BAB 13 PRAMUKA
Teet---Teet---Teeet. Suara
dencing bel berbunyi panjang menandakan
pelajaran untuk hari ini telah selesai, namun ketika aku hendak akan pulang
membereskan semua perlengkapan sekolahku seperti buku tulis dan yang lainnya,
tiba-tiba suara gemericing loudspeaker
yang tua di sekolahku itu terdengar dari kejauhan.
“Pengumuman, bagi siswa-siswi yang mengikuti
kegiatan ekstrakulikuler Pramuka, diharapkan untuk datang ke sekolah setelah
jum’atan, terima kasih”
Dan suara gemericing itu terdengar lagi namun
langsung padam ketika sound systemnya
dimatikan.
‘Akhirnya’ kataku dalam hati, setelah lama menanti
ternyata baru sekarang.
Aku langsung membereskan semua perlengkapan yang
berserakan di meja itu seraya melihat bahwa kelas itu telah sedikit agak sepi
karena sebagian besar siswa telah kembali ke rumah masing, dan begitu juga
Aziz.
Aah, dia tak perlu kupikirkan, seperti biasanya
mendengar satu suara dencing belpun dia sudah menghilang entah kemana. Dan
sepertinya dia juga tau kapan bel itu akan berbunyi, pikirku sambil
terkekeh-kekeh sendiri.
#
Di tengah jalan pulang, aku bertemu dengan Sintia di
depan lapangan basket sekolah.
“Hai Heri, kenapa terburu-buru sekali” sapanya
kepadaku
Sontak suara itu membuatku sedikit terkejut, karena
sebenarnyatak ada niatku untuk menyapa dirinya saat itu. Yah, tentu karena aku
sedang terburu-buru.
Namun tak nyaman rasanya jika aku mengabaikan gadis
itu begitu saja.
“Oh, hai Sintia, aku hanya...” ingin cepat-cepat
pulang. Kalimat itu sudah berada di ujung lidahku namun lagi-lagi aku tak dapat
mengatakannya.
Rasanya seperti ada sesuatu yang berbisik di
kepalaku, jangan katakan.
“Aku hanya, segera ingin ke sekolah lagi setelah
jum’atan”
Terlihat sepintas raut kebingungan di wajah Sintia
saat itu
“Oh, memangnya kau mau melakukan apa di sekolah sore
ini, Ri?”
“Aku, aku ada ekstra Pramuka” kataku singkat
kemudian
“Ah, jadi Pramuka latihan sore ini?” katanya
terkejut
“Ya, memangnya ada apa dengan itu?”
“Tidak apa-apa, hanya saja waktu latihan PMR sama
dengannya”
“Jadi kau ikut PMR?”
“Yaa, begitulah”
Dia tersenyum. Ah, sial senyuman itu lagi kataku
dalam hati.
Akupun sontak ikut tersenyum.
Ternyata Sintia mengikuti ekstra PMR dan waktu
latihan kami juga barengan, sore ini.
Aku tak dapat mengekspresikan rasa ini. Selain setau
diriku bahwa sebenarnya Pramuka dan PMR itu ridaklah jauh berbeda, mereka
seperti berasal dari satu rumpun yang sama, setidaknya itu yang ku tau semasa
mengikuti Pramuka waktu Sekolah Dasar.
Namun, selain hal itu yang kupikirkan adalah aku
dapat melihat Sintia sore ini.
“Aku dapat melihatmu” suara itu begitu kecil
terdengar keluar dari mulutku, sehingga seolah-olah hanya telingaku sendiri
yang dapat mendengarnya.
“Mm, kau bilang apa tadi Heri?”
Sontak aku terkejut, dia bisa mendengarnya. Apakah
Sintia bisa mendengarnya?
“Ah, tidak. Aku tidak bilang apa-apa?” kataku sambil
memaksakan senyumku dan menggaruk-garuk kepalaku sendiri.
“Ku dengar kau bilang sesuatu tadi”
“Sudahlah cepat naik nanti kau ketinggalan carry”
Tanpa ku sadari ternyata kami telah berada di
pinggir jalan dan kerumunan banyak orang.
Sintiapun kemudian naik ke carry yang membawanya
pulang dan mengucapkan sampai bertemu lagi kepadaku sebelum dia benar-benar
menghilang dari pandanganku.
#
Akhirnya sore yang ku tunggu-tunggu telah tiba, dan
saat itu kulihat anak-anak Pramuka yang lain mengenakan pakaian yang sama
denganku. Akupun langsung menghampirinya.
Saat ku berjalan ke sana, ku lihat ternyata teman
sekelasku dulu mengikuti Pramuka juga.
“Hei Aldi”
“Oh Hai Heri” kata Aldi sambil melambaikan tangannya
dari kejauhan melihatku.
