14 Januari 2018

Daun-Daun yang Terbang Mencari Angin (Bab 10-12)



BAB 10 SETELAH ULANGAN
            Seminggu telah berjalan, dan semua mata ulangan mid semester telah aku lalui, dan semua siswa seperti telah terbebas dari beban mereka, walaupun beban di depan masih menanti untuk diangkut.
“Rasanya seperti, ringan”
Aziz berkata kepadaku, pagi saat hari pertama masuk belajar setelah ulangan mid semester hari lalu.
“Yah, kau benar. Tapi, aku masih khawatir” kataku lemah
“Apa yang kau khawatirkan?”
“Hari ini, hari Rabu bukan?”
“Ya, semua orang tau Ri”
“Tidak, maksudku jam pertama hari ini adalah Pak Rudi bukan?”
Terlihat ekspresi terkejut yang teramat sangat dari wajah Aziz, mengingat Aziz yang saat itu duduk di sampingku saat ulangan mid berlangsung dan aku yang senantiasa memberikannya jawaban yang aku karang-karang.
“Oh ya, kau benar! Sebaiknya aku mempersiapkan diri”
Dia langsung memegang kedua telinganya lalu memutar-mutarnya berulang kali.
“Apa yang kau lakukan” kataku bingung
“Oh, hanya sebuah pemanasan, jikalau nanti Pak Rudi menghukumku dengan menarik telingaku” katanya pelan
Sebenarnya aku hendak ingin tertawa dalam hati, namun tak enak rasanya saat itu. Sebagai gantinya aku juga mengikuti Aziz dengan memutar-mutar kedua telingaku berulang-ulang.
Tak---tik---tak.. suara derap kaki itu berjalan beriringan dengan detak jantung para siswa yang ada di kelas itu, begitu juga denganku.
Tak heran karena jam pertama hari ini adalah jamnya Pak Rudi, semua siswa tanpa sadar memasang muka bersungut-sungut menanti akan hal itu.
“Assalamualaikum..” terdengar dari pintu depan
Hampir semua siswa di kelas itu mengarahkan pandangannya ke arah pintu kelas dengan sangat pelan sambil menjawab salam itu.
Namun jika ku perhatikan dengan baik, suara itu bukanlah suara Pak Rudi yang dingin dan berat, namun kedengarannya seperti orang tua yang hampir tua, dan sedikit kejawa-jawaan.
“Pak Sutisna!” aku hampir berteriak dalam hati
Ternyata Pak Sutisnalah yang datang menghampiri kelas kami. Dia adalah salah satu wakil kepala sekolah di sana, rambutnya sebagian memutih dan sebagian masih hitam legam, walaupun wajahnya terlihat berkeriput namun semangatnya seperti anak muda yang sedang dalam semangat masa mudanya.
Ia tersenyum sambil masuk ke dalam ruangan dengan langkah kaki yang panjang-panjang.
“Selamat pagi anak-anak” katanya dengan ceria
Dan sontak semua menjawab selamat pagi juga dengan ceria walaupun diantaranya masih bingung kenapa tiba-tiba Pak Sutisna yang hadir pada hari ini.
Wajah mereka berbicara ada apa dengan Pak Rudi sehingga dia tidak hadir pada hari ini, sedangkan sekarang adalah kelasnya Pak Rudi.
“Untuk hari ini saja, bapak akan menggantikan Pak Rudianto untuk mengajar Matematika, karena berhubungan beliau sedang tidak enak badan”
Aku menghela nafas lega mendengarnya, dan begitu juga dengan siswa yang lain, dan ada pula yang tersenyum sendiri-sendiri.
“Kenapa, nak?” kata Pak Sutisna melihat Aziz
“Tidak apa-apa pak maaf” katanya sambil tersenyum
“Aah, saya kira kamu kena sakit ayan nak”
Semua siswa disana tertawa mengikuti Pak Sutisna, dan Aziz hanya tersenyum malu mendengarnya.
“Tenang Ziz, nanti kita ke slakalas*” kataku sambil tertawa menyikut Aziz
“Hah, apa maksudmu Heri?!” katanya sedikit marah, namun dia tau aku sedang bercanda saja
“Baiklah anak-anak, buka buku LKS kalian halaman 40. Maaf sebelumnya karena bapak tidak membawa hasil ulangan mid semester kalian, ya karena Pak Rudi juga yang membawanya, jadi kalian tinggal lihat saja di raport besok”
***
**Slakalas: Nama salah satu rumah sakit jiwa yang ada di NTB, tepatnya berada di Lombok Barat.




BAB 11 PERTEMUAN
            Hari Rabu kali ini merupakan hari yang sangat indah bagiku dan bagi semua teman-teman kelasku, karena walaupun kelas Matematika tidak kosong karena ketidakhadiran Pak Rudi namun digantikan oleh Pak Sutisna, namun cara Pak Sutisna memberikan materi sangatlah bersahabat bagi kami semua dan hampir di setiap materi pasti diselingi dengan tawa dan canda khas Pak Sutisna.
