yang tidak di inginkan”
“Aku dengar bahwa Pak Efendi dan Pak Epul juga ditegur semalam”
“Ya, benar. Tadi malam mereka berdiskusi agar semua siswa tidak membuat keributan di sekitar laboratorium biologi itu”
“Ah, masa.. kakak tak perlu menakut-nakutiku”
“Kau tidak percaya?”
“Hmm” anggukku pelan
“Baik, terserah kau percaya atau tidak. Tetapi yang penting kakak sudah memberitaumu”
Kak Rozi, tersenyum kecil dibalik wajahnya yang muram.
Akupun melangkah pergi untuk membeli beberapa makanan di samping jalan, karena persediaan makananku telah habis kemarin.
Aku sebenarnya percaya dengan cerita Kak Rozi tadi, mengingat waktu malam aku berjaga dengan Fian dan di sana dia bertemu dengan Pak Efendi.
Apakah gara-gara anak-anak PMR kemarin?
Ah, tidak mungkin. Lagipula, saat itu tak ada laporan apapun mengenai hal itu, pikirku dalam hati.
Tapi sudahlah, hal itu tidak penting lagi sekarang. Namun, mempersiapkan diri lebih baik daripada memikirkan hal-hal yang tidak-tidak.
“Terima kasih” ucapku ketika menerima sebungkus nasi hangat dari ibu pedagang itu.
Hmm, rupanya enak. Gumamku dalam hati begitu mencium aroma dari nasi bungkus itu.
Memang hanya nasi bungkus, tapi inilah kita. Dalam keadaan seperti ini, mendapat nasi bungkuspun sangat disyukuri.
Tak kusangka ditengah perjalananku ke teman-teman pramuka ku, aku berpapasan dengan Sintia.
Sontak, aku sedikit terkejut namun tak terlihat dari luar.
“Hai, Sintia. Selamat pagi” sapaku padanya dengan senyum seadanya.
“Hai, Heri. Pagi juga” dia membalas senyumanku.
Kamipun berhenti untuk berbincang-bincang sejenak.
“Bagaimana tidurmu? Mimpi indah” dia bertanya kemudian
Pertanyaan Sintia memang sederhana dalam ukuran untuk membangkitkan suasana mengobrol, tapi bagiku susah menemukan jawaban yang sesuai dengan pertanyaan itu.
Aku tak tau apa yang terjadi pada diriku, aku seakan seperti patung yang diam tak bernyawa.
“Aku,, memimpikan seseorang”
Ah, sial. Tanpa kusadari kalimat itu keluar begitu saja dari mulutku.
Padahal aku tak memikirkan apapun, hanya saja kata-kata itu keluar saat aku menatap mata Sintia yang begitu sejuk.
“Oh, ya benarkah, siapa?” katanya dengan nada penasaran
Serentak aku langsung, menyadari diriku dan langsung merubah topik pembicaraan
“Aa---kau mau ke mana Sintia?”
“Aku ingin membelikan teman-teman dan pembinaku nasi bungkus, sepertimu” katanya sambil melirik bungkusan yang kupegang
“Oh, kau hanya sendiri?”
“Memangnya, membeli nasi bungkus harus ramai?” katanya berusaha membuat lelucon
“Ya, maksudku.........”
Di saat yang bersamaan, tanpa kusadari perutku berbunyi.
Suasana mendadak berubah sunyi.
Kulihat Sintia tersenyum dan tertawa terkekeh-kekeh menyembunyikan mulutnya, sementara aku hanya diam tersenyum menahan malu.
Mengapa dia berbunyi di saat seperti ini.
Tapi di waktu yang sama juga, aku senang bisa membuat gadis itu tertawa.
“Sepertinya perutmu sudah tidak sabaran Heri” katanya masih dalam sedikit tawa
“Ya, dia memang begini” jawabku dengan seadanya
“Baiklah, aku pergi dulu. Kasihan mereka mungkin sudah kelaparan menungguku”
“Ya, baiklah. Hati-hati saat menyebrang jalan”
“Baik, sampai jumpa Heri”
“Sampai jumpa”
Sambil melambaikan tangan, Sintia masih terus berjalan.
Aku berpikir bahwa diriku terlalu berlebihan, sambil melambaikan tangan seperti orang yang akan berpisah lama saja.