“Jadi kau ikut Pramuka juga ya”
“Ibuku yang menyuruhku, kau tau. Yah, hanya sekedar
mencoba juga”
“Begitu, tapi aku yakin kau akan betah”
“Apa maksudmu”
“Maksudku, Pramuka itu menyenangkan kau tau dan
mungkin kau akan betah di sana”
“Apa yang membuatmu berpikir begitu Heri?”
“Kau tau, aku mengikuti Pramuka dari SD dulu”
“Wah, sepertinya pengalamanmu banyak” dia tersenyum
“Tidak juga, sebelumnya aku hanya mengikuti Pramuka
karena di paksa juga, namun lama setelahnya aku merasa Pramuka itu menyenangkan”
kataku sambil tersenyum juga
“Ah, sepertinya pembina kita telah datang” Aldi
berkata sambil menunjuk ke arah seseorang di gerbang depan sekolah.
Benar, orang itu bertubuh tidak terlalu tinggi,
mungkin setinggi Aldi namun hanya saja tubuhnya sedikit agak besar. Dia
mengenakan sebuah topi yang bertuliskan Scout diatasnya.
Walaupun orang itu tidak memakai pakaian seragam
Pramuka seperti kami, namun terlihat jelas bahwa dia itu adalah seorang Pramuka
karena ada tulisan Pramuka di sisi atas kanan bajunya.
Pria itu berjalan sambil memainkan ponselnya, dan di
sampingnya berjalan pula seorang laki-laki jangkung yang bertubuh besar juga
dengan kulit sedikit agak hitam, dan memakai seragam lengkap.
Sepertinya laki-laki itu merupakan kakak kelasku dan
merupakan pratama* di sini.
“Yang lain dimana?” Katanya kemudian bertanya kepada
salah seorang laki-laki di sana. Dan kudengar dia menjawab tidak tau.
“Sebenarnya Kakak juga ada latihan di SDN 4 Aikmel
sore ini, tapi Pak Efendi mendesak Kakak untuk latihan di sini” katanya sambil
terkekeh-kekeh sendiri”
“Baiklah sekarang kita ke ruangan saja” katanya
kemudian
Dan kami semuapun mengkikutinya dari belakang.
Sesampainya di salah satu ruangan kelas 7, aku
memandang-mandang sebentar dan kulihat anggota Pramuka sekarang ini berjumlah duapuluh
orang lebih, dan setengah diantaranya merupakan wanita.
Lumayan banyak pikirku dalam hati.
“Baiklah kita langsung saja, perkenalkan nama Kakak
Rozi Herdiansyah”
Mendadak aku langsung terkesiap mendengarnya, kenapa
nama belakangnya persis seperti namaku?
Setelah beberapa pertanyaan seputar Kak Rozi yang
ditanyakan oleh senior-senior yang lain, yang sepertinya mereka akrab sekali
dengan kak Rozi. Sekarang giliran kami untuk memperkenalkan diri.
Setelah pratama tadi memperkenalkan diri yang kutau
namanya adalah Kak Wathon.
Adalah giliranku sekarang
“Nama saya Heri Herdiansyah” kataku singkat dan ku
dengar sebuah suara wah dari samping kiriku, dan itu Kak Rozi yang berbicara
dan dia juga mengatakan kenapa nama kami bisa mirip.
Aku hanya terkekeh-kekeh juga melihatnya, dan aku
merasa sangat akrab sekali setelah itu.
#
Setelah beberapa topik pembicaraan, seperti sejarah
kelahiran Gerakan Pramuka di Dunia dan di Indonesia, kamipun menutup acara
latihan sore itu dan akan dilanjutkan minggu depan.
Ketika aku berjalan bersama Kak Rozi, Kak Wathon,
dan Aldi berbincang-bincang sedikit. Tak sengaja pandanganku terhenti pada
seseorang yang sedang menyimak seorang wanita yang berbicara di depan mereka.
Baju wanita itu bertuliskan Palang Merah Indonesia.
Tak salah lagi di antara banyak anggota PMR yang di sana, hanya Sintialah yang
paling mudah dikenali menurutku.
Saat aku memandangnya, tiba-tiba arah pandangannya
juga menuju ke arahku.
Ah, lagi-lagi pikirku. Tatapan yang sama setiap
saat, setidaknya aku berpikir begitu.
Sontak mata kami bertemu, dan dia tersenyum
melihatku kala itu.
Sambil berjalan akupun memberi isyarat untuk kembali
ke rumah duluan daripadanya, dan dia mengangguk sambil tersenyum.
Niatku sebenarnya ingin menunggu gadis itu selesai dengan
latihannya, namun aku takut kalau-kalau nanti anak-anak lain yang mengikuti
ekstra lain di sekolah itu berfikir yang tidak-tidak tentangku.
