27 Oktober 2017
Gemerisik angin menyapa salam gadis itu ketika
pertama kali menginjakkan kaki di atas bumi orang lain ini, rambutnya perlahan
melambai mengikuti alunan angin yang mengalir lembut diantara sela-selanya yang
hampir saja menerbangkan topi bundar yang menutupi kepalanya itu. Peluit kereta
api berbunyi khas sejalan dengan antrian panjang dari para penumpang yang akan
masuk ke dalam gandengan gerbong menunggu sisa-sisa dari penumpang sebelumnya
keluar dengan bebas.
Gadis itu menghirup udara kota yang baru dengan
begitu antusiasnya seakan melupakan bahwa didepannya ramai terlewat berbagai
macam kendaraan yang tentunya menyebarkan polusi yang bisa dibilang cukup banyak
untuk mengotori udara di sekitar kawasan itu. Tapi nyatanya tidak bagi gadis
remaja tinggi semampai yang baru saja keluar dari riuh keramaian di dalam
stasiun Lempuyangan Yogyakarta.
“Nis, ayo” kata seorang Ibu dari samping sebuah
mobil yang tengah menutup bagasi mobil bagian belakang
“Ah, iya Bu De” sapa gadis itu kemudian dengan
berjalan hampir berlari melangkah menuju Ibu itu
Hari itu cukup mendung, berbeda sekali ketika
kereta baru saja berhenti untuk menurunkan penumpang, cahaya sang mentari yang begitu
hangat hampir panas karena terbaur dengan gas-gas buangan dari berbagai
penjuru, kini seakan-akan menghilanng dibalik bayangan awan yang mulai terlihat
menghitam dengan cara tidak baik sama sekali.
Gadis itu memandang keluar jendela dari mobil minimalis
yang tengah melaju bersama dengan mobil-mobil lainnya dan Ia berada didalamnya
saat ini. Bangunan-bangunan yang beragam rupa berdiri kokoh seakan-akan tak ada
pertanda akan jatuh roboh sama sekali, penduduk yang beraktivitas menjalankan
tuntutan hidup dengan berbagai macam kegiatan seperti pedagang kaki lima dan
mendirikan warung kecil terlihat begitu kontras dengan gedung-gedung yang
menjulang di samping mereka.
Anak-anak sekolahan yang tertawa bersama teman
sebayanya di dalam sebuah halte bus Transjogja sedikit mengingatkan Anisa akan
masa-masa indah sekolahnya sebelum ini. Bahagianya Anisa diterima pada salah
satu perguruan tinggi favorit bahkan impian semua siswa orang di Yogyakatya,
Universitas Gadjah Mada, sebagai satu diantara ratusan ribu pendaftar dari
berbagai pelosok negeri, Ia diterima. Namun sebagai mahasiswa baru, terlebih
sebagai orang baru, Anisa berpikir bahwa Ia perlu beradaptasi lebih banyak
dengan lingkungannya, walaupun seorang Ibu yang tengah memegang kendali mobil
itu adalah orang asli Yogyakarta. Namun sebagai seorang siswa yang baru saja
lulus dari masa SMAnya, tentunya gadis itu masih belum bisa terlepas dari
belenggu masa terindah itu, karena sebagian dari pengalaman hidupnya telah Ia
ukir di sana.
Diantara banyaknya halte bus yang mereka lewati dan
berbagai macam jenis orang yang berada di halte itu, ada sebuah halte bus yang
memikat perhatian Anisa lebih dari yang lainnya. Sebuah halte bus Transjogja
yang biasa saja terbuat dari besi baja namun tak memiliki atap untuk berteduh
apalagi sebuah bangku untuk duduk menunggu bus yang akan
datang menjemput penumpangnya. Di atas halte itu,
seorang gadis yang berpenampilan sederhana saja berdiri dengan diam tanpa
gerakan namun jelas memandang penuh harap kepada setiap bus yang berhenti pada
setiap halte bus di seberang jalan tempatnya berdiri. namun begitu bus yang
lain menjemputnya, gadis itu hanya terdiam tak punya niat untuk masuk ke dalam
bus itu. Anisa yang memperhatikan gadis itu merasa sedikit aneh, Ia sontak
berpikiran aneh tentang gadis itu.