#
“Kak Rozi, untuk kegiatan hari ini apa saja” tanyaku setelah selesai sarapan.
“Ya kakak pikir tinggal pelantikan saja”
“Oh ya, ini yang kami tunggu-tunggu” ku lihat anak-anak yang lainnya juga ikut tersenyum dan beberapa di antara mereka mengatakan yes.
“Apa kakak yang akan melantik kami” kata Refi salah satu anggota putri kepada Kak Rozi
“Ya jelas bukan” jawabnya sambil tertawa kecil
“Jadi, siapa jika bukan kakak?” kata Gani salah seorang anggota putra yang sepertinya ruangan kelasnya di samping ruang kelasku.
“Harusnya pembina kalian”
“Memangnya kakak bukan pembina kami?” kataku dengan penasaran
“Bukan, jadi di sini kakak hanya sebagai pembantu pembina, tapi kalau pembina kalian yang asli itu adalah Pak Efendi”
“Oh, jadi begitu”
Teman-teman yang lain juga kudengar mengatakan “oh”,  mungkin mereka juga baru tau tentang hal ini.
Tak lama kemudian hal yang kami nanti pun tiba. Sebuah panggilan dari Pak Efendi yang meminta kami, PMR, dan OSIS untuk berbaris menurut kelompoknya masing-masing.
Saat itu aku bingung akan menempati barisan mana, karena jika aku ikut Pramuka nantinya aku dibilang yang tidak-tidak di OSIS, dan begitu juga sebaliknya.
Untuk sementara aku bolak-balik dari Pramuka ke OSIS dan dari OSIS ke Pramuka, sementara Pak Efendi hanya berbicara sendiri di depan.
Dari hal itu kupikir aku mendapat keuntungan juga, karena saat aku mondar-mandir, sesosok wajah yang rupawan kulihat tengah memperhatikan Pak Efendi dengan tekun.
Aku mengenalnya walaupun dari belakang ku lihat, Sintia. Tetap saja aku melirikkan mataku hanya untuk melihatnya walaupun hanya satu detik.
Tiba-tiba suatu kabar yang mengenakkan dan tidak mengenakkan datang dari Pak Efendi.
“Bagi pengurus OSIS yang baru, akan di adakan serah terima jabatan dari pengurus OSIS yang lama kepada kalian besok senin saat upacara bendera”
Sejenak ku dengar beberapa siswa berucap lega dan beberapa di antaranya hanya berdiri diam tanpa suara melainkan hanya tersenyum.
“Bagi anggota PMR akan dilantik langsung oleh pembinanya”
“Dan bagi anggota Pramuka, kita perlu menunggu Pak Saleh sebagai kepala sekolah yang berwenang untuk melantik kalian”
Pak Efendi mengakhiri katanya dengan salam kemudian berjalan menghampiri Kak Rozi.
Terdapat hening sejenak di area barisan Pramuka, hampir semuanya menunduk lesu tentang kabar yang keseleo itu.
Kita harus menunggu Pak Saleh? Ini sudah hampir malam, lagipula dia itu kepala sekolah, kecil kemungkinannya dia punya waktu untuk hal-hal seperti ini, pikirku dalam hati.
Dalam situasi yang menggantung aku beranjak ke arah Kak Rozi dan Kak Wathon yang sedang berbicara.
“Bagaimana kak?” tanyaku datar dan aku yakin Kak Rozi mengerti dengan ucapanku itu.
“Ini seperti yang kakak khawatirkan, sepertinya pelantikan kalian akan ditunda dahulu” jawabnya datar
“Maksud kakak, kita tidak jadi pelantikan seperti itu. Tapi kakak pernah berkata bahwa Pak Efendi lah yang akan melanitk kami”
“Kau tau Heri, semua itu juga tergantung kehendak pembina”
“Benar, tapi jika kakak fikir jika mengingat keadaan seperti ini, pembina perlu mengambil apapun jalan yang ada” terus Kak Wathon dengan cara berbicara khasnya yaitu sambil memegang dagunya dengan tangan kanan yang di jaga oleh tangan kirinya.
“Ya, benar. Tapi kalian telah melakukan prosesnya, jadi sebenarnya kalian telah dianggap menjadi anggota penggalang”
Sejenak kata-kata Kak Rozi itu memberikan seberkas cahaya pada keadaan kami, dan beberapa anggota tertarik untuk mendengarkan ucapannya itu.
