BAB 17 GUMPARAN
Akhirnya
pertemuan di pramuka selesai juga, ku lihat Kak Rozi sekarang sedang duduk di
teras depan perpustakaan. Sepertinya dia sedang menjaga anggota-anggota lain
yang tengah tertidur pulas.
Aku sekilas melihat ponselku dan di sana tertulis
angka 23:15 di atasnya.
Ternyata sudah malam, pikirku.
Tetapi sebelum aku mengistirahatkan tubuhku,
terlebih dahulu aku berencana untuk melihat keadaan PMR di ruangan sana,
khususnya keadaan Sintia, apakah dia sudah tertidur atau belum.
Tiba-tiba saja Fian datang dari belakang dan menepuk
bahuku, sontak saja aku langsung terkesiap dengan hal itu.
“Fian! Kau mengejutkanku” kataku sedikit berteriak
Dan Fian hanya tertawa-tawa melihat reaksiku.
“Hei Heri, apa kau ada acara di pramuka sekarang?”
katanya kemudian
“Ah tidak, mungkin acara malam ini telah usai”
kataku datar sembari berjalan menuju sebuah anak tangga di depan sebuah ruangan
dekat perpustakaan berada.
“Tidak sepenuhnya benar” kata Fian sambil
mengikutiku duduk di anak tangga itu.
“Apa maksudmu, aku mendengar bahwa Kak Widi
mengatakan bahwa acara untuk calon pengurus OSIS akan dilanjutkan besok”
“Ya, kau benar aku juga mendengarnya. Tapi Pak Anto
memintaku untuk berjaga-jaga di sekitar sekolah tadi”
“Jadi mengapa kau tidak keliling untuk
berjaga-jaga?”
“Kau ingin membuatku gila?!” katanya sedikit
berteriak
“Apakah baik bagi seorang pria kurus untuk
berjaga-jaga sendirian?”
Ah, aku baru mengerti maksud Fian. Dan aku hanya
tertawa kecil mendengarnya berkata begitu, khusunya pada saat dia berkata
kurus.
“Tapi, kau tau juga tubuhku ini kurus, jadi mengapa
kau mengajakku?”
“Karena aku tak punya pilihan lain lagi, sebagian
besar teman-teman telah tertidur dan sebagiannya lagi mungkin pergi berjaga
entah kemana” katanya pelan
Sesaat kemudian, aku mengiyakan permintaannya, aku
pun menghampiri Kak Rozi dan memintanya untuk beristirahat, namun dia berkata
belum mengantuk.
Mungkin ini kesempatan yang tidak terlalu buruk,
pikirku. Sambil menuju ruangan tempat PMR berada, aku juga dapat teman
bersamaku di malam yang sunyi ini.
Saat kami tengah berjalan dibelakang halaman sekolah
untuk bejaga-jaga, halaman di sana sangatlah gelap.
Saat itu suasana ku pikir sedikit agak mencekam.
Udaranya yang dingin menusuk kulitku walaupun aku mengenakan sarung yang kubawa
untuk menghangatkan diri, dan lampu dari lapangan utama terlihat sangat redup
di sana. Saking redupnya aku tidak melihat batu di depanku saat berjalan. Dan
satu-satunya cahaya harapan adalah cahaya senter kecil yang dibawa Fian.
Namun anehnya, dia yang membawa sumber cahaya
diantara kami berdua tetapi dia berjalan di depanku. Mungkin dia terlalu cepat
berjalan, atau diriku yang terlalu lambat.
Hingga pada akhirnya aku mengambil sebuah batu kecil
yang ku injak, dan melemparnya pelan ke arah kaki Fian.
“Woaaagh!!!!” Fian berteriak sambil meloncat dan
mengarahkan senternya ke arah apa yang mengenainya tadi.
Sepertinya Fian sangat terkejut saat itu, sedangkan
aku hanya tertawa terbahak-bahak dibelakangnya sambil melihat reaksinya.
“Woy, Heri!! Jangan main-main! Sial..” katanya
kepadaku sambil tersenyum
Sepertinya dia telah sadar bahwa aku yang melempar
benda itu kepadanya.
“Baik, baik.. Tapi tolong kau jangan berjalan
terlalu cepat agar aku bisa melihat dari cahaya sentermu itu”
“Kau saja yang terlalu lambat” katanya datar,
sepertinya dia masih marah tentang kejadian yang tadi.
Jadi terpaksa aku berjalan tidak dengan langkahku
yang biasa agar mengimbangi kecepatan jalan Alfian.