“Ada apa, Nis?” kata Bu De Anisa dari balik spion
mobil yang berada di dalamnya memandang Anisa yang terlihat sangat tertarik
melihat pemandangan yang mereka lewati
“Ah, tidak ada apa-apa Bu De” katanya seraya
memperbaiki posisi duduknya kemudian beralih ke telepon genggam ditangannya.
***
Hari berganti hari, terkadang hujan terkadang panas
yang teramat panas menghilangkan niat siapapun keluar dari tempat berteduhnya.
Masa-masa awal perkuliahan dan mahasiswa baru telah gadis itu lewati,
perlahan-lahan Ia beradaptasi dengan baik pada lingkungan barunya, teman
barunya, masyarakat barunya.
Hari itu panas sekali, Anisa berjalan menuyusuri
tempat-tempat dikampusnya yang Ia belum pernah lewati sebelumnya bersama dengan
teman-temannya, hingga akhirnya berteduh dibawah sebuah pohon dengan bangku dan
meja yang terbuat dari beton dibawahnya, sungguh tempat yang sangat pas untuk
beristirahat dari aktivitas perkuliahan sambil menikmati segelas es jeruk yang
manis-manis masam.
“Nis, aku duluan ya. Ada kegiatan yang harus
kulakukan” kata salah satu teman Anisa sambil tersenyum dan melambai
“Oh, aku baru teringat janjiku dengan kakakku. Aku
juga duluan ya” kata salah satu temannya lagi kemudian berbalik arah dari
tempat mereka duduk
“Baiklah hati-hati” jawab Anisa cepat sebelum
kawannya itu menjauh dan tak mendengar suaranya lagi
Menjadi seorang perantau memang sulit, terlebih
seorang Anisa yang pribadinya bisa dikatakan cukup manja, namun sengaja kali
ini Ibu de-nya mencarikannya kost yang sederhana dan tak mengizinkannya untuk
tinggal di rumahnya dengan alasan agar Anisa bisa berbaur dan berubah lebih
dewasa dalam menyikapi hidup dan tidak bergantung kepada orang lain.
Seharusnya hari ini dia berada di kostnya,
merapikan barang-barang yang belum sempat dirapikan tempo hari, menanak nasi
serta memasak lauk yang akan Ia makan nanti malamnya, tetapi gadis itu hanya
duduk menikmati udara segar yang mengalir dari dedaunan pohon ke arah dirinya
menepis hawa panas yang terpancar dari bola api raksasa di atas langit itu.
Untungnya, Anisa adalah gadis yang menyukai
kedamaian dan ketentraman. Dia tidak suka keributan apalagi dalam menyelesaikan
masalah sehari-harinya, Ia lebih memilih diam dan melakukan apa yang bisa Ia
lakukan.
Seketika angin berhembus kencang dengan sesaat,
membalikkan lembar buku yang tengah dibaca gadis yang duduk dibawah pohon
rindang itu. Seketika pandangannya mencari sumber dari tiupan angin itu,
ternyata sebuah bus kampus yang lewat dan berhenti didepan sebuah gedung kampus
menurunkan sekelompok mahasiswa yang sepertinya telah mengikuti sebuah acara
kemahasiswaan.
