18 Januari 2018

Daun-Daun yang Terbang Mencari Angin (Bab 13-16)



BAB 13 PRAMUKA
            Teet---Teet---Teeet. Suara dencing bel berbunyi panjang  menandakan pelajaran untuk hari ini telah selesai, namun ketika aku hendak akan pulang membereskan semua perlengkapan sekolahku seperti buku tulis dan yang lainnya, tiba-tiba suara gemericing loudspeaker yang tua di sekolahku itu terdengar dari kejauhan.
“Pengumuman, bagi siswa-siswi yang mengikuti kegiatan ekstrakulikuler Pramuka, diharapkan untuk datang ke sekolah setelah jum’atan, terima kasih”
Dan suara gemericing itu terdengar lagi namun langsung padam ketika sound systemnya dimatikan.
‘Akhirnya’ kataku dalam hati, setelah lama menanti ternyata baru sekarang.
Aku langsung membereskan semua perlengkapan yang berserakan di meja itu seraya melihat bahwa kelas itu telah sedikit agak sepi karena sebagian besar siswa telah kembali ke rumah masing, dan begitu juga Aziz.
Aah, dia tak perlu kupikirkan, seperti biasanya mendengar satu suara dencing belpun dia sudah menghilang entah kemana. Dan sepertinya dia juga tau kapan bel itu akan berbunyi, pikirku sambil terkekeh-kekeh sendiri.
#
Di tengah jalan pulang, aku bertemu dengan Sintia di depan lapangan basket sekolah.
“Hai Heri, kenapa terburu-buru sekali” sapanya kepadaku
Sontak suara itu membuatku sedikit terkejut, karena sebenarnyatak ada niatku untuk menyapa dirinya saat itu. Yah, tentu karena aku sedang terburu-buru.
Namun tak nyaman rasanya jika aku mengabaikan gadis itu begitu saja.
“Oh, hai Sintia, aku hanya...” ingin cepat-cepat pulang. Kalimat itu sudah berada di ujung lidahku namun lagi-lagi aku tak dapat mengatakannya.
Rasanya seperti ada sesuatu yang berbisik di kepalaku, jangan katakan.
“Aku hanya, segera ingin ke sekolah lagi setelah jum’atan”
Terlihat sepintas raut kebingungan di wajah Sintia saat itu
“Oh, memangnya kau mau melakukan apa di sekolah sore ini, Ri?”
“Aku, aku ada ekstra Pramuka” kataku singkat kemudian
“Ah, jadi Pramuka latihan sore ini?” katanya terkejut
“Ya, memangnya ada apa dengan itu?”
“Tidak apa-apa, hanya saja waktu latihan PMR sama dengannya”
“Jadi kau ikut PMR?”
“Yaa, begitulah”
Dia tersenyum. Ah, sial senyuman itu lagi kataku dalam hati.
Akupun sontak ikut tersenyum.
Ternyata Sintia mengikuti ekstra PMR dan waktu latihan kami juga barengan, sore ini.
Aku tak dapat mengekspresikan rasa ini. Selain setau diriku bahwa sebenarnya Pramuka dan PMR itu ridaklah jauh berbeda, mereka seperti berasal dari satu rumpun yang sama, setidaknya itu yang ku tau semasa mengikuti Pramuka waktu Sekolah Dasar.
Namun, selain hal itu yang kupikirkan adalah aku dapat melihat Sintia sore ini.
“Aku dapat melihatmu” suara itu begitu kecil terdengar keluar dari mulutku, sehingga seolah-olah hanya telingaku sendiri yang dapat mendengarnya.
“Mm, kau bilang apa tadi Heri?”
Sontak aku terkejut, dia bisa mendengarnya. Apakah Sintia bisa mendengarnya?
“Ah, tidak. Aku tidak bilang apa-apa?” kataku sambil memaksakan senyumku dan menggaruk-garuk kepalaku sendiri.
“Ku dengar kau bilang sesuatu tadi”
“Sudahlah cepat naik nanti kau ketinggalan carry”
Tanpa ku sadari ternyata kami telah berada di pinggir jalan dan kerumunan banyak orang.
Sintiapun kemudian naik ke carry yang membawanya pulang dan mengucapkan sampai bertemu lagi kepadaku sebelum dia benar-benar menghilang dari pandanganku.
#
Akhirnya sore yang ku tunggu-tunggu telah tiba, dan saat itu kulihat anak-anak Pramuka yang lain mengenakan pakaian yang sama denganku. Akupun langsung menghampirinya.
Saat ku berjalan ke sana, ku lihat ternyata teman sekelasku dulu mengikuti Pramuka juga.
“Hei Aldi”
“Oh Hai Heri” kata Aldi sambil melambaikan tangannya dari kejauhan melihatku.