“Benarkah? Tapi kami belum dilantik” kata Jeni salah satu orang anggota, dan aku mengangguk setuju dengan ucapannya.
“Yah, kalian tau, bahwa pramuka itu tidak konsisten, terkadang harus mengambil tindakan secepatnya untuk kelangsungan hidup anggotanya” kata Kak Rozi sambil tersenyum manis
Akhirnya cahaya itu makin lama makin terang, dan sesaat ku lihat suasana kekecewaan telah menghilang dari semua anggota. Dan kulihat mereka semua ceria lagi, begitu pun aku.
Waktu telah menunjukkan pukul 5 sore lebih beberapa menit, semua kegiatan persami di sekolahku telah usai, dan selanjutnya adalah beristirahat dan bersiap untuk sekolah besok.
Sementara aku melambaikan tangan kepada beberapa anggota dan Kak Rozi yang meminta pulang terlebih dahulu, aku melihat Sintia sedang berjalan sendirinya menuju gerbang utama.
Saat itu aku langsung mengejarnya walaupun ku berusaha agar tidak tampak seperti orang berlari.
Namun, setelah sampai ku lihat Sintia telah berangkan bersama jemputannya yang sepertinya adalah ayah Sintia.
Sial, kataku dalam hati andai saja aku cepat sedikit.
Ku lihat wajah Sintia yang menggambarkan bahwa dia begitu kelelahan saat itu, walaupun sejenak dia tersenyum sembari melambaikan tangannya kepada teman-teman PMR yang dilewatinya.
‘Hati-hati di jalan, setelah sampai rumah jangan lupa sholat lalu makan malam, setelah itu istirahat. Besok masih ada hal lain yang harus kita kerjakan, jadi kau harus jaga kesehatanmu. Yah, mengingat kau merupakan anggota PMR, jadi tak ada yang perlu ku khawatirkan tentang kesehatan, jadi baik-baiklah’ ucapku tersenyum hanya bisa di dalam hati sambil menatap Sintia menghilang dari pandanganku.
“Woy Heri! Apa yang kau lakukan?”
Tiba-tiba Aziz datang mengagetkanku, lantas aku hanya mengacuhkannya saja sambil berjalan berlalu.
“Tak ada” jawabku seperlunya
Ingin sekali aku mengirimi Sintia sebuah pesan, tapi aku takut akan mengganggunya.
Jadi, kuputuskan untuk pulang saja. Dan kali ini ayahku menyempatkan diri untuk menjemputku.
“Bagaimana? Sukses?” ayahku bertanya dalam perjalanan pulang
“Yah, seperti biasa” jawabku seadanya
Ayahku hanya tertawa kecil. Memang Ayahku adalah seorang lelaki yang hebat, walaupun sering kali jika ada masalah dia jarang berkomunikasi.
***



BAB 19 SERAH TERIMA JABATAN
            “Whoaam..” sambil ku bergumam seraya menggosok kedua mataku secara bergantian.
Pagi, pikirku sambil melirik jam beker yang jarumnya menunjukkan angka 5:30.
Aku kembali membaringkan tubuhku di atas kasur yang empuk di kamar yang agak remang karena lampu ku matikan dan cahaya yang masuk hanya berasal dari luar ruang kamar.
Rasa pegal dan sedikit lelah dari waktu aku selesai melakukan persami kemarin masih terasa sampai sekarang, yah walaupun tidak selelah kemarin.
Kira-kira apa yang dilakukan Sintia sekarang? Semenjak pikiranku langsung mengarah ke Sintia.
Sambil menatap langit-langit kamarku, bayangan gadis itu sedetik muncul di sana.
Dan aku hanya tersenyum-senyum sendiri di kamarku seperti orang gila.
Lamunanku tersadar setelah ibuku memanggil dari ujung dapur, dan kulihat jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi.
Sekarang saatnya, kataku dalam hati seraya bangkit dari tempat tidur, kemudian beranjak mengambil handuk kemudian menuju kamar mandi.
Setelah beberapa menit bersiap-siap, sholat subuh dan sarapan. Akhirnya ku ambil pakaian putih biru dari lemari yang masih harum, ku pakai pelan kemudian mengambil tas lalu pergi untuk menuntut ilmu.