Sontak, pikiran gadis itu langsung melompat pada
hari pertama kali Ia menginjakkan kakinya di kota Yogyakarta ini. Sebuah
pemandangan pada sebuah gadis yang berdiri dengan antusias di atas sebuah halte
bus Transjogja menunggu bus yang datang namun tak kunjung dinaikinya. Entah
kenapa ada sesuatu hal yang menggerakkan hatinya untuk terus melihat ke arah
kerumunan mahasiswa itu, mencari sosok seorang gadis dengan penampilan sederhana
dan raut muka yang bahagia melihat bus yang datang, walaupun Anisa tau adalah
yang dia cari hanya bertaut 0,000001 persen dapat menemukannya.
Malam berganti, kini pikiran gadis itu selalu
melayang-layang pada pemandangan aneh yang Ia lihat beberapa minggu lalu,
apakah Ia harus menuju halte itu esok hari demi memuaskan rasa penasarannya
akan gadis itu ataukah melupakannya saja. Gadis itu bingung, Ia hampir
melemparkan bantal tidurnya ke arah rice cooker yang sedang menyala
mengeluarkan uap panas tanda beras yang ada di dalamnya berubah menjadi nasi
sebentar lagi.
***
Sore itu selepas jam perkuliahan selesai, Anisa
langsung berjalan menuju satu tujuan yang ingin Ia lakukan hari ini, menemui
gadis yang menjadi biang ketidakfokusannya belakangan ini.
Gadis itu berjalan melalui derap langkah yang
berdebu tiap kali telapak kakinya mendarat pada lantai bumi tanpa tau
sebenarnya ke arah mana Ia berjalan, menyapa sekilas saja setiap pasang mata
yang melihat kearahnya dan tersenyum kemudian kembali melangkah, tidak
menghiraukan aroma masakan khas dari warung-warung makan yang Ia lewati membuat
isi perutnya berdesing kuat, namun yang ada dalam pikirannya hanyalah bertemu
dengan gadis itu dan berbincang dengannya sesegera mungkin karena matahari
mulai menggelinding dari tempat semula menciptakan lukisan merah kekuningan
pada ufuk barat langit.
Halte demi halte Anisa lewati namun pandangannya
hanya tertuju pada halte yang tak mempunyai atap dan bangku saja, karena
disanalah Ia menemukan gadis itu berdiri tanpa ada seorang pun yang
menyadarinya ada disana.
Venus sekarang mulai terlihat terang diatas barisan
bintang-bintang lainnya, ponselnya menunjukkan angka 17:48. Mungkin di daerah
Anisa tinggal di bagian tengah Indonesia, angka itu masih menunjukkan suasana yang
terang dari pancaran cahaya matahari, namun bagi Yogyakarta, angka itu adalah
perintah untuk segera pulang ke rumah dan beristirahat dari segenap kegiatan
siang hari.
Waktu terus berjalan, begitupun langkah kaki gadis
itu beserta tatapan matanya. Hampir Ia putus asa dan berpikir bahwa untuk apa
dia melakukan semua ini, apakah dia hanya tidak mempunyai pekerjaan lain untuk
dilakukan?
Annisa akhirnya berhenti sejenak sambil menatap
kendaraan yang melintas mengejar waktu yang sinarnya sudah hampir habis, di
atas halte bus yang serupa dengan halte lainnya.
“Nunggu siapa, mbak?” sapa seseorang
dari balik tubuh Annisa
Annisa pun menengok dengan tak sabar kemudian
melihat penampilan seorang gadis yang sebaya dengan dirinya namun terlihat
lebih kusam dan rapuh. Pandangan Annisa serasa berhenti pada sosok gadis itu,
mengingatkannya pada sebuah adegan yang telah Ia lakukan sebelumnya, ditempat
itu, dengan gadis itu sebagai lawan mainnya.
“Ah, tidak siapa-siapa, mbak” balas Annisa dengan
sopan walau dalam raut wajahnya tau bahwa Ia sedang berbohong
Gadis itu kemudian memandang arah lain, ke arah
mentari yang sudah tak nampak lagi di kaki langit.