Lama kami berjalan di tempat gelap itu, hingga pada
suatu saat aku dan Fian mendengar suara derap kaki yang teramat banyak,
sepertinya sedang berlari, dan suara sebuah teriakan yang sepertinya sedang
marah-marah.
Lalu tanpa pikir panjang aku dan Fian segera berlari
menuju sumber suara itu melalui koridor dan gang-gang terdekat.
Pada awalnya kami berpikir bahwa itu merupakan suara
orang yang sedang kesurupan mengingat sekolah kami yang begitu manis ceritanya.
Namun setelah kami sampai di tempat itu, ternyata
suara berisik itu datang dari anak-anak PMR yang tengah berlari karena
dibangunkan dengan paksa oleh seorang pembina laki-laki di sana.
Mereka bergerombolan berlari menuju lapangan basket.
Ternyata aku baru menyadari bahwa anggota PMR sangatlah banyak kala itu,
sehingga aku tidak bisa membedakan di mana orang yang sedang ku cari.
Selepas itu, aku dan Fian melanjutkan penjagaan kami
hingga saat kami berada di samping lapangan basket.
Di sana aku melihat segerombolan anak-anak PMR yang
waktu tadi berlari yang sekarang tengah berbaris, dan di depan mereka berdiri
seorang pembina yang tak ku tau apakah laki-laki yang tadi atau pembina mereka
yang lain, karena redupnya pencahayaan.
Di sana aku memutuskan untuk beristirahat sejenak
bersama Fian, namun Fian berjalan menuju musholla sepertinya ingin membasuh
kotoran yang ia injak waktu kami berjaga tadi.
Aku duduk di rerumputan di samping lapang basket
sambil memperhatikan anak-anak PMR yang berbaris itu.
Di antara barisan-barisan itu, mataku terhenti
kepada salah satu anggota PMR di sana.
Sejenak aku langsung mengenali sosok itu walaupun di
sana sangatlah redup.
Saat aku menatap orang itu, sontak jantungku langsung
berdetak tak semestinya dan tubuhku menjadi sedikit bergetar.
Sintia, berdiri di antara barisan itu. Namun entah
kenapa baru kali ini aku melihat Sintia tidak memakai jilbab, mungkin dia tak
sempat memakainya saat di gusar oleh pembinanya tadi.
Ternyata Sintia, tidak hanya berjilbab saja aku
melihatnya cantik. Tidak memakaipun apalagi. Aku terpaku di sana sambil
menatapnya tak berkedip. Dan sepertinya dia tidak merasakan kehadiranku di
sana.
Sintia begitu terlihat berbeda saat itu, rambutnya
yang lurus dan panjang sebahu dan mungkin saja lebih terurai ke depan samping karena
saat itu hanya cahaya yang sangat remang menyinari tempat itu, wajahnya
membuatnya terlihat seperti bukan Sintia, walaupun aku masih mengenal mata
bulat yang indah itu dan tinggi badan yang hanya sampai bahuku.
Lamunanku tersadar saat Fian kembali dari musholla,
dan dia menepuk bahuku lagi berharap aku terkejut lagi seperti sebelumnya,
namun harapannya gagal kali ini.
“Kenapa kau lama sekali?” tanyaku pelan
“Butuh waktu yang lama untuk menghilangkan harum
dari kotoran yang ku injak tadi”
“Oh, aromanya harum?” kataku bercanda
“Ah, Heri.. kau tau itu hanya umpamaan”
Heri berkata singkat, namun aku hanya terkekeh-kekeh
sendiri.
“Oh, dan juga aku bertemu dengan Pak Efendi di
samping musholla”
“Ada apa, apa ada berita penting?” tanyaku sambil
meninggikan alis mataku, walau tak ada harapan Fian dapat melihatnya.
“Ya, dan semua teman-teman harus mengetahui berita
ini”
“Apa? Ada apa” aku semakin bingung
“Akan kuceritakan sambil berjalan ayo” Fian berkata
sambil mengambil langkah yang panjang menuju ruang utama tempat calon pengurus
OSIS tertidur.
“Ada apa?”
“Begini, tadi Pak Efendi berkata kepadaku untuk
mengkonfirmasi kepada teman-teman untuk tidak berkeliaran di malam hari
khususnya di bagian koridor di laboratorium biologi dan bahasa”
“Memangnya ada apa?”
“Kau tau, katanya dia telah bertemu dengan
penjaganya”
“Penjaganya?!” kataku heran, aku mengerti dengan apa
yang Fian maksud dengan penjaga dan hal itu membuat tubuhku sedikit merinding.