“Jadi kau ikut Pramuka juga ya”
“Ibuku yang menyuruhku, kau tau. Yah, hanya sekedar mencoba juga”
“Begitu, tapi aku yakin kau akan betah”
“Apa maksudmu”
“Maksudku, Pramuka itu menyenangkan kau tau dan mungkin kau akan betah di sana”
“Apa yang membuatmu berpikir begitu Heri?”
“Kau tau, aku mengikuti Pramuka dari SD dulu”
“Wah, sepertinya pengalamanmu banyak” dia tersenyum
“Tidak juga, sebelumnya aku hanya mengikuti Pramuka karena di paksa juga, namun lama setelahnya aku merasa Pramuka itu menyenangkan” kataku sambil tersenyum juga
“Ah, sepertinya pembina kita telah datang” Aldi berkata sambil menunjuk ke arah seseorang di gerbang depan sekolah.
Benar, orang itu bertubuh tidak terlalu tinggi, mungkin setinggi Aldi namun hanya saja tubuhnya sedikit agak besar. Dia mengenakan sebuah topi yang bertuliskan Scout diatasnya.
Walaupun orang itu tidak memakai pakaian seragam Pramuka seperti kami, namun terlihat jelas bahwa dia itu adalah seorang Pramuka karena ada tulisan Pramuka di sisi atas kanan bajunya.
Pria itu berjalan sambil memainkan ponselnya, dan di sampingnya berjalan pula seorang laki-laki jangkung yang bertubuh besar juga dengan kulit sedikit agak hitam, dan memakai seragam lengkap.
Sepertinya laki-laki itu merupakan kakak kelasku dan merupakan pratama* di sini.
“Yang lain dimana?” Katanya kemudian bertanya kepada salah seorang laki-laki di sana. Dan kudengar dia menjawab tidak tau.
“Sebenarnya Kakak juga ada latihan di SDN 4 Aikmel sore ini, tapi Pak Efendi mendesak Kakak untuk latihan di sini” katanya sambil terkekeh-kekeh sendiri”
“Baiklah sekarang kita ke ruangan saja” katanya kemudian
Dan kami semuapun mengkikutinya dari belakang.
Sesampainya di salah satu ruangan kelas 7, aku memandang-mandang sebentar dan kulihat anggota Pramuka sekarang ini berjumlah duapuluh orang lebih, dan setengah diantaranya merupakan wanita.
Lumayan banyak pikirku dalam hati.
“Baiklah kita langsung saja, perkenalkan nama Kakak Rozi Herdiansyah”
Mendadak aku langsung terkesiap mendengarnya, kenapa nama belakangnya persis seperti namaku?
Setelah beberapa pertanyaan seputar Kak Rozi yang ditanyakan oleh senior-senior yang lain, yang sepertinya mereka akrab sekali dengan kak Rozi. Sekarang giliran kami untuk memperkenalkan diri.
Setelah pratama tadi memperkenalkan diri yang kutau namanya adalah Kak Wathon.
Adalah giliranku sekarang
“Nama saya Heri Herdiansyah” kataku singkat dan ku dengar sebuah suara wah dari samping kiriku, dan itu Kak Rozi yang berbicara dan dia juga mengatakan kenapa nama kami bisa mirip.
Aku hanya terkekeh-kekeh juga melihatnya, dan aku merasa sangat akrab sekali setelah itu.
#
Setelah beberapa topik pembicaraan, seperti sejarah kelahiran Gerakan Pramuka di Dunia dan di Indonesia, kamipun menutup acara latihan sore itu dan akan dilanjutkan minggu depan.
Ketika aku berjalan bersama Kak Rozi, Kak Wathon, dan Aldi berbincang-bincang sedikit. Tak sengaja pandanganku terhenti pada seseorang yang sedang menyimak seorang wanita yang berbicara di depan mereka.
Baju wanita itu bertuliskan Palang Merah Indonesia. Tak salah lagi di antara banyak anggota PMR yang di sana, hanya Sintialah yang paling mudah dikenali menurutku.
Saat aku memandangnya, tiba-tiba arah pandangannya juga menuju ke arahku.
Ah, lagi-lagi pikirku. Tatapan yang sama setiap saat, setidaknya aku berpikir begitu.
Sontak mata kami bertemu, dan dia tersenyum melihatku kala itu.
Sambil berjalan akupun memberi isyarat untuk kembali ke rumah duluan daripadanya, dan dia mengangguk sambil tersenyum.
Niatku sebenarnya ingin menunggu gadis itu selesai dengan latihannya, namun aku takut kalau-kalau nanti anak-anak lain yang mengikuti ekstra lain di sekolah itu berfikir yang tidak-tidak tentangku.