Akhirnya aku pulang dan sesekali menatap ke belakang
ke arah anak-anak PMR yang latihan.
***
*Pratama : Sebutan untuk
ketua di tingkatan penggalang Pramuka.
BAB 14 TABRAKAN
Satu minggu telah berlalu, dan
sejak saat itu dan saat-saat sebelumnya aku dan Sintia sekarang semakin akrab
dan hampir tiap hari aku mengiriminya pesan singkat yang isinya hanya untuk menanyakan
kabarnya.
Hari Jum’at pagi seperti biasanya aku dan
teman-teman calon pengurus OSIS yang lain menyiapkan semua perlengkapan yang
dibutuhkan untuk kegiatan keagamaan pagi itu.
Dan tanpa kusadari sepertinya masalah yang tak
kuketahui sampai saat ini dengan Satria telah terselesaikan.
Hal itu terlihat dari gaya bicara Satria kepadaku,
dan akhir-akhir ini kami sering tertawa bersama walaupun gurauan yang kami
tertawakan hanya berasal dari orang lain.
“Heri, tolong keluarkan loudspeaker itu” Ian berteriak kepadaku, dan tanpa basa-basi aku
langsung mengiyakan seraya berlalu ke ruang OSIS untuk mengambil barang yang di
maksud.
“Oh,?!”
Tiba-tiba aku berpapasan dan hampir menabrak Satria
yang ada di depan pintu OSIS.
“Hei, Heri hati-hati kau bisa menabrakku!” katanya
sambil tersenyum
“Kau sendiri yang menaruh tubuhmu di pintu yang
sempit ini”
Dia memasang muka datar sedangkan aku hanya
terkekeh-kekeh karenanya.
“Oh ya, ngomong-ngomong kau tau di mana loudpeaker yang akan dipakai untuk
Imtaq?”
“Oh, itu di dalam sana dekat rak buku itu,” katanya
sambil menunjuk ke arah pojok ruangan.
“Al ada di sana, kau bisa menanyakan tempatnya”
“Baiklah, trims”
Satriapun berlalu sambil membawa seperangkat kabel
yang berwarna merah ke lapangan.
Akupun masuk dan mengambil loudspeaker berwarna putih, dengan ukuran agak besar yang biasa
digunakan untuk kegiatan di lapangan.
Seperti biasa, kegiatan berjalan lancar tanpa ada
kendala apapun dan karena kami yang mempersiapkan semuanya berarti kami juga
yang harus membereskannya.
‘Ternyata menjadi pengurus itu melelahkan juga’
pikirku sambil memopong sebuah karpet hijau besar ke dalam ruangan OSIS.
Setelah itu bukannya pergi ke kelas untuk belajar,
namun kami pergi ke kopsis untuk menyegarkan diri dengan segelas minuman
seribuan, walaupun cuacanya sedang segar-segar pagi namun hal itu tidak menjadi
halangan bagi kami untuk ke sana.
Memang jika telah ada kegiatan semacam ini, biasanya
guru-guru tidak langsung menuju kelas dahulu namun mereka terdengar sedang
berbincang-bincang di dalam ruang guru.
“Ziz, ayo kembali ke kelas. Sekarang ada jam Ibu
Hidayah” kataku setelah beberapa lama kami di sana.
“Ctenanglawh” suaranya tidak begitu jelas karena dia
berbicara sambil mengunyah sebuah roti yang penuh dimulutnya.
“Apa kau bilang?”
“Tenanglah” sesaat katanya setelah menelan habis
roti di mulutnya itu
“Bagaimana aku bisa tenang, kau lihat siswa-siswa
telah berhenti bermain-main di luar, itu artinya guru-guru telah mulai
mengajar”
“Santai saja Heri, lagipula aku belum melihat
tanda-tanda Ibu Hidayah dari sini”
“Baiklah, ayo” Aziz berkata akhirnya setelah roti
dimulutnya telah dia telan dengan paksa dan meneguk habis minuman gelas yang
dibelinya di sana.
Saat kami berjalan di tangga koridor menuju kelas,
ku lihat Ibu Hidayah sedang berjalan santai dari depan ruang BK, sontak aku
langsung berlari dengan Aziz mengikutiku dari belakang.
#
Teet---Teet---Teeet. Suara bel berdencing beberapa
kali menandakan bahwa kelas untuk hari ini telah selesai.
“Heri, ayo pulang” kata sebuah suara menyapaku
ketika aku hendak membereskan buku-buku yang berserakan di atas mejaku
“Kenapa terburu-buru Ziz, ini masih pagi”
“Sekarang hari Jum’at Ri”
“Aku tau, tapi lihat” kataku sambil menunjuk jam
dinding yang jarum pendeknya menunjuk ke arah angka 11.