“Ah, kau bilang katanya”
“Tidak, beberapa guru juga telah ditegur oleh
penjaga, bahkan Pak Satpam itu juga”
“Maksudmu Pak Epul?”
“Ya, itu. Tapi sekarang menyebarkan berita ini
kepada kawan-kawan”
“Yah, kau benar”
Setelah beberapa waktu berjaga aku merasa sangat
mengantuk, dan kulihat susana juga sudah sedikit sepi walapun masih ada
beberapa dari pengurus OSIS yang lama berbincang-bincang di antara api unggun.
“Fian, ku rasa cukup untuk malam ini” kataku rendah
kepada Fian
“Whoaam.. kau benar, lebih baik kita kembali ke
ruangan” katanya sambil mengusap kedua matanya.
Kami pun melangkah ke ruangan OSIS, dan di sana
telah teridur beberapa selimut yang beralaskan tikar.
“Selamat malam Heri” kata Fian sembari menarik
selimutnya
“Selamat malam” kataku datar, namun Fian sudah
tertidur pulas
Sebelum tidur, tak lupa kukirimi sebuah pesan
bertuliskan selamat malam ke nomor yang bertuliskan nama Sintia di ponselku,
walaupun aku tak berharap dia harus membacanya.
***
BAB 18 PENUNDAAN
“Hmmmm....” gumamku saat tersadar
setelah mendengar suara ayam berkokok dari sebuah rumah di samping sekolah.
Pagi itu aku merasa menjadi seorang yang sangat
malas sekali.
Bagaimana tidak, semua teman-temanku masih
terlungkup dibalik sarungnya yang digunakan untuk menyelimuti diri. Dan suasana
pagi yang begitu dingin menusuk tulang, membuatku ingin kembali jatuh dalam
sebuah alas tikar seadanya di lantai.
Namun beberapa saat aku hendak tidur lagi, sebuah
suara adzan berkumandang dari sebuah masjid yang sedikit agak jauh dari
sekolah, tepatnya beberapa puluh meter setelah menyebrang jalan keluar sekolah.
Akan tetapi, suaranya begitu nyaring sehingga
membangunkan beberapa temanku yang tertidur nyenyak.
Diantara tulang-belulang dan lemak-lemak yang
berbaring itu, hanya aku sendiri dan Fian yang meloncat berdiri dari alas tidur
kami.
“Selamat pagi, Herii...” katanya sambil
menggosok-gosok sebelah matanya bergantian.
Suaranya terdengar muram dan sedikit malas. Dan aku
mengerti akan hal itu.
“Pagi Ian,,” kataku singkat, dan tanpa kusadari
suaraku juga ikut serak seperti kebanyakan orang yang baru bangun tidur.
“Mimpi indah?” tanyaku kemudian pada Fian
Namun dia tidak merespon sama sekali, mungkin tidak
mendengarku. Pikirku.
Dia hanya sibuk mencari sesuatu di sebelahnya tempat
dia tertidur, yang kulihat adalah sebuah ponsel kecil berwarna putih.
“Heri...”
Katanya masih dalam nada yang berat sambil menunjuk
ke arah luar dan memberi isyarat sholat dengan mengangkat kedua tangannya lalu
menaruhnya ke dadanya.
“Bagaimana dengan yang lain?” kataku sambil melihat
tubuh-tubuh yang terbenam dalam selimut itu.
Fian pun melakukan hal yang sama dan berkata
“Bangun!” masih dengan nada yang berat sambil mengguling-gulingkan badan yang
entah siapa yang berada paling dekat dengannya.
Namun diantara sekelompok sarung tidur itu hanya
beberapa yang tersadar dan beranjak untuk pergi sholat subuh bersama.
Sesaat setelah sholat subuh di musholla sekolah, aku
melihat sesosok siluet manusia tengah duduk di depan perpustakaan sekolah.
Sosok itu tengah menatap ponsel yang dipeganginya
sebelah tangan, sehingga cahaya redup dari ponsel itu menerangi beberapa bagian
wajahnya.
‘Seperti aku mengenalnya’ kataku dalam hati.
Aku pun mencoba mendekatinya.
Sosok bayangan itu kini semakin dekat dan semakin
jelas, dan semakin jelas.
“Kak Rozi!” kataku sedikit keras
“Eh, Heri... Selamat pagi” katanya pelan
Suaranya terdengar sedikit serak,dan terlihat jelas
kantung mata yang lebar itu menanadakan dia hampir tidak tidur semalaman.
“Kakak terlihat tidak begitu baik, apa yang
terjadi?”
“Ah, kakak tidak bisa tidur semalam”
“Apa yang terjadi?”
