16 Juli 2015

16 Juli 2015

Pukul 04:44



Kepada : (AP) seseorang yang membuatku bahagia

Di malam indah yang tenang dan sunyi ini, aku hanya ingin mengatakan beberapa hal padamu, walaupun aku tak berharap kau akan membacanya suatu saat nanti.

Maaf, maaf, maaf...

Dengan dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku melalui untaian kalimat-kalimat sederhana ini.. Ingin meminta suatu hal darimu, yang mungkin bagimu itu adalah suatu hal yang mudah karena aku yakin kau telah mengenalku sebagai seseorang dari dalam hatimu, namun bagiku. Apa yang akan ku minta ini adalah suatu yang berharga teramat sangat, karena hal ini yang kelak mungkin akan menuntunku sebagai seorang yang berhasil.

Yah, walaupun juga aku tak berharap engkau akan menuruti permintaanku ini.
Ini adalah permintaanku. Sebagai seorang manusia biasa, “Tolong, terimalah permohonan maafku ini, walaupun aku tak dapat mengatakannya langsung kepadamu, tapi aku yakin kata-kata ini kan sampai ke lubuk hatimu yang terdalam, kau kan bisa merasakannya. Layaknya aku merasakan jika kau memikirkanku di sana.”

Maafku ini bukan hanya maaf biasa, sebagaimana malam ini adalah malam idul fitri, atau besoknya adalah hari idul fitri, dimana orang-orang bersalam-salaman untuk bermaaf-maafan. Tetapi aku minta maaf atas kekhilafan-kekhilafanku yang telah lalu.. Aku tau, aku telah meminta kepada Allah Yang Maha Kuasa atas dirimu dariku, tetapi aku rasa akan lebih baik jika aku mengatakannya, atau dalam hal ini menulisnya langsung untukmu.

Aku tau, aku hanya seorang yang hanya bisa meminta maaf, maaf, dan maaf. Tetapi itulah aku, seorang manusia biasa yang tek sempurna sama sekali memang hanya bisa meminta dan meminta.
Aku jadi ingat dahulu saat kita masih satu SMP, saat itu beberapa hari setelah hari idul fitri. Aku menjumpaimu sedang duduk bersama teman-temanmu di depan kelas IX.3 yang hebat. Saat itu tanpa berfikir panjang aku mendekatimu dan meminta maaf juga layaknya tradisi idul fitri yang biasa. Engkau menatapku dan aku merasa “tatapan dan senyuman itu setidaknya sekarang masih sama seperti yang dahulu”. Aku mengulurkan tanganku untuk bersalaman, dan tangan yang halus dan lembut itu meraih tangan yang banyak noda ini. Aku tau, itu merupakan suatu hal yang dilarang syari’at, tetapi aku merasa aku telah dibebaskan dari noda dan dosa-dosaku terdahulu saat tangan itu menyentuhku.

Tetapi sekarang. Menatapmu saja dilarang, apalagi menyentuhmu. Karena ku tau, sekarang kau bukan milikku lagi, walaupun dauhulu kita menyebut suatu hal yang sangat bodoh yang disebut dengan cinta.
Dan walaupun ku tau juga, sekarang kau telah berpisah dengannya karena kau memberitau ku. Tetapi aku yakin perasaanmu dengannya takkan berubah dengan mudahnya. Karena ku tau, kau menyayanginya lebih daripada kau menyayangiku, dan diapun melakukan hal yang sama. Tapi setidaknya aku sediktit bisa bahagia melihatmu dengannya, melihatmu tersenyum setiap hari, melihatmu tertawa setiap hari. Kau tau, aku selalu melihatmu dari punggungmu walaupun kau tidak menyadarinya, walaupun yang kau lihat hanya aku yang sedang berbincang-bincang lalu tertawa dengan teman-temanku, tetapi disela-sela waktu itu, akupun mendapatimu yang sedang tertawa bersama dengan teman-temanmu. Dan itu adalah suatu hal yang membuatku ingin tersenyum.

“Karena semua yang kuinginkan adalah kebahagiaanmu, entah jika kau tidak bersamaku sekarang.”
Kau memang yang pertama membuatku bahagia, dan kau memang yang pertama pula membuatku menderita. Tapi sudahlah, itu merupakan masa lalu kelam yang bisa kita jadikan pelajaran untuk kedepannya.

Maaf jika aku tak bisa membuatmu bahagia,
Maaf jika aku bukan menjadi orang yang kau inginkan,
Maaf jika aku tak pernah memperhatikanmu,
Maaf jika aku melepasmu untuk pergi,
Maaf jika melalui kata-kataku engkau menangis,

Karena hal yang paling sangat kubenci adalah jika membuat orang yang sangat kusayangi menangis. Apalagi jika harus mendengarnya langsung. Bagiku itu adalah neraka dunia yang sangat ganas dan kejam.
Jadi, sekarang aku berharap engkau tidak menangis lagi membaca tulisan-tulisan sederhana ini, seperti beberapa waktu yang lalu. Tapi jika bisa tersenyumlah seperti ketika kau membaca novel romantis yang happy ending.  Sudahlah, aku hanya ingin engkau memahami setiap kata yang kutulis dalam surat ini dan bisa mengerti aku disini yang setiap saat memikirkan dirimu.