“Aku tau, Heri. Tapi kau juga kan tau, bahwa rumahku
jauh di Anjani sana”
“Huufh, baiklah ayo”
Aku berjalan dengan Aziz di sampingku, dan dia terus
menceloteh setiap waktu dan aku sama sekali tak mengerti satupun yang
dibicarakannya.
Dan tiba-tiba saja Aziz membicarakan hal yang
sepertinya tidak ingin aku dengar
“Hai, Heri kau tau?” dia melihatku dengan mata yang
dipicingkan sedikit
“Bagaimana aku bisa tau, jika kau sendiri tidak
memberitauku”
Aziz terkekeh mendengarnya.
“Kau tau bahwa nanti sore, kita diminta berkumpul
oleh Kak Widi”
“Maksudmu calon pengurus OSIS?” kalimat yang
kukatakan jelas menandakan bahwa aku sedikit terkejut,
“Ya, memangnya kau kira Kak Widi siapa?”
Sial, padahal nanti sore aku ada latihan pramuka.
Dan seandainya aku memilih OSIS nanti sore, biasa
kami hanya akan rapat membicarakan hal tentang LDK atau semacamnya. Dan aku
tidak bisa melihat PMR itu latihan, pikirku.
“Eee, Ziz. Bisa tidak kau mengizinkanku untuk tidak
hadir nanti sore?”
“Kau pikir aku siapa, Kak Widi? Aku tak bisa
memberikanmu izin begitu saja!”
Sepertinya Aziz menyalahterjemahkan perkataanku. Dan
akupun tertawa mendengarnya.
“Kenapa kau tertawa?”
“Tak apa-apa” kataku sambil menyeka mataku sendiri
dengan tangan
“Maksudku, aku minta kau menyampaikan izinku nanti
sore kepada Kak Widi karena aku tak dapat hadir. Dasar kau ini” aku tertawa
lagi
“Oh, begitu” dia berkata datar sambil mengalihkan
pandangannya.
Sepertinya Aziz baru menyadari kesalahpahamannya
waktu tadi.
“Memangnya ada apa kau tak bisa hadir?” katanya
kemudian kembali menatapku
“Aku, ada—latihan pramuka” kataku singkat
“Tinggalkan saja pramuka, hal ini lebih penting!”
“Apa kau bilang? Memangnya kau sudah tau apa yang
mau dibicarakan Kak Widi nanti sore?”
Aziz sedikit terkesiap mendengarku karena kurasa
Aziz mendengarku saat emosiku sedikit memuncak karena mendengarnya berkata
seperti itu.
“Tidak juga, tapi aku pikir hal itu tentang LDK”
“Ya, kupikir juga begitu” sesaat emosiku menurun
“Tapi kami, juga akan membicarakan masalah
pelantikan” sesaat juga emosiku mulai naik lagi
“Baiklah, baiklah akan ku izinkan kau nanti” Aziz
berkata lemah, dan sepertinya Ia ingin cepat-cepat mengakhiri obrolan ini.
#
Sorenya, aku berangkat ke sekolah mengenakan seragam
lengkap. Dan sesampainya di sekolah aku tidak melihat satupun pengurus OSIS di
sana, namun kebalikannya aku melihat sekelompok siswa yang berpakaian sama
sepertiku.
‘Sepertinya ini keberuntunganku’ kataku dalam hati.
Tak lama kemudian Kak Rozi datang dan memberi
isyarat untuk kami mengikutinya ke sebuah ruangan. Dan itu merupakan ruangan yang
biasa kami gunakan untuk latihan.
Aku langsung memilih duduk di meja paling depan di
ruangan itu persis di dekat pintu masuk. Aku sengaja memilih tempat itu dari
awal, karena saat Kak Rozi mengalihkan pendangannya aku dapat sekilas melihat
wajah Sintia di kerumunan anak PMR yang sedang latihan, dan akupun tersenyum
sendiri melihatnya.
Setelah beberapa materi seperti kompas, tanda jejak,
dan sandi telah disampaikan oleh Kak Rozi, akhirnya dia memberikan kabar
tentang pelantikan kami sebagai anggota baru.
Pada mulanya kami sangat senang mendengarnya, namun
bagiku itu kabar yang kurang mengenakkan.
“Kita akan mengadakan pelantikan pada tanggal 30
bulan ini di sekolah” kata Kak Rozi dengan lantang.
“Tapi kak, kenapa harus tanggal 30?” kataku kemudian
sambil menatap Kak Rozi dengan wajah yang seakan berbicara untuk mengundurkan
tanggal tersebut.