Kak Rozi menghela nafas sejenak di udara yang
dingin.
“Kemarin malam ada sesuatu hal yang membuat kakak
tidak bisa tidur”
“Makanya, hal apa itu?” tanyaku semakin penasaran
“Itu, kau lihat?” katanya sambil menunjuk dengan ibu
jarinya ke arah samping musholla sekolah, tepatnya ke arah laboratorium
biologi.
Aku mengarahkan pandanganku ke sana, lalu
mengkerutkan dahiku sambil memandang Kak Rozi kembali.
“Kau tau tentang penjaga?”
“Penjaga?” gumamku rendah, lalu sontak teringat
dengan kejadian semalam saat aku berjaga dengan Fian.
“Kau tau bukan?”
“Ya, aku tau”
“Kemarin malam, kakak melihat penjaga itu di sana.
Dan terpakasa kakak harus terjaga untuk menjaga teman-teman yang lain untuk
tidak berbuat hal yang tidak di inginkan”
“Aku dengar bahwa Pak Efendi dan Pak Epul juga
ditegur semalam”
“Ya, benar. Tadi malam mereka berdiskusi agar semua
siswa tidak membuat keributan di sekitar laboratorium biologi itu”
“Ah, masa.. kakak tak perlu menakut-nakutiku”
“Kau tidak percaya?”
“Hmm” anggukku pelan
“Baik, terserah kau percaya atau tidak. Tetapi yang
penting kakak sudah memberitaumu”
Kak Rozi, tersenyum kecil dibalik wajahnya yang
muram.
Akupun melangkah pergi untuk membeli beberapa makanan
di samping jalan, karena persediaan makananku telah habis kemarin.
Aku sebenarnya percaya dengan cerita Kak Rozi tadi,
mengingat waktu malam aku berjaga dengan Fian dan di sana dia bertemu dengan
Pak Efendi.
Apakah gara-gara anak-anak PMR kemarin?
Ah, tidak mungkin. Lagipula, saat itu tak ada
laporan apapun mengenai hal itu, pikirku dalam hati.
Tapi sudahlah, hal itu tidak penting lagi sekarang.
Namun, mempersiapkan diri lebih baik daripada memikirkan hal-hal yang
tidak-tidak.
“Terima kasih” ucapku ketika menerima sebungkus nasi
hangat dari ibu pedagang itu.
Hmm, rupanya enak. Gumamku dalam hati begitu mencium
aroma dari nasi bungkus itu.
Memang hanya nasi bungkus, tapi inilah kita. Dalam
keadaan seperti ini, mendapat nasi bungkuspun sangat disyukuri.
Tak kusangka ditengah perjalananku ke teman-teman
pramuka ku, aku berpapasan dengan Sintia.
Sontak, aku sedikit terkejut namun tak terlihat dari
luar.
“Hai, Sintia. Selamat pagi” sapaku padanya dengan
senyum seadanya.
“Hai, Heri. Pagi juga” dia membalas senyumanku.
Kamipun berhenti untuk berbincang-bincang sejenak.
“Bagaimana tidurmu? Mimpi indah” dia bertanya
kemudian
Pertanyaan Sintia memang sederhana dalam ukuran
untuk membangkitkan suasana mengobrol, tapi bagiku susah menemukan jawaban yang
sesuai dengan pertanyaan itu.
Aku tak tau apa yang terjadi pada diriku, aku seakan
seperti patung yang diam tak bernyawa.
“Aku,, memimpikan seseorang”
Ah, sial. Tanpa kusadari kalimat itu keluar begitu
saja dari mulutku.
Padahal aku tak memikirkan apapun, hanya saja
kata-kata itu keluar saat aku menatap mata Sintia yang begitu sejuk.
“Oh, ya benarkah, siapa?” katanya dengan nada
penasaran
Serentak aku langsung, menyadari diriku dan langsung
merubah topik pembicaraan
“Aa---kau mau ke mana Sintia?”
“Aku ingin membelikan teman-teman dan pembinaku nasi
bungkus, sepertimu” katanya sambil melirik bungkusan yang kupegang
“Oh, kau hanya sendiri?”
“Memangnya, membeli nasi bungkus harus ramai?”
katanya berusaha membuat lelucon
“Ya, maksudku.........”
Di saat yang bersamaan, tanpa kusadari perutku
berbunyi.
Suasana mendadak berubah sunyi.
Kulihat Sintia tersenyum dan tertawa terkekeh-kekeh
menyembunyikan mulutnya, sementara aku hanya diam tersenyum menahan malu.