Seperti biasa, gadis itu meneliti dengan seksama
bus yang berhenti di halte tempat mereka berdiri sekarang ini dari luar. Memang
sepertinya gadis itu sedang menunggu seseorang untuk keluar dari bus, tetapi
siapa. Pikiran Annisa sepertinya sudah tak bisa Ia kendalikan lagi, ingin
sekali rasanya Ia mengutarakan maksudnya berada di tempat itu.
“Err—mbak?” ucap Annisa sedikit grogi dalam
kalimatnya setelah beberapa saat bus yang berhenti itu berlalu dan perhatian
gadis itu sudah tak lagi pada bus
“Iya?” balas gadis itu dengan
sangat sopan
Annisa sedikit bimbang dalam diamnya, memikirkan
kata apa yang harusnya Ia katakan “Sebenarnya saya mencari seseorang?” lepasnya
“Benarkah? Siapa?” tanya gadis itu kembali masih
dalam nada yang sangat rendah serta senyum yang mengembang dibalik wajahnya
membuat kondisinya yang sedikit lusuh menjadi lebih baik terlihat orang lain “Saya?”
katanya kemudian
Annisa menjadi tersentak, pikirannya tentang gadis
itu mulai menjalar kemana-mana, bagaimana gadis itu bisa tau siapa yang dicari
Annisa “Bagaimana mbak bisa tau?” tanya Annisa keheranan
Gadis itu lagi-lagi menyungginggkan senyum dari balik
wajahnya terpantul oleh titik cahaya dari lampu jalan yang berada di sebelah
halte itu.
“Saya kenal semua orang disini” katanya setelah
beberapa saat terdiam “Dan saya belum pernah melihat mbak sebelumnya. Mbak
orang baru disini?”
“Iya, mbak. Saya mahasiswa baru”
jawab Annisa perlahan
“Berarti kita sama” jawab gadis itu semakin membuat
Annisa menjadi kebingungan “Saya melihat, mbak kemarin duduk dibawah pohon itu
di kampus sambil memperhatikan bus, benar?” katanya setelah beberapa lama ada
jeda pada pembicaraan mereka karena Annisa yang memilih bungkam tak tau harus
membicarakan apa
“Ah, iya” jawabnya pelan
“Mencari saya?” tanya gadis itu
lagi
Alunan perpaduan suara dari berbagai macam
kendaraan yang lewat didepan halte itu menyatu dalam percakapan mereka,
membuatnya lebih tidak canggung lagi. Sementara Annisa sudah terlampau bingung
untuk menjawab dengan pikirannya.
“Iya, mbak” katanya sekarang
sambi menunggu pertanyaan selanjutnya
“Ada apa?” dan benar saja tanya
gadis itu yang akan membuat tujuan Annisa akan tercapai
“Boleh saya bertanya?” kata Annisa dengan amat
sangat menjaga nada sopan dalam mulutnya
“Silahkan” jawab gadis itu sambil
tersenyum
“Apakah saya boleh tau, siapa yang mbak tunggu dari
bus-bus yang berhenti di setiap halte ini?”
Dia terdiam, bola matanya terlihat bersinar
sesekali memantulkan paduan cahaya-cahaya dari lampu kendaraan yang melintas
dan menimbulkan suara mesin perlahan-lahan mengeras lalu perlahan mengecil dan
tergantikan lagi dengan suara dari yang lainnya, seakan merupakan sebuah siklus
yang tiada henti.
Angin terasa mengusik perasaan Annisa, membuatnya
merasa bersalah dengan segala pertanyaan itu, memangnya siapa dia berani
menanyakan hal pribadi seperti itu.
“Ah, maafkan saya sudah lancang bertanya seperti itu”
kata Annisa buru-buru dengan gelagapan
“Mbak memang penasaran ya?” balasnya
singkat
“Saya hampir setiap melewati
jalan ini, menemukan mbak sedang melakukan hal yang sama”
“Itu karena, Ibu saya” terdapat hening beberapa
saat diantara kata yang satu dengan yang lainnya sebelum gadis itu
menyelesaikan kalimat terkahirnya.