Akhirnya aku pulang dan sesekali menatap ke belakang ke arah anak-anak PMR yang latihan.
***
*Pratama : Sebutan untuk ketua di tingkatan penggalang Pramuka.





BAB 14 TABRAKAN
            Satu minggu telah berlalu, dan sejak saat itu dan saat-saat sebelumnya aku dan Sintia sekarang semakin akrab dan hampir tiap hari aku mengiriminya pesan singkat yang isinya hanya untuk menanyakan kabarnya.
Hari Jum’at pagi seperti biasanya aku dan teman-teman calon pengurus OSIS yang lain menyiapkan semua perlengkapan yang dibutuhkan untuk kegiatan keagamaan pagi itu.
Dan tanpa kusadari sepertinya masalah yang tak kuketahui sampai saat ini dengan Satria telah terselesaikan.
Hal itu terlihat dari gaya bicara Satria kepadaku, dan akhir-akhir ini kami sering tertawa bersama walaupun gurauan yang kami tertawakan hanya berasal dari orang lain.
“Heri, tolong keluarkan loudspeaker itu” Ian berteriak kepadaku, dan tanpa basa-basi aku langsung mengiyakan seraya berlalu ke ruang OSIS untuk mengambil barang yang di maksud.
“Oh,?!”
Tiba-tiba aku berpapasan dan hampir menabrak Satria yang ada di depan pintu OSIS.
“Hei, Heri hati-hati kau bisa menabrakku!” katanya sambil tersenyum
“Kau sendiri yang menaruh tubuhmu di pintu yang sempit ini”
Dia memasang muka datar sedangkan aku hanya terkekeh-kekeh karenanya.
“Oh ya, ngomong-ngomong kau tau di mana loudpeaker yang akan dipakai untuk Imtaq?”
“Oh, itu di dalam sana dekat rak buku itu,” katanya sambil menunjuk ke arah pojok ruangan.
“Al ada di sana, kau bisa menanyakan tempatnya”
“Baiklah, trims”
Satriapun berlalu sambil membawa seperangkat kabel yang berwarna merah ke lapangan.
Akupun masuk dan mengambil loudspeaker berwarna putih, dengan ukuran agak besar yang biasa digunakan untuk kegiatan di lapangan.
Seperti biasa, kegiatan berjalan lancar tanpa ada kendala apapun dan karena kami yang mempersiapkan semuanya berarti kami juga yang harus membereskannya.
‘Ternyata menjadi pengurus itu melelahkan juga’ pikirku sambil memopong sebuah karpet hijau besar ke dalam ruangan OSIS.
Setelah itu bukannya pergi ke kelas untuk belajar, namun kami pergi ke kopsis untuk menyegarkan diri dengan segelas minuman seribuan, walaupun cuacanya sedang segar-segar pagi namun hal itu tidak menjadi halangan bagi kami untuk ke sana.
Memang jika telah ada kegiatan semacam ini, biasanya guru-guru tidak langsung menuju kelas dahulu namun mereka terdengar sedang berbincang-bincang di dalam ruang guru.
“Ziz, ayo kembali ke kelas. Sekarang ada jam Ibu Hidayah” kataku setelah beberapa lama kami di sana.
“Ctenanglawh” suaranya tidak begitu jelas karena dia berbicara sambil mengunyah sebuah roti yang penuh dimulutnya.
“Apa kau bilang?”
“Tenanglah” sesaat katanya setelah menelan habis roti di mulutnya itu
“Bagaimana aku bisa tenang, kau lihat siswa-siswa telah berhenti bermain-main di luar, itu artinya guru-guru telah mulai mengajar”
“Santai saja Heri, lagipula aku belum melihat tanda-tanda Ibu Hidayah dari sini”
“Baiklah, ayo” Aziz berkata akhirnya setelah roti dimulutnya telah dia telan dengan paksa dan meneguk habis minuman gelas yang dibelinya di sana.
Saat kami berjalan di tangga koridor menuju kelas, ku lihat Ibu Hidayah sedang berjalan santai dari depan ruang BK, sontak aku langsung berlari dengan Aziz mengikutiku dari belakang.
#
Teet---Teet---Teeet. Suara bel berdencing beberapa kali menandakan bahwa kelas untuk hari ini telah selesai.
“Heri, ayo pulang” kata sebuah suara menyapaku ketika aku hendak membereskan buku-buku yang berserakan di atas mejaku
“Kenapa terburu-buru Ziz, ini masih pagi”
“Sekarang hari Jum’at Ri”
“Aku tau, tapi lihat” kataku sambil menunjuk jam dinding yang jarum pendeknya menunjuk ke arah angka 11.