Mengapa dia berbunyi di saat seperti ini.
Tapi di waktu yang sama juga, aku senang bisa
membuat gadis itu tertawa.
“Sepertinya perutmu sudah tidak sabaran Heri”
katanya masih dalam sedikit tawa
“Ya, dia memang begini” jawabku dengan seadanya
“Baiklah, aku pergi dulu. Kasihan mereka mungkin
sudah kelaparan menungguku”
“Ya, baiklah. Hati-hati saat menyebrang jalan”
“Baik, sampai jumpa Heri”
“Sampai jumpa”
Sambil melambaikan tangan, Sintia masih terus
berjalan.
Aku berpikir bahwa diriku terlalu berlebihan, sambil
melambaikan tangan seperti orang yang akan berpisah lama saja.
#
“Kak Rozi, untuk kegiatan hari ini apa saja” tanyaku
setelah selesai sarapan.
“Ya kakak pikir tinggal pelantikan saja”
“Oh ya, ini yang kami tunggu-tunggu” ku lihat
anak-anak yang lainnya juga ikut tersenyum dan beberapa di antara mereka
mengatakan yes.
“Apa kakak yang akan melantik kami” kata Refi salah
satu anggota putri kepada Kak Rozi
“Ya jelas bukan” jawabnya sambil tertawa kecil
“Jadi, siapa jika bukan kakak?” kata Gani salah
seorang anggota putra yang sepertinya ruangan kelasnya di samping ruang kelasku.
“Harusnya pembina kalian”
“Memangnya kakak bukan pembina kami?” kataku dengan
penasaran
“Bukan, jadi di sini kakak hanya sebagai pembantu
pembina, tapi kalau pembina kalian yang asli itu adalah Pak Efendi”
“Oh, jadi begitu”
Teman-teman yang lain juga kudengar mengatakan
“oh”, mungkin mereka juga baru tau
tentang hal ini.
Tak lama kemudian hal yang kami nanti pun tiba.
Sebuah panggilan dari Pak Efendi yang meminta kami, PMR, dan OSIS untuk
berbaris menurut kelompoknya masing-masing.
Saat itu aku bingung akan menempati barisan mana,
karena jika aku ikut Pramuka nantinya aku dibilang yang tidak-tidak di OSIS,
dan begitu juga sebaliknya.
Untuk sementara aku bolak-balik dari Pramuka ke OSIS
dan dari OSIS ke Pramuka, sementara Pak Efendi hanya berbicara sendiri di
depan.
Dari hal itu kupikir aku mendapat keuntungan juga,
karena saat aku mondar-mandir, sesosok wajah yang rupawan kulihat tengah
memperhatikan Pak Efendi dengan tekun.
Aku mengenalnya walaupun dari belakang ku lihat,
Sintia. Tetap saja aku melirikkan mataku hanya untuk melihatnya walaupun hanya
satu detik.
Tiba-tiba suatu kabar yang mengenakkan dan tidak
mengenakkan datang dari Pak Efendi.
“Bagi pengurus OSIS yang baru, akan di adakan serah
terima jabatan dari pengurus OSIS yang lama kepada kalian besok senin saat
upacara bendera”
Sejenak ku dengar beberapa siswa berucap lega dan
beberapa di antaranya hanya berdiri diam tanpa suara melainkan hanya tersenyum.
“Bagi anggota PMR akan dilantik langsung oleh
pembinanya”
“Dan bagi anggota Pramuka, kita perlu menunggu Pak
Saleh sebagai kepala sekolah yang berwenang untuk melantik kalian”
Pak Efendi mengakhiri katanya dengan salam kemudian
berjalan menghampiri Kak Rozi.
Terdapat hening sejenak di area barisan Pramuka,
hampir semuanya menunduk lesu tentang kabar yang keseleo itu.
Kita harus menunggu Pak Saleh? Ini sudah hampir
malam, lagipula dia itu kepala sekolah, kecil kemungkinannya dia punya waktu
untuk hal-hal seperti ini, pikirku dalam hati.
Dalam situasi yang menggantung aku beranjak ke arah
Kak Rozi dan Kak Wathon yang sedang berbicara.
“Bagaimana kak?” tanyaku datar dan aku yakin Kak
Rozi mengerti dengan ucapanku itu.