Walaupun sekarang yang kau tau, aku sedang bersama seseorang yang lain. Tetapi aku pikir mungkin dia tidak menyukaiku, karena aku tak banyak merasakan apapun jika bersamanya. Tidak seperti jika aku bersamamu, entah itu bersamamu melihatmu saja membuat tubuhku bergetar tak karuan.

Aku bukannya membanding-bandingkan, tetapi aku hanya berbicara fakta yang terjadi.

Huuf, kau tau. Semua kehidupan ini sangatlah rumit, tetapi aku bersyukur bisa bertemu dengan wanita sepertimu. Semua hal ini layaknya sebuah drama kehidupan yang sangat bagus jika ku ceritakan kepada anak cucuku kelak :D

Jadi sekali lagi aku ingin meminta maaf kepadamu yang sebesar-besarnya dari lubuk hati yang paling dalam sedalam-dalamnya ini. Karena sepertinya aku telah memahami beberapa kesalahanku dahulu sehingga membuat keadaan seperti sekarang ini.

Ada beberapa alasan aku menulis permintaan maaf ini sekarang. Pertama aku takut jika aku nanti tak dapat melakukannya lagi, jadi kugunakan kesempatan ini sebaik-baiknya. Kedua, aku takut jika aku terlalu lama berdiam diri seperti ini, engkau tak mau memaafkanku. Walaupun sebenarnya aku tau, jika walaupun ku biarkan hal ini berlarut-larut, ku tau engkau pasti akan memaafkanku juga lambat laun. Karena memang itulah kau, aku mengenal sifatmu. Begitu mengenalmu. Aku sedikit tau karena kakakku juga merupakan seorang “LEO” jadi aku tau betul jika seorang “LEO” punya masalah dan tau bagaimana menyelesaikannya.

Oh, ya dan satu lagi. Mungkin aku akan sangat senang jika aku dapat mengatakannya langsung, tapi tak ada yang tau hidup itu, hal itu semua juga kehendak Tuhan, jadi selama masih ada kesempatan aku akan mengatakannya sekarang melalui tulisan ini.

Berhubung beberapa hari lagi tanggal 6 Agustus, jadi Selamat Ulang Tahun yang ke-17. Semoga di tahun yang ketujuh belas ini, kau semakin tumbuh menjadi wanita yang lebih dewasa, yang selalu berbakti kepada kedua orang tua, selalu rajin untuk beribadah, semakin cerdas, tambah cantik, tambah, tambah, dan tambah semua kebaikan dalam hidupmu.
Dan jangan lupa untuk selalu makan teratur sehingga tidak terlalu kurus dan tinggal tulang :D
***
Baiklah, mungkin cukup sekian. Sekali lagi aku minta maaf dan sekaligus berterima kasih yang sebesar-besarnya kepadamu telah hadir dalam drama kehidupanku ini, aku hanya berharap dan selalu berdoa di sini agar kau sehat selalu, bahagia selalu, agar nanti kau mengirimiku pesan isinya adalah kabar baik darimu.

Dan melalui tetes-tetes air mata ini, aku mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri, semoga semua dosa-dosa kita terhapus dan kembali suci baik dari lahir maupun batin.

Dan untuk semua teman-temanku terima kasih telah memberiku semangat, menemaniku dikala senang maupun susah, untuk keluargaku yang selalu ada di sisiku di mana dan kapanpun aku berada. Dan untukmu di sana, terima kasih telah memberiku semangat selama ini, selalu ada di hatiku selama ini. Semoga kau selalu bahagia di sana. Dan jika memungkinkan, kau boleh menungguku jika ingin, dan beritau aku jika kau sudah bosan menunggu.

Sebenarnya masih banyak lagi yang ingin ku katakan padamu
Masih banyak,,,
Banyak lagi
Masih...
Tetapi,
Cukup sekian saja, karena aku yakin kau akan bosan membaca ini jika aku tulis sebanyak seratus lembar, jadi aku harap ini mewakili perasaanku dan semoga saja perasaan ini tersampaikan kepadamu di sana.
Jika kau menangis hapuslah air matamu, dan jika kau tersenyum jangan hapus senyuman itu.

Terima Kasih,
Dari : Faqih, tetapi bukan Faqih yang itu. Faqih, Muhammad Faqih El Wathon :'D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tolonglah berkomentar dengan sopan, NO SPAM!, dan dengan bahasa yang santun pula. Karena komentar anda sangat berarti bagi kemajuan blog ini ke depannya.