BAB 10 SETELAH
ULANGAN
Seminggu
telah berjalan, dan semua mata ulangan mid semester telah aku lalui, dan semua
siswa seperti telah terbebas dari beban mereka, walaupun beban di depan masih
menanti untuk diangkut.
“Rasanya
seperti, ringan”
Aziz
berkata kepadaku, pagi saat hari pertama masuk belajar setelah ulangan mid
semester hari lalu.
“Yah,
kau benar. Tapi, aku masih khawatir” kataku lemah
“Apa
yang kau khawatirkan?”
“Hari
ini, hari Rabu bukan?”
“Ya,
semua orang tau Ri”
“Tidak,
maksudku jam pertama hari ini adalah Pak Rudi bukan?”
Terlihat
ekspresi terkejut yang teramat sangat dari wajah Aziz, mengingat Aziz yang saat
itu duduk di sampingku saat ulangan mid berlangsung dan aku yang senantiasa
memberikannya jawaban yang aku karang-karang.
“Oh
ya, kau benar! Sebaiknya aku mempersiapkan diri”
Dia
langsung memegang kedua telinganya lalu memutar-mutarnya berulang kali.
“Apa
yang kau lakukan” kataku bingung
“Oh,
hanya sebuah pemanasan, jikalau nanti Pak Rudi menghukumku dengan menarik
telingaku” katanya pelan
Sebenarnya
aku hendak ingin tertawa dalam hati, namun tak enak rasanya saat itu. Sebagai
gantinya aku juga mengikuti Aziz dengan memutar-mutar kedua telingaku
berulang-ulang.
Tak---tik---tak.. suara derap kaki itu berjalan
beriringan dengan detak jantung para siswa yang ada di kelas itu, begitu juga
denganku.
Tak heran karena jam pertama hari ini adalah jamnya
Pak Rudi, semua siswa tanpa sadar memasang muka bersungut-sungut menanti akan
hal itu.
“Assalamualaikum..” terdengar dari pintu depan
Hampir semua siswa di kelas itu mengarahkan
pandangannya ke arah pintu kelas dengan sangat pelan sambil menjawab salam itu.
Namun jika ku perhatikan dengan baik, suara itu
bukanlah suara Pak Rudi yang dingin dan berat, namun kedengarannya seperti
orang tua yang hampir tua, dan sedikit kejawa-jawaan.
“Pak Sutisna!” aku hampir berteriak dalam hati
Ternyata Pak Sutisnalah yang datang menghampiri
kelas kami. Dia adalah salah satu wakil kepala sekolah di sana, rambutnya
sebagian memutih dan sebagian masih hitam legam, walaupun wajahnya terlihat
berkeriput namun semangatnya seperti anak muda yang sedang dalam semangat masa
mudanya.
Ia tersenyum sambil masuk ke dalam ruangan dengan
langkah kaki yang panjang-panjang.
“Selamat pagi anak-anak” katanya dengan ceria
Dan sontak semua menjawab selamat pagi juga dengan
ceria walaupun diantaranya masih bingung kenapa tiba-tiba Pak Sutisna yang
hadir pada hari ini.
Wajah mereka berbicara ada apa dengan Pak Rudi
sehingga dia tidak hadir pada hari ini, sedangkan sekarang adalah kelasnya Pak
Rudi.
“Untuk hari ini saja, bapak akan menggantikan Pak
Rudianto untuk mengajar Matematika, karena berhubungan beliau sedang tidak enak
badan”
Aku menghela nafas lega mendengarnya, dan begitu
juga dengan siswa yang lain, dan ada pula yang tersenyum sendiri-sendiri.
“Kenapa, nak?” kata Pak Sutisna melihat Aziz
“Tidak apa-apa pak maaf” katanya sambil tersenyum
“Aah, saya kira kamu kena sakit ayan nak”
Semua siswa disana tertawa mengikuti Pak Sutisna,
dan Aziz hanya tersenyum malu mendengarnya.
“Tenang Ziz, nanti kita ke slakalas*” kataku sambil
tertawa menyikut Aziz
“Hah, apa maksudmu Heri?!” katanya sedikit marah,
namun dia tau aku sedang bercanda saja
“Baiklah anak-anak, buka buku LKS kalian halaman 40.
Maaf sebelumnya karena bapak tidak membawa hasil ulangan mid semester kalian,
ya karena Pak Rudi juga yang membawanya, jadi kalian tinggal lihat saja di
raport besok”
***
**Slakalas: Nama salah satu rumah sakit jiwa yang
ada di NTB, tepatnya berada di Lombok Barat.