“Baik. Karena, sehubungan pada tanggal itu juga OSIS
akan mengadakan pelantikan dan PMR pun begitu, maka kakak dan kakak senior
kalian memutuskan untuk kita mengadakan pelantikan pada tanggal tersebut”
“Kak, model pelantikannya seperi apa”
Ku dengar Aldi yang berada di meja sebelah kananku
berbicara kemudian”
“Oh ya, model pelantikannya. Biasa penggalang
seperti kalian akan berkemah. Namun sepertinya kita tidak memerlukan tenda kali
ini” dia berkata dengan suara yang sedikit dilemahkan
Tidak ada tenda? Apa maksud Kak Rozi, adakah orang
berkemah tidak menggunakan tenda.
“Kenapa kak?” kata seorang anggota wanita yang duduk
di pojok belakang yang kuketahui namanya adalah Lina.
“Seperti yang kakak katakan, pelantikan kali ini
kita adakan di sekolah. Dan OSIS dan PMR juga seperti itu. Artinya sekolah akan
ramai pada saat itu dan karena di sekolah, kita bisa tidur didalam ruangan
kelas. Jadi untuk apa kita memerlukan tenda bukan?”
Sedikit ku lirik beberapa orang di ruangan itu dan
kulihat sebagian besar mengangguk tanda setuju akan hal itu.
#
“Kak, bagaimana ini?” aku bertanya pada Kak Rozi
saat kami hendak meninggalkan ruangan untuk pulang.
“Apanya yang bagaimana Heri?”
“Kita akan mengadakan pelantikan tanggal 30 bukan?”
“Mm” dia bergumam sambil mengangguk
“Aku juga merupakan anggota OSIS, dan hari
pelantikannya sama. Bagaimana cara ku untuk membagi waktu?”
Memang aku menggunakan kata “aku” saat berbicara
dengan Kak Rozi, karena ku tau hal itu tak ada masalah saat kami tidak sedang
latihan melainkan hanya jalan biasa.
“Hmmm.. kau anggota OSIS juga ya?”
“Ya, seperti itulah”
“Begini, sepertinya besok pelantikan kita tak
sepadat pelantikan biasanya. Ya, karena Pak Efendi meminta kakak seperti itu”
“Maksud kakak?”
“Maksud kakak begini, jika di pramuka sedang tidak
ada kegiatan, Heri bisa izin untuk pergi ke OSIS. Kira-kira seperti itulah”
Aku takjub mendengar penjelasannya, seperti yang
diharapkan dari seorang pembina pramuka. Bagiku hal itu cukup bijaksana untuk
ku lakukan.
“Benarkah?”
Kak Rozi mengangguk sesaat melihatku
“Baiklah kalau begitu”
***
BAB 15 PERSIAPAN
LDK
Berminggu-minggu telah berlalu.
Aku bangun dari tempat tidurku dan melihat jam di dinding.
“Masih pagi” gumamku saat ku melihat jarum jam
menunjuk ke arah angka 5.
Ingin sekali ku merebahkan diri dan membenamkan
diriku ke dalam selimut lembut itu lagi, namun keteguhan imanku tak membuatku
melakukan hal itu.
Aku bangun dan sekilas melihat kalender duduk yang
ada di meja di dalam kamarku, di sana tercoreng sebuah angka yang menunjukkan
tanggal 30.
“Akhirnya” gumamku sendiri
Setelah itu aku langsung menuju kamar mandi untuk
mengambil air wudlu dan bergegas untuk sholat subuh, lalu berpamitan pada ibuku
dan segera berangkat sekolah.
Pagi itu cerah walaupun terlihat beberapa titik awan
yang tidak menyenangkan suasana. Namun aku bersyukur tak terjadi suatu hal yang
tidak kuinginkan pagi itu.
“Pagi, Heri” Aziz yang baru datang menyapaku yang
tengah duduk di depan kelas sambil menutup mulutnya karena menguap.
“Kenapa kau?” kataku memulai percakapan
“Ahh, biasa” Aziz berkata sambil menggosok-gosok
matanya
“Pagi yang indah?” tanyaku mencoba membuat lelucon
Namun Aziz hanya menanggapinya dengan kata yeah lalu
kemudian menuju kelas untuk menaruh barang-barangnya.
“Aku ke kantin dulu” katanya sesaat setelah Ia
keluar dari kelas
“Kau ingin ikut denganku?”
“Ah, tidak Ziz.. Perutku masih kenyang”
“Baiklah” katanya datar kemudian menjauh pergi
Sepertinya pagi itu Aziz sangatlah kelaparan,
sehingga dia sepertinya tak mau berlama-lama denganku di sana.
Saat ku duduk termenung sendiri di sana, tiba-tiba
lamunanku pecah saat ku lihat sepasang mata berwarna hitam dari kejauhan.
Sintia baru datang ke sekolah, dan akupun membalas
lambainnya saat ia datang dari balik tembok itu.
Tak lama kemudian ku lihat Sintia berjalan pelan
menuju sebuah tempat duduk kecil yang ada di bawah sebuah pohon yang entah
pohon apa namanya, dia berjalan sambil membawa sebuah buku yang tebal.