“Aku tau, Heri. Tapi kau juga kan tau, bahwa rumahku jauh di Anjani sana”
“Huufh, baiklah ayo”
Aku berjalan dengan Aziz di sampingku, dan dia terus menceloteh setiap waktu dan aku sama sekali tak mengerti satupun yang dibicarakannya.
Dan tiba-tiba saja Aziz membicarakan hal yang sepertinya tidak ingin aku dengar
“Hai, Heri kau tau?” dia melihatku dengan mata yang dipicingkan sedikit
“Bagaimana aku bisa tau, jika kau sendiri tidak memberitauku”
Aziz terkekeh mendengarnya.
“Kau tau bahwa nanti sore, kita diminta berkumpul oleh Kak Widi”
“Maksudmu calon pengurus OSIS?” kalimat yang kukatakan jelas menandakan bahwa aku sedikit terkejut,
“Ya, memangnya kau kira Kak Widi siapa?”
Sial, padahal nanti sore aku ada latihan pramuka.
Dan seandainya aku memilih OSIS nanti sore, biasa kami hanya akan rapat membicarakan hal tentang LDK atau semacamnya. Dan aku tidak bisa melihat PMR itu latihan, pikirku.
“Eee, Ziz. Bisa tidak kau mengizinkanku untuk tidak hadir nanti sore?”
“Kau pikir aku siapa, Kak Widi? Aku tak bisa memberikanmu izin begitu saja!”
Sepertinya Aziz menyalahterjemahkan perkataanku. Dan akupun tertawa mendengarnya.
“Kenapa kau tertawa?”
“Tak apa-apa” kataku sambil menyeka mataku sendiri dengan tangan
“Maksudku, aku minta kau menyampaikan izinku nanti sore kepada Kak Widi karena aku tak dapat hadir. Dasar kau ini” aku tertawa lagi
“Oh, begitu” dia berkata datar sambil mengalihkan pandangannya.
Sepertinya Aziz baru menyadari kesalahpahamannya waktu tadi.
“Memangnya ada apa kau tak bisa hadir?” katanya kemudian kembali menatapku
“Aku, ada—latihan pramuka” kataku singkat
“Tinggalkan saja pramuka, hal ini lebih penting!”
“Apa kau bilang? Memangnya kau sudah tau apa yang mau dibicarakan Kak Widi nanti sore?”
Aziz sedikit terkesiap mendengarku karena kurasa Aziz mendengarku saat emosiku sedikit memuncak karena mendengarnya berkata seperti itu.
“Tidak juga, tapi aku pikir hal itu tentang LDK”
“Ya, kupikir juga begitu” sesaat emosiku menurun
“Tapi kami, juga akan membicarakan masalah pelantikan” sesaat juga emosiku mulai naik lagi
“Baiklah, baiklah akan ku izinkan kau nanti” Aziz berkata lemah, dan sepertinya Ia ingin cepat-cepat mengakhiri obrolan ini.
#
Sorenya, aku berangkat ke sekolah mengenakan seragam lengkap. Dan sesampainya di sekolah aku tidak melihat satupun pengurus OSIS di sana, namun kebalikannya aku melihat sekelompok siswa yang berpakaian sama sepertiku.
‘Sepertinya ini keberuntunganku’ kataku dalam hati.
Tak lama kemudian Kak Rozi datang dan memberi isyarat untuk kami mengikutinya ke sebuah ruangan. Dan itu merupakan ruangan yang biasa kami gunakan untuk latihan.
Aku langsung memilih duduk di meja paling depan di ruangan itu persis di dekat pintu masuk. Aku sengaja memilih tempat itu dari awal, karena saat Kak Rozi mengalihkan pendangannya aku dapat sekilas melihat wajah Sintia di kerumunan anak PMR yang sedang latihan, dan akupun tersenyum sendiri melihatnya.
Setelah beberapa materi seperti kompas, tanda jejak, dan sandi telah disampaikan oleh Kak Rozi, akhirnya dia memberikan kabar tentang pelantikan kami sebagai anggota baru.
Pada mulanya kami sangat senang mendengarnya, namun bagiku itu kabar yang kurang mengenakkan.
“Kita akan mengadakan pelantikan pada tanggal 30 bulan ini di sekolah” kata Kak Rozi dengan lantang.
“Tapi kak, kenapa harus tanggal 30?” kataku kemudian sambil menatap Kak Rozi dengan wajah yang seakan berbicara untuk mengundurkan tanggal tersebut.