BAB 11 PERTEMUAN
Hari Rabu kali ini merupakan hari
yang sangat indah bagiku dan bagi semua teman-teman kelasku, karena walaupun
kelas Matematika tidak kosong karena ketidakhadiran Pak Rudi namun digantikan
oleh Pak Sutisna, namun cara Pak Sutisna memberikan materi sangatlah bersahabat
bagi kami semua dan hampir di setiap materi pasti diselingi dengan tawa dan
canda khas Pak Sutisna.
“Bisa kau bayangkan, betapa menyenangkannya belajar Matematika”
kata Aziz saat aku dan dia hendak berjalan untuk pulang
“Heh, biasanya kau yang tertidur di kelas saat kelas
Matematika Ziz” kataku menggodanya
“Yah, tapi itu jika Pak Rudi gurunya”
“Apa bedanya, semua materi sama. Hanya saja Pak
Sutisna memberikan selingan diantara materi itu”
“Itulah hebatnya Pak Sutisna” katanya sambil mengepalkan
tangan kanannya
“Ya, mungkin kau benar”
“Andai saja, dia yang menjadi guru Matematika kita
pasti aku tidak akan tertidur lagi di dalam kelas”
“Aku dengar dia yang mengajar di kelas 9”
“Benarkah? Kuharap bisa bertemu dengannya esok”
Kemudian Aziz berhenti dengan mendadak, kelihatannya
dia melupakan sesuatu atau sedang baru saja mengingat sesuatu
“Ada apa Ziz?” kataku pelan
“Kau ingat, sekarang kan ada pertemuan untuk OSIS”
Benar! Dulu pada pertemuan pertama sebelum ulangan,
Kak Widi meminta kami untuk berkumpul lagi setelah ulangan tengah semester dan
hari inilah harinya
“Kau benar, sebaiknya kita cari Al” kataku mengajak
Aziz
“Ah, tidak perlu! Mungkin dia sudah berada di ruang
OSIS, lebih baik kita segera kesana”
“Baiklah, ayo”
Aku dan Aziz segera berlari-lari kecil menyusuri
koridor-koridor di depan kelas kami, berharap pertemuan belum dimulai.
Tak kusangka saat aku berlari mengejar Aziz, aku
hampir terjatuh karena licinnya lantai yang ku pijak.
“Wooah,,!!!”
“Hati-hati Ri” Aziz melihatku, namun sepertinya dia
menahan tawanya melihatku
Dasar Aziz, kataku dalam hati
Saat kami berlari, terlihat sekumpulan siswa berdiri
di depan ruang OSIS, sepertinya pertemuan belum dimulai. Aku dan Aziz bernafas
lega sambil terengah-engah bersyukur bahwa pertemuan belum dimulai.
“Hai Al, kenapa kau tidak memberitahu kami tentang
pertemuannya” kataku sedikit kesal kepada Al
“Kupikir kalian sudah tau, bahkan sebelumnya kan
telah diinformasikan oleh Kak Widi”
“Kami tau,maksudku kenapa kau tidak mengajak kami
untuk datang ke pertemuan ini bersama, bersama lebih baik kan?!”
“Ahh, masalah itu aku minta maaf, yang penting
kalian di sini dan pertemuannya belum dimulai” katanya sambil tersenyum
Ingin sekali ku injak senyum itu, tapi mungkin dia
juga lupa tentang hal ini.
“Huuff” aku menarik nafas panjang dan lega hal itu
telah berlalu
Aku melihat-lihat sejenak dan pandanganku terhenti
di salah seorang calon anggota juga.
Satria, jadi dia masuk OSIS juga rupanya. Namun aku
mengurungkan niatku untuk menyapanya karena kupikir hal itu akan mengganggunya
melihat akhir-akhir ini kami jarang berbicara, bahkan tak pernah.
Pertemuan telah dimulai dan Kak Widi telah
menyampaikan beberapa sambutannya
“Baiklah adik-adik sekalian, kita langsung saja ke
inti dari pertemuan kita kali ini. Seperti yang kalian semua tau bahwa OSIS
adalah sebuah organisasi sekolah yang siswanya merupakan anggotanya dan.....”
“Hei Fian, apa maksud Kak Widi semua siswa merupakan
anggotanya?” aku bertanya
“Maksudnya, semua anggota OSIS itu merupakan semua
siswa yang ada di sekolah ini”
Aku memasang muka datar seraya berkata dalam hati
‘Penjelasanmu itu merupakan pertanyaanku’
“Iya aku tau, aku bukan anak SD lagi, maksudku jika
semua siswa adalah anggotanya, lalu kenapa dibuat angket khusus pencalonan
anggota OSIS?”
“Ooh itu, kau tau sebenarnya. Memang semua siswa
adalah anggota namun kita di sini yang mengisi angket itu sebenarnya merupakan
pengurusnya, kau kan tau jika ada anggota pasti ada pengurusnya bukan?”