“Apa yang kau baca?” tanyaku saat aku menghampirinya
di sana.
Kupikir suasana sangat mendukungku saat itu, karena
kulihat baru hanya sedikit siswa yang datang pagi itu. Dan angin bertiup
sepoi-sepoi menambah suasana yang begitu tentram.
“Oh, Heri. Seperti biasa...” katanya sambil memfokuskan
dirinya ke dalam buku yang dibacanya itu.
“Seperti biasa, Matematika?” kataku membalasnya
bingung
“Maksudmu?” katanya kemudian, sepertinya dia lebih
bingung dariku
Kami terdiam sejenak mengagumi kepolosan kami
masing-masing,
“Tadi kan aku bertanya apa yang kau baca? Nah kau
menjawab seperti biasa, dan kupikir itu Matematika” kataku sesaat kemudian.
“Ah, bukan. Ini IPA” katanya sambil menunjukkanku
buku tadi.
“Jadi, apa maksudmu seperti biasa?”
“Maksudku, kau selalu mengejutkanku saat aku sedang sendiri
seperti ini” dia tersenyum
“Oh, begitu. Kau tau aku kan” kataku sambil
terkekeh-kekeh sendiri.
Sesaat kami terdiam lagi, tak tau apa lagi yang mau
di bicarakan.
Bodohnya aku, padahal suasana pagi itu telah
mendukungku dengan pasti, namun aku tak tau harus berkata apa kepada Sintia,
pikirku.
“Jadi kudengar PMR akan pelantikan hari ini” kataku
memulai pembicaraan kemudian.
“Ya, bagaimana kau bisa tau?”
Dia melihatku sejenak, dan tatapan itu sungguh
membuatku merasa seperti orang yang hilang ingatan saat itu.
“Aa---aaku, mendengarnya dari Kak Rozi waktu
kemarin” kataku gugup
Tanpa kusadari tubuhku bergetar sendiri, apa yang
terjadi. Lagi-lagi hal ini terjadi disaat aku hanya berdua dengan Sintia.
“Siapa Kak Rozi?”
“Itu, pembina pramuka yang melatih di sekolah ini”
“Oh, yang gemuk itu?”
“Kurasa dia tidak terlalu gemuk” kataku datar
“Yaa, hari ini. Walaupun hanya persami tapi aku
sedikit gugup” katanya sambil memfokuskan dirinya lagi ke dalam bukunya.
“Memangnya kenapa?” kataku sambil duduk di
hadapannya di sebuah batu yang hampir sama besarnya dengan tempat duduk dari
semen yang diduduki Sintia.
“Ya, begitulah”
“Coba kau beritau aku”
“Hanya gugup,” katanya singkat
“Hanya itu?”
Dia mengangguk,
“Tenanglah, semuanya pasti akan berjalan lancar”
“Bagaimana kau bisa seyakin itu?”
“Kau tau, seperti biasa” kataku sambil tersenyum dan
Sintia ikut tersenyum kemudian.
“Heri? Aku membutuhkanmu”
Sebuah suara tiba-tiba saja menyapaku dari belakang,
dan kupikir siapa ternyata anak itu.
“Ada apa Ziz, apa ada yang salah?”
“Aku---- Ehm!” dia menghentikan kalimatnya di sana
dan berdeham dengan sangat keras yang hampir seluruh sekolah dapat
mendengarnya.
Aku menatap Aziz yang tersenyum sendiri dengan
bingung, namun segera ku mengerti saat dia melirik sedikit ke arah samping.
Sontak aku begitu terkejut sehingga membuatku
melompat berdiri.
Aziz terkejut juga melihat reaksiku, dan begitu juga
Sintia.
“Ah, tidak apa-apa” kataku pelan “Ngomong-ngomong
apa yang bisa kubantu Ziz”
“Oh, aku jadi lupa. Oh ya, aku lupa mengerjakan
tugas yang diberikan Pak Hendra. Karena kau yang paling pintar dalam bahasa
Inggris, jadi maukah kau membantuku”
“Baiklah ayo” kataku tanpa basa-basi kemudian.
Sebenarnya aku tak tega meninggalkan Sintia
sendirian di tempat itu, namun Aziz mengacaukan semuanya. Dia berdeham dengan
maksud pasti, tenyata hal yang ku khawatirkan terjadi juga.
Tetapi karena hari telah berangsur-angsur menjadi
siang, banyak siswa telah berdatangan dan beberapa teman Sintia juga datang.
“Sintia, aku pinjam dia sebentar” Aziz berkata yang
aku dengar seperti lelucon yang tidak lucu sama sekali.