“Baik. Karena, sehubungan pada tanggal itu juga OSIS akan mengadakan pelantikan dan PMR pun begitu, maka kakak dan kakak senior kalian memutuskan untuk kita mengadakan pelantikan pada tanggal tersebut”
“Kak, model pelantikannya seperi apa”
Ku dengar Aldi yang berada di meja sebelah kananku berbicara kemudian”
“Oh ya, model pelantikannya. Biasa penggalang seperti kalian akan berkemah. Namun sepertinya kita tidak memerlukan tenda kali ini” dia berkata dengan suara yang sedikit dilemahkan
Tidak ada tenda? Apa maksud Kak Rozi, adakah orang berkemah tidak menggunakan tenda.
“Kenapa kak?” kata seorang anggota wanita yang duduk di pojok belakang yang kuketahui namanya adalah Lina.
“Seperti yang kakak katakan, pelantikan kali ini kita adakan di sekolah. Dan OSIS dan PMR juga seperti itu. Artinya sekolah akan ramai pada saat itu dan karena di sekolah, kita bisa tidur didalam ruangan kelas. Jadi untuk apa kita memerlukan tenda bukan?”
Sedikit ku lirik beberapa orang di ruangan itu dan kulihat sebagian besar mengangguk tanda setuju akan hal itu.
#
“Kak, bagaimana ini?” aku bertanya pada Kak Rozi saat kami hendak meninggalkan ruangan untuk pulang.
“Apanya yang bagaimana Heri?”
“Kita akan mengadakan pelantikan tanggal 30 bukan?”
“Mm” dia bergumam sambil mengangguk
“Aku juga merupakan anggota OSIS, dan hari pelantikannya sama. Bagaimana cara ku untuk membagi waktu?”
Memang aku menggunakan kata “aku” saat berbicara dengan Kak Rozi, karena ku tau hal itu tak ada masalah saat kami tidak sedang latihan melainkan hanya jalan biasa.
“Hmmm.. kau anggota OSIS juga ya?”
“Ya, seperti itulah”
“Begini, sepertinya besok pelantikan kita tak sepadat pelantikan biasanya. Ya, karena Pak Efendi meminta kakak seperti itu”
“Maksud kakak?”
“Maksud kakak begini, jika di pramuka sedang tidak ada kegiatan, Heri bisa izin untuk pergi ke OSIS. Kira-kira seperti itulah”
Aku takjub mendengar penjelasannya, seperti yang diharapkan dari seorang pembina pramuka. Bagiku hal itu cukup bijaksana untuk ku lakukan.
“Benarkah?”
Kak Rozi mengangguk sesaat melihatku
“Baiklah kalau begitu”
***




BAB 15 PERSIAPAN LDK
            Berminggu-minggu telah berlalu. Aku bangun dari tempat tidurku dan melihat jam di dinding.
“Masih pagi” gumamku saat ku melihat jarum jam menunjuk ke arah angka 5.
Ingin sekali ku merebahkan diri dan membenamkan diriku ke dalam selimut lembut itu lagi, namun keteguhan imanku tak membuatku melakukan hal itu.
Aku bangun dan sekilas melihat kalender duduk yang ada di meja di dalam kamarku, di sana tercoreng sebuah angka yang menunjukkan tanggal 30.
“Akhirnya” gumamku sendiri
Setelah itu aku langsung menuju kamar mandi untuk mengambil air wudlu dan bergegas untuk sholat subuh, lalu berpamitan pada ibuku dan segera berangkat sekolah.
Pagi itu cerah walaupun terlihat beberapa titik awan yang tidak menyenangkan suasana. Namun aku bersyukur tak terjadi suatu hal yang tidak kuinginkan pagi itu.
“Pagi, Heri” Aziz yang baru datang menyapaku yang tengah duduk di depan kelas sambil menutup mulutnya karena menguap.
“Kenapa kau?” kataku memulai percakapan
“Ahh, biasa” Aziz berkata sambil menggosok-gosok matanya
“Pagi yang indah?” tanyaku mencoba membuat lelucon
Namun Aziz hanya menanggapinya dengan kata yeah lalu kemudian menuju kelas untuk menaruh barang-barangnya.
“Aku ke kantin dulu” katanya sesaat setelah Ia keluar dari kelas
“Kau ingin ikut denganku?”
“Ah, tidak Ziz.. Perutku masih kenyang”
“Baiklah” katanya datar kemudian menjauh pergi
Sepertinya pagi itu Aziz sangatlah kelaparan, sehingga dia sepertinya tak mau berlama-lama denganku di sana.
Saat ku duduk termenung sendiri di sana, tiba-tiba lamunanku pecah saat ku lihat sepasang mata berwarna hitam dari kejauhan.
Sintia baru datang ke sekolah, dan akupun membalas lambainnya saat ia datang dari balik tembok itu.
Tak lama kemudian ku lihat Sintia berjalan pelan menuju sebuah tempat duduk kecil yang ada di bawah sebuah pohon yang entah pohon apa namanya, dia berjalan sambil membawa sebuah buku yang tebal.