“Assalamualaikum, Heri berangkat bu” kataku sambil mencium tangan ibuku yang lembut itu.
Setelah dia menjawab salamku dan memintaku untuk hati-hati di jalan, aku beranjak dari sana menutup pintu dan mulai berjalan ke sekolah.
Mentari mulai menampakkan sinarnya, dan bunyi dencing bel kelas pun berbunyi dengan sangat lantang, menyebabkan semua siswa langsung menuju ke lapangan untuk mengikuti upacara bendera.
Semua hal nampak biasa saja, terkecuali untuk para anggota pengurus OSIS yang baru, karena hari ini mereka akan melakukan serah terima jabatan dalam prosesi yang sakral dengan anggota pengurus yang sebelumnya.
Akhirnya, setelah beberapa prosesi resmi upacara telah dilaksanakan, MC pun berkata dengan nada yang dibuat-buat.
“Prosesi serah terima jabatan dan ulang janji dari pengurus OSIS SMPN 1 Aikmel masa bakti 2010-2011 dengan pengurus OSIS SMPN 1 Aikmel masa bakti 2011-2012”
Kami semua yang terhimpun dalam satu barisan panjang memasuki lapangan bersamaan dengan barisan pengurus OSIS yang lama dengan sebuah bendera besar yang disana tergambar lambang OSIS.
Setelah memasuki lapangan kami semua langsung berhadapan satu sama lain dengan pengurus lama.
Wakil dari pengurus baru kemudian menerima bendera OSIS dari ketua OSIS yang lama dan kemudian dilanjutkan dengan pengucapan janji, pembina upacara membacakan sebuah pertanyaan kepada kami dan kami bertugas menjawab saja
“Apakah kalian bersedia memenuhi tanggung jawab sepenuh hati sebagai pengurus OSIS masa bakti 2011-2012?”
“Bersedia!”
“Bersediakah kalian untuk memajukan sekolah kita dengan segala upaya?”
“Bersedia!”
“Bersediakah kalian dengan segenap hati menjadi teladan yang baik bagimasyarakat, bangsa dan negara?”
“Bersedia!”
Setelah prosesi itu selesai, regu nyanyipun menyanyikan lagu Tanah Airku Indonesia, diikuti dengan amanat dari pembina upacara.
Selesainya upacara itu, bukannya menuju kelas tapi kami menuju ke ruang OSIS untuk merayakan keberhasilan kami menjadi pengurus yang baru.
Ruangan itu seketika menjadi sumpek karena kehadiran sekitar 20 orang lebih tidak di dukung dengan ukuran ruangan yang hanya 2x3 meter saja, namun terlepas dari hal itu semuanya tampak bahagia, dan sesuatu yang sangat penting bagiku adalah ini kala pertama kalinya aku tertawa dan berbincang bersama dengan Satria.
“Ziz, ini sudah terlalu siang kita harus kembali ke kelas jika tak mau kena hukuman Ibu Taufik” kataku kepada Aziz yang masih menikmati roti yang dibelinya tadi.
“Ya, kau benar ayo” katanya kemudian
Kamipun berpamitan kepada pengurus yang lain kemudian berjalan menuju kelas.
Ketika aku dan Aziz sedang berjalan melewati koridor yang biasa, sebuah ruangan yang di atas pintunya terdapat papan yang bertuliskan 8.3, isi-isi di dalam ruangan itu kulihat sedang menikmati waktu luang mereka di pagi yang begitu cerah ini.
Diantara wajah-wajah itu pandanganku tertuju pada salah seorang dari mereka. Sintia, kulihat sedang berbincang-bincang dengan teman-temannya.
Entah karena aku terlalu memperhatikannya atau kenapa, sepintas Sintia mengarahkan pandangannya kepadaku, dan sontak aku langsung tersenyum kepadanya.
Aku tidak sadar, karena Sintia sontak saja langsung membalas senyuman itu, apa dia tau? Ah tidak mungkin pikirku, mungkin dia hanya ingin mengucapkan selamat atas keberhasilanku menjadi pengurus OSIS yang baru.
Pagi itu adalah pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, dan di isi oleh Pak Arif.