Annisa memandang dengan penuh heran, sedangkan
gadis itu masih antusias memperhatikan bus-bus yang berhenti di halte pada
jangkauan pandangannya.
“Dahulu, Ibu meminta saya untuk menunggunya di
halte tempat beliau berangkat pergi dalam urusan pekerjaan ketika Ia akan
pulang. Menunggu dan terus menunggu, akan tetapi saya mendengar kabar berita
bahwa salah satu bus mengalami kecelakaan dan hampir semua penumpangnya tewas,
ketika mengecek nama-nama korban, saya terpaku pada sebuah nama
yang tidak lagi asing. Sangat menyakitkan, tetapi
entah mengapa sampai sekarang pun saya masih melakukan hal yang sama, saya juga
tidak mengerti” tutur gadis itu sampai tidak sadar air matanya mengalir lembut
diantara sela-sela wajahnya dan senyuman kecilnya
Tubuh Annisa mulai merinding mendengarkan kisah
sedih itu. Maklum saja karena dia sebelumnya tinggal disebuah pedesaan yang
normal-normal saja kehidupannya.
“Jadi, mbak sekarang tinggal
sendiri?” kata Annisa perlahan
“Iya” “Saya bekerja sebagai pencuci piring disebuah
restoran di kota ini, dan upahnya juga lumayan untuk bekal kuliah”
Dia tersenyum, membuat Annisa makin terenyuh. Baru
pertama kali ini dia menemukan sosok wanita yang sangat kuat dan tegar dengan
begitu berat masalah yang diceritakannya, entah mengapa juga Annisa langsung
merasa menjadi sangat dekat dengan gadis itu karena sebuah alasan yang tidak
begitu jelas.
***
Tidak terasa hari begitu cepat berlalu, setelah
cerita malam itu hubungan antara Annisa dengan gadis itu menjadi lebih erat
dibanding sebelumnya, terlebih ketika mereka berada pada fakultas yang sama
namun jarang bertemu karena Annisa begitu sibuk dengan organisasinya dan gadis
itu sibuk dengan pekerjaannya.
Baru sore itu setelah kegiatan kuliah terakhir
usai, satu minggu kedepan hanya ada minggu tenang setelah semua mahasiswa
menjalani ujian semester. Annisa dan gadis itu tengah duduk dibawah pepohonan
tempat mereka sering menghabiskan waktu entah untuk mengerjakan tugas ataupun
hendak berbagi cerita.
“Si, kamu minggu ini ada rencana
apa?” tanya Annisa
“Entahlah, mungkin masih bekerja
seperti biasa” balas Susi, gadis itu
“Aku sudah lama tidak berkunjung
ke restoranmu, mungkin besok aku kesana”
“Boleh saja, tapi maaf saja itu bukan restoranku” kata
Susi dengan nada yang sedikit ada penekanan di dalamnya membuat mereka tertawa
bersama karena lelucon-lelucon kecil
Keesokan harinya, seperti yang dijanjikan Annisa
pergi untuk makan siang disebuah restoran tempat Susi, sahabatnya bekerja
sebagai seorang pelayan.
Restoran itu besar dan megah seperti biasanya,
langit-langitnya terlukis seperti langit asli dengan perpaduan warna biru dan
putih dari awan beserta lampu besar yang tersusun menjadi mataharinya. Annisa
sempat berpikir pada saat pertama kali membeli makan di restoran ini, berapkah
uang yang harus Ia keluarkan, namun ekspektasinya terlalu berlebihan, seperti
halnya kota Yogyakarta, kota yang ramah dengan pelajar seperti dirinya,
begitupun restoran itu.
Sambil menikmati hidangan pesanannya, Annisa terus
melihat-lihat sekeliling restoran mencari wajah dan suara yang Ia kenal namun
tidak terlihat darimanapun sedari Annisa membuka pintu restoran ini. Dia heran
dan bertanya dalam benaknya, kemanakah sahabatnya itu pergi.