“Apa yang kau baca?” tanyaku saat aku menghampirinya di sana.
Kupikir suasana sangat mendukungku saat itu, karena kulihat baru hanya sedikit siswa yang datang pagi itu. Dan angin bertiup sepoi-sepoi menambah suasana yang begitu tentram.
“Oh, Heri. Seperti biasa...” katanya sambil memfokuskan dirinya ke dalam buku yang dibacanya itu.
“Seperti biasa, Matematika?” kataku membalasnya bingung
“Maksudmu?” katanya kemudian, sepertinya dia lebih bingung dariku
Kami terdiam sejenak mengagumi kepolosan kami masing-masing,
“Tadi kan aku bertanya apa yang kau baca? Nah kau menjawab seperti biasa, dan kupikir itu Matematika” kataku sesaat kemudian.
“Ah, bukan. Ini IPA” katanya sambil menunjukkanku buku tadi.
“Jadi, apa maksudmu seperti biasa?”
“Maksudku, kau selalu mengejutkanku saat aku sedang sendiri seperti ini” dia tersenyum
“Oh, begitu. Kau tau aku kan” kataku sambil terkekeh-kekeh sendiri.
Sesaat kami terdiam lagi, tak tau apa lagi yang mau di bicarakan.
Bodohnya aku, padahal suasana pagi itu telah mendukungku dengan pasti, namun aku tak tau harus berkata apa kepada Sintia, pikirku.
“Jadi kudengar PMR akan pelantikan hari ini” kataku memulai pembicaraan kemudian.
“Ya, bagaimana kau bisa tau?”
Dia melihatku sejenak, dan tatapan itu sungguh membuatku merasa seperti orang yang hilang ingatan saat itu.
“Aa---aaku, mendengarnya dari Kak Rozi waktu kemarin” kataku gugup
Tanpa kusadari tubuhku bergetar sendiri, apa yang terjadi. Lagi-lagi hal ini terjadi disaat aku hanya berdua dengan Sintia.
“Siapa Kak Rozi?”
“Itu, pembina pramuka yang melatih di sekolah ini”
“Oh, yang gemuk itu?”
“Kurasa dia tidak terlalu gemuk” kataku datar
“Yaa, hari ini. Walaupun hanya persami tapi aku sedikit gugup” katanya sambil memfokuskan dirinya lagi ke dalam bukunya.
“Memangnya kenapa?” kataku sambil duduk di hadapannya di sebuah batu yang hampir sama besarnya dengan tempat duduk dari semen  yang diduduki Sintia.
“Ya, begitulah”
“Coba kau beritau aku”
“Hanya gugup,” katanya singkat
“Hanya itu?”
Dia mengangguk,
“Tenanglah, semuanya pasti akan berjalan lancar”
“Bagaimana kau bisa seyakin itu?”
“Kau tau, seperti biasa” kataku sambil tersenyum dan Sintia ikut tersenyum kemudian.
“Heri? Aku membutuhkanmu”
Sebuah suara tiba-tiba saja menyapaku dari belakang, dan kupikir siapa ternyata anak itu.
“Ada apa Ziz, apa ada yang salah?”
“Aku---- Ehm!” dia menghentikan kalimatnya di sana dan berdeham dengan sangat keras yang hampir seluruh sekolah dapat mendengarnya.
Aku menatap Aziz yang tersenyum sendiri dengan bingung, namun segera ku mengerti saat dia melirik sedikit ke arah samping.
Sontak aku begitu terkejut sehingga membuatku melompat berdiri.
Aziz terkejut juga melihat reaksiku, dan begitu juga Sintia.
“Ah, tidak apa-apa” kataku pelan “Ngomong-ngomong apa yang bisa kubantu Ziz”
“Oh, aku jadi lupa. Oh ya, aku lupa mengerjakan tugas yang diberikan Pak Hendra. Karena kau yang paling pintar dalam bahasa Inggris, jadi maukah kau membantuku”
“Baiklah ayo” kataku tanpa basa-basi kemudian.
Sebenarnya aku tak tega meninggalkan Sintia sendirian di tempat itu, namun Aziz mengacaukan semuanya. Dia berdeham dengan maksud pasti, tenyata hal yang ku khawatirkan terjadi juga.
Tetapi karena hari telah berangsur-angsur menjadi siang, banyak siswa telah berdatangan dan beberapa teman Sintia juga datang.
“Sintia, aku pinjam dia sebentar” Aziz berkata yang aku dengar seperti lelucon yang tidak lucu sama sekali.