“Hari ini kita akan belajar tentang hak dan kewajiban” katanya memulai pelajaran
“Apa ada yang tau apa itu hak?” dia bertanya kepada puluhan pasang mata itu.
Sesaat aku terpaku seolah-olah sedang mengingat sesuatu yang terlupa, tetapi nyatanya tak ada satupun kalimat yang bisa mewakili pikiran ku itu. Lantas ku alihkan pandanganku ke sekitar, dan nampaknya semua teman-temanku juga melakukan hal yang sama, hanya saja aku tak tau apa yang mereka pikirkan, apakah hanya berpura-pura berpikir atau semacamnya.
“Tidak ada yang tau?” kata Pak Arif kemudian
Sunyi sejenak di ruangan yang nampak suram karena cahaya matahari terhalang oleh awan-awan tebal yang melintas.
“Baiklah, tolong di catat. Hak adalah sesuatu yang bisa kita dapatkan setelah melakukan kewajiban”
Tanpa aba-aba, kami semua langsung menggoreskan pulpen kami merekam apa yang diucapkan oleh Pak Arif, maklum karena di kelas Pak Arif, tidak ada buku maupun LKS yang mendukung pembelajaran kami.
“Baiklah, jika kita berbicara tentang Hak, tentunya tak lepas dari yang namanya Kewaji....”
“Kewajiban!” serempak kami melanjutkan kata-kata orang tua yang rambutnya tinggal separuh itu
“Ya, jadi kewajiban itu adalah... adalah apa?” katanya sambil mengacungkan tangan dengan upaya memancing kami untuk ikut mengacungkan tangan juga
Tak beberapa lama, Alya mengacungkan tangannya lalu berkata “Kebalikan dari Hak Pak!” katanya lantang dari barisan bangku pertama paling belakang.
“Kebalikan dari Hak ya, berarti ‘KAH’?” katanya sedikit menyindir untuk mencairkan suasana di sana
Beberapa siswa tertawa mendengar lelucon Pak Arif namun sebagian tidak, sepertinya mereka masih mencerna perkataan orang tua itu dan kemudian setelah situasi kondusif, Aziz tertawa dengan sengaja sambil menyembunyikan matanya.
“Telat kamu Aziz..” Pak Arifin terkekeh
“Jadi Kewajiban itu adalah benar kata si Alya tadi, kebalikan dari Hak yaitu Sesuatu yang kita harus lakukan untuk memenuhi Hak tersebut. Paham?”
“Paham pak!” kami berkata serentak
“Berbicara tentang Hak dan Kewajiban, ada yang bisa menyebutkan apa saja Hak yang kita miliki dan apa saja kewajiban yang harus kita penuhi?”
“Hak tidak di siksa pak!”
“Hak bekerja!”
“Hak bersekolah!
“Hak berpacaran pak!”
Sontak suasana mendadak sepi di dalam ruangan yang kini telah terang kembali, beberapa saat kemudian semua tertawa sambil menengok kesana kemari mencari sumber dari suara yang tadi.
“Hak berpacaran?” Pak Arifin berkata sambil tersenyum-senyum “Siapa itu?”
Yang penting bahwa suara itu berasal dari anak laki-laki yang duduk di barisan tengah paling kanan.
“Kalian semua masih bau kencur malah berpacaran” dia masih terkekeh di balik wajahnya
“Bapak paham, bahwa usia kalian sekarang ini memang tengah dilanda banyak hal, terutama asmara dan memang hakikatnya seperti itu. Bapak yakin bahwa diantara kalian pasti ada seseorang yang kalian sukai, namun mungkin saat ini kalian masih ragu mengatakannya” katanya pelan
Aku berpikir sejenak, mungkin Pak Arifin benar. Ya memang benar, usia-usia kami sekarang memang sedang mengalami pubertas, termasuk aku.
Orang tua itu memang benar aku mungkin terlalu takut untuk mengatakan bahwa aku menyukainya. Ya, karena juga dia telah merasakan garam lebih banyak daripada aku.
“Tapi, jangan pernah bermain-main dengan hal itu. Kalian sekarang adalah tanggung jawab kami, dan kalian juga adalah pelajar jadi kewajiban pelajar adalah pasti....”
“Belajar!”
***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tolonglah berkomentar dengan sopan, NO SPAM!, dan dengan bahasa yang santun pula. Karena komentar anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini ke depannya.