“Bisa kau bayangkan, betapa menyenangkannya belajar Matematika” kata Aziz saat aku dan dia hendak berjalan untuk pulang
“Heh, biasanya kau yang tertidur di kelas saat kelas Matematika Ziz” kataku menggodanya
“Yah, tapi itu jika Pak Rudi gurunya”
“Apa bedanya, semua materi sama. Hanya saja Pak Sutisna memberikan selingan diantara materi itu”
“Itulah hebatnya Pak Sutisna” katanya sambil mengepalkan tangan kanannya
“Ya, mungkin kau benar”
“Andai saja, dia yang menjadi guru Matematika kita pasti aku tidak akan tertidur lagi di dalam kelas”
“Aku dengar dia yang mengajar di kelas 9”
“Benarkah? Kuharap bisa bertemu dengannya esok”
Kemudian Aziz berhenti dengan mendadak, kelihatannya dia melupakan sesuatu atau sedang baru saja mengingat sesuatu
“Ada apa Ziz?” kataku pelan
“Kau ingat, sekarang kan ada pertemuan untuk OSIS”
Benar! Dulu pada pertemuan pertama sebelum ulangan, Kak Widi meminta kami untuk berkumpul lagi setelah ulangan tengah semester dan hari inilah harinya
“Kau benar, sebaiknya kita cari Al” kataku mengajak Aziz
“Ah, tidak perlu! Mungkin dia sudah berada di ruang OSIS, lebih baik kita segera kesana”
“Baiklah, ayo”
Aku dan Aziz segera berlari-lari kecil menyusuri koridor-koridor di depan kelas kami, berharap pertemuan belum dimulai.
Tak kusangka saat aku berlari mengejar Aziz, aku hampir terjatuh karena licinnya lantai yang ku pijak.
“Wooah,,!!!”
“Hati-hati Ri” Aziz melihatku, namun sepertinya dia menahan tawanya melihatku
Dasar Aziz, kataku dalam hati
Saat kami berlari, terlihat sekumpulan siswa berdiri di depan ruang OSIS, sepertinya pertemuan belum dimulai. Aku dan Aziz bernafas lega sambil terengah-engah bersyukur bahwa pertemuan belum dimulai.
“Hai Al, kenapa kau tidak memberitahu kami tentang pertemuannya” kataku sedikit kesal kepada Al
“Kupikir kalian sudah tau, bahkan sebelumnya kan telah diinformasikan oleh Kak Widi”
“Kami tau,maksudku kenapa kau tidak mengajak kami untuk datang ke pertemuan ini bersama, bersama lebih baik kan?!”
“Ahh, masalah itu aku minta maaf, yang penting kalian di sini dan pertemuannya belum dimulai” katanya sambil tersenyum
Ingin sekali ku injak senyum itu, tapi mungkin dia juga lupa tentang hal ini.
“Huuff” aku menarik nafas panjang dan lega hal itu telah berlalu
Aku melihat-lihat sejenak dan pandanganku terhenti di salah seorang calon anggota juga.
Satria, jadi dia masuk OSIS juga rupanya. Namun aku mengurungkan niatku untuk menyapanya karena kupikir hal itu akan mengganggunya melihat akhir-akhir ini kami jarang berbicara, bahkan tak pernah.
Pertemuan telah dimulai dan Kak Widi telah menyampaikan beberapa sambutannya
“Baiklah adik-adik sekalian, kita langsung saja ke inti dari pertemuan kita kali ini. Seperti yang kalian semua tau bahwa OSIS adalah sebuah organisasi sekolah yang siswanya merupakan anggotanya dan.....”
“Hei Fian, apa maksud Kak Widi semua siswa merupakan anggotanya?” aku bertanya
“Maksudnya, semua anggota OSIS itu merupakan semua siswa yang ada di sekolah ini”
Aku memasang muka datar seraya berkata dalam hati ‘Penjelasanmu itu merupakan pertanyaanku’
“Iya aku tau, aku bukan anak SD lagi, maksudku jika semua siswa adalah anggotanya, lalu kenapa dibuat angket khusus pencalonan anggota OSIS?”
“Ooh itu, kau tau sebenarnya. Memang semua siswa adalah anggota namun kita di sini yang mengisi angket itu sebenarnya merupakan pengurusnya, kau kan tau jika ada anggota pasti ada pengurusnya bukan?”