“Apa yang kau bicarakan” kataku sambil menyikutnya
dan menyeretnya menuju kelas
“Ah, Sintia. Sampai nanti” kataku ke belakang sambil
tersenyum dan diapun membalasnya sambil tersenyum juga.
***
BAB 16 LDK
DIMULAI
Sore
terlihat cerah namun sedikit ditutupi awan kala itu. Aku berjalan sambil
menenteng tongkat pramuka di tangan kananku sedangkan tangan kiriku hanya
mengikuti irama hentak kakiku.
“Kak Rozi!” kataku berteriak dari depan gerbang
sekolah dan langsung menuju ke sana saat Kak Rozi melambaikan tangannya memberi
isyarat padaku untuk ke sana.
“Bagaimana, siap?” kata Kak Rozi sesampaiku di sana
“Insya Allah siap” kataku pelan
Sebenarnya sore itu aku tidak begitu yakin akan LDK
dan pelantikan pramuka untuk hari ini, karena ku tau persiapanku untuk hal
tersebut tidaklah cukup.
Memang dari SD aku pernah ikut pramuka, tetapi
itupun hanya sebatas mewakili sekolah saja.
“Kenapa Heri, kelihatannya kau loyo?” kata Kak Rozi
menatapku
Dia tidak begitu tinggi sehingga aku tak perlu
mengangkat wajahku untuk menatapnya balik.
“Ah, tidak apa-apa kak” kataku kemudian
“Hmm... Kau tak perlu khawatir semuanya pasti akan
berjalan dengan lancar” katanya sesaat.
Aku terkejut setelah mendengar Kak Rozi tadi,
sepertinya dia bisa membaca pikiranku.
“Entahlah kak” kataku menundukkan kepala
“Sudahlah, lagipula kita belum tau apa yang terjadi
sebelum mencobanya bukan?” katanya dengan penuh semangat
Aku terdiam sejenak, lalu mengangkat wajah dan ibu
jariku ke atas dan tersenyum mengangguk tanda setuju.
“Bagus. Oh ya Aldi tidak ikut kita kali ini”
“Aldi?”
Aku terkejut sejenak. Aldi, benar. Aku baru
mengingat anak itu, pantas saja rasanya seperti ada yang kurang, ternyata Aldi
tidak di sana.
Aku menatap sekitar siapa tau Aldi mungkin saja ada
di kerumunan anak-anak OSIS itu, dan siapa tau juga dia ikut di OSIS, seperti
Satria yang baru kusadari beberapa saat setelah masuk rapat di OSIS.
“Memangnya Aldi di mana?” tanyaku pada Kak Rozi
“Tadi siang dia minta izin ke kakak, sepertinya dia
tidak bisa ikut pelantikan kali ini karena dia kata orang tuanya melarang”
“Begitu. Dasar Aldi,..”
Ternyata Aldi yang satu-satunya orang yang kukenal
saat pertama kali masuk ke pramuka, dia sendiri yang tidak ikut pelantikan.
Padahal seperti yang ku tau pelantikan merupakan
momen yang sangat sakral bagi organisasi manapun di dunia. Karena ini merupakan
peresmian untuk anggota baru di sana.
#
Malam harinya aku sedang berjalan sambil
berbincang-bincang dengan Aziz, sembari menikmati malam yang sedang bulan
purnama.
“Hei Ziz, siapa yang kau pikir akan menjadi ketua
OSIS untuk tahun ini?”
“Satu-satunya hal yang kupikirkan adalah seorang
anak pramuka di sana”
Sial. Dia mengabaikanku, Aziz menunjukkanku salah
seorang anggota putri di pramuka, dan dia sedang duduk bersama teman-temannya
di sana.
“Dasar kau, apa kau sedang dalam masa pubertas?”
“Ah, kau tau Heri aku masih muda”
Ternyata apa yang kupikirkan benar, Aziz sedang
tertarik kepada seorang anggota pramuka yang ditunjukkan kepadaku tadi.
“Asal kau tau, mendekati adik kelas itu sulit”
kataku pelan kepadanya
“Adik kelas? Pantas saja aku tidak pernah
melihatnya” katanya sambil tidak memperhatikan jalan di depannya sehingga aku
menariknya mendekat saat dia hampir menabrak seorang guru laki-laki di sana.
“Sial, mereka pergi” kata Aziz lemah saat melihat
anak-anak itu beranjak dari tempat duduknya
“Aku penasaran siapa namanya” katanya menoleh
kepadaku
Jelas saja maksudnya adalah memintaku untuk
memberitaukan nama gadis itu
“Huuf,, Asal kau tau... namanya adalah Dewi” kataku
sesaat kemudian
“Dewi, kau benar suatu saat aku akan menjadi
‘Dewa’nya”
Dasar Aziz, dia selalu tau apa yang harus di katakan
saat berbicara denganku.