“Aaah begitu rupanya, baik aku mengerti sekarang”
“Dan untuk LDK bagi adik-adik calon pengurus, akan
kita laksankan pada tanggal 30 bulan ini” Kak Widi melanjutkan kata-katanya
seraya tersenyum
“Silahkan ada pertanyaan?”
Suasana berangsur-angsur menjadi sepi ku lihat semua
siswa di ruangan itu tidak ada yang berbicara sama sekali melainkan hanya
menatap kosong kedepan.
“Baiklah kalau begitu, untuk pengurus yang lama
silahkan bagikan kertas yang telah di foto copy”
Tanpa ada jeda semua pengurus yang lama langsung
membagikan sebuah kertas masing-masing kepada seluruh calon pengurus baru di
sana.
Kulihat kertas itu hanya berisi beberapa perlengkapan
yang harus dibawa saat LDK berlangsung.
“Baiklah, hanya itu yang dapat saya sampaikan
silahkan kembali ke rumah dan mempersiapkan diri.
***
BAB 12 IBU
HIDAYAH
Aku berjalan ceria pagi itu
menuju sekolah yang tercinta, pagi yang cerah. Langit begitu biru dan tidak
terlihat setitikpun awan yang menghalangi cahaya, dan sang matahari hanya
sedikit mengintip dari balik titik sudut pandangan mata.
“Mungkin ini terlalu pagi” aku bergumam
Memang waktu baru menunjukkan pukul 6:15. Jadi tak heran
jika hanya Pak Salim penjaga sekolah yang terlihat di balik gerbang sekolah.
Aku melanjutkan langkahku menuju kelas melewati
jalan yang biasa ku lalui.
“Sekarang apa?” aku bergumam sendiri “Apa yang harus
kulakukan?”
Bodoh. Yaa, inilah aku walaupun berangkat pagi-pagi
buta, aku tak tau apa yang harus kulakukan setelahnya. Jika aku belajar rasanya
malas seperti layaknya siswa kebanyakan, pergi ke kantin sekolah malah kenyang
setelah sarapan tadi.
“Huuff!” kata itu keluar di dalam benakku,
Ternyata memang tidak mengasyikkan sendiri seperti
ini.
Lalu kuputuskan untuk keluar dari ruangan. Saat aku
duduk bersandar di tiang penyangga bangunan di depan ruangan, saat itu
kebetulan aku menghadap ke sebelah timur dan kulihat Sintia sedang duduk di
depan kelasnya juga membaca sebuah buku, sepertinya buku Matematika.
Aku beranjak dari tempat dudukku dan berlalu
menghampirinya.
“Hai, Apa yang kau baca?”
“Ha! Heri...” dia langsung terkesiap sambil
mendongak melihatku
Tak kusadari reaksinya seperti ini saat aku menyapa,
mungkin dia terlalu sibuk membaca bukunya sehingga dia terkejut melihatku
tiba-tiba berada di sana seperti makhluk yang sering datang-pergi sekejap mata.
Sintia melihatku dengan ekspresi terkejut, bola
matanya yang hitam menatap dalam ke arahku dan seketika itu juga kami
berpandangan dalam heningnya pagi, terpaku.
“Ahh, maafkan aku.. Ku kira kau menyadariku di sini”
kataku sambil terkekeh-kekeh menggaruk-nggaruk kepala belakangku.
“Heri, kau mengagetkanku..” terlintas senyum kecil
di balik kalimat itu
“Ngomong-ngomong apa yang kau baca?”
Semenjak dia terdiam lalu memperlihatkan sampul buku
itu kepadaku
“Matematika” katanya singkat kemudian
Sebenarnya dari kejauhan aku telah mengetahui apa
yang dibacanya, namun karena aku tak tau harus berkata apa jadi hanya itu yang
dapat kutanyakan padanya
“Wah, kau begitu rajin Sintia”
“Yah, sebenarnya aku hanya melihat selintas saja”
dia tersenyum kecil di balik bukunya
“Oh ya, kau pagi sekali datang Heri”
“Ahh, seperti biasanya. Kau tau”
Kataku sambil ikut duduk, namun aku tidak duduk pas
di sampingnya tetapi agak jauh sedikit.
Aku tau jika aku melakukan hal itu akan membuat
Sintia tidak nyaman, karena ku tau dia tak pernah berdekatan dengan laki-laki.
Suasana hening sejenak, tak satupun baik aku atau
Sintia yang berbicara. Lalu kuputuskan untuk memulai pembicaraan lagi
“Sintia?”
“Mm?”
“Boleh aku bertanya?”
“Ya,?”