“Aaah begitu rupanya, baik aku mengerti sekarang”
“Dan untuk LDK bagi adik-adik calon pengurus, akan kita laksankan pada tanggal 30 bulan ini” Kak Widi melanjutkan kata-katanya seraya tersenyum
“Silahkan ada pertanyaan?”
Suasana berangsur-angsur menjadi sepi ku lihat semua siswa di ruangan itu tidak ada yang berbicara sama sekali melainkan hanya menatap kosong kedepan.
“Baiklah kalau begitu, untuk pengurus yang lama silahkan bagikan kertas yang telah di foto copy”
Tanpa ada jeda semua pengurus yang lama langsung membagikan sebuah kertas masing-masing kepada seluruh calon pengurus baru di sana.
Kulihat kertas itu hanya berisi beberapa perlengkapan yang harus dibawa saat LDK berlangsung.
“Baiklah, hanya itu yang dapat saya sampaikan silahkan kembali ke rumah dan mempersiapkan diri.
***
 


BAB 12 IBU HIDAYAH
            Aku berjalan ceria pagi itu menuju sekolah yang tercinta, pagi yang cerah. Langit begitu biru dan tidak terlihat setitikpun awan yang menghalangi cahaya, dan sang matahari hanya sedikit mengintip dari balik titik sudut pandangan mata.
“Mungkin ini terlalu pagi” aku bergumam
Memang waktu baru menunjukkan pukul 6:15. Jadi tak heran jika hanya Pak Salim penjaga sekolah yang terlihat di balik gerbang sekolah.
Aku melanjutkan langkahku menuju kelas melewati jalan yang biasa ku lalui.
“Sekarang apa?” aku bergumam sendiri “Apa yang harus kulakukan?”
Bodoh. Yaa, inilah aku walaupun berangkat pagi-pagi buta, aku tak tau apa yang harus kulakukan setelahnya. Jika aku belajar rasanya malas seperti layaknya siswa kebanyakan, pergi ke kantin sekolah malah kenyang setelah sarapan tadi.
“Huuff!” kata itu keluar di dalam benakku,
Ternyata memang tidak mengasyikkan sendiri seperti ini.
Lalu kuputuskan untuk keluar dari ruangan. Saat aku duduk bersandar di tiang penyangga bangunan di depan ruangan, saat itu kebetulan aku menghadap ke sebelah timur dan kulihat Sintia sedang duduk di depan kelasnya juga membaca sebuah buku, sepertinya buku Matematika.
Aku beranjak dari tempat dudukku dan berlalu menghampirinya.
“Hai, Apa yang kau baca?”
“Ha! Heri...” dia langsung terkesiap sambil mendongak melihatku
Tak kusadari reaksinya seperti ini saat aku menyapa, mungkin dia terlalu sibuk membaca bukunya sehingga dia terkejut melihatku tiba-tiba berada di sana seperti makhluk yang sering datang-pergi sekejap mata.
Sintia melihatku dengan ekspresi terkejut, bola matanya yang hitam menatap dalam ke arahku dan seketika itu juga kami berpandangan dalam heningnya pagi, terpaku.
“Ahh, maafkan aku.. Ku kira kau menyadariku di sini” kataku sambil terkekeh-kekeh menggaruk-nggaruk kepala belakangku.
“Heri, kau mengagetkanku..” terlintas senyum kecil di balik kalimat itu
“Ngomong-ngomong apa yang kau baca?”
Semenjak dia terdiam lalu memperlihatkan sampul buku itu kepadaku
“Matematika” katanya singkat kemudian
Sebenarnya dari kejauhan aku telah mengetahui apa yang dibacanya, namun karena aku tak tau harus berkata apa jadi hanya itu yang dapat kutanyakan padanya
“Wah, kau begitu rajin Sintia”
“Yah, sebenarnya aku hanya melihat selintas saja” dia tersenyum kecil di balik bukunya
“Oh ya, kau pagi sekali datang Heri”
“Ahh, seperti biasanya. Kau tau”
Kataku sambil ikut duduk, namun aku tidak duduk pas di sampingnya tetapi agak jauh sedikit.
Aku tau jika aku melakukan hal itu akan membuat Sintia tidak nyaman, karena ku tau dia tak pernah berdekatan dengan laki-laki.
Suasana hening sejenak, tak satupun baik aku atau Sintia yang berbicara. Lalu kuputuskan untuk memulai pembicaraan lagi
“Sintia?”
“Mm?”
“Boleh aku bertanya?”
“Ya,?”