Aku hanya tertawa mendengar Aziz berkata begitu,
hingga akhirnya sebuah pengumuman yang mengharuskan calon pengurus OSIS untuk
berkumpul.
“Ziz, ayo. Apa yang kau lakukan,, arah pertemuannya
di sebelah sini” kataku kepada Aziz dengan wajah yang sedikit kebingungan.
Mengapa tidak Aziz berjalan berlawanan arah dari
instruksi yang diberikan oleh suara itu.
“Ah, aku ingin buang air sebentar, kau pergi saja
dulu nanti aku menyusul. Lagipula arah kelas 7.3 dekat dengan WC.” Katanya
kemudian sambil beranjak.
“Eh, tapi kenapa lewat arah sana?” kataku sambil
menunjuk arah yang akan dilewati Aziz
“Itu sama saja, kau berjalan memutar ke kelas 7.3
tempat pertemuannya”
“Aah, sudahlah aku sebenarnya tidak ingin berkumpul
dahulu”
Seketika aku menyadari maksud dan tujuan Aziz saat
melihat segerombol anak pramuka putri di sana dan diantara kerumunan itu ada
Dewi.
“Baiklah Ziz, semoga berhasil” kataku kemudian melambaikan tangan sambil beranjak dari sana
“Oke” Aziz berkata sambil mengacungkan jempol
kanannya kepadaku
Akhirnya ku biarkan Aziz saat itu.
Karena aku tau, bagaimana rasanya menjadi seperti
Aziz. Karena beberapa saat aku pernah merasakannya, namun tak seberani Aziz
tentunya, pikirku kemudian.
#
Aku sangat mengantuk sekali saat pertemuan telah
usai, bagaimana tidak, semua yang disampaikan oleh ketua OSIS dan Pak Anto
selaku pembina OSIS sangatlah membosankan.
Mereka hanya mengulangi apa yang pernah dikatakan
mereka sebelumnya, seperti apa itu pemimpin, bagaimana sikap seorang pemimpin
dan apa peran OSIS itu di sekolah.
Sesaat kata Whoam keluar dari mulutku, sontak aku
langsung mengangkat tangan menutupnya supaya tidak terlihat terlalu mengantuk.
Namun sesaat rasa kantuk itu segera hilang ketika
aku memikirkan Aziz yang seketika langsung ditunjuk untuk menjadi calon ketua
OSIS, padahal dia baru saja kembali dari alasan buang air nya.
Aku hanya terkekeh-kekeh sendiri malam itu, hingga
akhirnya Kak Wathon datang menghampiriku.
“Heri, syukurlah kau telah selesai dengan rapatnya”
katanya dengan sedikit tergesa-gesa
“Memangnya ada hal apa kak?”
“Yah, kami sengaja menunggumu karena sekarang kita
ada kegiatan” katanya pelan sesaat setelah Kak Wathon menenangkan dirinya
“Oh, ku kira kegiatannya besok pagi?”
“Ah, tidak juga. Kau tau pramuka itu tidak
konsisten, kita bertindak sesuai keadaan yang terjadi” dia tersenyum
Seperti yang diharapkan, memang tak salah anggota
pramuka yang dahulu menunjuknya menjadi ketua pramuka. Jalan pikirnya sangatlah
berbeda dengan orang seusianya, apalagi denganku.
“Baiklah, ayo”
Kamipun bergegas menuju lapangan basket di depan,
dan kulihat Kak Rozi dan beberapa anak telah
berkumpul di sana. Dan ada Aziz juga?
“Woy, Ziz. Apa yang kau lakukan di sini?” kataku
sangat bingung
“A—aku hanya sedang mengisi waktu luang saja”
katanya sedikit tergagap-gagap mencari alasan
“Apa maksudmu,?” kataku sembari duduk di dekatnya
“Aku hanya tidak sedang mengantuk, kau tau aku biasa
tidur tengah malam”
“Aku tidak menanyankan hal itu” kataku datar
Hingga akhirnya aku membiarkan Aziz di sana setelah
melihat kelompok anggota putri dan Dewi duduk di dekat Aziz di perbatasan
antara anggota putra dengan putri.
“Baiklah kita mulai pertemuan sekarang” kata Kak
Rozi kemudian
Pada awalnya pertemuan kami dimulai dengan permainan
dan tepukan-tepukan, dan aku mengerti akan tujuan Kak Rozi saat itu.
Dan pada akhirnya kami masuk pada acara inti yaitu
pengenalan tentang pramuka, sejarah pramuka, dan berbagai macam hal tentang
kepramukaan yang mengakibatkan sebagian besar anggota mengeluarkan hembusan
nafas yang tidak mengenakkan.
***
Stay tuned :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tolonglah berkomentar dengan sopan, NO SPAM!, dan dengan bahasa yang santun pula. Karena komentar anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini ke depannya.