“Ini seperti yang kakak khawatirkan, sepertinya
pelantikan kalian akan ditunda dahulu” jawabnya datar
“Maksud kakak, kita tidak jadi pelantikan seperti
itu. Tapi kakak pernah berkata bahwa Pak Efendi lah yang akan melanitk kami”
“Kau tau Heri, semua itu juga tergantung kehendak
pembina”
“Benar, tapi jika kakak fikir jika mengingat keadaan
seperti ini, pembina perlu mengambil apapun jalan yang ada” terus Kak Wathon
dengan cara berbicara khasnya yaitu sambil memegang dagunya dengan tangan kanan
yang di jaga oleh tangan kirinya.
“Ya, benar. Tapi kalian telah melakukan prosesnya,
jadi sebenarnya kalian telah dianggap menjadi anggota penggalang”
Sejenak kata-kata Kak Rozi itu memberikan seberkas
cahaya pada keadaan kami, dan beberapa anggota tertarik untuk mendengarkan
ucapannya itu.
“Benarkah? Tapi kami belum dilantik” kata Jeni salah
satu orang anggota, dan aku mengangguk setuju dengan ucapannya.
“Yah, kalian tau, bahwa pramuka itu tidak konsisten,
terkadang harus mengambil tindakan secepatnya untuk kelangsungan hidup
anggotanya” kata Kak Rozi sambil tersenyum manis
Akhirnya cahaya itu makin lama makin terang, dan
sesaat ku lihat suasana kekecewaan telah menghilang dari semua anggota. Dan
kulihat mereka semua ceria lagi, begitu pun aku.
Waktu telah menunjukkan pukul 5 sore lebih beberapa
menit, semua kegiatan persami di sekolahku telah usai, dan selanjutnya adalah beristirahat
dan bersiap untuk sekolah besok.
Sementara aku melambaikan tangan kepada beberapa
anggota dan Kak Rozi yang meminta pulang terlebih dahulu, aku melihat Sintia
sedang berjalan sendirinya menuju gerbang utama.
Saat itu aku langsung mengejarnya walaupun ku
berusaha agar tidak tampak seperti orang berlari.
Namun, setelah sampai ku lihat Sintia telah
berangkan bersama jemputannya yang sepertinya adalah ayah Sintia.
Sial, kataku dalam hati andai saja aku cepat
sedikit.
Ku lihat wajah Sintia yang menggambarkan bahwa dia
begitu kelelahan saat itu, walaupun sejenak dia tersenyum sembari melambaikan
tangannya kepada teman-teman PMR yang dilewatinya.
‘Hati-hati di jalan, setelah sampai rumah jangan
lupa sholat lalu makan malam, setelah itu istirahat. Besok masih ada hal lain
yang harus kita kerjakan, jadi kau harus jaga kesehatanmu. Yah, mengingat kau
merupakan anggota PMR, jadi tak ada yang perlu ku khawatirkan tentang
kesehatan, jadi baik-baiklah’ ucapku tersenyum hanya bisa di dalam hati sambil
menatap Sintia menghilang dari pandanganku.
“Woy Heri! Apa yang kau lakukan?”
Tiba-tiba Aziz datang mengagetkanku, lantas aku
hanya mengacuhkannya saja sambil berjalan berlalu.
“Tak ada” jawabku seperlunya
Ingin sekali aku mengirimi Sintia sebuah pesan, tapi
aku takut akan mengganggunya.
Jadi, kuputuskan untuk pulang saja. Dan kali ini
ayahku menyempatkan diri untuk menjemputku.
“Bagaimana? Sukses?” ayahku bertanya dalam
perjalanan pulang
“Yah, seperti biasa” jawabku seadanya
Ayahku hanya tertawa kecil. Memang Ayahku adalah
seorang lelaki yang hebat, walaupun sering kali jika ada masalah dia jarang
berkomunikasi.
***
BAB 19 SERAH
TERIMA JABATAN
“Whoaam..”
sambil ku bergumam seraya menggosok kedua mataku secara bergantian.
Pagi, pikirku sambil melirik jam beker yang jarumnya
menunjukkan angka 5:30.
Aku kembali membaringkan tubuhku di atas kasur yang
empuk di kamar yang agak remang karena lampu ku matikan dan cahaya yang masuk
hanya berasal dari luar ruang kamar.
Rasa pegal dan sedikit lelah dari waktu aku selesai
melakukan persami kemarin masih terasa sampai sekarang, yah walaupun tidak
selelah kemarin.
Kira-kira apa yang dilakukan Sintia sekarang?
Semenjak pikiranku langsung mengarah ke Sintia.
Sambil menatap langit-langit kamarku, bayangan gadis
itu sedetik muncul di sana.
Dan aku hanya tersenyum-senyum sendiri di kamarku
seperti orang gila.
Lamunanku tersadar setelah ibuku memanggil dari
ujung dapur, dan kulihat jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi.