“Apa yang kau bicarakan” kataku sambil menyikutnya dan menyeretnya menuju kelas
“Ah, Sintia. Sampai nanti” kataku ke belakang sambil tersenyum dan diapun membalasnya sambil tersenyum juga.
***






BAB 16 LDK DIMULAI
            Sore terlihat cerah namun sedikit ditutupi awan kala itu. Aku berjalan sambil menenteng tongkat pramuka di tangan kananku sedangkan tangan kiriku hanya mengikuti irama hentak kakiku.
“Kak Rozi!” kataku berteriak dari depan gerbang sekolah dan langsung menuju ke sana saat Kak Rozi melambaikan tangannya memberi isyarat padaku untuk ke sana.
“Bagaimana, siap?” kata Kak Rozi sesampaiku di sana
“Insya Allah siap” kataku pelan
Sebenarnya sore itu aku tidak begitu yakin akan LDK dan pelantikan pramuka untuk hari ini, karena ku tau persiapanku untuk hal tersebut tidaklah cukup.
Memang dari SD aku pernah ikut pramuka, tetapi itupun hanya sebatas mewakili sekolah saja.
“Kenapa Heri, kelihatannya kau loyo?” kata Kak Rozi menatapku
Dia tidak begitu tinggi sehingga aku tak perlu mengangkat wajahku untuk menatapnya balik.
“Ah, tidak apa-apa kak” kataku kemudian
“Hmm... Kau tak perlu khawatir semuanya pasti akan berjalan dengan lancar” katanya sesaat.
Aku terkejut setelah mendengar Kak Rozi tadi, sepertinya dia bisa membaca pikiranku.
“Entahlah kak” kataku menundukkan kepala
“Sudahlah, lagipula kita belum tau apa yang terjadi sebelum mencobanya bukan?” katanya dengan penuh semangat
Aku terdiam sejenak, lalu mengangkat wajah dan ibu jariku ke atas dan tersenyum mengangguk tanda setuju.
“Bagus. Oh ya Aldi tidak ikut kita kali ini”
“Aldi?”
Aku terkejut sejenak. Aldi, benar. Aku baru mengingat anak itu, pantas saja rasanya seperti ada yang kurang, ternyata Aldi tidak di sana.
Aku menatap sekitar siapa tau Aldi mungkin saja ada di kerumunan anak-anak OSIS itu, dan siapa tau juga dia ikut di OSIS, seperti Satria yang baru kusadari beberapa saat setelah masuk rapat di OSIS.
“Memangnya Aldi di mana?” tanyaku pada Kak Rozi
“Tadi siang dia minta izin ke kakak, sepertinya dia tidak bisa ikut pelantikan kali ini karena dia kata orang tuanya melarang”
“Begitu. Dasar Aldi,..”
Ternyata Aldi yang satu-satunya orang yang kukenal saat pertama kali masuk ke pramuka, dia sendiri yang tidak ikut pelantikan.
Padahal seperti yang ku tau pelantikan merupakan momen yang sangat sakral bagi organisasi manapun di dunia. Karena ini merupakan peresmian untuk anggota baru di sana.
#
Malam harinya aku sedang berjalan sambil berbincang-bincang dengan Aziz, sembari menikmati malam yang sedang bulan purnama.
“Hei Ziz, siapa yang kau pikir akan menjadi ketua OSIS untuk tahun ini?”
“Satu-satunya hal yang kupikirkan adalah seorang anak pramuka di sana”
Sial. Dia mengabaikanku, Aziz menunjukkanku salah seorang anggota putri di pramuka, dan dia sedang duduk bersama teman-temannya di sana.
“Dasar kau, apa kau sedang dalam masa pubertas?”
“Ah, kau tau Heri aku masih muda”
Ternyata apa yang kupikirkan benar, Aziz sedang tertarik kepada seorang anggota pramuka yang ditunjukkan kepadaku tadi.
“Asal kau tau, mendekati adik kelas itu sulit” kataku pelan kepadanya
“Adik kelas? Pantas saja aku tidak pernah melihatnya” katanya sambil tidak memperhatikan jalan di depannya sehingga aku menariknya mendekat saat dia hampir menabrak seorang guru laki-laki di sana.
“Sial, mereka pergi” kata Aziz lemah saat melihat anak-anak itu beranjak dari tempat duduknya
“Aku penasaran siapa namanya” katanya menoleh kepadaku
Jelas saja maksudnya adalah memintaku untuk memberitaukan nama gadis itu
“Huuf,, Asal kau tau... namanya adalah Dewi” kataku sesaat kemudian
“Dewi, kau benar suatu saat aku akan menjadi ‘Dewa’nya”
Dasar Aziz, dia selalu tau apa yang harus di katakan saat berbicara denganku.