Setelah selesai dengan hidangannya dan menunggu
beberapa lama, Annisa beranjak ke bagian kasir dan menanyakan tentang Susi.
“Oh, Susi. Dia tadi ada disini namun pergi lagi,
sepertinya ada hal yang mendesak” kata pria yang menjadi kasir itu pada Annisa “Oh
ya, mbak. Mbak kenal dengan seorang yang bernama Annisa?” dia bertanya
“Iya, saya sendiri” balas Annisa
pelan dalam herannya
“Kebetulan sekali, Susi meminta
saya untuk menyerahkan ini kepada mbak, tolong diterima”
Pria itu kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku
bajunya yang terlihat seperti sebuah amplop sedang dan itu pastinya dari Susi.
“Terima kasih, mas” kata Annisa akhirnya setelah
membayar makan siangnya dan menerima amplop itu
Tanpa pikir panjang, setelah keluar dari restoran itu. Annisa langsung saja
dengan tidak sabar membuka amplop itu dan menemukan secarik kertas yang
bertuliskan sebuah kalimat pendek yang Annisa langsung saja memahami maksudnya “Aku
telah memutuskan” kalimat itu tertulis.
Annisa kemudian terhentak lalu berlari sekuat
tenaga sambil menahan emosinya agar tidak menjadi nyata sambil menggenggam
surat itu hampir meremasnya dengan kuat. Orang demi orang dia lalui tanpa
memperhatikan apakah dia menabrak sesuatu atau tidak, yang ada dalam pikirannya
hanyalah bahwa Ia tidak terlambat untuk mengucapkan selamat tinggal.
Pemandangannya berubah, sewaktu berada pada sebuah
bangku panjang yang terbentang dibawah pohon mangga yang rindang di depan
bangunan kampus, dua orang mahasiswi duduk bercerita dan bergurau tentang
tugas-tugas dan pekerjaan.
“Aku mungkin akan mencari Ibu, suatu hari nanti” kata
Susi perlahan disambut dengan kedipan mentari yang seakan meredup
tersembunyikan oleh kepulan awan yang melintas
Annisa terbelalak bingung memandang sahabat yang
baru saja dikenalnya itu, kalimat yang Susi ucapkan seakan bermakna tidak
begitu nyaman di hati Annisa.
“Kau bercanda bukan?” tanya Annisa sambil membuat
nada suaranya seperti sebuah gurauan kecil yang Ia harap juga berdampak pada
sahabatnya itu. Namun Susi hanya tersenyum kecil mendongak kepada burung-burung
yang bertengker pada dahan pepohonan.
Sekarang Annisa telah sampai pada sebuah halte bus
transjogja, dimana kala pertama Ia bertemu Susi dan bercengkrama dengannya,
namun suatu hal mengganggu perasaanya.
Intuisinya berkata bahwa dia berada di sana dengan
keadaan sia-sia, Susi sudah pergi bersama dengan bus transjogja yang membawa
Ibunya waktu dulu. Annisa yang menyadari hal tersebut hanya bisa pasrah dan
menahan tangisnya agar tidak meledak di tempat keramaian itu.
Annisa akhirnya hanya bisa pasrah dan merelakan
sahabatnya itu pergi dengan segenap harapan yang menjadi bebannya selama ini.
Dan sepertinya langit juga ingin menghibur suasana hati Annisa yang tengah
gundah dengan pancaran cahaya hangat dari raja hari beserta pemandu-pemandunya,
semilir angin sejuk membawa segala perasaan aneh Annisa pergi terbang dengan
senyuman manis melewati garis batas kota dengan segala keramahannya.
***
tulisannya bagus sekali gan. hehe
BalasHapusPaket Wisata Jogja
masih belajar menulis, gan
Hapus