Sekarang saatnya, kataku dalam hati seraya bangkit
dari tempat tidur, kemudian beranjak mengambil handuk kemudian menuju kamar
mandi.
Setelah beberapa menit bersiap-siap, sholat subuh
dan sarapan. Akhirnya ku ambil pakaian putih biru dari lemari yang masih harum,
ku pakai pelan kemudian mengambil tas lalu pergi untuk menuntut ilmu.
“Assalamualaikum, Heri berangkat bu” kataku sambil
mencium tangan ibuku yang lembut itu.
Setelah dia menjawab salamku dan memintaku untuk
hati-hati di jalan, aku beranjak dari sana menutup pintu dan mulai berjalan ke
sekolah.
Mentari mulai menampakkan sinarnya, dan bunyi
dencing bel kelas pun berbunyi dengan sangat lantang, menyebabkan semua siswa
langsung menuju ke lapangan untuk mengikuti upacara bendera.
Semua hal nampak biasa saja, terkecuali untuk para
anggota pengurus OSIS yang baru, karena hari ini mereka akan melakukan serah
terima jabatan dalam prosesi yang sakral dengan anggota pengurus yang
sebelumnya.
Akhirnya, setelah beberapa prosesi resmi upacara
telah dilaksanakan, MC pun berkata dengan nada yang dibuat-buat.
“Prosesi serah terima jabatan dan ulang janji dari
pengurus OSIS SMPN 1 Aikmel masa bakti 2010-2011 dengan pengurus OSIS SMPN 1
Aikmel masa bakti 2011-2012”
Kami semua yang terhimpun dalam satu barisan panjang
memasuki lapangan bersamaan dengan barisan pengurus OSIS yang lama dengan
sebuah bendera besar yang disana tergambar lambang OSIS.
Setelah memasuki lapangan kami semua langsung
berhadapan satu sama lain dengan pengurus lama.
Wakil dari pengurus baru kemudian menerima bendera
OSIS dari ketua OSIS yang lama dan kemudian dilanjutkan dengan pengucapan
janji, pembina upacara membacakan sebuah pertanyaan kepada kami dan kami
bertugas menjawab saja
“Apakah kalian
bersedia memenuhi tanggung jawab sepenuh hati sebagai pengurus OSIS masa bakti
2011-2012?”
“Bersedia!”
“Bersediakah
kalian untuk memajukan sekolah kita dengan segala upaya?”
“Bersedia!”
“Bersediakah
kalian dengan segenap hati menjadi teladan yang baik bagimasyarakat, bangsa dan
negara?”
“Bersedia!”
Setelah prosesi itu selesai, regu nyanyipun
menyanyikan lagu Tanah Airku Indonesia, diikuti dengan amanat dari pembina
upacara.
Selesainya upacara itu, bukannya menuju kelas tapi
kami menuju ke ruang OSIS untuk merayakan keberhasilan kami menjadi pengurus
yang baru.
Ruangan itu seketika menjadi sumpek karena kehadiran sekitar 20 orang lebih tidak di dukung
dengan ukuran ruangan yang hanya 2x3 meter saja, namun terlepas dari hal itu
semuanya tampak bahagia, dan sesuatu yang sangat penting bagiku adalah ini kala
pertama kalinya aku tertawa dan berbincang bersama dengan Satria.
“Ziz, ini sudah terlalu siang kita harus kembali ke
kelas jika tak mau kena hukuman Ibu Taufik” kataku kepada Aziz yang masih
menikmati roti yang dibelinya tadi.
“Ya, kau benar ayo” katanya kemudian
Kamipun berpamitan kepada pengurus yang lain
kemudian berjalan menuju kelas.
Ketika aku dan Aziz sedang berjalan melewati koridor
yang biasa, sebuah ruangan yang di atas pintunya terdapat papan yang
bertuliskan 8.3, isi-isi di dalam ruangan itu kulihat sedang menikmati waktu
luang mereka di pagi yang begitu cerah ini.
Diantara wajah-wajah itu pandanganku tertuju pada
salah seorang dari mereka. Sintia, kulihat sedang berbincang-bincang dengan
teman-temannya.
Entah karena aku terlalu memperhatikannya atau
kenapa, sepintas Sintia mengarahkan pandangannya kepadaku, dan sontak aku
langsung tersenyum kepadanya.
Aku tidak sadar, karena Sintia sontak saja langsung
membalas senyuman itu, apa dia tau? Ah tidak mungkin pikirku, mungkin dia hanya
ingin mengucapkan selamat atas keberhasilanku menjadi pengurus OSIS yang baru.