Dia menatapku. Oh sial
Sejenak aku merasa tenggelam dibalik mata yang hitam
itu.
Apa yang terjadi, sebelumnya aku tak pernah merasa
seperti ini
“Aa—aapakah, apakah kau sudah punya.....”
Kata itu sudah berada diujung lidahku namun
terhenti, dan sontak pandanganku beralih ke arah seseorang yang tiba-tiba saja
muncul dari balik tembok.
Sintiapun mengarahkan pandangannya ke sana
“Oh, Satria”
Satria tiba-tiba saja muncul dari balik tembok di
samping kelas itu, namun aku bersyukur juga dia datang
“Heri”
Ah, akhirnya Satria mengucapkan nama itu juga
setelah sekian lama
“Sedang apa kau di sini?”
“Aku, aku hanya duduk-duduk. Kau tau ini masih pagi
dan belum ada teman-temanku yang lain datang, jadi aku hanya butuh teman”
“Oh” katanya kemudian lalu dia berdeham sedikit
keras sembari melihatku kemudian ke arah Sintia
Sontak aku terkejut karena mengerti maksudnya itu.
Akupun langsung menjauhkan diri dari tempat dudukku yang semula.
Satria hanya tersenyum melihatku.
“Oh ya, kau juga tumben pagi-pagi datang, biasanya
kau selalu kesiangan”
Akhirnya Sintia angkat bicara, membuatku bersyukur
akan hal itu karena aku tak harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang aku yakin
Satria akan lontarkan setelah itu.
“Ooh, aku hanya. Tak ada orang dirumah jadi aku
berangkat lebih pagi”
“Memangnya orang tuamu kemana?”
“Dia pergi ke Mataram kemarin sore, katanya ada
urusan guru”
Memangnya orang tua Satria juga seorang guru,
pikirku dalam hati.
“Kalau begitu, Bahasa Indonesia hari ini kosong”
kata Sintia menyela
“Eh, apa maksudumu kosong?!” kataku sedikit terkejut
Baik Sintia maupun Satria menatapku dengan pandangan
terkejut juga. Lalu mereka berdua melihat satu sama lain, hingga akhirnya
Sintia berbicara
“Lho, aku pikir kau sudah tau Ri?”
“Apa maksumu aku tau?” aku semakin bingung
mendengarnya
“Huuh, Ibunya Satria itu kan guru Bahasa Indonesia
di sekolah ini”
Haah? Seribu pertanyaan mendadak muncul dibenakku,
mengapa Satria tak pernah menceritakannya padaku?
“Jadi Ibu Hidayah..?” kataku sambil menunjuk Satria
Dia mengangguk lemah
Jadi begitu, pantas saja dia mirip Satria saat
pertama kali aku melihatnya
“Oh ya Heri, karena hari ini hari Jum’at. Kita
sebagai calon pengurus OSIS diminta Kak Widi untuk ke lapangan menyiapkan
segala keperluan untuk Imtaq”
“Oh, baiklah aku akan ke sana sebentar lagi”
“Kenapa, kata Kak Widi lebih cepat lebih baik”
“Aku tau, tapi aku mau menunggu Al dengan Aziz
dahulu, lagipula jika kita hanya berdua, tak mungkin cepat selesai kan?”
“Hmm,” dia bergumam sejenak dan aku bisa melihat
bahwa dia memikirkan kata-kataku itu
“Baiklah, dan jika kau lama menunggu mereka
datanglah ke ruang OSIS, yang lain juga sudah berada di sana”
Nah, betul kan. Satria menolak mengajakku
“Oke, oke”
Lalu Satria melangkah masuk ke dalam kelasnya dengan
pelan.
“Oh ya, Heri apa yang ingin kau tanyakan tadi itu?”
kata Sintia menatapku lagi
Namun kali ini kuputuskan untuk tidak melihatnya,
karena aku tidak ingin melihat mata indah itu dan tenggelam lagi.
“Ah tidak ada apa-apa. Aku hanya bertanya apakah kau
sudah punya (apakah kau sudah punya pacar?)....buku LKS IPA yang baru? Kalimat
itu terhenti sendiri di dalam tenggorokanku sepertinya tidak mengizinkanku
mengatakannya
“Oh, itu. Belum mungkin waktu istirahat nanti aku
akan beli”
“Oh, baguslah”
Kami terdiam sejenak hingga akhirnya kusadari
ternyata hari telah berangsur-angsur menjadi siang, dan banyak murid telah
berdatangan
Langsung aku pamit pergi kepada Sintia dan dia
mengangguk mengerti.
***
Tunggu ya,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tolonglah berkomentar dengan sopan, NO SPAM!, dan dengan bahasa yang santun pula. Karena komentar anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini ke depannya.