Aku hanya tertawa mendengar Aziz berkata begitu, hingga akhirnya sebuah pengumuman yang mengharuskan calon pengurus OSIS untuk berkumpul.
“Ziz, ayo. Apa yang kau lakukan,, arah pertemuannya di sebelah sini” kataku kepada Aziz dengan wajah yang sedikit kebingungan.
Mengapa tidak Aziz berjalan berlawanan arah dari instruksi yang diberikan oleh suara itu.
“Ah, aku ingin buang air sebentar, kau pergi saja dulu nanti aku menyusul. Lagipula arah kelas 7.3 dekat dengan WC.” Katanya kemudian sambil beranjak.
“Eh, tapi kenapa lewat arah sana?” kataku sambil menunjuk arah yang akan dilewati Aziz
“Itu sama saja, kau berjalan memutar ke kelas 7.3 tempat pertemuannya”
“Aah, sudahlah aku sebenarnya tidak ingin berkumpul dahulu”
Seketika aku menyadari maksud dan tujuan Aziz saat melihat segerombol anak pramuka putri di sana dan diantara kerumunan itu ada Dewi.
“Baiklah Ziz, semoga berhasil” kataku kemudian  melambaikan tangan sambil beranjak dari sana
“Oke” Aziz berkata sambil mengacungkan jempol kanannya kepadaku
Akhirnya ku biarkan Aziz saat itu.
Karena aku tau, bagaimana rasanya menjadi seperti Aziz. Karena beberapa saat aku pernah merasakannya, namun tak seberani Aziz tentunya, pikirku kemudian.
#
Aku sangat mengantuk sekali saat pertemuan telah usai, bagaimana tidak, semua yang disampaikan oleh ketua OSIS dan Pak Anto selaku pembina OSIS sangatlah membosankan.
Mereka hanya mengulangi apa yang pernah dikatakan mereka sebelumnya, seperti apa itu pemimpin, bagaimana sikap seorang pemimpin dan apa peran OSIS itu di sekolah.
Sesaat kata Whoam keluar dari mulutku, sontak aku langsung mengangkat tangan menutupnya supaya tidak terlihat terlalu mengantuk.
Namun sesaat rasa kantuk itu segera hilang ketika aku memikirkan Aziz yang seketika langsung ditunjuk untuk menjadi calon ketua OSIS, padahal dia baru saja kembali dari alasan buang air nya.
Aku hanya terkekeh-kekeh sendiri malam itu, hingga akhirnya Kak Wathon datang menghampiriku.
“Heri, syukurlah kau telah selesai dengan rapatnya” katanya dengan sedikit tergesa-gesa
“Memangnya ada hal apa kak?”
“Yah, kami sengaja menunggumu karena sekarang kita ada kegiatan” katanya pelan sesaat setelah Kak Wathon menenangkan dirinya
“Oh, ku kira kegiatannya besok pagi?”
“Ah, tidak juga. Kau tau pramuka itu tidak konsisten, kita bertindak sesuai keadaan yang terjadi” dia tersenyum
Seperti yang diharapkan, memang tak salah anggota pramuka yang dahulu menunjuknya menjadi ketua pramuka. Jalan pikirnya sangatlah berbeda dengan orang seusianya, apalagi denganku.
“Baiklah, ayo”
Kamipun bergegas menuju lapangan basket di depan, dan kulihat  Kak Rozi dan beberapa anak telah berkumpul di sana. Dan ada Aziz juga?
“Woy, Ziz. Apa yang kau lakukan di sini?” kataku sangat bingung
“A—aku hanya sedang mengisi waktu luang saja” katanya sedikit tergagap-gagap mencari alasan
“Apa maksudmu,?” kataku sembari duduk di dekatnya
“Aku hanya tidak sedang mengantuk, kau tau aku biasa tidur tengah malam”
“Aku tidak menanyankan hal itu” kataku datar
Hingga akhirnya aku membiarkan Aziz di sana setelah melihat kelompok anggota putri dan Dewi duduk di dekat Aziz di perbatasan antara anggota putra dengan putri.
“Baiklah kita mulai pertemuan sekarang” kata Kak Rozi kemudian
Pada awalnya pertemuan kami dimulai dengan permainan dan tepukan-tepukan, dan aku mengerti akan tujuan Kak Rozi saat itu.
Dan pada akhirnya kami masuk pada acara inti yaitu pengenalan tentang pramuka, sejarah pramuka, dan berbagai macam hal tentang kepramukaan yang mengakibatkan sebagian besar anggota mengeluarkan hembusan nafas yang tidak mengenakkan.
***


Stay tuned :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tolonglah berkomentar dengan sopan, NO SPAM!, dan dengan bahasa yang santun pula. Karena komentar anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini ke depannya.