Dia menatapku. Oh sial
Sejenak aku merasa tenggelam dibalik mata yang hitam itu.
Apa yang terjadi, sebelumnya aku tak pernah merasa seperti ini
“Aa—aapakah, apakah kau sudah punya.....”
Kata itu sudah berada diujung lidahku namun terhenti, dan sontak pandanganku beralih ke arah seseorang yang tiba-tiba saja muncul dari balik tembok.
Sintiapun mengarahkan pandangannya ke sana
“Oh, Satria”
Satria tiba-tiba saja muncul dari balik tembok di samping kelas itu, namun aku bersyukur juga dia datang
“Heri”
Ah, akhirnya Satria mengucapkan nama itu juga setelah sekian lama
“Sedang apa kau di sini?”
“Aku, aku hanya duduk-duduk. Kau tau ini masih pagi dan belum ada teman-temanku yang lain datang, jadi aku hanya butuh teman”
“Oh” katanya kemudian lalu dia berdeham sedikit keras sembari melihatku kemudian ke arah Sintia
Sontak aku terkejut karena mengerti maksudnya itu. Akupun langsung menjauhkan diri dari tempat dudukku yang semula.
Satria hanya tersenyum melihatku.
“Oh ya, kau juga tumben pagi-pagi datang, biasanya kau selalu kesiangan”
Akhirnya Sintia angkat bicara, membuatku bersyukur akan hal itu karena aku tak harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang aku yakin Satria akan lontarkan setelah itu.
“Ooh, aku hanya. Tak ada orang dirumah jadi aku berangkat lebih pagi”
“Memangnya orang tuamu kemana?”
“Dia pergi ke Mataram kemarin sore, katanya ada urusan guru”
Memangnya orang tua Satria juga seorang guru, pikirku dalam hati.
“Kalau begitu, Bahasa Indonesia hari ini kosong” kata Sintia menyela
“Eh, apa maksudumu kosong?!” kataku sedikit terkejut
Baik Sintia maupun Satria menatapku dengan pandangan terkejut juga. Lalu mereka berdua melihat satu sama lain, hingga akhirnya Sintia berbicara
“Lho, aku pikir kau sudah tau Ri?”
“Apa maksumu aku tau?” aku semakin bingung mendengarnya
“Huuh, Ibunya Satria itu kan guru Bahasa Indonesia di sekolah ini”
Haah? Seribu pertanyaan mendadak muncul dibenakku, mengapa Satria tak pernah menceritakannya padaku?
“Jadi Ibu Hidayah..?” kataku sambil menunjuk Satria
Dia mengangguk lemah
Jadi begitu, pantas saja dia mirip Satria saat pertama kali aku melihatnya
“Oh ya Heri, karena hari ini hari Jum’at. Kita sebagai calon pengurus OSIS diminta Kak Widi untuk ke lapangan menyiapkan segala keperluan untuk Imtaq”
“Oh, baiklah aku akan ke sana sebentar lagi”
“Kenapa, kata Kak Widi lebih cepat lebih baik”
“Aku tau, tapi aku mau menunggu Al dengan Aziz dahulu, lagipula jika kita hanya berdua, tak mungkin cepat selesai kan?”
“Hmm,” dia bergumam sejenak dan aku bisa melihat bahwa dia memikirkan kata-kataku itu
“Baiklah, dan jika kau lama menunggu mereka datanglah ke ruang OSIS, yang lain juga sudah berada di sana”
Nah, betul kan. Satria menolak mengajakku
“Oke, oke”
Lalu Satria melangkah masuk ke dalam kelasnya dengan pelan.
“Oh ya, Heri apa yang ingin kau tanyakan tadi itu?” kata Sintia menatapku lagi
Namun kali ini kuputuskan untuk tidak melihatnya, karena aku tidak ingin melihat mata indah itu dan tenggelam lagi.
“Ah tidak ada apa-apa. Aku hanya bertanya apakah kau sudah punya (apakah kau sudah punya pacar?)....buku LKS IPA yang baru? Kalimat itu terhenti sendiri di dalam tenggorokanku sepertinya tidak mengizinkanku mengatakannya
“Oh, itu. Belum mungkin waktu istirahat nanti aku akan beli”
“Oh, baguslah”
Kami terdiam sejenak hingga akhirnya kusadari ternyata hari telah berangsur-angsur menjadi siang, dan banyak murid telah berdatangan
Langsung aku pamit pergi kepada Sintia dan dia mengangguk mengerti.
***




Tunggu ya,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tolonglah berkomentar dengan sopan, NO SPAM!, dan dengan bahasa yang santun pula. Karena komentar anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini ke depannya.