Pagi itu adalah pelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan, dan di isi oleh Pak Arif.
“Hari ini kita akan belajar tentang hak dan
kewajiban” katanya memulai pelajaran
“Apa ada yang tau apa itu hak?” dia bertanya kepada
puluhan pasang mata itu.
Sesaat aku terpaku seolah-olah sedang mengingat
sesuatu yang terlupa, tetapi nyatanya tak ada satupun kalimat yang bisa
mewakili pikiran ku itu. Lantas ku alihkan pandanganku ke sekitar, dan
nampaknya semua teman-temanku juga melakukan hal yang sama, hanya saja aku tak
tau apa yang mereka pikirkan, apakah hanya berpura-pura berpikir atau
semacamnya.
“Tidak ada yang tau?” kata Pak Arif kemudian
Sunyi sejenak di ruangan yang nampak suram karena
cahaya matahari terhalang oleh awan-awan tebal yang melintas.
“Baiklah, tolong di catat. Hak adalah sesuatu yang
bisa kita dapatkan setelah melakukan kewajiban”
Tanpa aba-aba, kami semua langsung menggoreskan
pulpen kami merekam apa yang diucapkan oleh Pak Arif, maklum karena di kelas
Pak Arif, tidak ada buku maupun LKS yang mendukung pembelajaran kami.
“Baiklah, jika kita berbicara tentang Hak, tentunya
tak lepas dari yang namanya Kewaji....”
“Kewajiban!” serempak kami melanjutkan kata-kata
orang tua yang rambutnya tinggal separuh itu
“Ya, jadi kewajiban itu adalah... adalah apa?”
katanya sambil mengacungkan tangan dengan upaya memancing kami untuk ikut
mengacungkan tangan juga
Tak beberapa lama, Alya mengacungkan tangannya lalu
berkata “Kebalikan dari Hak Pak!” katanya lantang dari barisan bangku pertama
paling belakang.
“Kebalikan dari Hak ya, berarti ‘KAH’?” katanya
sedikit menyindir untuk mencairkan suasana di sana
Beberapa siswa tertawa mendengar lelucon Pak Arif
namun sebagian tidak, sepertinya mereka masih mencerna perkataan orang tua itu
dan kemudian setelah situasi kondusif, Aziz tertawa dengan sengaja sambil
menyembunyikan matanya.
“Telat kamu Aziz..” Pak Arifin terkekeh
“Jadi Kewajiban itu adalah benar kata si Alya tadi,
kebalikan dari Hak yaitu Sesuatu yang kita harus lakukan untuk memenuhi Hak
tersebut. Paham?”
“Paham pak!” kami berkata serentak
“Berbicara tentang Hak dan Kewajiban, ada yang bisa
menyebutkan apa saja Hak yang kita miliki dan apa saja kewajiban yang harus
kita penuhi?”
“Hak tidak di siksa pak!”
“Hak bekerja!”
“Hak bersekolah!
“Hak berpacaran pak!”
Sontak suasana mendadak sepi di dalam ruangan yang
kini telah terang kembali, beberapa saat kemudian semua tertawa sambil menengok
kesana kemari mencari sumber dari suara yang tadi.
“Hak berpacaran?” Pak Arifin berkata sambil
tersenyum-senyum “Siapa itu?”
Yang penting bahwa suara itu berasal dari anak
laki-laki yang duduk di barisan tengah paling kanan.
“Kalian semua masih bau kencur malah berpacaran” dia
masih terkekeh di balik wajahnya
“Bapak paham, bahwa usia kalian sekarang ini memang
tengah dilanda banyak hal, terutama asmara dan memang hakikatnya seperti itu.
Bapak yakin bahwa diantara kalian pasti ada seseorang yang kalian sukai, namun
mungkin saat ini kalian masih ragu mengatakannya” katanya pelan
Aku berpikir sejenak, mungkin Pak Arifin benar. Ya
memang benar, usia-usia kami sekarang memang sedang mengalami pubertas,
termasuk aku.
Orang tua itu memang benar aku mungkin terlalu takut
untuk mengatakan bahwa aku menyukainya. Ya, karena juga dia telah merasakan
garam lebih banyak daripada aku.
“Tapi, jangan pernah bermain-main dengan hal itu.
Kalian sekarang adalah tanggung jawab kami, dan kalian juga adalah pelajar jadi
kewajiban pelajar adalah pasti....”
“Belajar!”
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tolonglah berkomentar dengan sopan, NO SPAM!, dan dengan bahasa yang santun pula. Karena komentar anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini ke depannya.